Nupita Juara Dua

Alhamdulillah, kata itulah yang terucap oleh Nupita Indriyani, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Administrasi Perkantoran, FE Unnes. Saat namanya disebutkan oleh Master of Ceremony (MC) sebagai Juara II Lomba Artikel Kategori Mahasiswa Tingkat Nasional di Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, Kalimantan Barat.

Dia telah berhasil menyisihkan 49 peserta dari berbagai perguruan tinggi diantaranya UI, Unmed, Undip, UGM, UPI, UB dan lainnya.Camera 360

Dia sukses mempresentasikan artikel yang berjudul ACER (Armada Cerdas) sebagai Wahana Pengenalan Budaya Indonesia dan Penggunaan Cerdas Internet.

Event nasional ini diselenggarakan pada tanggal 6-9 Mei 2013 dalam rangka Pekan Raya Pendidikan Untan 2013.

Dengan usaha dan doa serta bimbingan intensif dari pembimbing yaitu Agung Kuswantoro, S.Pd, M.Pd, dia terlihat percaya diri dalam mempertanggungjawabkan idenya kepada dewan juri.

Juara I diraih Ihsan, mahasiswa UNY dan Juara III diraih  oleh Aras, mahasiswa Unsoed.

Semoga dengan kemenangan ini menjadi pintu kesuksesan berikutnya. Semangat selalu. Hidup mahasiswa.

Iklan

Materi Spss untuk Apilkom Koperasi

Berikut materi nya,,klik aja

DEMI TUHAN, BUKAN SUMPAH

Oleh Agung Kuswantoro

Pemberitaan media mengenai Arya Wiguna tentang Demi Tuhan, menarik perhatian banyak orang. Terlihat di Youtube, emosi dia dibuat parodi dan lagu. Sikapnya menjadikan dia menjadi artis.

Pendapat beberapa beberapa orang yang penulis temui mengatakan bahwa gaya kemarahan dia itu unik. Gaya kemarahannya yaitu teriakan suara yang keras, tangan yang menuding-nuding dan menggrbarak-grakkan meja serta kaki yang menghentakkan ke bumi. Model itulah yang membuat orang mengkreasikan  gayanya.

Kata sumpahnya menjadikan saya tertarik mengkajinya. Kata yang diucapkannya adalah Demi Tuhan. Menurut kaidah nahwu bahwa kalimat sumpah atau qosam didahului dengan huruf wawu, ba’ dan ta. Isim atau kata yang dijadikan sumpah, maka wajib dibaca jar atau kasroh karena huruf qosam termasuk huruf jar seperti wallohi, billahi, dan ta llahi.

Sebagian pendapat ulama mengatakan bahwa membaca kalimat qosam jangan waqof (berhenti) seperti wallah, billah, dan talloh. Contoh tersebut dihukumi tidak kalimat  sumpah karena tidak mengkasrohkan isimnya.

 

Makna Sumpah

Sumpah menurut sar’i yaitu menguatkan atau menahkikkan sesuatu dengan menyebut nama Alloh, bukan nama Tuhan. Artinya  jika orang bersumpah dengan nama Tuhan, maka tidak dikatakan kalimat sumpah, tetapi kalimat biasa.

Keterlibatan nama Tuhan harus ada, sehingga di dalam bahasa Indonesia kalimat sumpah yaitu Demi Alloh, bukan Demi Tuhan.

Penulis berpendapat bahwa perkataan Arya Wiguna yang bersumpah Demi Tuhan itu bukan kalimat sumpah, tetapi kalimat biasa. Yang benar adalah penyebutan nama Tuhannya yaitu Demi Alloh, sebagaimana dalam sumpah jabatan.

Di dalam sumpah jabatan disebutkan bahwa diawali dengan ucapan “Demi Alloh”  bagi penganut Islam, diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” bagi penganut agama Kristen Protestan atau Katolik, diawali dengan ucapan “Om Atah Paratama Wisesa” bagi penganut agama Hindu, dan diawali dengan ucapan “Demi Sang Hyang Adi Budha” untuk penganut agama Budha.

Sumpah secara etimologi adalah pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu apabila yang dinyatakan tidak benar. Artinya orang yang bersumpah akan  menerima konsekuensi dari apa yang akan diucapkan.

Orang yang bersumpah tidak ada korelasi dengan orang lain. Orang lain sebagai saksi dari ucapan orang yang bersumpah, sehingga perlu adanya keterlibatan nama Tuhannya. Dengan demikian orang yang akan bersumpah harus berhati suci dan berpikir logis karena berhubungan dengan Tuhannya, bukan pada saksi yang mendengarkan sumpahnya.

Bukankah, jika ada pelantikan pejabat baru, yang di dalamnya ada sumpah jabatan dihadiri oleh banyak orang? Artinya bahwa hadirin adalah saksi dari pernyataannya.

Apabila sesuatu yang dinyatakan tidak benar, maka yang menghukum bukanlah hadirin, tetapi Tuhannya, karena dia  telah melibatkan namaNya.

Janganlah mempermainkan nama Tuhan. Berkatalah yang baik. Jika tidak dapat berkata baik maka diam, karena diam  lebih  menyelematkan dari kata yang tidak berhikmah. Bukankah orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menahan marah?

 

Agung Kuswantoro       : Dosen Fakultas Ekonomi Unnes, penggiat kajian Mahasiswa Mengaji

Etika Profesi (4)

Sub Bab

•Teori Etika dan Pergeseran Paradigmanya
•Etika Profesi dan Agama
•Profesi dan Profesionalisme
•Etika profesi di masa sekarang
•Metode Pendekatan Profesi
•Prinsip dan Kode Etik Etika
•Makna dan Fungsi Kode Etik
•Studi Kasus kode etik sekretaris
•Studi kasus kode etik arsiparis
•Studi kasus kode etik administrator
selebihnya silakan klik di sini

etika profesi (3)

Ilustrasi

žBapak Darmin ketika dites fit and proper tes hakim agung di gedung DPR terjadi permasalahan hanya karena ucapannya yang tidak patut diutarakan sebagai hakim. Beliau mengatakan tidak santun mengenai kasus pemerkosaan. Akibatnya masyarakat protes kepadanya dan dinyatakan tidak lolos tes.
žDari kasus di atas, betapa penting etika setiap orang.
žSecara etimologi suatu disiplin ilmu yang menjelaskan sesuatu yang baik dan buruk  atau kumpulan moral.
žEtika berasal dari kata ethos artinya tempat tinggal biasa, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, cara berpikir
Selanjutnya, silakan diklik di sini

Mahasiswa Mengaji

KATA PENGANTAR

Tak ada gading yang retak, itulah ungkapan penulis pada awal buku ini. Masih banyak kekurangan buku Mahasiswa Mengaji dalam penyajiannya. Pada prinsipnya adalah mengajak pada orang lain untuk mengaji dan menuju surga Alloh dengan jalan dakwah.

Dakwah yang termudah adalah mengajak orang lain di lingkungan terdekat (sendiri). Penulis sebagai dosen Universitas Negeri Semarang dan pendamping kemahasiswaan maka peluang tersebut digunakan mengajak mahasiswa untuk selalu ingat pada Alloh dengan mengaji.

Saya memiliki prinsip memanfaaatkan waktu selagi muda, sebagaimana Nabi Muhammad yang di umur empat puluh tahun sudah mendapatkan status Rosul. Hal itulah yang mendorang saya untuk memanfaatkan waktu untuk beribadah melalui bekerja dan berdakwah. Saya tidak menginginkan waktu yang akan membunuh saya, sebagaimana dalam mahfudhot yaitu al-waqtu kasyaif (waktu bagaikan pedang). Tetapi saya yang akan menggunakan pedang atau masyarakat yang mengguna-kan pedang saya karena ilmu telah diamalkan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Alloh SWT yang telah memberikan nikmat untuk sharing ilmu kepada mahasiswa. Terima kasih pula kepada Profesor Dr. Masrukhi, M.Pd selaku Pembantu Bidang Kemaha-siswaan yang mendukung program ini sebagai wujud konservasi moral bagian dari Unnes Kampus Konservasi. Ucapan terima kasih kepada Ibu (Mamah Zurohati) dan Istri (Lu’Lu Khakimah) yang mensupport kegiatan ini sebagai ajang dakwah dan ibadah kepada Alloh. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Fian “dokeng” yang telah mendukung program ini hingga penerbitan buku. Tak lupa pada para santri mahasiswa mengaji yang senantiasa datang di malam Senin untuk belajar dan berbagi pengalaman semata untuk mencari keridoan Alloh.

Semoga kajian ini bermanfaat dan berkah untuk kita semua. Mohon dukungan bagi para pembaca dan mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam kajian ini. Semoga ke depan kajian ini tetap berjalan dan memiliki manajemen yang tertata. Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan. Mudah-mudahan Alloh meridoi..Amin.

Semarang, 1 Mei 2013

Penulis,

Agung Kuswantoro

 

 

 

DAFTAR ISI

Cover………………………………………………………………… i

Kata Pengantar…………………………………………………… ii

Daftar Pustaka……………………………………………………. iv

Profil Mahasiswa Mengaji……………………………………. 1

Malaikat yang Datang…………………………………………. 6

Tauhid dan Aqidah…………………………………………….. 11

Ilmu, Sabar, Syukur…………………………………………….. 12

Pengenalan Ghorib (1)…………………………………………. 22

Ghorib (2)………………………………………………………….. 24

Menepuk Tangani Anak Yatim…………………………….. 32

Sukses dengan Tahajud……………………………………….. 38

Mengenal Alloh………………………………………………….. 45

Mengaji Berirama, Ghorib (3)………………………………. 58

Ana Dibaca Pendek, Ghorib (4)……………………………. 62

Rukun dan Tahlil………………………………………………… 68

Balig dan Istinja’………………………………………………… 75

Syarat Wudlu…………………………………………………….. 79

Fardu Wudhu…………………………………………………….. 87

Iman…………………………………………………………………. 97

Bukan Angry Bird………………………………………………. 106

Siami dan Abu Bakar………………………………………….. 109

Logika Hati……………………………………………………….. 113

Refleksi Sholat Idul Adha…………………………………… 116

Refleksi Sholat Idul Fitri……………………………………… 120

Koran dan  al Qur’an…………………………………………… 123

Kuliah dan Khusyu’……………………………………………. 126

Membangun Karakter Mahasiswa…………………………. 130

Muharrom, Bukan Diharamkan……………………………. 134

Karakter Mahasiswa……………………………………………. 136

Ketauhidan Mahasiswa……………………………………….. 141

Cinta Oh Cinta…………………………………………………… 145

Cinta dan Cemburu…………………………………………….. 148

Dakwah Seperti Iman………………………………………….. 153

Salah Menilai……………………………………………………… 157

Doa Sapu Jagad………………………………………………….. 160

Doa Sosialisasi Skripsi…………………………………………. 163

cover

cover

Doa Pembekalan Wisuda…………………………………….. 166

Daftar Pustaka……………………………………………………. 169

Biodata Penulis………………………………………………….. 172

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR DIAGRAM

Diagram Pokok Tauhid……………………………………….. 15

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Aktifitas Mahasiswa Mengaji……………….. 36

Gambar 2. Ustadz Menjelaskan Tahajud ………………. 38

Gambar 3. Santri Mendengarkan Materi………………… 43

Gambar 4. Kehadiran Santri

Pertemuan Kedelapan ………………………………………… 46

Gambar 5. Adibatul Menanyakan Materi……………….. 61

Gambar 6. Mengaji dengan Materi Ana-Fa Ana……… 66

Gambar 7. Kehadiran Santri meski Hujan………………. 69

1 Jam 1 Ayat

Pada pertemuan ini, mahasiswa mengaji dilakukan malam Rabu, 23 April 2013. Hal ini saya rubah karena pada hari Senin jam kerja padat sehingga perlu dirubah hari hari agar kajian tetap konsisten berjalan.

Tema yang dipilih adalah ghorib. Tema ini tema yang pertama pada angkatan kedua.

Alhamdulillah pada pertemuan ini, santri yang hadir sudah stabil (tetap) antara 10 sampai 15 mahasiswa. Bahkan mereka dengan sendirinya memilih jadwal piket membersihkan tempat untuk mengaji.

Saya memulai kajian ini dengan mengapersepsi materi sebelumnya seperti waqoh dan ana. Hal ini dilakukan agar mereka mengingat atau memanggil memori kajian pada angkatan pertama, termasuk ketukan bacaannya.

Hal yang unik saat pembelajaran adalah meskipun belajar hanya 1 ayat yaitu surat Al Baqarah ayat 125 tetapi dalam membaca sampai 1 jam lebih. Hal ini dikarenakan mahasiswa belum semua tepat dalam membacanya.

Saya menerapkan pola tiap mahasiswa untuk mengetuk harokat bacaannya secara bersama-sama, setelah saya memberikan contoh dan mereka mendengarkannya.

Saya membacanya per kata atau per waqof kemudian mereka menirukannya. Setelah itu santriwan mengikutinya. Ketika pada santriwan, Alhamdulillah mereka bias mempraktekkan bacaan dengan benar. Ketika santriwati membacakan secara bersama-sama, mereka belum semuanya berhasil. Kemudian saya meminta satu-satu dari mereka mengenai bacaan per kata. Al hasil diantara mereka menyadari bahwa bacaannya masih miring. Misal alhamdu menjadi alehamdu sebagaimana Indoensia menjadi Endonesia.

Cara yang saya gunakan adalah mengulang-ulang huruf yang belum bias misal ‘ain, diucapkan selama 10 kali, kemudian praktek kata yang ada ‘ainnya.

Bagi saya, meskipun belajar hanya 1 ayat saja, tetapi merema mendalami setiap kata dan huruf dengan fasih. Saya mengatakan padanya, jangan takut atau malu dengan salah membaca. Karena kita semua dalam taraf belajar. Jadi tidak ada salahnya jika belajar itu salah. Dengan kata-kata semangat itu, mereka menjadi optimis untuk mengaji dan meyakini bahwa Alloh pasti membantu kita karena kita sudah membela atau berkorban demi Alloh.

Previous Older Entries