PAI : Mengenalkan Alloh

Pertemuan awal mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) saya menyampaikan cerita tentang aqidah (ilahiyat). Ilahiyat yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan illah (Tuhan). Adapun ceritanya sebagai berikut:

Mengajar adalah tugas dosen. Kewajiban mengajar seorang dosen tidaklah mudah, terlebih jika jam mengajarnya banyak. Dosen mengajar 16 SKS artinya tidak hanya mengajar selama 16 SKS. Di dalam 16 SKS terdapat penugasan, mid dan ujian. Di dalamnya juga terkandung persiapan dan evaluasi yang harus dipersiapkan.

Insya Alloh semua dosen (guru) pasti bisa mengajar. Tetapi belum tentu bisa mendidik. Hal itulah yang saya ingin belajar melakukannya. Bukan mencari sensasi atau kesombongan.

Saya memiliki keyakinan bahwa jika hati sudah baik, maka otak juga akan pintar. Mengajar cenderung pada mentransfer ilmu ke otak, sedangkan mendidik cenderung pada mentransfer value ke hati.

Latar belakang tersebut di atas, menjadikan bahwa guru selain memiliki kewajiban mengajar, tetapi juga mendidik. Memang bukan hal mudah melakukannya. Namun, jika  kita mencoba untuk melaksanakannya pasti Alloh memberikan kemudahan.

10 Mahasiwa

Kamis 28 Maret 2013, saya mengajar aplikasi komputer koperasi, S1 pada jam 13.00, ada mahasiswa yang tidak masuk sejumlah 11 mahasiswa, dari total 60 mahasiswa. Hal ini terjadi pada pertemuan keempat.

Saya menanyakan kepada mereka bahwa ketidakhadiran mereka karena persiapan pulang kampung. Bagi saya perkara itu hal yang mudah, jika menginginkan pulang kampung, maka perkuliahan ini dapat berjalan dengan penugasan sehingga satu kelas dapat pulang  kampung.

Pada pertemuan berikutnya, saya memberikan pengertian kepada mereka mengenai hal tersebut. Mereka memahami akan pesan saya. Kerena mereka sudah memahaminya, saya mengajak mereka untuk melibatkan kehadiran Tuhan dengan menyebutkan namaNya. Bagi yang beragama Islam dengan mengatakan Bismillahirrohmanirrohim, dan bagi pemeluk agama selain Islam menyebutkan tuhanNya masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar adanya perubahan dalam sikap kita, sehingga Tuhan mengetahuinya.

Pertemuan demi pertemuan kuliah dapat berjalan lancar. Jika mereka ijin cukup SMS kepada saya. Ada perkembangan yang signifikan yaitu adanya komunikasi yang intim antara saya dengan mereka. Bagi saya, ketika mereka SMS tentang ketidakhadirannya adalah suatu penghormatan. Saya pun meresponnya dengan membalas SMSnya, ketika dia ijin sakit, maka saya meresponnya dengan semoga lekas sembuh. Ketika dia ijin ada keperluan keluarga, maka saya meresponnya semoga lancar acaranya.

Terjadi Lagi

Sesuatu yang tidak saya duga terjadi pada pertemuan ke-12. Mereka tidak hadir sejumlah 15 mahasiswa. Pada pertemuan itu pula, saya menugaskan pada Mulia (nama mahasiswa) untuk mendata beberapa perkuliahan mata kuliah lain yang satu rombel (kelas). Pada perkuliahan mata kuliah yang lain ditemukan bahwa ketidakhadiran mereka lebih dari 10 mahasiswa. Temuan ini ternyata tidak hanya satu mata kuliah, tetapi beberapa mata kuliah yang mereka melakukan, termasuk di Aplikom Koperasi. Artinya trend rombel mereka, ketika tidak masuk adalah jama’ah alpa.

Kejadian ini bagi saya, sesuatu yang baru selama mengajar. Selama menjadi guru selama 2 tahun dan dosen selama 4 tahun, moment ini baru terjadi pada diri saya.

Memang secara aturan mahasiswa diberi kesempatan untuk tidak hadir 25% dari total perkuliahan (16 pertemuan). Namun, apakah mereka pernah berpikir bahwa perkuliahan dapat berakhir pada 14 pertemuan? Artinya jika melakukan kebiasaan seperti itu, maka 25% mengandung makna bahwa alpa mereka hanya 2 kali saja (aman). Jika mereka ijin, maka mereka artinya ada (hadir), maka kuliah menjadi mubadir selama 1 semester karena melebihi batas kuota alpha. Padahal, cara ini dapat diminimalisir dengan penugasan atau ijin.

Punishman

Saya mengecek presensi tiap mahasiswa. Saya menginginkan hukuman bagi mereka. Karena bagi mahasiswa yang tidak hadir,  menurut saya melanggar komitmen yang telah diucapkan. Bukannya saya tidak menerima keputusan mereka yang tidak masuk. Tetapi, nama Alloh yang disebutkan pada pertemuan dulu menjadi hilang.

Hukuman tersebut adalah berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan nama Tuhan yang telah dilibatkan dalam hidup mereka dan alasannya tidak masuk kuliah. Ada 2 segi kategori yaitu pelanggaran berat dan ringan. Pelanggaran berat adalah mereka yang pada pertemuan ke-4 dan ke-12 tidak hadir. Artinya mereka telah mengulangi perbuatan yang dulu, terlebih mereka sudah berkomitmen untuk menjadi lebih baik dengan melibatkan nama Alloh. Pelanggaran ringan adalah mereka pada pertemuan ke-12 tidak hadir. Artinya mereka melanggar komitmen dulu. Dikatakan ringan karena mereka baru pertama melakukannya.

Saya mengumpulkan mereka setelah perkulihan berakhir, kemudian saya bertanya kepadanya silakan direnungkan, mengapa Saudara saya kumpulkan? Saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk merenungnya. Dengan kompak mereka menjawab “tidak masuk, Pak kemarin. Lalu saya meresponnya Oke benar”. Setelah itu saya menjelaskan kepada mereka mengapa mereka saya menghukumnya sebagaimana pada penjelasan di atas.

Dari beberapa mahasiswa ternyata ada mahasiswa yang waktu pertemuan (mengatakan komitmen) tidak masuk, maka saya tidak memberikan dia hukuman karena dia tidak mengatakan komitmen. Ada juga mahasiswa yang pada waktu itu ijin dan sakit, maka saya tidak memberikan hukuman kepadanya.

Cuek pada Alloh

Dari beberapa pertanyaan tersebut, ada yang menarik perhatian saya yaitu mereka mengatakan bahwa Tuhannya adalah Alloh. Tetapi perilakunya belum menunjukkan bahwa Tuhannya adalah Dia. Seperti pada pertanyaan “Yakinkah Saudara, ucapan Saudara yang dulu, Tuhan Saudara mendengar?Mereka menjawabnya : Yakin, karena Tuhan Maha Mendengar”.

Jawaban mereka menunjukkan bahwa, baru mengenal Dzat Alloh yang Maha Mendengar. Secara singkat jawaban tersebut benar, maka pertanyaan selanjutnya adalah jika Tuhan Maha Mendengar, mengapa mereka mengingkari komitmennya? Berarti ucapan tersebut omong kosong, tanpa adanya bukti.

Ada satu mahasiswa yang membuat saya simpati kepadanya karena dhi’ful iman atau lemah iman. Pada pertanyaan Menurut Saudara, apakah Tuhan Saudara marah? Mengapa? Dia menjawabnya Saya tidak tahu, karena saya tidak berpikiran buruk pada Tuhan.

Jawaban tersebut, saya baca berkali-kali mengenai maknanya, terutama pada jawaban saya tidak tahu. Saya mengartikannya, bahwa dia cuek terhadap Alloh. Padahal kartu nama Alloh adalah Bismillahirrohmanirrohim. Alloh yang Maha Pengasih dan Penyayang. Terlihat jelas bahwa Alloh tidak benci ataupun marah terhadap hambaNya kecuali dia telah syirik. Jika seorang hamba yang berbuat dosa dan dia tobat maka Alloh pasti menerimanya dan memberikan kasih saying padanya.

Respon mahasiswa yang seperti itu, menjadikan saya terpanggil untuk menanamkan nilai-nilai Tauhid. Sebenarnya dia tidak memahaminya bahwa ketidaktahuan dia mengenai sifat Alloh karena belum mengenaliNya. Dia tidak berpikir bahwa dalam hidupnya ada Alloh, justru seharusnya dia bersyukur sampai saat ini dia masih diberi kenikmatan untuk menjalani hidupnya, karena dia telah melupakan sifat Alloh yang ar Rohman.

Makna Tauhid

Mahasiswa yang mengatakan Tuhannya itu Alloh, tetapi ketika dia susah, pertama yang dicari itu buku atau dosen atau mengerjakan tugas, maka dia telah berbohong. Seharusnya yang dicari pertama adalah Alloh, sehingga tauhid memegang peranan bagi dia.

Masalah tauhid merupakan masalah yang penting yang harus dipahami oleh manusia. Tauhid dikalangan mahasiswa menjadi hal dasar dalam totalitas kehidupan agar yang dilakukan menjadi bernilai ibadah. Tauhid merupakan bagian dari essensi Islam.

Ismail Raji al Furuki mengatakan bahwa essensi peradaban Islam adalah  tauhid, tindakan yang menegaskan Alloh sebagai yang Maha Esa, pencipta yang mutlak dan transenden, serta penguasa segala yang ada. Meski sebenarnya tauhid merupakan essensi dari ajaran para Nabi, dijelaskan dalam firman Alloh “…dan Kami tidak mengutus seorang Rosul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya seharusnya tidak ada Tuhan melainkan Aku…”(QS 2;250).

Abdurrahman bin Saqof dalam al Aqoid Dinniyah mengartikan tauhid secara bahasa adalah menjadikan sesuatu itu satu dan buah dari mempelajari ilmu tauhid adalah mengenal Alloh dengan dalil yang pasti. Karena posisinya tauhid menjadi perintah Alloh yang pasti. Karena posisinya tauhid menjadi perintah Alloh yang tertinggi sebagaimana Firman Alloh (QS 6;153) oleh karena itu, keesaan Alloh dapat hadir dikalangan hati seorang mahasiswa baik dalam keadaan susah maupun senang. Janganlah beranggapan jika Alloh itu buta terhadap perilaku hambaNya. Memang benar apa yang dinyanyikan Bimbo “aku dekat engkau dekat dan aku jauh engkau jauh”. Artinya bahwa semakin dekat mahasiswa dengan Alloh, maka semakin terkendali dalam perilakunya sebaliknya semakin jauh dengan Alloh, maka semakin liar perilakunya.

Ada sebuah kisah dalam Ahlaqul Lilbanin bahwa ada seorang pemuda yang berada dalam suatu tempat yang sepi dan tidak seorangpun melihatnya. Ketika itu dia lapar, tak lama kemudian ada seekor ayam melintas di depannya kemudian ia menangkapnya untuk disembelih. Ketika akan disembelih dalam hatinya berkata “meskipun tidak ada yang melihat, tetapi Alloh Maha Melihat“ akhirnya pemuda tersebut tidak menyembelih. Kisah ini menggambarkan dalam kondisi apapun kehadiran Alloh harus selalu ada. Demikian yang seharusnya dilakukan seorang mahasiswa ketika menghadapi ujian.

Tauhid secara mendasar justru merubah totalitas status manusia. Semakin tinggi ketauhidan semakin shahih dan religius perilakunya. Dalam pandangan tauhid, kesahihan religius dan kebaikan bersumber pada Sang Pencipta, Penguasa, dan Sesembahan yakni Alloh. Semoga kita mendapat petunjukNya. Amin.

Dari cerita di atas, saya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk  mencari definisi iman. Mengapa hal itu saya lakukan? Karena, cerita tersebut berkaitan dengan iman. Iman seseorang yang bersifat dinamis, tiap harinya perlu di-update dengan berdzikir kepada Alloh. Dengan demikian, mata kuliah ini diharapkan salah satu cara memperbaharui dan menambah kualitas iman kita.

Kuliah yang seharusnya dimulai pukul 15.00 WIB, tetapi saya datang pukul 15.15 WIB, karena saya melakukan sholat Ashar dulu. Prinsip saya adalah  mengutamakan Alloh dulu, setelah urusan manusia.

Harapan saya setelah selesai mata kuliah ini adalah kita menemukan Tuhan dengan cara yang terbaiknya. Ustad Yusuf Mansur mengenal Alloh saat beliau di penjara. Ustad Jefri al Bukhori menemukan Alloh saat dia bertolak dari narkoba, Opick menemukan Alloh, saat menyampaikan lagu religi pertamanya “Tombo Ati”.

Jika demikian, maka kita akan menemukan Tuhan dengan jalan apa? Pastinya kita sendiri yang melakukan seijin kuasa Alloh, mudah-mudahan melalui mata kulaih PAI ini, kita akan menemukan Dia. Amin. wa’alloh ‘alam.

 

Agung Kuswantoro, email : agungbinmadik@gmail.com

Bukan Biaya Administrasi

Konon, pada era sembilan puluhan, saat orang mengurus KTP atau akta kelahiran di kelurahan, setelah selesai mendapatkannya, mereka mengeluarkan uang dari dompetnya ke kotak. Pengeluaran uang tersebut, kebanyakan orang menyebutnya biaya atau ongkos administrasi. Sedangkan kotaknya disebut dengan kotak administrasi.

Istilah yang beredar di masyarakat,  menurut saya tidak sesuai. Mengapa? Administrasi yang dilakukan oleh pegawai kelurahan sebenarnya sudah termasuk dalam kewajiban dia. Dia tersebut bertugas melayani masyarakat.

Namun, mengapa “menarik uang” kepada masyarakat dengan mengistilahkan “biaya administrasi”?

Berdasarkan pengamatan di lapangan, bahwa masalah tersebut merupakan masalah birokrasi. Sehingga saya tidak mencoba untuk mengetahui secara detail. Namun, informasi yang saya dapatkan bahwa pola kerja sebagaimana yang dilakukan oleh para pegawai kelurahan, perlu direformasi birokrasi.

Kembali pada permasalahan awal, yaitu  biaya administrasi. Istilah biaya administrasi, saya sebagai pelaku administrator merasa malu. Mengapa? Sebenarnya  dalam pengurusan administrasi tidaklah ribet.  Dibutuhkan sistem atau manajemen  yang baik, mulai dari pimpinan, kepala bagian, hingga pegawai lapangan.

Janganlah kata administrasi menjadikan “momok” di masyarakat yang menakutkan. Kecanggihan teknologi informasi menjadikan lebih efektif dan efisien. Dengan memanfaatkan teknologi, maka proses yang terlalu panjang, dapat dilakukan oleh sistem. Seperti, kita registrasi melalui internet atau mengisi formulir di website. Dulu, biasanya mengambil formulir harus  mengantri, tetapi dengan pemanfaatan teknologi menjadi lebih praktis. Sehingga pada saat sekarang, kita mengenal sistem informasi seperti e KTP, e procuremen, e arsip, e laporan, dan lainnya.

Dengan cara seperti itu, menjadikan “pungutan liar” atau pungli di suatu lembaga dapat berkurang. Sehingga istilah biaya administrasi bisa hilang.

Memang benar, dalam administrasi dibutuhkan manajemen yang apik. Fungsi manajemen harus berjalan sesuai dengan polanya, karena merupakan suatu kesatuan yang utuh, seperti perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Melalui manajemen yang apik, maka saya berharap tidak ada istilah biaya administrasi. Adanya biaya lelah atas pekerjaan seseorang. Tidak ada kaitan antara biaya dengan administrasi dalam suatu lembaga. Karena, administrasi adalah bagian pekerjaan yang wajib diselesaikan pegawai di kantor tersebut. Dan, ia sudah digaji atau dibayar oleh lembaga tersebut. Jika lembaga itu swasta, maka yang menggaji adalah perusahaan. Jika itu pemerintah, maka yang menggaji adalah rakyat. Apabila ada rakyat yang datang mengurus KTP atau akta  kelahiran, maka pegawai tersebut harus melayaninya, karena pegawai tersebut, digaji oleh rakyat.

 

Agung Kuswantoro, dosen mata pendidikan admnistrasi FE Unnes, email agungbinmadik@gmail.com

Mengenal Administrasi

Saat memasuki semester dua, Saya memilih prodi pendidikan Administrasi Perkantoran (AP), Saya berpendapat, bahwa lulusan AP mengantarkan Saya untuk ahli dibidang manajemen. Saya menyadari kelemahan diri saya, yaitu kurang cepat dalam matematika (menghitung), sehingga tidak memilih prodi akuntansi.
Namun demikian, orang memilih prodi AP tidak berarti lemah dalam “menghitung” atau orang yang tidak pandai. Justru, orang yang memilih prodi AP dididik untuk menjadi orang besar. Hal itu saya ketahui setelah lulus dari prodi tersebut.
Dari cerita di atas, bahwa selama perkuliahan saya lebih asyik dengan materi-materi yang disajikan di prodi itu. Mata kuliah yang ada di kurikulum AP itu unik, karena tidak semua mata kuliah tersebut, didapatkan pada prodi lain, seperti, stenografi, mengetik, manajemen perkantoran, kearsipan, humas (hubungan masyarakat), kesekretariatan, aplikasi perkantoran, dan lainnya.
Beberapa orang menilai bahwa prodi ini menghasilkan pekerja Tata Usaha (TU). Dimana tugas-tugasnya diantaranya mengetik, menulis dan mengantarkan surat, menggandakan dokumen, menyimpan arsip, mengecap atau menyetempel, membuat laporan, dan lainnya. Pekerjaan-pekerjaan di atas disebut dengan clarical work. Pekerjaan tersebut bersifat rutin, tanpa adanya konsep atau gagasan (idea). Jika ada orang yang berpendapat, sebagaimana di atas, maka menurut saya kurang tepat. Karena pekerjaan-pekerjaan tersebut merupakan sebagian kecil dari administrasi.
Administrasi adalah kegiatan yang melibatkan sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Di mana, dalam mencapai tujuan dibutuhkan beberapa personal, finansial, komunikasi, koordinasi, penjadwalan kegiatan, publikasi, dan lainnya. Dengan demikian, clarical work, adalah satu bagian terkecil dari unsur administrasi, yaitu tata usaha.
Setelah mempelajari ilmu administrasi diharapkan menjadi seseorang untuk bercita-cita besar, seperti masalah kenegaraan. Kita mengenal menteri sekretaris Negara (mensesneg), pakar tata negara, peneliti administrasi negara, humas di perusahaan besar, dan lainnya. Itu semua adalah outcome ilmu administrasi. Ilmu administrasi yang dipelajari di prodi AP adalah bersifat pendidikan, maka lulusannya diharapkan menjadi guru administrasi perkantoran. Kelak, ia menjagar di SMK. Hal itulah yang menjadikan perbedaan orang mempelajari ilmu administrasi dibidang murni (science) dan pendidikan.
Sekarang, mengapa Saudara masuk di prodi pendidikan administrai perkantoran? Berilah alasannya. Jika sudah mengetahui outcome mempelajari ilmu administrasi, apa yang saudara lakukan? Apakah Saudara menyesal? Mengapa? Apa yang Saudara lakukan setelah mengetahui hal tersebut?
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dan didiskusikan dengan teman-Saudara. Tulislah jawaban tersebut di kertas.

Agung Kuswantoro, pengajar pendidikan administrasi perkantoran FE Unnes, email : agungbinmadik@gmail.com

Humas dan Administrasi

 

Oleh Agung Kuswantoro

Apa kaitan hubungan masyarakat (humas) dengan administrasi? Terlebih dengan pendidikan administrasi perkantoran? Hal itulah yang menjadi pertanyaan awal saya, sebagai pengampu mata kuliah humas. Mengapa? Karena, secara kurikulum, mata kuliah tersebut muncul pada prodi pendidikan administrasi perkantoran S1 dan manajemen perkantoran D3.

Berdasarkan pengamatan penulis, mata kuliah tersebut muncul pada jurusan murni, yaitu komunikasi. Bahkan, dijadikan nama prodi. Sebagaimana di Universitas Negeri ternama di Bandung dan Semarang, terdapat jurusan komunikasi dengan prodi humas.

Namun, mengapa hal ini tidak terjadi di jurusan pendidikan ekonomi, Unnes? Bahkan mata kuliah tersebut, bukan mata kuliah bersyarat. Artinya mahasiswa diperbolehkan mengambil mata kuliah tersebut tanpa ada suatu syarat apapun.

Setelah saya mencoba merenung dan membaca beberapa literatur, akhirnya saya memiliki jawaban dari dari pertanyaan di atas.

 

Unsur Administrasi

Kaitan antara humas dengan administrasi adalah humas merupakan unsur administrasi. Unsur administrasi terdiri dari delapan yaitu manajemen, organisasi, komunikasi, tata usaha, perbekalan, hubungan masyarakat, keuangan, dan kepegawaian.

Unsur mengandung arti bagian dari suatu kebulatan. Ketidakadaan satu dari delapan unsur administrasi, bukan berarti administrasi itu hilang. Artinya, masih ada tujuh unsur lain yang ada di administrasi. (Westra, P, dkk).

Dengan demikian, humas merupakan bagian dari administrasi. Oleh karenanya, dalam mendefinisikan humas pun harus dengan pendekatan administrasi. Faktor administrasi yaitu sekelompok orang, bekerja sama, dan mencapai tujuan. Apa kegiatan penataan humas? Pastinya berkaitan dengan hubungan timbal balik antara lembaga dengan masyarakat.

Berdasarkan hal di atas, maka humas dilakukan oleh sekelompok orang, adanya kerja sama antara lembaga dengan masyarakat, anggota lembaga dengan anggota lainnya, dan tercapainya tujuan organinasi melalui hubungan baik dengan masyarakat.

 

Makna Humas

Humas singkatan dari hubungan masyarakat. Istilah tersebut, merupakan adopsi bahasa Inggris dari kata Public Relations (PR). Saya kurang sepakat dengan pengistilahan PR menjadi humas. Public secara kamus bahasa Inggris memiliki makna umum, sedangkan relations memiliki makna hubungan. Bila digabung kedua kata tersebut, adalah hubungan umum. Padahal, masyarakat dalam bahasa Inggris, diistilahkan dengan kata society. Kedua kata digabungkan menjadi society public. Oleh karenya, saya tidak sependapat istilah bahasa Inggris yang di-Indonesia-kan atau sebaliknya, istilah bahasa Indonesia yang di-Inggris-kan. Dengan cara seperti itu, kita akan lebih menghargai bahasa bangsa Negara kita.

Menurut Cutlip dkk (2006 – 6) public relations adalah fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut.

Lattimore, Dan dkk (2010 – 4) berpendapat public relations adalah fungsi kepemimpinan dan manajemen yang membantu pencapaian tujuan organisasi, mendefinisikan filosofi, dan memfasilitasi perubahan organisasi.

Olusegun (2006: 2-3) mendefinisikan humas adalah upaya yang disengaja dan berkelanjutan untuk membangun dan memelihara saling pengertian antara organisasi dan publik-publiknya.

Dari ketiga pendapat di atas, penulis mendefinisikan humas yaitu fungsi manajemen untuk membangun dan memelihara hubungan yang sinergi antara organisasi dengan anggotanya, antara organisasi dengan publik, untuk mencapai tujuannya.

Kebanyakan literatur mengkaji humas pada praktek di perusahaan atau industri. Sehingga, humas identik dengan periklanan, pemasaran, dan jurnalisme. Padahal, ketiga istilah tersebut berbeda.

Periklanan, biasanya tempat dan waktu dibayarkan pada sebuah media. Periklanan bersifat komersial secara ekslusif di televisi, surat kabar, radio, majalah dan internet. Sedangkan humas memaparkan aspek publisitas atau cerita (story), tanpa harus dibayar pada kolom berita sebuah media.

Pemasaran merupakan fungsi penjualan dan distribusi dengan publik utamanya adalah pelanggan, pengecer, dan distributor. Humas berhadapan dengan masyarakat yang memiliki kepentingan berbeda-beda. Terkadang, bertentangan dengan humas. Publik dari humas selain masyarakat adalah media, karyawan, pimpinan, pemerintah, investor, dan lainnya.

Jurnalis tidak mewakili organisasi terkait dengan artikel yang mereka tulis. Humas mewakili organisasi dalam mengemas ide dan menyampaikan fakta. Jurnalis dilatih menulis berita di media. Humas menguasai dasar-dasar menulis, desain grafis, aturan jurnalis untuk semua media (Lattimore, dan, et al. 2010 : 8 – 11)

 

Tugas

  1. Carilah dua definisi humas dari para ahli atau kamus. Kemudian, buatlah definisi humas menurut Saudara!
  2. Buatlah tabel perbedaan antara humas dengan periklanan, pemasaran, dan jurnalis!
  3. Berilah contoh dari perbedaan masing-masing tersebut! (humas dengan periklanan, pemasaran, dan jurnalis)

 

Agung Kuswantoro, pengajar pendidikan administrasi perkantoran FE Unnes, email agungbinmadik@gmail.com

Sumber :

Lattimore, Dan, et.al. 2010. Publik Relation: Profesi dan Praktek. Jakarta: Salemba Humanika (Terjemahan)

 

Olusegun. OW. 2006. Principles and Practice of Public Relations. Lagos: National Open University of Nigeria.

 

Universitas Romadlon

Hampir satu pekan Idul Fitri 1435 H. Kenangan masih membekas di hati, terutama saat khotib Solat Id di masjid agung Pemalang.
Saya sangat tesentuh hatinya dengan cara dan isi penyampaian materinya. Tiap lafal, kata, kalimat, paragraph dan ucapannya saya dengarkan dengan pikiran dan hati. Hanya saja, waktu itu, saya tidak membawa bolpoitn dan buku kecil, sehingga saya tidak bisa menuliskan isi khotbah secara detail. Kurang lebih isinya sebagai berikut :
Di penghujung akhir bulan Romadlon. Ada pemuda yang sedang berdoa dengan khusuk di sudud masjid. Ia terlihat menetaskan air mata. Karena ditinggal bulan yang penuh dengan ajaran yang mulia. Di bulan itu, ada kompetensi yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Seperti puasa, zakat, sedekah, solat lail, itikaf, dan lainnya.
Kampus Romadlon telah mengajarkan kepada manusia untuk berhubungan dengan manusia dan Alloh secara baik. Hubungan manusia dengan manusia baik ditandai dengan silaturarohim yang menjunjung nilai-nilai sosial. Ia mau memaafkan kesalahan sesama, dengan tulus. Ia menerima keadaan seseorang, meskipun telah menyakitinya. Kesalahan terhadap manusailah yang susah dibanding melakukan kesalahan kepada Alloh.
Melakukan kesalahan kepada Alloh, dapat dihilangkan dengan meninggalkan perbuatan maksiat, tidak menjalani perbuatan tersebut (maksiat), dan meminta ampun (istigfar) kepadaNya, dan bertaubat untuk tidka mengulangi perbuatan tersebut.
Melakukan kesalahan kepada manusia dibutuhkan hati yang besar. Hati yang lapang untuk menerima apapun keadaan dia. Hati yang bersih untuk berpikir untuk menerima keadaan seseorang yang telah menyakiti dirinya. Dibutuhkan jiwa kesatria dan iman yang kuat untuk menerimanya. Kampus Romadlon-lah yang mengajarkan kompetensi itu selama satu bulan.
Jika ibadah selama satu bulan di kampus tersebut baik, maka ibadah di bulan sebelas berikutnya akan baik. Jika hubungan sesama Alloh baik, maka hubungan dengan manusia pasti baik. Solat dia mampu khusuk, tidak ria. Ibadahnya semata-mata karena Alloh, bukan karena manusia.
Sekarang, kampus tersebut sudah meluluskan muttaqin. Dengan indikator kelulusan Alloh yang menentukannya, menjadikan kita sebagai manusia berdoa ada di dalamnya.
Kampus yang mendidik seorang beriman menjadi bertakwa. Sekarang telah meninggalkan kita semua. Sekarang ada kampus baru, yaitu kampus Syawal. Kampus dengan kompetensi yang sederhana di dalamnnya ada puasa sunah enam hari. Mampukah kita melakukannya, sebagaimana kompetensi yang telah dilakukan pada kampus Romadlon?
Ataukan kita akan menambahkan kompetensi-kompetensi sebagaimana di kampus Romadlon yang ada tadarus, itikaf, solat lail, zakat, sedekah, dan lainnya di kampus syawal atau di kampus lainnya.
Pastinya, kita sendiri yang akan mengetahui dan melakukan setiap kompetensi di kampus Romadlon. Karena kompetensi tersebut erat kaitannya dengan hati. Sehingga, tempat berlabuhnya hanya Alloh. Nilai kemampuan dari setiap kompetensinya pun yang menilai Dia. Ikhlas atau pun tidaknya, hanyalah Dia yang mengetahuinya. Dia yang bisa mengangkat kita semua menjadi hamba yang muttaqin, solat khusuk, sedekah ikhlas, ibadah dengan hati yang jernih, tanpa ada rasa penilaian dari manusia. Hanya Alloh yang menjadi tujuan hidupnya.
Demikian kisah saya waktu solat Id di kampung halaman. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan, karena saya menulisnya berdasarkan ingatan saya yang saya rekam dipikiran. Menulisanya pun, setelah enam enam hari berikutnya. Jadi mohon maaf, jika ada kesalahan dalam penulisan ini. Namun, tulisan ini, semata-mata karena saya ingin menjadi bagian orang yang muttaqin dan mampu menerapkan kompetensi di kurrikulum kampus Romadlon. Doakan juga, saya bisa belajar seperti Bapak Khotib yang pandai dan melakukan tiap ucapannya. Amin..

Agung Kuswantoro, jalan RE Maartadinata 84 Pelutan Pemalang, email agungbinmadik@gmail.com

Tarweh ke-28 dan ke-29

Taraweh Dua Puluh Delapan: Mempertahankan Ibadah

Pada malam kedua puluh delapan di bulan Romadlon, saya berada di kampung halaman (Pemalang). Saya tiba di rumah jam 18.30 WIB dari perjalanan yang memakan waktu kurang lebih enam jam, berawal dari kota Atlas (Semarang). Perjalanan tersebut sangat lama, karena adanya pengalihan jalur. Akibat jembatan Comal amblas.

Karena saya baru datang, sehingga solat Isa, taraweh dan witir dilakukan di rumah. Itu pun melaksanakannya jam puluk 21.10 WIB. Mengingat saya harus membersihkan diri terlebih dahulu, yaitu mandi dan istirahat sejenak.

Untuk malam ini, saya solat munfarid untuk solat Isya, taraweh, dan witir. Terasa beda dalam melakukannya, karena selama malam pertama hingga kedua puluh tujuh, saya selalu melakukan berjamaah, bahkan menjadi Imam di musolla Pak Bahrul.

Saya menyadari dan menpercayai, bahwa perjalanan adalah salah satu azab. Ajaran itu yang disampaikan oleh guru saya waktu mengaji. Sehingga, mudik termasuk di dalam kategori azab. Misal, dalam perjalanan kita merasa lapar dan capai. Sehingga malas untuk beribadah kepada Alloh SWT.

Di dua hari terakhir di bulan Romadlon, saya mencoba merefleksikan diri berdasarkan isi khutbah Jumat pada hari itu, yaitu untuk mempertahankan ibadah Romadlon, sebagaimana pada awal bulan tersebut.

Tantangan terberat adalah menjaga ibadah di akhir bulan Romadlon. Di saat itu, orang disibukkan dengan mudik, menyiapkan lebaran, dan kegiatan keluarga seperti halal bi halal. Sehingga, kadang manusia dengan mudah meninggalkan ibadah-ibadah tersebut. Atau, kadar ibadah menjadi berkurang, karena kesibukan menjelang idul fitri. Padahal di akhir bulan Romadlon, dianjurkan untuk itikaf, baca quran, solat lail, dan lainnya. Sehingga, pahala pada akhir bulan tersebut sangat besar, karena tantangannya lebih banyak dibanding dengan awal bulan Romadlon.

Dari refleksi itu, saya berusaha menjaga kualitas ibadah di bulan Romadlon. Meskipun, saya sudah tidak bertugas menjadi imam. Namun, dengan semangat perjuangan sebagaimana di Semarang, saya akan terapkan di Pemalang yang penuh tantang lebih berat.

Saya pun berdoa, semoga posisi imam dan kultum khotib yang saya lakukan dapat diteruskan oleh Pak Bahrul dan Pak Dian yang berada di Semarang. Karena, kedua tidak mudik ke kampung halaman. Saya selalu menyemangati mereka untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban di perumahan. Sebenarnya, solat taraweh berjamaah berakhir di malam dua puluh tujuh, karena saya pulang kampung. Namun, karena ada permintaan dari warga sekitar agar tetap dilanjutkan solatnya. Saya pun berharap dan men-suppot kepada Pak Bahrul dan Pak Dian untuk bekerja sama untuk melanjutkan solat berjamaah tersebut.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh delapan di kampung halaman. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

 

Taraweh Dua Puluh Sembilan: Mohon Diijinkan Dipertemukan Lagi

Pada malam kedua puluh sembilan merupakan malam terakhir solat taraweh di tahun 1435 Hijriah. Tahun ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Bagi saya, tahun ini adalah tahun pembelajaran terjun di masyarakat dengan berbuat baik melalui ilmu yang saya dapatkan di waktu dulu. Alhamdulillah, saya oleh warga dipercayai menjadi imam, khotib kultum, dan pemateri untuk buka puasa bersama di perumahan. Pengalaman pertama dan sangat berarti dalam kehidupan saya. Saya menjadi banyak membaca kitab dan karakter jamaah yang berbeda-beda untuk mengajak kebaikan dan beribadah kepada Alloh SWT.

Pada malam itu saya solat taraweh di rumah secara munfarid. Mengingat, saya juga bergantian menjaga anak saya. Saya solat di rumah sembari mengajarkan anak tentang solat. Saya mengeraskan bacaan solat sebagaimana solat berjamaah, meskipun solat yang saya lakukan adalah munfarid. Terlihat dia mendekat ke sajadah saya untuk menyentuh dan mencoba naik di punggung saya saat sujud.

Sepintas mengganggu solat saya, tetapi saya senang. Karena, dia sudah mencoba belajar sedikit mengenai gerakan solat. Pola yang saya lakukan, sebagaimana pola yang saya lakukan saat menjadi imam di musolla Pak Bahrul. Saya pun membilali dan berdoa sendiri, seperti doa solat taraweh dan dikir setelah solat witir.

Saya berdoa, semoga hal yang sama dilakukan di musolla Pak Bahrul. Pak Bahrul dan Pak Dian melakukannya bersama dengan jamaah lain untuk bersama-sama melanjutkan belajar terjun di masyarakat dengan solat berjamaah.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam terakhir bulan Romadlon tahun 1435 Hijriah di kampung halaman. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Taraweh Dua Puluh Tujuh: Hari Puasa yang Diharamkan, Dimakruhkan, Denda Puasa, dan Itikaf

Pada malam itu Pak Dian bertugas sebagai bilal, dan saya bertugas sebagai imam dan khotib kultum. Malam itu adalah malam terakhir bagi saya untuk bertugas di musolla Pak Bahrul, karena besok, hari jumat (25 Juli 2014) mudik ke Pemalang bersama istri dan anak.

Saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi imam dan khtib kultum. Saya juga menyampaikan permintaan maaf, barangkali ada kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja selama bertugas di musolla Pak Bahrul. Mungkin juga anak saya (Mubin) barangkali mengganggu ibadah jamaah, karena tingkah laku dia yang masih kecil, seperti berkata “ta ta ta” atau “wa wa wa”. Semata-mata saya mengajak dia, untuk mendidik beribadah kepadanya dengan caranya.

Saya memberikan materi tentang puasa yang diharamkan ada lima hari yaitu dua hari raya, yaitu idul fitri dan adha, serta tiga hari tasriq (11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah). Untuk tanggal 2 syawal sudah diperbolehkan puasa sunah enam hari bulan syawal. Ada kebiasaan di Pekalongan, yaitu syawalan, yang masyarakatnya puasa di tanggal 2 hingga 7 Syawal. Pada hari terakhir itu lah, ada perayaan syawalan dengan pemotongan “lopis” raksasa. Hal ini sebagai bukti kemenangan setelah puasa syawal. Dan puasa syawal, sangat dianjurkan oleh Rosullullah.

Puasa yang dimakruhkan adalah puasa di hari yang “syak”. Artinya, ragu. Misal, awal Romadlon jatuh pada hari Senin. Tetapi ada seseorang yang tidak yakin, bahwa puasa pada hari itu. Ia berpendapat puasanya hari Selasa. Jika, dia puasa pada hari Senin, maka puasanya dia makruh. Terus bagaimana baiknya? Ya, puasa di hari Selasa. Sehingga, secara fiqih, jika dia melihat awal bulan (hilal) pada hari Selasa, maka ia wajib puasa. Dia cukup bersaksi, bahwa Ia telah melihat hilal.

Denda (kafarot) bagi suami istri yang melakukan hubungan-saumi istri pada siang hari yaitu memerdekan budak, puasa berturut-turut selama enam puluh hari, atau memberi makanan pokok (beras) kepada enam puluh orang miskin setengah liter (sak mud). Puasa berturut-turut yang dimaksudkan di sini adalah puasa yang tanpa putus. Jika mereka (suami dan istri) puasanya batal di hari ketujuh, maka mereka harus mengulang lagi dihari pertama. Melihat denda tersebut, menurut saya sangat berat, maka sebaiknya kita menghormati bulan Romadlon dengan tidak melakukannya. Karena, dalam agama telah mentoleransi untuk melakukannya pada malam hari. Mengapa hukumannya kok berat? Menurut saya, semata-mata untuk menghormati bulan yang suci dan puasa sendiri adalah kewajiban bagi orang yang beriman dan salah satu dari rukun islam.

Orang tua boleh tidak puasa, namun ia wajib memberikan beras setengah liter (sak mud) kepada satu orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Demikian juga, Puasa boleh tidak dilakukan oleh orang yang sedang hamil, menyusui, atau melahirkan. Ia wajib meng-qodlo (mengganti) dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin per tiap hari yang ditinggalkannya. Dari kitab yang saya baca kata yang digunakan adalah “Wa” artinya dan, tidak “Au ” artinya pilihan, dalam kalimat qodlo wal kifarot, aartinya qodlo dan kifarot. Maknanya bahwa, wajib mengganti puasa dan memberikan beras setengah liter kepada orang miskin. Bukan memilih untuk puasa atau memberikan beras. Sedangkan orang yang sakit atau dalam perjalanan jauh, ia wajib menggatikan puasanya saja.

Tadi sore, sewaktu di jalan melihat seorang lelaki Islam dan sehat dalam kondisi tidak puasa. Berdasarkan keterangan tersebut. Menurut saya, meskipun dia bukan seorang perempuan yang merasakan nikmat hamil atau menyusui. Maka, ia wajib menggantinya.

Ada amalan yang mulia di sepeluh bulan terakhir bulan Romadlon, yaitu itikaf. Ini bab terakhir dalam kitab puasa yang saya kaji selama kultum berdasarkan kitab fathul qorib. Itikaf secara bahasa adalah menempati suatu tempat. Tempat yang dimaksudkan adalah masjid, bukan musolla. Syaratnya ada dua yaitu niat dan berdiam diri di masjid. Pastinya, di sana kita melakukan dikir, tadarus, solawat, atau ibadah lainnya.

Jika kita sudah puasa, solat taraweh, witir, atau para jamaah melakukan dhuha, tahajud, sedekah dan perbuatan lainnya. Maka saatnya, kita meraih “kado” dari Alloh berupa kebahagiaan. Minimal kebahagiaan batin. Berdasarkan pengalaman penulis, pasti kita akan mendapatkan hadiah dari Alloh, setelah kita mengikuti perintahnya. Terlebih perintah-perintah di bulan Romadlon, kita melakukannya. Sehingga, Alloh tidak rela, jika hambanya yang mengikutinya. Namun tanpa balasan yang telah dijanjikan olehNya.

Ibarat anak kepada orang tua. Anak yang telah menyapu, mengepel, dan membersihkan rumahnya. Setelah itu, biasanya orang tuanya memberikan uang jajan atau hadiah kepadanya sebagai reward bagi dia yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Demikian juga, dengan berpuasa dan melakukan perbuatan baik di bulan Romadlon, maka Alloh akan memberikan pahala kepada hambanya yang telah mendekat padaNya. Hal itulah yang saya sampaikan kepada jamaah, sebagai motivasi dalam beribadah di tiga hari terakhir bulan Romadlon. Semoga kita mendapatkan pahala yang besar oleh Alloh dari amal baik kita selama ini. Wallohu ‘alam

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh tujuh di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga Perum Sekarwangi Sekaran Semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.