“lookup dan outlook”

Kamis, 21 Maret 2013 di labolatorium computer di kuliah aplikasi computer pendidikan koperasi. Tepat menunjukkan waktu 13.00 WIB, saya menuju ke labolatorium, di mana mahasiswa dan teman saya via amalia sudah stand by di ruangan.

Pekerjaan yang pertama adalah memanggil mereka satu persatu dari mahasiswa, kemudian menyiapkan bahan yang akan diajarkan. Saya mengulang materi minggu kemarin yaitu table. Saya meminta kepada mereka untuk membuka pekerjaan kemarin.

Mereka memanggil filenya di computer dan laptopnya. Setelah mereka mencarinya ternyata mereka yang memakai laptop masih menyimpannya, tetapi bagi yang memakai computer, file mereka hilang.

Dengan kejadian tersebut, maka saya menghitung jumlah mahasiswa yang filenya hilang. Ada 35 mahasiswa yang file hilang dari total 58 mahasiswa.

Saya memutuskan untuk penugasan dari yang saya siapkan materi diblog saya. Mereka download materi kemudian mengerjakan di rumah. Kuliah yang seharusnya 3 sks dilakukan hanya 1 sks tetapi mereka mengerjakan tugas yang nilainya kurang lebih 3 sks.

Ada yang menarik dalam penjelasan saya menurut mereka. Bagi mereka mungkin ini lucu sampai ada yang menyebut “stand up comedi” yang ditujukan kepada saya. Saya menjelaskan materi hari ini yaitu lookup. Sekedar penjelasan yang apa adanya, bukan penjelasan yang sebenarnya. Hal ini bertujuan memancing mereka untuk merespon dari stimuli saya.

Saya mengartikan lookup adalah memandang ke atas. Look itu memandang dan up itu ke atas. Mereka pada tertawa. Lama saya menjelaskan lookup tetapi ketika saya mengatakan lookup mesti (hampir 85%) saya mengatakan outlook sehingga mereka mengingatkan saya dengan kata “lookup, Pak,,bukan outlook”. Kemudian saya menjawabnya “Inna lillahi wainna ilaihi roji’un” wah maaf saya salah terus menyebutkannya. Saya tulis aja biar tidak salah lagi di papan.

Saya menjelaskan kepada mereka bahwa beberapa hari kemarin saya menjelaskan materi outlook di semester dua. Mereka antusias sekali sampai banyak bertanya. Jadi maklum jika saya mengatakan lookup jadi outlook karena look-looknya sama. Jika tidak percaya buka blog saya ketik dipencarian dengan kata “outlook”. Mereka mengetikkannya, wal hasil mereka menemukannya dengan judul “outlook itu apa, Pak?” setelah saya menjelaskan hal itu mereka percaya dengan seringnya pengucapan saya yang salah.

Kejadian tersebut tidak membuat saya mau, justru senang karena mereka mendengarkan kata-kata saya dan mencermatinya. Terbukti ketika saya mengucapkan salah, mereka membenarkannya dengan spontan meski mereka sambil senyum-senyum. Saya sangat berterima kasih dengan mereka karena mereka sudah antuis dengan perkulihan hari itu. Sukses selalu buat kalian semua, mudah-mudahan Alloh memberikan kemudahan diperkuliahan kita…Amin

Materi Lookup

3.5 Membuat Lookup

Lookup adalah fitur yang disediakan Access untuk menampilkan pilihan data, misalnya untuk field Jenis Kelamin tersedia pilihan “Laki-laki” dan “Perempuan”, untuk field Jenis Simpanan tersedia pilihan “Pokok”, “Wajib”, dan “Sukarela”, dan sebagainya.

Gambar 3-28. Contoh tampilan Lookup

Pembuatan Lookup tidak harus dilakukan, namun jika dilakukan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Untuk memudahkan pemakai dalam memasukkan data, yaitu tinggal memilih dari data yang tersedia.
  • Untuk membatasi data yang bisa dimasukkan pemakai.
  • Untuk menampilkan data yang lebih mudah dibaca/dimengerti padahal data yang sebenarnya bukan itu. Contohnya adalah data Jenis Kelamin, di mana data yang sebenarnya adalah “L” atau “P” tetapi yang ditampilkan adalah “Laki-laki” atau “Perempuan”.

Sebenarnya, penggunaan control Combo Box untuk menampilkan pilihan data bisa dilakukan langsung pada form atau report. Namun jika kita membuat Lookup pada table, maka ketika field yang yang mempunyai Lookup tersebut ditampilkan (dalam datasheet) atau ditambahkan pada form dan report, maka pengaturan Lookup-nya otomatis mengikuti.

3.5.1 Lookup pada Table Anggota

Berikut ini adalah beberapa Lookup yang perlu Anda buat pada table Anggota. Untuk membuatnya, bukalah table tbl_Anggota dalam Design View.

  • Lookup JenisKelamin

Lookup JenisKelamin didasarkan pada data yang kita sediakan secara langsung (diketik/dimasukkan), yaitu “L” untuk “Laki­laki” dan “P” untuk “Perempuan”. Karena diketik sendiri, tipe sumber data Lookup ini disebut “Value List”.

Klik field JenisKelamin, lalu klik tab Lookup pada Field Properties.

Pilih “Combo Box” sebagai Display Control, lalu atur properti lain hingga menjadi sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar-3-29. Membuat Lookup Jenis Kelamin

Properti yang perlu diatur adalah:

 

Display Control Combo Box
Row Source Type Value List
Row Source L;Laki-laki;P;Perempuan
Bound Column  
Column Count 2
Column Widths 0cm;1 cm
List Width 1 cm
Limit To List Yes

Catatan: properti yang tidak dicantumkan di sini dibiarkan se­bagaimana aslinya.

  • Lookup Agama

Lookup Agama didasarkan pada table Agama yang sudah kita buat.

Klik field Agama lalu atur properti Lookup sebagai berikut:

Display Control Combo Box
Row Source Type Table/Query
Row Source SELECT tbl_Agama.Agama, tbl_Agama.Urutan FROM tbl_Agama ORDER BY tbl_Agama.Urutan;
Bound Column 1
Column Count 1
Column Widths  
List Width 1cm
Limit To List No

 

Isi properti Row Source di atas merupakan perintah SQL atau query. Untuk membuatnya lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Klik tombol Build (       ) di sebelah kanan isian properti.
  2. Muncul Query Builder. pada kotak Show Table, pilih tbl_Agama. Klik “Add” lalu klik “Close”.
  3. Klik-ganda field Agama dari kotak field untuk memasuk­kannya ke dalam grid. Anda bisa juga menyeret field langsung ke dalam kolom pada grid.

Masukkan pula field Urutan ke dalam grid.

  1. Di bawah kolom Urutan, pilih Sort: Ascending.
  2. Hilangkan tanda centang pada baris Show kolom Urutan.

 

 

Gambar 3-30. Membuat query untuk Row Source

  1. Klik tombol “x” untuk menutup Query-Builder (atau pilih menu File > Close pada Access 2007)
  2. Klik “Yes” pada pertanyaan konfirmasi.

 

  • Lookup Tempat Lahir

Lookup Tempat Lahir didasarkan pada nama kota yang di­masukkan pemakai pada field TempatLahir, serta dikom­binasikan juga dengan nama kota yang dimasukkan pada field Kota (alamat). Dengan cara ini pemakai bisa memilih dari nama kota yang sudah pernah dimasukkan, atau menambahkan nama kota baru jika belum ada dalam pilihan.

Untuk menyediakan data nama kota yang sudah pernah di­masukkan, kita perlu membuat sebuah query, yang disimpan dengan nama qry_Kota (akan dibahas tersendiri di seksi se­lanjutnya dalam bab ini. Untuk saat ini Anda bisa langsung memasukkan nama query tersebut pada properti Row Source).

Klik field TempatLahir lalu atur properti Lookup sebagai berikut:

Display Control Combo Box
Row Source Type Table/Query
Row Source qry-Kota
Bound Column 1
Column Count 1
Column Widths  
List Width 1 cm
Limit To List No

selebihnya klik di sini

Siapa Tuhanmu, Mahasiswa?

