Siami dan Abu Bakar

Abdullah bin Abi Quhafah atau yang lebih mashur dengan nama Abu Bakar adalah mertua Nabi Muhammad dan orang yang menyakini akan kebenaran peristiwa Isro Miroj yaitu perjalanan malam dari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso dan dilanjutkan ke Arsy dan kembali lagi ke bumi dalam waktu yang singkat sehingga beliau diberi gelar Assadiq (jujur), Sedangkan Siami adalah seorang Ibu dari Alifah yang melaporkan kasus anaknya terhadap guru di sekolahnya yang menyuruh anaknya memberikan contekan kepada teman-temannya. Karena kebenaran siami melapor, maka para tokoh-tokoh masyarakat, diantaranya Fahmi Idris, Todung Mulya Lubis, Yenny Wahid, Bambang Harry Mukti, Anies Baswedan, Imam Prasodjo, dan lainnya membentuk solidaritas Jujur itu Hebat.

Kedua tokoh kejujuran tersebut hidup di zamannya dan momentnya masing-masing. Abu Bakar dihadapkan dengan kaum Quraisy. Melalui keimanan beliau mengakui dan membenarkan secara hati kejadian Isro Miroj. Sedangkan Siami dihadapkan pada kekecewaan terhadap guru, Siami mendidik anaknya untuk menjadi orang baik, akan tetapi menjadi lebih kecewa ketika gurunya menyuruh untuk memberikan contekan. Alif sendiri mengecohkan dengan jawaban lain, sehingga dia berdusta lagi memberikan jawaban.

Ada beberapa pelajaran dari kedua tokoh tersebut. Pertama, kedua tokoh menegakkan kebenaran sesuai dengan perannya. Abu Bakar sebagai seorang muslim yang mengimani akan kenabian Muhammad, sedangkan Siami sebagai seoarang ibu yang mendidik anaknya. Kedua, kedua tokoh mengalami tekanan yang kuat dalam menegakan kebaikan. Abu Bakar dianggap orang gila karena telah membenarkan peristiwa yang di luar logika manusia, sedangkan Siami mendapatkan cemoohan dari masyarakat dan wali murid lainnya, bahkan diusir dari tempat tinggalnya di desa Gadel. Ketiga, kedua tokoh mengajarkan pada masyarakat bahwa jujur itu akan menghasilkan ketenangan batin dan pada saatnya akan ada suatu value yang diperoleh. Abu Bakar secara psikologi pada saat itu merasa tertekan dengan ucapan kaum Quraisy dan Siami merasa terkucilkan dari tetangganya. Akan tetapi melalui kedua tokoh tersebut merasakan ketenangan batin karena merasa telah menyampaian sesuatu yang dibenarkan. Sehingga seiring berjalannya waktu buah/ pelajaran dari kejujuran adalah menjadikan semua orang muslim di dunia mengetahui akan Isro Miroj. Guru, teman Alif, masyarakat Gadel pun berduyun-duyun menjemput Siami dari Gresik ke Gadel. Meskipun pada awalnya kedua tokoh mengalami kepahitan dalam menjalaninya.

Banyak masyarakat lebih mudah berbicara daripada mendengar. Sungguh ironis di Negara yang secara kuantitatif Islam terbanyak di dunia, akan tetapi berbanding terbalik dengan kualitas akan kemuslimannya. Sehingga tidaklah heran berdasarkan survai dari World Justice Project menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat empat Negara terkorup dan menjurai korupsi Asia Tenggara tertinggi dengan skor 0,46 tepat di atasnya Vietnam dengan skor 0,50. Sedangkan Negara terbersih dari korupsi di Asia Tenggara tetap dipegang oleh Singapura dengan skor 0,91.

Jujur itu sebagai wujud keimanan. Hal ini menunjukkan perlu adanya action sebagai aplikasi dari Iman. Iman adalah tashdiqun bil jinan, iqrarun bil lisan wa amalun bil arkan  (sikap meyakini dan membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan raga). Contoh jujur adalah suatu perbuatan yang terpuji dan wajib dilakukan oleh semua orang. Tidak sekedar berkata jujur, akan tetapi perlu adanya real action dalam kehidupan sehari-hari mulai dari lini micro, mezo, dan macro pada semua kalangan sesuai dengan profesinya masing-masing tanpa adanya rasa takut pada manusia, kecuali pada Tuhannya.

Ada sebuah kalimat honesty and frankness make you vulnerable, maksudnya kejujuran dan keterus-terangan akan membuatmu hancur. Hal ini sangatlah nyata ketika orang belum memahami akan kejujuran. Walau begitu, tetaplah jujur dan terus terang. Jujur berkaitan dengan hati. Bahagialah bagi orang jujur. Tak ada lembaga pendidikan yang memberikan gelar Assidiq. Setinggi-tingginya gelar strata akademis seseorang jika tidak ada honesty area di hatinya, maka masyarakat pasti menolaknya.

Bukankah masyarakat haus dengan orang jujur? Mulailah jujur pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan Negara. Negara ini dibangun oleh orang-orang yang pamrih dan jujur. Jujur adalah nurani moral yang mendasar. Inilah saatnya kita jujur!

Penulis : Agung Kuswantoro, S.Pd (mantan aktivis Forum Studi Islam Unnes)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: