Taraweh Dua Puluh Tujuh: Hari Puasa yang Diharamkan, Dimakruhkan, Denda Puasa, dan Itikaf

Pada malam itu Pak Dian bertugas sebagai bilal, dan saya bertugas sebagai imam dan khotib kultum. Malam itu adalah malam terakhir bagi saya untuk bertugas di musolla Pak Bahrul, karena besok, hari jumat (25 Juli 2014) mudik ke Pemalang bersama istri dan anak.

Saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi imam dan khtib kultum. Saya juga menyampaikan permintaan maaf, barangkali ada kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja selama bertugas di musolla Pak Bahrul. Mungkin juga anak saya (Mubin) barangkali mengganggu ibadah jamaah, karena tingkah laku dia yang masih kecil, seperti berkata “ta ta ta” atau “wa wa wa”. Semata-mata saya mengajak dia, untuk mendidik beribadah kepadanya dengan caranya.

Saya memberikan materi tentang puasa yang diharamkan ada lima hari yaitu dua hari raya, yaitu idul fitri dan adha, serta tiga hari tasriq (11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah). Untuk tanggal 2 syawal sudah diperbolehkan puasa sunah enam hari bulan syawal. Ada kebiasaan di Pekalongan, yaitu syawalan, yang masyarakatnya puasa di tanggal 2 hingga 7 Syawal. Pada hari terakhir itu lah, ada perayaan syawalan dengan pemotongan “lopis” raksasa. Hal ini sebagai bukti kemenangan setelah puasa syawal. Dan puasa syawal, sangat dianjurkan oleh Rosullullah.

Puasa yang dimakruhkan adalah puasa di hari yang “syak”. Artinya, ragu. Misal, awal Romadlon jatuh pada hari Senin. Tetapi ada seseorang yang tidak yakin, bahwa puasa pada hari itu. Ia berpendapat puasanya hari Selasa. Jika, dia puasa pada hari Senin, maka puasanya dia makruh. Terus bagaimana baiknya? Ya, puasa di hari Selasa. Sehingga, secara fiqih, jika dia melihat awal bulan (hilal) pada hari Selasa, maka ia wajib puasa. Dia cukup bersaksi, bahwa Ia telah melihat hilal.

Denda (kafarot) bagi suami istri yang melakukan hubungan-saumi istri pada siang hari yaitu memerdekan budak, puasa berturut-turut selama enam puluh hari, atau memberi makanan pokok (beras) kepada enam puluh orang miskin setengah liter (sak mud). Puasa berturut-turut yang dimaksudkan di sini adalah puasa yang tanpa putus. Jika mereka (suami dan istri) puasanya batal di hari ketujuh, maka mereka harus mengulang lagi dihari pertama. Melihat denda tersebut, menurut saya sangat berat, maka sebaiknya kita menghormati bulan Romadlon dengan tidak melakukannya. Karena, dalam agama telah mentoleransi untuk melakukannya pada malam hari. Mengapa hukumannya kok berat? Menurut saya, semata-mata untuk menghormati bulan yang suci dan puasa sendiri adalah kewajiban bagi orang yang beriman dan salah satu dari rukun islam.

Orang tua boleh tidak puasa, namun ia wajib memberikan beras setengah liter (sak mud) kepada satu orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Demikian juga, Puasa boleh tidak dilakukan oleh orang yang sedang hamil, menyusui, atau melahirkan. Ia wajib meng-qodlo (mengganti) dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Dari kitab yang saya baca kata yang digunakan adalah “Wa” artinya dan, tidak “Au ” artinya pilihan, dalam kalimat qodlo wal kifarot, aartinya qodlo dan kifarot. Maknanya bahwa, wajib mengganti puasa dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin. Bukan memilih untuk puasa atau memberikan beras. Sedangkan orang yang sakit atau dalam perjalanan jauh, ia wajib menggatikan puasanya saja.

Tadi sore, sewaktu di jalan melihat seorang lelaki Islam dan sehat dalam kondisi tidak puasa. Berdasarkan keterangan tersebut. Menurut saya, meskipun dia bukan seorang perempuan yang merasakan nikmat hamil atau menyusui. Maka, ia wajib menggantinya.

