LANDASAN PSIKOLOGIS


Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasn yang penting. Pada umumnya landasan psikologis dari pendidikan tersebut tertuju pada pemahamna manusia, khususnya tentang proses perkembangan dan proses belajar.

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri.

Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Jiwa balita baru berkembang sedikit sekali sejajar dengan tubuhnya yang juga masih berkemampuan sederhana sekali. Makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap – tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani. silakan diklik

A.                            PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan – pendakatan yang dimaksud adalah ( Nana Syaodih, 1998 ) :

a.          Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan – tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri – ciri khusus yang berbeda dengan ciri – ciri tahap – tahap yang lain.

b.         Pendekatan diferensial. Pendekatan ini memandang individu – individu itu memiliki kesamaan – kesamaan dan perbedaan – perbedaan. Atas dasar ini lalu orang membuat kelompok – kelompok. Anak – anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, agama, status sosial ekonomi, dan sebagainya.

c.          Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual.  Melihat perkembangan seseoarang secara individual.

Menurut Crijns (tt.) periode atau tahap perkembangan manusia secara umum adalah sebagai berikut.

1)            Umur 0 – 2 tahun disebut masa bayi

2)            Umur 2 – 4 tahun disebut masa kanak – kanak

3)            Umur 5 – 8 tahun disebut masa dongeng

4)            Umur 9 – 13 tahun disebut masa Robinson Crosoe ( nama seorang petualang )

5)            Umur 13 tahun disebut masa pubertas pendahuluan

6)            Umur 14 – 18 tahun disebut masa puber

7)            Umur 19 – 21 tahun disebut masa adolesen

8)            Umur 21 keatas disebut masa dewasa

Robert Havighurst (1953) membagi perkembangan individu menjadi empat tahap, yaitu masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun), masa kanak-kanak (6-12 tahun), masa remaja atau adoselen (12-18 tahun), dan masa dewasa (18 -…tahun). Selain itu, Havighurst mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan (development task) yang harus diselesaikan pada setiap tahap perkembangan sebagai berikut:

a.       Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-kanak kecil (0-6 tahun):

Tugas perkembangan masa bayi dan kanak-kanaak kecil yaitu belajar berjalan, belajar makan makanan yang padat, belajar berbicara/berkata-kata, belajar mengontrol pembuangan kotoran tubuh, belajar tentang perbedaan kelamin dan kesopanan / kelakuan yang sesuai dengan  jenis kelaminnya,, mencapai stabilitas fisiologis/ jasmaniah,Pembentukan konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan kenyataan fisik, belajar berhubungan diri secara emosional dengan orang tua saudara -saudaranya, dan orang lain, belajar membedakan yang benar dan yang salah dan pengembangan kesadaran diri / kata hati

b.      Tugas perkembangan Masa-masa kanak-kanak (6-12 tahun):

Tugas perkembangan masa-masa kanak-kanak yaitu belajar keterampilan fisik yang perlu untuk permainan sehari-hari, pembentukan kesatuan sikap terhadap dirinya sebagai suatu organisme yang tumbuh, belajar bermain dengan teman-teman mainnya, belajar memahami peranan-peranan kepriaan atau kewanitaan, pengembangan kemahiran dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung, pengembangn konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari, pengembangn kesadaran diri moralitas, dan suatu skala nilai-nilai, penembangn kebebasan pribadi, pengembangan sikap-sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga.

c.       Tugas perkembangan masa Remaja / adoselen (12-18 tahun) :

Tugas perkembangan masa Remaja / adoselen (12-18 tahun) yaitu mencapai peranan sosial dan hubungan yang lebih matang sebagai laki-laki / perempuan serta kebebasan emosional dari orang tua, memperoleh jaminan kebebasan ekonomi dengan memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan, mempersiapkan diri untuk berkeluarga, mengembangkan kecakapan intelektual serta tingkah laku yang bertanggungjawab dalam masyarakat.

d.      Tugas perkembangan pada masa Dewasa (18-…)

1.   Masa dewasa awal:

Tugas masa dewasa awal yaitu memilih pasangan hidup dan belajar hidup bersama, memulai berkeluarga, mulai menduduki suatu jabatan/pekerjaan

2.   Masa dewasa tengah umur:

Tugas masa dewasa tengah umur yaitu mencapai tanggung jawab sosial dan warga negara yang dewasa, membantu anak belasan tahun menjadi dewasa, menghubungkan diri sendiri kepada suami/isteri sebagai suatu pribadi, menyesuaikan diri kepada orang tua yang semakin tua.

e.       Tugas perkembangan usia lanjut :

Tugas perkembangan usia lanjut yaitu menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani, menyesuaikan diri pada saat pensiun dan pendapatan yang semakin berkurang, dan menyesuaikan diri terhadap kematian,terutama banyak beribadah.

Tugas – tugas yang harus dijalankan atau diselesaikan oleh setiap indvidu sepanjang hidupnya seperti tertera di atas, membari kemudahan kepada para pendidik pada setiap jenjang dan tingkat pendidikan untuk:

1)      Menentukan arah pendidikan

2)      Menentukan metode atau belajar anak – anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas perkembangannya.

3)      Menyiapkan materi pelajaran yang tepat.

4)      Menyiapkan pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu.

B.                             PSIKOLOGI BELAJAR

Teori Belajar dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

  1. Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme berasumsi bahwa hasil dari sebuah pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dengan faktor penentunya adalah penguatan atau dorongan dari luar. Teori behaviorisme memiliki komponen yang terdiri dari rangsangan (stimulation), tanggapan (response), dan akibat (consequence). Tokoh teori ini adalah B.F.Skinner

Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut :

1)      Perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat tahapan dan dalam pelaksanaannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan

2)      Motivasi belajar berasal dari luar (external) dan harus terus menerus dilakukan agar motivasi tetap terjaga

3)      Metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan disiplin ilmu tertentu

4)      Tujuan kurikuler berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku sosial

5)      Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai.

6)      Untuk mengefektifkan belajar maka dilakukan dengan cara menyusun program secara rinci dan bertingkat sesuai serta mengutamakan penguasaan bahan atau keterampilan

7)      Peserta didik cenderung pasif

8)      Kegiatan peserta didik diarahkan pada pemahiran keterampilan melalui pembiasaan setahap demi setahap demi setahap secara rinci

  1. Kognitif

Teor belajar kognitif berasumsi bahwa belajar adlah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi dikarenakan setiap individu memiliki kemampuan untuk memproses informasi sesuai faktor kognitif berdasarkan tahapan usianya sehingga hasil belajar adalah perubahan struktur kognitif yang ada pada individu tersebut. Tokoh teori ini adalah Jerome Bruner.

Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut :

1)      Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik.

2)      Motivasi berasal dari dalam diri individu (intrinsik) yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik.

3)      Tujuan kurikuler difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik dengan interaksi sosial berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan

4)      Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik dengan guru sebagai fasillitator

5)      Mengefektifkan mengajar dengan cara mengutamakan program pendidikan yang berupa pengetahuan-pengetahuan terpadu secara hierarkis

6)      Partisipasi peserta didik sangat dominan guna meningkatkan sisi kognitif peserta didik

7)      Kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar untuk memahami dengan cara insight learning

8)      Tujuan umum dalam pendidikan adalah untuk mengembangkan sisi kognitif secara optimal dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara bijaksanan

  1. Humanisme

Teori belajar humanisme berasumsi bahwa belajar adalah fungsi seluruh kepribadian suatu individu dikarenakan suatu individu merupakan pribadi utuh yang mempunyai kebebasan memilih untuk menentukan kehidupannya, juga memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu, juga memiliki keinginan untuk bereksplorasi dan mengasimilasi pengalaman-pengalamannya. Tokoh teori ini adalah Carl Rogers

Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut :

1)      Perlakuan terhadap individu didasarkan akan kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik

2)      Motivasi belajar berasal dari dalam diri (intrinsik) karena adanya keinginan untuk mengetahui

3)      Metode belajar menggunakan metode pendekatan terpadu dengan menekankan kepada ilmu-ilmu sosial

4)      Tujuan kurikuler mengutamakan pada perkembangandari segi sosial, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan individu dan orang lain

5)      Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik yang mempunyai kebebasan memilih dan guru hanya berperan untuk membantu

6)      Untuk mengefektifkan mengajar maka pengajaran disusun dalam bentuk topik-topik terpadu berdasarkan pada kebutuhan peserta didik

7)      Partisipasi peserta didik sangat dominan

8)      Kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar melalui pemahaman dan pengertian bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan

9)      Tujuan umum pendidikan adalah untuk memaksimalkan kemampuan diri dan pemahaman

C.                            PSIKOLOGI SOSIAL

Psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengombinasikan ciri – ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antarindividu ( Hallonder, 1981 ).

Kecenderungan manusia untuk bersahabat sudah dimulai sejak permulaan dia hidup yaitu sejak masih bayi. Hampir semua bayi merespon secara positif  terhadap satu atau lebih orang dewasa. Lebih lanjut hampir semua orang tua kasih terhadap anak – anaknya, mereka selalu ingin dekat dengan anak – anaknya. Karena itu anak juga semakin dekat dengan orang tuanya. Inilah yang membuat terjadinya persahabatan atau keakraban.

Berkembangnya kasih saying ini disebabkan oleh dua hal yaitu, ( freedman, 1981 )

1.      Karena pembawaan atau genetika. Pembawaan kasih sayang ini sebagai perangkat yang penting untuk mempertahankan hidup sang bayi.

2.      Karena belajar. Mereka belajar semua aturan berperilaku. Anak – anak cinta pada orang tua, sebab orang tua memberi makan, memberi kehangatan. Sebaliknya orang tua cinta kepada anak sebab anak memberikan kebahagiaan orang tua.

Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memiliki tiga kunci utama, yaitu :

1.         Kepribadian orang itu. Mungkin kita telah pernah mendengar tentang orang itu sebelumnya, atau cerita – cerita yang mirip dengan orang itu, terutama tentang kepribadiannya.

2.         Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu setelah berhadapan, maka kita hubungkan dengan cerita – cerita yang pernah didengar.

3.         Latar belakang situasi. Kedua data di atas kemudian dikaitkan dengan situasi pada waktu itu. Maka dari kombinasi ketiga data ini akan keluarlah kesan pertama tentang orang itu.

Motivasi juga merupakan satu aspek psikologi sosial, sebab tanpa motivasi tentu seseoarang akan sulit berpartisipasi di masyarakat. Sehubungan dengan hal ini, pendidik punya kewajiban untuk menggali motivasi anak – anak agar muncul sehingga mereka dengan senang hati belajar disekolah. Menurut Klinger ( Savage, 1991 ) faktor – faktor yang menentukan motivasi adalah:

1.         Minat dan Kebutuhan individu. Bila minat dan kebutuhan jasmani, roahani, dan sosial anak – anak dipenuhi, maka motivasi belajarnya akan muncul.

2.         Persepsi kesulitan akan tugas – tugas. Bila anak memandang akan kesulitan pelajaran tidak telalu berat, melainkan cukup menantang, maka motivasi belajar merekapun akan muncul.

3.         Harapan sukses. Harapan ini pada umumnya muncul karena anak itu sering sukses. Agar anak – anak bodoh punya juga kesempatan seperti ini, ada baiknya kalau materi pelajaran dibuat bertingkat dan model evaluasi bersifat individual.

Kepemimpinan juga dibutuhkan dalam pendidikan, baik di kalangan para pendidik, dikalangan anak – anak, maupun dalam proses pendidikan itu sendiri. Sebab tanpa kepemimpinan yang baik, segala kegiatan pendidikan tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan lancar. Dalam proses belajar mengajar misalnya, guru adalah pemimpin kelas dan beberapa anak juga menjadi pemimpin kelompok belajar masing – masing. Dapat dipahami bahwa baik buruknya proses belajar, banyak ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Di sini juga terkandung makna bahwa tugas guru untuk membina anak – anak agar menjadi pemimpin – pemimpin yang baik.

Daftar Pustaka

Anni, Catharina, Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang : Unnes Press.

Bayu, Aditya, dkk. 2009. Landasan Psikologis Pendidikan. Bandung : Makalah UPI Bandung.

Desmita, El Idhani. 2005. Psikologi Perkembangan Bandung Rosdakarya.

Made Pidarta, 2000. Landasan kependidikan : Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.

Umar, Tirtarahardja, dan La Sulo. 1994. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Dikti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: