Iman dasar belajar Fiqih

tulisan mahasiwaku yang ikut Mahasiswa Mengaji (17/9)

 

Sabtu, 17 Sebtember 2016, bertempat di masjid Nurul Iman, kajian Mahasiswa Mengaji dimulai kembali. Setelah satu semester mati, kini kajian Mahasiswa Mengaji mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya lagi, mulai bertunas kembali dan siap tumbuh berkembang menembus lebatnya hutan belantara. Kajian Mahasiswa Mengaji InsyaAllah akan diadakan setiap hari sabtu pekan pertama dan ketiga setiap bulan dalam tahun masehi, pukul sembilan pagi. Buat kamu yang ingin menambah wawasan dan ilmu, yuks merapat ke Masjid Nurul Iman di Gang Pete Selatan. Agar kuliahmu lebih bermakna dan mempunyai tujuan.

 

Okay, pada pertemuan perdana kali ini Kajian Mahasiswa Mengaji bertemakan fiqih. Seperti kita ketahui bahwa, pada kajian mahasiswa mengaji akan dibahas mengenai tiga materi pokok, yaitu Fiqih, Tauhid, dan Akhlak. Buku pedoman yang digunakan dalam kajian kali ini adalah kitab safinatun najaah. Sebelum membahas mengenai fiqih, yuks kita pahami dulu makna dari kitab Safinatun Najaah.

 

Kata safinah dapat diartikan sebagai perahu, dan najaah diartikan selamat. Jadi jika kita analogikan, kita berada dalam lautan dunia, dan agar kita selamat maka kita naik perahu. Analisis sederhananya seperti ini ketika kita berada di lautan dunia, kita membutuhkan sesuatu agar kita bisa selamat, perahu yang kita naiki inilah yang akan menyelamatkan kita dari lautan dunia. Perahu yang mengantarkan kita ke Jannah-Nya. Aamiin. Di era globalisasi dan adanya pasar global ASEAN membuat batas-batas negara semakin tak terlihat lagi, ini berdampak pada interaksi atau tatanan hidup manusia. Untuk membekali kita dari dampak negatif globalisasi tentunya kita memerlukan sebuah tameng. Yups benar sekali, tameng itu adalah sebuah ilmu, ilmu agama tepatnya. Mungkin beberapa banyak yang menganggap bahwa ilmu agama cukup dengan kita masuk islam saja. Tapi, apakah dengan kita masuk islam saja itu cukup? Tentunya dengan memahami secara kafah makna islam itu sangatlah penting. Apalagi kita sebagai mahasiswa, pernah denger kan kata Bung Karno “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Begitu dahsyatnya pemuda sehingga dunia dapat diguncangkan. Mengapa harus pemuda? Karena pemuda generasi penerus bangsa yang mempunyai sejuta mimpi yang siap untuk diraih tanpa melihat berapa banyak dan berapa besar rintangan atau hambatan yang menghadang. Untuk membentengi pemuda Indonesia agar tidak tergerus oleh arus globalisasi yang semakin deras maka sangat penting bagi kita untuk belajar agama, karena agama adalah pedoman hidup kita.

 

Pada kitab safinah, kita akan menjumpai kata fasal. Fasal bisa kita pahami sebagai bab yang ada di kitab safinatun najaah. Sebelum kita membahas detail fasal yang ada dalam kitab safinatun najaah, alangkah lebih baiknya kita pahami terlebih dahulu apa itu fasal. Fasal dapat kita pahami sebagai kelas, sedangkan kumpulan fasal disebut dengan kitab. Dari sinilah kita dapat memahami, mengapa kita menyebut dengan kitab safinatun najaah.

 

Dalam kitab safinatun najaah terdapat 57 fasal yang akan kita bagi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan perdana kita akan membahas mengenai rukun islam dan rukun iman. Mungkin Sobat ada yang menanyakan mengapa pada fasal pertama kita membahas rukun islam? Bukankah kita akan membahas mengenai fiqih? Lantas mengapa kita membahas rukun islam, bukankah rukun islam masuknya ke tauhid? Yuks kita tanya dengan yang ahlinya. Ulama terdahulu yang membuat kitab safinatun najaah tentunya mempunyai makna tersendiri. Mengapa sebelum kita membahas fiqih lebih dalam, kita harus mengetahui terlebih dahulu rukun islam. Karena pada fasal-fasal berikutnya, rukun islam dan rukun iman sangat berkaitan dengan fiqih. Ibadah yang kita lakukan tentunya atas dasar islam dan iman bukan? Islam dan Iman menjadi dasar kita menjalankan ibadah, agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah S.W.T dan kita berharap agar amal ibadah kita pun diterima oleh Allah S.W.T. Amin.

 

Rukun Islam ada lima, yang pertama syahadat, yang kedua shalat, yang ketiga zakat, yamg keempat puasa, dan yang kelima haji bagi yang mampu. Syahadat adalah sebuah syarat yang utama masuk islam, mengapa kita harus bersyahadat? Karena dalam syahadat kita bersaksi dan menyakini bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah rasul utusan Allah. Ini adalah dasar kita memahami fiqih lebih jauh, dimana kita belajar fiqih tentunya sudah memahami konsep islam dan iman.

 

Rukun islam ada enam, yang pertama percaya kepada Allah, yang kedua percaya kepada malaikat Allah, yang ketiga percaya pada kitab-kitab Allah, yang keempat percaya kepada Rasul-rasul Allah, yang kelima percaya pada hari akhir (kiamat), dan yang keenam percaya pada qadha dan qhadarnya Allah.

 

Selanjutnya dalam fasal keempat kita mempelajari mengenai tanda-tanda baligh atau bisa kita sebut sebagai dewasa. Fasal kali ini juga cukup menarik looh, mengapa kita harus memahami konsep baligh terlebih dahulu? Eiiits, belajar ilmu fiqih syaratnya tidak harus baligh dulu, bahkan harus dipahami sejak kecil. Loh mengapa harus sejak kecil? agar ketika dewasa kita sudah paham dan saat dewasa kita sudah tidak bingung dan galau lagi jika ada permasalahan yang tiba-tiba datang. Misal saja saat Sobat sedang diperjalanan, karena sobat sudah mempelajari ilmu fiqih, maka sobat tidak perlu lagi galau bagaimana cara melaksanakan shalat. Meskipun begitu, saat sudah dewasa bahkan sampai tua pun kita wajib belajar looh. Baligh merupakan sebuah titik peralihan dimana semua amal perbuatan sudah ditanggung oleh anak tersebut, Sebelum anak baligh, maka amal perbuatan yang dialakukan anak tersebut akan ditanggung oleh orang tuanya. Okay, kita kembali ke tanda-tanda baligh, yang pertama telah berusia genap 15 tahun, bagi laki-laki dan perempuan, yang kedua bermimpi mengeluarkan air mani bagi laki-laki dan juga anak perempuan dan telah berusia 9 tahun, dan yang ketiga haidh (menstruasi) bagi anak perempuan yang sudah berusia 9 tahun. Sob, apakah kalian tahu kalau kitab safinah itu dibuat sudah lama sekali jauh sebelum adanya internet, tapi ulama dahulu sudah mampu mengetahui tanda-tanda baligh pada era globalisasi ini. Begitu hebatnya ulama dahulu mampu memprediksikan tanda-tanda baligh. Perlu sobat ketahui bahwa, dahulu orang tua kita saat berumur 15 tahun, banyak yang masih belum mengalami haidh dan mimpi basah, tapi saat ini sudah banyak anak kecil yang berusia 9 tahun sudah mengalami haidh yang pertama.

 

Setelah kita pelajari mengenai tanda-tanda baligh, tentunya sobat sudah mulai penasaran, fasal apa yang ada dalam kitab safinatun najah selanjutnya. Okay, fasal keenam kita akan membahas mengenai “Istinja’ dengan batu”. Istinja yaitu bersuci dari air kencing atau buang air besar. Istinja’ ini lebih baik dengan batu, tetapi boleh dan cukup dengan batu atau benda keras yang lain, untuk saat ini kita bisa contohkan tisyu. Istinja dengan batu dapat mencukupi jika memenuhi delapan syarat berikut : pertama, harus memakai tiga buah batu. Kedua, harus sudah bersih tempat keluar najis dengan tiga buah batu itu, jika tidak harus ditambah dengan batu lain. Ketiga, harus belum kering najis yang keluar. Keempat, najis yang kelaur tidak berpindah tempat. Kelima, tidak terkena najis yang lain. Keenam, najis yang keluar tidak melewati lipatan pantat (untuk buang air besar). Ketujuh tidak terkena air. Kedelapan, batu yang digunakan bersuci harus suci.

 

Bagaiamana sob materi pada pertemuan kali ini? Semoga bermanfaat. Yuks belajar bersama di kajian Mahasiswa Mengaji. Agar kuliah tidak sekedar berangkat kuliah saja, tapi lebih memahami untuk apa kita kuliah jauh-jauh ke Semarang juga menghabiskan dana yang besar namun hasilnya kurang memuaskan. Disini kita belajar memahami arti kehidupan, dan agar kuliahmu pun semakin bermakna. Nantikan kajian Mahasiswa Mengaji selanjutnya yah J Don’t miss it!

