Qur’an dan Koran

Oleh Agung Kuswantoro

Ini hanyalah kisah yang perlu kita pelajari dari kisah tersebut. Suatu ketika di suatu tempat, ada orang yang sedang berkumpul. Dalam perkumpulan tersebut, katakanlah orang tersebut dengan nama fulan. Fulan tersebut melihat ada penjual loker koran, kemudian membelinya. Sebelum membeli koran tersebut, dia ambil air wudlu terlebih dahulu. Setelah itu, membeli koran tersebut.

Dia membeli koran tersebut, karena fulan sedang belajar agama Islam. Koran yang dia beli adalah koran berbahasa Arab. Semua artikel, tulisan, iklan, atau apa pun dalam bahasa Arab. Si fulan, berpandangan sebagaimana yang ada dalam Qur’an ada tulisan la yamasakhu illa muthohharun (jangan menyentuh kecuali telah bersuci), kurang lebih itu artinya.

Fulan berpikiran bahwa semua yang bahasa Arab dianggapnya adalah bahasa Qur’an , artinya bahasa Arab adalah bagian Islam. Padahal, tidak semua yang melekat dengan Islam itu harus bahasa Arab. Memang betul, Qur’an dalam bahasa Arab. Akan tetapi, bahasa Arab dalam Qur’an adalah bahasa yang berkaidah. Ibarat dalam bahasa Indonesia, merupakan susunan secara struktur, bahasa, makna, majaz, dan sebagainya yang paling sempurna. Katakanlah, kata Alhamdu jika dimaknai, secara nahwu, sorof, logowi, tajwid, dan sebagainya yang masing-masing memiliki arti dari sudut pandang tersebut.

Masyarakat arab, juga berbahasa Arab. Mereka menyayikan lagu juga berbahasa Arab. Akan tetapi, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Arab yang berbeda dengan bahasa Arab dalam Qur’an. Bahasa Arab yang dalam Qur’an jika kita pelajari, sebagaimana yang ada di pesantren atau madrasah.

Sikap fulan yang mengambil wudlu, perlu kita apresiasi dengan bijak. Pertama, jangan menyalahkan fulan. Fulan merupakan orang yang sedang belajar agama. Pemahaman fulan dalam memahami agama baru pada taraf itu. Bukankah dalam ajaran kita diajarkan latar kabunna thobaqon ‘an tobaq, bahwa untuk menuju suatu tempat perlu adanya tingkatan-tingkatan? Tingkatan tersebut harus dilakukan secara bertahap dan berproses. Jadi dalam hal ini kita diajarkan pada continuitas. Dalam peribahasa sedikit demi dikit akan menjadi gunung.  

Kedua, tidak semua bahasa Arab itu menunjukkan Islam. Memang betul, Islam turun di tanah Mekah yang berbahasa Arab. Akan tetapi, tidak semua yang ada di mekkah sebagai simbol dari Islam sendiri. Di negara Arab, turki, uni emiret Arab mereka menggunakan bahasa Arab. Siswa di sekolah menulis juga dengan Arab. Bahasa Arab yang mereka gunakan bukanlah bahasa Arab sebagaimana Quran. Misal di Indonesia, ada bahasa Indonesia. Dalam aplikasinya bahasa tersebut juga digunakan oleh orang jakarta, betawi, jawa, medan dan lainnya. Mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan logat masing-masing daerahnya.

Ketiga, di dalam memahami Islam janganlah sebagian-sebagain. Islam itu sangat komprehensif dalam memahami di kehidupan kita. Tidak semua yang kita lakukan berdasarkan pada akidah Islam. Islam itu agama yang mudah, akan tetapi jangan dipermudah. Islam itu agama yang tidak memberatkan, akan tetapi jangan dibuat berat. Sehingga dalam memahaminya pun harus berdasarkan pada sumber-sumber yang jelas dan ada guru yang mengajari. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan Islam itu sendiri.

Mari, kita tingkatkan pemahaman keIslaman kita masing-masing. Dengan belajar dari diri sendiri menuju pemahaman yang kompleks dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita masing-masing. Semoga Alloh memberikan kita petunjuk,,,Amin

Penulis : Orang yang sedang belajar agama Islam

Iklan

6 Komentar (+add yours?)

  1. WITA
    Des 22, 2011 @ 02:16:20

    i like it pak agung

    Balas

  2. Ahmad Saeroji
    Des 22, 2011 @ 02:17:59

    bagus pak saya pingin diajari untuk bisa menulis………….

    Balas

  3. agung kuswantoro,agungbae123
    Des 22, 2011 @ 07:06:13

    makasih,,,kenapa suka?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: