Wisuda Galau

Oleh Agung Kuswantoro

September dan Oktober telah berlalu merupakan bulan panen wisuda bagi Perguruan Tinggi (PT) karena periode ini terbanyak PT meluluskan mahasiswanya. Penulis mencatat bersumber Suara Merdeka di bulan September USM meluluskan 559 wisudawan (29/9), UNY mewisuda 2012 lulusan, STAIN Purwokerto meluluskan 383 wisudawan (6/9), Unikal mewisuda 444 lulusan (15/9), Politekkes Kemenkes meluluskan 659 lulusan (11/9) dan STIE Dharmaputra meluluskan 197 lulusan (18/9). Pada bulan Oktober Unnes memanen 3110 wisudawan (17-18/10) dan Unisula mewisuda 748 wisudawan (19-20/10), dan Udinus meluluskan 240 wisudawan (24/10).

Data tersebut memunculkan pertanyaan ke manakah mereka akan bekerja? Siapkah mereka dengan dunia kerja? Siapakah yang akan menerima mereka bekerja? Maukah perusahaan menerima mereka? Siapa yang bertanggung jawab jika mereka tidak mendapatkan kerja? Mau dibawa ke mana lulusan terdidik?  Apakah mereka adalah calon penggangguran terdidik?

Hakikat Wisuda

Wisuda merupakan acara ceremonial bagi mahasiswa. Ibarat orang menikah maka wisuda adalah acara resepsi dan mendapatkan ijasah adalah aqadnya. Bagi PT yang terpenting adalah bukan kuantitas wisudawan yang terbanyak tetapi keterserapan kualitas lulusan dapat diterima oleh perusahaan atau mampu membuka lapangan pekerjaan.

Penulis tidak sependapat statement bahwa wisuda adalah kemenangan. Jika mahasiswa memiliki prinsip itu maka dia pada hakekatnya mengalami kekalahan. Biasanya orang yang menang, dia bertindak santai, tidak melakukan inovasi, cenderung diam, dan merasa tenang padahal dia akan menghapi fase pascawisuda berupa competition area antar lulusan PT.

Prawisuda yang harus dilakukan oleh PT adalah menggodok mental calon lulusannya dengan memberikan bimbingan karir. Dalam konseling ini calon wisudawan diberi penjelasan mengenai prospek dan tantangan dunia kerja, motivasi hidup mengenai perjalanan seorang yang sukses dengan mendatangkan alumni, menghadirkan praktisi mengenai peluang atau trend  kerja saat ini dan trik menghadapi wawancara serta berbagai penguatan lainnya. Harapan dari bimbingan ini adalah menciptakan lulusan yang tangguh mental dalam persaingan kerja.

Menjadi beban pemerintah jika PT mewisuda sarjana yang menghasilkan pengangguran terdidik. Mereka beraksi dengan rajin ke kampus setelah diwisuda untuk melegalisir ijasah, tiap Sabtu membeli koran untuk melihat lowongan kerja kemudian membuat surat lamaran kerja, presensi ketika ada job fair yang diselenggarakan oleh PT atau Kemenankertrans dan lainnya. Hal ini dinamakan wisuda galau karena dia bingung dengan dirinya sendiri, belum mengetahui kemampuannya, dan belum paham dengan kondisi lapangan pasca kehidupan kampus.

Jika kita tidak ingin bergelar wisuda galau maka mahasiswa dalam kuliah lebih mengutamakan proses bukan hasil. Proses yang dimaksudkan adalah menghayati segala bentuk makna mata kuliah, mengerjakan tugas dengan serius (tidak copy paste), banyak membaca referensi, menganalisis jurnal, browsing artikel dan mengkritisi, berlatih menulis dengan mengkomentari setiap bacaan yang telah dibaca, berdiskusi dengan ahli, dan lainnya. Jika proses ini dilakukan dengan baik maka mental mahasiswa tersebut menjadi kuat. Ibarat orang memancing maka proses ini dinamakan kail dan hasilnya adalah ikan. Kualitas kail menentukan pada jenis ikan yang didapat. Jika kail itu besar dan kuat maka ikan yang didapat besar dan jika kail itu kecil maka ikan kecil yang diperoleh. Demikian juga wisudawan yang memiliki mental dan menghayati proses selama di PT maka gaji atau komisi besar yang diperoleh, sedangkan lulusan yang bermental lemah dan tidak bersungguh-sungguh dalam proses perkuliahan maka gaji kecil yang didapatkannya. Agar kita tidak termasuk wisuda galau maka perkuat mental dengan mengutamakan proses selama belajar di PT. Mudah-mudahan kita tidak termasuk didalamnya dan PT dapat mampu menggali potensi mahasiswanya untuk mendapatkan kail kuat sehingga memperoleh ikan yang besar. Amin

 

Penulis : Dosen Fakultas Ekonomi Unnes dan Pendamping Kemahasiswaan Pendidikan Ekonomi

6 Komentar (+add yours?)

  1. Masfufati
    Nov 07, 2012 @ 08:10:35

    Betul sekali pak…jadi benar-benar galau…
    Mau dibawa kemana ijazah ini???

    Balas

  2. Nuka
    Nov 16, 2012 @ 08:06:53

    Mengenai pengangguran terdidik: orang Indonesia mayoritas terkategori pada pengasah otak kiri (kecerdasan), sehingga kreatifitas (otak kanan) yang dimiliki tidak terlalu banyak berkembang. Sehingga salah satu contoh nyata yang dapat kita lihat, pada saat seseorang selesai menempuh suatu jenjang pendidikan kebanyakan mereka berpikir instansi mana ya yang membutuhkan keahlian saya. Belum banyak yang berani untuk memetakan keahlian dirinya untuk kemudian difungsikan sebagai dasar untuk membangun sebuah pekerjaan.
    Hehe……tapi ya memang susah Pak untuk menumbuhkan keberanian “memulai” hal tersebut. Hanya beberapa orang saja yang memang notabene punya bakat (salah satunya faiz Pak. Di Kudus dia sekarang mendirikan bimbel “Al-irsyad”, sama jasa angkut barang). Patut ditiru Pak, tapi sekali lagi…….butuh bakat. Sayapun kalau disuruh melakukan hal serupa kayaknya bakal mikir puluhan kali Pak.
    Mungkin yang dapat saya lakukan kelak ketika saya menjadi seorang pengajar, saya akan mencoba menyeimbangkan otak kiri&kanan para siswa saya. Salah satunya dengan memberikan penjelasan yang seimbang antara definisi konsep dan kegunaan nyata di lingkungan mereka. Supaya mereka berkembang juga daya kretifitasnya baik dalam menganalisis maupun dalam menuangkan ide yang telah mereka pikirkan ke dunia nyata.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: