Pesimis itu Membunuh, Optiminslah!

Pesimis adalah memandang diri sendiri lemah, tidak mempunyai kemampuan, melihat sesuatu dalam dirinya itu hitam. Baginya, diri sendiri adalah bunga yang penuh duri. Orang pesimis itu selalu berwajah muram, dadanya sempit, tidak mempunyai mimpi, harapan, asa, jalan keluar, dan tidak pula memiliki jalan kemudahan.

Pesimis muncul karena ketidakpercayaan diri atau minder yang melekat pada sesorang. Tuhan menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia/ mubadir. Pasti memiliki kemanfaatan termasuk dalam diri manusia, bahwa sesungguhnya memiliki beragam potensi yang mungkin manusia sendiri tidak/ belum mengetahuinya.

Ini hanyalah sebuah cerita, bukan bermaksud untuk menyombongkan diri…na udu billahi min dalik. Cerita ini terjadi pada awal tahun 2002. Ketika itu, ada try out yang diselenggarakan di gedung serba guna, Pemalang Oleh IMPP (Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemalang). Saya mengikuti try out tersebut meskipun saya termasuk kakak kelas satu level dengan peserta lain. Hanya bermodal niat yang kuat dan belajar yang sungguh-sungguh tanpa mengikuti lembaga bimbingan, mengingat keterbatasan dana. Saya juga berburu soal dengan membeli buku-buku soal ujian masuk Perguruan Tinggi. Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada orang yang sudah diterima di Perguruan Tinggi untuk mengetahui trik-trik masuk di Perguruan Tinggi.

Pesimis yang saya rasakan pada saat itu adalah saya memiliki nama samaran yang pada LJK adalah sen seiya. Karena saya merasa tidak percaya diri dengan keadaan saya. Bahwa saya merasa adalah kakak kelas mereka, merasa lebih tua, merasa diriku adalah bukan bagian dari mereka. Bahkan dari hasil try out tersebut adalah saya termasuk peringkat kedua dari yang terbaik di antara peserta. Saya tidak berani memberanikan diri untuk maju ke depan untuk menerima hadiah dari panitia. Meskipun nama samara saya sen seiya beberapa kali disebut. Akhirnya saya merelakan hadiah tersebut.

Optimislah!

Manusia, ketika dihadapkan pada hal-hal sulit atau menemukan sebuah tantangan besar, maka ada dua pilihan yang harus dia ambil salah: maju menabrak dan menjawab tantangan tersebut atau mundur tanpa melakukan apa-apa. Jika dia memilih maju, maka ada dua kemungkinan yang bisa diraih, berhasil atau gagal. Tapi, jika dia memilih diam tanpa ada usaha dan tindakan nyata, maka kemungkinannya hanya satu, yaitu gagal. Dari ini, maka diperlukan pemupukan sikap optimis dalam menghadapi setiap tantangan dan membuang jauh-jauh sikap pesimis.

Melihat cerita di atas, optimis dalam diri saya sangat kecil. Padahal, saya memiliki kemampuan dengan hasil terbaik kedua dari peserta yang ada. Ketika dihadapkan dengan masalah tersebut saya lebih memilih maju dan meraih keberhasilan. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada presentasi lebih memilih mundur.

Optimis merupakan keyakinan diri dan merupakan salah satu sifat yang sangat ditekankan dalam Islam. Dengan sifat optimis seseorang akan bersemangat dalam menjalani hidup ini untuk menjadi lebih baik. Allah melarang dan tidak menyukai orang yang bersikap lemah dan pesimistis baik dalam bertindak, berusaha, maupun berpikir. Dalam al-Qur’an Allah berfirman (artinya): “Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kalianlah orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah,…” (HR an-Nasai dan al-Baihaqi)

Optimis berarti berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai target atau standar ideal. Adanya standar ideal dan visi-misi yang jelas bisa menjadi tolok ukur dan memperjelas arah tujuan kita, agar hidup tidak sekadar mengalir begitu saja. Dengan begitu kita bisa mengetahui di manakah posisi kita dalam standar tersebut, sehingga bisa terpacu untuk menjadi lebih baik.

Ada beberapa nilai dari cerita di atas. Pertama, bahwa pesimis itu adalah perbuatan yang membunuh kepercayaan diri untuk bertindak. Pesimis akan menghambat seseorang dalam mewujudkan impiannya. Kedua, optimislah dan yakinlah bahwa Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. Tidak ada suatu ciptaanNya yang sia-sia dalam diri manusia sehingga manusia harus mengoptimalkan potensi tersebut. Ketiga, optimis itu sebagai wujud bentuk keimanan seseorang untuk menghadirkan Tuhannya dalam segala keadaan, sedangkan pesimis sebagai wujud rapuhnya keimanan seseorang karena merasa kehilangan kekuatanNya.

Penulis : Agung Kuswantoro, S.Pd

Pekerjaan : Pengajar Pendidikan Administrasi Perkantoran FE Unnes.

 

Iklan

Perangkat Pembelajaran Aplikasi komputer

silabi dan satuan acara perkuliahan dan bahan ajar

Perangkat Pembelajaran Manajemen Perbekalan

silabi dan satuan acara perkuliahan manajemen perbekalan

perangkat pembelajaran Pengantar Ilmu Administrasi

silabi, bahan ajar, dan satuan acara perkuliahan

Tata Usaha Itu Unsur Administrasi

 

Ada sebuah kisah ketika dulu penulis mengurus perpanjangan KTP di kampung. Untuk mengurus hal tersebut, diawali dari membuat surat keterangan dari ketua RT yang telah ditandai oleh ketua RT, kemudian surat tersebut dibawa ke kantor kelurahan. Setelah urusan di kantor kelurahan selesai kemudian, saya membayar uang yang disebutkan oleh pegawai adalah uang administrasi yang biasanya diberi tempat khusus. Demikian juga ketika melegalisir ijasah, setelah kita selesai, maka kita dipungut biaya administrasi.

Dengan berbekal dari dua contoh di atas, maka pemahaman administrasi memiliki makna yang sempit. Secara bahasa administrasi berasal dari bahasa Belanda yaitu administratie yang mencakup mencakup gegeven (tata usaha), bestuur (manajemen dari kegiatan organisasi), dan beheer (manajemen dari sumber daya, finansial, manusia, bahan baku, dan lainnya). Sedangkan dalam bahasa Inggris berasal dari kata administration yang dimaknai to administer/ to manage (mengelola) dan to direct (mengarahkan). Dari kedua arti secara bahasa tersebut bahwa administrasi adalah kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, manusia, harta ke arah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi. Menurut Sutarto, administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan tehadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh kelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa, administrasi merupakan segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan-pekerjaan induk dan sumber-sumber kegiatan lainnya yang bermaksud mencapai tujuan apapun dalam usaha kerja sama dari sekelompok orang. Maka dalam administrasi ada empat pikiran pokok yaitu rangkaian kegiatan penataan, sekelompok orang, usaha kerja sama, dan tujuan tertentu yang dalam pelaksanaannya efesien. Efesien dimaknai dari segi yaitu hasil dan usaha. Segi hasil, jika usaha tertentu memberikan hasil yang maksimal. Maksimal mengenai mutu atau jumlah satuan hasil itu. Segi usaha, jika hasil tertentu tercapai dengan usaha yang minimal. Usaha tersebut berupa pikiran, tenaga, waktu, ruang, uang dan benda.

Unsur adalah bagian dari sesuatu kebulatan. Tidak adanya unsur bukan berarti suatu kejadian atau suatu akibat itu tidak ada. Akibat atau kejadian itu ada tetapi kurang sempurna. Faktor lebih luas daripada unsur sebab sekumpulan faktor-faktor itu selalu merupakan penyebab atau pendorong timbulnya sesuatu hal lain yang merupakan kebulatan. Diumpamakan baju yang terdiri dari benang, kain, penjahit, saku, kerah, lengan, dan kancing. Maka yang dikatakan faktor adalah benang, kain, dan penjahit, sedangkan unsur adalah saku, kerah, lengan, dan kancing. Tidak adanya saku, maka baju tersebut masih dapat dikatakan baju, namun tidak adanya benang, maka pasti baju itu tidak dapat dibuat. Unsur administrasi ada delapan yaitu organisasi, manajemen, komunikasi, informasi, personalia, financial, material, relasi public. Ada sedikit istilah yang berbedaan istilah menurut Miftah Thoha bahwa unsur administrasi salah satunya tata usaha, sebagai unsur informasi. Dari hal tersebut di atas, sangat jelas bahwa tata usaha termasuk dalam bagian unsur administrasi.

Dengan melihat pemahaman di atas, maka tata usaha sebagai bagian unsur administrasi. Administrasi memiliki arti yang luas, tak hanya dari segi tata usaha saja. Akan tetapi, jika melihat unsur administrasi cakupan sangat luas. Namun sebagian orang, memaknai bahwa administrasi adalah tata usaha. Padahal, Tata usaha merupakan segenap rangkaian aktivitas menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim dan menyimpan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam setiap usaha kerja sama. Dengan kata lain adalah tata usaha bagian dari unsur administrasi.

Ada tiga kegiatan penting dalam administrasi administer meliputi melayani, mentaati kebijakan yang telah ditentukan, administrare meliputi menyelenggarakan tata usaha untuk dipertanggungjawabkan aktivitasnya, dan administro meliputi memimpin, mengatur personil dalam rangka melakukan kegiatan organisasi yang dipimpin. Administator dalam masyarakat adalah pelaku yang harus melayani pada orang yang membutuhkan. Katakanlah, pejabat sebagai administrator yang harus melayani akan kebutuhan informasi berupa tantang manajemen, organisasi, komunikasi, kepegawaian, keuangan, perbekalan, hubungan masyarakat, dan tata usaha. Petugas pejabat di desa dan kota sebagai administator adalah melayani akan kebutuhan dari masyarakat.

Dengan demikian, pemahaman sebagian kalangan di masyarakat mengenai tata usaha sebagai administarasi perlu dimaknai bahwa tata usaha sebagai bagian unsur administrasi. Karena unsur administrasi meliputi manajemen, organisasi, komunikasi, kepegawaian, keuangan, perbekalan, hubungan masyarakat, dan tata usaha. Ketika seseorang belajar administrasi, maka orang tersebut akan belajar kedelapan unsur tersebut.

 

 

untuk lebih detailnya baca buku karangan saya Pengantar Ilmu Administrasi. Berikut kata pengantarnya

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kata itulah yang saya ucapkan saat selesai menulis buku ini, berharap pada ridho-Nya semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik saya di dunia serta bekal untuk di akhirat.

Administrasi, bukanlah tata usaha. Penekanan itu yang ingin saya sampaikan pada buku ini. Mengapa? Jika kita mengatakan administrasi itu tata usaha, maka kita termasuk kategori orang yang sempit dalam berpikir. Administrasi memiliki kajian yang luas, termasuk di dalamnya tata usaha. Tata usaha merupakan salah satu unsur administrasi.

Dalam buku ini mengkaji tentang seputar administrasi, filsafat administrasi, dan unsur-unsur administrasi seperti manajemen, organisasi, komunikasi, kepegawaian, keuangan, perbekalan, tata usaha, dan humas.

Melalui buku ini, penulis menuliskan gagasan-gagasan mengenai administrasi dan aplikasi di lapangan, serta mengkajinya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Istri, Lu’Lu’ Khakimah, S.Pd dan anak, Muhammad Fathul Mubin, sebagai bagian dari hidup penulis yang telah memberikan motivasi dan doanya kepada penulis.

Penulis sebagai manusia yang tak lepas dari kesalahan mengharapkan kritik dan saran mengenai isi buku  tersebut melalui e-mail atau HP, sebagaimana yang teretra di biodata penulis. Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

 

Semarang, 30 Maret 2015

Penulis,

 

 

Agung Kuswantoro, S.Pd, M.Pd

 

 cover PIA.jpg

Penulis : Agung Kuswantoro, S.Pd, M.Pd, Pengajar Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Unnes, email : agungbinmadik@gmail.com HP 08179599354

Keefektifan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Audio Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Stenografi Bahasa Indonesia

Kata Kunci : Pembelajaran, Media Audio, dan Hasil Belajar.

Pembelajaran Stenografi yang dilakukan sekarang ini, masih berpusat pada pengajar dan kurang melibatkan peranan mahasiswa secara aktif sehingga hasil belajar Stenografi yang diperoleh kurang optimal. Sedangkan pembelajaran adalah proses komunikasi antara pengajar dengan pembelajar. Salah satu untuk meningkatkan hasil belajar Stenografi yaitu mahasiswa diberi stimulus malalui media audio dalam pembelajaran sehingga menambah perhatian dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut permasalahan yang muncul yaitu apakah pembelajaran dengan menggunakan media audio lebih efektif dibanding dengan pembelajaran tidak menggunakan media audio sehingga hasil belajar mata kuliah Stenografi dapat meningkat?. Tujuan penelitian adalah mengetahui keefektifan pembelajaran dengan menggunakan media audio untuk meningkatkan hasil belajar Stenografi.

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran semester empat. Penelitian ini menggunakan populasi sebagai sampel karena termasuk dalam penelitian populasi. Variabel dalam penelitian adalah hasil belajar Stenografi. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, dan teknik eksperimen. Sedangkan alat pengambilan data dengan menggunakan tes. Dalam penelitian ini ada dua analisis yaitu analisis tahap awal dan analisis tahap akhir. Analisis tahap awal untuk memadankan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan menggunakan uji normalitas, uji kesamaan dua varians, dan uji perbedaan dua rata-rata. Sedangkan analisis tahap akhir untuk menguji hipotesis dengan rumus uji t satu pihak kanan.

Analisis tahap awal menunjukkan bahwa kedua kelompok berawal dari keadaan yang sama. Oleh karena itu kedua kelompok tersebut dapat diberi perlakuan/treatment. Hasil penelitian pertama dan kedua pada soal surat dan wacana mengalami kenaikan rata-rata hasil belajar. Rata-rata hasil belajar pada penelitian pertama kelompok eksperimen untuk soal wacana lebih baik dibanding soal surat. Berdasarkan penelitian pertama soal surat diperoleh rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 79,33 dan 65,67 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata sebesar 5,207 dengan taraf signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka ada perbedaan dua rata-rata hasil belajar Stenografi di antara kedua kelompok tersebut. Sedangkan untuk soal wacana rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 79,93 dan 64,73 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh 6,824 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka ada perbedaan dua rata-rata hasil belajar Stenografi di antara dua kelompok tersebut.

Penelitian kedua soal surat diperoleh rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 81,80 dan 68,60 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata sebesar 6,148 dengan taraf signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka ada perbedaan dua rata-rata hasil belajar di antara dua kelompok tersebut. Sedangkan pada penelitian kedua soal wacana rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 81,93 dan 67,33 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh 6,361 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka ada perbedaan dua rata-rata hasil belajar Stenografi di antara kedua kelompok tersebut.

Berdasarkan penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio lebih efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar Stenografi dibanding tidak menggunakan media audio. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajar Stenografi untuk menerapkan media audio dalam pembelajaran. Selain itu sebagai masukan bagi Program Studi Administrasi Perkantoran untuk meningkatkan kualitas mahamahasiswa Administrasi Perkantoran supaya lebih terampil dalam menulis Stenografi dengan media audio.

PERANAN DIGITAL AUTOMATIC FILLING CABINET (DAFC) DALAM PENEMUAN ARSIP PADA PEMBELAJARAN PRAKTEK KEARSIPAN

Salah satu sumber informasi penting yang dapat menunjang proses kegiatan administrasi maupun birokrasi adalah arsip (record). Sebagai rekaman informasi dari seluruh aktivitas badan korporasi, arsip berfungsi sebagai pusat ingatan, alat bantu pengambilan keputusan, bukti eksistensi organisasi dan untuk kepentingan organisai  yang lain. Berdasarkan fungsi arsip yang sangat penting tersebut maka  harus ada menajeman atau pengelolaan arsip  yang baik sejak penciptaan  sampai dengan penyusutan.

Petugas arsip (staff) dalam suatu organisasi memegang peranan sangat penting bagi kegiatan perkantoran. Karena arsip mengandung informasi yang penting bagi keberlangsungan hidup organisasi, terutaman dalam membuat suatu kebijakan, maka kearsipan perlu mendapat perhatian, keamanan dan keutuhan isi arsip dinamis karena arsip dinamis asli yang rusak tidak dapat diperbaiki. Harga arsip dinamis tidak dapat dihitung dengan uang. Misalnya kontrak dagang, tagihan, rencana strategis, atau daftar gaji yang hilang atau musnah akan mengakibatkan tidak teraturnya organisasi tersebut, dimana arsip dinamis ini dapat diklasifikasikan salah satunya menjadi arsip dinamis vital.

Dalam pembelajaran kearsipan yang selama ini digunakan adalah system penyimpanan arsip yang masih manual, yaitu dengan system kartu kendali yang disimpan melalui filling cabinet. Di mana control dalam penyimpanan arsip masih lemah.  Sehingga apabila mahasiswa diminta mencari kembali arsip yang telah disimpan, membutuhkan waktu yang lama. Apalagi kalau jumlah arsip yang disimpan semakin banyak. Padahal penilaian dari mata kuliah praktek kearsipan adalah terampil dalam menemukan arsip dalam waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu waktu berperan sangat penting.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar : Filling Cabinet yang masih diberi tempelan tulisan kode agar memudahkan penyimpan dan pencarian kembali arsip

Oleh karena itu perlu terobosan baru melalui pembelajaran yang menggunakan kemajuan teknologi. Teknologi yang digunakan memberi sentuhan kepada Filling Cabinet  agar Active Records Staff   tidak memberi tempelan – tempelan kode yang berbentuk tulisan atau angka – angka, dan mempermudah Active Records Staff   untuk mengelola arsip yaitu bagaimana menyimpan dan mencarinya kembali dengan waktu yang secepatnya dari yang biasa. Digital Automatic Filling Cabinet  (DAFC) merupakan alat penyimpanan arsip terbaru dengan sistem digital automatic saat menyimpan dan mencari keberadaan arsip yang sudah di simpan. Dengan keberadaan Digital Automatic Filling Cabinet  (DAFC) para Active Records Staff   tidak perlu mengalami kesulitan saat menyimpan dan mencari keberadaan arsip yang telah disimpan dengan waktu lama dan memperindah ruangan kantor karena tidak ada lagi tempelan – tempelan kode yang berbentuk tulisan atau angka – angka yang menempel di laci – laci Filling Cabinet. Karena Digital Automatic Filling Cabinet  (DAFC) akan memandu dan menolong anda melalui suara otomatis saat melakukan penyimpanan arsip dan pencarian kembali arsip sesuai kode penyimpanan. Keberadaan Digital Automatic Filling Cabinet  (DAFC) akan mendukung kemampuan mahasiswa dalam praktek kearsipan. Dengan demikian melalui sentuhan teknologi pada filling cabinet yang disebut Digital Automatic Filling Cabinet  (DAFC) ini dapat diharapkan menjawab permasalahan pembelajaran praktek kearsipan dalam pengelolaan arsip pada active records staff .

Mata Kuliah praktek kearsipan merupakan mata kuliah wajib ditempuh oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Administrasi Perkantoran. Deskripsi mata kuliah ini adalah mengkaji mengenai teknik-teknik pengelolaan arsip dengan berbagai metode penyimpanan, baik berupa system abjad, system pokok soal, system wilayah, system terminal digit maupun system numeric.

Dalam pengamatan awal pada waktu perkuliahan pada materi penyimpanan arsip dengan system wilayah, hanya 6 orang mahasiswa dari 48 mahasiswa yang dapat menemukan kembali arsip yang diminta pada waktu  yang telah ditentukan. Pada materi selanjutnya yang berkaitan dengan penyimpanan arsip dengan system abjad hanya 10 mahasiswa dari 48 mahasiswa yang dapat menemukan kembali arsip yang disimpan dalam waktu yang telah ditentukan.

Kemudian dosen mengadakan pop quis  pada dua materi tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1 : Nilai Post Test Mahasiswa

Aspek Observasi I Observasi II
Skor Terendah 60 65
Skor Tertinggi 71 80
Rata-Rata Kelas 65 70

 

Terlihat bahwa rata-rata kemmpuan mahasiswa dalam praktek kearsipan masih rendah,  karena banyak mahasiswa masih cenderung melakukan kesalahan ketika mencari kembali arsip yang telah disimpan dan kalaupun bisa menemukan melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran praktek kearsipan dengan model manual kurang mendukung kemampuan mahasiswa pada mata kuliah praktek kearsipan.

Previous Older Entries