Ngaji Tauhid (21):Iman Itu Individu

Ngaji Tauhid (21): Iman Itu Individu
Oleh Agung Kuswantoro

Dalam pemahaman saya bahwa urusan iman itu lebih cenderung pada urusan pribadi. Bukan, pada urusan kelompok. Kelompok bisa berwujud keluarga, masyarakat, atau organisasi.

Sebagaimana contoh kemarin. Dalam keluarga belum tentu keluarganya semua beriman. Ada Nabi Nuh beriman. Anaknya, tidak beriman. Ada Nabi Luth beriman, istrinya tidak beriman.

Sehingga, saya sepakat dengan definisi iman dimana maknanya itu, pembenaran dalam hati. Hati itu ada di individu. Bukan, pada kelompok. Wallahu ‘alam.

Semarang, 21 Januari 2019

Keluarga

Keluarga
Oleh Agung Kuswantoroimg20190119095757

“Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Itulah lirik sebuah lagu dari “Keluarga Cemara”.

Cerita keluarga yang menarik hati saya untuk mempelajarinya adalah keluarga Imron. Sebagaimana, nama surat dalam Alquran. Yaitu, Ali Imron.

Pak Imron memiliki anak yang sholihah bernama Maryam. Maryam, orangnya sangat suci dari maksiat. Apalagi, perbuatan zina. Bahkan, ia dituduh melakukan perzinaan karena ia telah mengandung/hamil.

Bayi yang dikandungnya bernama Isa. Isa ternyata menjadi seorang Nabi. Padahal, silsilah keluarga Pak Imron begitu sederhana. Namun, bisa menghasilkan anak yang sholihah yaitu Maryam. Kemudian, Maryam memiliki anak sholih bernama Isa. Isa lahir tanpa sosok ayah. Itu pula atas izin dan kekuasan Allah.

Sebaliknya, Kan’an anak seorang Nabi Nuh. Namun, karena tidak taat kepada Allah. Ia memilih tidak naik perahu. Ia ‘meninggal dunia’ dalam keadaan tidak beriman. Padahal, bapaknya seorang Nabi.

Itulah keluarga. Semua Allah sebagai “sutradaranya”. Tidak jaminan, orang tua itu hebat, ‘menghasilkan’ anak hebat. Sedangkan, orang biasa ‘menghasilkan’ anak biasa.

Rembang, 19 Januari 2019

Ngaji Tauhid (20): Dosa Penghalang Doa

Ngaji Tauhid(20): Dosa Penghalang Doa
Oleh Agung Kuswantoro

Kemarin kita sudah merefleksikan atas perbuatan kita selama satu pekan. Biasakanlah agar kita senantiasa untuk mengingat atas kesalahan-kesalahan dan kebaikan-kebaikan kita yang pernah kita lakukan selama satu Minggu.

Lebih banyak mana antara kesalahan dan kebaikan? Penting ini. Sehingga, saat hari Jumat tiba, kita harus menyiapkan diri.

Mulai hari Kamis, bersiap untuk berpuasa. Malam harinya, habis Magrib mengaji Al Kahfi atau Yasin. Dilanjutkan, tahlil.

Tengah malamnya, sholat tahajud dan witir. Lalu, sholat qobliah Subuh. Dilanjut mengikuti kajian.

Pulang dari Masjid, mengaji walaupun 3 atau 5 menit. Ini sebagai bekal untuk melaksanakan aktivitas hari Jumat yang berkah.

Dengan cara ini, doa kita Insya Allah diijabahi/diterima. Karena, kita menghindari maksiat. Sehingga, doa tidak terhalangi. Dosalah yang menutupi doa kita. Bisa jadi, seperti itu. Wallahu ‘alam.

Rembang, 19 Januari 2019

Ngaji Tauhid (19):Tertutup Dosa

Ngaji Tauhid (19): Tertutup Dosa
Oleh Agung Kuswantoro

Salah satu tidak terkabulnya dosa yaitu belum/tidak beriman seseorang. Mengapa ia belum beriman? Menurut beberapa referensi dalam kitab tauhid, karena masih banyak dosa pada diri seseorang tersebut. Sehingga, doanya tidak berkabul.

Mari, di hari yang mulia ini, kita mengingat-ingat dosa kita. Mengecek dosa yang telah kita lakukan. Mulai dari mata. Selama seminggu ini, mata kita telah maksiat, apa saja? Melihat hal-hal negatif, apa saja? Apakah mata kita telah diajak untuk melihat kepada hal-hal yang baik?

Mulut. Banyak mana, selama satu pekan ini, mulut kita berbicara baik atau buruk? Apakah mulut kita sering “ngerasani” orang? Apakah mulut kita meludah sembarang tempat? Sudahkah mulut kita untuk mengaji Alquran?

Tangan. Apakah tangan kita sudah digunakan untuk berbaik kepada sesama? Apakah tangan kita sudah digunakan untuk menolong orang lain? Apakah tangan kita sudah dibasuh air wudhu untuk sholat?

