Arti Huruf Fitri

Arti Huruf Fitri

Oleh Agung Kuswantoro

 

Dalam khutbah Jumat yang tepat dilaksanakan pada 1 Syawal 1439 Hijriah, saya melakukan ibadah sholat Jumat di Masjid Agung Pemalang. Khotib menyampaikan materi tentang makna Fitri. Salah satunya ditinjau dari huruf yang tertulis dalam lafal Fitri. Fitri terdiri dari 3 huruf yaitu fa, tho, dan ro. Masing-masing memiliki arti.

 

FA artinya Fastabiqul khoirot. Maksudnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Saat Idul Fitri, kita tetap harus melaksanakan kebaikan-kebaikan, bahkan berlomba. Sebagaimana dalam ibadah bulan Ramadhan seperti puasa, zakat, tadarus, itikaf, sedekah, dan amalam sholih lainnya.

 

THO artinya Thumakninatul qolbi. Maksudnya adalah tenangnya hati. Ibadah yang telah dilakukan selama berpuasa berdampak pada tenangnya, hati. Hati menjadi kunci dalam setiap perbuatan. Termasuk pemikiran. Ibadah melahirkan ketenangan, bukan kegrusahgrusuhan. Oleh karenanya, tenangnya hati menjadi penting untuk seseorang dalam beribadah. Karena, itu salah satu efeknya.

 

RO artinya Roddul Madhor. Maksudnya adalah menolak bahaya/kedholiman. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan seorang beriman dan bertakwa dapat menolak suatu bahaya atau kedholiman. Mengapa? Ia selalu berpihak di Allah. Allah menjadi sandaran hidupnya. Bukan, hawa nafsu yang menjadi rujukan hidupnya. Dengan demikian, bala/cobaan atau kedholiman dapat ia minimalisir dengan cara beridah-beribadah layaknya di bulan Ramadhan. Sehingga, saat bulan Syawal menolak bahaya/kedholiman dapat dilakukan.

 

Itulah makna huruf yang melekat pada kata Fitri. Hingga sekarang, saya belum mendapatkan sumber/referensi yang valid dari masing-masing makna tersebut. Namun, saya mencatatnya dari Khotib Jumat pada tanggal 15 Juni 2018 di Masjid kebanggaan warga Pemalang, Jawa Tengah. Terima kasih ilmu Pak Khotib. Semoga Anda sehat selalu. Amin.

 

Rembang, 16 Juni 2018

Iklan

Sama-Sama Menang

Sama-Sama Menang

Oleh Agung Kuswantoro

 

Khutbah sholat Idul Fitri di Masjid Agung Pemalang oleh Ustad Miftah, S.Ag. Ia adalah guru saya waktu di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang. Ada beberapa point yang menarik saat, ia menyampaikan khutbah yaitu

 

  1. Idul Fitri harus diharapkan menghasilkan pribadi yang soleh sosial. Tidak cukup soleh individu. Fenomena ini sangat cocok dengan keadaan sekarang.

 

Misal, silaturahmi. Orang berbondong-bondong menyampaikan ucapan dengan handphone/WA. Minim budaya silaturahmi denga tatap muka. Padahal ajaran agama menganjurkan untuk silaturahmi dengan tatap muka. Saat tatap muka disitulah, kita mengetahui yang bersangkutan apakah merelakan atas kesalahan yang telah diperbuat.

 

  1. Takbir mengajarkan kepada kita untuk sama-sama menang. Takbir diucapkan secara bersama-sama. Dalam kehidupan juga seperti itu. Tidak ada istilah kamu menang, saya kalah. Tetapi sama-sama menang.

 

Misal, saat pilkada. Saat ada yang pemenang diumumkan oleh KPU. Sesungguhnya peserta Pilkada itu menang semua. Hanya caranya berbeda. Yang mendapatkan suara terbanyak ia akan memimpin jalannya pemerintahan. Sedangkan yang tidak mendapatkan suara terbanyak tetap menjalankan pelayanan untuk mengayomi masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, budaya, atau menjadi oposisi yang baik. Ini semua hakikatnya adalah melayani masyarakat. Itulah pemimpin. Itu pula sama-sama menang.

