Bahagia Bisa Berbagi

Bahagia Bisa Berbagi

Oleh Agung Kuswantoro

 

Hampir dua pekan saya menerima email yang kebanyakan dari tenaga kependidikan dan tenaga fungsional arsiparis. Email tersebut berkaitan dengan makalah atau karya tulis. Tidak hanya dari UNNES, tetapi dari luar lembaga yang bervisi konservasi tersebut.

 

Pastinya, saya tidak pernah menawarkan atau membuatkan suatu karya tulis. Jelas itu. Namun, saat ada orang yang ingin berkonsultasi, saya bantu. Jadi, saya tidak membuatkan, tetapi memberikan masukan atau memberikan komentar terkait karya ilmiahnya. Senang rasanya saat saya bisa membantunya. Mereka pun bahagia, saat ada email balasan dari saya. Dan, segera mereka perbaiki.

 

Bahagia itu sederhana. Bisa berbagi dari apa yang kita miliki. Itulah kebahagiaan. Tidak harus dengan uang atau tanah. Apa yang kita punya, yang melekat pada diri kita, bisa kita berbagi kepada sesama. Kaki bisa untuk menyingkirkan batu di jalan. Pikiran bisa membantu menyelesaikan permasalahan orang lain. Itulah cara berbagi dengan sederhana. Jangan berharap pada hasilnya. Pasrahkan sama Allah saja. Insya Allah, Allah akan membalas akan kebaikan kita. Percaya saja. Waallahu’alam.

 

Semarang, 19 Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Santri, Optimislah

DSC01205

Oleh Agung Kuswantoro

 

Kesan saya bertemu santri di pondok pesantren Salafiah Kauman Pemalang (12/8) begitu terasa. Peserta yang hadir adalah santri yang menjabat sebagai pengurus Pondok Pesantren. Ada Lurah, Sekretaris, Bendahara, dan Ketua Bilik (kamar). Mereka berjumlah 30 Santri (15 Santriwan dan 15 Santriwati).

 

Materi yang saya sampaikan tentang administrasi pondok pesantren. Namun, dalam penyampaiannya tidak semata-mata teoritis. Saya “meraciknya” dengan praktis. Termasuk dalam bahasa yang saya sampaikan sederhana dan tidak jlimet. Tujuannya agar mereka memahami.

 

Obrak-abrik. Mungkin istilah itu yang tepat saya gunakan selama dua jam bersama mereka agar pemikiran mereka terbuka. (Mungkin) selama ini masih “tertutup” dengan materi administrasi. Materi yang simpel, namun saya “pancing” dengan motivasi-motivasi. Bahkan saya “hipnotis” dengan permainan. Hasilnya mereka tersenyum, tertawa, dan percara diri.

 

Dua jam tidak terasa menyampaikan materi. Mengapa? Jawabnya, karena mereka interaktif. Banyak santri yang bertanya kepada saya. Kebanyakan bertanya tentang ketidak percayaan diri saat di masyarakat. Eksistensinya, mungkin itulah yang dirasakan oleh santri.

 

Dalam kesempatan itu, saya jadikan silaturahim dengan guru-guru saya di pondok Salafiah. Saya bertemu dengan Ustad Romadhon, Ustad Hamdan, Ustad Faris, dan yang lainnya. Silaturahim ini juga sebagai ajang nostalgia dengan tempat mengaji saya selama enam tahun. Saat pelaksanaan kegiatan tersebut, saya ditemani oleh sohib saya, yaitu Tasihin. Ia adalah teman saya waktu belajar di pondok Salafiah, tepatnya Diniah Wustho dan Ulya.

 

Optimislah santri. Kau, pasti sukses! Yakinlah. Dan percara diri. Insya Allah, Allah  ada pada pihak Anda. Jadi, jangan minder. Galilah terus ilmu, mumpung di pondok. Semoga kau bisa. Amin.

 

Semarang, 17 Agustus 2017

Nabi Muhammad SAW Diperintahkan Bersabar

Nabi Muhammad SAW Diperintahkan Bersabar

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sabar ada pada setiap orang dan level. Apa pun orangnya dan apapun levelnya. Orang miskin butuh sabar. Orang kaya butuh sabar. Orang susah, butuh sabar, dan orang lapang pun butuh sabar.

 

Tidak hanya itu, pejabat butuh sabar. Pegawai pun butuh sabar. Presiden butuh sabar. Rakyat pun butuh sabar. Sabar ada dimana-mana. Sabar, dibutuhkan oleh manusia dalam keadaan apa pun.

 

Sekelas, Nabi Muhammad pun diperintahkan untuk bersabar. Lihatlah surat Alkahfi ayat 28, “Dan bersabarlah Engkau (Nabi Muhammad bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari”. Jelas sekali maknanya, sekelas Nabi Muhammad sebagai Rosul-Nya saja diperintahkan untuk sabar. Bahkan, dalam pemahaman saya keinginan Nabi Muhammad bisa dikabulkan oleh Allah, apalagi dalam keadaan terdesak.

 

Lalu, kita sebagai manusia yang biasa. (Maaf) dosa juga punya, emosi kadang meninggi, dan ucapan kadang kotor, apakah tidak bersabar dalam menjalani kehidupan? Jangan mengatakan “sabar ada batasnya”. Itu artinya, ia tidak bersabar. Yang benar adalah sabar tiada batas dan tidak mengenal waktu.

 

Yuk, mari kita menjadi hamba yang bersabar terhadap perintah-perintah Allah. Jangan mengatakan sabarku sudah habis. Andalah yang tahu tentang diri Anda. Saat tidak bisa bersabar, cobalah ingat akan nimat Allah. Juga tutur kata kita. Jika tidak bisa berkata baik, diamlah. Itulah sabar dengan makna yang sederhana. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 16 Agustus 2017

 

 

Sifat Wajib Allah: Maha Melihat dan Mendengar

Sifat Wajib Allah: Maha Melihat dan Mendengar

Oleh Agung Kuswantoro

 

Diantara sifat wajib Allah yaitu Basyar (Maha Melihat) dan Sama’ (Maha Mendengar). Sangat terang penglihatan-Nya dan tajam pendengaran-Nya. Tidak bisa diartikan dengan penglihatan Allah dengan memiliki dua buah mata dan dua buah telinga layaknya manusia.

 

Dalam surat Al Kahfi ayat 26 disebutkan bahwa “Alangkah terang penglihatan-Nya dan tajam pendengaran-Nya. Tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya. Saking “Maha” Nya, maka Allah-lah sebagai satu-satunya penolong yang terbaik. Kekuasaan Allah berupa sifat wajibnya, jelas bagi seorang muslim harus diimani. Cara mengimani setiap orang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang harus kita hormati setiap individu.

 

Dulu, saya membayangkan betapa hebatnya Allah itu. Penglihatannya tajam dan terang pendengarannya. Lalu bagaimana wujudnya? Apalagi yang menciptakan bumi yang luas ini? Itu pemikiran saya sewaktu Sekolah Dasar (SD). Lalu, bagaimana sekarang? Ya cara mengimaninya yang paling tepat adalah pembenaran melalui hati bahwa, Allah memiliki sifat wajib Maha Melihat dan Mendengar, kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ditempat yang sepi untuk selalu ingat Allah, merasa Allah itu melihat kita. Jadi, janganlah maksiat. Pendengaran kita perlu dijaga, karena suara manusia belum tentu mengarah kepada kebaikan. Jadi, perlu situasi dan lingkungan agar telinga terbiasa mendengar ke arah kebaikan. Itulah cara mengimani secara sederhana. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 14 Agustus 2017

Warung Orang Kampung Tersisi?

Warung Orang Kampung Tersisi?

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sebutkan warung-warung makan yang ada di sekitar Universitas Negeri Semarang (UNNES)? Tanya saya kepada mahasiswa. Mereka menjawab Geprex, Burjo, Ngopi Kuningan, Warteg, Padang, Penyet, Warung Prasmanan, Aneka Gorengan, dan berbagai macam pilihan warung yang saya sendiri belum tentu ke tempat itu.

 

Anehnya, dari warung-warung tersebut, tidak ada warung yang dikelola oleh orang kampung. Padahal, dulu waktu saya kuliah (tahun 2002 – 2006), warung kampung, khususnya di gang Pete Raya, terkenal nasinya banyak dan murah. Pembelinya pun banyak sekali. Setiap jam makan, gang tersebut ramai, khususnya bagi para kaum Adam.

 

Namun, sekarang keberadaan mereka (warung kampung) bagai ditelan bumi. Sedikit, bahkan sudah ada yang tutup. Mereka tersaingi oleh warung-warung pendatang yang berinovasi menu-menu makanan. Justru, warung-warung pendatang berasal dari luar Semarang, bahkan keluarganya “diborong” pindah untuk mengadu nasib dengan berjualan makanan.

 

Lalu, pertanyaannya, apakah mereka tersisi dari warung pendatang? Menurut saya, iya tersisi dengan kehadiran warung pendatang. Warung kampung tidak menginovasi menu-menu makanannya. Bahkan, harga warung pendatang lebih murah dibanding warung kampung. Selain itu, warung pendatang mengonsep setiap warungnya dengan cat yang menarik atau sekedar musik-musik MP3. Jika keadaan ini berlanjut, jelas mereka akan lebih tersisi. Bahkan akan merambah ke “dunia” yang lainnya (baca:tidak hanya warung makan saja). Sudah terbukti, misal dulu mini market disetiap gang sangat ramai pembeli. Sekarang, pada tutup. Kalah bersaing dengan toko-toko retail yang menarik dalam display dan harga yang terjangkau. Kemungkinan besar, nanti kost-kostan. Kost-kostan yang dikelola oleh warga akan tergusur oleh kos-kosan yang dikelola oleh warga pendatang, dimana harga lebih murah, fasilitas lengkap, bersih, dan tempatnya strategis.

 

Lalu, muncul pertanyaan berikutnya, yaitu bagaimana agar bisa bertahan atau bersaing dengan pendatang? Jawabnya, adalah sudah saatnya berinovasi bagi warga sekitar UNNES. Apapun inovasinya, baik dalam makanan, minuman, warung (toko), dan kost-kostan. Ingat, di dunia tidak selamanya sukses terus. Demikian juga, tidak selamanya matu terus. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita bisa eksis. Yuk, kita harus berinovasi dalam hidup. Dinosaurus saja bisa mati, padahal dulu Dinosaurus makhluk yang sangat hebat dan tidak ada yang mengalahkan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 14 Agustus 2017

 

Administrasi Pondok Pesantren

Administrasi Pondok Pesantren

Oleh Agung Kuswantoro

 

Berbicara Pondok Pesantren berbasis Salafi, apa yang terbesik dalam otak Anda? Pertanyaan itu, sebagai dasar acuan saya untuk menuliskan administrasi pondok. Jawaban yang saya himpun adalah (1) pondok pesantren Salafi itu khas dengan NU, (2) pondok pesantren Salafi itu identik dengan Kiai karismatik yang mengasuh, (3) pondok pesantren Salafi itu bersifat sederhana, dan (4) pondok pesantren Salafi itu memiliki santri yang tadzim dengan Kiainya.

 

Jawaban-jawaban itulah yang saya temukan dari angket sederhana, yang saya tujukan kepada responden. Yang menarik dari jawaban itu semua adalah pondok pesantren itu bersifat sederhana. Kalimat “sederhana” ini, saya kaitkan dengan materi yang akan saya sajikan mengenai administrasi, khususnya administrasi pondok pesantren.

 

Makna administrasi menurut Kamus Bahasa Indonesia (1) Arti sempit, administrasi adalah kegiatan yang meliputi mencatat, surat-surat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan. (2) Arti luas, administrasi adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna.

 

Pondok pesantren sebagai wadah yang mendidik santri berdasarkan Alquran dan Alhadis, pasti dalam kegiatan kesehariannya melakukan kegiatan administrasi, baik administrasi dalam arti sempit dan luas. Misal, administrasi bermakna sempit adalah mencatat pembayaran kas bulanan, menghitung dan melaporkan keuangan saat ada kegiatan, mengirimkan surat ke orang tua/ wali santri, menyimpan surat atau berkas pondok pesantren, dan kegiatan lainnya. Sedangkan, misal administrasi bermakna luas adalah mengadakan kegiatan Tasyakuran Akhirussanah, dimana melibatkan semua komponen yang terdiri dari santri, ustad, kiai, dan kegiatan administrasi (pencatatan, persuratan, penyimpanan, pembiayaan, sarana dan prasarana, logistik, dan sumber lainnya).

