PROPOSAL PEMBANGUNAN GEDUNG MADRSAH DINIYAH “AQIDATUL AWAM” (SEKOLAH ARAB)

WhatsApp Image 2019-01-08 at 21.23.55.jpeg

PROPOSAL

PEMBANGUNAN GEDUNG

MADRASAH DINIYAH “AQIDATUL AWAM

KOMPLEKS MASJID NURUL IMAN, SEKARAN, GUNUNGPATI, SEMARANG

 

PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan kemajuan jaman kita akan menghadapi persaingan pemahaman  dalam  beribadah  pemahaman yang mendalam tentang ilmu agama sangatlah dibutuhkan, Rosululloh shollallohu’alaihi wasalam  bersabda :

 

“Barang siapa yang diinginkan menjadi baik oleh Alloh maka akan pahamkan dia dalam urusan agama “. (HR. Bukhori ).

 Terlebih lagi pada masa sekarang ini, ketika kebodohan dan kemungkaran merajalela dimana-mana, maka tidak ada jalan lain untuk menaggulanginya kecuali dengan ilmu serta amar ma’ruf dan nahi mungkar. Meskipun, pada saat problematika umat ternyata beragam pemikiran dan metoda dakwah yang ada-kecuali yang dirahmati Alloh, justru semakin mengacaukan arah perjuangan kaum muslimin. Oleh karena itu, penyeru kebaikan yang berbekal ilmu yang benar dan akhlak yang luhur adalah sebuah keniscayaan. “Rosululloh shollallohu’alaihi wasalam diperintahkan oleh Alloh untuk menyerukan :

 “Inilah jalanku : Aku bersama orang-orang yang mengikuti-Ku berdakwah kepada (agama) Alloh di atas landasan ilmu….” (QS. Yusuf : 108 )

Di samping itu, dakwah juga sangat memerlukan keluhuran akhlak. Sampai-sampai Rosululloh shollallohu’alaihi wasalam bersabda :

“Sesungguhnya kelemah lembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan dia akan menjadikannya indah dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan hal itu pasti akan menghancurkannya”. (HR. Muslim)

 Lokasi di kompleks masjid Nurul Iman, perumahan Gang Pete Selatan II merupakan salah satu bagian dari kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang yang memiliki potensi sumber daya generasi muda yang baik. Karena terdapat banyak anak-anak kecil dan yang beranjak remaja dengan latar belakang kelarga yang sebagai pedagang, petani, wirasusta, guru dan dosen dimana memiliki agama yang baik pula dan juga masjid yang memadai. Namun masyarakat yang ada di lingkungan tesebut masih kurang dalam mengelola tempat yang mampu memberikan pendidak untuk memberdayaan lingkungan khususnya bagi generasi muda dalam pendalaman nilai dan pembelajaran tentang keislaman.

Berbagai permasalahan tersebut perlu adanya “sentuhan” tangan-tangan peduli agar bias segera diatasi. Madrasah diniah atau tempat mengaji bagi generasi muda di berbagai daerah membuktikan bahwa madrasah mampu menjadi solusi terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan, khususnya masalah pendidikan dan pemberdayaan ummat khususnya bagi generasi muda penerus dan kader dakwah agama islam. Beberapa madrasah atau tempat mengaji seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang sudah besar dan sukses dalam membina ummat dan bahkan memberikan pembaharuan dalam diri individu maupun masyarakan dalam memajukan dan menghidupkan ummat islam yang rahmatan lilalamin. Keberhasilan itu, tentu tidak terlepas dari kualitas program dan kesungguhan para pengurusnya dalam merealisasikan program-program itu, serta komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dilingkunagn masyarakan ini.

Untuk itulah, kami bergerak dan terpacu untuk turut serta ambil bagian dalam kerja besar membangun ummat dengan membangun madrasah. Sampai saat ini kondisi Madrasah Diniyah Aqidatul Awam masih kurang memadahi karena bertempat menjadi satu atap dengan masjid, padahal jumlah santri kian hari kian bertambah. Oleh karena itu, kami bermaksut akan membangun gedung madrasah diniyah guna kelancaran dan kesuksesan program pembelajaran.

TUJUAN

Pengajuan proposal pembangunan madrasah ini, bertujuan untuk :

  1. Mengumpulkan dana untuk pembangunan gedung madrasah diniah Aqidatul Awan.
  2. Dengan membangun sebuah Madrasah Diniyah adalah sebagai upaya pengembangan dan kaderisasi Sumber Daya Manusia yang beraqidah benar, berakhlak mulia dan memiliki pemahaman yang lurus menuju tertib hidup beragama di bawah naungan dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala.
  3. Dengan dibangunnya sebuah Madrasah Diniyah Aqidatul Awan untuk mencetak generasi islam yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan iman ketaqwaan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah yang di ajarkan oleh nabi Muhammad Saw.
  4. Menyediakan sarana prasarana yang memadai bagi peserta didik/santri guna mendukung proses belajar mengajar.
  5. Menambah semangat belajar santri dalam menuntut ilmu.

LOKASI PEMBANGUNAN

Adapun lokasi pembangunan Madrasah Diniyah “Aqidatul Awan” adalah di atas tanah wakaf sebelah timur masjid Nurul Iman tepatnya Jl. Pete Selatan RT 02/ RW 01 kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang. Nomor HP 08179599354 (Agung) dan 085369093430 (Belardo).

 

ANGGARAN BIAYA

Jumlah biaya yang diperlukan untuk pembangunan madrasah ini diperkirakan sebesar Rp. 155.257.979,40 (seratus lima puluh lima juta dua ratus lima puluh tujuh ribu Sembilan ratus tuju puluh sembilan rupiah). Dana pembangunan madrasah akan dikumpulkan melalui swadaya kaum muslimin di sekitar madrasah dan sumbangan donatur. Para pemberi sumbangan atau infaq dapat perorangan atau lembaga. Untuk para donatur dapat di sampaikan langsung melalui tranfer atau kirim langsung ke Bank BRI dengan No. Rek 1270 01 000530 534 atas nama Rina Monika.

Dengan niat yang iklas dan sungguh-sungguh serta semangat yang tinggi, diharapkan dana dan bahan bangunan akan terkumpul secara bertahap.

 

PENUTUP

Untuk mewujudkan maksut tersebut, serta sinergitas keberadaan Madrasah Diniyah Aqidatul Awan di tengah- tengah masyarakat, seyogyanya image masyarakat agamis menjadi pilihan pertama dan utama.

Berdasarkan apa yang telah kami uraikan di atas, maka kami mengetuk hati para Dermawan untuk ikut andil dalam pembangunan Madrasah Diniyah yang kami cita-citakan sebagai wadah pembinaan putera-puteri kita di masa yang akan dating sehingga terciptanyagenerasi robbany sebagai insan-insan yang berilmu, beramal berdakwah dan bersabar. Salah satu bentuk partisipasi yang kami harapkan adalah penyaluran kelebihan harta, berupa dana, zakat, infaq atau shodaqoh, yang dapat disampaikan pada panitia pembangunan Madrasah Diniyah “Aqidatul Awan”.

 

“Dan apa yang kamu infaqkkan maka Dia akan menggantikannya.”             (QS. An Nisa : 39 ) “ perumpamaan orang yang menginfakkan  hartanya di jalan Alloh adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh batang, dan dari tiap-tiap batang mengahasilkan seratus benih. Alloh melipat gandakan balasan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan Alloh Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261)

 

Demikian, proposal ini kami buat untuk diajukan pada para muhsinin (Donatur) sebagai bentuk ta’awun ‘alal birri wat taqwa sebagai salah satu jalan untuk meraih ridho-Nya.

 

 

 

Tetap Semangat

Tetap Semangat
Oleh Agung Kuswantoro

IMG20190318162425.jpg

Pembelajaran semester II, kurang satu bulan lagi. Alhamdulillah, kami selalu mejaga semangat untuk berbagi mengaji.

Mengatur waktu antara kerja, kuliah, dan mengajar di Madrasah bukanlah hal yang mudah. Kami harus mengatur secara profesional terkait pembelajaran.

Dalam pembelajaran, kami tidak asal. Semua dengan perencanaan. Materi bisa tersampaikan, jika ada guru/ustad yang kompeten. Tiap beberapa bulan sekali, kami mengadakan evaluasi terkait pembelajaran.

Sore tadi, setelah hujan, kami belajar ngaji bersama dengan para santri. Terlihat, ustadah Nisa sedang mengkaji huruf “Za”. Zazizubaz zuzam minal muzni mazizam zaniza.

Ustad Belardo belajar bersama mengenai mahroj huruf “kaf” dan praktik secara langsung pada surat Almaun dengan juz amma berwarna/bertajwid.

Sedangkan ustadah Lu’lu’ mengenalkan huruf dengan kartu. Ada pula, santri yang mewarnai huruf Hijaiyyah.

Alhamdulillah, apa pun kondisinya kami masih bisa menjaga istiqomah untuk mengaji. Hasilnya, walaupun hujan, para santri tetap mengaji.

Saya menanyakan kepada santri mengenai pembelajaran di Madrasah. Alhamdulillah mereka menikmati/senang.

Raihan, santri kelas D mengatakan materi yang di Madrasah lebih detail dibanding di sekolah, seperti kajian tajwid. Ada hukum bilagunnah. Sedangkan di Sekolah tidak ada materi itu.

Beda pula dengan komentar Nanda, ia mengatakan bahwa mengaji disini bisa mengenal banyak teman dan materi mudah dipahami. Awalnya, ia belum memahami mengatakan huruf ‘ain. Sekaang, ia sudah bisa membedakan antara alif dan ‘ain.

Demikianlah, cerita sore bercuaca mendung. Alhamdulillah, masih mendengar ayat-ayat Alqur’an dikumandangkan di Masjid ini. Waallahu’alam.

Semarang, 10 Rajab 1440

Mujizat Alqur’an (3)

Mujizat Alqur’an (3)
Oleh Agung Kuswantoro

Mujizat turun sesuai dengan kondisi masyarakat waktu itu. Masyarakat Nabi Musa terkenal dengan sihirnya. Sehingga, ia mendapatkan mujizat berupa tongkat berubah menjadi ular.

Umat nabi Ibrohim terkenal dengan penyembah berhala. Sehingga, Nabi Ibrohim dibakar dengan api tidak ‘mempan’.

Selain mujizat turun sesuai dengan umatnya, mujizat juga sebagai pembuktian akan kenabian. Oleh karenanya, muzijat turun sekaligus menyakinkan akan sebuah kenabian. Karena, mereka/orang musyrik meragukan akan kenabian dari suatu nabi. Wallahu ‘alam.

Semarang, 11 Rojab 1440

Mendoakan

Mendoakan
Oleh Agung Kuswantoro

Jumat (15 Maret 2019) di masjid Al Noor dan masjid Lindwood terjadi penembakan yang membabi buta. Kita sholat Jumat di masjid ini (Nurul Iman), Alhamdulillah berjalan lancar.

Namun, saudara kita di New Zealand (kedua masjid) ada yang meninggal dunia berjumlah 49 orang. Mereka meninggal ditembak saat sholat Jumat.

Sebagai bentuk saudara muslim, kita hendaknya mendoakan agar jenazah diterima oleh Allah. Insyallah, mereka mati syahid. Tak cukup berdoa, sholat ghoiblah. Biar meresakan apa yang dirasakan olehnya. Terlebih, keluarga yang ditinggalkannya.

Mari, jaga kesatuan sesama muslim. Ramaikan masjid untuk beribadah. Di luar negeri, mau sholat saja merasa was-was. Kita seharusnya, lebih giat pergi ke Masjid.

Jaga persatuan. Jangan sampai, beda ‘pilihan’ atau beda pendapat menjadikan ‘malas’ pergi ke Masjid. Malu, dengan suadara kita yang disana mau beribadah saja, merasa ketakutan. Waallahu ‘alam.

Semarang, 10 Rojab 1440

Mengecek

Mengecek
Oleh Agung Kuswantoro

Alhamdulillah, kita sudah memasuki tanggal 9 Rojab. Kurang 51 hari lagi menuju Ramadhan.

Mari, kita mengecek persiapan batin kita. Ada beberapa pertanyaan seperti berikut:

“Apakah puasa tahun kemarin terlaksana semua?”Jika tidak, sudahkah kita mengqodho/menggantikan dihari lain?”.

Ingatkan istri, saudara perempuan kita terkait hal itu. Karena, mereka ada fase khaid. Dimana, ada “tamu” tiap bulannya.

Lalu, bisa juga saudara laki-laki atau siapa pun yang pernah tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan sakit atau dalam perjalanan.

Mumpung masih ada waktu untuk mengqodho puasa. Tujuannya agar kita pantas masuk bulan Ramadhan. Waallahu ‘alam.

Semarang, 9 Rojab 1440

Mujizat Alqur’an (2)

Mukjizat Alqur’an (2)
Oleh Agung Kuswantoro

Menurut Shihab (2014:27) kata mukjizat berasal dari kata a’jaza yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelaku yang melemahkan disebut mu’jiz. Sedangkan, kemampuan melemahkan pihak lain sehingga mampu membungkam lawan disebut mu’jizat. Ada tambahan huruf ta marbutoh pada akhir kata, yang berarti bermakna mubalaghoh (superlatif).

Menurut KBBI mujizat diartikan kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan untuk akal manusia.

Para pakar mengatakan mujizat bertujuan untuk membuktikan kenabian. Berarti ada yang meragukan kenabiannya, sehingga turunlah mujizat. Wallahu ‘alam.

Semarang, 9 Rojab 1440

Mukjizat Alqur’an (1)

Mukjizat Alqur’an (1)
Oleh Agung Kuswantoro

Khusus bab iman kepada kitab Allah, ada yang perlu kami bahas lebih mendalam pada kitab yang bernama Alqur’an.

Fokus kajian mengenai Alqur’an adalah kemukjizatannya.

Kita mengetahui bahwa Alqur’an adalah diantara sekian mukjizat yang diterima oleh Nabi Muhammad. Satu-satunya mukjizat yang bersifat nonfisik.

Kebanyakan mukjizat bersifat fisik. Seperti, Nabi Ibrohim dibakar api tidak ‘mempan’, tongkat nabi Musa bisa berubah menjadi ular, kapal besar Nabi Nuh, dan mukjizat lainnya.

Jadi, bisa dikatakan mukjizat yang berupa tulisan atau buku/kitab adalah Alqur’an. Hingga, sekarang umatnya masih bisa merasakan mukjizat Nabi Muhammad. Dengan catatan, bagi yang membacanya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 7 Rojab 1440

Previous Older Entries