Albarzanji (13): Nabi Muhammad SAW “Dioperasi”

Albarzanji (13): Nabi Muhammad SAW “Dioperasi”
Oleh: Agung Kuswantoro

Saat masih kecil Nabi Muhammad SAW pernah “dibedah” dadanya. Siapa yang membedah? Dua Malaikat. Tujuan membedah dada Nabi Muhammad SAW adalah membuang darah hitam dan menghilangkan setan yang ada dalam tubuhnya, seperti penyakit “was-was”.

Oleh karenanya, kita – sebagai manusia – dianjurkan untuk sering membaca surat ANNAS, terlebih saat akan solat, melalui surat ANNAS diharapkan setan, akan pergi dari manusia.

Dua Malaikat, dada Nabi Muhammad SAW sudah dibersihkannya. Kemudian, dibasuh dengan “es”, diisi dengan hikmah dan rahasia-rahasia iman. Kemudian, ditutup dadanya, seperti semula. Dan, mengecap dengan “cap” kenabian.

Setelah selesai proses “operasinya”, kemudian Nabi Muhammad SAW ditimbang “kemuliaan/keluhurannya”. Hasilnya, berat “kemuliaan/keluhurannya” melebihi seribu orang pilihan dari umatnya.

Jadi, yang ditimbang bukan berat badan/fisiknya, tetapi kemuliaannya. Meskipun, masih kecil, namun hasilnya melebihi ‘bobot’ 1000 kemuliaan orang dewasa yang terpilih dari umatnya. Itulah masa kecil Nabi Muhammad SAW. Setelah “operasi”. Waallahu’alam.

Semarang, 10 November 2018

SOSOK IMAM BESAR

SOSOK IMAM BESAR
Oleh: Agung Kuswantoro

Imam adalah pemimpin. Makmum adalah pengikutnya. Imam tidak memperhatikan “status” makmum. Apakah ia seorang pejabat, kaya, atau orang yang memiliki “posisi mulia” dalam kehidupannya.

Ia fokus pada makmum dalam hal sholat, mulai dari akan dilakukan sebelum hingga selesai.

Apa yang dilakukan sebelum sholat bagi Imam untuk makmum? Mengatur barisan makmum. Lalu, apa yang dilakukan Imam kepada makmum, setelah usai sholat? Mengajak makmum berdzikir. Ingat kepada Allah.

Itulah gambaran sosok Imam. Imam yang menjadi teladan. Ia tidak takut dengan makmum. Yang ditakuti. hanya Allah, yang ia takuti. Ia santun kepada makmum dalam berucap.

Imam tidak berkata “Yang belum lurus, luruskan!”. Pasti, Imam berkata, ”Mohon, barisan di rapatkan, karena rapat barisan termasuk kesempurnaan solat”.

Ia punya ilmu fasih dalam bacaan. Ia yang terbaik bacaan Alqur’annya, diantara mereka/makmum. Meskipun ia muda.

Itulah “sosok” Imam. Itulah teladan kita, agar bisa menjadi Imam yang terbaik diantara para Imam. Pastinya, ia sudah terbaik diantara makmum.

Semarang, 10 November 2018

BIJAK DALAM HIDUP

BIJAK DALAM HIDUP
Oleh: Agung Kuswantoro

Saya sangat setuju dengan judul yang ditulis Kompas (8/11) pada ‘Analisis Publik’ oleh Azyumardi Azra.

Analisisnya cukup tajam dan komprehensif. Cara mengemasnya mudah. Pendekatan filosofinya, sangat kuat.

Bagi saya – selaku orang awam – menjadi tertuntun membaca artikel tersebut. Saya menjadi paham, bahwa kita mengatakan suatu “musibah” itu dilihat dari perspektif mana?

Jika kita orang musibah itu azab, maka perspektif tersebut dilihat dari sisi mana? Bukannya, bencana merupakan ujian keimanan? Sehingga, tawakal menjadi “kunci” dalam menjalani kehidupan.

Hidup harus disikapi dengan pendewasaan (maturity). Bukan, dengan cara kekanak-kanakan. Bagaimana caranya? Bijaklah dengan kehidupan Anda. Itu caranya!

Jika Anda tidak bijak, maka yang muncul adalah sikap “cemburu”. Atau, rasa tidak senang terhadap orang yang berhasil (baca: mampu). “Mampu” dalam apa? Mampu dalam menjalani kehidupan.

Sehingga, langkah “Ruwatan Politik”, sebagaimana yang disampaikan oleh Azyumardi Azra itu sangat tepat.

Ditengah “krisis” penilaian yang baik, muncul solusi yaitu “penyelamatan” dalam adat budaya, yang bernama ‘Ruwat’.

‘Ruwat’ adalah cara bijak untuk saat ini. Terbukti, budaya tersebut hingga sekarang, masih digunakan. Bahkan, tokoh-tokoh Nasional pun mempraktekkan budaya Jawa tersebut.

Mari kita jaga budaya kita, agar diri kita lebih bijak dalam kehidupan. Berpikir dan renungkan ajaran-ajaran luhur dari kebudayaan kita. Hindari, berpikiran “pendek” dalam menyikapi kehidupan, sebagaimana contoh di atas. Sesuatu buruk dan baik, dilihat dari sisi mana dulu?

Jakarta, 8 November 2018

Ditulis di pesawat menuju Semarang, dari Jakarta. GA242, pukul 16.00 WIB, bandara Soekarno Hatta.

Latihan Baca Albarzanji

Latihan Baca Albarzanji
Oleh: Agung Kuswantoro

Iman kepada Rosul adalah kewajiban bagi Mukallaf (baligh dan berakal). Namun, bagaimana cara mengimani kepada Rosul? Cara, kami (saya dan santri) mengimaninya dengan belajar membaca Albarzanji.

Latihan membaca Albarzanji ini dimulai sejak dini (anak-anak). Mengajak mereka (santri), karena mereka harus mengetahui “biografi” Nabi Muhammad SAW sejak mereka kecil. Sehingga, kehidupan Nabi Muhammad SAW menjadi teladannya.

Yang datang untuk belajar latihan baca Albarzanji untuk pertemuan awal yaitu Mas Raihan dan Wawan. Saya menyampaikan materi Yarobbi solli ‘ala muhammad, ya robbi solli alaihi wasallim. Mas Raihan yang membaca sholawat itu hingga selesai (Yarobbi Nakhtimbi bil musyafa’, yarobbi sholli alaihi wasallim). Sedangkan mas Wawan membaca Yarobbi solli ‘ala muhammad, ya robbi solli ‘alaihi wa sallim. Jadi, selama sholawat ini saling bergantian. Saya sendiri, menuntun dan mendampingi mereka saat membaca.

Pastinya, latihan membaca Albarzanji ini diperuntukkan bagi orang yang sudah bisa membaca Alqur’an, jika masih jilid/qiroaty awal, maka belum saya perkenankan membaca Albarzanji.

Harapan, dari belajar membaca Albarzanji ini adalah agar mereka mengetahui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dan “pemimpin” para Rosul. Selain itu, mereka dapat belajar sejarah dari Nabi Muhammad SAW lahir hingga wafat. Dengan cara ini, mereka dapat lebih mencintai Nabinya. Waallahu’alam.

Semarang, 4 November 2018

SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW VERSI KITAB ALBARZANJI

SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW VERSI KITAB ALBARZANJI

ALBARZANJI (1)
Oleh: Agung Kuswantoro

Dua pekan lagi, kita memasuki bukan Robiul Awal (Maulud). Ada kebiasaan yang bagus masyarakat kita yaitu membaca kitab Albarzanji. Bahkan, kitab ini tidak hanya dibaca pada bulan Maulud saja. Tetapi di luar bulan itu. Tidak cukup dibaca sebulan sekali. Tetapi juga, seminggu dua kali. Misal, hari Ahad malam (malam Senin) dan Kamis malam (malam Jum’at).

Ada beberapa alasan mengapa kitab itu dibaca pada hari Ahad malam dan Kamis malam. Pada Ahad malam dipercaya bahwa pada Senin, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Sehingga, kita dianjurkan untuk membaca sholawat Nabi. Untuk mendapatkan keberkahan di malam kelahirannya.

Kemudian, pada Kamis malam dipercaya, bahwa pada hari besok (setelah Kamis), ada hari yang paling bagus yaitu hari Jum’at. Pada Kamis malamnya, kita dianjurkan untuk banyak baca sholawat Nabi. Waallahu’alam.

Semarang, 29 Oktober 2018

ALBARZANJI (2)
Oleh: Agung Kuswantoro

Albarzanji adalah sebuah kitab/buku berisikan puji-pujian dan doa, serta cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kandungan berisikan silsilah keturunannya. Masa kanak-kanan, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi Rasul.

Penulis kitab tersebut adalah Syekh Ja’far Albarzanji Bin Hasan Bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat yaitu Barzinj, di Kudistan. Judul asli dari kitab tersebut yaitu “Iqd al-Jawahir”, yang bermakna kalung permata. Tujuannya agar meningkatkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, sebgaai contoh teladan manusia.

Bersambung…

Semarang, 29 Oktober 2018

Albarzanji (3): Nasab Nabi Muhammad SAW
Oleh: Agung Kuswantoro

Nabi Muhammad SAW, bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim Abdi Manaf bin Qushoyyi. Ia berasal dari suku Quraisy. Silsilah keturunan sangat panjang dan mulia. Karena Allah sudah “menatanya”, bahwa yang dilahirkan adalah makhluk yang mulia, sehingga Imam Ja’far memujinya dengan siir “nasabun tahsibul ‘ulaa bihulahu, qolladatha nujumahal jauzau”. “habbadza iqdu sudadin wafakhoiri; anta fihil yatimatul asmau”.

Adapun artinya, “Nasab Nabi termasuk nasab termulia, bagaikan sekumpulan bintang jauzak. Terbaiklah nasabmu, bagaikan untaian yang indah megah; padanya bagaikan leher dan mutiara yang sangat berharga”.

Siir itulah yang pertama dalam kitab Albarzanji. Atau, Siir kedua setelah ya robbi solli ‘ala Muhammad.

Semarang, 31 Oktober 2018

Albarzanji (4): Nasab Nabi Muhammad
Oleh: Agung Kuswantoro

Dalam keterangan kitab Aqidatul Awwam, ada Siir, “Abuhu Abdullahi Abdul Mutholib, Wahasyim Abdul Manafi yan tasibu. Wa ummuhu Aminatuz Zuhriyyah, ardho’tuhu Halimatus Sa’diyah.

Adapun maksud dalam Siir tersebut yaitu Bapak Nabi Muhammad yaitu Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Sedangkan ibunya, bernama Aminah binti wahab binti Abdi Manaf binti Zuhroh bin Kilab, yang menyusui adalah Halimatus Sa’diyah.

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa “Kilab” ternyata satu pertemuan diantara Nasab Abdullah dan Aminah. Dari Nabi Ismail AS. Dimana, bapak Nabi Ismail AS adalah Nabi Ibrahim AS. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Nabi Ibrohim AS adalah Bapak para Nabi/Abul Anbiya. Termasuk Nabi Muhammad SAW berasal dari keturuan Nabi Ibrohim AS. Waallahu’alam.

Semarang, 31 Oktober 2018

Albarzanji (5): Orang Tua Nabi Muhammad SAW Itu “Suci”
Oleh: Agung Kuswantoro

Nasab Nabi Muhammad SAW telah dimuliakan dan dijaga dari kemaksiatan, termasuk perzinaan – baik dari sisi Bapak dan Ibu.

“Benih harus baik, untuk menghasilkan sebuah buah yang berkualitas”, termasuk pohonnya”. Pohon sebagai simbol nasab, buah sebagai simbol hasil, dan benih adalah keturunannya.

Artinya, Nabi Muhammad SAW memiliki keturunan yang “bersih” dari maksiat. Tidak cacat dari segi “kotoran hati”, baik orang tua (Bapak dan ibunya). Sebagaimana digambarkan Siir berikut, “Khafidol ulahu karomatallimuhammadin; amba ahul amjada shaunan lil mihi. Tarokusshifa kha falam yu sib hun ‘aruhu; min adamin wa ila abihi wa ummihi”.

Artinya, “Tuhan telah memelihara kemuliaan Nabi Muhammad SAW, terhadap bapak-bapaknya yang mulia, demi memelihara namanya. Mereka tinggalkan perzinaan, maka tak tertimpa celakanya. Semenjak Nabi Adam sampai kepada ayah bundanya”.

Siir tersebut merupakan siir kedua dari Albarzanji yang berisikan kesucian dan kemuliaan dari Bapak dan Ibu Nabi Muhammad SAW. Kesucian yang dimaksud adalah perbuatan zina. Orang tua Nabi Muhammad SAW itu bersih dari kemaksiatan. Waallahu’alam.

Semarang, 3 November 2018

Albarzanji (6): “Nur” Kenabian
Oleh: Agung Kuswantoro

Saat Allah menghendaki untuk menciptakan Nabi Muhamad SAW, Allah menciptakan bentuk (rupa) yang bagus dan memindahkan “nur” kenabiannya ke rahim Aminah.

Aminah terpilih menjadi Ibu yang suci. Lalu, diserukan kepada penjaga langit dan bumi mengenai “nur” kenabian yang telah dikandung Aminah.

Responnya pun bermacam-macam dari penghuni alam. Bumi yang tadinya gersang, tumbuhlah tanaman yang subur. Buah-buahan segera masak. Binatang melata yang dipelihara oleh suku Quraisy bercerita mengenai kandungan yang ada dalam rahim Aminah.

Itu respon yang menggembirakan. Ada pula respon yang menyedihkan, bagi para penyembah berhala. Apa itu?

Singgasana dan berhala-berhala milik orang Quraisy itu hancur/runtuh. Ahli sihir mendapatkan bencana. Dan, pendeta Nasrani bergetar hati (ketakutan) karena adanya “nur” kenabian.

Ketika Aminah tertidur, ia bermimpi bahwa kelak jika anak yang lahir dinamai dengan nama Muhammad.

Mengapa dinamai Muhammad? Karena segala penghuni dari penjuru langit, bumi, jin, hewan, tumbuhan, dan penghuni alam semesta itu memuji terhadap kesucian Muhammad, sehingga pujian itulah, dinamai Muhammad. Waallahu’alam.

Semarang, 3 November 2018

Triangulasi

Triangulasi
Oleh: Agung Kuswantoro

Saat ada kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang menewaskan 189 orang, saya tertarik untuk mengikuti berita perkembangan pencarian pesawat berlogo “Singa”.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan, M Ilyas di atas KR Baruna Jaya, Rabu (31/10/2018) mengatakan bahwa, “Benda itu dinamakan oleh teman-teman itu stasiun operasi C30, C31, dan C38. Kita mulai overlay lah, kita buat yakin lagi tadi pagi kita make sure apa ping locator ini menunjukan arah ke C31 dan C30, itu belum yakin juga, kemudian kita turunkan ROV. Jadi ini akan ada operasi triangulasi untuk meyakinkan juga, menjadikan posisinya,” (https://news.detik.com/berita/4281356/kr-baruna-jaya-bppt-tangkap-sinyal-black-box-lion-air-jt-610, diakses 31 Oktober 2018).

Kalimat yang menarik untuk kita pelajari adalah “Jadi ini akan ada operasi triangulasi untuk meyakinkan juga, menjadikan posisinya”.

Kata “triangulasi” perlu kita pahami. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu, untuk keperluan pengecekan atau permbanding data itu (Moelong, 2009:330).

Dari definisi tersebut dapat dikatakan, bahwa triangulasi adalah membandingkan hasil temuan dengan teknik yang lain.

Misal, dalam pencarian pesawat tersebut, salah satu kapal X menemukan indikasi ada sinyal “black box”. Kemudian, ditelusur lagi dengan menggunakan kapal Y, apakah menemukan sinyal “black box” di tempat tersebut.

Lalu, belum yakin jika sinyal tersebut “black box”, maka dilakukan penerjunan robot air yang menyelam pada lokasi yang diduga ada sinyal “black box”.

Jika, hasilnya belum maksimal, maka dilakukan penyelaman ke tempat tersebut. Penyelaman adalah cara triangulasi yang terakhir. Mengapa? Peneliti langsung terjun ke TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Cara dengan kapal X, kapal Y, robot, dan penyelaman adalah proses triangulasi.

Jadi, suatu temuan data, harus ditriangulasikan terlebih dahulu. Jangan langsung percaya akan data yang telah ditemukan, hanya berdasarkan 1 teknik pengambilan data.

Apa yang dilakukan oleh Komandan penyelamat dengan cara triangulasi menurut saya itu sangat tepat. Itulah makna triangulasi secara sederhana.

Semarang, 31 Oktober 2018

Siapakah Malaikat?

Siapakah Malaikat?
Olah Agung Kuswantoro

Setiap orang Mukallaf (baligh dan berakal) wajib mengetahui dan mengimani akan keberadaan Malaikat. Lalu, pertanyaannya “Siapakah Malaikat”?

Kitab ‘Aqidatul “Awam menjawabnya dengan siir yaitu “walmulkulladzi bila abin wa ummin, La akala la syurba wa la nauma lahum”. Artinya, bahwa Malaikat itu tanpa Bapak dan Ibu. Ia tidak makan, minum, dan tidur.

Ia diciptakan oleh Allah untuk beribadah dan mendampingi kepada hamba yang telah menyembah kepada-Nya. Kata sebagian orang, ia seperti “robot”. Menurut saya, tidak. Ia lebih dari “robot”. Karena, ia mampu memberikan tawaran dan melindungi orang yang beriman.

Ia bisa memilih “Tuannya”. “Tuannya” adalah orang beriman. Kalau “robot”, “Tuannya” belum tentu orang beriman. “Tuan” orang tidak beriman adalah Syetan.

Keberadaannya, sangat dekat dengan orang yang menyakinikan Allah dalam segala apa pun. Contoh paling nyata, adalah saat ada Rasul (baca: Nabi Muhammad SAW), disitulah ada Malaikat. Bisa dikatakan, Malaikat selalu melindungi Rasul. Malaikat selalu melindungi manusia yang beriman dan beribadah kepada Allah. Waallahu ‘alam.

Solo, 28 Oktober 2018

Previous Older Entries