Menjadi Orang Tua Bijak

Menjadi Orang Tua Bijak
Oleh Agung Kuswantoro

Pandemi Covid-19 menjadikan orang tua berkesempatan untuk berkumpul dengan anak yang di rumah. Kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan mengurangi mobilitas dan mengurangi bekerja di kantor menjadikan orang tua melakukan aktivitasnya di rumah.

Demikian juga, anak yang sedang bersekolah mengharuskan Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ, sehingga dapat dilakukan di rumah. Bertemunya antara orang tua dan anak di rumah saat pandemi Covid-19 adalah momentum yang “langka” bagi kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Saat inilah, waktu yang tepat agar menjadi orang tua yang bijak.

Adalah Ayah Edi yang mengajarkan kepada kita agar orang tua dalam mendidik tanpa ada teriakan dan bentakan. Kurangilah marah. Kalau bisa: Jangan marah. Adapun efek oroang tua yang marah yaitu: (1) menyebabkan tekanan darah; (2) “ledakan” marah memperbesar resiko serangan jantung; (3) resiko strok meningkat; (4) merusak paru-paru; (5) memicu stres dan kesedihan; (6) depresi; dan (7) memperburuk gangguan kecemasan (hal. 45-46).

Oleh karenanya dalam masalah marah, perlu ada manajemennya. Ada istilah anger management. Rumus dari anger management adalah pikiran, ucapan, dan respon harus baik. Ketika pikiran buruk, maka kalimat yang diucapkan menjadi buruk, kasar, dan menyakitkan. Dampaknya, respon orang yang mendengar menjadi negatif atau perbuatan yang menimbulkan konflik.

Setiap orang tua harus mengetahui, memahami, dan mempraktikkan anger management yang baik. Dimulai dari sesuatu yang baik. Minimal, pikirannya. Karena, pikiran akan berdampak pada perbuatan dan ucapan. Perbuatan adalah sesuatu yang dapat dilihat orang lain. Demikian juga, ucapan adalah sesuatu yang didengar oleh orang lain. Dampak dari pikiran, perbuatan, dan ucapan adalah respon atau reaksi orang lain dari apa yang dipikirkan, diperbuat dan diucapkan tersebut.

Menjadi orang tua yang bijak selain dengan memahami anger management, juga dapat dilakukan dengan komunikasi yang efektif antara anak dengan orang tua. Komunikasi yang baik dapat dilihat dari kalimat yang disampaikan orang tua kepada anak. Minimal orang tua menggunakan kalimat penghargaan dan penguatan.

Contoh kalimat penghargaan: “Wah, bagus sekali kamu melakukan itu”; “Terima kasih, kamu sudah menepati janji”; Papa berterima kasih, kamu mau berusaha”; “Mama bahagia, kamu sudah mau berubah”: “Papa bangga karena anak Papa berani jujur; dan kalimat-kalimat penghargaan lainnya.

Contoh kalimat penguatan: “Mama yakin kamu mampu mengatasinya. Tidak perlu khawatir”; Hati kecil Mama yakin kamu itu anak yang baik. Soalnya, sewaktu kecil kamu itu baik sekali”; “Anakku, tidak ada orang yang berhasil tanpa pernah gagal”, dan kalimat-kalimat penguatan lainnya.

Orang tua juga harus menghindari kalimat-kalimat negatif kepada anak, karena kalimat negatif akan meninggalkan kesan dan luka yang lama pada diri seorang anak. Bahkan, bisa jadi tertanam dalam benaknya sepanjang hidup (hal. 66).

Contoh kalimat negatif: “Begitu saja gak bisa, kamu bisanya apa sih?”; “Dasar anak bandel! Anak nakal! Ngak pernah nurut sama orang tua!”; “Sudah dibilangi berkali-kali, ngak berubah. Mau jadi apa, kamu nanti?”, dan kalimat-kalimat negatif lainnya.

Ada dua “kunci” agar kita menjadi orang tua yang bijak, tidak marah, dan membentak kepada anak adalah (1) mampu me-manage/mengelola marah dan (2) komunikasi yang efektif. Sekali lagi pikiran orang tua harus baik dulu terhadap anak, lalu katakan (baca:komunikasikan) yang lembut kepada anak. Semoga kita menjadi orang tua yang bijak itu. Amin. [].

Semarang, 23 Juli 2021
Ditulis di rumah, jam 19.00-19.30 WIB.

Berpikir/Merenung, lalu Mengetahui

Berpikir/Merenung, lalu Mengetahui
Oleh Agung Kuswantoro

Saya termasuk kategori orang bodoh—usai sahur puasa sunah ‘arofah—membuka kamus al-Munawwir, sekadar membuka makna tarwiyyah dan arofah. Dua nama yang dijadikan puasa sunah dalam menyambut hari raya Idul Adha.

Tarwiyyah berasal dari kata tarowwa yang artinya sama dengan merenung/berpikir. Seakar dengan kata tafakkaro. Kemudian, ‘arofah artinya mengetahui.

Sederhananya, maknanya adalah pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrohim sedang merenung/berpikir mengenai mimpinya untuk menyembelih putranya/Nabi Ismail. Setelah perenungan/pemikiran yang matang, baru pada tanggal 9 Dzulhijah Nabi Ibrohim mengetahui bahwa mimpinya, ternyata berasal dari Setan.

Kemudian, pada tanggal 10 Dzulhijjah dinamai hari “Nahr” atau “Adha” yang bermakna menyembelih. Karena pada hari atau tanggal tersebut Nabi Ismail/putranya disembelih. Lalu, pada tanggal 11,12,dan 13 Dzulhijjah dinamakan hari Tasyriq. Tasriq – tanpa tasydid pada ro—asal kata syaroqo yang berarti terbit. Sedangkan, tasriq – dengan panjang huruf ro—dimana masdar dari syarroqo yang bermakna pendendengan/dendeng/daging.

Artinya, setelah tanggal 10 Dzulhijjah disembelih, lalu hewan dagingnya dibuat dendeng/daging dijemur dibawah terik terbit matahari/terbit. Tujuannya biar dimasak, sehingga pada ketiga hari itu (11,12, dan 13 Dzulhijjah) dilarang berpuasa. Tujuannya agar makan dendeng yang dijemur di bawah terik terbit matahari.

Kurang lebih itu makna “kasar” secara bahasa Arab dari saya yang masih “miskin” ilmu. Mohon masukannya. Tetap semangat berpuasa sunah ini, karena hanya orang tertentu yang melakukan ibadah sunah ini. Semoga Allah mempermudah puasa dan menerima ibadah puasa sunah ini. Amin. [].

Semarang, 19 Juli 2021
Ditulis di Rumah jam 04.00-04.20 WIB.

Beragama “Intelek”

Beragama “Intelek”
Oleh Agung Kuswantoro

Pada saat Pandemi Covid-19 dan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) “Darurat” tanggal 3 Juli hingga 20 April 2021, ada beberapa yang harus kita tanggapi dengan jiwa beragama intelek. Beragama intelek itu beragama yang menggunakan akal “sehat” dan hati. Sederhananya, memahami kondisi saat ini dan taat pada imam.

Siapakah imam di Negara/masyarakat ini? Jika keadaan darurat, jelaslah bahwa imamnya adalah pemerintah.

Bisa jadi dikalangan ustad dan umat Islam menerima keadaan Covid-19 ini sangat berbeda pendapat. Misalkan, Masjid tidak menyelenggarakan solat jamaah selama PPKM. Di lapangan/faktanya, ada Masjid yang tidak menyelenggarakan solat jamaah dan menyelenggarakan solat jamaah.

Jika kondisi seperti itu, bagaimana sikap kita? Jadilah muslim yang “intelek”. “Ujung” dari islam intelek adalah beragama secara “intelek”. Muslim “intelek” selalu menggunakan ilmu dalam bernalar/berpikir. Dalil al-Qur’an, hadist dan ilmu-ilmu lain dalam agama menjadi rujukan. Bukan, semata-mata pendapat pribadi.

Misalkan: MUI/Majlis Ulama Idonesia. MUI adalah sebuah majelis – bukan individu – perorangan yang didalamnya ada ahli fiqih, tauhid, filsafat, sosial, tarikh dan ahli-ahli lainnya.

Orang yang ahli-ahli ini berkumpul dan menyampaikan pandangannya, sesuai dengan dalil yang jelas/valid satu sama lain, sehingga muncullah satu kesepakatan. Dimana, kesepakatan ini menjadi rujukan umat Islam dalam menjalankan suatu perbuatan.

Salah satu hasil keputusan MUI, diantaranya: Masjid tidak menyelenggarakan solat jamaah saat PPKM. Alasannya, yaitu beragama mementingkan keselamatan. Sebagai muslim dan orang yang “bodoh”, maka taat adalah sebuah kewajiban. Termasuk pengurus Masjid, agar tidak menyelenggarakan solat jamaah di Masjid adalah sebuah pilihan yang tepat.

Lalu, muncul pertanyaan, “Mengapa tidak menyelenggarakan solat jamaah di Masjid, sedangkan Pasar dibuka? Sederhana jawabannya seperti ini: karena semua aktivitas di Masjid dapat dilakukan di Rumah. Sedangkan tidak semua aktivitas di Pasar bisa dilakukan di Rumah.

Sholat Ied, bisa dilakukan di Rumah. Sholat Jum’at, bisa diganti sholat Dhuhur di Rumah, sholat jamaah/fardu bisa dilakukan di Rumah. Dan, mengaji pun bisa dilakukan di Rumah.

Namun, aktivitas jual beli antara pembeli dan penjual belum tentu bisa dilakukan di Rumah. Beli gas, gasnya belum tentu di Rumah. Beli beras, berasnya belum tentu di Rumah. Dan, beli onderdil mobil/motor, belum tentu onderdil mobil/motor di Rumah juga, ada. Itulah, mengapa Pasar/Toko tetap buka pada masa PPKM.

Dengan demikian, jadilah/berkeinginanlah menjadi muslim yang “intelek”. Sabar, ilmu, dan menjadi ciri khasnya menghadapi sesuatu dapat secara logis dan tenang. Selain itu, menghormati setiap pendapat orang lain. Ia tidak menganggap pendapat dirinya paling benar. Waallahu ‘alam. []

Semarang, 11 Juli 2021
Di tulis Di Rumah jam 05.00 – 05.20 WIB.

Menjadi Guru Sejati

Menjadi Guru Sejati
Oleh Agung Kuswantoro

Masa usai Pandemi Covid-19 yang belum pasti kapan berakhir menjadi perhatian dalam pendidikan. Khususnya, pendidikan tingkat dasar (SD). Di mana, siswanya yang notabene anak-anak masih suka bermain dan bersosialisasi dengan lingkungan.

Pembelajaran daring tidak menjamin siswa (baca:anak) itu bisa memahami materi. Bisa jadi, sangat membosankan pembelajaran daring selama hampir dua tahun. Malahan di daerah tertentu, pembelajaran daring tidak bisa berjalan dengan baik. Di mana, orang tuanya ke sekolah untuk ambil soal.

Hal yang sangat membutuhkan perhatian dari kita sebagai orang tua adalah menggantikan guru di kelas menjadi guru di rumah. Adalah orang tuanya yang menjadi guru di rumah. Orang tua adalah guru sejati buat anaknya. Kehadiran orang tua di rumah itu pasti, tanpa melalui zoom meeting.

Pengalaman belajar yang hilang di sekolah, bisa digantikan di rumah. Terlebih, saat sekarang masa PPKM darurat, dimana ASN di sektor non esensial di wilayah PPKM darurat 100% WFH menjadi kesempatan agar menjadi guru sejati untuk anaknya: anak bisa bermain dengan orang tuanya, komunikasi yang intens antara orang tua dengan anak, dan yang paling penting adalah anak bisa memahami bahwa orang yang paling dekat dalam kehidupan anak adalah orang tuanya.

Sejatinya, pengalaman belajar itulah yang harus diperoleh oleh anak dalam masa pandemi Covid-19. Anak jangan sampai menemukan guru berupa youtube, game, dan aplikasi yang kurang memberikan pendidikan. Jangan sampai pula, komunikasi antara orang tua itu, berlangsung singkat di rumah selama 10 menit saja. Sedangkan, “komunikasi” anak dengan hp/komputer/tablet itu hingga berjam-jam dengan materi “game” yang tidak bermakna sama sekali.

Jika orang tua sebagai guru sejati di rumah selama Pandemi Covid-19, maka anak akan menemukan seorang sosok pendidik yang tepat dalam kehidupannya, mulai dari subuh hingga malam. Sejatinya orang tualah yang menjadi guru mereka, bukan HP/laptop/game/youtube/aplikasi yang tidak mendidik. Semoga kita semua menjadi guru sejati buat anak. Andalah guru sejatinya. Siapa lagi, jika bukan Anda? [].

Corona: Siksa/Adzab Atau Ujian?

Corona: Siksa/Adzab Atau Ujian?
Oleh Agung Kuswantoro

Corona turun ke planet—yang bernama Bumi—atas kehendak Allah SWT. Allah SWT mengizinkan Corona “berjalan” dan “terbang” di muka bumi ini yang terhampar luas. Lalu, muncul pertanyaan: “Mengapa Allah SWT menghendaki turun ke bumi? Dan, menyilahkan beberapa makhluk yang lain (merasa) terganggu, seperti sakit dan ada yang meninggal dunia? Kemudian, apakah itu adzab atau ujian bagi orang yang beriman?

Mari kita diskusikan dari pertanyaan di atas, satu persatu. Pertama: “Mengapa Allah SWT menghendaki turun ke bumi? Jawabnya: “Karena, Allah SWT Maha Kuasa”. Allah SWT Maha Segala-galanya. Tidak ada yang berkuasa, selain Allah. Bumi itu kecil di mata Allah. Termasuk, kemampuan atau kepandaian manusia itu sangat kecil.

Corona itu makhluk Allah SWT yang diturunkan ke bumi. Sama seperti mahkluk lainnya: ada hewan, tumbuhan, manusia, dan makhluk yang tidak terlihat/goib (setan, jin, dan malaikat).

Kedua, “Mengapa Allah menyilahkan beberapa makhluk yang lain (merasa) terganggu, seperti sakit dan ada yang meninggal dunia atas kehadiran Corona?” Jawabnya: “Karena, Allah SWT mengetahui bahwa makhluk yang lain –termasuk manusia—adalah makhluk yang kuat”. Kekuaatan fisik dan akal manusia mampu menyelesaikan terhadap kahadiran Corona. Manusia mampu membuat membuat vaksin atau obat “penangkal” Corona.

Selain itu, manusia memiliki Tuhan yaitu Allah SWT yang sangat “mendengarkan” doa-doa hamba/makhluknya terhadap permasalahan kehadiran Corona. Artinya, melalui doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT, muncul rasa optimis dalam diri manusia tersebut. Manusia tersebut tidak pasrah “bongkokan”. Namun, manusia tetap berusaha dalam menyelesaikan permasalahan Corona.

Terakhir, ketiga: “Apakah kehadiran Corona itu adzab atau ujian bagi orang yang beriman?” Jawabannya: “ujian”. Ujian berlaku bagi semua manusia yang beriman dan tidak beriman. Orang yang solat dan tidak solat bisa terkena Corona. Orang yang beragama selain Islam, bisa kena Corona.

Allah SWT yakin melalui ujian—berupa Corona—manusia akan menjadi kuat. Kuat badan dan fisiknya. Manusia akan tidak mudah sakit. Sehingga, muncul “gaya” hidup sehat, pola makan teratur, dan istirahat yang cukup, serta meningkatkan ibadah.

Jika Corona sebagai adzab/siksa, maka Allah SWT akan menyelamatkan orang-orang beriman dulu. Layaknya, umat Nabi Nuh AS yang diselamatkan terlebih dahulu dari bahaya banjir bandang dengan membuat kapal besar, walaupun di musim panas yang terik matahari. Umat Nabi Nuh AS yang beriman diselamatkan dulu oleh Allah SWT. Sedangkan, umat/masyarakat yang tidak beriman kepada Allah SWT, termasuk anak Nabi Nuh AS itu tidak selamat dari musibah banjir bandang.

Melalui tulisan ini, mari kita menjadi pribadi yang bersyukur kepada nikmat Allah SWT. Anggaplah Corona itu ujian yang diturunkan kepada Allah di muka bumi ini. Tugas kita adalah optimis, berusaha, dan berdoa agar permasalahan Corona cepat terselesaikan dengan keterlibatan dan seizin Allah SWT. Amin. [].

Semarang, 13 April 2021
Ditulis di Rumah disela-sela Bekerja Dari Rumah (BDR), jam 08.30-08.45 WIB.

Menjadi Guru Sejati Untuk Anak

Menjadi Guru Sejati Untuk Anak

Oleh Agung Kuswantoro

Tiap usai solat subuh, saya membiasakan kepada anak saya (Mubin dan Syafa) untuk Madrasah di rumah. Otomatis, gurunya adalah saya. Fokus materi yang saya sampaikan kepadanya adalah materi-materi dari Madrasah yang pernah saya terima dari Madrasah Hidayatussibyan Pemalang dan beberapa referensi (kitab) tambahan yang belum pernah saya dapatkan di Madrasah di daerah kelahiran saya tersebut. Untuk referensi tambahan, saya mencari kitab di toko kitab (Toha Putra Johar Semarang).

Sederhananya, seperti ini. Senin materinya fiqih dengan kitab Safinatunnajah, Selasa materinya tauhid dengan kitab ‘Aqidatul Awwam, Rabu materinya akhlak dengan kitab Akhlaqulilbanin, Kamis materinya tarikh dengan kitab Tarikhunnabi Muhammad, Jumat libur, Sabtu materinya Imla dengan kitab Belajar Kaligrafi Arab, dan Ahad materinya review dari semua materi yang telah disampaikan.

Waktunya tidak banyak dalam menyampaikan, sekitar 15 menit saja. Media yang saya gunakan adalah buku tulis untuk membuat bagan atau “corat-coret” dalam keterangan/penjelasan. Misal membuat silsilah Nabi Muhammad, arah cara menulis huruf hijaiyah, dan keterangan-keterangan lainnya.

Bagi saya, orang tua adalah guru sejati anak. Terlebih di masa Pandemi Covid-19 ini, dimana semua pembelajaran dilakukan secara zoom meeting/online. Salah satu kelemahan pembelajaran daring ini adalah hilang pengalaman belajar seperti santri/siswa tidak merasakan menulis, membaca dengan lantang, bersosialisasi dengan teman, dan berkomukasi dengan guru, dan pengalaman belajar lainnya.

Nah, jika tidak orang tua sebagai guru sejati untuk anak, lalu siapa yang akan menjadi guru (ngaji/madrasah) dimana madrasah/tempat ngaji masih tutup? Jika kita (baca:orang tua} belum mampu menjadi guru sejati karena belum mampu secara materi, menurut saya tidak masalah karena sumber belajar di masa teknologi yang canggih ini mudah didapat. Yuk, menjadi guru sejati buat anak-anak kita. Sekali lagi: “Siapa lagi, jika bukan kita?” Waallahu ‘alam. [].

Semarang, 4 Juli 2021

Ditulis di Rumah jam 05.05-05.15 WIB.

Panas Terasa Adem

Panas Terasa Adem

Oleh Agung Kuswantoro

Pembelajaran Madrasah tingkat wustho dan ulya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang dimulai jam 14.00 WIB hingga 17.00 WIB. Semua orang tahulah, bahwa siang – terlebih jam dua siang – pasti panas suasananya.

“Bagaimana, jika Anda jalan atau naik sepeda ontel selama dua atau tiga kilometer pada jam tersebut selama enam hari dalam enam tahun?” Jawabnya: “panas dan capek. Atau, melelahkan”.

Ada “pemandangan” yang berbeda saat saya pulang kampung ke Pemalang. Saya melihat santri-santri Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang dari arah pantai Widuri, dimana pada jam tersebut sedang mengayuh sepeda ontel di jalan menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, tepat jam dua siang. Cuaca yang panas itu, berlaku bagi semua yang ada di jalan tersebut.

Menurut saya, santri-santri tersebut tidak merasa “sumuk”, panas, dan capek. Mereka justru, bersemangat mengayuh sepedanya. Mengapa mereka bersemangat? Karena, dalam diri mereka sudah menyadari bahwa ilmu itu wajib dicari. Ilmu “agama” dengan tingkatan wustho dan ulya di Pemalang itu hanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang.

Jika adanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, maka yang dituju hanya Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang saja. Tidak ada tempat yang lainnya. Mengingat tempatnya, hanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang saja, maka menjadi wajib dituju di tempat tersebut.

Sahabat saya, namanya Tasihin, rumahnya Bungin Danasari, jarak dari Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang ke tempat tinggalnya kurang lebih 8 kilometer. Ia selama 6 tahun mengayuh sepedanya pulang pergi pada jam dua siang. Jika ditanya: “Apakah panas saat naik sepeda pada jam dua siang menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang?” Pasti dia jawabnya: “panas”. Tapi, dalam suasana panas, ada dingin dan ketenangan batin yang dirasakan.

Santri-santri tersebut menurut saya itu, pilihan Allah untuk meninggikan derajat bagi seorang hamba-Nya. Bisa jadi, banyak orang yang dekat di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang atau orang yang dilewati saat santri itu menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, namun tidak “terpanggil” untuk belajar di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang tingkat wustho dan ulya. Jadi, tidak sembarang orang bisa menikmati suasana pembelajaran di Pondok Pesantren yang terletak di jatung kota berjulukan Ikhlas tersebut.

Saya sebagai alumni Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, jika boleh berpesan kepada santri yang sedang menuntut ilmu, hanya bisa berkat: ”sabar dan tetap semangat, Insya Allah nanti Allah akan mempermudah urusan para santri”. “Lihatlah masa depan Anda 10 tahun lagi, Insya Allah sukses.” Masa Allah membiarkan hamba-Nya yang sudah membela di jalan dan melakukan kewajibannya dalam mencari ilmu. Wallahu ‘alam.

Semarang, 30 Juni 2021

Ditulis di Rumah, jam 05.30-05.40 WIB.

Tulisan ini sudah seizing oleh Tasihin. Gambar yang tertera belum seizing dari yang ada di gambar, karena posisi saya dalam perjalanan dan yang bersangkutan, juga sedang di jalan.

Doa Pengukuhan Guru Besar Prof. Martono dan Prof. Heri Yanto

Bismillahirahmanirrahim
Mari baca istighfar 3 x
Astaghfirullaha adzim 3x
Baca sholawat 3x
Allahumma solli’ala Muhammad 3x

Alhamdulillahirobil ‘alamin, Hamdan syakirin, hamdan na’imin, hamdan yu’afi niamahu wayukafi mazidah. Ya Rabbana lakal hamdu kama yambaghi liljalali wajhikal karimi wa’adzimi sulthonik.

Ya Allah, Ya ‘Alim. Kami berdiri dan hadir di sini, semata-mata karena ingin menjadikan hamba yang berilmu. Sebagaimana nama-Mu (Al ‘alim). Jauhkanlah kami dari sifat bodoh di dunia ini.

Ya Allah, Ya Asy-Syakur. Kami hadir dalam majlis ini untuk menjadi hamba yang selalu bersyukur atas nikmat-Mu. Alhamdulillah hari ini, dua guru kami dosen kami dikukuhkan menjadi guru besar, yaitu Prof. Dr. S. Martono, M.Si dan Prof. Heri Yanto, Ph. D, M.BA.

Ya Allah, Ya An-Nafi. Ajarilah kami, agar menjadi hamba yang selalu bermanfaat kepada sesama. Semoga ilmu yang kami peroleh bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa kami ini.

Ya Allah, Ya Al-Khafid. Ya Allah rendahkanlah dan tawadukan hati kami dalam beribadah di kampus ini. Jadikanlah acara hari ini, agar hati kami lebih merendahkan diri di hadapan-Mu. Gelar Profesor yang melekat pada diri kedua guru kami, semoga dan Insya Allah menjadikan lebih bertawadu di hadapan-Mu.

Ya Allah, Ya Rozak. Berikanlah kami semua warga kampus civitas akademik UNNES dengan nikmat sehat rizki berkah, dan ilmu yang bermanfaat di situasi pandemik Covid-19 ini.

Ya Allah dengan sifat-sifat-Mu yang luhur, semoga kami bisa berakhlak sesuai dengan kemampuan kami. Terimalah doa kami: Robbana atina fiddun ya hasanah wafil akhiroti khasanah wa qina ‘adza bannar. Amir. Amin. Amin. Ya Robbal ‘alamin.

Selamat Menuju Perjalanan Tarikh Berikutnya, Ustadz Karim

Selamat Menuju Perjalanan Tarikh Berikutnya, Ustadz Karim

Oleh Agung Kuswantoro

Terima kasih Ustadz Karim telah mengajariku ilmu tarikh dengan kitab Khulasoh Nurul Yaqin dari Juz awal/satu hingga juz akhir/tiga. Saya jadi paham mengaji tarikh dengan cara mengabsahi dan memahami setiap makna dalam kitab tersebut. Ngaji sejarah, namun dengan membaca dan memaknaiknya kitab. Itulah kesan yang saya dapatkan dari model pembelajaran Ustadz Karim.

Biasanya orang belajar tarikh/sejarah lebih banyak bercerita atau “oral” melalui mulutnya. Kemudian, orang mendengarkan atas penjelasan dari orang yang menyampaikan. Namun, Ustadz Karim dalam model pembelajarannya, tidak seperti itu. Ustadz Karim model pembelajarannya dengan model membaca, mengabsahi, dan menerangkan dari isi kitab Kholash Tarikh.

Lalu, dalam penjelasannya sangat “ceto” dengan khas bahasa “logat” Pemalang. Tatapan mata dan gerakan tubuh ke santri saat menjelaskan dari isi kitab tersebut. Suaranya yang tegas dalam memaknai dan menerangkan dari pesan kitab tersebut, menjadi ciri khas Ustadz Karim.

Selamat jalan Ustadz menuju bab tarikh kehidupan berikutnya. Insya Allah, Ustadz di sana (Akhirat) akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki lebih dibanding di dunia ini. Semangat mengajar dan mengayuh sepeda ke Salafiah dari rumah Ustadz ke Ponpes Salafiah Pemalang (Pulang-Pergi) menjadi semangat hidup saya dalam menggapai hidup yang penuh ketenangan. Dengan beramal soleh melalui menyampaikan ajaran agama berupa (menyampaikan) ilmu tarikh menjadikan pembelajaran kepada saya, bahwa hidup harus memberikan “nilai” kepada sesama. Berbagi kepada sesama dari apa yang kita miliki. Berbagi kepada sesama tidak harus materi, namun psikis pun bisa.  

Ustadz Karim adalah sosok yang sederhana dalam kehidupannya. Kala itu (tahun 1996-1998) saya diajar ilmu tarikh di Salafiah, Almarhum dengan sepedanya, mengayuh sendiri. “Ngontel”, istilahnya. Semoga setiap “genjotan” kaki pedalnya menjadikan pahala yang tak ternilai bagi Allah. Dan, suara yang tegas menjadikan amal yang tak terputus dari penjelasan yang Almarhum sampaikan kepada santri-santrinya.

Semoga Ustadz Karim dimudahkan oleh Allah menuju “perjalanan” tarikh kehidupan berikutnya. Semoga ilmu yang disampaikan kepada santri-santrinya bermanfaat dan bisa disampaikan kepada sesama di lingkungannya masing-masing. Ilmunya bisa “berputar” dan disampaikan kepada “santri-santri” berikutnya. Amin.

Ditulis di rumah orang tua yang beralamat di Pelutan Pemalang, 27 Juni 2021

Jam 04.40 – 05.00 WIB.  

Ngaji “Nata Ati”

Ngaji “Nata Ati”
Oleh Agung Kuswantoro

Antara tahun 2000-2001, saya pernah aktif mengikuti kajian kitab Ihya Ulumuddin di Masjid Agung Pemalang. Kajian dilakukan pada jam 09.00 11.00 WIB tiap hari Ahad dengan pemateri/pengampu Kiai Masruhi (Pelutan) dan Kiai Dimyati (Comal).

Waktu itu, usia saya sekitar 18 – 19 tahun saat kajian tersebut. Saat saya mengikuti kajian tersebut, tidak memiliki kitab Ihya Ulumuddin. Saya hanya mengaji jiping/ngaji nganggo kuping (baca:mengaji dengan menggunakan telinga). Alias mengaji dengan mendengarkan dari pemateri yang disampaikan.

Ketika mendengar pun—waktu itu—saya belum paham apa yang saya dengar dari penjelasan kedua pemateri. Artinya, materi-materi yang disampaikan dalam kitab tersebut, belum saya pahami sepenuh hati. Jadi, saya asal ngaji saja. Paham, gak paham itu, urusan lain.

Santri yang mengaji kitab Ihya Ulumuddin waktu itu, kebanyakan para “senior” dari beberapa daerah di Pemalang. Mereka dari kalangan ustad dan santri berpengalaman dalam belajar agama dari pelosok kota/desa di daerah yang berjulukan Kota Ikhlas.

Di situlah saya menangkap cara Kiai dalam penyampaian materi. Kiai Masruhi – yang notabene berprofesi sebagai Ketua Hakim Pengadilan Agama kabupaten Pemalang waktu itu– sangat tegas dalam menjelaskan makna-makna kandungan kitab Ihya Ulumuddin. Tas tes tes, kaya gitulah dalam menerangkan.

Bahkan, dalam membuat contoh itu, lebih realitas dan kekinian. Model dalam membaca, mengabsahi, dan memaknai kitab Ihya Ulumuddin yaitu membacakan perlafal hingga beberapa baris, baru menerangkan maknanya. Dalam pemaknaannya pun, sering menggunakan bahasa Indonesia.

Biasanya, santri saat mengabsahi/mengartikan dalam bahasa Jawa. Namun, kali ini ada beberapa lafal/kalimat menggunakan bahasa Indonesia. Kiai Masruhi biasanya menyampaikan pada sesi I (jam 09.00 – 10.00). Jam 10.00 – 10.15 WIB, istirahat.

Jam 10.15 WIB masuk kajian sesi II oleh Kiai Dimyati dari Comal. Kiai Dimyati dalam menyampaikan sangat halus dan berhati-hati sekali dalam kaidah Nahwu dan Sorof-nya. Setiap lafal, beliau maknai secara bahasa dan istilah.

Belum lagi, Kiai Dimyati menerangkan suatu kalimat—dari lafal-lafal yang ada dalam kitab Ihya Ulumuddin—yang dibacakannya. Setelah itu, menerangkan isi kandungan yang dibaca olehnya.

Kiai Dimyati memiliki karakteristik halus dalam penyampaiannya. Target mendapatkan materi banyak, bukan tujuan utama yang penting dapat dipahami oleh santri. Kurang lebih seperti itu, gaya Kiai Dimyati dalam suatu kajian.

Kajian tersebut masih berlangsung saat usia saya memasuki 22 tahun. Atas izin Allah, saya dapat membeli kitab Ihya Ulumuddin versi kitab kuning 4 jilid di Toha Putra Semarang. Uang hasil dari kerja saya—waktu itu masih berprofesi sebagai guru—dengan gaji yang “amat tak seberapa”. Saya belanjakan kitab Ihya Ulumuddin saja. Tujuannya, agar saya dapat mengaji dengan mengabsahi secara langsung. Tidak jiping lagi.

Ternyata, kajian kitab Ihya Ulumuddin di tahun 2006 masih berlangsung. Namun, saya ketinggalan banyak bab. Karena, 1 tahun saya studi/belajar di UNNES dan bekerja sebagai guru di Semarang. Walaupun, ketinggalan banyak bab, saya tetap semangat mengaji. Setiap kali pulang Pemalang – tahun 2006 hingga 2007 – saya menyempatkan untuk mengkaji kitab Ihya Ulumuddin.

Oh ya, kajian kitab Ihya Ulumuddin ini—waktu itu—disiarkan langsung di Stasiun Radio Widuri Pemalang. Ibu dan Kakak saya, biasanya mengikuti kajian ini dari radio di rumah.

Tahun 2021, saya kurang tahu pastinya, apakah kajian Ihya Ulumuddin di Pemalang masih atau tidak. Harapannya, kajian yang berisi pesan-pesan kebaikan itu masih berlangsung. Meskipun, saya sudah berdomisili di Semarang.

Melalui kitab Ihya Ulumuddin, saya dituntun untuk belajar “nata ati”. Banyak ilmu-ilmu yang saya dapatkan dari kitab karangan Imam Gozali tersebut. Kitab ini menjadikan saya, lebih hati-hati dalam memaknai sebuah kehidupan. Kitab Ihya Ulumuddin menuntun seseorang agar “menghidupkan” ilmu-ilmu Allah di dunia ini.

Alhamdulillah, saat ini, tahun 2021, saya masih mengaji kitab Ihya Ulumuddin secara daring yang diampu oleh Kiai Ulil Absor Abdullah. “Gaya” penyampaian Kiai Ulil Absor Abdullah sepintas seperti Kiai Masruhi (dulu saat saya mengaji) yang lebih kekinian dalam menafsirkan, memaknai, dan memberikan contoh.

Saya sangat bersyukur masih bisa mengaji lagi kitab tersebut, hingga kini. Bersyukur juga, bisa bertemu dengan kiai-kiai yang berilmu dan beramal baik seperti Kiai Masruhi, Kiai Dimyati dan Kiai Ulil Absor Abdullah. Tidak sembarang orang bisa mengaji kitab Ihya Ulumuddin ini. Karena, membutuhkan “hati yang telah tertata”. Hati yang “didandani” agar menjadi lebih baik. Itulah, inti belajar kitab Ihya Ulumuddin.

Semoga guru-guru saya yang mengajarkan kitab ini, selalu sehat dan diberi keberkahan dalam hidupnya. Itulah doa saya dari santri yang waktu itu mengaji dengan jiping.

Semarang, 19 Juni 2021
Ditulis di Rumah Jam 05.00 – 05.20 WIB.

Previous Older Entries