Ada amalan yang mulia di sepeluh bulan terakhir bulan Romadlon, yaitu itikaf. Ini bab terakhir dalam kitab puasa yang saya kaji selama kultum berdasarkan kitab fathul qorib. Itikaf secara bahasa adalah menempati suatu tempat. Tempat yang dimaksudkan adalah masjid, bukan musolla. Syaratnya ada dua yaitu niat dan berdiam diri di masjid. Pastinya, di sana kita melakukan dikir, tadarus, solawat, atau ibadah lainnya.

Jika kita sudah puasa, solat taraweh, witir, atau para jamaah melakukan dhuha, tahajud, sedekah dan perbuatan lainnya. Maka saatnya, kita meraih “kado” dari Alloh berupa kebahagiaan. Minimal kebahagiaan batin. Berdasarkan pengalaman penulis, pasti kita akan mendapatkan hadiah dari Alloh, setelah kita mengikuti perintahnya. Terlebih perintah-perintah di bulan Romadlon, kita melakukannya. Sehingga, Alloh tidak rela, jika hambanya yang mengikutinya. Namun tanpa balasan yang telah dijanjikan olehNya.

Ibarat anak kepada orang tua. Anak yang telah menyapu, mengepel, dan membersihkan rumahnya. Setelah itu, biasanya orang tuanya memberikan uang jajan atau hadiah kepadanya sebagai reward bagi dia yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Demikian juga, dengan berpuasa dan melakukan perbuatan baik di bulan Romadlon, maka Alloh akan memberikan pahala kepada hambanya yang telah mendekat padaNya. Hal itulah yang saya sampaikan kepada jamaah, sebagai motivasi dalam beribadah di tiga hari terakhir bulan Romadlon. Semoga kita mendapatkan pahala yang besar oleh Alloh dari amal baik kita selama ini. Wallohu ‘alam

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh tujuh di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Perlunya Identifikasi Kebutuhan

Saat menata arsip di Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes), saya dibantu oleh dua mahasiswa saya yaitu Ana dan Fauza. Kedua adalah asisten labolatorium jurusan pendidikan ekonomi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes.

FH merupakan “adik” dari FE. FE sendiri umurnya delapan tahun. Artinya, arsip di FH masih sedikit. Berdasarkan umur tersebut, saya berpendapat, bahwa pola system kearsipan yang simple adalah subjek. Dalam penulisannya dengan kode.

Setelah saya observasi ruang kearsipannya. Saya mendata semua arsip yang ada. Setelah itu saya kelompokkan berdasarkan permasalahannya.

Dalam hal ini, saya tidak membuka map yang telah dirapikan oleh pegawai dari FH. Karena, map tersebut sudah tersusun rapi, seperti bagian keuangan, akademik, administrasi, dan map “lainnya”.

Dari hasil identifikasi, diperoleh hasil pola system kearsipan di FH Unnes sebagai berikut:

PEDOMAN POLA KLASIFIKASI KEARSIPAN

 DI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

  1. TU. KETATAUSAHAAN

1)      TU – 01 = Surat keluar

2)      TU – 02 = Surat Masuk

3)      TU – 03 = Surat Tugas

4)      TU – 04 = Surat Undangan

5)      TU – 05 = Surat Peraturan

6)      TU – 06 = Surat Rahasia

7)      TU – 07= Surat Keputusan

 

  1. KP. KEPEGAWAIAN

1)      KP – 01 = Nama Pegawai

(1)            KP – 01.1 = Agus B.

(2)            KP – 01.2 = Arsif

(3)            KP – 01.3 = Mustafid

(4)            KP – 01.4 = Yuli Dewi

(5)            KP – 01.5 = Waspiah

(6)            KP – 01.6 = Rindia

(7)            KP – 01.7 = Ristina

(8)            KP – 01.8 = Rinif

(9)            KP – 01.9 = Andry S.

(10)        KP – 01.10 = Benry Sumardiana

(11)      KP – 01.11 = Andina S.

(12)      KP – 01.12 = Agung K.

(13)      KP – 01.13 = Indra Rudi S.

(14)      KP – 01.14 = Sunardi

(15)      KP – 01.15 = Suhasyanto

(16)      KP – 01.16 = Roti W.

(17)      KP – 01.17 = Nodi

(18)      KP – 01.18 = Nurul F.

(19)      KP – 01.19 = Indung

(20)      KP – 01.20 = Dion L.

(21)      KP – 01.21 = Cahya

(22)      KP – 01.22 = Dori Muhta

(23)      KP – 01.23 = Son Arifin

(24)      KP – 01.24 = Bagus

(25)      KP – 01.25 = Untung

(26)      KP – 01.26 = Baidhowi

(27)      KP – 01.27 = Tri Sulistyono

(28)      KP – 01.28 = Dahita

(29)      KP – 01.29 = Dewi Sulistyaningsih

(30)      KP – 01.30 = Sartono Sahlan

(31)      KP – 01.31 = Sutrisno

(32)      KP – 01.32 = Sudijono S.

(33)      KP – 01.33 = Andari

(34)      KP – 01.34 = Anis W.

(35)      KP – 01.35 = Indah Sri Utami

(36)      KP – 01.36 = Suhadi

(37)      KP – 01.37 = Rosdi

(38)      KP – 01.38 = Heri S.

(39)      KP – 01.39 = Martitoh

(40)      KP – 01.40 = Rodiyah

(41)      KP – 01.41 = Pujiono

(42)      KP – 01.42 = Ubaudillah Kamal

(43)      KP – 01.43 = Ali Masyhar

(44)      KP – 01.44 = Vita

(45)      KP – 01.45 = Fery

(46)      KP – 01.46 = Windi

(47)      KP – 01.47 = Sony

 

2)      KP – 02 = Silkados

3)      KP – 03 = Lamaran

4)      KP – 04 =Ijin Tidak Mengajar

5)      KP – 05 = Daftar Hadir Dosen

6)      KP – 06 = Kenaikan Pangkat

7)      KP – 07 = Pemantauan Kebersihan Ruangan

8)      KP – 08 = Pelatihan Dosen

9)      KP – 09 = Presensi Online

10)  KP – 10 = Ijin Penelitian dan Pengabdian

11)  KP – 11 = Lain-lain

 

  1. KU. KEUANGAN DAN AKUNTANSI

1)      KU – 01 = Keungan dan Akuntansi

2)      KU – 02 = SPJ LS Honorarium

3)      KU – 03 = SPP

4)      KU – 04 = SPK

5)      KU – 05 = SSP

6)      KU – 06 = Lain-lain

 

  1. AK. AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN

1)      AK – 01 = Legalisir

2)      AK – 02 = Perangkat Pembelajaran

3)      AK – 03 = Surat Keterangan Aktif Kuliah

4)      AK – 04 = Surat Tugas Bidang 1

5)      AK – 05 = Surat Tugas Pembimbing & Penguji

6)      AK – 06 = Surat Tugas dan Pengangkatan Dosen

7)      AK – 07 =Transkip

8)      AK – 08 = Pindah Kuliah

9)      AK – 09 = Beasiswa

10)  AK – 10 = PKL

11)  AK – 11 = Berita Acara Pelaksanaan Ujian Skripsi

12)  AK – 12 = Pelaksanaan dan ujian Komprehensif

13)  AK – 13 = Arsip Bidang 1

14)  AK – 14 = Penelitian Mahasiswa

15)  AK – 15 = KHS (Kartu Hasil Studi / nilai)

16)  AK – 16 = Arsip Perwalian

17)  AK – 17 = Data Mahasiswa

18)  AK – 18 = Data Alumni

19)  AK – 19 = Surat Keterangan dan Karya Tulis Mahasiswa

20)  AK – 20 = Peraturan Akademik

21)  AK – 21 = Surat Aktif Kuliah

22)  AK – 22 = Lain-lain

 

  1. LN. LAIN-LAIN

1)      LN – 01 = Peminjaman Barang

2)      LN – 02 = Perbaikan Barang

3)      LN – 03 = ATK

4)      LN – 04 = Audit

 

Dari pedoman tersebut, mempermudahkan kepada pegawai (arsiparis) dalam me-manage arsip, baik menyimpan maupun meminjam arsip.

Setelah pola tersebut dibuat, kemudian saya membuat database yang dibuat melalui access dengan dibantu oleh Trisna, sebagai awal dari elektronik arsip (e arsip). E arsip yang dimaksudkan dalam hal ini adalah dalam pola pencariannya, tidak bentuk wujud file (copy). Namun, bentuk aslinya (hard) tertata dalam filling cabinet.

Demikian cerita pengelolaan arsip saya bersama Ana dan Fauza selama lima hari (15 Juli- 20 Juli 2014) di FH Unnes. Semoga bermanfaat untuk kalian semua. Mohon maaf, jika pekerjaan kami masih banyak kekurangaan. Kami mohon masukan atas hasil kerja kami. Terima kasih. Sukses untuk semua. Amin

Agung Kuswantoro, dosen administrasi perkantoran Fakultas Ekonomi Unnes dan pegiat gerakan sadar arsip, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Enam: Dirindukan Surga

Pada malam itu Pak, Bahrul bertugas sebagai bilal, Pal Wisnu bertugas sebagai khotib kultum, das saya bertugas sebagai imam.
Terasa berat memang pada akhir bulan Romadlon untuk beribadah. Banyak tantang di sana-sini. Semakin mendekati idul fitri, semakin banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan. Terlebih dengan diskon di pusat perbelanjaan yang menggiurkan.
Hal ini juga terasa di lingkungan saya, pada malam itu, jamaah yang taraweh mulai berkurang. Sehingga, saya yang biasanya bertempat di atas, menjadi turun (bawah teras). Hal ini dilakukan agar dekat dengan jamaah.
Pada malam itu Pak Wisnu menyampaikan materi tentang ciri-ciri orang yang dirindukan surga, yaitu gemar membaca al quran, menjaga lisan, senang bersedekah, dan manjaga ibadah puasa. Ada yang menarik dalam penyampaiannya. Beliau membuat “kocokan” seperti arisan yang di masukkan ke dalam botol. Kemudian, mengeluarkan tiap kertas yang sudah kocok dan dibacakan yang termasuk ciri yang dirindukan surga.
Jika kita tidak serius mengikutinya, sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. Karena, orang yang menganggapnya adalah hadiah. Terlebih, sebelumnya beliau menceritakan ucapan terima kasih atas kunjungan jamaah waktu buka puasa bersama di rumahnya. Ternyata, yang ada dalam kocokan tersebut adalah ciri-ciri yang dirindukan surge.
Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh lima di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Lima: Lailatul Qodar

Pada malam itu yang bertugas sebagai bilal adalah Pak Dian, khotib kultum adalah Pak Bahrul, dan saya bertugas menjadi Imam.

Pak Bahrul dalam kultumnya menyampaikan mengenai lailatul qodar. Beliau memaparkan definisi, kelebihan, pendapat ulama mengenai kedatangan malam lailatul qodar melalui sepuluh hari terakhir di bulan Romadlon dan tanggal ganjil, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan malam mulai tersebut. Beliau juga membacakan surat al qodr sebagai dasar malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh lima di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Kedua Puluh Empat : Bahagia

Petugas taraweh malam kedua puluh empat dimusolla Pak Bahrul yaitu Pak Bahrul sebagai bilal, Pak Dian sebagai khutbah kultum, dan saya sebagai imam.

Alhamdulillah pada malam itu berjalan dengan lancar, meskipun secara jadual tidak ada. Hanya dengan cara penunjukan secara langsung dan sukarela dari jamaah.

Pada malam itu, saya sempat khawatir dengan cuaca yang gerimis saat solat Isya. Atas ijin Alloh SWT, hingga selesai solat witir tidak terjadi hujan, sebagaimana malam awal Romadlon.

Pak Dian menyampaikan materi tentang bahagia. Beliau menceritakan tentang anak muda yang bekerja ekstra. Ia selalu pulang malam.

Suatu saat, dia kecelakaan. Dia di rawat di rumah sakit. Di rumah sakit, ada seorang paruh baya yang menanyakan kepadanya. Mengapa kamu di rawat di rumah sakit?

Jawab pemuda anak tersebut, saya kecelakaan, Pak. Kemudian orang tua baya tersebut bertanya lagi, hanya kecelakaan? Tidak mungkin, jika tidak hanya kecelakaan, karena diraut wajahmu terlihat kecapaian.

Ia bertanya lagi : apa yang kamu cari di dunia ini? Jawab anak muda itu, saya ingin bahagia seperti pimpinan saya di kantor. Dia punya mobil, rumah, tanah, dan lainnya.

Orang tua tersebut, mengatakan : apakah sudah pernah lihat keseharian pimpinanmu di rumah?

Anak muda menjawab: belum.

Orang tua tersebut berkata: Saya pernah melihat kesehariannya. Sebenarnya, ia memiliki banyak masalah, baik harta dan keluarganya. Bahkan, ia sekarang dalam kasus perceraian dengan istrinya.

Anak muda tersebut terdiam dengan cerita dari orang paruh baya mengenai keseharian pimpinan tersebut.

Dari cerita di atas, kita dapat mengambil benang merah, bahwa kebahagiaan seseorang tidak dengan uang atau diturunkan. Penilian sesorang tentang bahagia bersifat subjektif. Bahagia yang menentukan kita sendiri. Ia dapat diraih, jika kita dapat membuka hati. Ia dekat, jika kita mau mendapatkannya. Ia tidak membutuhkan materi yang berlimpah.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di malam ke-24. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembejar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Kedua Tiga : Zakat Fitrah

Pada taraweh kedua puluh tiga, Pak Bahrul bertugas sebagai bilal, saya bertugas sebagai imam dan khotib kultum. Solat taraweh pada malam itu bertempat di seperti biasanya, yaitu di musolla Pak Bahrul.

Saya merasa senang dan tenang malam itu, karena motivasi jamaah yang tinggi. Terlihat Eyang Pamor membawa buku doa yang kutulis, sembari menuju ke musolla. Pak Slamet Widodo berangkat dengan pakaian yang rapi dan memakai celana yang khas.

Materi kultum pada malam itu, tentang zakata fitrah. Kultum yang saya biasa sampaikan adalah puasa. Namun, pada malam itu, bab puasa saya pending dulu, karena saat sekarang, romadlon sebentar lagi berakhir. Artinya, ada kewajiban zakat fitrah yang harus dilakukan oleh setiap muslim.

Zakat fitrah adalah salah satu ibadah madhoh. Maksudnya ibadah yang waktu dan kadarnya ditentukan oleh Alloh dan Rosulnya, seperti puasa wajib di bulan Romadlon, solat, zakat fitrah, haji dan lainnya. Haji, dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Puasa romadlon, dilakukan pada bulan romadlon. Solat magrib, dilakukan saat terlihat ada awan merah di ufuk barat. Dan, contoh lainnya, yang telah ditentukan waktu dan kadarnya.

Sedangkan ibadah goiru madhoh, artinya ibadah yang tidak langsung berhubungan dengan Alloh, dan waktunya dan serta kadarnya bersifat umum. Seperti, berpakaian, olah raga, menjaga kebersihan, dan lainnya.

Zakat fitrah wajib bagi orang yang mendapatkan, walau sesaat, dari bulan Romadlon dan Syawal. Seorang anak yang lahir pada malam lebaran, belum wajib bagi dia untuk mengeluarkan zakat fitrah. Demikian juga, orang yang meninggal sebelum tenggelamnya matahari pada akhir bulan Romadlon, Ia juga tidak wajib mengeluarkan zakat fitrH.

Dengan demikian, dapat dikatakan zakat fitrah menjadi wajib sejak malam lebaran. Adapun malam terbaik mengeluarkan zakat firah adalah malam lebaran hingga sebelum khotib berkhutbah solat Idul Fitri.

Menurut Imam Syafie, zakat fitah dapat dikeluarkan sejak awal Romadlon. Karena, zakat firah wajib disebabkan dua faktor, yaitu bulan Romadlon dan lebaran. Sehingga, bila salah satu dari dua ketenttuan terpenuhi, maka diperbolehkan. Adapun menurut Imam Hanafi dan Maliki, paling cepat zakat fitrah dikeluarkan yaitu sehari atau dua hari sebelum lebaran. Hal ini menurut mereka, karena tujuan pemberian zakat untuk menjadikan para orang yang butuh tidak perlu meminta-minta di hari lebaran. Bila tiga hari sebelum lebaran, tujuan tersebut dikhawatirkan tidak tercapai.

Zakat fitrah wajib bagi orang yang memiliki kelebihan pangan, walau hanya untuk sehari. Seseorang wajib juga mengeluarkan zakat fitrah bagi siapa pun yang ditanggung biaya hidupnya. Misal, suami memiliki tanggung jawab mengeluarkan zakat fitrah istri, anak, kedua orang tuanya yang fakir. Istri yang kaya tidak dibebani tanggung jawab material dalam kebutuhan hidupnya. Semua hasil usahanya adalah miliknya (secara hukum), bukan secara moral.

Dalam pengajian yang disampaikan oleh Mamah dedeh, bahwa anak yatim, bukanlah penerima zakat fitrah. Yang wajib menerima zakat fitrah, sebagaimana dalam surao at taubah ayat 9, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, budak, orang yang berhutang, orang yang fi sabillilah, dan orang dalam perjalanan.

Ketentuan zakat fitrah berlaku umum, yaitu minimal dua setengah kilogram makanan pokok. Hal ini, boleh ditambahkan. Namun, nilai dua setengah kilogram memiliki makna tersendiri bagi orang yang membutuhkannnya. Wallohu ‘alam

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh tiga di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Sumber : kitab fiqih dan pendapat quraisy sihab yang dibukukan dalam quraish shihab menjawab 1001 soal kesilaman yang patut anda ketahui.

Taraweh Kedua Dua : Naik Kelas dan Sedih

Pada taraweh kedua puluh dua, secara jadual Bilal adalah Pak Bahrul, khotib kultum adalah Pak Sidik, dan Imam adalah saya. Namun, karena Pak Sidik tidak berangkat digantikan oleh ustad Amin.

Ada yang berbeda dalam taraweh malam itu, yaitu tempat yang biasanya dilakukan di musolla Pak Bahrul. Tetapi, taraweh malam itu dilakukan di rumah Pak Wisnu. Para jamaah diundang oleh beliau, untuk buka puasa bersama, solat magrib, isya, taraweh, dan witir berjamaah di rumah beliau. Hal ini dilakukan dalam rangka tasyakuran anak beliau yang kedua yaitu mba Sasa.

Sore hari, jamaah musolla berangkat ke rumah pak Wisnu untuk menghadiri undangan beliau. Anak-anak seperti Pamor, Khalisa, Noval, Della, Mubin, dan lainnya pada datang ke rumahnya. Mereka didampingi oleh orang tuanya. Selain dari warga perumahan dan sekitarnya, juga ada dari teman-teman, serta Saudara-saudara Pak Wisnu yang turut meramaikan acara tersebut.

Saya pun mendatang dan bergabung dengan jamaah lainnya yang sudah berangkat duluan. Saya duduk bersama dengan Pak Dian, Pak Slamet, dan bapak-bapak yang lain (tamu Pak Wisnu).

Kultum buka puasa oleh ustad Amin dari Ngalian, Semarang. Saya mendengarkan kultum beliau mengenai berubah menjadi lebih baik. Beliau menjelaskan secara detail dari segi psikologi. Saya mencoba mencari informasi mengenai latar belakang beliau. Saya bertanya kepada Pak Dian, ternyata beliau mengenalnya, bahwa beliau adalah seorang motivator. Beliau biasa mengisi di acara-acara kantor dan sekolahan. Kedudukan beliau masih asisten motivator. Pak Dian mengenalnya, dikarenakan Pak Dian pun seorang motivator di kantornya. Jadi, beliau mengenal ustad Amin, karena pernah bertemu dengan beliau.

Azan magrib berkumandang. Maknanya adalah buka puasa. Para tamu pun berbuka puasa. Mereka minum teh anget dan minuman es buah blewah yang telah disediakan Tuan rumah. Terlihat juga, ada yang langsung makan nasi kuning yang tersaji di depan mereka.

Setelah mereka selesai makan dan minum. Kita semua solat magrib berjamaah. Saya dimintai tolong untuk memimpin solat magrib.

Tiba saatnya, solat isya. Jamaah bersiap untuk solat isya, taraweh, dan witir. Saya datang ke rumah Pak Wisnu. Jamaah sudah kumpul, sehingga iqomah. Petugas solat taraweh sebagaimana di atas.

Saya meng-imam-i, sebagaimana saya memimpin solat di musolla Pak Bahrul. Artinya, kebiasaan yang selama ini dengan jamaah, saya jaga. Seperti setelah solat isya, saya dan mereka berdikir hingga berdoa secara bersama-sama. Kemudian, solat suna ba’diah, bila mengumumkan petugas solat taraweh, berdoa setiap empat rokaat, berdoa setelah solat taraweh, kultum, berdikir setelah witir, dan niat puasa untuk esok, serta solawat Nabi disertai dengan bersalaman, sebagai tanda bahwa kegiatan solat berjamaah telah usai.

Kebiasaan ini saya jaga, karena tujuan kita saat awal adalah belajar. Alhamdulillah, hingga saat ini masih terbentuk pola tersebut. Saya menyadari, bahwa rintisan kegiatan solat taraweh berjamaah dalam rangka untuk memfasilitasi para warga perumahan dan sekitarnya untuk solat bersama-sama. Karena, tempat kami jauh dari tempat ibadah.

Demikian juga, sebagai sarana pembelajaran buat kita. Sebelumnya saya sendiri, belum menjadi imam secara continue di suatu tempat. Pak Bahrul belum pernah menjadi Bilal dan khotib kultum. Demikian juga Pak Wiwid, Wisnu, Lukman, Anom, dan Dian yang memiliki pengalaman belum pernah tampil di depan.

Sehingga, komitmen itulah yang benar-benar saya jaga dengan mereka. Konsep belajar dan memfasilitasi sebagai prinsip utama dalam kegiatan ini. Konsep belajar, dimaknai sebagai wadah pembelajaran buat tiap individu yang menjadi imam, khotib, bilal, makmum, doa, dan dizir. Konsep memfasilitasi, dimaknai sebagai tempat musolla yang dapat menjadikan mudah kita dalam beribadah kepada Alloh, tanpa harus mencari tempat ibadah yang jauh.

Materi khutbah kultum malam itu adalah naik kelas dari abangan (pengikut), belajar, dan ulama. Untuk yang kedua saya mencatatnya belajar (saya lupa istilahnya, untuk mempermudahkannya, saya mencatat itu). Beliau memaparkan beberapa ciri dari masing-masing kelas. Ciri kelas abangan yaitu tidak mengetahui dasar, konsep, dalil mengenai suatu masalah. Ia hanya ikut-ikutan dari orang yang dilihatnya. Misal, ada pernikahan, Ia menikah. Tetapi, Ia tidak mengetahui dalil yang menganjurkan menikah, syarat, rukun, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan menikah. Ciri kelas belajar yaitu ia mengetahui dalil, konsep, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan itu. Misal pernikahan. Ia mengetahui dalil di alquran dan hadis mengenai anjuran menikah, bahaya, syarat, rukun, dan lainnya yang berkitan dengan menikah. Ciri ulama yaitu menjadi sumber pertanyaan bagi orang lain. Ia mahir dan mengaplikasikan nilai-nilai ajaran di agama Islam,sehingga ia menjadi rujukan bagi orang awam dan pembelajar dalam mengkaji agama Islam. Harapannya kita dapat naik kelas. Sehingga, kita dalam memahami Islam dapat secara utuh dengan mengetahui dalil-dalil di alquran dan hadist. Wallahu ‘alam

Sedih

Keberadaan tempat, tidak menjadi masalah. Asalkan, prinsip belajar dan memfasilitasi terpenuhi. Namun, jika kelak ada musolla baru, maka prinsip tersebut dapat gugur. Karena, diserahkan pada takmir yang mengelola musolla.

Hal itulah yang menjadi kesedihan saya, saat di tempat baru. Saya memperhatikan jamaah, terutama ibu-ibu tidak bisa hadir di malam tersebut. Saya memang belum menanyakan kepada mereka tentang alasan mereka berhalangan hadir berangkat solat. Justru, yang banyak adalah jamaah tamu dari tuan rumah. Meskipun, yang hadir banyak dari luar jamaah yang biasanya hadir (tamu). Saya dalam memimpin solat, melakukannya, sebagaimana saya melakukan di tempatnya Pak Bahrul. Hal ini saya lakukan, agar kebisaan dan pembelajaran sejak awal Romadlon tidak hilang. Pola mereka sudah terbentuk. Jadi tamunya yang mengikuti pola jamaah sebagaimana solat seperti biasanya.

Pada malam itu, saya sedih karena beberapa hal. Pertama, jamaah perempuan (Ibu-ibu) sedikit yang hadir, seperti Bu Rina, Tuti, Adi, dan Lu’lu’. Padahal disaat buka bersama, mereka hadir. Demikian anak-anak yang biasa solat juga sepi, seperti Pamor, Mubin, Della, dan Nopal. Padahal, saat buka puasa bersama, mereka pun hadir. Meskipun, anak-anak saat solat, mereka ramai. Namun, bagi saya itu adalah pembelajaran dalam mengenalkan ibadah (solat). Pada malam itu, justru saya kangen dengan terikan atau suara mereka, yang biasanya saya dengar setiap menitnya. Bahkan, dari diantara Ibu-ibu ada yang membatalkan dan mengemong anaknya, agar tidak ramai dan mengganggu jalannya solat. Hal ini demi mengenalkan solat kepada anak.

Kedua, mengubah prinsip. Salah satu prinsip kita menyelenggarakan solat taraweh berjamaah adalah belajar dan memfasilitasi. Prinsip belajar menjadi hilang. Saya menyadari kelemahan saya saat menjadi Imam masih membuat catatan kecil dalam membacakan ayat-ayat tertentu dan berdoa dengan membawa teks (doa solat taraweh). Pak Bahrul, saat mengisi kultum, beliau menyiapkannya dengan matang. Ia meluangkan waktu pada siang harinya untuk searching materi di google. Setelah dapat beliau mencatatnya di HP, kemudian Ia bacakan saat menyampaikan materi. Demikian juga Pak Lukman, ia mencatat materi di HP, dan dibacakan materi tersebut saat di depan jamaah. Artinya, mereka mau belajar. Belajar itu berproses. Para jamaah pun menyadarinya, bahwa kita semua adalah pembelajar. Jika ada yang salah, mereka tidak akan menertawakan.

Jika kita memanggil orang luar. Bukan berarti kita, tidak belajar. Justru dengan adanya orang luar, kita dapat minta tolong untuk dikoreksi. Sehingga, kita tetap belajar. Hal yang menjadikan saya sedih, pada malam itu adalah pola pembelajaran tidak ada. Artinya, kita pasif sebagai pendengar dari materi pembicara dari luar.

Saya berpendapat, kita dalam pelaksanaan salah. Namun, setelah kita mengetahui akan kesalahannya, akan kita perbaiki. Dengan cara itu, ada usaha dalam diri kita. Jika ada pembicara dari luar, maka seharusnya yang mengisi kegiatan adalah orang kita sendiri. Bukan dari luar, orang dari luar yang menyesuaikan dengan keadaan kita.

Prinsip memfasilitasi juga hilang, karena dengan adanya beda tempat jamaah menjadi berkurang. Untuk prinsip ini, menurut saya harus dikaji terlebih dahulu, karena banyak factor yang mempengaruhinya.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh dua di musolla Pak Wisnu. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Apa yang dituliskan berdasarkan pendapat subjetif dari saya, yang belum tentu benar. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin
Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.