 

  1. Kebenaran manusia bersifat perspektif. Kebenaran Allah bersifat mutlak. Sehingga, saat ada perbedaan pendapat itu berdasarkan cara pandang yang berbeda saja. Jangan terlalu dibuat sepaneng. Karena ya itu, perbedaan manusia bersifat perspektif. Bukan mutlak. Jadi, beda pendapat itu hal yang biasa.

 

Itulah point-point yang saya dapatkan saat khutbah Idul Fitri. Sangat mengena sekali. Khotib sangat fasih dalam melafalkan doa-doanya, sehingga para Jamaah, khusuk dalam berdoa. Semoga kita menjadi pribadi yang fitri. Amin

 

Kudus, 16 Juni 2018

 

Harapan di Akhir Bulan Ramadhan 1439 Hijriah

Harapan di Akhir Bulan Ramadhan 1439 Hijriah

Oleh Agung Kuswantoro

 

Alhamdulillah Ramadhan sebentar lagi selesai. Ia (Ramadhan) akan kembali ke Allah. Kalimat pertama yang saya ucapkan adalah puji syukur atas nikmat Allah berupa panjang umur hingga menyelesaikan ibadah di bulan suci tersebut.

 

Waktu menjadi kata kunci dalam kalimat di atas. Tahun depan, belum tentu kita akan berjumpa dengannya. Ia tetap ada, tetapi kita belum tentu berjumpa dengannya.

 

Jika Allah memberi izin panjang umur dan sehat, Insya Allah kita akan berjumpa tahun depan. Amin.

 

Setiap ia datang begitu terasa. 30/29 hari “kenceng” dengan ibadah, mulai sahur, tarawih, witir, tadarus, zakat, sedekah, itikaf, dan ibadah lainnya. Terlebih, ibadah tersebut dilakukan bersama dengan masyarakat.

 

Misal, sholat isya, tarawih dan witir tidak dilakukan secara munfarid. Tetapi dilakukan secara berjamaah dengan menjadi Imam di masjid. Sholat Subuh dan kultum dilakukan secara berjamaah dengan menjadi imam dan pemberi materi.

 

Tadarus bersama mahasiswa dan anak-anak dilakukan tiap sore di masjid. Tadarus juga dilakukan bersama warga kampung pada malam hari. Itulah kenangan Ramadhan tahun ini (2018/1439 H). Sekarang, tinggal kenangan.

 

Fokus kebanyakan orang saat ini lebaran. Lalu lalang kendaraan mudik sangat padat di daerah saya. Pusat perbelanjaan sangat ramai. Muda-mudi mulai sibuk mengurusi reuni dan halal bihal. Tak ketinggalan pula, dapur mulai mengepul menyiapkan opor ayam dan ketupat.

 

Namun, dalam hati mengatakan kenangan Ramadhan itu masih melekat dibalik hingar bingar persiapan Idul Fitri. Menurut saya, Idul Fitri itu satu hari saja dan pada jam itu saja. Yaitu, pada saat sholat Id dan setelah Khotib turun dari mimbar khutbah.

 

Setelah turun dari mimbar khutbah, berakhirlah Idul Fitri. Adanya perayaan Idul Fitri, mulai dari salam-salaman ke sanak saudara, halal bihalal, reuni, dan perayaan lainnya. Itulah perayaan Idul Fitri.

 

Oleh karenanya, saat Idul Fitri, terutama saat sholat itu perbanyak zikir, takbir, dan istigfar. Sembari jalan ke masjid/lapangan tetap berdoa. Doanya diperkuat, bukan memperhatikan tampilan baju, mekena yang mahal, sandal yang mahal, dan asesoris yang mahal pula yang dipakai oleh orang saat ke Masjid.

 

Sekali lagi doanya yang diperkuat. Mengapa? Itu, hanya bagian perayaan. Fitrinya adalah kemenangan bagi orang yang telah menjalani ibadah di bulan Ramadhan.

 

Eman-eman jika hanya peranyaan kita terbawa oleh situasi yang kita tidak bisa mengendalikan. Puasa dan ibadah saat di bulan Ramadhan dipertahankan di bulan-bulan berikutnya.

 

Kembali lagi ke sholat Id. Saat sholat Id, mulai dari niat dan takbir harus benar-benar memasrahkan hidup kita. Termasuk umur.

 

Allahu Akbar sambil dalam hati mengatakan “Wahai Allah, bisakah saya bertemu Ramadhan tahun depan?”

 

“Wahai Allah, Pemilik Waktu, berilah saya kesempatan untuk menikmati di bulan Ramadhan tahun depan.”

 

Mengapa kita mengatakan seperti itu? Karena, kita akan memasrahkan hidup kita kepada Pencipta bulan Ramadhan. Daripada umurnya panjang, tetapi tidak beribadah atau kurang kepada-Nya. Lebih baik, kita instrospeksi diri kepada-Nya.

 

Selamat jalan Ramadhan telah menghampiri kami selama satu bulan ini. Terima kasih telah mendidik kami menjadi manusia yang bertakwa, meskipun saya belum pantas untuk menjadi manusia bertakwa. Hanya Allah yang menentukan ketakwaan seseorang. Namun, saya akan mencobanya.

 

Ramadhan sapalah, kami semua di tahun depan. Engkan (Ramadhan) pasti ada 11 bulan kemudian, tetapi kami belum tentu ada.

 

Maafkan kami, apabila selama ini, belum bisa “bercumbu” denganmu melalui ibadah-ibadah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Sekarang, usiamu (Insya Allah) kurang satu hari lagi. Engkau akan pulang ke Allah. Sampaikan ke Allah, bahwa kami mohon maaf belum bisa menjadi hamba yang beriman dan bertakwa.

 

Dosa kami masih banyak. Masiat kami juga masih banyak. Namun, melalui Ramadhan ini, hati kami sedikit terketuk untuk mengingat-Mu, Ya Allah.

 

Kami sudah mengajak masyarakat untuk berpuasa, sholat tarawih, witir, tadarus, sholat subuh berjamaah, dan belajar agama Islam melalui kultum. Melalui amalan-amalan itu, semoga Engkau mau memaafkan kami.

 

Catat nama kami di Lauhil Mahfud tertulis nama kami termasuk dalam kategori yang termasuk Lailatul Qodar. Dan, mohon selalu bombing hati kami agar selalu mengingat Engkau. Amin.

 

Pemalang, 13 Juni 2018

“Fitrinya”, Bukan Lebarannya

“Fitrinya”, Bukan Lebarannya

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tak terasa Ramadhan akan selesai. Bulan yang penuh hikmah, akan kembali ke Allah pada tahun depan. Namun, “Sadarkah kita, jika Ramadhan akan kembali ke Allah?

 

Pertanyaan di atas hanya, pribadi manusia saja yang mengetahui. Profesi apa pun tidak bisa menduga atau menjawab pertanyaan tersebut. Hanya diri manusia dan Allah.

 

Mengapa? Karena, puasa itu ibadah rahasia. Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh manusia yang bersangkutan dan Allah.

 

Mulut boleh berkata “saya puasa pada pagi ini.” Tetepi, pada kenyataannya bahwa siang hari, ia makan siang di warung makan.

 

Orang lain tidak ada yang tahu, kecuali penjual makanan di warung tersebut. Lalu, setelah dari warung, ia mengatakan kepada orang yang berada di sekitarnya, dengan kalimat, “saya masih berpuasa di hari ini.”

 

Sah-sah saya mulut orang tersebut berkata sebagaimana di atas. Karena, ibadah puasa berkaitan dengan kerahasiaan. Kejujuran menjadi “kunci” dalam menjalankan ibadah puasa.

 

Sehingga, tujuan mulia dalam ibadah puasa yaitu takwa, tak cuma-cuma diraihnya dengan mudah. Dibutuhkan perjuangan dan karakter yang mulia.

 

Tak heran, jika tujuan akhir pada bulan Ramadhan adalah menjadi pribadi yang fitri atau suci. Bukan, perayaan yang mewah atau ramai pada malam takbiran.

 

Orang yang dicari dalam berpuasa adalah “fitrinya”. Sucinya. Sehingga, semakin mendekati Idul Fitri, maka semakin “kencang” ibadahnya.

 

Ia tidak sibuk ke pusat perbelanjaan untuk menghadiri “mid night discount”, di mana ada “zakat mall” (bukan zakat mal).

 

Ia tidak sibuk mencari model baju baru untuk dipakai di hari lebaran. Ia tidak sibuk mencari penjahit untuk menjahitkan bahan bajunya.

 

Ia sibuk berzikir. Ia tetap fokus berpuasa. Ibadah sunah tetap ia jalankan, seperti solat tarawih, witir, tahajud, tadarus, itikaf, dan amalan solih lainnya.

 

Konsentrasinya dia ada pada menggapai “fitrinya”, bukan lebarannya. Jika lebarannya, maka ia berpikiran pada liburan Idul Fitri, seperti berwisata, makan di restoran, berkumpul dengan teman, dan “kesenangan” yang lainnya.

 

Oleh karenanya, “fitri” itu untuk orang tertentu. Tetapi, lebaran untuk semua orang. Tidak semua orang mendapatkan “fitri”, hanya orang-orang tertentu yang mendapatkannya.

 

Lalu, pertanyaannya adalah “Siapakan yang mendapatkan fitri? Jawabnya adalah orang yang tetap berpuasa dan menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan hingga tuntas.

 

Mengapa demikian? Karena menjaga ibadah-ibadah di bulan Ramadhan hingga tuntas (menurut saya) tidaklah mudah. Buktinya, saat kita mudik, banyak (lebih dari tiga orang) tidak berpuasa. Padahal ia sehat dan tidak ada halangan untuk menjalankan ibadah puasa.

 

Saat malam hari, justru pusat perbelanjaan ramai dengan pembeli. Seharusnya zikir, itikat, dan tadarus harus dikuatkan di akhir bulan Ramadhan.

 

Mereka yang masih berjuang melawan godaan dunia, jika selesai melakukan perjuangan hingga tuntas Ramadhan, Insya Allah akan mendapatkan “fitri”.

 

Berbeda dengan orang yang mendapatkan lebaran. Batin atau ketenanganlah yang dirasakan bagi orang yang mendapatkan “fitri”. Orientasi tujuan sudah berbeda, sehingga orang yang berlebaran, belum tentu mendapatkan “fitri”.

 

Sebagai orang beriman, seharusnya “fitri” yang harus digapai. Mari, “ketuk” diri sendiri agar “fitri” harus dicapai, bukan lebaran dengan liburannya.

 

jika kita saja, masih berpikiran liburan lebarannya, lalu siapa yang akan mendapatkan “fitri”? Mari, luruskan mind set pikiran kita, agar hati kita juga menjadi lurus.

 

Sebagai penguat di akhir tulisan ini, ada sebuah kalimat yaitu lebaran dengan segala bentuk liburan yang menyenangkan itu boleh, tetapi jangan sampai “melupakan” atau menjadikan Ramadhan yang “suci” tidak bermakna “suci” lagi, karena perbuatan kita yang terlalu membesarkan perayaannya, dibanding ibadahnya.

 

Pemalang, 11 Juni 2018

 

 

Pancasila dan Alqur’an

Pancasila dan Alqur’an

Oleh Agung Kuswantoro

 

Hari Pancasila telah kita peringati kemarin (1/6/2018). Momentum lahir Pancasila sangat tepat kita renungkan, terlebih di bulan Ramadhan. Dimana Pancasila juga lahir di bulan Ramadhan. 17 Agustus 1945 bertepatan jatuh pada tanggal 9 Ramadhan. Kemudian, Pancasila disusun.

 

Sudah tidak tepat lagi kita merubah ideologi negara kita (Pancasila) dengan ideologi lainnya. Founding Father kita sudah melakukan pemikiran, penajaman, istikharah, dan meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi yang tepat untuk negara Indonesia.

 

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Alqur’an mengatakan “Qul huallahu ahad” (QS. Al Ikhlas : 1). Artinya, “Katakanlah, bahwa Allah itu Esa”. Tuhan yang satu. Negara Indonesia mengakui Tuhan. Siapa yang tidak bertuhan, bukanlah warga Indonesia.

 

Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Alqur’an mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri, ibu, bapak, dan kerabatmu” (QS. Annisa: 135). Adil itu untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk hakim. Tetapi, semua manusia. Adil harus ada dalam setiap diri manusia.

 

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Alqur’an mengatakan “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Alhujurat: 13). Tujuan dari ayat di atas adalah persatuan, melupakan kpentingan individu, kepentingan negara harus diutamakan di atas kepentingan golongan.

 

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Alqur’an mengatakan “Dan (bagi) orang-orang yang menerima/mematuhi seruan Rob-nya, dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah (QS. Assyuro: 38). Musyawarah mufakat adalah ajaran Alqur’an. Bukan dengan cara vooting atau pengambilan suara terbanyak. Bangsa Indonesia lebih mengutamakan musyawarah mufakat.

 

Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Alqur’an mengatakan “Sesungguhnya Allah menyuruh manusia berlaku adil dan berbuat baikan, memberi sedekah kepada kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan” (QS. An Nahl: 90). Bangsa Indonesia mengharapkan rakyat dan pimpinannya untuk berbuat baik kepada sesama (sosial). Itu juga anjuran Allah dalam Alqur’an.

 

Itulah nilai-nilai Alqur’an yang termaktub dalam Pancasila. Tidak diragukan lagi untuk kita mengamalkan. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila juga mengamalkan nilai-nilai Alqur’an.

 

 

Founding Father kita sudah memikirkannya dengan penuh khusyuk dan sholat istikharah mengharap ridho Allah dalam memikirkan bangsa Indonesia.

 

Itulah pesan khotib, Dr. Ali Mahsyar, MH yang saya tangkap. Saya beruntung sekali bisa belajar dengannya. Setelah saya selesai sholat, saya menemuinya diskusi kecil terkait pekerjaan saya di UPT Kearsipan berupa Peraturan Rektor Kearsipan. Dan, saya menyampaikan ucapan terima kasih atas masukannya dan ilmu-ilmunya yang telah disampaikan kepada saya. Semoga Bapak sehat selalu. Amin.

 

 

Semarang, 2 Juni 2018

 

 

 

Catatan Kultum Ramadhan (1)

Catatan Kultum Ramadhan (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Selama Ramadhan ini, kultum yang saya sampaikan ke masjid seputar Ramadhan. Berikut catatan saya:

 

  1. Lailatul Qodar

Lail itu malam. Qodar itu mulia. Menurut Kamus, Qodar memiliki tiga arti yaitu (1) mulia, (2) sempit, (3) ketentuan/ketetapan.

 

Mulia karena pada malam itu yang turun malaikat untuk mencatat amal manusia.

 

Sempit karena bumi diisi oleh Malaikat, sehingga bumi menjadi sempit.

 

Ketetapan/ketentuan karena malam itu pasti terjadi.

 

Banyak perbedaan pendapat terkait turunnya Lailatul Qodar. Ada yang mengatakan diturunkan Alqur’an yaitu malam 17 Ramadhan. Ada yang mengatakan pula malam ganjil (21, 23, 25, 27, dan 29). Bahkan di daerah tertentu (Timur Tengah) Lailatul Qodar dipercayai turun pada tanggal 27 Ramadhan. Sehingga, peristiwa Nuzulul Qur’an di daerah tersebut diperingati tanggal 27 Ramadhan. Berbeda di Indonesia diperingati 17 Ramadhan. Dari penjelasan di atas lengkap ada dalilnya.

 

Namun, guru saya mengajari saya bahwa Lailatul Qodar, jangan dinanti. Mengapa? Karena itu pasti terjadi. Tugas kita adalah memantaskan apakah kita layak mendapatkan Lailatul Qodar?

 

Layak/pantas menjadi kata kunci untuk memasuki Lailatul Qodar. Mengapa? Malaikat yang akan mencatat amal manusia. Berarti, Malaikat akan mencatat orang yang melakukan kebajikan pada hari/malam itu.

 

Malaikat tidak akan mencatat amal manusia yang buruk. Berarti kita harus memperbanyak amalan sholih/kebajikan. Itu yang perlu diperhatikan. Kuncinya Malaikat itu dengan  kebajikan.

 

Jika Lailatul Qodar tidak usah dinanti, berarti kita harus berbuat baik selama Ramadhan, mulai tanggal 1 hingga 30 Ramadhan. Insya Allah dengan cara ini Lailatul Qodar akan diperoleh.

 

Contoh Malaikat turun ke bumi, bahwa Alqur’an mengatakan dengan tegas pada saat perang Badar, Malaikat membantu pasukan muslim. Jumlah sedikit pasukan muslim, namun bisa mengalahkan pasukan Kafir/Quraisy yang berjumlah lebih banyak.

 

Ternyata, Malaikat membantu pasukan muslim. Salah satu faktor dibantunya pasukan muslim karena telah melakukan amal baik/kebajikan. Sehingga, Malaikat turun ke bumi.

 

Sebaliknya, pada perang Uhud, pasukan muslim tidak dibantu oleh Malaikat dikarenakan pasukan muslim tidak sabar terhadap godaan dunia, berupa harta rampasan milik pasukan Kafir/Quraisy. Padahal, perintah Nabi sangat jelas, bahwa apa pun keadaannya, pasukan muslim harus tetap di atas bukit. Jangan turun bukit, walaupun sudah selesai perang. Namun, karena meraka tergoda dengan “harta” yang berada dibawah bukit, menjadikan pasukan muslim mengalami kekalahan. Baca QS. Ali Imron ayat 124.

 

Itulah sebabnya, Malaikat akan turun, jika kita berbuat kebajikan, sebagaimana kondisi dalam perang Badar.

 

Ada benarnya juga hadist yang mengatakan Lailatul Qodar akan turun dengan pertanda seperti matahari tidak terlalu panas, suasana tenang, angin sepoi-sepoi dan tanda alam  lainnya yang mendamaikan.

 

Menurut saya, hal itu tidak menjadi patokan. Saya lebih sepakat dengan cara Lailatul Qodar itu pasti terjadi. Tugas kita hanya memantaskan untuk bisa masuk dalam Lailatul Qodar dengan cara berbuat baik/kebajikan, sehingga Malaikat akan turun mencatat amal kita.

 

Bersambung

 

Semarang, 1 Juni 2018

 

 

 

 

Masjid Sebagai Sarana Belajar Bersosial

Masjid Sebagai Sarana Belajar Bersosial

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ramadhan adalah momentum tepat untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Bersosialisasi di bulan Ramadhan. Banyak ibadah yang sifatnya sosial seperti sholat fardu berjamaah di masjid. Ada juga, sholat sunah tarawih dan witir. Selain itu, kajian dan tadarus.

 

Kegiatan itu semua dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat. Kurang lebih itulah yang saya rasakan. Ramadhan menjadikan kegiatan untuk mempererat hubungan sosial bermasyarakat melalui masjid. Alhamdulillah, saya dapat kepercayaan untuk menjadi imam sholat subuh, tarawih, dan tadarus sore. Kegiatan ini saya lakukan dengan santai dan dinikmati saja. Jalani apa adanya. Hal yang terpenting adalah menjaga amanah (kepercayaan) dari masyarakat.

 

Saya berkomitmen sekali dengan hal itu. Di usia ke-34 tahu ini, saya ingin berlajar dari tokoh teladan terbaik ini yaitu Nabi Muhammad SAW bahwa di usia 35 tahun ia sudah terjun ke masyarakat. Ia turun tangan dalam peristiwa peletakan Hajar Aswad. Padahal, usianya masih mudah yaitu 35 tahun.

 

Dari inilah, saya ingin belajar bermasyarakat di usia 30 tahunan. Saya yakin sekali, jika kita berbaik kepada orang lain, maka orang itu juga akan baik kepada kita. Sudah saatnya untuk terjun ke masyarakat. Menjaga amanah melalui kegiatan-kegiatan di masjid pada bulan Ramadhan sebagai bentuk ibadah pula.

 

Saya senang bisa melakukan ini. Tujuannya semata-mata lillahi ta’ala saja. Bukan, karena manusia atau kepentingan tertentu.

 

 

Semarang, 31 Mei 2018

Previous Older Entries