 

Mahasiswa yang menunggu dosen pembimbingnya di depan ruang dosen. Sebut saja namanya Ratu. Saya perhatikan, dia sudah menanti kurang lebih satu jam dari jam 09.00 WIB. Berarti dia datang jam 08.00 WIB. Jam 10.00 WIB ternyata dosennya ada rapat mendadak di ruang ad hock dan tidak ada kepastian jam berapa rapat berakhir. Dia masih sabar menanti dosennya, Harapannya akan membimbingnya. Dia tidak berani menginformasikan jika dia menunggunya.

Ada juga mahasiswa yang lainnya yaitu Raja (nama samaran). Raja adalah mahasiswa yang sedang merevisi tugas terstrukturnya. Dia ketakutan dengan hasil pekerjaannya. Dalam hatinya, jangan-jangan pekerjaannya salah sehingga nilainya jelek.

Ratu dan Raja adalah bagian dari mahasiswa yang jumlahnya ribuan yang mengalami kegalauan. Jika saya memaknai dia sedang galau hati. Sebenarnya dia memiliki masalah kecil yaitu takut. Ketakutan yang berlebihan yang dialami mereka. Hal ini terlihat dari kalimat mereka seperti jangan-jangan, ah ga enak, aku takut, wah dosennya galak, dan kalimat lainnya.

Pertanyaan dalam peristiwa ini adalah mengapa mereka takut dengan dosen? Mengapa mereka takut dengan hasil pekerjaannya? Apa yang membuat mereka tidak percaya diri dengan hasilnya? Tepatkah jika kita takut pada dosen atau pekerjaan? Mengapa mereka galau hanya karena masalah yang kecil? Apakah mereka tidak mendiskusikan masalahnya pada temannya? Dan pertanyaan lainnya.

Kehilangan Tuhan

Mereka sebenarnya kehilangan Tuhan. Tuhan mereka sebenarnya ada dalam benak hati mereka. Tuhan hadir di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Dia ada di mana-mana.

Jika Tuhan ada di mana-mana dan hadir dalam keadaan apapun maka seharusnya mereka tidak gundah. Mereka harusnya mencari dulu Tuhannya. Nah, pertanyaan adalah Tuhan mereka siapa?

Sebagian besar mahasiswa (beragama Islam) yang saya tanyai menjawabnya Alloh.  Bahkan kalimat pertanyaan dianggap aneh seperti “Siapa Tuhanmu?” Ada yang menjawab “Tuhan Yang Maha Esa, Kok aneh pertanyaannya, Alloh, Ini gimana toh pertanyaannya, dan jawaban lainnya. Ketika ada yang menjawab Tuhan Yang Maha Esa, saya komentari Tuhan itu Esa, jika Islam ada Alloh, jika Kristen ada Yesus, jika Budha ada Si Dharta Gautama, dan lainnya. Orang yang beragama mengatakan Tuhan Yang Maha Esa.

Orang Islam dengan tegas menjawabnya adalah Alloh. Namun, apakah lisan mereka sesuai dengan tindakannya? Pertanyaan ini yang perlu kita kaji. Benar tidak Alloh sebagai Tuhannya yang ada dalam tindakannya. Jangan-jangan hanya penegasan secara lisan saja, tetapi belum dalam tindakan atau hatinya.

Jika mulut mereka menjawab Alloh, mengapa kita tidak takut kepada Alloh? Mengapa Ratu dan Raja tidak takut kepadanya? Seharusnya mereka takut kepada Alloh, bukan pada dosen atau hasil pekerjaannya. Bahkan mereka rela untuk mengantri berjam-jam untuk bimbingan dan cemas dengan hasil kerjaannya. Berarti mereka tuhannya dosen, referensi buku, jurnal, dan lainnya.

Apakah mereka terpikirkan bahwa waktu sekarang dhuha, sebelum bimbingan atau kuliah, atau mengumpulkan tugas kita datang dulu ke Alloh atau sebelum mereka presensi dengan dosen, mereka presensi dengan Alloh dengan solat dhuha. Kemudian mereka berdoa Ya Alloh ijinkan saya bertemu dengan dosen pembimbing dan berilah nikmat sehat kepadanya sehingga saya dapat bertemu untuk belajar ilmuMu, dan bukakanlah pikiran saya agar dapat menerima penjelasan dosen, saya pasrahkan semua hasil tugas saya kepadaMu, mudah-mudahan tugas saya bisa diterima oleh pembimbing atau dosen saya, dan seterusnya…Amin

Siapa Alloh?  

Ketakutan mereka terhadap dosen atau tugas sebenarnya dia telah mentuhankan pada yang ditakutinya. Kejadian di atas mengingatkan saya pada wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam QS al Alaq 1-5 yaitu Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajarkan manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Berdasarkan asbabul nuzulnya bahwa Nabi merasa ketakutan bertemu dengan Jibril yang membawa wahyu surat tersebut. Tubuh Nabi bergetar, detak jantung yang cepat, badannya dingin dan sebagaimana yang menggambarkan kondisi Nabi ketakutan. Akan tetapi Jibril memberikan penjelasan bahwa Dia diutus untuk menyampaikan wahyu kepadanya. Nabi sebagai manusia biasa, wajar jika merasa ketakutan sebagaimana kita menjumpai orang yang tidak dikenal kemudian orang tersebut menyuruh kita untuk melakukan sesuatu.

Demikian juga Nabi, perasaan tersebut manusiawi sehingga Jibril memberikan pengertian dengan cara memeluknya dan mengatakan Iqra (bacalah) tetapi Nabi menjawabnya “Saya tidak bisa membaca”. Mufassirin mengatakan bahwa Nabi itu Ummi yaitu orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Secara bahasa ummi itu ketidaktahuaan lebih banyak dibanding dengan jahlun (bodoh).

Yang menarik adalah kata yang kedua yaitu Nama Tuhanmu. Sebuah jawaban atas kata perintah (amar) yaitu iqro. Sederhana pertanyaannya adalah “Apa yang dibaca? Jawabnya Nama TuhanMu. Ayat tersebut tidak secara langsung menyebutkan bahwa Tuhanmu adalah Alloh.

Dalam Al quran ada beberapa istilah nama Tuhan yaitu ilah dan Rob.  Jika Rob menunjukkan arti umum karena sebelum nabi ada tuhan yang lain yaitu berhala suku quraisy. Sehingga dalam ayat di atas Rob yang seperti apa? Yaitu yang menciptakan manusia dari segumpalan darah.

Penegasan Tuhan disampaikan juga dalam ayat berikutnya yaitu Yang Maha Mulia, yang mengajarkan manusia dengan pena dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.

Maksud dari Tuhan di ayat di atas adalah Alloh. Alloh tidak mengenalkan Dzatnya atau dirinya Alloh melainkan melalui ayat atau tanda-tandanya karena Dialah yang mengatur semua yang ada di bumi dan di langit.

Banyak sekali firman Alloh yang mengajak dan menuntut manusia memperhatikan dan mengenalkan sekelilingnya. Di sana terdapat banyak ayat yakni tanda tentang wujud keesaan Alloh. Seperti firman Alloh “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Alloh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan (suburkan) bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya terdapat ayat-ayat bagi kaum yang berakal (QS al Baqoroh 164).

Boleh jadi kita merasa ajakan di atas sangat luas, maka tempat lain Alloh berfirman dan di bumi itu terdapat ayat-ayat bagi orang yang hendak yakin, dan demikian juga dalam diri kamu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Inti ayat-ayat di atas adalah Alloh itu ad dhohir dan bathin. Dhohir yaitu Nampak jelas melalui ayat-ayatNya di alam raya. Dia menunjukkan kerajaan dan kekuasaanNya dengan manyadarkan kita dalil-dalil wujudNya terbentang di mana-mana.

Demikian juga mahasiswa harus cerdas jika hanya ada permasalahan bimbingan atau tugas mata kuliah jangan berputus asa karena Alloh ada secara dhohir dalam kampus melalui malaikatNya dengan cara menghadirkan dosen lain untuk sharing mengenai materinya atau bertemu teman membahas materi tugas yang diberikan dosen atau menemukan buku referensi yang sedang dibutuhkan. Bukan ketidak adanya dosen yang dituju menjadikan dia tidak berhasil, melainkan Alloh dengan sifat “Maha Tampak” menggantikan dengan lainnya melalui malaikat yang berwujud manusia.

Alloh juga al Bathin yaitu Yang tersebunyi hakekat, bukan karena tidak jelas, tetapi justru karena Dia semakin jelas sehingga mata dan pikiran silau bahkan tumpul, tak mampu memandangNya. Misal matahari tidak beredar, maka kita dapat menduga cahaya yang terlihat di bumi bersumber dari benda. Kita tidak akan menduga bahwa dia adalah akibat cahaya matahari. Tetapi karena matahari menghilang dari ufuk dan terbenam maka ketika itu sadar bahwa penyebabnya adalah matahari, dan matahari ada wujudnya.

Misal mahasiswa sedang menunggu dosen dan tidak ada kepastian untuk bertemu atau susah mencari buku, maka temui Alloh melalui sholat dhuha atau ambil wudhu mendoakan bahwa dosen yang akan ditemui ada atau dipermudah dalam pertemuannya. Dalam keyakinan dia bahwa Alloh itu ada di sajadah sholah dhuha atau donya sehingga apabila tiba-tiba dosen ada di meja tugasnya itu menunjukkan keberadaan Alloh ada melalui kehadiran dosen. Itu  makna al bathin yang sederhana.

Alloh yang ad Dhohir dan al Bathin itu ada dalam benak mahasiswa tidak ada istilah galau atau bingung karena Alloh ada di mana-mana. Tugas kita adalah mencarinya melalui ayat-ayatNya dengan melihat kesuksesan teman, kepandaian orang lain, solat sunah, dhuha, sedekah, dan perbuatan baik lainnya. Dengan demikian istilah takut itu tepat ditujukan kepada Alloh, bukan kepada ciptaanNya. Dosen, kampus, buku referensi, jurnal, dan lainnya itu hanya sebagain kecil dari yang ada di ad dhohirNya. Mereka bukan tuhan.

Bahkan kita jika menemui ad DhohirNya, maka akan menemukan al bathinNya melalui ayat-ayat yang di lingkungan kampus dengan mengambil hikmah atau pelajaran di setiap peristiwa. Mari kita berlomba-lomba mencari pintu Alloh dengan jalan masing-masing. Insya Alloh, Alloh yang akan menyambut kedatangan kita. Bukankah Alloh akan mendatangi hamba dengan berlari jika hamba datang dengan merangkak? Mengapa kita tidak mencarinya?  Wa’aallohu ‘alam

PERENCANAAN TEACHING FACTORY DALAM UPAYA MENANAMKAN NILAI-NILAI ENTERPRENEURSHIP DI SMK NEGERI 6 SEMARANG

agungbinmadik@yahoo.com

Vocational education as one of the aims is to prepare students to enter the workforce and creating jobs with entrepreneurship. The focus of the planning problem is the teaching factory. Formulation of the questions in this study were (1) How to identify needs and problems of teaching factory? (2) Policies teaching factory? (3) What teaching strategies factory? (4) How to formulate the development of teaching factory pattern? (5) How does a preliminary evaluation of teaching factory? This research approach is qualitative approach with case studies. Collection techniques of observation, interviews, and document study. Validity of the degree of confidence, keteralihan, dependency, and certainty. The conclusions in this study were (1) The identification of common needs and problems of each teaching unit that adopt factory production, (2) Teaching factory provides its own policy on each policy of basic production unit, part, and the general (3) strategies used in this study with SWOT analysis approach. (4) The development by improving the quality of products and services, human resource professionals, and private participation in investment (5) Evaluation conducted through the introduction of financial reporting is made of each UP, and the correction of the activities in the UP, and the SOP. Suggestions in this research is to teaching factory, should have a broad policy in managing the UP and the uniformity of the program based on the length of time, (2) For schools, the school put the factory level with the school teaching, (3) For other educational institutions, input in developing teaching factory, (4) For other researchers, as a factory Referrals about teaching, and to examine the other side.Kata Kunci : Perencanaan Teaching Factory, Nilai Entrepreneurship

Keywords: Teaching Planning Factory, The Entrepreneurship

 

PENDAHULUAN

 

*) Pascasarjana, Unnes

Pentingnya peranan pendidikan sebagaimana dalam UUD 1945, pemerintah mengusahakan untuk menyelenggarakan suatu sistem melalui lemabaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang mampu mengatasi permasalahan negara seperti pengangguran, pengangguran tertinggi sebagaimana ada pada SMA dan SMK sebagaimana Badan Pusat Statistik (2012). Prosser dalam Adriyanto (2011:2) bahwa sekolah vokasional dapat mendapatkan pekerjaan yang ada di industri. SMK sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tujuannya adalah menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional, menyiapkan siswa agar mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan diri, menyiapkan tenaga kerja, dan memiliki tanggung jawab yang sangat relevan terhadap pembentukan jiwa entrepreneurship bagi lulusannya.

Pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Secara kurikulum pendidikan kewirausahaan masuk dalam adaptif, artinya bahwa terdapat beberapa teori yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga cenderung pendidikan kewirausahaan bersifat teoritis di kelas, sedangkan masyarakat masih memandang bahwa menjadi pegawai lebih nyaman dibandingkan dengan entrepreneurship. Meredith dalam Suprojo (1999), memberikan ciri-ciri seseorang yang memiliki karakter wirausaha sebagai orang yang percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, berani mengambil risiko, berjiwa kepemimpinan, berorientasi ke depan, dan keorisinalan.

Berdasarkan  survey yang dilakukan oleh peneliti, bahwa ada keunikan nya yaitu penanaman kewirusahaan saling mengintegrasikan antara pembelajaran pendidikan kewirusahaan dengan teaching factory dan keterserapan lulusannya bekerja sesuai dengan bidang, bahkan ada yang memiliki usaha sendiri (Bimbingan Konseling SMK Negeri 6 Semarang). Hal ini karena di seklah tersebut terdapat teaching factory.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana perencanaan teaching factory dalam upaya menanamkan nilai-nilai entrepreneurship di SMK Negeri 6 Semarang? Pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik sebagai berikut (1) Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan dan masalah teaching factory? (2) Kebijakan-kebijakan apa saja yang digunakan teaching factory? (3) Bagaimana strategi dalam teaching factory? (4) Bagaimana merumuskan pola pengembangan dalam teaching factory? (5) Bagaimana evaluasi pendahuluan teaching factory?

TINJAUAN PUSTAKA

Perencanaan merupakan bagian dari manajemen. Tidak ada proses dalam manajemen yang dilakukan tanpa melalui perencanaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Hanafi, 2003:6) yang mendefinisikan manajemen sebagai proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumber daya organisasi. Handoko (2003:77) menyatakan bahwa perencanaan adalah proses dasar di manajemen memutuskan tujuan dan cara pencapaiannya. Perencanaan dalam organisasi adalah esensial, karena dalam kenyataannya perencanaan memegang peranan lebih dibanding fungsi-fungsi manajemen lainnya. Menurut (Sagala, 2009:113) perencanaan strategis di sekolah mencakup lima langkah yaitu: (1) perumusan misi (2) asesmen lingkungan eksternal (3) asesmen organisasi (4) perumusan tujuan khusus dan (5) penentuan strategi. Beberapa elemen penting dalam teaching factory yang perlu dikembangkan yaitu standar kompetensi, siswa, media belajar, perlengkapan dan peralatan, pengajar, penilaian prestasi belajar, dan pengakuan kompetensi (Zaman, 2010:11). Guruvalah (2010:2) Unit produksi dan jasa merupakan suatu aktivitas bisnis dilakukan secara berkesinambungan dalam mengelola sumber daya sekolah sehingga dapat menghasilkan produk dan jasa yang mendatangkan keuntungan. Teaching factory hanya melibatkan indvidu sekolah yang berkompeten, sedangkan unit produksi, tidak memperhatikan kompetensinya (Bambang dan Suci 2006:8).

Menurut para ahli kewirausahaan, ada banyak nilai-nilai kewirausahaan yang mestinya dimiliki oleh peserta didik maupun warga sekolah yang lain. Namun, di dalam pengembangan model naskah akademik ini dipilih beberapa nilai-nilai kewirausahaan yang dianggap paling pokok dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Beberapa nilai-nilai kewirausahaan beserta deskripsinya yang akan diintegrasikan melalui pendidikan kewirausahaan yaitu mandiri, kreatif, berani mengambil resiko, berorientasi pada tindakan, kepemimpinan, kerja keras, jujur, disiplin, inovatif, tanggung jawab, kerja sama, pantang menyerah, komitmen, realistis, resa ingin tahu, komunikatif, dan motivasi kuat untuk sukses (Kementerian Pendidikan Nasinal (2011:10-11).

METODE RISET

Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Rancangan penelitian (1) peneliti melakukan studi eksplorasi dan dokumentasi perencanaan teaching factory yang meliputi visi, misi, tujuan, kebijakan, program, strategi, dan evaluasi pendahuluan (2) pengumpulan data awal guna memfokuskan masalah penelitian, (3) penjadualan penelitian dengan sekolah (4) pemodifikasian rancangan penelitian dan peneliti pengembangan masalah, (5) peneliti melakukan pengumpulan data dan pengelompokannya (6) peneliti melakukan kegiatan analisis data yang telah diperoleh dari hasil penelitian.

Data utama diperoleh dari ketua teaching factory dan manager on duty, DUDI, siswa, dan guru. Sedangkan data pendukung adalah dokumen-dokumen yang ada pada unit produksi dan teaching factory (Moleong,). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara observasi, wawancara, dan studi dokumen. Observasi ini dapat dilakukan pada ruang garmen, labolatorium boga, lapangan gebyar karya, salon kecantikan, dan lobby hotel Rumpita. Sasaran wawancara dalam penelitian ini adalah ketua teaching factory, manager on duty, siswa, guru, dan DUDI. Dokumen dalam penelitian ini dokumen mengenai teaching factory berupa produk dan jasa, data yang diperoleh di surat kabar, website mengenai teaching factory.

Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan, keteralihan , (kebergantungan dan kepastian. Triangulasi metode digunakan sebagai upaya untuk mengecek keabsahan data melalui pengecekan kembali apakah prosedur dan proses pengumpulan data sesuai dengan metode yang absah. Menurut Miles dan Huberman dalam (Sugiyono: 2009) mengatakan bahwa teknik analisis data dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu reduksi data, data display, dan tahap verifikasi.

 

HASIL  DAN TEMUAN

Teaching factory yang ada pada SMK Negeri 6 Semarang memiliki pengelola tersendiri. Pengelola terdiri dari kepala sekolah, ketua teaching factory, bendahara, dan sekretaris. Ketua teaching factory memiliki kewenangan terhadap empat unit produksi yaitu unit produksi perhotelan, jasa boga, busana butik, dan kecantikan. Perencanaan teaching factory yang ada di SMK Negeri 6 Semarang berupa visi, misi, tujuan, dan program-program. Perencanaan teaching factory diwujudkan dalam perencanaan pada tiap-tiap unit produksi. Masing-masing unit produksi memiliki perencanaan tersendiri yang berbeda dengan unit produksi antar satu dengan yang lainnya. Visi teaching factory adalah mewujudkan SMK Negeri 6 Semarang sebagai pencipta sumber daya manusia profesional melalui teaching factory dalam bidang tata boga, tata busana, tata kecantikan, dan akomodasi perhotelan. Misi teaching factory adalah membentuk tamatan yang berkepribadian unggul  dan mampu mengembangkan diri sesuai bidang yang ada di unit produksi, menyiapkan tenaga terampil dibidang tata kecantikan, busana, tata boga dan akomodasi hotel, dan menyiapkan wirausahawan. Program kerja teaching factory SMK Negeri 6 Semarang adalah membuat struktur organisasi, menyusun program kerja tahunan, rapat sosialisasi program kerja teaching factory kepada unit produksi keahlian, mengarahkan dan membimbing pelaksanaan kegiatan kegiatan unit produksi, promosi, rapat koordinasi, malaksanakan kegiatan kewirausahaan, membuat kerja sama dengan industri dan sekolah lain, melaksanakan pembinaan, memeriksa pembukuan dan administrasi unit produksi program keahlian, malaksanakan studi banding, dan membuat laporan akhir semester.

Visi unit produksi perhotelan adalah mewujudkan SMK Negeri 6 Semarang sebagai pencipta sumber daya manusia profesional di bidang akomodasi perhotelan yang berkompeten untuk menuju era globalisasi. Misinya adalah mewujudkan tamatan yang berkepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri serta menyiapkan tenaga profesional di bidang akomodasi perhotelan, menjadikan SMK Negeri 6 Semarang yang mandiri, menghasilkan wirausawahan dan sebagai sumber pusat informasi perhotelan. Program keahlian hotel dan restoran bertujuan untuk melaksanakan pekerjaan dilingkup front office sebagai reception, reservation, telephone operator dan porter, melaksanakan pekerjaan dilingkup housekeeping sebagai public area attendant, room attendant, order taker, linen dan uniform attendant dan laundry attendant, mengolah dan menyajikan makanan kontinental yang terdiri dari makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup, mengolah dan menyajikan makanan Indonesia yang terdiri dari makanan pembuka, makanan pokok, lauk pauk dan makanan penutup, melayani makan dan minim baik di restoran maupun di kamar tamu, dan lainnya.

Visi Unit Produksi Jasa Boga adalah mewujudkan tamatan program keahlian tata boga sebagai pencipta sumber daya manusia yang mampu menghadapi era global. Misinya adalah membentuk tamatan yang berkepribadian unggul, kreatif, dan inovatif, mendidik dan menyiapkan wirausahawan yang disiplin, tangguh, dan mandiri, mempersiapkan tenaga kerja terampil di bidang tata boga. Program keahlian tata boga bertujuan untuk mengelola dan menyajikan makanan kontinental yang terdiri dari makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup, mengolah dan menyajikan makanan Indonesia yang terdiri dari makanan pembuka, makanan pokok, lauk pauk dan makanan penutup, melayani makan dan minum baik di restoran maupun di kamar tamu serta menata meja makan dan meja prasmanan, mengolah dan menyajikan aneka minuman non alkohol, mengorganisir operasi pelayanan makan dan minum di restoran.

Visi program studi busana adalah memujudkan SMK Negeri 6 Semarang sebagai pencipta sumber daya manusaia profesional di bidang tata busana yang bertakwa untuk menuju era globalisasi. Misinya adalah membentuk tamatan yang berkepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri, menyiapkan tenaga terampil di bidang tata busana, menyiapkan wirausahawan, dan menjadikan SMK Negeri 6 Semarang yang mandiri dan sebagai sumber informasi tata busana. Program Keahlian tata busana bertujuan untuk mengukur, membuat pola, menjahit, dan meyelesaikan busana, memilih bahan tekstil dan bahan pembantu secara tepat, menggambar bermacam – macam busana sesuai kesempatan, menghias busana sesuai desain, dan mengelola usaha dibidang busana. Fasilitas Program Keahlian tata busana adalah ruang praktik, mesin jahit manual dan otomatis, mesin obras, mesin lubang kancing, mesin industri, gunting pemotong listrik, alat pembuat pola, desain dan sarana pelatihan di sekolah berupa sanggar busana.

Visi unit produksi jasa kecantikan yaitu mewujudkan SMK Negeri 6 Searang sebagai pencip sumber daya manusia profesional di bidang tata kecantikan yang bertaqwa untuk menuju era globalisasi. Misi unit produksi jasa kecantikan adalah membentuk tamatan yang berkepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri serta menyiapkan tenaga terampil di bidang tata kecantikan, menyiapkan wirausahawan, menjadikan SMK 6 Semarang yang mandiri, dan sebagai sumber informasi tata kecantikan. Program keahlian tata kecantikan terbagi menjadi dua program studi yaitu kecantikan kulit dan rambut. Kecantikan kulit bertujuan untuk menerapkan pengetahuan anatomi dan fisiologi kecantikan, menentukan kosmetika kecantikan, merawat kulit wajah, merias wajah, merawat tangan dan kaki, dan lainnya.  Kecantikan rambut bertujuan untuk  menerapkan pengetahuan anatomi dan fisiologi kecantikan, menentukan kosmetika kecantikan, mencuci rambut, merawat kulit kepala dan rambut, mengeringkan rambut dengan alat pengering, memangkas rambut, dan lainnya. Program kerja tahunan unit produksi kecantikan yaitu membuat struktur organisasi, menyusun program kerja tahunan, rapat koordinasi dan sosialisasi program kerja, pengarahan dan pembimbingan kegiatan unit produksi, promosi, dan repat koordinasi. Membuat struktur organisasi bertujuan untuk membagi tugas sesuai kedudukan masing-masing. Tujuan menyusun program kerja tahunan adalah sebagai acuan pelaksanaan unit produksi. Tujuan rapat koordinasi dan sosialisasi program kerja adalah menyampaikan program kerja kepada semua warga SMK. Tujuan pengarahan dan pembimbingan adalah agar kegiatan unit produksi terkoordinasi, tujuan promosi adalah mengenalkan  produk unit produksi kecantikan. Rapat koordinasi bertujuan utnuk mengevaluasi kegiatan kerja.

Kebijakan dalam teaching factory adalah kebijakan yang ada pada pokok, umum, dan bagian. Kebijakan pokok berupa tiap unit produksi membuat laporan keuangan setiap bulan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen yang ada pada unit produksi, yang ditandatangani oleh ketua unit produksi dengan sepengetahuan kepala sekolah. Kebijakan yang secara umum adalah kebijakan mengenai ketentuan siswa dalam praktek di teaching factory, bahwa siswa kelas X belum memasuki tempat teaching factory. Sedangkan siswa kelas XI, memasuki teaching factory dan siswa kelas XII, tidak masuk secara penuh praktek di teching factory.

Kekuatan teaching factory SMK Negeri 6 Semarang adalah peralatan yang lengkap pada masing-masing unit produksi yaitu perhotelan, jasa boga, busana butik, dan kecantikan. Peralatan tersebut sangat menunjang dalam memproduksi dan melayani pelanggan baik berupa produk maupun jasa. Kekukuatan lainnya adalah selain siswa memiliki kreativitas yang tinggi dan siswa juga memiliki pangsa pasar tersendiri. Siswa menjual produknya sendiri ke pelanggan baik teman atau pun tetangga rumah. Selain itu, sekolah memiliki koneksi yang banyak dengan DUDI.

Kelemahan teaching factory adalah Sumber Daya Manusia yang mengelolanya. Tidak adanya pengelola yang secara penuh mengurusi teaching factory, belum profesionalnya pengelolaan teaching factory. Pengelolaan teaching factory, masih sama halnya dengan pengelolaan unit produksi.

Peluang teaching factory adalah pemasaran yang lebih luas, mengingat tempat teaching factory dekat dengan perkotaan diharapkan dapat menjual lebih banyak produk dan jasa. Pemasaran yang luas, mengingat palanggan unit produksi dan jasa yang ada di teaching factory sudah banyak baik instansi pemerintah, swasta, dan beberapa tetangga sekolah. Peluang lain adalah jika ada moment tertentu, membuat proposal yang akan diajukan, sebagaimana Semarang Night Carnival (SNC) .

Ancaman teaching factory terletak pada sumber daya manusianya dalam mengelola unit produksi, sehingga berpengaruh pada produksi dan jasa yang dihasilkan. Selama ini yang terjadi seperti itu, teaching factory menolak beberapa tawaran yang diberikan pelanggan karena unit produksi kekurangan tenaga. Tantangan lain adalah pemasaran yang global melalui website.

Pengembangan teaching factory dilakukan melalui menjaga kualitas produk dan jasa yang dihasilkan, pengembangan sumber daya yang profesional, pengembangan lain adalah dibutuhkan partisipatif dalam masyarakat dalam pengelolaan modal. Modal yang selama ini adalah berasal dari bantuan pemerintah. Pengembangan lain pemasaran melalui outlet-outlet.

Evaluasi pendahuluan teaching factory dalam hal ini adalah evaluasi dalam perencanaan berupa laporan keuangan yang dibuatkan pada akhirnya bulan yang dibuat oleh masing-masing unit produksi, membuat beberapa koreksi dari tindakan yang telah dilaksanakan. Untuk mendukung pengawasan unit produksi kecantikan memiliki SOP) sesuai dengan kebutuhan yang di unit produksi

Visi SMK Negeri 6 Semarang juga dijabarkan melalui misi sekolah yang sesuai dengan visi sekolah. Visi teaching factory menunjukkan sangat sederhana dan simpel yaitu mewujudkan sumber daya manusia yang profesional pada bidang keahlian yang dimiliki yaitu tata boga, tata busana, tata kecantikan, dan akomodasi perhotelan. Visi tersebut kurang kompleks dalam penjabarannya, karena visi sekolah adalah menjadi sekolah yang bertaraf internasional yang dilandasi beriman, bertakwa dan berbudaya Indonesia. Teaching factory yang merupakan milik sekolah, maka teaching factory harus mampu menjabarkan visi yang lebih detail berdasarkan pada kemampuan dan potensi teaching factory.

Misi teaching factory masih bersifat lebih luas dibanding dengan misi sekolah, dengan adanya tambahan kepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri. Sifat profesional yang ada pada visi teaching factory dijabarkan dengan pribadi unggul dan pengembangan diri. Misi tersebut sudah ada penekanan pada mutu lulusan yang diharapkan oleh siswa. Hal ini juga sejalan dengan misi yang ada pada unit produksi jasa akomodasi perhotelan yang hampir sama dengan teaching factory. Akan tetapi, berbeda dengan unit produksi jasa boga, dalam misinya adanya tambahan karakter menyiapkan wirausahawan.

Dari keempat unit produksi adanya kesamaan dalam visi dan misi, akan tetapi pada unit produksi jasa boga, busana, dan kecantikan memunculkan karakter wirausaha. Hal ini juga ditunjang oleh beberapa program dari sekolah dengan mengadakan workshop entrepreneurship dan praktek-praktek di unit produksi yang menanamkan sikap-sikap wirausaha. Program kerja unit produksi akomodasi hotel dalam kewirausahaan diajarkan bagaimana cara bersikap berwirausaha melalui pekerjaan front office sebagai reception, reservation, telephone operator dan porter. Dalam hal ini siswa diajarkan untuk kerja keras yang diwujudkan dengan perilaku yang bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas dan mengatasi hambatan yang dihadapi ketika siswa praktek sebagai reception.

Dari keempat tujuan unit produksi diperoleh bahwa ada kesamaan dalam pencapaian tujuan, yaitu tujuan menggambarkan tingkat mutu yang perlu dicapai, terpacu pada visi dan misi unit produksi, teaching factory, dan sekolah, terpacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh sekolah sesuai dengan program studi masing-masing. Hal ini terlihat pada tujuan pada masing-masing unit produksi yang bersifat khusus dan spesifik

Dengan adanya kebijakan bagian yang terlalu luas pada unit produksi, menjadikan teaching factory tidak dapat memberikan kontribusi yang lebih pada unit produksi. Di mana unit produksi, bagian dari teaching factory. Ada kelebihan ketika teaching factory memberikan kebijakan bagian yang lebih pada unit produksi. Unit produksi mengelola secara optimal, tanpa adanya campur tangan kepada teaching factory. Unit produksi dapat memanfaaatkan semua sumber daya yang ada pada unit produksi seperti guru, siswa, peralatan, dan pemasaran yang digunakan oleh unit produksi tersebut.

Kekuatan teaching factory adalah sarana dan prasarana yang lengkap. Teaching factory memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya yaitu lokasi sekolah strategis. Teaching factory juga memanfaatkan kemampuan siswa yang dimiliki dengan memasarkan produk. Kemampuan yang digunakan adalah dengan pemasaran yang sederhana, yaitu door to door, pemasaran yang secara langsung dengan menawarkan kepada orang yang di sekitar kampus, tamu hotel, dan beberapa ke instansi pemerintah atau swasta.

Kelemahan yang ada di teaching factory adalah sumber daya manusia sebagai pengelola, secara struktur organisasi bahwa dalam teaching factory terdiri dari ketua, bendahara, dan sekretaris serta didukung oleh unit-unit yang berjumlah empat (akomodasi hotel, kecantikan, busana, dan tata boga). Teaching factory membutuhkan pengelola yang full time, karena selama ini ketua teaching factory adalah guru yang sudah tersertifikasi di mana beban mengajar adalah 24 jam. Kelemahan lain adalah teaching factory belum memiliki outlet-outlet sebagai mana dalam sebuah perusahaan yang menjual produk dan jasa yang akan dilayani. Selama ini, teaching factory hanya menjualkan secara door to door.  Artinya bahwa penjualan dilakukan dengan secara langsung.

Peluang teaching factory adalah adanya kerja sama dengan luar negeri seperti Malaysia dan Singapura, maka hal ini dapat memberikan bagi teacing factory dalam memperluas atau mengembangkan teaching factory di berbagai dunia industri dan dunia usaha yang diluar negeri.

Ancamannya adalah ketika teaching factory menolak akan pesanan berupa produk dan jasa dari pelanggan. Ancaman ini dapat dihindari dengan adanya pengelola yang lebih full time. Pengelola yang full time dapat mengurangi dan menghindari dari penolakan order.

Pengembangan yang paling utama adalah pada pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia menjadi focus utama dalam teaching factory karena teaching factory membutuhkan pengelola yang full time. Kendala yang selama ini adalah menolak tawaran dari pelanggan, karena tenaga yang terbatas. Mengingat beban kinerja guru yang tinggi, maka dibutuhkan sumber daya manusia dari luar, yaitu dengan merekrut tenaga dari luar sekolah. Hal ini digunakan agar sekolah dapat memproduksi dan melayani jasa dari pelanggan.

Evaluasi pendahuluan dilakukan dengan menanyakan pada unit produksi dan jasa mengenai order dari masing-masing unit produksi dan jasa. Setiap unit produksi dan jasa memiliki kegiatan dan program tersendiri. Dari kegiatan dan program tersebut, teaching factory mengecek setiap kegiatan dan program yang akan dilaksanakan atau yang sedang dilaksanakan. Karena antar unit produksi dan jasa memiliki kegiatan dan program yang berbeda-beda. Sehingga berpengaruh pada omzet teaching factory, ketika teaching factory omzet menurun, maka teaching factory mengkajinya. Sebagaian besar permasalahan omzet menurun adalah ketika memasuki bulan Juni, Juli, dan Agustus. Hal ini diakibatkan oleh karena siswa tidak beraktivitas atau tidak memproduksi dan melayani jasa yang ada di teaching  factory.  Hal ini dapat dihindari dengan cara mengangkat pegawai baru dari luar sekolah. Karena sebuah factory atau perusahaan jika tidak memproduksi akan barang, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut tidak beroperasi.

 

SIMPULAN

Simpulan dalam Penelitian ini adalah (1) Adanya kesamaan identifikasi kebutuhan dan masalah dari masing-masing unit produksi yang mengadopsi dari teaching factory, (2) Kebijakan pokoknya yaitu tiap unit produksi wajib melaporkan kegiatan, program dan keuangan kepada teaching factory tiap akhir bulan. Kebijakan umum yaitu siswa kelas X mendapatkan pengenalan kewirausahaan, kelas XI terlibat secara langsung di teaching factory dan siswa memasarkan produk dan jasa dari yang telah dibuat, kelas XII keterlibatan praktek di teaching factory berkurang karena fokus pada UN. Kebijakan bagian teaching factory adalah tiap unit produksi diberi kewanangan dalam merumuskan identifikasi kebutuhan dan masalah, (3) Strategi yang digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan analisis SWOTnya yaitu sarana dan prasarana yang memadai, produk dan jasa yang dihasilkan sudah dikenal orang, kreativitas siswa yang tinggi, siswa memiliki pangsa pasar tersendiri, letak yang strategis, DUDI yang kuat, dan kepemimpinan kepala sekolah. Kelemahannya adalah sumber daya manusia terutama pengelolanya, belum memiliki outlet-outlet, pemasaran masih sederhana. Peluangnya adalah adanya kerjasama dengan beberapa DUDI di luar negeri, ekspansi pasar pada instansi pemerintah dan swasta, dan memanfaatkan moment-moment tertentu. Ancamannya adalah penolakan order yang akan mengakibatkan pada menurunnya kepercayaan pelanggan, (4) Pengembangannya melalui peningkatan kualitas produk dan jasa melalui pengakuan Kementerian terkait. SDM yang professional, dan partisipasi swasta dalam memberikan modal, sehingga tidak hanya bergantung pada pemerintah. Pengembangan lokasi melalui outlet-outlet sebagai upaya meningkatkan pemasaran, (5) Evaluasi pendahuluan teaching factory dilakukan melalui pelaporan keuangan yang dibuat oleh masing-masing unit produksi, dan koreksi terhadap kegitan yang telah dilakukan pada moment tertentu. Selain itu, adanya SOP pada setiap langkah kerja di unit produksi dijadikan sebagai evaluasi pendahuluan.

Saran dalam penelitian ini adalah (1) Bagi teaching factory, perlu adanya keseragaman dalam membuat program-program kegiatan yang berdasarkan waktu seperti program jangka panjang, menengah, dan pendek. Karena tidak semua unit produksi dan jasa memiliki program berdasarkan waktu. Selain itu teaching factory, seharusnya memiliki kebijakan yang luas dalam mengelola di UP (2) Bagi sekolah, seharusnya sekolah menempatkan teaching factory sejajar dengan sekolah, bukan teaching factory berada di bawah sekolah. Hal ini menjadikan teaching  factory dalam memberikan keputusan terutama dalam koordinasi harus melibatkan kepala sekolah, sehingga menjadikan ketidaknyamanan dalam membuat keputusan bagi pengelola teaching  factory, (3) Bagi sekolah lain, sebagai bahan referensi dalam mengembangkan teaching factory dan kewirausahaan (4) Bagi peneliti lain, dibutuhkan penelitian lanjutan yang mengkaji tentang pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan teaching factory atau model permodalan yang ada di teaching factory, dan lainnya.

Daftar Pustaka

Adriyanto, M. 2011. 16 Prinsip Pendidikan Vokasional dari Prosser. Yogyakarta: UNY. didownload pada www.1ptk.blogspot.com pada tanggal 3 Agustus 2012

Bambang dan Suci. 2006. Manajemen Unit Produksi dan Jasa. didownload tanggal 12 Januari 2012.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2012.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)Menurut Pendidikan Tinggi yang Ditamatkan 2010-2011. http://www.bps.go.id.

Bimbingan K. 2012. Data Prosentase Keterserapan Tamatan Tahun 2009/ 2010 sampai 2010/2011. BK SMK Negeri 6 Semarang.

Guruvalah. 2010. Kepala Sekolah sebagai Wirausahawan.www.dc96.4shared.com/doc. 23 Maret 2012.

Handoko, T. Hani. 2003. Manajemen.Yogyakarta : UGM Press

 

Hanafi, M. 2003. Manajemen.Yogyakarta : YKPN

 

Hasibuan, M. SP. 2001. Manajemen.Jakarta :BumiAksara.

 

Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Bahan Pelatihan Pengutan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan nilai-nilai Budaya .Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kurikulum.

 

Moleong, L. J. 2010. Metodelogi Penelitian. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

 

SMK Negeri 6 Semarang. 2012. Visi dan misi SMK Negeri 6 Semarang. http://smkn6smg.sch.id/

 

Sagala, 2009. Memahami Organisasi Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitas. Bandung : CV Alfabeta.

 

Suprojo, P. 1999. Pengembangan Budaya Kewirausahaan melalui Matakuliah Keahlian. IKIP Yogyakarta pada tanggal 17 dan 19 Juli 1999.

 

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara.

Materi Pertemuan Kedua Aplikasi Access

 BAB I

Mengenalkan Access

 

Access merupakan tool database yang ada dalam Microsoft. Saat ini, tool yang tersedia untuk mengelola database secara mudah dan cepat adalah access. Tool yang lain yang dulu sempat marak, kini hampir “tinggal kenangan”.

 

Cobalah periksa software yang tersedia pada computer atau laptop yang berbasis windows, maka akan menemukan software untuk mengetik bernama Microsoft word, software untuk menghitung/ membuat lembar kerja bernama Microsoft excel, dan software lain yang tergabung dalam paket microsoft office. Salah satu diantara software yang khusus disediakan untuk mengelola database adalah Microsoft access.

 

Microsoft access sebai tool pengelola database dikenal mudah digunakan dan konvenien (mudah didapat). File database yang diciptakannya bisa dibawa ke mana-mana, berupa hanya sebuah file, hampir sama dengan file dokumen Microsoft word atau excel.

 

Keistimewaan access antara lain yaitu mebuat database sendiri. Software lain, bahkan memanfaatkan file database yang dibuat access ini. Selain itu, access bisa digunakan untuk mengelola database yang dibuat oleh system lain, baik system database server yang berskala enterprise, maupun file database “lama” seperti yang berformat.dbf.

 

Sistem Database

Perlu disampaikan di sini bahwa sistem database bisa di­golongkan ke dalam dua golongan, yaitu desktop database dan database server.

 

Desktop database adalah sistem database yang bisa Anda pasang pads komputer desktop atau laptop, sedangkan database serveradalah sistem database skala besar yang harus dipasang pada komputer khusus yang disebut server (server computer).

 

Database server berfungsi sebagai pelayan akses ke database, sedangkan komputer yang mengakses database disebut klien (client computer). Software atau program aplikasi yang mengakses data­base server dari komputer klien disebut client program atau client application.

 

Penggunaan kedua macam sistem database tergantung pada skala kebutuhan. Jika database Anda berskala besar atau harus diakses secara bersamaan oleh banyak pemakai, maka Anda membutuhkan database server. Namun jika database Anda masih tergolong kecil, misalnya database koperasi atau database sekolah, maka Anda cukup menggunakan desktop database.

 

Pemakaian database server sangat ideal, di mana database menjadi terpusat dan banyak pemakai yang bisa mengaksesnya secara bersamaan. Namun demikian, Anda membutuhkan investasi yang lebih besar, baik untuk software maupun untuk hardware, serta untuk perawatan/operasional.

 

Database server membutuhkan komputer server yang umumnya berharga lebih mahal dari komputer desktop biasa. Komputer server harus dinyalakan terus karena harus melayani akses database setiap saat. Selain itu komputer server harus diletakkan di ruang khusus yang berpendingin (karena menyala terus) dan tidak mudah di­jangkau secara fisik oleh pemakai.

 

Untuk mengakses database server dibutuhkan jaringan computer (network), baik jaringan lokal (LAN/local area network), maupun jaringan global seperti WAN (wide area network) dan internet.

 

Software database server yang terkenal antara lain: Microsoft SQL Server, Oracle, dan MySQL.

Adapun sistem desktop database merupakan sistem yang ditujukan untuk penggunaan pribadi atau database berskala kecil. Sistem desktop database bisa dipasang pada komputer pribadi seperti desktop atau laptop.

 

Sebenamya sistem desktop database bisa juga digunakan secara bersama-sama oleh banyak pemakai, dalam hal ini disebut file-sharing (berbagi-pakai file). Caranya: file database diletakkan pada sebuah lokasi yang bisa diakses oleh banyak pemakai di dalam jaringan. File database ini bisa langsung dibuka/diakses secara ber­samaan (file-sharing), atau menggunakan aplikasi klien untuk meng­aksesnya (disebut client-server, atau lebih populernya disebut sistem “FE-BE” (front-end to back-end)).

 

Microsoft Access termasuk sistem desktop database.

 

Spesfikasi Microsoft Access yang lain yang perlu Anda ketahui adalah:

  • Microsoft Access harus dijalankan dalam lingkungan sistem operasi Windows, karena sebenamya mesin database yang di­gunakan oleh Access adalah mesin JET database yang menjadi “bagian” sistem operasi Windows.
  • Ukuran sebuah file database Access bisa mencapai 2GB. Jika file database Anda berukuran lebih dari itu, Anda bisa menggunakan lebih dari satu file database. Pada sistem database server, ukuran database hampir tidak mempunyai batasan karena sistem server akan otomatis/secara dinamis mengelola pemakaian file-file database, bahkan bisa menggunakan banyak media penyim­panan sekaligus walaupun tidak berada pada suatu lokasi ter­tentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MERANCANG APLIKASI DATABASE KOPERASI

 

Sebelum mulai membuat database, sebaiknya dilakukan peran­cangan terlebih dahulu. Perancangan ini bertujuan terutama untuk menentukan fungsi dan cakupan (scope) database, karena kita tidak mungkin membuat database yang mencakup semuanya, atau untuk membatasi proyek pengembangan yang dilakukan saat ini sehingga bisa dianggap selesai.

 

2.1 Fungsi Database

Adapun fungsi Aplikasi Database Koperasi yang akan kita buat adalah:

  • Menyimpan dan mengelola data anggota koperasi.
  • Menyimpan dan mengelola data simpanan anggota.
  • Sebagai alat untuk memudahkan pembagian SHU.

 

2.2 Informasi yang Dihasilkan

Berdasarkan fungsi tersebut, aplikasi database koperasi yang akan kita buat akan bisa menghasilkan informasi-informasi sebagai berikut.

 

  • Informasi jumlah anggota koperasi.

Dari informasi ini bisa kita kembangkan lagi, misalnya jumlah anggota berdasarkan lokasi, jumlah anggota berdasarkan unit kerja (jika berupa koperasi karyawan), jumlah anggota berdasarkan perusahaan (jika anggota koperasi berasal dari ber­bagai perusahaan atau organisasi), dan sebagainya.

 

  • Data anggota.

Data atau informasi tentang seorang anggota, yang bisa dicari menggunakan kata kunci tertentu.

 

  • Informasi jumlah simpanan anggota.

Terdiri dari jumlah simpanan seluruh anggota (summary) dan jumlah simpanan anggota secara individual (rekapitulasi).

 

  • Informasi simpanan yang tertunggak.

Informasi simpanan wajib yang belum disetorkan oleh anggota, sehingga bisa melalukan penagihan jika perlu.

 

  • Daftar pembagian SHU (rekapitulasi).

Di sini kita bisa jugs menyediakan daftar rincian pecahan uang (untuk penukaran uang di bank dan untuk pembagian SHU) serta kuitansi penerimaan SHU.

 

 

 

 

 

 

BAB III

MEMBUAT DATABASE KOPERASI

 

Sekarang kita akan mulai membuat database koperasi. Pembahasan mulai bab ini mengharuskan Anda duduk menghadapi komputer, dan melakukan langkah-langkah yang diinstruksikan.

 

3.1 Membuat File Database

Langkah pertama dalam membuat database adalah membuat file database. File database merupakan file fisik yang dibuat pada komputer.

 

3.1.2 Membuat File Database pads Microsoft Access 2007

Untuk membuat file database pads Microsoft Access 2007, jalankan Microsoft Access, lalu lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Klik tombol Office (tombol bulat di pojok kiri-atas).
  2. Klik “New”.
  3. Klik “Blank Database”.
  4. Klik tombol folder untuk menentukan lokasi penyimpanan dan nama file database.

Bekerja dengan access

Tahapan yang pertama adalah membuka klik new blank database pada getting started with Microsoft office acces. Pada bagian kanan bawah terlihat tulisan

 

adapun lengkpnya klik di sini

Mengetik Currency

Senin, 14 Maret 2013 adalah pertemuan kedua aplikom pendidikan koperasi. Pada pertemuan ini dan pertemuan sebelumnya (kontrak kuliah) sudah sepakat untuk belajar bersama antara saya dan mahasiswa. Saya menyadari kemampuan saya bukan pada koperasi, tetapi saya akan berusaha memahami bidang koperasi. Meskipun background saya adalah administrasi perkantoran akan tetapi masih dalam rumpun yang sama yaitu pendidikan ekonomi.

Berdasarkan komitmen tersebut , saya mengajak mereka untuk berpikir dalam perkuliahan untuk membuat database koperasi. Dalam hati dan pikiran saya bahwa pendidikan koperasi Unnes harus memiliki karakter tersendiri seperti mahasiswa mampu membuat aplikasi koperasi yang ada di masyarakat atau koperasi yang ada di lingkungan Unnes didesain oleh mereka. Mereka praktek di koperasi Unnes atau FE Unnes kemudian membuat transaksi-transaksinya kedalam sebuah software yang dibuat oleh mereka.

Bekal saya adalah keyakinan mereka mampu, tak mungkin mereka masuk Unnes dengan rasa keterpaksaan, artinya mereka masuk Unnes pasti memiliki kemampuan. Nah, kemampuan tersebut sebagai modal untuk saya dalam pembelajaran.

Awalnya saya menjelaskan macam-macam program yang mereka sudah pelajari dalam pengantar computer atau pelajaran KKPI atau TIK di SMP, SMA, atau SMK. Rata-rata mereka menjawab program Microsoft office.

Saya bertanya pada mereka, apa saja programnya? Mereka menjawab word, excel, power point, dan corel. Apa hanya itu? Tanya saya kemudian kepada mereka. Mereka menjawab : ya, pak itu Kemudian saya memberikan pertanyaan lagi : coba word itu untuk pekerjaan apa?, excel untuk pekerjaan apa? Power point untuk pekerjaan apa? Mereka menjawab : word untuk mengetik dokumen, excel untuk perhitungan angka, dan power point untuk presentasi.

Dengan jawaban mereka yang kompak saya membenarkan jawaban itu. Nah sekarang access itu untuk apa? Hanya ada satu mahasiswa yang menjawab. Jawaban satu mahasiswa itu adalah table. Kemudian saya, memancing mereka coba spesifikan lagi, table yang seperti apa? Dia tidak bisa menjawab.

Melihat respon yang diam dari dia dan satu kelas, kemudian saya menjelaskan pada mereka bahwa access adalah salah satu program dalam Microsoft office yang mengkaji atau mendesain database. Database yang akan kita buat adalah sesuai dengan prodi mereka yaitu database koperasi. Ketika saya menerangkan mereka terdiam dan serius.

Dalam hati saya mengatakan bahwa materi ini adalah materi “aneh” bagi mereka karena mereka selama ini belum pernah mengetahui materi ini. Tahapan yang saya lakukan dalam pembelajaran adalah mengkondisikan keadaan atau appersepsi dengan memastikan semua mahasiswa dapat computer sedangkan yang tidak bawa dan ada teman yang membawa laptop maka dilakukan dengan bertukar tempat.

Ketika di menit-menit awal penyampaian table, mereka serius dan banyak yang tanya mengenai materi dari pekerjaan mereka dilaptop dan computer. Dengan senang saya menanggapi setiap pertanyaan mereka, artinya mereka antusias dengan pembelajaran ini. Menit demi menit berlalu, akhirnya mereka sudah lancar dan terampil dalam membuat table.

Memang secara khusus pada hari ini membahas mengenai table. Table yang dibuat ada sebelas. Mereka bingung ketika ditabel satu karena mereka belum terbiasa dengan pekerjaan. Ada yang menarik ketika membuat table Jenis Simpanan pada field name Jumlah dan Data type currency. Ada satu mahasiswa yang ketika saya sebut currency, dia malah mengetiknya. Seharusnya karena ini data type maka cukup diklik atau dipilih bukan diketik. Kemudian saya membenarkannya.

Ketika saya menerangkan bahwa currency itu data type, maka dipilih atau diklik, jangan diketik. Nah, dari penjelasan saya ternyata banyak yang tertawa dengan kejadian tersebut. Eh, ternyata kejadiajn tersebut menimpa pada diri saya sendiri, ibaratnya saya kena batu sendiri karena ketika saya menerangkan field size dengan integer, dengan cara menghilangkan kata long integer. Ada satu mahasiswa yang protes, Pak itu jangan dihilangkan kata “long” nya tetapi itu ada pilihannya. Serentak mereka (semua mahasiswa) tertawa. Saya menyambutnya, wah memang yang namanya perbuatan buruk, pasti dibalas dengan buruk, saya menggoda pada mahasiswa yang salah, eh kesalahan itu ternyata ada dalam diri saya. Mereka dengan lepasnya tertawa.

Dengan kejadian ini saya senang bahwa pertemuan saya dengan mereka meski baru dua pertemuan terasa hangat karena mereka bisa saling sharing dan mengingat serta tidak adanya kekecewaan. Yang ada mereka seneng dengan pelajaran pada hari ini dan meminta dibuatkan modul. Rasa seperti ini yang membuat saya untuk membuatkan mereka yaitu modul. Saya doakan kelak semua sukses,,dan bermanfaat untuk orang lain, Semoga Alloh memudahkan langkah kita. Amin..Sampai jumpa dipertemuan berikutnya

Outlook itu Apa, Pak?

Senin, 11 Maret 2013 adalah pertemuan kedua saya mengajar di kelas Pendidikan Administrasi Perkantoran Semester II mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sebagaimana pada pertemuan pertama bahwa labolatorium yang saya gunakan masih sama belum ada perubahan apa pun dari lembaga yaitu computer maya. Bahkan, muncul aroma yang tidak sedap di karpet.

Hal tersebut tidak menghambat saya untuk tetap berkreasi dengan teman-teman mahasiswa yang hebat. Kita (saya dan mahasiswa) membuat strategi pembelajaran yang saling bekerja sama. Posisi saya sebagai teman dan dosen mereka. Mengingat keterbatasan kita, maka perlu adanya sharing ilmu berdasarkan kemampuannya.

Strategi yang saya gunakan adalah pembelajaran kooperatif berbasis modul. Kooperatif ini saya gunakan sebagai alat untuk mencurahkan materi dan kemampuan mahasiswa dalam memandang suatu konsep karena daya serap dan kemampuan yang berbeda dari mahasiswa. Tugas saya pada saat kooperatif adalah mendampingi mereka dan mengontrol atau mengecek setiap indicator tema, apakah sesuai dengan tema utama atau tidak. Berbasis modul merupakan hasil dari pekerjaan mahasiswa tiap individu berupa modul dari hasil kerja kelompoknya.

Tahapannya adalah

  1. Menentukan tema
  2. Membentuk kelompok
  3. Memilih tema berdasarkan kelompok
  4. Penjabaran tema menjadi indicator tema
  5. Pendalaman indicator tema kepada tiap mahasiswa
  6. Diskusi dan presentasi
  7. Evaluasi

Menentukan tema, saya pilih berdasarkan silabi yang saya buat dan berdasarkan pada program studi mereka. Tema-tema tersebut adalah word, excel, power point, access, outlook, email dan blog.

Sederhana melihat tema di atas, pada intinya ada dua kompetensi yaitu kemampuan pada program microsof office dan internet.

Microsof office saya pilih berbasarkan pada silabi dan kondisi pemanfaatan di lapangan yang masih digunakan yaitu word, excel, access, dan outlook. Sedangkan untuk publisher tidak dimunculkan dalam silabi karena keterbatan waktu dan pemanfaatan program tersebut untuk prodi perkantoran.

Internet saya pilih tema email, blog, dan e learning. Pendapat saya bahwa ketiga tema sangat dibutuhkan mahasiswa dalam belajar selama perkuliahan.

Ada yang menarik ketika saya menjabarkan tema-tema tersebut kepada mahasiswa. Mahasiswa terlihat serius mendengarkan dan membayangkan mengenai tugas yang akan mereka lakukan. Dalam hati saya berkeyakinan mereka dapat mengerjakan. Dalam pembelajaran saya membawa buku referensi sebanyak delapan buah mengenai tema-tema yang saya ajukan kepada mahasiswa. Buku tersebut saya pinjam dari perpustakaan, sebagai bukti bahwa buku tersebut dan materi itu ada dalam buku dan internet. Jadi jika ada alasan tugas itu susah, maka sebenarnya yang susah adalah dirinya sendiri. Dengan referensi dimaksudkan bahwa jika kita bergerak maka ada jalan. Jika kita ke perpustakaan maka ada buku, jika kita membuka internet maka ada materi yang kita peroleh, dan lainnya.

Gesnu, seorang mahasiswa bertanya kepada saya, Pak, apa itu outlook? Kemudian saya diam sejenak dan berpikir. Setahu saya bahwa outlook adalah program Microsoft office harusnya mereka sudah terbiasa dengan program tersebut. Tetapi, kenapa mereka menanyakan. Jika bertanya itu mereka belum paham. Gesnu itu hanya sekian dari mahasiswa yang berani bertanya. Kemudian saya bertanya kepada mahasiswa ada yang tau apa itu outlook? Hanya ada satu mahasiswa yang mampu menjelaskan apa itu outlook.

Dari pertanyaan tersebut dan respon mahasiswa yang antusias menjadikan saya bersemangat untuk bekerja dan membuat rangkaian pembelajaran yang menarik di pertemuan berikutnya. Dalam diri saya berkeyanin bahwa mereka tidak terbebankan tugas, tetapi mereka tertantang.

Saya mengajak kepada mahasiswa untuk berbagi ilmu, artinya jika ada yang punya buku salah satu tema maka dapat dipinjamkan kepada temannya yang mendapatkan tema tersebut. Ajakan lainnya adalah jangan menganggap tugas ini adalah berat karena saya siap sharing mengenai ilmu jika saya mengetahui.

Selamat mengerjakan, Semoga Alloh memberi kemudahan untuk kita semua. Amin..

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.