Pekerja dan Jumatan

Setiap Jumat tiba saya berdoa kepada Saudara muslim yang bekerja seperti satpam, juru parkir dan pekerja lainnya. Berdoa bagi mereka tetap bekerja di saat solat jumat dilaksanakan, padahal mereka bekerja untuk mencari uang sedangkan yang memberikan mereka uang yaitu Alloh ada di masjid, di saat mereka sibuk bekerja.
Secara keduniaan memang manusia itu butuh uang untuk survive hidup, tetapi apakah harus meninggalkan ibadah? Apakah harus melupakan Alloh sebagai pemberi rejeki? Padahal Allohlah pemiliki bumi dan langit serta isinya.
Dalam Al Qur’an Al Jumu’ah ayat 9 yang artinya wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.
Tertulis kata orang beriman bukan orang islam. Definisi iman adalah al imanu huwa tasdiqu bil qolbi, wal iqroru bi lisan, wal amalu bil jawarih artinya pembenaran dengan hati, pernyataan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota tubuh.
Tidaklah mudah menjadi orang yang beriman. Dari definisi tersebut ada tiga indikator iman yaitu hati, lisan, dan perbuatan. Ketiga indikator harus saling bersinergi dalam diri seorang tersebut misal lisan si fulan mengatakan dirinya beriman, dia solat, puasa, zakat dan beribadah lainnya. Tetapi hatinya belum membenarkan nilai-nilai solat. Dia solat tetapi belum dapat jujur, suka menggunjing kesalahan orang, khianat, ingkar dan lainnya.
Penulis berpendapat bahwa orang beriman itu levelnya lebih tinggi dibanding dengan Islam. Tidak ada syarat secara khusus untuk menjadi beriman, hanya dibutuhkan komitmen. Berbeda dengan Islam yang syaratnya syahadat. Pengamatan penulis di lingkungannya, masyarakat cenderung Islam tetapi belum tentu beriman. Misal ketika jumatan tiba waktunya, juru parkir dan satpam tidak melakukannya. Di bulan Romadhon, ada beberapa orang yang tidak puasa sehingga Al Quran memanggil hambanya dengan amanu bukan muslimun sebagaimana kewajiban puasa Al Baqorah 183, kewajiban solat jumat sebagaimana surat di atas, dan lainnya.
Kita tidak dapat mengatakan mereka tidak beriman, tetapi belum beriman. Perlunya komunikasi yang baik pekerja dengan pimpinannya agar melakukan solat jumat. Ada dua alternatif solusinya. Pertama, merekrut satpam perempuan. Kedua, menitipkan pekerjaannya kepada pegawai lain seperti administrasi yang perempuan. Kedua cara ini diharapkan dapat mendekatkan kepada Alloh yang memberi rejeki. Bagaimana Alloh akan memberi rejeki, Alloh ada di masjid sedangkan rejeki sudah ditanggung olehNya. Alloh sendiri menyuruh hambaNya untuk meninggalkan jual beli. Hal ini diqiyaskan pekerjaan karena solat itu lebih baik bagi yang mengetahui. Secara implisit kita disuruh untuk meninggalkan aktivitasnya untuk mendatangi markas Alloh yaitu masjid.
Ancaman bagi yang meninggalkan solat jumat dalam hadis riwayat Muslim dikatakan “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan salat jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai”. Dalam keterangan lain “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) salat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan salat Jum’at”. Imam Muslim dalam kedua hadis yang berbeda di atas ada dua konsekuensi bagi orang yang meninggalkan solat Jumat yaitu Alloh menutup hati dan membakar rumahnya. Sangat berat jika kita ditutup hatinya, pada umumnya orang ingin dibuka hatinya. Orang tertutup hatinya akan memiliki sifat sombong, kikir, buruk sangka, iri, dan lainnya. Sedangkan pembakaran rumah diartikan sebagai efek sosial akibat kesalahan dia sehingga malu karena rumahnya menjadi pusat perhatian orang lain.s
Sesibuk-sibuk manusia harus memprioritaskan Alloh, Alloh yang memiliki bumi, perdagangan, dan segala urusan dunia. Tugas kita di bumi adalah beribadah kepadaNya. Apalah arti kesuksesan manusia tetapi jauh dari Alloh. Dengan tetap bekerja pada saat jumatan menjadikan hati tertutup sehingga rejeki pun ditutupNya. Bukankah Alloh sudah menjamin rejeki kita? Mari kita jaga ibadah solat jumat kita, semoga pekerja yang belum jumatan karena alasan kerja atau ketatnya aturan kantor, mudah-mudahan pemimpin memberikan kemudahan untuk ijin melaksanakan solat jumat.
Agung Kuswantoro, S. Pd, M.Pd, dosen Fakultas Ekonomi Unnes dan pegiat Mahasiswa Mengaji

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. Nuka
    Feb 25, 2013 @ 02:48:54

    Jadi ingat sebuah cerita dari Teman Lama yang sudah merapat ke Jakarta Pak.
    Kalau saya pernah mendengar penjelasan dari Guru Agama pas jaman sekolah dulu: Allah itu ndak pernah menunda rizqi seseorang, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menunda shalat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: