Berikut materi nya,,klik aja
DEMI TUHAN, BUKAN SUMPAH
15 Mei 2013 2 Komentar
Oleh Agung Kuswantoro
Pemberitaan media mengenai Arya Wiguna tentang Demi Tuhan, menarik perhatian banyak orang. Terlihat di Youtube, emosi dia dibuat parodi dan lagu. Sikapnya menjadikan dia menjadi artis.
Pendapat beberapa beberapa orang yang penulis temui mengatakan bahwa gaya kemarahan dia itu unik. Gaya kemarahannya yaitu teriakan suara yang keras, tangan yang menuding-nuding dan menggrbarak-grakkan meja serta kaki yang menghentakkan ke bumi. Model itulah yang membuat orang mengkreasikan gayanya.
Kata sumpahnya menjadikan saya tertarik mengkajinya. Kata yang diucapkannya adalah Demi Tuhan. Menurut kaidah nahwu bahwa kalimat sumpah atau qosam didahului dengan huruf wawu, ba’ dan ta. Isim atau kata yang dijadikan sumpah, maka wajib dibaca jar atau kasroh karena huruf qosam termasuk huruf jar seperti wallohi, billahi, dan ta llahi.
Sebagian pendapat ulama mengatakan bahwa membaca kalimat qosam jangan waqof (berhenti) seperti wallah, billah, dan talloh. Contoh tersebut dihukumi tidak kalimat sumpah karena tidak mengkasrohkan isimnya.
Makna Sumpah
Sumpah menurut sar’i yaitu menguatkan atau menahkikkan sesuatu dengan menyebut nama Alloh, bukan nama Tuhan. Artinya jika orang bersumpah dengan nama Tuhan, maka tidak dikatakan kalimat sumpah, tetapi kalimat biasa.
Keterlibatan nama Tuhan harus ada, sehingga di dalam bahasa Indonesia kalimat sumpah yaitu Demi Alloh, bukan Demi Tuhan.
Penulis berpendapat bahwa perkataan Arya Wiguna yang bersumpah Demi Tuhan itu bukan kalimat sumpah, tetapi kalimat biasa. Yang benar adalah penyebutan nama Tuhannya yaitu Demi Alloh, sebagaimana dalam sumpah jabatan.
Di dalam sumpah jabatan disebutkan bahwa diawali dengan ucapan “Demi Alloh” bagi penganut Islam, diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” bagi penganut agama Kristen Protestan atau Katolik, diawali dengan ucapan “Om Atah Paratama Wisesa” bagi penganut agama Hindu, dan diawali dengan ucapan “Demi Sang Hyang Adi Budha” untuk penganut agama Budha.
Sumpah secara etimologi adalah pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu apabila yang dinyatakan tidak benar. Artinya orang yang bersumpah akan menerima konsekuensi dari apa yang akan diucapkan.
Orang yang bersumpah tidak ada korelasi dengan orang lain. Orang lain sebagai saksi dari ucapan orang yang bersumpah, sehingga perlu adanya keterlibatan nama Tuhannya. Dengan demikian orang yang akan bersumpah harus berhati suci dan berpikir logis karena berhubungan dengan Tuhannya, bukan pada saksi yang mendengarkan sumpahnya.
Bukankah, jika ada pelantikan pejabat baru, yang di dalamnya ada sumpah jabatan dihadiri oleh banyak orang? Artinya bahwa hadirin adalah saksi dari pernyataannya.
Apabila sesuatu yang dinyatakan tidak benar, maka yang menghukum bukanlah hadirin, tetapi Tuhannya, karena dia telah melibatkan namaNya.
Janganlah mempermainkan nama Tuhan. Berkatalah yang baik. Jika tidak dapat berkata baik maka diam, karena diam lebih menyelematkan dari kata yang tidak berhikmah. Bukankah orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menahan marah?
Agung Kuswantoro : Dosen Fakultas Ekonomi Unnes, penggiat kajian Mahasiswa Mengaji
Etika Profesi (4)
13 Mei 2013 Tinggalkan Sebuah Komentar
Sub Bab
etika profesi (3)
13 Mei 2013 Tinggalkan Sebuah Komentar
Ilustrasi
Mahasiswa Mengaji
11 Mei 2013 Tinggalkan Sebuah Komentar
KATA PENGANTAR
Tak ada gading yang retak, itulah ungkapan penulis pada awal buku ini. Masih banyak kekurangan buku Mahasiswa Mengaji dalam penyajiannya. Pada prinsipnya adalah mengajak pada orang lain untuk mengaji dan menuju surga Alloh dengan jalan dakwah.
Dakwah yang termudah adalah mengajak orang lain di lingkungan terdekat (sendiri). Penulis sebagai dosen Universitas Negeri Semarang dan pendamping kemahasiswaan maka peluang tersebut digunakan mengajak mahasiswa untuk selalu ingat pada Alloh dengan mengaji.
Saya memiliki prinsip memanfaaatkan waktu selagi muda, sebagaimana Nabi Muhammad yang di umur empat puluh tahun sudah mendapatkan status Rosul. Hal itulah yang mendorang saya untuk memanfaatkan waktu untuk beribadah melalui bekerja dan berdakwah. Saya tidak menginginkan waktu yang akan membunuh saya, sebagaimana dalam mahfudhot yaitu al-waqtu kasyaif (waktu bagaikan pedang). Tetapi saya yang akan menggunakan pedang atau masyarakat yang mengguna-kan pedang saya karena ilmu telah diamalkan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Alloh SWT yang telah memberikan nikmat untuk sharing ilmu kepada mahasiswa. Terima kasih pula kepada Profesor Dr. Masrukhi, M.Pd selaku Pembantu Bidang Kemaha-siswaan yang mendukung program ini sebagai wujud konservasi moral bagian dari Unnes Kampus Konservasi. Ucapan terima kasih kepada Ibu (Mamah Zurohati) dan Istri (Lu’Lu Khakimah) yang mensupport kegiatan ini sebagai ajang dakwah dan ibadah kepada Alloh. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Fian “dokeng” yang telah mendukung program ini hingga penerbitan buku. Tak lupa pada para santri mahasiswa mengaji yang senantiasa datang di malam Senin untuk belajar dan berbagi pengalaman semata untuk mencari keridoan Alloh.
Semoga kajian ini bermanfaat dan berkah untuk kita semua. Mohon dukungan bagi para pembaca dan mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam kajian ini. Semoga ke depan kajian ini tetap berjalan dan memiliki manajemen yang tertata. Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan. Mudah-mudahan Alloh meridoi..Amin.
Semarang, 1 Mei 2013
Penulis,
Agung Kuswantoro
DAFTAR ISI
Cover………………………………………………………………… i
Kata Pengantar…………………………………………………… ii
Daftar Pustaka……………………………………………………. iv
Profil Mahasiswa Mengaji……………………………………. 1
Malaikat yang Datang…………………………………………. 6
Tauhid dan Aqidah…………………………………………….. 11
Ilmu, Sabar, Syukur…………………………………………….. 12
Pengenalan Ghorib (1)…………………………………………. 22
Ghorib (2)………………………………………………………….. 24
Menepuk Tangani Anak Yatim…………………………….. 32
Sukses dengan Tahajud……………………………………….. 38
Mengenal Alloh………………………………………………….. 45
Mengaji Berirama, Ghorib (3)………………………………. 58
Ana Dibaca Pendek, Ghorib (4)……………………………. 62
Rukun dan Tahlil………………………………………………… 68
Balig dan Istinja’………………………………………………… 75
Syarat Wudlu…………………………………………………….. 79
Fardu Wudhu…………………………………………………….. 87
Iman…………………………………………………………………. 97
Bukan Angry Bird………………………………………………. 106
Siami dan Abu Bakar………………………………………….. 109
Logika Hati……………………………………………………….. 113
Refleksi Sholat Idul Adha…………………………………… 116
Refleksi Sholat Idul Fitri……………………………………… 120
Koran dan al Qur’an…………………………………………… 123
Kuliah dan Khusyu’……………………………………………. 126
Membangun Karakter Mahasiswa…………………………. 130
Muharrom, Bukan Diharamkan……………………………. 134
Karakter Mahasiswa……………………………………………. 136
Ketauhidan Mahasiswa……………………………………….. 141
Cinta Oh Cinta…………………………………………………… 145
Cinta dan Cemburu…………………………………………….. 148
Dakwah Seperti Iman………………………………………….. 153
Salah Menilai……………………………………………………… 157
Doa Sapu Jagad………………………………………………….. 160
Doa Sosialisasi Skripsi…………………………………………. 163
Doa Pembekalan Wisuda…………………………………….. 166
Daftar Pustaka……………………………………………………. 169
Biodata Penulis………………………………………………….. 172
DAFTAR DIAGRAM
Diagram Pokok Tauhid……………………………………….. 15
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Aktifitas Mahasiswa Mengaji……………….. 36
Gambar 2. Ustadz Menjelaskan Tahajud ………………. 38
Gambar 3. Santri Mendengarkan Materi………………… 43
Gambar 4. Kehadiran Santri
Pertemuan Kedelapan ………………………………………… 46
Gambar 5. Adibatul Menanyakan Materi……………….. 61
Gambar 6. Mengaji dengan Materi Ana-Fa Ana……… 66
Gambar 7. Kehadiran Santri meski Hujan………………. 69
1 Jam 1 Ayat
03 Mei 2013 Tinggalkan Sebuah Komentar
Pada pertemuan ini, mahasiswa mengaji dilakukan malam Rabu, 23 April 2013. Hal ini saya rubah karena pada hari Senin jam kerja padat sehingga perlu dirubah hari hari agar kajian tetap konsisten berjalan.
Tema yang dipilih adalah ghorib. Tema ini tema yang pertama pada angkatan kedua.
Alhamdulillah pada pertemuan ini, santri yang hadir sudah stabil (tetap) antara 10 sampai 15 mahasiswa. Bahkan mereka dengan sendirinya memilih jadwal piket membersihkan tempat untuk mengaji.
Saya memulai kajian ini dengan mengapersepsi materi sebelumnya seperti waqoh dan ana. Hal ini dilakukan agar mereka mengingat atau memanggil memori kajian pada angkatan pertama, termasuk ketukan bacaannya.
Hal yang unik saat pembelajaran adalah meskipun belajar hanya 1 ayat yaitu surat Al Baqarah ayat 125 tetapi dalam membaca sampai 1 jam lebih. Hal ini dikarenakan mahasiswa belum semua tepat dalam membacanya.
Saya menerapkan pola tiap mahasiswa untuk mengetuk harokat bacaannya secara bersama-sama, setelah saya memberikan contoh dan mereka mendengarkannya.
Saya membacanya per kata atau per waqof kemudian mereka menirukannya. Setelah itu santriwan mengikutinya. Ketika pada santriwan, Alhamdulillah mereka bias mempraktekkan bacaan dengan benar. Ketika santriwati membacakan secara bersama-sama, mereka belum semuanya berhasil. Kemudian saya meminta satu-satu dari mereka mengenai bacaan per kata. Al hasil diantara mereka menyadari bahwa bacaannya masih miring. Misal alhamdu menjadi alehamdu sebagaimana Indoensia menjadi Endonesia.
Cara yang saya gunakan adalah mengulang-ulang huruf yang belum bias misal ‘ain, diucapkan selama 10 kali, kemudian praktek kata yang ada ‘ainnya.
Bagi saya, meskipun belajar hanya 1 ayat saja, tetapi merema mendalami setiap kata dan huruf dengan fasih. Saya mengatakan padanya, jangan takut atau malu dengan salah membaca. Karena kita semua dalam taraf belajar. Jadi tidak ada salahnya jika belajar itu salah. Dengan kata-kata semangat itu, mereka menjadi optimis untuk mengaji dan meyakini bahwa Alloh pasti membantu kita karena kita sudah membela atau berkorban demi Alloh.
“SURAT PUNYA HATI”
03 Mei 2013 Tinggalkan Sebuah Komentar
Tiap orang pasti melakukan komunikasi. Salah satu komunikasi yang digunakan oleh manusia adalah surat. Kelebihannya karena simple dan relatif murah.
Surat memiliki dua segi yaitu eksplisit dan implisit. Implisit terlihat dari sampul kertas, kerapian, dan tulisan. Eksplisit terlihat dari bahasa, gaya bahasa, dan maknanya.
Menilai surat seperti memaknai orang. Orang memiliki dhohir dan bathin. Dhohir berupa anggota tubuh manusia sedangkan bathin berupa hati.
Orang yang tampan atau cantik itu tidak cukup, jika hatinya buruk. Orang akan memuji jika hatinya baik, meskipun tidak memiliki wajah tampan atau cantik.
Demikian juga surat, orang akan menilai surat secara eksplisit atau bathin. Penerima surat akan menangis, jika surat tersebut menyiratkan kesedihan. Dia akan tersenyum, jika isinya menyiratkan kesenangan. Dia akan takut jika isinya berupa ancaman. Dia akan resah jika isinya mengandung keluhan.
Orang yang tersugesti oleh isi surat dan merasakan dampaknya, maka surat tersebut memiliki hati. Hati surat muncul dari pesan surat.
Tugas seorang pembaca surat adalah menyelami kedalaman pesan surat. Kedalaman ini terukur dari kata yang dipilih, penulisan kata, dan rangkaian kalimat yang digunakan penulis surat.
Juliet selalu menyimpan surat kekasihnya yaitu Romeo yang berisi sebuah pengungkapan rasa cinta. Dia mengarsipkan suratnya di tempat khusus. Logikanya, jika surat tidak berhati mengapa dia masih menyimpannya? Mengapa pula disimpan di tempat khusus? Sebaliknya, mengapa ada orang bunuh diri ketika membaca surat yang isinya berupa penolakan cinta? Mengapa pula, ada surat yang disobek atau dibakar?
Demikian pula surat yang ditulis oleh Presiden Soekarno (saat itu) kepada Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban/ Pangkopkamtib untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam mengatasi situasi keamanan yang buruk pada waktu itu. Surat sakti tersebut dikenal dengan nama Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret. Begitu berharganya pesan surat tersebut sehingga bangsa Indonesia mencatatnya bagian dari sejarahnya. Bagaimana jika surat itu hilang? Apakah nilai implisit dan eksplisit itu ada?
Jika surat itu disobek, dibakar, atau hilang maka nilai ada yang melekat dalam diri surat juga lenyap, baik secara implisit maupun eksplisit. Tidak ada artinya arti sebuah kertas atau tinta yang mahal tetapi penerima surat menghilangkan pesan surat. Surat menjadi tak
Itulah bukti bahwa surat punya hati. Semoga kita bisa pandai dan bijak menjadi penulis dan pembaca surat yang memiliki seribu rasa.