Silakan dilanjutkan dengan pertanyaan –pertanyaan lainnya terhadap anggota badan kita lainnya. Mari, ajak tubuh kita mengintrospeksi diri kita. Rasanya malu, jika kita banyak maksiat, kemudian ‘mendikte’ atau menyuruhNya agar mengabulkan doa kita.

Kita menjauh dariNya, sewaktu butuh, kita ‘malahan’ minta kepadaNya. Minta dikabulkan lagi. Apakah kita tidak malu kepadaNya? Wallahu ‘alam.

Semarang, 18 Januari 2019

Siapa Nama, Tuhanmu?

Siapa Nama, Tuhanmu?
Oleh Agung Kuswantoro

Pelajaran tauhid begitu saya tekankan kepada santri. Jangan sampai, tidak tahu akan ketuhanan.

“Man robbuka”? Kalimat itulah yang saya ajarkan kepada kelas C dan D. Pastinya dengan metode yang berbeda.

Ada yang menarik, saat di kelas C. Satria, namanya.

Ketika ditanya, “siapa nama Tuhanmu”? Ia berpikir. Lalu, bertanya kepada saya. “Apakah orang yang tidak sholat bisa menjawab atas pertanyaan itu, dengan jawaban Allah”?

Saya menjawab,”tidak”. Saya menjelaskan, bagaimana ia mengenal Allah. Ia sendiri tidak sholat. Ia tidak ke Masjid/Musholla. Dan, ia tidak berpuasa wajib.

Segera, ia langsung menghafal, jawaban atas pertanyaan itu. Yaitu, Allahu Robbi.

Lalu, saya meluruskan. Jangan dihafal. Dengan sendirinya, besok di Akhirat kita bisa menjawab pertanyaan Malaikat waktu di kubur. Dengan catatan, kita dekat dengan Allah. Dengan apa caranya, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Satria tetap penasaran dengan jawaban saya. Waktu, sudah menunjukkan jam 16.45 Wib, sudah saatnya pulang. Akhirnya, kita pulang dengan berdoa terlebih dahulu.

Semarang, 16 Januari 2019

Ngaji Tauhid (18): Yakin Dengan Doa

Ngaji Tauhid (18): Yakin Dengan Doa
Oleh Agung Kuswantoro

Orang beriman pasti yakin, bahwa doanya akan terkabul oleh Allah. Masalahnya, yakin atau tidak?

Atau, kenapa dia kita tidak terkabul?

Jika kita beriman, pasti terkabul doanya. Tidak terkabulnya doa, bukan berarti Allah itu ‘marah’. Bisa jadi, yang terwujudnya (tidak diminta dalam doa), itulah yang terkabul dalam doanya.

Allah mengatakan, “jika kau minta padaku, pasti Ku kabulkan”. Bukalah surat Al-Baqarah ayat 186.

Ada syaratnya di ayat tersebut yaitu doa terkabul bagi orang yang telah beriman.

Nah, bagaimana dengan kita? Semoga kita ada pada golongan itu/doa orang beriman. Waallahu ‘alam.

Semarang, 17 Januari 2019

Ngaji Tauhid (17): Orang Beriman Itu Menyakini “Isi” Alquran

Ngaji Tauhid (17): Orang Beriman Itu Menyakini “Isi” Alquran
Oleh Agung Kuswantoro

Salah satu rukun iman yaitu mempercayai kepada kitab. Kitab yang dimaksudkan Alquran, Injil, Zabur, dan Taurot. Injil, Zabur, dan Taurot itu yang asli, sebagaimana Nabi yang menerima di masanya. Injil diterima oleh Nabi Isa. Zabur diterima oleh Nabi Dawud. Dan, Taurot diterima oleh Nabi Musa. Sedangkan, Alquran diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya, belum tentu mereka mengimani Alquran. Sehingga, dalam tauhid itu ada perbedaan antara rukun Islam dan Iman. Bahkan, sangat jelas perbedaannya.

Rukun islam cenderung “berisikan” pada perbuatan dari agama Islam itu sendiri. Sedangkan, rukun iman cenderung pada keyakinan atas perbuatan itu sendiri. Misal, rukun islam itu ada sholat. Pada rukun iman ada perintah dalam Alquran untuk sholat (aqimussholat wa atuzzakat). Bahkan tidak cukup sholat ‘biasa’, namun sholat khusuk.

Jika hanya sholat, maka kita hanya menjalani rukun islamnya, namun belum tentu tercapai rukun imannya yaitu mempercayai dalam Alquran bahwa melalui sholat dapat menjadi hamba yang beruntung. Siapa hamba yang beruntung? Hamba (orang beriman) yang sholatnya khusuk. Lihat surat Almukminun ayat 1-2.

Jadi, urutannya menjadi orang beriman agar sholatnya khusuk. Yakin dulu dengan rukun iman yaitu mempercayai yang ada dalam Alquran (sholat khusuk) dan melakukannya dan membenarkan dalam hati. Bukan, membenarkan secara akal. Wallahu ‘alam.

Semarang, 16 Januari 2019

Previous Older Entries