Karya Tulis Ilmiah dan Karya Tulis Populer

Karya Tulis Ilmiah dan Karya Tulis Populer

Oleh Agung Kuswantoro

Materi yang disampaikan oleh pembicara yaitu Ulil Absor Abdallah dan Nurul Chomariah, menjadikan saya berpikir ada dalam ranah penulis mana. Saya mau menjadi penulis yang bergenre populer atau ilmiah?

Adalah Ulil Absor – Gus Ulil untuk sebutan berikutnya – yang mengajarkan menulis bergenre nonfiksi atau akademik/ilmiah. Kata Gus Ulil menulis tak harus banyak jumlah bukunya, namun menimbulkan dampak/manfaat bagi masyarakat. Dampak itu seperti diberi kritis, komentar, atau diresensi buku karya kita. Terlebih, yang meresensi adalah orang yang punya otoritas/pakar. Rasanya menjadi sesuatu sekali bagi penulis.

Bagi penulis bahwa kritikan, masukan, dan resensi buku adalah sebuah penghargaan seorang penulis. Dalam menulis akademik ada kaidahnya yaitu tata bahasa, pesan, dan keindahan. Istilahnya, gramatikalnya juga ada. Ada nahwu sorof, balahoh, dan mantiq.

Selain itu, menulis nonfiksi butuh observasi dilakukan berkali-kali agar mendapatkan data yang valid. Setelah itu, data diolah dan dituliskan. Setelah ditulis, dibagikan kepada sesama penulis atau komunitas yang sebidang. Setelah mendapatkan masukan dari teman/komunitas, baru diajukan ke penerbit. Nanti dari penerbit juga ada masukan dari editor.

Editor itu ada dua yaitu editor yang mengedit substansi buku dan editor yang mengedit gaya bahasa buku. Nah, disitulah, penulis berjuang mati-matian agar bukunya bisa terbit.

Budaya menulis tersebut ada di masyarakat Amerika. Betapa “kejam” penerbit di Amerika, dimana editor sangat dominan dalam merevisi. Cobalah, Anda menjadi penulis seperti itu. Lihatlah, nanti  lihat apa yang terjadi.

Beda dengan menulis populer. Bisa jadi menulis tiap hari. Menulis tiap hari itu bisa dimaknai, menulis dengan tema yang sesuai trend. Bisa dikatakan “pokoke nulis”. Dalam gaya “pokoke nulis” hal yang terpenting adalah mengalir alur menulisnya. Tema apapun bisa menjadi tema menulis. Tidak membutuhkan observasi yang mendalam, yang penting berani menulis.

Ibu Nurul Chomariah banyak memberikan tips-tips menulis dengan gaya seperti ini. Terlebih. Beliau berlatar belakang psikologi, jadi “enteng” rasanya menulis seperti ini.

Nah, bagaimana dengan Anda? Mau jadi penulis bergenre mana? Ilmiah atau populer? Temukanlah dalam diri Anda! Anda yang lebih tahu tentang diri Anda sendiri. []

Semarang, 7 Februari 2021

Ditulis di Rumah jam 06.00 – 06.30 WIB. Suasana hujan di luar rumah.

Manajemen Pendidikan Pada Masa Pandemi Covid-19

Dari artikel yang berjudul “Manajemen Pendidikan Menjawab Tantangan Global” maka saya ingin menganalisis dari segi manajemen pendidikan. Saya menganalisisnya dari beberapa aspek. Untuk lebih lengkapnya, saya buat wacana/artikel pula. Berikut wacananya:

Manajemen Pendidikan Pada Masa Pandemi Covid-19
Oleh Agung Kuswantoro

Pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia, sejak Maret 2020 masih terasa hingga Januari 2021. 10 bulan Indonesia mengalami Pandemi Covid-19. Dampak dari Pandemi Covid-19 ini adalah salah satunya dibidang pendidikan.

Fakta selama 10 bulan ini, dunia pendidikan dalam pembelajaran dilakukan dengan daring. Pembelajaran tatap muka, belum diizinkan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Lalu, muncul pertanyaan: Bagaimanakah manajemen pendidikan di masa Covid-19? Mari kita berdiskusi dan belajar dan menganalisis dari sisi manajemen pendidikan.

Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan semenjak adanya pandemi berubah. Hal yang sangat terlihat adalah dalam pembelajaran online/daring. Kuota modem adalah salah satu bentuk perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah. Guru dan siswa akan mendapatkan pulsa/kuota modem. Tujuannya untuk memperlancar proses pembelajaran. Selain itu, anggaran persiapan protokol kesehatan juga, dipersiapkan. Mulai dari cuci tangan, masker, dan hand sanitizer. Ini adalah sarana prasarana pendidikan pada masa Covid-19 ini.

Kebijakan pembelajaran daring adalah pilihan terbaik pada masa pandemi Covid-19 ini. Karena, kondisi yang belum memungkinkan dalam situasi kondisi pandemi. Sehingga, dasar situasi ini sebagai salah satu dasar dalam menentukan kebijakan pendidikan.

Kepemimpinan
Kepala sekolah dalam hal ini memberlakukan kebijakan kerja di rumah/piket. Mengingat grafik orang yang terkenan Korona masih tinggi. Bahkan, PSBB/Pembatasan Sosial Berskala Besar diperpanjang hingga 8 Februari 2021. Kepala sekolah menerapkan kebijakan pembelajaran daring. Termasuk, rapat-rapat yang diselenggarakan sekolah dilakukan secara daring. Tidak ada rapat secara tatap muka.

Perilaku Organisasi
Perilaku warga sekolah/pendidikan dalam penerapan protokol kesehatan dimulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah. Jika guru dan tenaga kependidikan sudah rajin memakai masker, rajin cuci tangan, dan menjaga jarak, maka akan menjadi “nilai” atau budaya di sekolah tersebut. Artinya, setiap individu, kelompok, dan organisasi sekolah tersebut akan menerapkan budaya sehat.

Manajemen Supervisi dan Pengawasan Pendidikan
Manajemen supervisi juga berdampak pada perubahan pada masa Pandemi Covid-19 ini. Supervisi akademik, lembaga, dan administrasi dilakukan secara online. Demikian pengawasan internal dan eksternal lembaga pendidikan dilakukan secara online. Seperti akreditasi online, supervisi online. Termasuk penilaian guru/dosen dilakukan secara daring/online pula.

Kebijakan Publik
Kebijakan publik dilakukan dengan memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan. Kebijakan yang sangat kental yaitu dalam pembelajaran dan kehadiran. Pembelajaran dilakukan secara online. Kehadiran dengan diberlakukan dengan kerja dari rumah (KDR) atau Work From Home (WFH). Terlebih ada kebijakan PSBB jilid II untuk provinsi Jawa-Bali. Dalam kebijakan ini, juga ada sanksi bagi organisasi/pelaku yang melanggar protokol kesehatan.

Mutu pendidikan
Selama pandemi mutu pendidikan kurang diperhatikan. Pemerintah/pelaku/ pemimpin pendidikan lebih mengutamakan kesehatan. Belum mengutamakan mutu. Pembelajaran saja, masih terganggu dengan sinyal.

Kemudian, bimbingan dengan siswa dilakukan secara online, masih terganggu dengan sinyal dan biaya pulsa yang mahal. Belum dari sisi kualitas pembelajaran. Kebanyakan guru lebih banyak memberikan tugas ke siswa. Kemudian, orang tua yang mengerjakan tugas anaknya.

Sistem Informasi
Sistem informasi dibentuk/diciptakan untuk menyelesaikan permasalahan selama pandemi saat pembelajaran. Misal, dengan membuat platform pembelajaran online dan ujian online. Pembelajaran online melalui sebuah sistem, seperti moodle/elena yang mudah diakses oleh siswa oleh guru. Atau, platform gratis dari sebuah aplikasi seperti google classroom, zoom atau google meet. Sistem informasi sebagai ‘jembatan’ menyelesaikan permasalahan dalam menyelesaikan situasi pandemi saat pembelajaran.

Manajemen Uncertainly/Ketidakpastian
Manajemen ketidakpastian seperti Covid-19 adalah hal yang tidak terduga. Manajemen ketidakpastian ini–terkait Covid-19–belum siap. Sehingga, terlalu lama dalam penanganan Covid-19 ini. Termasuk, pengambilan resikonya, belum ada. Hal yang dekat dengan manajemen ketidakpastian adalah tiap organisasi/lembaga/sekolah/pondok pesantren harus memiliki gugus protokol kesehatan. Ini adalah salah satu wujud manajemen ketidakpastian dalam suatu satuan pendidikan. []

Semarang, 26 Januari 2021
Ditulis di rumah jam 06.00 – 07.15 WIB.

Hadiah Alquran

Hadiah Alquran
Oleh Agung Kuswantoro

Dulu, pada tanggal 7 November 2001, saya dapat hadiah dari Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang berupa Alquran dan terjemahannya. Hadiah tersebut diserahkan pada peristiwa Lailatul Firoq santri Diniah Ulya Salafiyah Kauman Pemalang pada tanggal 4 November 2001.

Saya menulis tanggal hadiah Alquran diberikan yaitu 7 November 2001, tepat pada acara tasyakuran kelulusan santri Diniyah Ulya Salafiyah Kauman Pemalang. Jadi, sebenarnya hadiahnya diserahkan pada sebelum tanggal 7 November 2001. Sebelum acara tasyakuran santri Diniyah Ulya. Pada tanggal 7 November pula, ternyata bertepatan dengan hari jadi saya. Bisa, dikatakan sekaligus, menghadiahi diri sendiri.

Saya dan beberapa santri yang lain, menganggap bahwa bisa lulus sebagai santri Diniyah Ulya Salafiyah Kauman Pemalang itu, sangat luar biasa. Penuh pengorbanan. Baik secara waktu, kesempatan, tenaga dan pikiran.

Misalnya: saya menunda waktu untuk kuliah dulu. Jadi, mandeg setahun untuk bisa tuntas lulus sebagai santri Diniyah Ulya. Hal yang sama juga dirasakan oleh sahabat saya (Tasihin). Tasihin juga sama, berjuang agar menjadi lulusan santri Diniyah Ulya Salafiyah Kauman Pemalang. Ia mandeg tidak melanjutkan pendidikan strata satu agar bias lulus sebagai santri Diniyah Ulya Salafiyah Kauman Pemalang.

Ada pembelajaran yang saya tangkap dari hadiah berupa Alquran. Saya menjadi sadar, bahwa bahwa Alquran adalah petunjuk hidup. Sehingga, hadiah Alquran dari Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang hingga kini masih saya simpan dan baca.

Pembelajaran hadiah Alquran juga saya lestarikan dalam diri saya kepada orang lain. Entah sudah berapa jumlah Alquran yang saya berikan/mengkadoi/menghadiahi kepada orang lain.

Biasanya yang saya hadiahi adalah santri-santri madrasah Aqidatul Awwam yang sedang khitan dan tetangga rumah yang merayakan khitan. Selain itu, kedua anak saya juga saya hadiahi Alquran.

Ternyata, ada Alquran yang sama dengan nama anak saya yaitu Alquran al-Mubin dan Alquran al-Quddus. Jadi, saya tertarik pula menghadiahi Alquran kepada kedua anak saya. Harapannya, Alquran tersebut menjadi petunjuk hidup bagi kedua anak saya.

Alquran al-Mubin untuk anak saya yang pertama, bernama Muhammad Fathul Mubin (dipanggil Mubin). Alquran al-Quddus untuk anak saya yang kedua, bernama Muhammad Syafa’atul Quddus (dipanggil Syafa). Nama al-Quddusnya diambil dari belakang Syafa.

Nah, bagaimana dengan Anda: “Sudahkah Anda menghadiahi atau memberi sesuatu yang bermanfaat untuk menjadi petunjuk hidup diri sendiri?” Jika belum, perlu dipikirkan. Mumpung Anda masih hidup dan sebelum Anda menghadiahi “sesuatu” itu kepada orang lain. Hadiahilah diri sendiri dulu, sebelum menghadiahi ke orang lain.

Semarang, 26 Januari 2021
Ditulis Di Rumah jam 05.30 – 05.45 WIB.

Bisakah Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ dengan Model HOTS?

Bisakah Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ dengan Model HOTS?
Oleh Agung Kuswantoro

HOTS/Higher Order Thinking Skill/keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah salah satu cara ajar guru/pendidik/dosen mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan hasil peserta didik menjadi cakap, mandiri, dan kreatif.

Lalu, muncul pertanyaan, apakah saat PJJ – seperti ini – dapat dilakukan pembelajaran HOTS? Apalagi sekolah di pedalaman/daerah yang tidak ada sinyal.

Menurut saya, HOTS dapat dilakukan, meskipun PJJ. Caranya? Ambil/pilih materi yang ada dalam silabi selama semester ini. Tentukan tema yang akan dilakukan pembelajaran model HOTS.

Jangan semua tema dilakukan dengan model HOTS. Cukup satu saja. Tetapi berlanjut. Guru dan siswa harus aktif. Tidak harus selalu zoom tiap hari. Namun, “alur” pekerjaan siswa (baca: proyek) harus jelas. Demikian juga, guru harus disiplin memberikan komentar/respon dari apa yang telah dilakukan oleh siswa.

Siswa dapat bereksperimen/praktik di rumah masing-masing. Jadi, pekerjaan siswa pasti berbeda-beda. Guru harus mengevaluasi setiap aktivitas siswa yang telah dilakukan.

Laporan siswa bisa dikirim melalui email atau platform yang sudah ditentukan. Masukan/evaluasi dari guru, kemudian diperbaiki oleh siswa melalui literatur/sumber dan pekerjaan yang mendukung/praktik di sekitar rumah/lingkungan siswa. Dari satu tema ini, terus berlanjut jangan berganti-ganti tema. Jadi, utuh dalam pembelajarannya.

Bagi siswa yang ada daerah sulit sinyal, maka dapat dilakukan dengan cara manual dalam berkomunikasi. Bisa jadi, tetap bertatap muka, karena jumlah siswanya sedikit. Karena, praktik/pembelajaran secara langsung dapat dilakukan secara nyata. Misal, di sungai, sawah, laut, atau kebun. Lagi-lagi kuncinya adalah keaktifan dari siwa dan guru.

Kurang lebih itulah cara melakukan pembelajaan HOTS di masa PJJ. Sabar saja, tidak usah terlalu “sempurna” dalam mengejar target belajar. Ingat, masih masa pandemi. Yang penting proses belajarnya, benar. Jangan semata-mata mengejar hasil belajar. Selamat mencoba!

Semarang, 24 Januari 2021
Ditulis di Rumah jam 06.00 – 06.20 WIB.

Sumber:
Sani, Abdullah, Ridwan. 2019. Pembelajaran Berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills). Tangerang: Tira Smart.

Yani, Ahmad. 2019. Cara Mudah Menulis Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills): Suatu Pendekatan “Jarak Nalar” yang Dilengkapi dengan Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Bandung: PT Refika Aditama.

Menegaskan dan Melidungi Orang yang Shalat 5 Waktu di Masjid

Oleh Agung Kuswantoro

Program utama Takmir Masjid Nurul Iman Sekaran, Gunungpati, Semarang tahun 2020 – 2025 yaitu menegakkan penyelenggaraan salat lima waktu. Sejak tahun 2015 – 2019, penyelenggaraan salat hanya bisa 3 salat yaitu Maghrib, Isya, dan Subuh. Itupun, kadang tidak ada imam dan muadzinnya. Seadanya orang yang datang, saat tidak ada Imam/Muadzin, maka orang yang datang itulah, menjadi Imam/Muadzin.

Saya – selaku ketua harian Takmir Masjid – membuat dan mengajak diskusi kepada penasihat masjid untuk menegakkan salat 5 waktu di Masjid. Dari sisi teknis dipersiapkan. Mulai mesin tarkhim, hingga sound system. Termasuk, membuat jadwal Imam dan Muadzinnya. Termasuk pula, orang yang salat harus disambut dan dilindungi oleh Takmir Masjid.

Misal, yang datang salat adalah anak-anak. Maka, anak-anak ini harus disambut dengan baik. Jangan sampai, diberi ejekan dengan kalimat “Datang ke Masjid kok ramai”. Kalimat yang “menjatuhkan” bagi anak ini, harus diluruskan oleh Takmir Masjid.

Jika tidak ada yang mengadzani waktu salat tiba, dan (misal) yang datang itu, anak-anak. Berilah kepercayaan kepada anak untuk mengadzani. Mengapa anak perlu diberi kepercayaan mengadzani? Karena, orang dewasa/orang tua tidak ke Masjid. Tidak ada orang. Adanya, anak-anak. Maka, anak-anaklah yang adzan. Logis, menurut saya. Itulah sederhananya. Secara aturan atau norma tentang penyelenggaraan salat 5 waktu harus diatur. Termasuk, orang yang mau salat, juga harus dilindungi oleh Takmir Masjid.

Yuk, kita berkomitmen untuk bisa menyelenggarakan dan menegakkan salat 5 waktu berjamaah di Masjid. Jika bukan Anda dan saya, lalu siapa yang akan menegakkan dan melaksanakan 5 waktu? Dan, kepada siapa anak akan meniru dalam orang yang melaksanakan salat 5 waktu, dimana Anda adalah orang tuanya?

Semarang, 25 Januari 2021
Ditulis Di Rumah jam 05.30 – 05.45 WIB.

Jangan Kehilangan Waktu Bersama Anak, Saat Anak-Anak

Jangan Kehilangan Waktu Bersama Anak, Saat Usia Anak-Anak
Oleh Agung Kuswantoro

Anak adalah amanah. Ada anak, maka ada amanah. Amanah (kepercayaan) akan dipertanggungjawabkan kepada yang memberi kepercayaan, yaitu Allah.

Anak bukan sekadar titipan, akan tetapi lebih dari sebuah titipan. Jika titipan, lebih terkesan menjaga barang. Namun, jika dalam anak itu, ada unsur mendidik dan mengajarkan.

Mengajarkan saja, guru bisa. Tetapi, mendidik belum tentu (semua) guru itu bisa. Nah, disinilah letak peran orang tua. Dimana harus mampu menjadi pengajar dan pendidik.

Terlebih usia anak itu juga dibatasi, yaitu hingga baligh/kurang lebih 15 tahun. Artinya, masa anak itu akan berakhir pada usia 15 tahun.

Lalu, muncul pertanyaan:“Sudahkah Anda menjadi guru yang terbaik bagi anak Anda?” Guru yang saya maksudkan adalah pendidik dan pengajar bagi anak Anda.

Jika belum, mari belajar bersama. Kita cek bersama dari sisi waktu dan kebersamaan Anda dengan anak. Berapa jam, Anda berkumpul (baca:mendidik dan mengajar) dengan anak dalam sehari? Lebih sering mana anak Anda berkomunikasi dengan Anda selaku orang tua atau teman anak Anda? Apakah anak Anda nyaman dengan Anda – selaku orang tua – saat “curhat”? Dan, Apakah Anda pernah/kadang membentak anak Anda?

Yuk, kita renungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagai “pembelajaran” bagi saya dan Anda selaku orang tua. Harapanya, saya dan Anda menjadi orang tua yang patut menjadi contoh terbaik untuk anak Anda. Jika Anda tidak baik dan pintar, lalu kepada siapa anak akan belajar dan model percontohan untuk anak Anda? []

Semarang, 23 Januari 2021
Ditulis Dirumah Jam 14.30 – 14.45 WIB.

Sumber tulisan di atas yaitu:

Ayah Edy. 2020. Mendidik Anak Tanpa Teriakan dan Bentakan. Bandung: Naora Books.

Angga Setyawan. 2020. Anak Juga Manusia. Bandung: Naora Books.

Belajar Kesabaran Seperti Nabi Ayyub

Belajar “Kesabaran” Seperti Nabi Ayyub
Oleh Agung Kuswantoro

“Dan ambillah seikat rumput, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baiknya hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya. (QS. Shad:44)

Pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia sudah kurang lebih 10 bulan. Hingga detik ini pun, masih berlangsung wabah ini. Belum ada pertanda pula pandemi ini, berakhir. Grafik orang yang terpapar corona masih tinggi, hingga pemerintah secara resmi sudah menetapkan perpanjangan PSBB/Pembatasan Sosial Berskala Besar Jawa-Bali hingga 8 Februari 2021.

Dalam kondisi seperti ini, mari kita belajar akan kesabaran Nabi Ayyub. Banyak para ahli mengatakan bahwa Nabi Ayyub adalah sosok teladan dalam menghadapi ujian. Al-Qur’an mengatakan suatu waktu Nabi Allah membanggakan kesalehan Nabi Ayyub dihadapan Iblis. Iblis menyebutnya, bahwa Nabi Allah selalu melindungi Nabi Ayyub.

Singkat cerita, Allah memberikan kekuasaan pada Iblis untuk menguji Nabi Ayyub. Setelah Allah mengizinkan Iblis untuk menguji Nabi Ayyub, datanglah kabar, bahwa sebagian hewan-hewan ternak Nabi Ayyub dijarah sekelompok orang dan sebagian lainnya tersambar petir.

Tak cukup berita kehilangan hewan ternaknya saja. Nabi Ayyub juga kehilangan putra-putranya. Meninggal dunia, karena terkena angin puting beliung di rumah saudaranya.

Ternyata, ujian yang menimpa Nabi Ayyub tidak sampai disitu. Nabi Ayyub menderita penyakit kulit yang parah dari kepala hingga kaki.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang pertama kali terkena penyakit cacar. Terkait lama sakit Nabi Ayyub, para ahli tafsir ada yang mengatakan 3 tahun, 4 tahun, dan 18 tahun. Saking lamanya, sakitnya, Nabi Ayyub diasingkan dari desa/pemukimannya. Orang-orang merasa “rishi” atau “jijik” dengan penyakit Nabi Ayyub.

Dimasa-masa sulit, kebanyakan orang-orang menjauhi Nabi Ayyub, namun masih ada istri yang masih setia mengurusnya. Adalah Rahma binti Efraim bin Yusuf bin Ya’kub.

Setelah menderita sakit yang cukup lama, Nabi Ayyub mengadu kepada Allah: “Sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang Penyayang (QS. al-Anbiya:83).

Suatu ketika, istri Nabi Ayyub sedang pergi, Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub “Wahai Ayyub, hentakkanlah/injakkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk air minum (QS. Shod:42). Nabi Ayyub pun mandi dan minum air tersebut. Akhirnya, Nabi Ayyub sehat seperti sedia kala.

Dari cerita di atas, ada beberapa hikmah

  1. Bersabarlah seperti sabarnya Nabi Ayyub, meskipun dalam keadaan sakit.
  2. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, sabar menjadi salah satu “obat” agar hati bisa tertuju kepada Allah SWT.
  3. Iblis pasti mengganggu manusia untuk berbuat kesalahan dan jauh dari Allah SWT, oleh karenanya, kita harus selalu ingat kepada kekuasaan Allah SWT.
  4. Percayalah, Allah pasti akan membantu bagi orang-orang yang hatinya tertuju kepada Allah SWT.
  5. Tidak ada manusia hidup di dunia, hidup tanpa suatu ujian.
  6. Tidak semua orang yang terdekat itu menerima keadaan orang tersebut saat terjadi kesusahan atau tertimpa musibah (baca:penyakit).
  7. Jadikanlah Allah sebagai penolong dalam setiap permasalahan.

Mari, optimis bahwa masa pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Sabarlah dalam berikhtiar. insyaAllah, Allah akan memberikan jalan kemudahan, sebagaimana yang dicontohnya oleh Nabi Ayyub. []

Semarang, 20 Januari 2021
Ditulis di Rumah, jam 20.00 -20.50 WIB.

Memulai dan Menata (Lagi) Arsip FE UNNES

Memulai dan Menata (Lagi) Arsip FE UNNES
Oleh Agung Kuswantoro

Tahun 2015, FE UNNES pernah melakukan kegiatan penataan arsip. Ujungnya/puncaknya, FE UNNES memiliki depot kearsipan di Gedung L3, Lantai 2, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang.

OK. Langsung saja ke inti acaranya. Yaitu, secara teknis. Saya mulai dari ini. Hal sederhana.

Darimana arsip tercipta di FE UNNES? Tercipta di jurusan, gugus, dan fakultas.

Siapakah yang menciptakan arsip di FE UNNES? Individu dan kelompok. Individu berupa pimpinan, dosen, dan tenaga administrasi. Kelompok seperti dari tim gugus, tim kegiatan, dan tim penelitian/pengabdian kepada masyarakat.

Apa contoh arsip itu di FE UNNES? Bermacam-macam, arsip yang tercipta. Seperti: surat tugas, surat keputusan dekan, berkas naik pangkat, laporan penelitian, proposal dan laporan kegiatan, transkrip nilai, dan arsip lainnya.

Bagian-bagian apa saja yang menciptakan arsip di FE UNNES? Bagian akuntansi, akademik, kemahasiswaan, kepegawaian, sarana dan prasarana, ketatausahaan, keuangan, gugus, dan jurusan/prodi.

Bagaimana pengelolaan arsip selama ini di FE UNNES? Sifatnya, parsial. Masih sendiri-sendiri. Belum ada integrasi antara satu bagian dengan bagian yang lain. Sehingga, saat pimpinan membutuhkan data (baca:arsip) akan menghubungi bagian yang dibutuhkan. Pastinya, membutuhkan waktu yang lama. Karena, belum terkelola.

Bagaimana strategi agar tertata di FE UNNES? Dibuat sistem/aturan dalam pengarsipan.

Bagaimana cara menatanya di FE UNNES? Dimulai dari penataan secara manual sesuai klasifikasi arsip, penataan arsip di depot kearsipan, dan pengentrian ke sistem kearsipan (arsip digital).

Adakah aturan/SOP di FE UNNES? Ada ini.

Gambar SOP Kearsipan FE UNNES (1)—maaf tidak terlihat.

Gambar SOP Kearsipan FE UNNES (2) —maaf tidak terlihat.

Bagaimana sistemnya di FE UNNES? Ada di apps.unnes.ac.id, pilih arsip digital. Disitulah sitem kearsipan ada. Mulai dari system arsip dinamis hingga statis. Lihat gambar.

Gambar Arsip Digital —maaf tidak terlihat.

Siapakah operatornya? Nunggu instruksi Dekan dan Wakil Dekan bidang Umum dan Keuangan.

Bagaimana klasifikasi arsip di FE UNNES?

Gambar Klasifikasi Kearsipan di FE UNNES (1) —maaf tidak terlihat.

Gambar Klasifikasi Kearsipan di FE UNNES (2) —maaf tidak terlihat.

Apakah ada arsip statisnya?Ada.

Apa kegunaan sistem arsip ini? Lebih fleksibel, efektif, dan efisien dalam pencarian. Terlebih, untuk data-data zona integritas, akreditasi, dan AMI.

Apa tips agar lebih mudah mengeoperasionalkan sistem ini? Disiplin dalam mengentri dan menata arsip di depot arsip sesuai dengan klasifikasi kearsipan.

Apa harapan kearsipan ke depan di FE UNNES? Perlu evaluasi berkelanjutan agar sistem ini terpelihara dengan baik.

Demikian materi yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat. []

Semarang, 20 Januari 2021
Ditulis di Rumah jam 14.50 – 15.10 WIB.

Istikamah dengan Amalan

Istikamah dengan Amalan

Oleh Agung Kuswantoro

Saya memaknai istikamah dengan keajegan dari suatu perbuatan. Kuncinya, disiplin diri. Mengajak diri ke arah kebaikan.

Ada orang menyebut istikamah dengan amalan. Bicara amalan, saya jadi ingat ustad Yusuf Mansur, beliau sangat kuat dengan amalan.

Amalan adalah salah satu faktor terkabulnya suatu doa.  Amalan harus kuat, jika kita memiliki suatu cita-cita. Terlebih cita-cita/tujuan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi berdampak kepada orang lain. Amalan pun harus memiliki dampak kepada orang lain.

Bisa jadi ada amalan yang kuat untuk diri sendiri, seperti salat sunah atau puasa sunah. Ada pula amalan yang berdampak ke orang lain yaitu bersedekah untuk fakir miskin yang rajin ke Masjid. Atau, amalan mengajak orang untuk membuka dan membaca Alquran. Ada juga, amalan dari orang lain yang dilakukan secara berjamaah untuk mendoakan tujuan orang tertentu.

Hal inilah yang ingin saya lakukan – sambil belajar – yaitu amalan yang berdampak kepada orang lain. Sederhana saja, amalan itu yaitu tadarus usai salat Subuh berjamaah di Masjid.

Membaca Alquran 5 hingga 10 menit tiap hari. Hasil observasi dan masukan para sesepuh masyarakat, bahwa jamaah dan sebagian besar masyarakat yang tinggal di Masjid itu tidak terbiasa mendengarkan suara Alquran dilantunkan dan dibaca. Jika ada orang yang bisa melafalkan surat di Alquran, itu hanya hafalan surat Yasin dan surat pendek juz 30.

Atas dasar observasi dan masukan sesepuh masyarakat, saya mencoba untuk  mengistikamahkan membaca Alquran usai sholat Subuh berjamaah selama 5 – 10 menit di Masjid. Alhamdulillah sudah berjalan satu bulan ini.

Praktiknya, saya masih membaca Alquran sendiri. Beberapa kali ada satu jamaah (Mbah Darman) yang mendengarkan tadarus saya. Tidak hanya bertadarus saja, saya juga membaca sholawat Nabi “ya roobi solli ‘ala Muhammad, ya robbil solli ‘alaihi wasallim. Lalu, dilanjutkan dengan bacaan nadoma kitab ‘Aqidatul Awwam atau kitab Hidayatus Sibyan dan ditutup dengan Asmaul Husna.

Amalan-amalan inilah semoga memberi dampak kepada diri saya dan masyarakat setempat dalam membiasakan mendengarkan dan membaca Alquran. Semoga bisa langgeng mengamalkan amalan ini. Amin. []

Semarang, 17 Januari 2021

Ditulis di Rumah jam 02.00 – 02.50 WIB.

Bertanya: Mengapa di Hadist disebutkan “pukul”, sedangkan di Alquran disebutkan “berkata”?

Oleh Agung Kuswantoro

Bertanya: Mengapa di Hadist disebutkan “pukul”, sedangkan di Alquran disebutkan “berkata”?

Oleh Agung Kuswantoro

Saya adalah orang yang bodoh. Belum memahami suatu makna/ayat dengan dalam. Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada (1) ahli tafsir, (2) ahli hadist, dan (3) pakar pendidikan anak.

Begini. Saat saya membaca Alquran, ada ayat yang menyebutkan: “Jangan berkata ah pada orang tua”. Demikian juga saat saya membaca hadist/keterangan dalam fiqih bab salat disebutkan bahwa: “pukullah anakmu, jika tidak salat pada usia 10 tahun”.

Menurut saya, kedua keterangan dari sumber yang berbeda itu, isinya tak setujuan/visi. Yang bersumber Alquran, saya menangkapnya bahwa Islam sangat menghormati orang tua.

Berkata kasar saja, itu tidak boleh. Apalagi melakukan tindakan buruk kepada orang tua. Berkata “ah” saja tidak diperkenankan bagi anak kepada orang tua.

Namun, sisi lain dengan objek yang berbeda yaitu anak, justru dengan tegas menyebutkan “pukullah” anak saat 10 tahun ketika tidak salat.

Pada hadist yang mengatakan “pukullah” itu tertuju kepada anak. Tidak tanggung-tanggung perintah yaitu pukul. Mengapa tidak menggunakan kalimat sebagaimana Alquran yaitu dimulai dengan perkataan halus, seperti “ah” pada orang tua.

Pendekatan yang digunakan dalam hadist tersebut bisa dikatakan kurang ramah anak. Kedua keterangan dari Alquran dan Hadist – saya sebagai muslim – meyakini sekali kebenarannya.

Saya penasaran sekali dengan cara pendekatan yang digunakan hadist tersebut. Jika saya melihat konsep komunikasi, maka bisa jadi itu kurang tepat. Dimana, anak langsung dipukul.

Namun, jika melihat fakta/fenomena yang ada, dimana usia anak 12-15 tahun itu saat sudah terbiasa meninggalkan salat, bisa jadi diingatkan oleh orang tuanya, malahan anak tersebut membentak ke orang tuanya. Orang tuanya dibentak oleh anaknya. Secara tenaga/kekuatan fisik, justru kekuatan anak lebih kuat daripada orang tuanya.

Lalu, semakin bertambah umur, jika anak sudah terbiasa anak meninggalkan salat, maka semakin mudah dan menjadi biasa untuk tidak melakukan salat. Itu fakta yang saya lihat disaat ini.

Barangkali dari para ahli ada yang bisa menjawab pertanyaan saya. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf, jika saya salah dalam menyampaikan pertanyaan ini. []

Semarang, 17 Januari 2021

Ditulis di Rumah jam 01.30 – 02.00 WIB.

Previous Older Entries