Menggugat “Menepuk Tangan” Anak Yatim

Oleh : Agung Kuswantoro

Di bulan Suci ini banyak orang bersedah kepada anak yatim. Hal ini sejalan dengan perintah Alloh agar tidak menghardik anak yatim (mereka). Sebagaimana dalam Al Maun (1 dan 2) bahwa, orang yang pertama dikategorikan mendustakan agama adalah orang yang menghardik mereka.

Dalam perkembangannya model penyantunannya dilakukan dengan menghadirkan mereka di sebuah lembaga/ kantor. Mereka diundang dalam acara seperti syukuran, buka puasa bersama, dan sejenisnya. Kemudian disela-sela acara tersebut, mereka dipanggil untuk maju di hadapan para hadirin. Saat itu pula, Master of Ceremony (MC) menyebutkan, pada kali ini kantor kita memberikan bantuan kepada anak yatim sejumlah sekian, bagi yang mewakili silakan maju ke pangggung. Bergemuruh tepuk tangan dari hadirin dan dipertontonkan kepada ratusan pasang mata ketika mereka di panggung.

Menyakitkan Hati

Ketika orang bertepuk tangan dan melihat mereka, justru hati mereka menangis. Mereka memang harus kita bantu, bahkan kedekatan Rosul dalam hadisnya “ Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini (HR. Bukhari). Namun, bukan dengan cara seperti itu. Menurut saya, ada beberapa model yang dalam menyantuni dia.

Pertama, penyantun datang ke rumah/ panti asuhannya. Dengan kata lain kita datang ke mereka. Sebenarnya kedatangan kita adalah memberikan nuansa tersendiri, kita bisa memberikan motivasi, penyegaran, dan hiburan bagi mereka. Senyumannya adalah sebuah kebahagiaan bagi kita. Maka, jika ada anak yatim yang perlu pertama dibangun adalah psikologisnya, bukan fisiknya. Karena, pada hakekatnya mereka telah kehilangan kasih sayang. Dia dilahirkan sudah dalam keadaan tersendiri, sebagaimana arti dari yatim itu sendiri.

Kedua, kita mengundangnya ke acara kita, mereka kita ajak makan, minum, dan lainnya sebagaimana tamu lainnya. Jadi tidak ada perbedaan dari semua tamu. Biarlah yang ditepuk tangan dan yang maju di panggung adalah orang yang berprestasi. Sebagaimana jika atlet memenangkan lomba, maka dia diberi piala dan ditepuk tangani. Jika kita mengundangnya dengan model kedua, artinya kita menyamakan tamu yang diundang. Tamu memiliki kedudukan yang sama bagi pengundang.

Niat mengundang anak yatim, berarti memperlakukan mereka sebagai tamu. Menepuk tangan mereka dihadapan orang banyak sama halnya dengan mempermalukan mereka. Mereka bukan untuk dipermalukan dihadapan orang atau bukan untuk dikasihi dihadapan orang. Dari beberapa jawaban anak yatim yang penulis temui mengenai hal tersebut, bahwa sebenarnya mereka berontak terhadap situasi tersebut, mereka dipermalukan dengan keadaan tersebut, tetapi apalah daya, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak hal tersebut saat itu. Jika mereka mengetahui akan diperlakukan hal tersebut, pasti mereka tidak datang di acara tersebut.

Ibnu Majah dalam riwayatnya mengatakan “Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk”. Jika memperlakukan mereka dengan perlakuan bertepuk tangan dihadapan orang lain, menurut saya sama halnya dengan diperlakukan buruk. Semoga kita bisa menghargai hati mereka dengan kasih sayang, tulus, ikhlas dan memperlakukan mereka dengan santun sesuai ajaran agama kita. Waallahu ‘Alam

 

Penulis             : Pengiat Kajian Mahasiswa Mengaji, Dosen Fakultas Ekonomi Unnes

2 Komentar (+add yours?)

  1. Imam Syihab
    Agu 01, 2012 @ 09:30:11

    Sekarang banyak acara ceremonialnya pak agung. sampai-sampai shodaqoh jg harus memakai acara ceremonial.
    والله أعلم

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: