Kuliah dan khusyu’

Oleh Agung Kuswantoro*

Jika kita perhatikan pada kedua kata secara tidak langsung tidak ada kaitannya. Namun, kita akan mengkajinya secara per kata dan istilah. Kata khusyu’dari segi bahasa berarti ketenangan/ diam. Ia adalah kesan khusus yang terdapat di dalam benak terhadap khusyu’ sehingga yang bersangkutan mengarah sepenuh hati kepadanya sambil mengabaikan lainnya.

Para ulama fiqih, tidak memasukkan kekhusyu’an pada bahasan rukun, atau syarat sholat, karena mereka-mereka menyadari bahwa khusyu’ lebih banyak berkaitan dengan kalbu, sedang mereka pada dasarnya hanya mengarah pada pandangan kesisi lahiriah manusia. Quraisy Shihab menggambarkan orang yang khusyu’ dalam solat  diibaratkan dengan kehadiran  pada pameran lukisan. Banyak yang diundang hadir untuk menikmati keindahan lukisan, tetapi bermacam-macam sikap mereka. Ada yang hadir tanpa mengerti sedikit pun, apalagi menikmati keindahan lukisan, ada juga yang tidak mengerti, tetapi berusaha mempelajari dan bertanya, adalagi yang mengerti dan menikmatinya, ada pula yang sedemikian paham dan menikmati sehingga terpukau dan terpaku, tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia tidak mendengar sapaan orang kepadanya, bahkan tidak merasakan senggolan orang-orang di sekitarnya.Dia benar-benar larut dalam kenikmatan.

Demikian juga kuliah adalah sebuah kewajiban bagi seorang untuk menuntut ilmu.Mahasiswa yang berkuliah tidak selamanya khusyu’. Khusyu’ dalam berkuliah, tidaklah terlihat secara lahiriah, akan tetapi dampaknya dapat dirasakan secara lahiriah. Mahasiswa yang khusyu’ berkuliahakan focus pada tujuannya, tidak ada harapan suatu apa pun apa yang dialakukan. Dia tidak berharap pada dosen dalam pemberian nilai, tidak mengharapkan belas asih darinya, tidak mengharapkan sensasi, dan lainnya.Dia hanya tertuju pada tujuannya.

Bagi mahasiswa baru, kampus merupakan dunia baru. Dikatakan baru karena kondisi ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan suasana belajar yang dialami sebelumnya sewaktu SMA.Di sampingitu, mahasiswa di hadapkan pada bidang studi tertentu yang menjadi pilihannya yang relative khusus dan dihadapkan pada pola pembelajaran yang berbeda.

Tujuan kuliah adalah bukansemata-mata memburu ijasah, melainkan menghasilkan mahasiswa yang  berintegritas dan berkepribadian. Integritas dan kepribadian tumbuh ketika mahasiswa akan mengerjakan dengan bersungguh-sungguh, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan materi daripada sekada rmenerimamateri,  mampu bersikap terbuka, berfikir dan berperilaku demokratis, berpandangan luas, mengembangkan kreativitas dan inisiatif, peka dan tanggap terhadap permasalahan hidup dan menyadari bahwa kesempatan menjadi mahasiswa merupakan kesempatan yang sangat berharga.

Kewajibankuliahharusbersinergidengankhusyu’.Semakinkhusyu’ akan semakin terlihat pada tujuannya. Sebagaimana ibarat melihat pameran lukisan tersebut di atas, bahwa kekhusyu’an mahasiswa dalam kuliah tiap individu berbeda. Ada yang tidak memperdulikan pada dunia hiburan yang berlebihan, dia focus pada tujuannya, dia  mengerjakan tugas secara maksimal, dia mencari berbagai referensi di perpustakaan dan internet, dia bertanya pada seorang yang dianggap mengusai, dia berburu jurnal dan berdiskusi dengan sesame temannya.

Ada pula mahasiswa yang cukup santai dengan tugasnya, dengan mem-browsing internet kemudian copy paste, mengerjakan tugas akan asal mengerjakan, tidak melakukan penelitian, tidak melakukan penelitian, belum menentukan sasaran yang jelas sehingga lulus tidak tepat waktu, tidak peduli lingkungan,belum mengoptimalkan potensinya, dan sebagainya.

Khusyu’ dalam kuliah perlu dibangun, mahasiswa harus sadar bahwa dalam dirinya ada beban tanggung jawab menuntut Ilmu yang harus bertanggungjawab pada Tuhannya, orang tua, keluarga, masyarakat, dan Negara. Terlebih mahasiswa kuliah di negeri, ada subsidi Negara. Jika melihat mahasiswa tidakkhusyu’, apakah kita rela mengeluarkan uang untuk membiayai mahasiswa yang berperilaku seperti itu?

Memang khusyu’ bukanlah suatu kewajiban dalam suatu pekerjaan. Tetapi, khusyu’ membantu dalam pencapaian  tujuan.Sama halnya, khusyu’ bukanlah suatu kewajiban. Orang yang tidak khusyu’ dalam sholat, sholatnya selesai hingga salam. Demikianjuga, mahasiswa yang tidak khusyu’ dalam kuliah, juga dapat selesai. Namun, jika kuliah tersebut diimbangi dengan khusyu’ akan mempermudah dalam kelulusan dan pencapaian integeritas mahasiswa.

Marilah kita khusyu’ dalam kuliah, betapa banyak yang menanti kita kelak jika sudah lulus dari perguruan tinggi. Kekhusyu’an akan tercermin kelak jika lulus, mahasiswa tidak membawa ijasah dalam berburu kerja, melainkan akan menggunakan keilmuannya, kepribadiannya, dan integeritasnya yang akan dihargai masyarakat.

 

*Penulis           : Pendamping Hima Pendidikan Ekonomi FE Unnes

Buku Manajemen Kearsipan

PRAKATA

Ada suatu pandangan yang keliru, apabila beranggapan bahwa pengelolaan kearsipan pada suatu instansi atau lembaga adalah merupakan peherjaan yang mudah. Dengan anggapan seperti tersebut di atas, maka banyak Kantor atau Organisasi yang menyerahkan urusan kearsipannya kepada orang/pegawai yang kurang tepat.

Petugas-petugas kearsipan seperti tersebut di  atas bukan tidak dapat melaksanakan pekerjaan yang dibebankan, tetapi mereka itu hanya menjalankan tugasnya tanpa  mengembangkan apa yang sebaharusnya dilakukan. Pada saat Kantor atau organisasi belum mengalami perkembanqan yang berarti semua urusan kearsipan dapat berjalan lancar, pada hal suatu Kantor atau Organisasi seperti saat ini  banyak mengalami perkembangan yang pesat. Kondisi seperti itulah baru dirasakan adanya hambatan yang bersumber pada ketidaklancaran urusan kearsipan 9sebagai salah satu sumber pengambilan keputusan)

Dengan mempelajari buku “Manajemen Kearsipan” ini diharapkan mahasiswa dapat memahami bagaimana mengelola  kearsipan dengan baik sesuai dengan standar pengelolaan yanga diharapkan.  Mengurus arsip bukan berarti hanya soal menyimpan warkat (record) yang pada  masanya nanti harus  dimusnahkan. Pengelola arsip harus memahami tentang system penyimpanan yang digunakan, azas penyimpanan. Demikian pula perlu memahami dalam periode tertentu untuk menentukan angka kecermatan, maupun angka pemakaian, sehingga apabila perlu mengadakan pembenahan dalam mengelola kearsipan.

Pengelola arsip yang professional adalah mereka yang memiliki sertifikat sebagai Arsiparis, setidak-tidaknya mereka pernah dilatih atau mengembangkan pengetahuan tentang pengelolaan arsip yang baik dan benar. Buku “Manajemen Kearsipan” ini mudah dipelajari karena dilengkapi dengan gambar-gambar dan contoh-contoh.

Harapan penulis, mudah-mudahan buku ini bermanfaat, baik bagi mahasiswa yang menekuni pengetahuan tentang Manajemen Kearsipan maupun Praktek Kearsipan, demikian pula bagi pengelola kearsipan serta para pembaca yang bergerak pada bidang Administrasi Perkantoran.

Penulis percaya bahwa isi buku ini tidak luput dari kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati demi kemajuan dibidang Administrasi Perkantoran. Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada Drs. Agus Wahyudin, M.Si Pembantu REktor Bidang Akademik UNNES Semarang, juga kepada Drs. Amas Suryadi pembimbing penulisan buku ajar yang  telah memberi arahan dalam segi kebahasaan.

Semarang, 11 Maret 2011

Penulis,

KATA PENGANTAR

 

Kearsipan sebagai salah satu kegiatan dalam pembinaan Manajemen Perkantoran, merupakan hal yang penting dan tidak mudah dalam pelaksanaannya. Keterampilan mengelola Arsip harus dimiliki tenaga pengelola untuk membantu tugasnya, serta membantu kelancaran kerja secara keseluruhan bagi aparat instansi yang bersangkutan.

Pengelolaan kearsipan yang baik dan benar akan membantu kelancaran tugas-tugas pekerjaan selanjutnya. Karena arsip merupakan salah satu sumber pengambilan keputusan pada setiap instansi.

Sesuai dengan kurikulum mata kuliah kearsipan diharapkan dapat diajarkan kepada mahasiswa terutama pada Jurusan Pendidikan Ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran. Kearsipan bukan saja sekedar pengetahuan yang dipahami secara teoritis, akan tetapi lebih ditekankan pada kegiatan kearsipan. Diharapkan dengan terbitnya buku “Manajemen Kearsipan” ini dapat dimanfaatkan oleh para pengelola administrasi baik di instansi pemerintah maupun instansi lainnya. Semoga ada manfaatnya.

Semarang,   Mei 2011

Drs. Agus Wahyudin, M.Si

Pembantu Rektor Bidang Akademik

DAFTAR ISI

PRAKATA…………………………………………………………………………………………………………..         ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………..        iv

BAB      I : ARSIP TATA KEARSIPAN………………………………………………………………………. 1

  1. Pengertian Arsip…………………………………………………………………………………… 2
  2. Batasan tentang Arsip…………………………………………………………………………… 3
  3. Daya Guna Warkat………………………………………………………………………………. 5
  4. Pengelolaan Arsip……………………………………………………………………………. …. 7
    1. Arsip Tidak Penting………………………………………………………………………… 7
    2. Arsip Biasa…………………………………………………………………………………….. 7
    3. Arsip Penting…………………………………………………………………………………. 7
    4. Arsip Sangat Penting………………………………………………………………………. 7
  5. Jenis Arsip…………………………………………………………………………………………… 8
  6. Penataan Arsip…………………………………………………………………………………….. 9
  7. Sistem Penyimpanan Arsip………………………………………………………………….. 16
  8. Peminjaman Arsip……………………………………………………………………………. .. 37

BAB     II : PRINSIP PENYIMPANAN ARSIP………………………………………………………….. 42

  1. Tempat Penyimpanan Arsip…………………………………………………………………. 42
  2. Persyaratan Petugsa Kearsipan…………………………………………………………….. 43
  3. Asas Penyimpanan……………………………………………………………………………… 46
    1. Sentralisasi…………………………………………………………………………………… 47
    2. Desentralisasi……………………………………………………………………………….. 48
    3. Kombinasi Sentralisasi – Desentralisasi……………………………………………. 49
    4. Kombinasi Desentralisasi – Sentralisasi……………………………………………. 50
    5. Konsentrasi………………………………………………………………………………….. 52
    6. Dekonsentrasi……………………………………………………………………………….. 53

BAB    III : PENILAIAN DAN PENGAMANAN ARSIP………………………………………… .. 58

  1. Nilai Arsip………………………………………………………………………………………. .. 58
  2. Angka Cermatan Tata Arsip………………………………………………………………… 60
  3. Pengamanan Arsip……………………………………………………………………………… 64
    1. Penertiban Kegiatan……………………………………………………………………….. 64
    2. Pemeliharaan Arsip…………………………………………………………………………. 64

BAB    IV : PENYUSUTAN DAN PEMINDAHAN ARSIP…………………………………….. .. 71

  1. Angka Pemakaian Arsip………………………………………………………………………. 72
  2. Penyusunan Jadwal Retensi…………………………………………………………………. 77
  3. Pemindahan Arsip………………………………………………………………………………. 81

BAB     V : PEMUSNAHAN ARSIP………………………………………………………………………….. 87

  1. Prosedur Pemusnahan…………………………………………………………………………. 87
  2. Cara Pemusnahan……………………………………………………………………………….. 89
    1. Pembakaran…………………………………………………………………………………. 89
    2. Pencacahan………………………………………………………………………………….. 89
    3. Penghancuran………………………………………………………………………………. 90

BAB    VI : ARSIP STATIS………………………………………………………………………………………. 92

  1. Penentuan Status Arsip……………………………………………………………………….. 95
  2. Pengiriman Arsip Statis ke ANRI……………………………………………………………..

BAB    VII : KONSEP DASAR SISTEM KEARSIPAN   ELEKTRONIK

BERBASIS KOMPUTER ………………………………………………………………………. 96

  1. Konsep Dasar Kearsipan Elektronik…………………………………………………….. 97
  2. Kemudahan dalam Pengelolaan Arsip………………………………………………….. 99
  3. Perangkat yang Digunakan……………………………………………………………….. 102

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………………….. 106

LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………………………… 107

LEMBAR DISPOSISI…………………………………………………………………………………………….. 108

LEMBAR PENGANTAR ………………………………………………………………………………………  109

UU NO. 43 TAHUN 2009……………………………………………………………………………………….. 110

BIODATA PENULIS……………………………………………………………………………………………… 151

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1 BAGAN PENATAAN SURAT MASUK DENGAN

LEMBAR PENGANTAR…………………………………………………………………………. 10

Gambar 2 BAGAN PENATAAN SURAT MASUK DENGAN KARTU KENDALI……… 12

Gambar 3 BAGAN PENATAAN SURAT KELUAR DENGAN KARTU KENDALI……. 14

Gambar 4 FILLING CABINET (LEMARI BERLACI)………………………………………………… 16

Gambar 5 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM ABJAD………………………………… 24

Gambar 6 PENYIMPANAN ARSIP STATIS……………………………………………………………… 25

Gambar 7 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM POKOK SOAL…………………….. 28

Gambar 8 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM KRONOLOGIS……………………. 30

Gambar 9 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM TERMINAL DIGIT………………. 32

Gambar 10 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM KLASIFIKASI DESIMAL….. 34

Gambar 11 PENYIMPANAN ARSIP DENGAN SISTEM  WILAYAH……………………….. 36

Gambar 12 BAGAN PEMINJAMAN DAN PENGEMBALIAN ARSIP

DARI TEMPAT PENYIMPANAN………………………………………………………….. 38

Gambar 13 PENYELENGGARAAN PENYIMPANAN ARSIP

BERDASARKAN ASAS SENTRALISASI……………………………………………… 47

Gambar 14 PENYELENGGARAAN PENYIMPANAN ARSIP

BERDASARKAN ASAS DESENTRALISASI………………………………………… 48

Gambar 15 ASAS PENYIMPANAN KOMBINASI SENTRA-DESENTRA…………………. 49

Gambar 16 ASAS PENYIMPANAN KOMBINASI

DESENTRALISASI-SENTRALISASI…………………………………………………….. 50

Gambar. 17 ASAS KOMBINASI DENGAN POLA KONSENTRASI………………………….. 52

Gambar 18 ASAS KOMBINASI DENGAN POLA DEKONSENTRASI……………………… 53

gambar 19. ARSIPARIS MEMINDAHKAN ARSIP YANG SUDAH TIDAK

MEMILIKI NILAI GUNA……………………………………………………………………… 81

Gambar 20 PENCACAHAN KERTAS MELALUI SCHRIDER…………………………………… 90

Jika ada yang mau berminat beli buku tersebut silakan hubungi saya, karena terbatas stoknya cepet buruan beli,,atau sms dulu ke 08179599354

Penulis Buku Drs. Partono, M. Pd, Agung Kuswantoro, S.Pd, M. Pd, dan Drs. Sularso Mulyono

BAB V,,,,stenografi

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian pertama dan kedua pada soal surat dan wacana diketahui rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding rata-rata hasil belajar pada kelompok kontrol. Hal ini dapat ditunjukkan pada penelitian pertama soal surat diperoleh rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 79,33 dan 65,67 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh 5,207 dengan taraf signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan penggunaan media audio dalam pembelajaran Stenografi lebih efektif dibanding dengan tidak menggunakan media audio dan dapat meningkatkan hasil belajar. Demikian juga pada penelitian pertama soal wacana rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 79,93 dan 64,73 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh 6,824 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan penggunaan media audio dalam pembelajaran Stenografi lebih efektif dibanding dengan tidak menggunakan media audio dan dapat meningkatkan hasil belajar. Penelitian kedua soal surat diperoleh rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 81,80 dan 68,60 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh sebesar 6,148 dengan taraf signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan penggunaan media audio dalam pembelajaran Stenografi lebih efektif dibanding dengan tidak menggunakan media audio dan dapat meningkatkan hasil belajar. Demikian juga pada penelitian kedua soal wacana rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 81,93 dan 67,33 pada kelompok kontrol. Uji perbedaan dua rata-rata diperoleh 6,361 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan penggunaan media audio dalam pembelajaran Stenografi lebih efektif dibanding dengan tidak menggunakan media audio dan dapat meningkatkan hasil belajar. 5.2 Saran Berdasarkan simpulan di atas, ada beberapa saran dari penulis yaitu sebagai berikut: 1. Kepada para pengajar disarankan untuk mencoba menerapkan media audio pada pembelajaran Stenografi, karena pembelajaran dengan menggunakan media audio lebih efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar. 2. Bagi mahasiswa perlu adanya penekanan bahwa Stenografi bukan mata kuliah hafalan, namun keterampilan menulis yang harus sering dilatih salah satunya dalam mengikuti perkuliahan dengan metode ceramah dapat menggunakan tulisan Stenografi untuk merekam setiap pembicaraan. 3. Perlu ada penelitian lanjutan untuk populasi yang lebih besar dan kelas-kelas yang lain sehingga simpulan penelitian berlaku untuk umum.

Stenografi Bab IV

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1   Hasil Penelitian

Stenografi adalah sebagian kecil dari kegiatan pekerjaan kantor pemerintah maupun swasta yang bergerak dalam bidang jasa atau bisnis. Tulisan Stenografi merupakan penulisan kata-kata atau kalimat secara cepat dengan huruf-huruf yang mempunyai aturan-aturan tertentu.

Manfaat seseorang mempelajari Stenografi supaya menulis lebih cepat apabila didiktekan. Dalam hubungan ini sangat tepat bagi seorang Sekretaris, Reporter, atau Wartawan yang kegiatannya mengikuti ceramah, rapat kerja, konferensi, meliputi berita-berita penting dan lain-lain. Secara teori menulis dengan Stenografi dapat lebih cepat apabila dibanding dengan menggunakan tulisan biasa atau latin. Sebab dengan tulisan Stenografi proses penulisannya lebih singkat sehingga tulisan Stenografi masih relevan dan masih dibutuhkan.

58

Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mata pelajaran Stenografi diberikan pada siswa jurusan Administrasi Perkantoran (AP). Pembelajaran Stenografi di SMK dibagi menjadi dua yaitu Stenografi bahasa Indonesia pada kelas dua dan Stenografi bahasa Inggris pada kelas tiga. Demikian juga pada Program Studi Adminstrasi Perkantoran (AP) Universitas Negeri Semarang (Unnes), pembelajaran Stenografi dibagi menjadi dua yaitu Stenografi bahasa Indonesia pertama dan kedua yang masing-masing tiga Sistem Kredit Semester (SKS). Stenografi bahasa Indonesia pertama diberikan pada semester tiga dengan materi pengenalan dasar tentang Stenografi, pengenalan huruf, singkatan, kata ulang, latihan kecepatan menulis, membaca, serta melatinkan dan lain-lain. Sedangkan Stenografi bahasa Indonesia dua diberikan pada semester empat dengan materi menulis, membaca, serta melatinkan mulai dari kecepatan empat puluh sampai seratus dua puluh suku kata per menit (skm) yang bersumber dari surat, wacana (reportase), keputusan persidangan, naskah pidato, dan lain-lain.

Untuk menghasilkan sarjana pendidikan yang berkualitas yang mampu mengajarkan ilmu Administrasi Perkantoran yang berkompeten dibidangnya sehingga dilakukan pengembangan kurikulum dan peningkatan beserta silabi proses belajar mengajar bagi Program Studi Administrasi Perkantoran. Kurikulum 2000 yang berbasis kompetensi beserta silabi mata kuliah secara komprehensif dalam proses belajar mengajar diarahkan melalui konsep pembelajaran aktif parsipatif mahasiswa-pengajar melalui pemahaman kurikulum, silabi, mata kuliah dan tujuan pembelajaran secara tuntas. Komposisi kurikulum inti dan institusional adalah empat puluh delapan persen untuk kurikulum inti dan lima puluh dua persen untuk kurikulum institusional sebagai upaya mendukung kebutuhan tenaga professional di lingkungan perguruan tinggi. Jumlah SKS yang harus ditempuh oleh mahasiswa Program Studi Administrasi Perkantoran sebanyak seratus lima puluh enam SKS dengan masa studi delapan semester.

Upaya peningkatan kualitas juga didukung oleh sarana dan fasilitas juga ditunjang dengan sarana dan fasilitas yang menunjang proses pembelajaran seperti labolatorium komputer sebanyak enam puluh unit dengan Pentium tiga didesain terpisah dengan laboatorium praktek perkantoran, kearsipan, Stenografi, ketik elektronik, dan ketik manual.

Untuk menunjang pembelajaran Stenografi di labolatorium terdapat beberapa peralatan yang modern seperti tape recorder (tape magnetic), Compact Disc (CD) dan Televisi (TV) yang didesain secara pararel sehingga informasi dari pengajar dapat didengar oleh enam puluh mahasiswa dengan head set yang ada disetiap meja.

4.1.1   Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi

Hasil belajar Stenografi Semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran pada kelompok eksperimen diperoleh rata-rata sebesar 80,60 dengan nilai tertinggi adalah 86 dan nilai terendah adalah 70 dengan varians 15,54. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi bahasa semester Gasal tahun 2005/2006 pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 4 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Semester Gasal Tahun 2005/2006 pada Kelompok Eksperimen

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

2

13,3

> 80 – 85

AB

5

33,3

> 70 – 80

B

7

46,7

> 65 – 70

BC

1

6,7

> 60 – 65

C

0

0

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 46,7% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 33,3% memiliki nilai dengan rentang > 80 – 85 dalam kategori lebih dari baik, 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 85 – 100 dalam kategori baik sekali, dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam ketegori lebih dari.

Hasil belajar Stenografi semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran pada kelompok kontrol diperoleh rata-rata sebesar 77,47 dengan nilai tertinggi adalah 86, nilai terendah adalah 68 dan varians 25,12. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi bahasa semester Gasal tahun 2005/2006 pada kelompok kontrol tampak pada distribusi frekuensi berikut:

Tabel 5 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Semester Gasal Tahun 2005/2006 pada Kelompok Kontrol

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

1

6,7

> 80 – 85

AB

3

20,0

> 70 – 80

B

9

60,0

> 65 – 70

BC

2

13,3

> 60 – 65

C

0

0

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 60,0% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 80 – 85 dalam kategori lebih dari baik, 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 85 – 100 dalam kategori baik sekali, dan 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam ketegori lebih dari cukup.

Pembelajaran pada kelompok eksperimen penelitian pertama soal surat diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 79,33 dengan nilai tertinggi adalah 85, nilai terendah adalah 65 dan varians 26,52. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian pertama soal surat pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 6 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Pertama Soal Surat pada Kelompok Eksperimen

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

0

0

> 80 – 85

AB

6

40,0

> 70 – 80

B

8

53,3

> 65 – 70

BC

0

0

> 60 – 65

C

1

6,7

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 53,3% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 40,0% memiliki nilai dengan rentang > 80 – 85 dalam kategori lebih dari baik, dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 60 – 65 dalam ketegori cukup.

Pembelajaran pada kelompok kontrol penelitian pertama soal surat diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 65,67 dengan nilai tertinggi adalah 78, nilai terendah adalah 50 dan varians 76,81. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian pertama soal surat pada kelompok kontrol soal wacana tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 7 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Pertama Soal Surat pada Kelompok Kontrol

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

0

0

> 80 – 85

AB

0

0

> 70 – 80

B

4

26,7

> 65 – 70

BC

5

33,3

> 60 – 65

C

1

6,7

> 55 – 60

CD

2

13,3

> 50 – 55

D

2

13,3

< 50

E

1

6,7

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 33,3% mendapatkan nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam kategori lebih dari cukup, 26,7% memiliki nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 55 – 60 dalam kurang dari cukup, dan 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 50 – 55 dalam ketegori kurang, 6,7% memiliki nilai > 60- 65 dengan kategori cukup dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang < 50 dalam kategori gagal.

Pembelajaran pada kelompok eksperimen penelitian pertama soal wacana diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 79,93 dengan nilai tertinggi adalah 86, nilai terendah adalah 68 varians dan 15,49. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian pertama soal wacana pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 8 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Pertama Soal Wacana pada Kelompok Eksperimen

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

1

6,7

> 80 – 85

AB

6

40,0

> 70 – 80

B

7

46,7

> 65 – 70

BC

1

6,7

> 60 – 65

C

0

0

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 46,7% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 40,0% memiliki nilai dengan rentang > 80 – 85 dalam kategori lebih dari baik, 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 85 – 100 dalam kategori baik sekali, dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam ketegori lebih dari cukup.

Pembelajaran pada kelompok kontrol penelitian pertama soal wacana diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 64,73 dengan nilai tertinggi adalah 78, nilai terendah adalah 52 dan varians 58,92. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian pertama soal wacana pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 9 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Pertama Soal Wacana pada Kelompok Kontrol

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

0

0

> 80 – 85

AB

0

0

> 70 – 80

B

4

26,7

> 65 – 70

BC

2

13,3

> 60 – 65

C

3

20,0

> 55 – 60

CD

3

20,0

> 50 – 55

D

2

13,3

< 50

E

1

6,7

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 26,7% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 60 – 65 dalam kategori cukup, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 55 – 60 dalam kategori kurang dari cukup, 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 50 – 55 dalam kategori kurang dan 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam ketegori lebih dari cukup, dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang < 50 dalam kategori gagal.

Pembelajaran pada kelompok eksperimen penelitian kedua soal surat diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 81,80 dengan nilai tertinggi adalah 87, nilai terendah adalah 70 dan varians 19,60. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian kedua soal surat pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 10 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Kedua Soal Surat pada Kelompok Eksperimen

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

2

13,3

> 80 – 85

AB

9

60,0

> 70 – 80

B

3

20,0

> 65 – 70

BC

1

6,7

> 60 – 65

C

0

0

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 60,0% mendapatkan nilai dengan rentang > 80 – 85 dalam kategori lebih dari baik, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 85 – 100 dalam kategori baik sekali, dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam kategori lebih dari cukup.

Pembelajaran pada kelompok kontrol penelitian kedua soal surat diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar 68,60 dengan nilai tertinggi adalah 79, nilai terendah adalah 58 dan varians 49,54. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian kedua soal surat pada kelompok kontrol tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 11 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Kedua Soal Surat pada Kelompok Kontrol

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

0

0

> 80 – 85

AB

0

0

> 70 – 80

B

5

33,3

> 65 – 70

BC

4

26,7

> 60 – 65

C

3

20,0

> 55 – 60

CD

3

20,0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 33,3% mendapatkan nilai dengan rentang > 70 -80 dalam kategori baik, 26,7% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam kategori lebih dari cukup, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 60 – 65 dalam kategori cukup, dan 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 55 – 60 dalam kategori kurang dari cukup.

Pembelajaran pada kelompok eksperimen penelitian kedua soal wacana diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 81,93 dengan nilai tertinggi adalah 86, nilai terendah adalah 70 dan varians 16,35. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian kedua soal surat pada kelompok eksperimen tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 12 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Kedua Soal Wacana pada Kelompok Eksperimen

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

1

6,7

> 80 – 85

AB

11

73,3

> 70 – 80

B

2

13,3

> 65 – 70

BC

1

6,7

> 60 – 65

C

0

0

> 55 – 60

CD

0

0

> 50 – 55

D

0

0

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 73,3% mendapatkan nilai dengan rentang > 80 -85 dalam kategori lebih dari baik, 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 85 – 100 dalam kategori baik sekali, 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 65 – 70 dalam kategori lebih dari cukup dan 13,3% memiliki nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik.

Pembelajaran pada kelompok kontrol penelitian kedua soal wacana diperoleh hasil belajar dengan rata-rata sebesar sebesar 67,33 dengan nilai tertinggi adalah 78, nilai terendah adalah 50 dan varians 58,09. Penyebaran nilai data hasil belajar Stenografi penelitian kedua soal surat pada kelompok kontrol tampak pada distribusi frekuensi berikut :

Tabel 13 Deskripsi Data Hasil Belajar Stenografi Penelitian Kedua Soal Wacana pada Kelompok Kontrol

 

Rentang angka

Kriteria

Frekuensi

Persentase

> 85 -100

A

0

0

> 80 – 85

AB

0

0

> 70 – 80

B

4

26,7

> 65 – 70

BC

6

40,0

> 60 – 65

C

3

20,0

> 55 – 60

CD

1

6,7

> 50 – 55

D

1

6,7

< 50

E

0

0

Jumlah

15

100

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa 40,0% mendapatkan nilai dengan rentang > 65 -70 dalam kategori lebih dari cukup, 26,7% memiliki nilai dengan rentang > 70 – 80 dalam kategori baik, 20,0% memiliki nilai dengan rentang > 65 -70 dalam kategori cukup, 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 55 – 60 dalam kategori kurang dari cukup dan 6,7% memiliki nilai dengan rentang > 50 – 55 dalam ketegori kurang.

Dari penelitian yang dilaksanakan, akhirnya didapatkan data hasil penelitian. Data ini kemudian dianalisis untuk mendapatkan simpulan dari populasi. Adapun analisis ini dibagi menjadi dua tahap yaitu analisis tahap awal dan analisis tahap akhir.

4.1.2   Analisis Tahap Awal

Analisis tahap awal ini bertujuan untuk mengetahui apakah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berawal dari keadaan yang sepadan. Data yang digunakan adalah nilai Stenografi bahasa Indonesia Semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Unnes Program Studi Administrasi Perkantoran.

Uji yang digunakan dalam analisis tahap awal ini adalah Uji normalitas, kesamaan dua varians, dan perbedaan dua rata-rata. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan dianalisis dari populasi sebagai dasar untuk melakukan uji t (t-test). Adapun tabel uji normalitas data hasil belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006 sebagai berikut :

Tabel 14 Uji Normalitas Data Hasil Belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006

 

Kelompok

c2hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

3,600

0,891

0,05

Normal

Kontrol

6,267

0,792

0,05

Normal

Dari Tabel di atas uji normalitas kelompok eksperimen diperoleh c2hitung sebesar 3,600 dengan taraf signifikansi sebesar 0,891 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,891 > 0,05  maka data nilai Stenografi bahasa Indonesia semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Unnes Program Studi Administrasi Perkantoran pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas kelompok kontrol diperoleh c2hitung sebesar 6,267 dengan taraf signikansi sebesar 0,792 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena batas signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,792 > 0,05 maka data nilai Stenografi bahasa Indonesia Semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Unnes Program Studi Administrasi Perkantoran pada kelompok kontrol berdistribusi normal.

Uji kesamaan dua varians dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai varians yang sama atau tidak. Adapun tabel perhitungan uji kesamaan dua varians data hasil belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006 sebagai berikut :

Tabel 15 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006

 

Kelompok

Varians

Fhitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

15,54

1,393

0,248

0,05

Homogen

Kontrol

25,12

Dari tabel di atas kelompok eksperimen diperoleh Fhitung sebesar 1,393, varians sebesar 15,54 dan untuk kelompok kontrol diperoleh varians sebesar 25,12 dengan taraf signifikansi sebesar 0,248 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena taraf signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,248 > 0,05 maka varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sama (tidak berbeda secara signifikan/homogen), sehingga rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua rata-rata adalah rumus yang pertama.

Uji perbedaan dua rata-rata bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan dua rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Adapun tabel uji perbedaan dua rata-rata data hasil belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006 sebagai berikut :

Tabel 16 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Hasil Belajar Stenografi Semester Gasal 2005/2006

 

Kelompok

Mean

t hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

80,60

1,903

0,067

0,05

Tidak ada perbedaan

Kontrol

77,47

Dari tabel di atas rata-rata kelompok eksperimen () sebesar 80,60, rata-rata kelompok kontrol () sebesar 77,47 thitung sebesar 1,903 dengan signifikansi 0,067 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,067 > 0,05 maka Ho diterima berarti tidak ada perbedaan rata-rata pada nilai Stenografi bahasa Indonesia Semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Unnes Program Studi Administrasi Perkantoran Unnes antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Untuk menguji kesamaan dua rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok  hipotesis statistik yang digunakan adalah Ha : .

4.1.3   Analisis Tahap Akhir

Adapun uji yang digunakan dalam analisis tahap akhir ini adalah sebagai berikut uji normalitas, kesamaan dua varians, dan perbedaan dua rata-rata. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan dianalisis dari populasi sebagai dasar untuk melakukan uji t (t-test). Adapun tabel uji normalitas penelitian pertama soal surat sebagai berikut :

Tabel 17 Uji Normalitas Penelitian Pertama Soal Surat

 

Kelompok

c2hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

3,000

0,964

0,05

Normal

Kontrol

1,467

1,000

0,05

Normal

Dari tabel di atas uji normalitas hasil belajar kelompok eksperimen pada penelitian pertama untuk soal surat c2hitung  sebesar 3,000 dengan signifikansi 0,964 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,964 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal surat pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas pada kelompok kontrol diperoleh c2hitung sebesar 1,453 signifikansi sebesar 1,000 dengan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu sebesar 1,000 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal surat pada kelompok kontrol berdistribusi normal.

Tabel 18 Uji Normalitas Penelitian Kedua Soal Surat

 

Kelompok

c2hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

4,333

0,888

0,05

Normal

Kontrol

1,867

0,997

0,05

Normal

Dari tabel di atas uji normalitas hasil belajar kelompok eksperimen pada penelitian kedua untuk soal surat c2hitung sebesar 4,300 dengan signifikansi 0,888 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,888 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia pada penelitian kedua soal surat pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas pada kelompok kontrol diperoleh c2hitung sebesar 1,867 signifikansi sebesar 0,997 dengan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu sebesar 0,997 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian kedua soal surat pada kelompok kontrol berdistribusi normal.

Tabel 19 Uji Normalitas Penelitian Pertama Soal Wacana

 

Kelompok

c2hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

6,000

0,647

0,05

Normal

Kontrol

3,600

0,891

0,05

Normal

Dari tabel di atas uji normalitas hasil belajar kelompok eksperimen pada penelitian pertama untuk soal wacana c2hitung sebesar 6,000 dengan signifikansi 0,647 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,647 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal wacana pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas pada kelompok kontrol diperoleh c2hitung sebesar 3,600 signifikansi sebesar 0,891 dengan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu sebesar 0,891 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal wacana pada kelompok kontrol berdistribusi normal.

Tabel 20 Uji Normalitas Penelitian Kedua Soal Wacana

 

Kelompok

c2hitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

4,800

0,779

0,05

Normal

Kontrol

1,867

0,997

0,05

Normal

Dari tabel di atas uji normalitas hasil belajar kelompok eksperimen pada penelitian kedua untuk soal surat c2hitung sebesar 4,800 dengan signifikansi 0,779 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu 0,779 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian kedua soal surat pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas pada kelompok kontrol diperoleh c2hitung sebesar 1,867 signifikansi sebesar 0,997 dengan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih besar dari batas kesalahan yaitu sebesar 0,997 > 0,05 maka data hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian kedua soal surat pada kelompok kontrol berdistribusi normal.

Uji kesamaan dua varians dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai varians yang sama atau tidak. Adapun tabel perhitungan uji kesamaan dua varians penelitian pertama soal surat sebagai berikut :

Tabel 21 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Penelitian Pertama Soal Surat

 

Kelompok

Varians

Fhitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

26,52

5,015

0,033

0,05

Tidak homogen

Kontrol

76,81

Dari tabel di atas kelompok eksperimen diperoleh varians sebesar 26,52 dan untuk kelompok kontrol diperoleh varians sebesar 76,81 dengan Fhitung sebesar 5,015 taraf signifikansi sebesar 0,033 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,033 < 0,05 maka varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah berbeda (secara signifikan/tidak homogen), sehingga rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua rata-rata adalah rumus yang kedua.

Tabel 22 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Penelitian Pertama Soal Wacana

 

Kelompok

Varians

Fhitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

15,49

7,992

0,009

0,05

Tidak homogen

Kontrol

58,92

Dari tabel di atas kelompok eksperimen diperoleh varians sebesar 15,49 dan untuk kelompok kontrol diperoleh varians sebesar 58,92 dengan Fhitung sebesar dengan 7,992 taraf signifikansi sebesar 0,009 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,009 < 0,05 maka varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah berbeda (secara signifikan/tidak homogen), sehingga rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua rata-rata adalah rumus yang kedua.

Tabel 23 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Penelitian Kedua Soal Surat

 

Kelompok

Varians

Fhitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

19,60

4,626

0,040

0,05

Tidak homogen

Kontrol

49,54

Dari tabel di atas kelompok eksperimen diperoleh varians sebesar 19,60 dan untuk kelompok kontrol diperoleh varians sebesar 49,54 dengan Fhitung sebesar 4,626 taraf signifikansi sebesar 0,040 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,040 < 0,05 maka varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah berbeda (secara signifikan/tidak homogen), sehingga rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua rata-rata adalah rumus yang kedua.

Tabel 24 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Penelitian Kedua Soal Wacana

 

Kelompok

Varians

Fhitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

16,35

6,096

0,020

0,05

Tidak homogen

Kontrol

58,09

Dari tabel di atas kelompok eksperimen diperoleh varians sebesar 16,35 dan untuk kelompok kontrol diperoleh varians sebesar 58,09 dengan Fhitung sebesar 6,096 taraf signifikansi sebesar 0,020 dan batas kesalahan sebesar 0,05. Karena taraf signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,020 < 0,05 maka varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah berbeda (secara signifikan/tidak homogen), sehingga rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua rata-rata adalah rumus yang kedua.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa data hasil belajar Stenografi pada penelitian pertama dan kedua untuk soalsuratdan wacana berdistribusi normal dan tidak homogen. Karena hasil uji kesamaan dua varians tidak sama (tidak homogen) digunakan rumus uji perbedaan dua rata-rata yang kedua.

Tabel 25 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Penelitian Pertama Soal Surat

 

Kelompok

Rata-rata

thitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

79,33

5,207

0,000

0,05

Adaperbedaan

Kontrol

65,67

Dari tabel di atas rata-rata kelompok eksperimen () sebesar 79,33, rata-rata kelompok kontrol () sebesar 65,67 dan thitung sebesar 5,207 dengan signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka Ha diterima berarti ada perbedaan rata-rata pada hasil belajar Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal surat antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.

Tabel 26 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Penelitian Pertama Soal Wacana

 

Kelompok

Rata-rata

thitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

79,93

6,824

0,000

0,05

Adaperbedaan

Kontrol

64,73

Dari tabel di atas rata-rata kelompok eksperimen () sebesar 79,93, rata-rata kelompok kontrol () sebesar 64,73 dan thitung sebesar 6,824 dengan signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka Ha diterima berarti ada perbedaan rata-rata pada nilai Stenografi bahasa Indonesia penelitian pertama soal surat antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.

Tabel 27 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Penelitian Kedua Soal Surat

 

Kelompok

Rata-rata

thitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

81,80

6,148

0,000

0,05

Adaperbedaan

Kontrol

68,60

Dari tabel di atas rata-rata kelompok eksperimen () sebesar 81,80,  rata-rata kelompok kontrol () sebesar 68,60 dan thitung sebesar 6,148 dengan signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka Ha diterima berarti ada perbedaan rata-rata pada nilai Stenografi bahasa Indonesia penelitian kedua soal surat antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.

Tabel 28 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Penelitian Kedua Soal Wacana

 

Kelompok

Rata-rata

thitung

Sig

Batas Kesalahan

Kriteria

Eksperimen

81,93

6,361

0,000

0,05

Adaperbedaan

Kontrol

67,33

Dari tabel di atas rata-rata kelompok eksperimen () sebesar 81,93, rata-rata kelompok kontrol () sebesar 67,33 dan thitung sebesar 6,361 dengan signifikansi 0,000 dan batas kesalahan 0,05. Karena signifikansi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 maka Ha diterima berarti ada perbedaan rata-rata pada nilai Stenografi bahasa Indonesia penelitian kedua soal surat antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.

 

4.2   Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada nilai Stenografi bahasa Indonesia Semester Gasal tahun 2005/2006 mahasiswa ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran pada kelompok eksperimen dan kontrol diketahui data berdistribusi normal dan homogen. Hal ini dikarenakan kedua kelompok menggunakan kurikulum dan diajarkan oleh pengajar dengan metode yang sama. Hasil uji kesamaan dua varians menunjukkan di antara kedua kelompok tersebut homogen sedangkan hasil perbedaan dua rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok tersebut. Berarti kedua kelompok berawal dari keadaan yang sama sehingga dapat diberi perlakuan/treatment yang berbeda dalam pembelajaran Stenografi.