 

Dengan demikian, santri harus memahami kegiatan administrasi. Meskipun, ada orang yang mengatakan bahwa pondok pesantren itu tidak “kolot”, saya rasa itu tidak pas. Oleh karena, santri harus mampu membuktikannya melalui kegiatan-kegiatan administrasi yang bersifat luas, bukan kegiatan administrasi yang bersifat sempit.

 

Bagaimana cara membuktikannya? Jawabannya, sederhana yaitu melakukan kegiatan administrasi dari hal kecil. Orang yang terbiasa melakukan kegiatan administrasi secara kecil (baca:disiplin), maka ia sedang belajar menyelasaikan permasalahan adminstrasi yang luas. Sebagai santri, harus tanggap terhadap perbuatan-perbuatan yang kecil. Misal, pencatatan pembayaran uang. Langsung tulis, jangan menunda kegiatan pencatatan tersebut.

 

Jadi, kalau kita bicara administrasi pondok pesantren sangat luas. Bisa dilihat dari pelakunya, yaitu santri, ustad, dan Kiai. Bisa dilihat dari sarana dan prasarana. Dan, bisa dilihati dari materi atau kurikulum dari pondok pesantren. Jelas, banyak sekali administrasi pondok pesantren. Oleh karenanya, harus tertib dalam melakukan kegiatan administrasi.

 

Ngaji OK, administrasi juga OK. Santri alim, administrasi tertib. Prinsipnya itu. Jangan sampai, ngaji jalan, administrasi amburadul. Jelas, santri seperti ini akan susah dalam mencapai tujuan. Mengapa demikian? Karena bicara administrasi bicara pula, tujuan yang akan dicapai. Jadi, saya punya keyakinan, saat ada santri yang tertib administrasi, maka ia akan mudah merencanakan dan membuktikan akan mudahnya menggapai tujuan.

 

Dengan cara seperti ini, paradigma santri “kolot” dan “tidak tertib” administrasi akan terkikis. Anggapan itu muncul, mungkin perilaku itu ada pada diantara para santri yang ada di pondok pesantren. Sebagai santri, mulai sekarang harus tertib administrasi. Kerjakan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Setelah itu, administrasi yang berskala luas akan mudah dilakukan. Bukankah, sangat mungkin sekali, santri bisa menjadi pemegang utama bangsa ini? Maka, lakukanlah kegiatan adminisrasi dari yang terkecil terlebih dahulu.

 

 

Agung Kuswantoro, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan alumni Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang lulus Diniah Ulya tahun 2001

Materi disampaikan saat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, 12 Agustus 2017

 

 

 

 

Semua Ada waktunya

Semua Ada waktunya

Oleh Agung Kuswantoro

 

Kekuasaan seseorang itu ada batasnya. Kisah Ashabul Kahfi memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa apa yang ada di dunia sifatnya sementara. Raja Diqyanus yang kejam dan dholim terhadap rakyatnya, hingga pemuda-pemuda yang sholih pun merasa teraniaya, hingga bersembunyi di gua.

 

Namun, tak disangka setelah tiga ratusan tahunan, pemuda-pemuda itu masih hidup dengan cara ditidurkan oleh Allah di gua. Saat bangun, masa pemerintahan Raja Diqyanus sudah selesai, diganti dengan Raja yang sholih bernama Baidarus. Pada masa raja Baidarus pemuda-pemuda tersebut merasa nyaman karena sang Raja memiliki keyakinan yang sama terhadap pemuda-pemuda tersebut.

 

Ternyata kekuasaan itu tak selamanya. Setelah ratusan tahun, kekuasaan itu hancur karena sifat rajanya, dulu yang terkenal dholimnya. “Dunia” itu tak selamanya, apalagi perkara-perkara yang sangat keduniaan sekali. Apa itu? Harta, kekuasaan, kekayaan, dan lainnya, itu semua akan musnah. So, utamakan dan jaga iman kita agar selamat dunia dan akhirat. Amin.

 

 

Semarang, 4 Agustus 2017

Previous Older Entries