Universitas Romadlon

Hampir satu pekan Idul Fitri 1435 H. Kenangan masih membekas di hati, terutama saat khotib Solat Id di masjid agung Pemalang.
Saya sangat tesentuh hatinya dengan cara dan isi penyampaian materinya. Tiap lafal, kata, kalimat, paragraph dan ucapannya saya dengarkan dengan pikiran dan hati. Hanya saja, waktu itu, saya tidak membawa bolpoitn dan buku kecil, sehingga saya tidak bisa menuliskan isi khotbah secara detail. Kurang lebih isinya sebagai berikut :
Di penghujung akhir bulan Romadlon. Ada pemuda yang sedang berdoa dengan khusuk di sudud masjid. Ia terlihat menetaskan air mata. Karena ditinggal bulan yang penuh dengan ajaran yang mulia. Di bulan itu, ada kompetensi yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Seperti puasa, zakat, sedekah, solat lail, itikaf, dan lainnya.
Kampus Romadlon telah mengajarkan kepada manusia untuk berhubungan dengan manusia dan Alloh secara baik. Hubungan manusia dengan manusia baik ditandai dengan silaturarohim yang menjunjung nilai-nilai sosial. Ia mau memaafkan kesalahan sesama, dengan tulus. Ia menerima keadaan seseorang, meskipun telah menyakitinya. Kesalahan terhadap manusailah yang susah dibanding melakukan kesalahan kepada Alloh.
Melakukan kesalahan kepada Alloh, dapat dihilangkan dengan meninggalkan perbuatan maksiat, tidak menjalani perbuatan tersebut (maksiat), dan meminta ampun (istigfar) kepadaNya, dan bertaubat untuk tidka mengulangi perbuatan tersebut.
Melakukan kesalahan kepada manusia dibutuhkan hati yang besar. Hati yang lapang untuk menerima apapun keadaan dia. Hati yang bersih untuk berpikir untuk menerima keadaan seseorang yang telah menyakiti dirinya. Dibutuhkan jiwa kesatria dan iman yang kuat untuk menerimanya. Kampus Romadlon-lah yang mengajarkan kompetensi itu selama satu bulan.
Jika ibadah selama satu bulan di kampus tersebut baik, maka ibadah di bulan sebelas berikutnya akan baik. Jika hubungan sesama Alloh baik, maka hubungan dengan manusia pasti baik. Solat dia mampu khusuk, tidak ria. Ibadahnya semata-mata karena Alloh, bukan karena manusia.
Sekarang, kampus tersebut sudah meluluskan muttaqin. Dengan indikator kelulusan Alloh yang menentukannya, menjadikan kita sebagai manusia berdoa ada di dalamnya.
Kampus yang mendidik seorang beriman menjadi bertakwa. Sekarang telah meninggalkan kita semua. Sekarang ada kampus baru, yaitu kampus Syawal. Kampus dengan kompetensi yang sederhana di dalamnnya ada puasa sunah enam hari. Mampukah kita melakukannya, sebagaimana kompetensi yang telah dilakukan pada kampus Romadlon?
Ataukan kita akan menambahkan kompetensi-kompetensi sebagaimana di kampus Romadlon yang ada tadarus, itikaf, solat lail, zakat, sedekah, dan lainnya di kampus syawal atau di kampus lainnya.
Pastinya, kita sendiri yang akan mengetahui dan melakukan setiap kompetensi di kampus Romadlon. Karena kompetensi tersebut erat kaitannya dengan hati. Sehingga, tempat berlabuhnya hanya Alloh. Nilai kemampuan dari setiap kompetensinya pun yang menilai Dia. Ikhlas atau pun tidaknya, hanyalah Dia yang mengetahuinya. Dia yang bisa mengangkat kita semua menjadi hamba yang muttaqin, solat khusuk, sedekah ikhlas, ibadah dengan hati yang jernih, tanpa ada rasa penilaian dari manusia. Hanya Alloh yang menjadi tujuan hidupnya.
Demikian kisah saya waktu solat Id di kampung halaman. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan, karena saya menulisnya berdasarkan ingatan saya yang saya rekam dipikiran. Menulisanya pun, setelah enam enam hari berikutnya. Jadi mohon maaf, jika ada kesalahan dalam penulisan ini. Namun, tulisan ini, semata-mata karena saya ingin menjadi bagian orang yang muttaqin dan mampu menerapkan kompetensi di kurrikulum kampus Romadlon. Doakan juga, saya bisa belajar seperti Bapak Khotib yang pandai dan melakukan tiap ucapannya. Amin..

Agung Kuswantoro, jalan RE Maartadinata 84 Pelutan Pemalang, email agungbinmadik@gmail.com

Tarweh ke-28 dan ke-29

Taraweh Dua Puluh Delapan: Mempertahankan Ibadah

Pada malam kedua puluh delapan di bulan Romadlon, saya berada di kampung halaman (Pemalang). Saya tiba di rumah jam 18.30 WIB dari perjalanan yang memakan waktu kurang lebih enam jam, berawal dari kota Atlas (Semarang). Perjalanan tersebut sangat lama, karena adanya pengalihan jalur. Akibat jembatan Comal amblas.

Karena saya baru datang, sehingga solat Isa, taraweh dan witir dilakukan di rumah. Itu pun melaksanakannya jam puluk 21.10 WIB. Mengingat saya harus membersihkan diri terlebih dahulu, yaitu mandi dan istirahat sejenak.

Untuk malam ini, saya solat munfarid untuk solat Isya, taraweh, dan witir. Terasa beda dalam melakukannya, karena selama malam pertama hingga kedua puluh tujuh, saya selalu melakukan berjamaah, bahkan menjadi Imam di musolla Pak Bahrul.

Saya menyadari dan menpercayai, bahwa perjalanan adalah salah satu azab. Ajaran itu yang disampaikan oleh guru saya waktu mengaji. Sehingga, mudik termasuk di dalam kategori azab. Misal, dalam perjalanan kita merasa lapar dan capai. Sehingga malas untuk beribadah kepada Alloh SWT.

Di dua hari terakhir di bulan Romadlon, saya mencoba merefleksikan diri berdasarkan isi khutbah Jumat pada hari itu, yaitu untuk mempertahankan ibadah Romadlon, sebagaimana pada awal bulan tersebut.

Tantangan terberat adalah menjaga ibadah di akhir bulan Romadlon. Di saat itu, orang disibukkan dengan mudik, menyiapkan lebaran, dan kegiatan keluarga seperti halal bi halal. Sehingga, kadang manusia dengan mudah meninggalkan ibadah-ibadah tersebut. Atau, kadar ibadah menjadi berkurang, karena kesibukan menjelang idul fitri. Padahal di akhir bulan Romadlon, dianjurkan untuk itikaf, baca quran, solat lail, dan lainnya. Sehingga, pahala pada akhir bulan tersebut sangat besar, karena tantangannya lebih banyak dibanding dengan awal bulan Romadlon.

Dari refleksi itu, saya berusaha menjaga kualitas ibadah di bulan Romadlon. Meskipun, saya sudah tidak bertugas menjadi imam. Namun, dengan semangat perjuangan sebagaimana di Semarang, saya akan terapkan di Pemalang yang penuh tantang lebih berat.

Saya pun berdoa, semoga posisi imam dan kultum khotib yang saya lakukan dapat diteruskan oleh Pak Bahrul dan Pak Dian yang berada di Semarang. Karena, kedua tidak mudik ke kampung halaman. Saya selalu menyemangati mereka untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban di perumahan. Sebenarnya, solat taraweh berjamaah berakhir di malam dua puluh tujuh, karena saya pulang kampung. Namun, karena ada permintaan dari warga sekitar agar tetap dilanjutkan solatnya. Saya pun berharap dan men-suppot kepada Pak Bahrul dan Pak Dian untuk bekerja sama untuk melanjutkan solat berjamaah tersebut.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh delapan di kampung halaman. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

 

Taraweh Dua Puluh Sembilan: Mohon Diijinkan Dipertemukan Lagi

Pada malam kedua puluh sembilan merupakan malam terakhir solat taraweh di tahun 1435 Hijriah. Tahun ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Bagi saya, tahun ini adalah tahun pembelajaran terjun di masyarakat dengan berbuat baik melalui ilmu yang saya dapatkan di waktu dulu. Alhamdulillah, saya oleh warga dipercayai menjadi imam, khotib kultum, dan pemateri untuk buka puasa bersama di perumahan. Pengalaman pertama dan sangat berarti dalam kehidupan saya. Saya menjadi banyak membaca kitab dan karakter jamaah yang berbeda-beda untuk mengajak kebaikan dan beribadah kepada Alloh SWT.

Pada malam itu saya solat taraweh di rumah secara munfarid. Mengingat, saya juga bergantian menjaga anak saya. Saya solat di rumah sembari mengajarkan anak tentang solat. Saya mengeraskan bacaan solat sebagaimana solat berjamaah, meskipun solat yang saya lakukan adalah munfarid. Terlihat dia mendekat ke sajadah saya untuk menyentuh dan mencoba naik di punggung saya saat sujud.

Sepintas mengganggu solat saya, tetapi saya senang. Karena, dia sudah mencoba belajar sedikit mengenai gerakan solat. Pola yang saya lakukan, sebagaimana pola yang saya lakukan saat menjadi imam di musolla Pak Bahrul. Saya pun membilali dan berdoa sendiri, seperti doa solat taraweh dan dikir setelah solat witir.

Saya berdoa, semoga hal yang sama dilakukan di musolla Pak Bahrul. Pak Bahrul dan Pak Dian melakukannya bersama dengan jamaah lain untuk bersama-sama melanjutkan belajar terjun di masyarakat dengan solat berjamaah.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam terakhir bulan Romadlon tahun 1435 Hijriah di kampung halaman. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Tujuh: Hari Puasa yang Diharamkan, Dimakruhkan, Denda Puasa, dan Itikaf

Pada malam itu Pak Dian bertugas sebagai bilal, dan saya bertugas sebagai imam dan khotib kultum. Malam itu adalah malam terakhir bagi saya untuk bertugas di musolla Pak Bahrul, karena besok, hari jumat (25 Juli 2014) mudik ke Pemalang bersama istri dan anak.

Saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi imam dan khtib kultum. Saya juga menyampaikan permintaan maaf, barangkali ada kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja selama bertugas di musolla Pak Bahrul. Mungkin juga anak saya (Mubin) barangkali mengganggu ibadah jamaah, karena tingkah laku dia yang masih kecil, seperti berkata “ta ta ta” atau “wa wa wa”. Semata-mata saya mengajak dia, untuk mendidik beribadah kepadanya dengan caranya.

Saya memberikan materi tentang puasa yang diharamkan ada lima hari yaitu dua hari raya, yaitu idul fitri dan adha, serta tiga hari tasriq (11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah). Untuk tanggal 2 syawal sudah diperbolehkan puasa sunah enam hari bulan syawal. Ada kebiasaan di Pekalongan, yaitu syawalan, yang masyarakatnya puasa di tanggal 2 hingga 7 Syawal. Pada hari terakhir itu lah, ada perayaan syawalan dengan pemotongan “lopis” raksasa. Hal ini sebagai bukti kemenangan setelah puasa syawal. Dan puasa syawal, sangat dianjurkan oleh Rosullullah.

Puasa yang dimakruhkan adalah puasa di hari yang “syak”. Artinya, ragu. Misal, awal Romadlon jatuh pada hari Senin. Tetapi ada seseorang yang tidak yakin, bahwa puasa pada hari itu. Ia berpendapat puasanya hari Selasa. Jika, dia puasa pada hari Senin, maka puasanya dia makruh. Terus bagaimana baiknya? Ya, puasa di hari Selasa. Sehingga, secara fiqih, jika dia melihat awal bulan (hilal) pada hari Selasa, maka ia wajib puasa. Dia cukup bersaksi, bahwa Ia telah melihat hilal.

Denda (kafarot) bagi suami istri yang melakukan hubungan-saumi istri pada siang hari yaitu memerdekan budak, puasa berturut-turut selama enam puluh hari, atau memberi makanan pokok (beras) kepada enam puluh orang miskin setengah liter (sak mud). Puasa berturut-turut yang dimaksudkan di sini adalah puasa yang tanpa putus. Jika mereka (suami dan istri) puasanya batal di hari ketujuh, maka mereka harus mengulang lagi dihari pertama. Melihat denda tersebut, menurut saya sangat berat, maka sebaiknya kita menghormati bulan Romadlon dengan tidak melakukannya. Karena, dalam agama telah mentoleransi untuk melakukannya pada malam hari. Mengapa hukumannya kok berat? Menurut saya, semata-mata untuk menghormati bulan yang suci dan puasa sendiri adalah kewajiban bagi orang yang beriman dan salah satu dari rukun islam.

Orang tua boleh tidak puasa, namun ia wajib memberikan beras setengah liter (sak mud) kepada satu orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Demikian juga, Puasa boleh tidak dilakukan oleh orang yang sedang hamil, menyusui, atau melahirkan. Ia wajib meng-qodlo (mengganti) dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Dari kitab yang saya baca kata yang digunakan adalah “Wa” artinya dan, tidak “Au ” artinya pilihan, dalam kalimat qodlo wal kifarot, aartinya qodlo dan kifarot. Maknanya bahwa, wajib mengganti puasa dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin. Bukan memilih untuk puasa atau memberikan beras. Sedangkan orang yang sakit atau dalam perjalanan jauh, ia wajib menggatikan puasanya saja.

Tadi sore, sewaktu di jalan melihat seorang lelaki Islam dan sehat dalam kondisi tidak puasa. Berdasarkan keterangan tersebut. Menurut saya, meskipun dia bukan seorang perempuan yang merasakan nikmat hamil atau menyusui. Maka, ia wajib menggantinya.

Ada amalan yang mulia di sepeluh bulan terakhir bulan Romadlon, yaitu itikaf. Ini bab terakhir dalam kitab puasa yang saya kaji selama kultum berdasarkan kitab fathul qorib. Itikaf secara bahasa adalah menempati suatu tempat. Tempat yang dimaksudkan adalah masjid, bukan musolla. Syaratnya ada dua yaitu niat dan berdiam diri di masjid. Pastinya, di sana kita melakukan dikir, tadarus, solawat, atau ibadah lainnya.

Jika kita sudah puasa, solat taraweh, witir, atau para jamaah melakukan dhuha, tahajud, sedekah dan perbuatan lainnya. Maka saatnya, kita meraih “kado” dari Alloh berupa kebahagiaan. Minimal kebahagiaan batin. Berdasarkan pengalaman penulis, pasti kita akan mendapatkan hadiah dari Alloh, setelah kita mengikuti perintahnya. Terlebih perintah-perintah di bulan Romadlon, kita melakukannya. Sehingga, Alloh tidak rela, jika hambanya yang mengikutinya. Namun tanpa balasan yang telah dijanjikan olehNya.

Ibarat anak kepada orang tua. Anak yang telah menyapu, mengepel, dan membersihkan rumahnya. Setelah itu, biasanya orang tuanya memberikan uang jajan atau hadiah kepadanya sebagai reward bagi dia yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Demikian juga, dengan berpuasa dan melakukan perbuatan baik di bulan Romadlon, maka Alloh akan memberikan pahala kepada hambanya yang telah mendekat padaNya. Hal itulah yang saya sampaikan kepada jamaah, sebagai motivasi dalam beribadah di tiga hari terakhir bulan Romadlon. Semoga kita mendapatkan pahala yang besar oleh Alloh dari amal baik kita selama ini. Wallohu ‘alam

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh tujuh di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Perlunya Identifikasi Kebutuhan

Saat menata arsip di Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes), saya dibantu oleh dua mahasiswa saya yaitu Ana dan Fauza. Kedua adalah asisten labolatorium jurusan pendidikan ekonomi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes.

FH merupakan “adik” dari FE. FE sendiri umurnya delapan tahun. Artinya, arsip di FH masih sedikit. Berdasarkan umur tersebut, saya berpendapat, bahwa pola system kearsipan yang simple adalah subjek. Dalam penulisannya dengan kode.

Setelah saya observasi ruang kearsipannya. Saya mendata semua arsip yang ada. Setelah itu saya kelompokkan berdasarkan permasalahannya.

Dalam hal ini, saya tidak membuka map yang telah dirapikan oleh pegawai dari FH. Karena, map tersebut sudah tersusun rapi, seperti bagian keuangan, akademik, administrasi, dan map “lainnya”.

Dari hasil identifikasi, diperoleh hasil pola system kearsipan di FH Unnes sebagai berikut:

PEDOMAN POLA KLASIFIKASI KEARSIPAN

 DI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

  1. TU. KETATAUSAHAAN

1)      TU – 01 = Surat keluar

2)      TU – 02 = Surat Masuk

3)      TU – 03 = Surat Tugas

4)      TU – 04 = Surat Undangan

5)      TU – 05 = Surat Peraturan

6)      TU – 06 = Surat Rahasia

7)      TU – 07= Surat Keputusan

 

  1. KP. KEPEGAWAIAN

1)      KP – 01 = Nama Pegawai

(1)            KP – 01.1 = Agus B.

(2)            KP – 01.2 = Arsif

(3)            KP – 01.3 = Mustafid

(4)            KP – 01.4 = Yuli Dewi

(5)            KP – 01.5 = Waspiah

(6)            KP – 01.6 = Rindia

(7)            KP – 01.7 = Ristina

(8)            KP – 01.8 = Rinif

(9)            KP – 01.9 = Andry S.

(10)        KP – 01.10 = Benry Sumardiana

(11)      KP – 01.11 = Andina S.

(12)      KP – 01.12 = Agung K.

(13)      KP – 01.13 = Indra Rudi S.

(14)      KP – 01.14 = Sunardi

(15)      KP – 01.15 = Suhasyanto

(16)      KP – 01.16 = Roti W.

(17)      KP – 01.17 = Nodi

(18)      KP – 01.18 = Nurul F.

(19)      KP – 01.19 = Indung

(20)      KP – 01.20 = Dion L.

(21)      KP – 01.21 = Cahya

(22)      KP – 01.22 = Dori Muhta

(23)      KP – 01.23 = Son Arifin

(24)      KP – 01.24 = Bagus

(25)      KP – 01.25 = Untung

(26)      KP – 01.26 = Baidhowi

(27)      KP – 01.27 = Tri Sulistyono

(28)      KP – 01.28 = Dahita

(29)      KP – 01.29 = Dewi Sulistyaningsih

(30)      KP – 01.30 = Sartono Sahlan

(31)      KP – 01.31 = Sutrisno

(32)      KP – 01.32 = Sudijono S.

(33)      KP – 01.33 = Andari

(34)      KP – 01.34 = Anis W.

(35)      KP – 01.35 = Indah Sri Utami

(36)      KP – 01.36 = Suhadi

(37)      KP – 01.37 = Rosdi

(38)      KP – 01.38 = Heri S.

(39)      KP – 01.39 = Martitoh

(40)      KP – 01.40 = Rodiyah

(41)      KP – 01.41 = Pujiono

(42)      KP – 01.42 = Ubaudillah Kamal

(43)      KP – 01.43 = Ali Masyhar

(44)      KP – 01.44 = Vita

(45)      KP – 01.45 = Fery

(46)      KP – 01.46 = Windi

(47)      KP – 01.47 = Sony

 

2)      KP – 02 = Silkados

3)      KP – 03 = Lamaran

4)      KP – 04 =Ijin Tidak Mengajar

5)      KP – 05 = Daftar Hadir Dosen

6)      KP – 06 = Kenaikan Pangkat

7)      KP – 07 = Pemantauan Kebersihan Ruangan

8)      KP – 08 = Pelatihan Dosen

9)      KP – 09 = Presensi Online

10)  KP – 10 = Ijin Penelitian dan Pengabdian

11)  KP – 11 = Lain-lain

 

  1. KU. KEUANGAN DAN AKUNTANSI

1)      KU – 01 = Keungan dan Akuntansi

2)      KU – 02 = SPJ LS Honorarium

3)      KU – 03 = SPP

4)      KU – 04 = SPK

5)      KU – 05 = SSP

6)      KU – 06 = Lain-lain

 

  1. AK. AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN

1)      AK – 01 = Legalisir

2)      AK – 02 = Perangkat Pembelajaran

3)      AK – 03 = Surat Keterangan Aktif Kuliah

4)      AK – 04 = Surat Tugas Bidang 1

5)      AK – 05 = Surat Tugas Pembimbing & Penguji

6)      AK – 06 = Surat Tugas dan Pengangkatan Dosen

7)      AK – 07 =Transkip

8)      AK – 08 = Pindah Kuliah

9)      AK – 09 = Beasiswa

10)  AK – 10 = PKL

11)  AK – 11 = Berita Acara Pelaksanaan Ujian Skripsi

12)  AK – 12 = Pelaksanaan dan ujian Komprehensif

13)  AK – 13 = Arsip Bidang 1

14)  AK – 14 = Penelitian Mahasiswa

15)  AK – 15 = KHS (Kartu Hasil Studi / nilai)

16)  AK – 16 = Arsip Perwalian

17)  AK – 17 = Data Mahasiswa

18)  AK – 18 = Data Alumni

19)  AK – 19 = Surat Keterangan dan Karya Tulis Mahasiswa

20)  AK – 20 = Peraturan Akademik

21)  AK – 21 = Surat Aktif Kuliah

22)  AK – 22 = Lain-lain

 

  1. LN. LAIN-LAIN

1)      LN – 01 = Peminjaman Barang

2)      LN – 02 = Perbaikan Barang

3)      LN – 03 = ATK

4)      LN – 04 = Audit

 

Dari pedoman tersebut, mempermudahkan kepada pegawai (arsiparis) dalam me-manage arsip, baik menyimpan maupun meminjam arsip.

Setelah pola tersebut dibuat, kemudian saya membuat database yang dibuat melalui access dengan dibantu oleh Trisna, sebagai awal dari elektronik arsip (e arsip). E arsip yang dimaksudkan dalam hal ini adalah dalam pola pencariannya, tidak bentuk wujud file (copy). Namun, bentuk aslinya (hard) tertata dalam filling cabinet.

Demikian cerita pengelolaan arsip saya bersama Ana dan Fauza selama lima hari (15 Juli- 20 Juli 2014) di FH Unnes. Semoga bermanfaat untuk kalian semua. Mohon maaf, jika pekerjaan kami masih banyak kekurangaan. Kami mohon masukan atas hasil kerja kami. Terima kasih. Sukses untuk semua. Amin

Agung Kuswantoro, dosen administrasi perkantoran Fakultas Ekonomi Unnes dan pegiat gerakan sadar arsip, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Enam: Dirindukan Surga

Pada malam itu Pak, Bahrul bertugas sebagai bilal, Pal Wisnu bertugas sebagai khotib kultum, das saya bertugas sebagai imam.
Terasa berat memang pada akhir bulan Romadlon untuk beribadah. Banyak tantang di sana-sini. Semakin mendekati idul fitri, semakin banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan. Terlebih dengan diskon di pusat perbelanjaan yang menggiurkan.
Hal ini juga terasa di lingkungan saya, pada malam itu, jamaah yang taraweh mulai berkurang. Sehingga, saya yang biasanya bertempat di atas, menjadi turun (bawah teras). Hal ini dilakukan agar dekat dengan jamaah.
Pada malam itu Pak Wisnu menyampaikan materi tentang ciri-ciri orang yang dirindukan surga, yaitu gemar membaca al quran, menjaga lisan, senang bersedekah, dan manjaga ibadah puasa. Ada yang menarik dalam penyampaiannya. Beliau membuat “kocokan” seperti arisan yang di masukkan ke dalam botol. Kemudian, mengeluarkan tiap kertas yang sudah kocok dan dibacakan yang termasuk ciri yang dirindukan surga.
Jika kita tidak serius mengikutinya, sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. Karena, orang yang menganggapnya adalah hadiah. Terlebih, sebelumnya beliau menceritakan ucapan terima kasih atas kunjungan jamaah waktu buka puasa bersama di rumahnya. Ternyata, yang ada dalam kocokan tersebut adalah ciri-ciri yang dirindukan surge.
Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh lima di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Lima: Lailatul Qodar

Pada malam itu yang bertugas sebagai bilal adalah Pak Dian, khotib kultum adalah Pak Bahrul, dan saya bertugas menjadi Imam.

Pak Bahrul dalam kultumnya menyampaikan mengenai lailatul qodar. Beliau memaparkan definisi, kelebihan, pendapat ulama mengenai kedatangan malam lailatul qodar melalui sepuluh hari terakhir di bulan Romadlon dan tanggal ganjil, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan malam mulai tersebut. Beliau juga membacakan surat al qodr sebagai dasar malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh lima di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Kedua Puluh Empat : Bahagia

Petugas taraweh malam kedua puluh empat dimusolla Pak Bahrul yaitu Pak Bahrul sebagai bilal, Pak Dian sebagai khutbah kultum, dan saya sebagai imam.

Alhamdulillah pada malam itu berjalan dengan lancar, meskipun secara jadual tidak ada. Hanya dengan cara penunjukan secara langsung dan sukarela dari jamaah.

Pada malam itu, saya sempat khawatir dengan cuaca yang gerimis saat solat Isya. Atas ijin Alloh SWT, hingga selesai solat witir tidak terjadi hujan, sebagaimana malam awal Romadlon.

Pak Dian menyampaikan materi tentang bahagia. Beliau menceritakan tentang anak muda yang bekerja ekstra. Ia selalu pulang malam.

Suatu saat, dia kecelakaan. Dia di rawat di rumah sakit. Di rumah sakit, ada seorang paruh baya yang menanyakan kepadanya. Mengapa kamu di rawat di rumah sakit?

Jawab pemuda anak tersebut, saya kecelakaan, Pak. Kemudian orang tua baya tersebut bertanya lagi, hanya kecelakaan? Tidak mungkin, jika tidak hanya kecelakaan, karena diraut wajahmu terlihat kecapaian.

Ia bertanya lagi : apa yang kamu cari di dunia ini? Jawab anak muda itu, saya ingin bahagia seperti pimpinan saya di kantor. Dia punya mobil, rumah, tanah, dan lainnya.

Orang tua tersebut, mengatakan : apakah sudah pernah lihat keseharian pimpinanmu di rumah?

Anak muda menjawab: belum.

Orang tua tersebut berkata: Saya pernah melihat kesehariannya. Sebenarnya, ia memiliki banyak masalah, baik harta dan keluarganya. Bahkan, ia sekarang dalam kasus perceraian dengan istrinya.

Anak muda tersebut terdiam dengan cerita dari orang paruh baya mengenai keseharian pimpinan tersebut.

Dari cerita di atas, kita dapat mengambil benang merah, bahwa kebahagiaan seseorang tidak dengan uang atau diturunkan. Penilian sesorang tentang bahagia bersifat subjektif. Bahagia yang menentukan kita sendiri. Ia dapat diraih, jika kita dapat membuka hati. Ia dekat, jika kita mau mendapatkannya. Ia tidak membutuhkan materi yang berlimpah.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di malam ke-24. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembejar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.