Tidak ada yang Bodoh

Melihat para mahasiswa yang sudah jenuh diperkuliahan yang memasuki pertemuan ke-12 terasa sangat berat. Hal terlihat ketika mahasiswa masuk ke ruangan, sudah kelihatan letih, lesu, dan tidak bersemanangat. Melihat kondisi yang seperti itu, maka saya sebagai pengajar merasa perlu ada treatmen guna membangkitkan semangat belajar.

Berkaitan dengan mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi, yang sudah saya ajarkan sampai pada unsur-unsurnya, maka saya memiliki ide yaitu dengan dibentuknya kelompok masing-masing 5 samai 7 mahasiswa. Setiap kelompok membawa surat kabar Suara Merdeka, kemudian di cari berita atau peristiwa atau artikel berdasarkan unsur-unsur Administrasi yang telah ditentukan tiap kelompok.  Artikel aatau peristiwa yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan teori yang telah diberikan, kemudian tahap akhir adalah membuat mapping consep tentang artikel atau peristiwa tersebut tiap mahasiswa yang dipresentasikan melalui kertas karton yang sudang dipersiapkan.

Melihat antuasme mahasiswa selama pembelajaran yang cukup tinggi, dengan terlihatnya mereka membaca,  mencari, berbagi-bagi berita atau artikel yang mereka buat berdasarkan tugas mereka masing-masing. Dalam proses pembelajaran, saya tidak memberikan bahwa kelas adalah tempat utama, justru memberikan magnet tersendiri bagi mereka. Mereka belajar di depan kelas, di halaman, di gazebo. Terlihat mereka sedang berdiskusi dengan teman-taman timnya.

Melihat keadaan ini sungguh terasa bahwa mereka punya potensi besar. Akan tetapi mungkin potensi itu belum disalurkan. Kita sering mendengar bahwa anak itu bodoh, itu terasa tidak tepat jika melihat mereka dalam berinteraksi belajar. Sebenarnya di dunia ini, tidak ada anak bodoh, yang ada hanya kebodohan itu sendiri yang menghantui. Bodoh itu sifat, sifat itu dinamis. Bukankah kita sering mendengar dulu benci sekarang cinta. Apa gak mungkin juga dulu bodoh sekarang pintar?

Penulis             : Agung Kuswantoro

Pengajar Pengantar Ilmu Administrasi FE Unnes

Iklan

Kembali ke Khittah FRI

Ibarat pemain bola yang sedang mengumpan bola ke pemain lain terasa apik, jika bola masih di dalam garis lapangan. Tetapi, terasa terganggu jika pemain tersebut mengumpan bola terlalu keras sehingga bola out dari lapangan. Maka bunyi peluit wasit yang terdengar. Demikian juga, FRI yang berjalan out dari fungsinya. Dengan keputusan FRI terlibat di politik seperti mendukung gerakan melawan berbohong publik pemerintahan SBY-Boediono, membuat kehadiran FRI kurang direspon oleh masyarakat.

Tak sedikit sikap kritis intelektual dilontarkan FRI pada pemerintahan. Ini tak lepas dari adanya pandangan baru di kalangan pimpinan PT di Indonesia, bahwa rektor saat ini harus responsif, artinya rektor tidak hanya sebagai pendidik dan membangun infrastruktur di kampus, tetapi juga peka terhadap nasib bangsa.

Substansi Rektor

Rektor adalah pimpinan tertinggi perguruan tinggi yang berkewajiban memajukan ilmu pengetahuan di institusi melalui pendidikan dan penelitian, serta memberikan kontribusi maksimal kepada hal layak luas. Rektor adalah dosen yang diberi tugas tambahan. Hal yang perlu ditekankan adalah rektor adalah dosen. Sedangkan tugas dosen adalah jabatan akademik yang melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengadian masyarakat.

Tugas tambahannya adalah tidak lain untuk menjalankan sistem birokrasi, yaitu birokrasi Kementerian Pendidikan Nasional. Dalam dunia akademik terdapat tradisi, budaya, dan nilai akademik. Dalam dunia birokrasi terdapat sistem, budaya, dan nilai birokrasi. Dalam ranah itulah, Rektor memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada bangsa di Institusi.

Melihat penjelasan di atas, sangat jelas bahwa rektor berkewajiban memajukan ilmu pengetahuan. Bukankah dengan mamajukan ilmu pengetahuan termasuk membangun bangsa? Bukankah melalui kontribusi penelitian dapat digunakan masyarakat? Bukankan pendidikan memberikan kontribusi pada bangsa? Bukankah melalui pengabdian kepada masyarakat dapat membantu bangsa? Apakah hanya politik yang sangat berkontribusi besar pada bangsa?

Dengan bekerja di Institusi bukan berarti Rektor meninggalkan masalah bangsa. Masalah bangsa sangat kompleks. Politik, bukanlah satu-satunya masalah di bangsa ini. Artinya, rektor dapat membantu masalah bangsa melalui pendidikan. Justru, hal ini sesuai dengan tujuan Nasional bangsa bahwa ikut mencerdaskkan kehidupan bangsa. Dengan mengembalikan khittah Tri Dharma PT pada FRI, maka FRI kritis terhadap masalah bangsa di pendidikan, tanpa harus ke politik.

 

PENULIS : AGUNG KUSWANTORO

Membangun Karakter Mahasiswa

Oleh : Agung Kuswantoro

Mahasiswa merupakan agent of change, artinya agen suatu perubahan menuju arah yang lebih baik.  Perubahan sendiri merupakan hal yang mutlak dan pasti akan terjadi. Bagi orang yang ingin maju, maka perubahan menjadi faktor utama. Anak kecil belum bisa membaca, dengan usahanya belajar mengeja persuku kata, perkata, dan perkalimat maka dia akhirnya menjadi anak kecil yang dapat membaca. Itulah change secara sederhana dalam memahaminya.

Change membutuhkan suatu proses dalam munuju hasil. Changes merupakan suatu perintah Tuhan, dijelaskan bahwa kaum harus mau berubah jika mereka menginginkan suatu keadaan yang lebih baik. Dalam bahasa sehari dikenal dengan sekarang harus lebih baik dari hari kemarin.

Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang terdidik. Dengan ke”Maha”an yang melekat pada kata Mahasiswa, artinya dari suatu hal yang besar dalam diri siswa. Bukan sekedar siswa saja yang berperilaku sangat emosional, berpikir praktis, dan belum tereksplornya potensi, maka ketika mahasiswa sifat tersebut berubah menjadi santun, cerdas, kritis, kreatif, inovatif, menerika kritikan, terbuka, dan tanggap terhadap permasalahan di lingkungan.

Melihat pemberitaan di media yang kurang santunnya perilaku mahasiswa ketika berdemonstrasi yang berakhir ricuh, adanya perkelahian antar mahasiswa dalam satu Universitas, mahasiswa tidak sepakat dengan kebijakan lembaga yang berujung pada perusakan fasilitas belajar, tingginya jumlah pengangguran yang berasal dari kalangan mahasiswa, tidak kreatifnya mahasiswa dalam mencari kerja, minimnya mahasiswa dalam menciptkan lapangan kerja sendiri setelah lulus dan lainnya menjadikan nilai-nilai dalam diri mahasiswa menjadi luntur. Sehingga dibutuhkan suatu character building dalam mahasiswa.

Daoed Joesoef (1978) mengatakan bahwa tanggung jawab esensial mahasiswa adalah membangkitkan kekuatan penataran individu (the individual, power of the reason) sebagai dasar yang paling menentukan dari kemampuan berpikir dan sistesis. Dengan demikian, bahwa mahasiswa pada hakekatnya adalah manusia rapat umum (man of public meeting), akan tetapi manusia penganalisis (man of analysis). Sebagai penganalisis mahasiswa bukan semata-mata pemburu ijazah, tetapi seharusnya merupakan penghasil gagasan (idea) yang disajikan dalam bentuk pemikiran yang teratur, yang banyak sedikitnya sesuai dengan hakekat ilmu.

Beberapa upaya dalam character building mahasiswa. Pertama, menentukan tujuan yang jelas. Bagi mahasiswa baru, kampus merupakan dunia baru. Dikatakan baru karena kondisi sangat berbeda jika dibandingkan dengan sewaktu SMA. Oleh karena itu, mahasiswa perlu beradaptasi pada dunia kampus. Di samping mahasiswa dihadapkan pada bidang studi tertentu yang menjadi pilihannya yang relatif khusus, mahasiswa juga dihadapkan pada kondisi yang berbeda. Mahasiswa dianggap telah dewasa untuk mengelola dirinya dalam menghadapi berbagai aktivitas kehidupan kampus. Sehingga mahasiswa harus mengetahui tujuan yang jelas selama kuliah.

Kedua, studi suatu alat, bukan tujuan. Pada dasarnya studi atau belajar merupakan suatu alat untuk mencapai sesuatu, bukan sebagai tujuan. Karena studi dipandang sebagai alat, maka harus dipersiapkan dengan matang agar alat tersebut kelak dapat digunakan dengan baik. Jika demikian, maka mahasiswa dalam melakukan aktivitasnya selalu berorientasi pada kualitas.

Ketiga, mencari kail, bukan ikan. Mahasiswa hendaknya selalu mengantisipasi berbagai perkembangan kebutuhan yang ada, karena salah satu tuntutan masyarakat adalah agar sumber daya manusia mampu memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, dalam menimba ilmu di kampus hendaknya dapat mendapatkan “kail” bukan hanya “ikan”. Artinya mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan materi daripada sekedar manerima materi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pendalaman materi atau memperoleh materi yang mendalam daripada materi yang banyak tetapi tidak terkuasai.

Dengan upaya tersebut diharapkan karakter mahasiswa terwujud. Mahasiswa adalah harapan bangsa. Masa depan bangsa ditentukan oleh mahasiswa. Sebagai generasi penerus bangsa, maka posisi mahasiswa harus dipersiapkan sebagai intelektual dan pemimpin di masa depan (leader of the future) yang mandiri, kreatif dan berintegritas.

Penulis             : Agung Kuswantoro

Pendamping Hima Pendidikan Ekonomi FE Unnes

Karakter Melalui Public Speaking

Oleh : Agung Kuswantoro, S.Pd

cristin

Tujuan mendidik dan mengajar pada hakikatnya adalah meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan, menumbuhkan kecerdasan emosi dan spiritual yang mewarnai aktivitas hidupnya, menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran, dan menumbuhkan kebiasaan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktivitas hidupnya dan memahami manfaat dari keterlibatannya (Hidayatullah, 2010). Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. Proses karakter dalam pendidikan salah satunya dengan berbasis potensi diri. Pendidikan Karakter berbasis potensi diri adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan siswa agar mampu mengatasi diri melalui kebebasan, penalaran, dan mengembangkan segala potensi diri yang dimiliki siswa. Salah satunya dengan public speaking. Khan (2010) mengemukakan bahwa public speaking merupakan metode sukses menyampaikan pesan pada orang lain. Teknik pembelajar public speaking mencakupi tiga aspek pelatihan, (1) Artikulasi, ejaan dan intonasi, (2) Memaknai setiap leksem melalui power (kuat-lembut), tempo (cepat-lambat), volume (besar-kecil) dan frekuensi (tinggi ¬rendah), (3) Pantomin (mimik dan gestur) Kunci sukses public speaking dapat dilihat dari beberapa indikator. Pertama, semua berawal dan sederhana, simpel, mudah meningkat menjadi rumit dan sulit. Kedua, menyeimbangkan kemampuan membelajarkan diri-sendiri. Ketiga, membangun kekuatan membentuk kemampuan berkualitas. Keempat, Kritiklah diri sendiri dan terus memperbaiki diri menjadi yang terbaik. Sesuatu yang diperhatikan adalah apabila berniat untuk public speaking, ingat nada harus ditingkatkan lebih dari jika berbicara biasa, lebih keras, lebih jelas, lebih bertenaga, lebih dinamis, maka akan lebih baik. Fokus kemampuan public speaking, antara lain pendidik (guru, dosen), narator, pendongeng, MC (Master of Ceremony), pemandu wisata, reporter, presenter, animater, orator, penyair, motivator, penyanyi, mediator, dalang, dan lainnya.

Pembangunan karakter siswa melalui public speaking adalah dapat berbicara efektif di depan umum, membuat lebih percaya diri untuk berbicara di depan umum, mengerti cara berbicara di depan umum, berguna untuk mengekspresikan diri, mengajarkan aktif dan berani berbicara untuk mengemukakan pendapat dan bertanya, memacu berlatih artikulasi dengan tepat, mengucapkan ejaan dengan jelas, mengucapkan intonasi dengan baik, dan memaknai kata dengan power, mimik serta gesture. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rustiana, dkk (2011) bahwa pembelajaran melalui public speaking pada kuliah komunikasi organisasi menunjukkan bahwa ada kenaikan hasil belajar dari rerata 79 menjadi 87, Keterampilan dosen dalam pengelolaan pembelajaran menunjukkan peningkatan dari nilai 78 menjadi 88. Selama pembelajaran terlihat adanya peningkatan potensi mahasiswa seperti kepercayaan diri ketika berbicara di depan umum, antusiasme mahasiswa dalam berbicara, hilangnya rasa takut ketika bertanya, pengekspresian diri sesuai dengan materi yang disajikan mahasiswa melalui mimik dan gesture. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan intelektual sekaligus karakter. Karakter itu dapat dibentuk atau dipahat. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit yang dengan hati-hati dipahat atau pun sembarangan dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Salah satunya dengan public speaking yang dapat menumbuhkan potensi diri.

Main di SMK 6 Semarang

Kamis, 17 November 2011 oukul 13,00 WIB dengan suasana panas, ada seorang yang berjaket hitam, berkacamata, berjam tangan, dan berwajah letih setelah bertowaf ria dari sekaran ke sidodadi. Betapa nikmatnya siang itu, suasana panas diikuti dengan suara ayam yang klurukan di perut alias “lapar”. tapi itu semua tidak menyusutkan orang tersebut untuk belajar. seorang tersebut sedang mencari informasi mengenai SMK yang memiliki kewirausahan yang maju dan unikagung di smk 6 semarang, diperolehlah di SMK 6 Semarang.

Sambutan ketika seorang tersebut masuk sekolah tersebut adalah ada receptionis yang dilakukan oleh siswanya. Mengingat sekolah tersebut juga ada jurusan akomadasi hotel. kemudian seorang tersebut bertanya-tanya pada pegawai.

ada hal yang unik ditemukan di sekolah tersebut, bahwa suasana belajar nya tidak semata-mata di ruangan kelas. akan tetapi juga di halaman sekolah. seperti yang ada digambar…seorang tersabut bertanya pada guru yang mengampunya..

Selamat siang Ibu? kata seorang tersebut pada Ibu guru yang mengajar..Apa Ibu tidak keberatan dan merasa kesulitan mengajar dihalaman yang meja yang sederhana, dengan berasalas kursi atau tempat duduk saja? seperi yang ada dibelakang gambar itu. trus dijawab oleh Ibu,,,gak kok mas, malah enak, siswanya juga merasa enjoy..bahkan lebih asik dan dekat. Bagaimana jika siswa itu mau tanya tentang materinya?kata ornag tersebut,,,trus dijawab oleh Ibu guru ya mereka datang ke sini..saya kan stand by,,,

melihat gaya pembelajaran yang demikian, orang tersebut berpikir bahwa belajar itu ya bisa dimana-mana tanpa adanya batasa,guru adalah fasilitator, semua berbasis siswa. Belajar itu adalah interaksi antara guru dan siswa.Jika tidak berinteraksi, maka tidak menemukan sessuatu. sesutu itulah yang dinamakan perubahan sikap.

Stelah bertanya-tanya yang hanya 10 menit kemudian seorang tersebut pulang dengan di antar oleh pegawai yang menemani..Ada yang unik ketika orang tersebut pulang, pegawainya bilang pada orang tersebut mengira orang tersebut adalah wartawan. Dalam benak orang tersebut ya benar karena tugas wartawan kan mencari berita.Lah saya juga mencari berita..Akan tetapi kujelaskan bahwa saya dalam rangka mencari informasi untuk penulisan theisis saya. Akhir cerita, Bapak pegawai tersebut mendoakan mudah-mudahan dapat meneliti di sekolah sini. Seorang tersebut trus bilang pada dirinya agung di smk 6 (2)apakah saya seperti wartawan?wong saya pekerjaannya memberi ilmu…

Penarasan orang itu????itulah saya alias agungbae…hahahahahaha

Tugas Aplikasi Komputer

Buatlah tabel persiapan regresi dengan ketentuan :

1. Terdiri dari dua variabel bebas dan terikat

2. Respondensi sejunlah 60 siswa

3. Variabel bebas (X1) terdapat 12 item soal (terdiri dari 3 indikator masing-masing terdiri dari 4 itm soal)

4. Variabel bebas (X2) terdapat 8 item soal ( terdiri dari 2 indikator masing-masing 5 item dan 3 item)

5. Skala yang digunakan skala likert dengan skor 1,2,3,4, dan 5

6. Setelah itu buatlah deskripsi statistika yang terdiri dari – Mean – Max – Min – Mode – Sum – Std. Deviasi – Varians – Diagram pie Dengan dibuat masing-masing variabel (X1, X2. Dan Y)

7. Variabel Y adalah nilai (hasil belajar) mulai dari 000 smapai 100

8. Prin outlah dan Analisislah dengan regresi berganda dan diinterpretasikan dengan di kertas folio maksimal dua halaman dengan tulis tangan.

9. Tugas dikumpulkan pada pertemuan ke-14.

10. Kerjakan dengan baik ya!

Pelatihan Bahan Ajar dan RPP Berbasis Karakter

Kompetensi pendidik meliputi kompetensi profesional, akademik, pedagogik, dan sosial. Salah satu peningkatan kompetensi pedagogik adalah pembuatan bahan ajar dan RPP. Tugas penting pendidik adalah mewujudkan kompetensi siswa, menentukan materi ajar, memilih bahan ajar dari sumber yang tepat, mengukur capaian kompetensi siswa, dan memastikan keseluruhan proses pembelajaran berlangsung dengan baik.

Seiring dengan kebijakan pemerintah pada saat sekarang, perlunya ada internalisasi nilai-nilai karakter dalam pendidikan. Karakter adalah kepribadian seseorang yang terbentuk melalui integrasi antara pemahaman, sikap terhadap nilai-nilai tertentu dan perilaku sehari-hari. Salah satunya dengan memasukkan nilai-nilai karakter pada bahan ajar dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Nilai-nilai karakter yang dimaksudkan adalah sifat atau watak yang harus dicapai dalam  pembelajaran. Oleh karena itu, pada tanggal 29 Oktober 2011 di SD Lamper Kidul 03 diadakan pelatihan penyusunan bahan ajar dan RPP berbasis karakter pada guru-guru SD Gugus Jenderal Sudirman UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Selatan.

Pelatihan tersebut merupakan kerja sama antara Tim Pengabdian Masyarakat FE Unnes dan Gugus Jenderal Sudirman Kecamatan Semarang Selatan. Pelatihan bahan ajar berbasis karakter disampaikan oleh Prof. Dr. Joko Widodo, M. Pd, dan pelatihan RPP berbasis karakter disampaikan oleh Dra. Murwatiningsih, MM.

Prof. Dr. Joko Widodo mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yg diperlukan guru selama proses pembelajaran. Fungsinya membantu guru dalam mencapai kompetensi siswa. Oleh karena itu, bahan ajar harus disusun secara sistematis.

Bahan ajar berbasis karakter adalah bahan ajar  yang memungkinkan seorang guru mampu menyajikan materi ajar sedemikian rupa sehingga siswa mampu memahami, menentukan sikap, dan berperilaku sesuai dengan bahan ajar tersebut Dalam hal ini bahan ajar berfungsi sebagai alat untuk membentuk kompetensi, membentuk karakter, alat ukur penilaian, dan pondasi bagi karakter yang lebih tinggi pada materi berikutnya.

Dra. Murwatingsih, MM mengemukakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 kompetensi dasar yang terdiri atas 1 atau beberapa indikator untuk 1 kali  pertemuan atau lebih.

Prinsip-prinsip dalam penyusunan RPP meliputi memperhatikan perbedaan individu peserta didik, mendorong partisipasi aktif peserta didik, mengembangkan budaya membaca dan menulis, memberikan umpan balik dan tindak lanjut, keterkaitan dan keterpaduan antar komponen-komponen RPP,  dan menerapkan teknologi informasi serta komunikasi.

Dalam pelatihan ini diharapkan guru-guru SD dapat menginternalisasikan nilai-nilai karakter pada setiap mata pelajaran yang diampu sesuai dengan budaya lingkungan sekolah. Karakter itu perlu dibangun dan perlu dibudayakan, salah satunya dengan memasukkannya pada bahan ajar dan RPP.

Previous Older Entries