Dari penelitian pertama dan kedua untuk soal surat dan wacana pada kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh bahwa data berdistribusi normal, dan varians yang berbeda (tidak homogen). Hal ini dikarenakan mahasiswa telah diberi treatment/perlakuan yang berbeda sehingga adanya perbedaan rata-rata hasil belajar di antara kedua kelompok yang signifikan.

Penelitian pertama dan kedua menunjukkan rata-rata hasil belajar Stenografi mengalami peningkatan. Seperti halnya rata-rata hasil belajar penelitian pertama soal surat pada kelompok eksperimen sebesar 79,33 dengan kategori baik. Sedangkan penelitian kedua rata-rata hasil belajar meningkat sebesar 81,80 dengan kategori lebih dari baik. Demikian juga pada soal wacana mengalami kenaikan hasil belajar. Hal ini dikarenakan mahasiswa tersebut telah terlatih dengan menulis Stenografi seiring dengan perubahan waktu dan terbiasanya dengan menggunakan media audio dalam pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran bahwa pada soal wacana perhatian mahasiswa lebih tinggi daripada soal surat seperti pada penelitian kedua kelompok eksperimen bahwa rata-rata hasil belajar Stenografi pada soal wacana lebih baik dibanding soal surat. Rata-rata hasil belajar soal surat sebesar 81,80 sedangkan rata-rata hasil belajar soal wacana sebesar 81,93 meskipun tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan. Namun menurut mahasiswa bahwa kata-kata pada soal wacana lebih bervariasi sehingga tidak membuat mahasiswa bosan. Sedangkan kata-kata yang ada dalam soal surat cenderung monoton menjadikan mahasiswa merasa bosan dan perhatian belajarnya menjadi berkurang bahkan cenderung hafal dengan kata-kata yang ada dalam soal surat. Hal ini juga dapat dilihat dari reliabilitas soal surat lebih rendah dibanding reliabilitas soal wacana.

Kesalahan yang sering terjadi pada mahasiswa adalah ketelitian dan kecermatan dalam melatinkan stenogram masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang ada pelatinan tidak sesuai dengan stenogram yang ada dan adanya kata-kata yang ditulis dengan huruf latin pada stenogram. Mahasiswa juga kurang memanfaatkan waktu yang telah diberikan dengan baik dalam pelatinan sehingga pada saat waktu telah habis masih ada beberapa mahasiswa belum selesai melatinkan stenogramnya. Hal ini dikarenakan mahasiswa tersebut kurang berlatih dalam menulis Stenografi sesuai dengan ketepatan waktu yang telah ditetapkan.

Dalam penelitian ini diketahui batas kesalahan 0,05 memberikan pemahaman bahwa pernyataan tersebut 0,95 dapat dipercaya. Namun demikian, perlu disadari bahwa terdapat tingkat kekeliruan sebesar 0,05 karena adanya faktor-faktor penganggu yaitu faktor-faktor lain di luar penelitian yang dilakukan dalam proses pembelajaran Stenografi. Adapun faktor-faktor pengganggu yang dimaksud adalah faktor kecerdasan, faktor fisiologis pada saat proses pembelajaran berlangsung, serta faktor minat, motivasi, kualitas media audio dan lain-lain

Keuntungan pembalajaran Stenografi menggunakan media audio bahwa perhatian belajar mahasiswa menjadi lebih tinggi dan memberikan motivasi untuk lebih terampil dalam menulis Stenografi dengan cepat sesuai dengan waktu yang ditentukan. Secara teknis media ini mudah dioperasikan dan cukup ekonomis sehingga dalam penggunaanya tidak mengalami kesulitan. Oleh karena itu media ini tidak asing bagi mahasiswa. Selain itu pengajar dapat melihat bagaimana proses belajar yang terjadi pada mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang sering berlatih menulis dapat lebih terampil dalam penulisan Stenografi sehingga hasil belajar yang diperoleh lebih baik dibanding mahasiswa yang kurang berlatih menulis Stenografi dengan hasil belajar yang rendah.

Pembelajaran dengan mengggunakan media audio merupakan salah satu vasiasi mengajar sehingga mahasiswa merasa tidak bosan dengan pembelajaran sebelumnya. Oleh karena itu, pembelajaran Stenografi dengan menggunakan media mendapat perhatian yang lebih tinggi dan hasil belajar yang diperoleh lebih baik dibanding dengan tidak menggunakan media audio. Selain itu, media audio memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya meningkat aspek kognitif saja tetapi juga aspek psikomotor dan afektif. Oleh karena itu mahasiswa  dalam belajar dituntut untuk tidak hanya menghapal tetapi mahasiswa dituntut terampil dalam menulis, membaca, dan melatinkan Stenografi.

Hambatan-hambatan pembelajaran dengan menggunakan media audio adalah kualitas suara yang semakin rendah apabila sering diputar. Oleh karena itu sebelum digunakan maka media ini diperhatikan sebelum pembelajaran dimulai sehingga hal tersebut tidak terjadi dan mahasiswa dapat mendengarkan dengan suara yang jelas. Selain itu mahasiswa belum terbiasa menggunakan media audio dalam pembelajaran sehingga rata-rata hasil belajar pada penelitian pertama lebih rendah dibanding penelitian kedua. Namun seiring dengan perubahan waktu dan sering digunakan media audio dalam pembelajaran menjadikan hasil belajar lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar dari soal surat maupun wacana pada kelompok eksperimen.

Pembahasan di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pembelajaran Stenografi bahasa Indonesia dengan menggunakan media audio lebih efektif dibanding pembelajaran dengan tidak menggunakan media audio dan dapat meningkatkan hasil belajar.

Stenografi (Bab I)

BAB I

                                               PENDAHULUAN          

 

1.1   Latar Belakang Masalah

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003). Mutu pendidikan selalu menarik perhatian masyarakat Indonesia karena masa depan bangsa tergantung pada pendidikan terutama di era globalisasi sekarang ini. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan pendidikan nasional.

1

Pendidikan tidak terpisah dari perkembangan masyarakat, kemajuan ilmu dan teknologi serta perkembangan hubungan antar bangsa. Pendidikan bersifat dinamis yang secara terus-menerus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pembaharuan dibidang pendidikan sekarang didasarkan dan ditujukan pada perbaikan situasi dan kondisi belajar, untuk mencapai perbaikan mutu pendidikan. Kemajuan ilmu dan teknologi berkaitan dengan pembaharuan dibidang media pembelajaran dan harus diikuti dengan pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam memilih dan menggunakan media.

Pendidikan tinggi di Indonesia adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah. Tugas pokok perguruan tinggi dikenal dengan sebutan Tridarma Perguruan Tinggi yang terdiri atas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai subsistem dari pendidikan tinggi di Indonesia bertugas melaksanakan pendidikan akademik dan advokasi (profesi) dalam sejumlah ilmu, teknologi, dan seni. Unnes menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk program reguler dan pararel yang meliputi program pendidikan dan nonkependidikan, terdiri dari pendidikan akademik dan advokasi (profesi). Pendidikan akademik terdiri dari pendidikan sarjana dan pasca sarjana. Sedangkan pendidikan profesi terdiri atas program diploma, keahlian, dan pelatihan singkat.

Penelitian ini dilakukan sebelum diresmikannya Fakutas Ekonomi (FE) pada tanggal 29 Juni 2006 sehingga Unnes memiliki enam Fakultas dan satu Program Pasca Sarjana, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Bahasa dan seni (FBS), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Fakultas Teknik (FT), dan Program Pasca Sarjana. Setiap fakultas tersebut terdiri dari beberapa jurusan dan Program Studi yang menyelenggarakan berbagai program pendidikan sesuai dengan bidang studinya. Fakultas Ilmu Sosial (FIS) terdiri dari beberapa jurusan dan Program Studi, salah satu diantaranya yaitu jurusan ekonomi.

Jurusan ekonomi terdiri dari beberapa Program Studi yaitu Program Studi pendidikan Ekonomi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Manajemen Perkantoran. Pendidikan ekonomi dibagi menjadi tiga yaitu pendidikan Akuntansi, Administrasi Perkantoran, dan Koperasi. Kurikulum program pendidikan terdiri dari kelompok mata kuliah wajib yang disesuaikan dengan program pendidikannya. Untuk kurikulum program diploma sebagian besar mata kuliahnya adalah praktek, perbandingannya adalah enam puluh persen praktikum dan empat puluh persen teori penunjang praktikum. Sedangkan kurikulum program pendidikan sarjana kependidikan termasuk pendidikan Program Studi Administrasi Perkantoran terdiri atas lima kelompok mata kuliah wajib yaitu Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), Mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).

Mata kuliah Stenografi bahasa Indonesia termasuk kelompok dalam Mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB) yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai. Mata kuliah Stenografi bahasa Indonesia merupakan mata kuliah skill atau keterampilan yang kegiatannya membaca dan menulis (Pedoman Akademik Unnes, 2004:4-8).

Mata kuliah Stenografi bahasa Indonesia merupakan mata kuliah wajib bagi Program Studi Administrasi Perkantoran dan termasuk mata kuliah prasyarat yang terdiri dari Stenografi bahasa Indonesia satu dan dua. Artinya untuk dapat mengikuti mata kuliah Stenografi bahasa Indonesia dua harus lulus Stenografi bahasa Indonesia satu. Materi yang diajarkan dalam Stenografi bahasa Indonesia satu merupakan materi dasar mengenai Stenografi adalah pengenalan Stenografi, pengenalan huruf, singkatan, kata ulang, latihan kecepatan menulis, membaca, serta melatinkan dan lain-lain. Materi dalam Stenografi bahasa Indonesia dua adalah kecepatan menulis, membaca, dan melatinkan mulai dari empat puluh sampai dengan seratus dua puluh suku kata per menit (skm) yang bersumber dari dikte surat, wacana (reportase), keputusan persidangan, atau naskah pidato.

Kemajuan teknologi yang modern sekarang ini, untuk suatu penulisan risalah suatu pidato, rapat-rapat anggota DPR, MPR dan lain-lain dapat menggunakan alat-alat seperti tape recorder, dictaphone, tachograph, tachotype dan sejenisnya. Namun tulisan Stenografi sekarang ini masih relevan, karena dipandang lebih praktis dan menguntungkan. Apalagi bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Administrasi Perkantoran (AP), siswa dituntut terampil menulis cepat, secepat pembicaraan. Penulisan yang singkat dalam Stenografi menurut perhitungan waktu yang diperlukan hanya sekitar sepertiganya dari penulisan yang menggunakan tulisan latin. Oleh karena itu, tempat yang digunakan untuk menulis lebih sedikit apabila dibanding menulis dengan tulisan latin, sehingga materi (bahan) yang digunakan tidak banyak dan biaya yang dikeluarkan lebih sedikit.

Penulisan Stenografi bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan oleh orang-orang dari berbagai profesi, seperti Sekretaris saat mendampingi pimpinan waktu rapat, Notulis atau Notulen saat mendampingi pimpinan sidang, Wartawan yang pekerjaannya mewancarai orang untuk mencari dan menulis berita, mencatat hasil persidangan, mencatat atau mendikte perintah dari pimpinan, mencatat rekaman hasil rapat atau yang sejenisnya, membuat catatan yang bersifat rahasia, seorang Public Relations Officer (PRO) yang kegiatan kerjanya banyak berhubungan dengan masyarakat, dan orang-orang yang aktivitasnya menulis           (Sumaryana, 2000:2-3).

Masuknya teori tingkah laku (behavioristik) yang dipelopori oleh Skinner yang kemudian dikembangkan oleh Gagne menyatakan bahwa tujuan belajar mengarah kepada perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku melalui suatu proses dengan cara mengolah stimulus. Perubahan tingkah laku ini dapat terlihat pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu belajar tergantung dari pengalaman termasuk di dalamnya balikan yang berasal dari lingkungan. Mahasiswa dapat memperoleh pengertian dengan cara mengolah stimulus dengan pengalaman melalui persepsi. Semakin baik stimulus tersebut semakin baik juga persepsi mahasiswa artinya apa yang diterima mahasiswa dapat diterima dan dimengerti dengan baik. Tanggapan yang tidak jelas dapat menghambat tercapainya perubahan tingkah laku tanpa persepsi (Rumampuk, 1988:5-7).

Persepsi dipengaruhi karena ketidakjelasan alat-alat indera, perhatian, minat, pengalaman, dan kejelasan objek yang akan dikenal. Oleh karena itu penting bagi pengajar sebagai fasilitator untuk memilih dan menyajikan bahan-bahan yang dapat dikenal kepada mahasiswa untuk menarik minat mahasiswa serta memperjelas persepsi sehingga dapat membawa pengaruh yang besar terhadap perubahan tingkah laku mahasiswa.

Pada dasarnya pembelajaran adalah proses komunikasi antara pengajar, dan pembelajar. Pesan atau informasi yang disampaikan oleh pengajar melalui media sebagai stimulus. Stimulus ini dapat dalam bentuk pernyataan dari pembelajar, pengajar atau disajikan dalam bentuk suatu film, tulisan, bagan, gambar, suara yang direkam, dan sejenisnya yang selanjutnya oleh pembelajar memberikan respon atau reaksi. Reaksi ini dapat mengarah ke respon yang aktif misalnya berupa jawaban atau saran jika pesan tersebut berlangsung lancar tanpa adanya gangguan. Kalau ternyata berlangsungnya pesan tersebut mendapat gangguan maka pengajar harus mencari gangguan yang menghambat atau dengan memilih media yang dapat memperlancar jalannya pembelajaran.

Kendala-kendala dalam proses pembelajaran Stenografi di sekolah-sekolah pada umumnya adalah kemampuan pengajar terhadap Stenografi masih kurang menguasai, pemilihan metode mengajar yang kurang tepat, strategi penilaian yang kurang tepat, kurang melibatkan semua aspek dalam proses evaluasi, dan kurang memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sekolah. Demikian juga dalam pembelajaran mata kuliah Stenografi di Program Studi Administrasi Perkantoran Unnes yang selama ini digunakan adalah kurang memanfaatkan penggunaan media. Artinya proses belajar mengajar dilakukan secara langsung. Mahasiswa mendengarkan apa yang diajarkan oleh pengajar dan menulisnya sehingga keadaan tersebut menjadikan mahasiswa bosan dan lelah. Penggunaan media dalam pembelajaran Stenografi bahasa Indonesia dapat membangkitkan belajar mahasiswa sehingga peranan pengajar sebagai motivator dalam pembelajaran Stenografi pada mahasiswa yaitu membangkitkan keinginan dan minat yang baru untuk belajar lebih giat sehingga hasil belajar dapat optimal.

Salah satu media dalam pembelajaran adalah media audio. Media ini hanya memberikan rangsangan melalui salah satu indera saja yaitu indera pendengaran. Hasil studi yang dilakukan Gene L. Wilkelsen dalam penelitian Sutjiono (2005) menunjukkan bahwa media audio dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran, bahkan untuk pembelajaran bahasa pengucapan dan intonasinya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan media audio.  Media ini tidak hanya cocok untuk pesan aspek kognitif, namun juga cocok untuk aspek afektif dan psikomotor. Media audio dapat membantu pengajar dalam proses pembelajaran dan bahan belajar serta sarana yang perlu disiapkan juga relatif mudah, yaitu kaset audio, tape recorder, dan sumber listrik. Atas pertimbangan tersebut di atas, media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran mata kuliah Stenografi bahasa Indonesia adalah media audio. Media audio yang digunakan adalah tape recorder atau alat perekam pita magnetik. Pesan atau isi pelajaran direkam pada pita magnetik (tape recorder) dan hasil rekaman tersebut dapat diputar kembali apabila dibutuhkan. Pesan atau isi pelajaran bersumber dari dikte surat, wacana (reportase), keputusan persidangan, naskah pidato, dan lain-lain. Dengan demikian perhatian dan motivasi belajar mahasiswa diharapkan lebih tinggi dibanding pembelajaran yang tidak menggunakan media audio sehingga dapat meningkatkan hasil belajar Stenografi.

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO DALAM PEMBELAJARAN STENOGRAFI PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PERKANTORAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG”.

1.2     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dibahas adalah apakah penggunaan media audio lebih efektif dibanding tidak menggunakan media audio dalam pembelajaran Stenografi pada mahasiswa Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang?.

1.3   Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka peneliti memiliki tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan media audio dalam pembelajaran Stenografi pada mahasiswa Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

1.4   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.4.1. Manfaat Praktis

Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian baik secara teori maupun praktek di lapangan. Bagi para pengajar Stenografi, sebagai masukan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam membelajarkan mahasiswa sehingga tujuan dalam proses pembelajaran dapat tercapai optimal. Bagi Fakultas Ekonomi, diharapkan penelitian ini menjadi masukan yang berharga untuk dapat meningkatkan dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan menghasilkan output yang berkualitas.

1.4.2. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan masukan pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan menulis Stenografi di Fakultas Ekonomi dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Administrasi Perkantoran (AP). Diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan kepada almamater untuk dimanfaatkan sebagai sumber bacaan yang berguna dan masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Stenografi.

1.5   Sistematika Skripsi

Sistematika skripsi dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut :

1.5.1. Bagian Awal Skripsi

Bagian ini berisi tentang halaman judul, abstraksi, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, serta lampiran.

1.5.2. Bagian Isi Skripsi

Bab satu pendahuluan berisi tentang keseluruhan isi skripsi yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab dua landasan teori merupakan kajian pustaka yang membahas teori-teori yang melandasi permasalahan-permasalahan skripsi, serta merupakan landasan teori dari hipotesis. Dalam bab ini berisi tentang belajar, pembelajaran, hasil belajar, Stenografi, media pembelajaran, kerangka berpikir, dan hipotesis.

Bab tiga metode penelitian berisi tentang populasi, sampel, variabel penelitian, teknik pengumpulan dan pengambilan data, teknis analisis perangkat tes, dan teknik analisis data.

Bab empat hasil penelitian dan pembahasan berisi mengenai hasil penelitian serta pembahasan dari hasil penelitian. Penelitian ini dilakukan dua kali dengan soal yang berbeda.

Bab lima penutup berisi simpulan yang merupakan pernyataan singkat yang diambil dari hasil analisis dan pembahasan penelitian serta saran yang merupakan sumbangan pikiran hasil penelitian.

1.5.3. Bagian Akhir Skripsi.

Bagian ini terdiri dari daftar pustaka dan lampiran yang mendukung isi skripsi. Lampiran dalam penelitian ini berupa daftar tabel, dan gambar.

materi arsip tanggal 22 MEI 2012

klik di sini aja ya

Alloh yang Mengatur Hidupku

Jumat, 18 Mei 2012 merupakan hari kunjungan ketiga saya dan istri jenguk Pakde di rumah sakit Panti Wilasa, Citarum, Semarang. Sebenarnya scadule pada hari itu adalah pulang ke Pemalang, akan tetapi menurut saran Mamah yaitu jangan pulang Pemalang dulu karena kemarin baru pulang, uangnya disimpan buat kebutuhan yang lain. Dengan alasan tersebut dan prinsip saya akan ridho Allohi ridhol walidain (ridho Alloh, Ridho kedua orang tua). Akhirnya saya memutuskan mengubah scadule dengan jenguk Pakde.

Padahal, Malam harinya yaitu hari Kamis, 18 Mei 2012 saya sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan scadule pergi ke Pemalang. Istri menyelesaikan pekerjaan rumah seperti menyuci baju, menyetrika baju, dan pekerjaan lainnya. Saya fokuskan pada pekerjaan menyelesaikan data-data tesis. Sesuai dengan rencana awal jika Jumat pulang ke Pemalang, setelah mendapat jawaban dari SMK Negeri 6 Semarang bahwa pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012 Sekolah masih libur kenaikan cuti Isa Al Masih. Akhirnya saya merubah scadule untuk rencana pada hari sabtu, adalah mengambil data penelitian di SMK Negeri 6 Semarang.

Dengan ada dua scadule yang gagal, pulang Pemalang, dan mengambil data di SMK Negeri 6 Semarang. Akhirnya pada hari Jumat, saya dan Istri jenguk Pakde di Rumah Sakit. Dalam diri saya, setiap hari Jumat saya sudah menyiapkan segala sesuatu. Prinsip saya adalah hari Jumat adalah sayyidul ayyam (hari yang paling baik). Mulai malam jumatnya pun malam itu saya sudah memperbanyak ibadah dengan solat sunah rowatib, solat tasbih, baca tahlil, baca surat yasin, dan lainnya.

Jumat, jam  11.00 WIB saatnya mempersiapkan solat Jumat. Pakde selama di Rumah Sakit ditemani oleh anaknya yang bernama Yusuf. Saya berniat menghibur dia, karena dia sudah sepuluh hari di rumah sakit. Untuk menghilangkan kejenuhan dia selama di Rumah Sakit, saya ajak dia Jumatan di Masjid Agung Kauman. Dia terlihat terhibur sekali dengan Jumatan di masjid Kauman, sepanjang jalan dia menikmati pemandangan orang kepanasan berjualan di pasar Johar, sesekali dia bertanya padaku, mana pasar Yaik? Trus aku jawab itu pasar Yaik, dan beberapa pertanyaan lain.

Tiba di masjid, kita langsung mengambil air berwudhu. Dia sangat memperhatikan segala sesuatu yang ada di masjid. Misal, missal orang yang sudah berwudhu jalan menuju shof langsung menuju pintu pertama masjid yang dipandu oleh takmir. Hal ini dimaksudkan agar shof pertama penuh, setelah penuh kemudian pintu kedua dibuka, setelah penuh pintu ketiga dibuka, dan seterusnya. Tidak umumnya masjid yang lain, karena orang pertama masuk langsung dari pintu depan, kemudian sebagian orang memilih duduk di shof belakang atau yang dekat dengan pintu keluar.

Jam 11.50, takmir mengumumkan laporan keuangan, dan petugas muadhzin, Imam, dan Khotib. Yang menjadi saya terkejut, adalah khotibnya ustad Yusuf Mansur. Ustad yang setiap hari aku ikuti kajiannya di wisata hati Antv. Waktu subuh saya bersama dengan beliau, waktu duhur sekarang saya dengan beliau. Akan tetapi, yang pada waktu duhur terasa lebih dekat, karena melihat secara fisik, ucapan beliau yang meledak-ledak ketika membahas sedekah dan quantum dalam hidup dengan amalan ibadah. Saya rekam pidato beliau dalam HP yang sudah saya silent, apa yang menjadi isi khotbah sebenarnya menurut saya bukan sesuatu hal yang baru. Isinya hampir sama apa yang disampaikan oleh beliau ketika di wisata hati Antv.

Hari itu adalah pertemuan pertama saya dengan beliau secara fisik. Saya sangat terbawa akan ceramah beliau dan doa beliau. Apalagi ketika beliau menyebut doa “mudah-mudahan Alloh menyembuhkan orang yang sakit, dilancarkan segala rizkinya, sabar dalam menjalani khidupan, dan seterusnya”. Sebagai akhir dari jumatan ditutup dengan sedekah. Saya menyedahkan dari rizki yang telah diberikan Alloh kepada saya, dengan jalan menuju ke sajadah yang ada di mimbar khotib ustad Yusuf Mansur. Sambil menuju ke mimbar, saya bersolawat nabi,,”solla Alloh ala Muhammad, Solla Alloh Alaihi wasallam” berkali-kali, sambil saya iringi dengan kalimat “labbaikallaahuma labbaik, labbaik la syarika labbaib, dan seterusnya,,,ucapan ketika haji. Sambil saya berdoa semua permasalahan dalam hidup. Doa yang sering aku panjatkan saat itu adalah “semuhkan mamah saya, hajikan aku dan mamahku”. Semakin keras, semakin berkali-kali doa itu ku panjatkan, semakin mengena di hati, dan air mata yang jatuh ke pipi. saya betul membayangkan apa yang saat ini saya lakukan adalah wujud Alloh ketika kelak Alloh menghajikan saya dan mamah kelah di baitullah, bedanya apa yang sala lempar ketika di haji adalah batu, akan tetapi hari itu yang ku lempar adalah uang, orang haji berdesakan untuk mencium hajar aswad, tetapi saya berdesakan menuju mimbar, karena saya tidak mau dititipkan dengan orang lain. Saya pengin di depan mimbar.

Setelah jumatan selesai, saya langsung telepon mamah, saya bilang mah, yakin mamah pasti seha dan kelak bias naik haji dengan aku juga. Beliau bilang ya Gung. Nah, kejadian yang tidak disangka saat itu adalah Pakde diijinkan pulang dari rumah sakit, yang mungkin seharusnya hari minggu. Eh, dengan kabar yang tidak diduga, akhirnya kita memutuskan pulang saat itu juga. Dalam hati saya, memang semua hidup itu Alloh yang mengatur, segala sesuatu yang tidak disangka itu hak Alloh, tinggal kita yakin tidak dengan keberadaan Alloh. Pakde sangat suka mendengar berita tersebut. Hanya kata Alhamdullih,, Alhamdullih,,,akhirnya kita pulang bersama ke Rembang dengan penuh suka cita.

Previous Older Entries