Rina Opik/PAPA 2013

Sumber : kitab safinatun najaah

 

RESENSI AGUNG BERCERITA ARSIP

agung-bercerita-arsip

 

AGUNG BERCERITA ARSIP

Judul                 : Agung Bercerita Arsip

Penulis               : Agung Kuswantoro

Peresensi           : Musliichah (Arsiparis Berprestasi Tingkat Nasional 2012)

Penerbit             : Salemba Humanika

Tahun                : 2015

ISBN                 : 978-602-1232-26-2

Halaman            : 184 halaman

 

Buku ini memberikan gambaran cara seorang “publik” mencintai arsip dan mengekspresikan cintanya pada arsip melalui tulisan. Ekspresi cinta ini merupakan rangkuman dari pengalaman bergelut dengan arsip melalui penelitian dan praktik pengabdian. Artikel-artikel dalam buku ini memberikan wacana empiris tentang proses arsip tumbuh dan memberikan kehidupan dalam sebuah organisasi. Gagasan penulis tentang arsip dituangkan dalam dua bagian. Bagian pertama menyajikan berbagai tulisan hasil kajian dan penelitian; dan bagian kedua menyajikan berbagai tulisan tentang arsip berdasar pengalaman di bidang kearsipan.

Bagian pertama yang berisi berbagai artikel dan makalah yang pernah penulis susun dan dipresentasikan dalam “mimbar ilmiah” sebagian besar bertema tentang arsip elektronik. Hal ini menggambarkan tuntutan publik untuk mendorong lahirnya era otomasi arsip. Pesatnya perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta merebaknya budaya digital di tengah kehidupan masyarakat menjadi pemicu dan pendorong keinginan lahirnya otomasi atau digitalisasi arsip. Fenomena ini ditangkap oleh penulis dan menjadi sumber ide atau gagasan penulis. Berbekal latar belakang ilmu administrasi perkantoran penulis mencoba melahirkan ide atau gagasan tentang cara arsip diwujudkan dalam bentuk digital atau sering disebut arsip elektronik. Tentu saja ide atau gagasan penulis ini sangat kekinian dan berusaha memberikan jawaban atas tuntutan publik yang “melek” teknologi. Arsip elektronik atau penulis sebut dengan e-arsip ditawarkan sebagai sebuah solusi kearsipan yang simpel dan sederhana yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kehidupan modern masa kini. Konsep e-arsip dapat dibaca dalam artikel berjudul “E-Arsip: Simpel dan Dibutuhkan”.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengelola arsip elektronik? Pertanyaan ini dapat ditemukan jawabannya pada makalah-makalah yang pernah disampaikan oleh penulis di berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah baik di lingkungan perguruan tinggi maupun pemerintah daerah. Makalah­-makalah tersebut juga menyajikan berbagai landasan spirit tentang arsip elektronik untuk mewujudkan upaya konservasi/ paperless dalam penciptaan arsip.

Mendorong lahirnya budaya arsip elektronik tidak semudah membalik telapak tangan. Ada faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan budaya tersebut yaitu SDM. SDM kearsipan atau sering disebut arsiparis khususnya terkait kompetensi arsiparis dalam penguasaan TIK menjadi penentu arsip elektronik dapat dikembangkan di sebuah institusi. Sudah banyak dibicarakan publik bahwa SDM kearsipan di Indonesia masih rendah baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Kualitas SDM kearsipan salah satunya adalah kompetensi dalam penguasaan TIK. Menjawab permasalahan tersebut, penulis menawarkan sebuah gagasan taktis cara meningkatkan kompetensi arsiparis tersebut.

Makalah berjudul “Menggagas Arsiparis Kompeten melalui Arsip Elektronik (E-Arsip) berbasis Microsoft Acces pada Fakultas Ekonomi UNNES” memaparkan cara merancang aplikasi yang friendly untuk para arsiparis dalam mengoperasionalkan arsip elektronik. Stretegi peningkatan kompetensi arsiparis dalam bidang TIK dapat juga diambil dari artikel berjudul “Peningkatan Pembelajaran Praktik Kearsipan dengan Digital Automatic Filing Cabinet (DAFC)”. Gagasan yang bersifat konseptual terkait manajemen arsip elektronik penulis sajikan dalam artikel “Model Manajemen Kearsipan sebagai Upaya UNNES Meraih Sertifikat ISO 901:2008 (Kajian Konseptual)”.

Berbagai praktik atau implemantasi manajemen arsip elektronik dapat dipelajari dari artikel-artikel disajikan  artikel yang disajikan dalam bagian 2 yang berisi kumpulan pengalaman penulis dalam melakukan kegiatan pengabdian atau pendampingan penataan arsip di berbagai instansi baik perguruan tinggi maupun non perguruan tinggi. Bidang-bidang kearsipan yang diulas berdasarkan pengalaman penulis antara lain manajemen arsip Bagian Sintensis di PT. KAI DAOP IV Jateng, diskusi tentang perumusan sistem kearsipan, proses penyusunan pedoman pola kearsipan yang diambil dari pengalaman di Badan Konservasi UNNES dan Fakultas Hukum UNNES. Materi yang disarikan dari pengalaman penulis lainnya adalah seputar kegiatan pelatihan kearsipan, apresiasi kearsipan melalui lomba, dan praktik penataan arsip. Kegiatan penataan kearsipan tentu membutuhkan prasarana dan sarana. Keberhasilan penataan arsip ditentukan oleh ketepatan perencanaan kegiatan yang di dalamnya mencakup rencana kebutuhan prasarana dan sarana. Pengalaman  merancang kebutuhan prasarana dan sarana kearsipan dalam penataan arsip dituangkan dalam artikel berjudul “Perlunya Identifikasi Kebutuhan”. Hal-hal yang sifatnya pribadi terkait cara penulis memandang, mengakui, dan menerima arsip banyak diungkapkan dalam berbagai tulisannya seperti dalam artikel “Aku dan Keinginanku”, “Arsip Via Telepon Genggam (HP)”, dan “Pria Panggilan Tak Bertarif’.

Kumpulan tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku ini benar­-benar menggambarkan “cara Agung memandang arsip”, sehingga lahir cerita-cerita Agung tentang arsip. Tulisan ini dapat menjadi bahan referensi riil tentang fenomena dan dinamika kearsipan yang sedang tumbuh di sekitar kita. Kita dapat memperoleh gambaran kekinian tentang arsip. Gambaran ini tentu dapat menjadi masukan yang penting bagi orang yang bergerak di bidang kearsipan untuk merumuskan konsep kearsipan baik pada level kebijakan maupun manajemen praktisnya. Publik yang masih awam dengan kearsipan dapat mencerna dan memahami tulisan ini dengan lebih mudah karena tulisan-tulisan dalam buku ini disajikan dengan ragam bahasa yang membumi bukan teori­-teori yang saat ini mungkin hanya bisa dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat saja. Dengan demikian buku ini dapat menjadi jalan masuk bagi orang awam untuk memahami arsip. Generasi muda yang sangat erat dengan dunia digital atau sering disebut sebagai digital native akan merasa dekat dan nyaman memahami arsip lewat buku ini karena buku ini mencoba memahami arsip dari perspektif TIK dalam tataran praktis.

Agung mencoba menampilkan potret arsip masa kini berupa arsip elektronik. Sedikit latar belakang munculnya arsip elektronik disampaikan dalam artikel pertama bahwa arsip elektronik muncul sebagai dampak atau tuntutan dari paradigma manajemen perkantoran modern. Manajemen perkantoran modern banyak memproduksi arsip dengan sistem elektronik seperti e­mail, e-commerce, e-procurement, e­arsip, e-document, e-KTP, e-filing, e­laporan, e-journal, dan lain-lain. Berbekal pengalamannya dalam membuat sistem e-arsip melalui program access dengan tiga model yaitu model access, model access berbantuan barcode, dan ketiga model access berbasis internet. Sayang, Agung tidak menjabarkan secara rinci ketiga model tersebut sehingga pembaca tidak mendapatkan gambaran implementasinya. Kekurangan dan kelebihan arsip elektronik juga diulas secara singkat dalam artikel pertama ini.

Gambaran lebih detail tentang manajemen arsip elektronik dapat ditemukan dalam artikel ke- 13 “Arsip Elektronik (E-Arsip) Berbasis Capaian Mutu melalui Folder dan Guide Virtue serta Aplikasi Acces. Praktik manajemen arsip elektronik yang disajikan dalam artikel ini berbasis konteks manajemen arsip dalam rangka akreditasi perguruan tinggi. Agung menawarkan pemberkasan arsip elektronik dengan sarana laci, guide, dan map virtue. Pemberkasan arsip elektronik tersebut menggunakan sistem pemberkasan berdasar subjek atau masalah. Sarana pemberkasan arsip elektronik tersebut jika dikonversikan ke dalam konsep manajemen kearsipan, laci sebagai pokok masalah, guide sebagai submasalah, dan map virtue sebagai sub-­submasalah.

Teknik penyusunan pola klasifikasi arsip dan penomoran arsip dapat dibaca pada artikel ke-25 tentang Pola Kearsipan Badan Konservasi UNNES yang ditentukan dalam 12 klasifikasi berdasarkan jenis fisik arsip yaitu laporan, dokumen, majalah, pedoman, buku, jurnal, esai, proposal, surat-menyurat, buletin, leaflet, dan lain-lain. Teknik penomoran terdiri dari 4 unsur, secara berurutan meliputi: kode klasifikasi, kode unit, kode tahun, dan nomor urut arsip. Sekilas teknik penyusunan pola klasifikasi dan penomoran ini simpel namun jika dikaitkan dengan kaidah kearsipan tentu memerlukan pemikiran dan pertimbangan lebih mendalam. Beberapa catatan terkait pola kearsipan dan penomoran tersebut adalah, pertama pola klasifikasi belum mencerminkan pembagian kelompok masalah/isi arsip. Pola klasifikasi disusun lebih berdasar pada jenis bentuk/format arsip bukan isi informasi arsip. Apabila hal ini dilakukan maka pola klasifikasi ini tidak memberikan jaminan tercapainya pemberkasan arsip yang efektif yaitu menyatukan arsip dalam satu kesatuan informasi yang utuh. Arsip sebagai satu kesatuan informasi dapat terpisah-­pisah karena terdiri dari beberapa jenis format. Terkait penomoran arsip perlu diingat bahwa dalam melakukan penataan arsip salah satu prinsip yang harus diterapkan adalah prinsip provenance atau prinsip asal usul, yaitu menata arsip atau memberkaskan arsip dengan terlebih dahulu mengutamakan asal-usul arsip (asal pencipta arsip). Melihat struktur urutan penomoran arsip yang ditawarkan, justru prinsip asal usul tidak diprioritaskan terlebih dahulu. Idealnya arsip dikelompokkan berdasarkan devisi dulu baru kemudian dikelompokkan berdasarkan klasifikasi.

Artikel-artikel dalam buku ini memberikan warna dalam manajemen kearsipan di era modern. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa arsip merupakan sebuah objek yang tidak bisa dengan mudah dikemas dan dibentuk berdasarkan keinginan dan kebutuhan. Ada aspek-­aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam mengelola arsip. Hal ini penting menjadi pemahaman bersama bahwa pada hakikatnya arsip-arsip yang ada di berbagai instansi khususnya badan publik merupakan arsip milik negara sehingga pengelolaannya harus tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau kaidah kearsipan. Manajemen kearsipan harus mempertimbangkan berbagai aspek. Aspek-aspek yang menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan atau teknik penataan arsip antara lain aspek hukum berupa peraturan perundang­undangan atau ketentuan-ketentuan hukum terkait kearsipan dan aspek ekonomis terkait efektifitas dan efisiensi dalam penyelenggaraan kearsipan.

Kehadiran buku ini patut mendapatkan apresiasi karena memperkaya khazanah bidang kearsipan dan memberikan ulasan praktik kearsipan dari aspek TIK. Hal ini sejalan dengan tuntutan era saat ini. Buku ini akan lebih mudah dipahami apabila penyajian artikel dikelompokkan berdasarkan tema bahasan bukan jenis artikel yang dibagi dalam dua kelompok besar yaitu hasil kajian/penelitian dan praktik. Artikel dengan topik atau tema yang sama baik hasil kajian/penelitian maupun praktik jika disajikan menjadi satu justru akan lebih memberikan pemahaman yang lengkap dari tataran teori hingga praktiknya. Bagi pembaca yang menjadikan buku ini sebagai referensi dapat mengambil banyak ide untuk membuat inovasi dalam praktik kearsipan. Namun demikian, tetap perlu diingat bahwa dalam melakukan praktik kearsipan kajian kaidah kearsipan tetap harus diperhatikan.

 

 

Rapat Koordinasi Madrasah: Pindah ke Masjid dan Laporan Perkembangan Kemajuan Santri

madrasah-istiqlal-4

 

Kamis (22/9) Madrasah Istiqlal mengadakan rapat koordinasi dengan orang tua santri membahas tentang perpindahan madrasah dari rumah saya ke masjid Nurul Iman. Acara dimulai dengan mengaji anak-anak, sembari menunggu kehadiran orang tua. Adapun hasil rapatnya sebagai berikut:

  1. Perlu sarana prasarana seperti meja, papan, skat pemisah kelas, dan kebutuhan lain yang dibutuhkan saat mengaji
  2. Adanya permisahan kelas untuk anak besar dan kecil
  3. Dibutuhkan guru tambahan untuk mengelola dua kelas
  4. Evaluasi pembelajaran semester ini dilakukan Desember 2016
  5. Sembari menyiapkan perpindahan sebagaimana di atas, maka mengaji hingga Desember 2016 dilakukan di rumah saya. Harapannya Januari 2017 bisa hijrah ke masjid
  6. Orang tua siap memberikan infaq jika dibutuhkan
  7. Jika mengaji pindah ke masjid, maka dibutuhkan kepengurusan TPA

 

Dalam rapat ini juga dibahas laporan kemajuan mengaji santri, bahkan ada model laporan yang terbaru yaitu dengan adanya point paraf orang tua setiap mengaji. Tujuannya adalah agar orang tua mengetahui perkembangan mengaji anaknya. Karena mengaji adalah tanggungjawab bersama, tidak hanya tanggungjawab madrasah. Buku laporan perkembangan anak yang terbaru berwarna pink, sedangkan yang lama berwarna biru.

Demikianlah poin-poin dalam rapat koordinasi. Ketujuh poin tersebut, saya sampaikan ke pengurus masjid Nurul Iman, Sekaran.

Semoga bisa saling bekerjasama dalam menyiarkan agama Islam dan memakmurkan masjid. Amin.

Semarang, 24 September 2016

Agung Kuswantoro

Makan Ditraktir Bupati Tegal

entus

Oleh Agung Kuswantoro

Ada kejadian yang tak terduka saat saya jenguk ibu saya yang sedang sakit di Pemalang (21/9). Saya tiba di Pemalang pada malam hari, tepatnya pukul 17.30 WIB. Setibanya di Pemalang, langsung saya menuju ke rumah  untuk menemui ibu saya.

Di rumah saya bertemu dan bercerita dengan ibu saya sembari melepas kangen. Saya datang ke Pemalang tidak sendiri. Saya datang bersama anak dan istri. Pukul 20.30 WIB, saya keluar rumah untuk mencari makan malam bersama istri dan anak.

Saya memilih makan lontong dekem. Saat saya makan, datanglah seorang pembeli yang lain minta bungkus dua lontong dekem. Kemudian datang lagi tiga pembeli yang turun dari mobil Innova. Ketiga pembeli tersebut menyeberang menuju warung lontong dekem. Saat menyebrang ada pengendara sepeda motor yang akan menabrak ketiga orang tersebut yang menyebrang. Ketiga orang tersebut duduk disamping kiri saya.

Tiba-tiba pembeli yang satunya, menginginkan foto bersama salah satunya  ke-3 orang tersebut. Awalnya saya cuek dengan tindakan orang tersebut. Anggap saja, biasa foto selfie. Saat orang (pembeli) yang pesan bungkus lontong dekem pergi. Posisi di warung hanya keluarga saya (saya, istri, dan anak) dan ketiga orang pembeli, serta penjualnya. Penjualnya pun cuek terhadap ke-3 pembeli tersebut. Justru saya tertarik pada satu dari ke-3 pembeli tersebut. Ternyata benar dugaan saya, bahwa yang duduk disamping saya adalah Bupati Tegal, Bapak Entus, yang dulunya berprofesi sebagai dalang.

Saya pun bercerita dengan beliau dengan menggunakan bahasa Jawa halus (ala saya) dan campur bahasa Indonesia. Saya sempat bertanya mengenai anaknya yang barusan di wisuda di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Langsung beliau merespon pertanyaan saya, dengan kalimat “Lho, Masnya ko tau, kalau anak saya diwisuda dan saya menghadirinya?”.

Saya pun tersenyum pada beliau. Kemudia beliau meneruskan jawabannya dengan kalimat “Aku wong NU, tapi anakku tak sekolahke di Muhammadiyah”. Karena beliau akan memulai makan, dan makanan saya sudah habis, saya bergegas untuk meninggalkan warung tersebut. Saat saya akan membayar makanannya, penjual tersebut mengatakan makanan Bapak, Ibu, dan Anak (keluarga saya) dibayar oleh Bapak itu. Saya pun langsung terkejut dan langsung seketika itu mengucapkan terima kasih.

Dalam hati ingin berfoto dengan beliau, namun saya tidak membawa HP atau kamera. Saya memutuskan untuk pulang rumah untuk mengambil HP. Allah memang memberiku rizki lain, saat saya datang ke warung tadi, beliau masih di tempat dan berbicara kepada saya, “Mas sini, kita foto bareng”. Justru saya dipanggil untuk foto dengan beliau. Yang mengambil gambar adalah ajudannya.

Rizki tak kemana, mungkin kalimat itu yang tepat saya ucapkan. Bertemu dengan seseorang, langsung ditraktir semua pesanan makanan keluarga saya. Kemudian, saya dapat berfoto bersama dengan  beliau tanpa bersusah ria.

Semoga saya bisa meneladai sikap beliau yang sederhana. Makan di warung dengan pengawalan yang biasa yaitu satu ajudan dan sopir. Bahkan, sempat akan ditabrak oleh pengendara sepeda motor. Saya pun melihatnya sendiri bahwa beliau sudah memberi tanda untuk menyebrang. Namun pengendara motor langsung mengencangkan gasnya. Mari kita menjadi pribadi yang selalu anggun agar pantas diri kita dikatakan pribadi yang anggun.

Semoga pertemuan ini memberikan makna bagi saya tentang kesederhanaan, santun dalam berkendara di lalu lintas, berbagi, dan berkomunikasi.  Sukses selalu, Pak Dalang, Maju terus, Pak Bupati Tegal, terima kasih traktirannya.

 

Semarang, 23 September 2016

Memberilah Maka Bereputasi

Oleh Agung Kuswantoro

Belajar dimana pun dan kapan pun. Pastinya pula membutuhkan perjuangan. Saat saya mengikuti seminar nasional di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta dengan pembicara Bapak Sutanto pada 10 September 2016. Selain, Bapak Sutanto, juga ada pembicara lainnya yaitu Istofani Api Diany dan Bahtiar Minarto. Tema seminar tersebut adalah ecommerce.

Saya sangat tertarik dengan materi yang disampaikan oleh Bapak Sutanto. Judul makalah beliau adalah disruptive models: creativity dalam science & art menuju prosperity. Beliau menyampaikan era ekonomi menuju otonom sudah berakhir ditandai dengan munculnya internet. Sejak itu bergeser aktivitas ke era ekonomi atom yaitu era ekonomi yang mendasarkan pada kekuatan informasi. Dalam bisnis berlaku dua aktivitas yaitu take dan give. Beliau mampu menampilkan kuadran yang terdiri dari empat yaitu kuadran I (penyeimbang), kuadran II (penerima), kuadran III (penyeimbang), dan kuadran IV (pemberi).

Kuadran I dan III, adalah orang yang bekerja atau memberi sesuai dengan imbalan yang diterima. Kuadran II adalah orang yang mendapatkan lebih banyak dari apa yang mereka keluarkan. Kuadran IV adalah orang yang selalu memberi dengan hanya sedikit mengambil. Ia adalah ahli sedekah. Prinsip kuadran IV dalam perkembangan bisnis di era informasi menjadi trend. Menariknya adalah disaat hilangnya value sebagai akibat dari kegiatan memberi, maka bahkan yang diterima adalah REPUTASI. Reputasi secara kreatif akan dikelola sebagai sebuah bisnis yang akhirnya akan mengembalikan value yang hilang, hingga merubah diri PEMBERI menuju PENYEIMBANG dan PENERIMA, meski masih harus terus memberi layanan secara kolaboratif.

Beliau (Bapak Sutanto) membuat akun facebook wikimatika. Dalam facebook tersebut orang bebas memberikan pertanyaan mengenai soal-soal matematika. Kemudian, pemilik akun atau yang mengikuti akun tersebut akan menjawab soal matematika tersebut. Wikimatika sebagai wujud sebagai ilmu atau sedekah era digital. Ia sangat cepat, mampu menekan biaya produksi dan produksi. Ia berkualitas tinggi, dimana (1) users siapa pun dapat memperoleh akses, (2) users tidak dikenakan biaya konsultasi, (3) users tidak dibatasi oleh geografis, dan (4) users membangun komunitas.

Melalui wikimatika inilah, tak disangka kumpulan soal matematika terkumpul, hingga penerbit pun tertarik untuk mempublikasikan atau menerbitkan kumpulan soal matematika. Bahkan users yang berasal dari Malaysia mengikuti perkembangan update soal matematika. Hingga, akhirnya Bapak Sutanto diundang ke Malaysia untuk bekerjasama dengan lembaga di Malaysia.

Menurut saya, Bapak Sutanto sudah melaksanakan sedekah. Menjawab soal matematika yang ada di wikimatika. Efek dari perbuatan mulia tersebut adalah reputasi. Beliau  yang dikenal oleh banyak orang. Sehingga benar dan yakin terjadi dengan janji Allah yang tertulis di Al qur’an.

Lalu, apa yang bisa kita sedekahkan agar senantiasa Allah selalu ada dalam kehidupan kita. Malu rasanya, jika kita hanya pada kuadran PENYEIMBANG dan PENERIMA. Jika demikian, bila posisi kita ada di ke-2 kuadran tersebut, maka akan susah untuk bereputasi. Semoga Allah membimbing kita semua dalam  melangkah kehidupan di dunia ini. Amin.

 

Semarang, 17 September 2016

 

Madrasah Istiqlal: Masih Hidupkah?

Saya dan istri mengakui bahwa kajian Madrasah Istiqlal semakin surut santrinya. Kendalanya bermacam-macam. Pertama, ada santri yang les di sekolahan dari hari Senin hingga Jum’at. Padahal Madrasah Istiqlal dilakukan pada hari Senin hingga Kamis. Kedua, santri (anak) mengikuti perpindahan rumah. Dulu, ia mengontrak di sekitar rumah saya. Sehingga ia aktif mengaji di rumah saya. Ketiga, faktor lain, seperti kecapean atau jam sekolah belum selesai.

Memang itu semua tantangan untuk kami dalam mengelola Madrasah Istiqlal. Kami secara professional dengan mengumpulkan orang tua, pembagian raport, menyediakan sarana prasarana (buku, bolpen, crayon, buku gambar, jilid, papan tulis, spidol, dan lainnya), dan guru mengaji yang selalu stand by.

Segala tantangan, kami mencoba menyelesaikannya. Satu per satu, kami menyelesaikannya. Mulai dari jam mengaji dipilih sore hari karena harapannya orang tua bisa mengantar anaknya sembari memberi makan dan bermain. Ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai sama sekali. Alhamdulillah berkat proposal yang saya buat, toko AJM ‘mengijabahi’ semua permintaan kami atas proposal yang saya buat. Kajian yang dihari tertentu libur karena ada kepentingan, kami menyiapkan guru yang stand by. Permasalahan tersebut, kita selesaikan agar Madrasah Istiqlal tetap berjalan. Namun, justru permasalahan yang terjadi adalah minimnya santri kami. dulu santri stabil empat hingga lima orang. Sekarang, yang aktif mengaji hanya dua orang santri. Alhamdulillah masih ada yang hadir.

Kondisi ini sangat susah bagi kami untuk menentukan nasib Madrasah Istiqlal. Karena akan berdampak pada profesionalisme keberadaan Madrasah Istiqlal. Jadi serba bingung. Menyalahkan santri yang tidak mengaji, jelas tidak boleh. Mau mempertahankan, Madrasah Istiqlal, namun santrinya semakin susut. Belum lagi, apakah orang tuanya mengetahui perkembangan kemajuan anak mengajinya? Karena, jangan sampai anak mengaji, namun orang tuanya cuek terhadap perkembangan mengaji anak. Jika Madrasah Istiqlal saya tutup, maka nanti anak saya akan mengaji dimana? Lha wong tujuan membuat Madrasah Istiqlal agar anak saya bisa mengaji.

Permasalahan-permasalah  atau kalimat tanya di ataslah yang belum kami selesaikan. Kami berharap ada kerjasama antara orang tua dengan pengelola Madrasah Istiqlal terhadap keberadaan sekolah mengaji ini.  Sederhana memang tujuan Madrasah Istiqlal ini agar anak-anak yang disekitar lingkungan kami bisa mengenal Allah dan bisa membaca kitab suci orang Muslim yaitu Alqur’an. Butuh ketegasan juga, apakah harus dilanjutkan keberadaan Madrasah Istiqlal. Atau harus ditutup  Madrasah Istiqlal karena masalah justru pada internal, bukan secara material. Semoga Allah memberikan solusi yang tepat terhadap permasalahan Madrasah Istiqlal, Semarang.

 

Semarang, 12 September 2016

Agung Kuswantoro

Madrasah Istiqlal Masuk ke Masjid

20160601_164202

Masjid Nurul Iman telah digunakan untuk beribadah meskipun belum maksimal bangunannya. Pemanfaatan masjid ini, pastinya harus kita gunakan untuk kemakmuran masjid. Salah satu memakmurkan masjid adalah pemanfaatan masjid untuk kajian atau mengaji.

Saya dan istri memiliki kajian bagi anak-anak dan mahasiswa. Kajian anak sebagaimana orang sudah mengetahui diberi nama Madrasah Istiqlal. Demikian juga kajian mahasiswa, kemungkinan mahasiswa khususnya pendidikan administrasi perkantoran mengetahui kajian tersebut.

Madrasah Istiqlal selama ini dilakukan di rumah saya, gang Pete Selatan, Semarang. Sedangkan Mahasiswa Mengaji dilakukan di kampus dan rumah saya. Kedua kajian tersebut terkendala pada tempat, dimana rumah saya tersebut terkendala pada tempat, dimana rumah saya yang luasnya 73 m2. Jadi perlu manajemen ruang yang khusus.

Alhamdulillah semenjak diresmikan masjid Nurul Iman yang dekat dengan rumah saya dan atas kebijakan takmir masjid untuk menggunakan kegiatan kajian yang telah saya dirikan untuk dipindahkan ke masjid Nurul Iman.

Perhatian

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan kajian Madrasah Istiqlal sebelum pindah ke masjid Nurul Iman. Masjid belum sepenuhnya jadi, sehingga masih ada sisa-sisa pembangunan seperti kayu, pasir, alat-alat tukang. Selain itu belum ada pintu yang menutupi masjid secara penuh. Posisi masjid tinggi atau menggunakan beberapa tangga, dan keluar masjid langsung jalan raya.

Kajian yang diijinkan oleh takmir ada di serambi masjid, sehingga ada debu yang masuk. Terlebih jika musim angin kencang, maka jelas lantai berdebu. Peralatan dan sarana serta prasarana kajian belum ada.

Perhatian ini perlu kita respon dengan sikap, khususnya kajian Madrasah Istiqlal, dimana pesertanya adalah anak-anak. Tantangannya adalah debu, anak tangga, tempat luas, dekat dengan jalan raya, dan belum ada sarana prasarana kajian (papan tulis, penghapus, spidol, dan lainnya).

Melihat keadaan tersebut maka ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, maka saya dan istri berinisiatif mengundang orang tua/wali madrasah istiqlal terkait permasalahan tersebut. Orang tua/wali sebagai orang yang berperan dalam pendidikan anak. Saya dan istri fasilitator saja dalam pendidikan agama di lingkungan saya. Jadi harus ada kerjasama antara pengelola Madrasah Istiqlal dan orang tua.

Demikian beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam rangka “Madrasah Istiqlal Masuk Masjid”. Dibutuhkan pertemuan atau rapat antara pengelola Madrasah Istiqlal dan orang tua.

Apa pun keputusan nanti rapat, harus kita laksanakan dengan konsekuensi, baik dilaksanakan di rumah atau di masjid. Semoga Allah selalu melindungi langkah kita. Amin.

 

Surakarta, UNS, 10 September 2016

Agung Kuswantoro

Previous Older Entries