Makna Hakikat Ibu

Peristiwa pembunuhan anak oleh Ibunya seperti di Jakarta karena kemaluannya yang kecil sangat miris bagi semua kalangan karena seharusnya Ibu memberikan kasih sayang padanya.

Peran Ibu adalah orang yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat sebagaimana transkip transkip Al Ahqof ayat 15 yaitu Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kedua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payahnya. Mengandungnya sampai menyapihnya.

Kedudukan perempuan dalam kodratnya ada tiga yaitu wanita, istri dan Ibu. Menjadi wanita merupakan hak Tuhan, tetapi menjadi wanita yang sebenarnya adalah pilihan. Memilih antara dihormati atau tidak dihormati.

Kedudukan Ibu sangat tinggi daripada istri dan wanita. Disebut istri jika wanita telah menikah. Istri dalam keluarga memberikan kontribusi kepada suami dalam memenuhi kebutuhannya. Keduanya harus sinergis dalam menjalankan fungsinya di keluarga.

Hakikat wanita adalah orang yang dihormati. Kata wanita berasal dari bahasa Sanskerta yaitu kata wan artinya menghormati. Menurut Profesor Moh. Yamin, menyebut istilah lain wanita yaitu perempuan yang berasal dari kata empu yang berarti mereka yang utama, dimuliakan atau dihormati.

Ibu Teladan

Menjadi Ibu merupakan impian wanita. Ibu memiliki nurani yang kuat terhadap anak. Kisah Al Qomah, seorang yang disakitkan rohnya ditengorokannya menjelang wafatnya karena pernah menyakiti Ibunya sehingga tidak dapat mengucapkan kalimat tahlil. Kemudian Rosul bertanya “Apakah kamu melakukan solat?” Dijawabnya “ya solat”. Rosul bertanya lagi “Apakah Ibumu masih hidup?” dijawabnya “Ya”. Rosul menyuruh untuk menghadirkan Ibunya didekatnya. Ternyata Ibunya masih menyimpan rasa sakit hati kepada anaknya. Rosul memohon untuk mengikhlaskan kesalahan anaknya supaya sakaratol mautnya dipermudah sehingga dapat mengucapkan kalimat tahlil.

Meskipun validitas hadist tersebut dhoif (lemah), namun hikmah yang terkandung sangat baik yaitu nurani Ibu menginginkan anaknya selamat dunia dan akhirat. Tidak ada yang mendoakan anaknya untuk berbuat kesalahan. Berbeda dengan Ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya menjadi batu karena kedurhakaan.

Ibu menjadi teladan bagi anak dan keluargnya. Ibu dalam bertingkah laku dan berkata haruslah santun. Jangan pernah berbuat keburukan, berkata kasar atau mencela kepada anaknya. Ucapan lisan maupun batin Ibu bagaikan idu geni sehingga dianggap sebagai penyambung ke Tuhan.

Menurut Ummi Maya (2009) bahwa Ibu harus memelihara lisan karena setiap perkataannya adalah doa. Artinya, apapun keadaannya Ibu harus bijak dalam berkata, berbuat, dan bernurani. Dia harus memberikan yang terbaik untuk anaknya dengan cerdas dan arif.

Bagaimana dengan kejadian pembunuhan anak oleh Ibunya? Apakah pelakunya dinamakan Ibu? Di mana letak peran ibu? Di mana hati nurani Ibu? Di mana kemuliaan Ibu? Apakah kita wajib menghormati dia?

Kasus tersebut bukti bahwa pelakunya adalah wanita yang rendah martabatnya, bukan Ibu karena jika Ibu maka melanggar peran Ibu yaitu merawat. Di dalamnya terdapat mendidik, mengajar, dan membimbing anak. Ibu pasti memiliki tindakan dan nurani yang terbaik untuk anaknya. Tidak dengan cara yang keji yaitu membunuh, berkata kasar, atau nyepatani (mengutuk).

Ibu adalah wanita dan istri. Seorang perempuan menjadi wanita itu pasti, tetapi wanita belum tentu menjadi Ibu karena dia harus menjadi teladan. Semoga wanita yang ada di lingkungan kita bisa menjadi Ibu yang berhati lembut dan memberikan teladan bagi keluarga dan anaknya. Amin

 

Penulis            : Agung Kuswantoro, S. Pd, M. Pd, Dosen Fakultas Ekonomi, Unnes dan Pegiat Mahasiswa Mengaji

Iklan

Meng-kliping Google

Oleh Agung Kuswantoro

Ada yang  menarik saat mengoreksi tugas mahasiswa yaitu sebagian besar mereka bersumber pada internet, dimana google menjadi “senjata” utama mereka. Cukup dengan mengetikkan keyword, maka google akan men-searching-nya. Setelah itu, kita meng-klik satu per satu alamat website yang dimunculkan oleh google. Itulah tahapan saat mereka mencari informasi di google.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah boleh mengerjakan dengan seperti itu ? mari kita mengkaji secara bersama-sama. Jika posisi kita sebagai pengajar, maka kita mengetikkan satu atau dua kalimat tugas mereka di google. Jika hasilnya, google memunculkan dengan huruf tebal atau bold berarti bersumber dari internet. Demikian juga, pada halaman dua dan seterusnya, jika hasilnya sama yaitu bold di google, maka mereka meng-copy paste dari internet.

Hal tersebut, menurut saya sah-sah saja internet sebagai sumber belajar, tetapi dengan mencantumkan daftar pustakanya. Namun, biasanya pekerjaan mereka seperti “kliping”. Mereka sebenarnya hanya meng-control C, membuka dokumen baru di word, meng-control V di word tersebut, meng-control P, dan memberi nama serta NIM di bagian atas kertas, sehingga mereka tidak menyusun, membangun, mengolah atau menganalisis informasi yang diperoleh.

Mereka melakukannya dengan “menempel-nempel” kalimat atau paragraf ke word. Tentunya, hasil pekerjaan dengan pola seperti ini tidak maksimal, karena mereka tidak mendefinisikan, menjelaskan, menguraikan, mengaplikasikan, atau mengevaluasi dari materi yang mereka peroleh di mbah google (sebutan keren google).

Pola yang seperti inilah, yang harus kita ubah. Adanya internet, bukan berarti segalanya ada. Internet bukan satu-satunya sumber belajar, masih banyak sumber lainnya, seperti buku teks, jurnal, majalah, artikel, hasil penelitian, prosseding dan lainnya.

Menurut Bloom, bahwa ada enam tingkatan dalam domain kognitif. Tingkatan paling dasar adalah pengetahuan, yang berisi hal-hal spesifik, metode dan struktur yang sederhana. Jika pola meng-kliping, artinya berada pada tataran pengetahuan, karena mereka mengenal definisi, unsur, faktor, atau hal-hal lainnya yang ada dalam konsep tersebut.

Berbeda dengan cara mereka memahami, mengaplikasi dan menganalisis dari sumber internet tersebut. Memahami sebagai langkah awal menjelaskan dan menguraikan sebuah konsep atau pengertian. Mengaplikasi sebagai kemampuan untuk menggunakan bahan yang telah dipelajari ke dalam situasi yang nyata, meliputi aturan, metode konsep, prinsip, hukum-hukum, dan teori. Menganalisis sebagai kemampuan merinci bahan menjadi bagian-bagian supaya strukturnya mudah untuk dimengerti. Menyintesis sebagai kemampuan mengombinasikan bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan baru yang menitikberatkan pada tingkah laku kreatif dengan cara memformulasikan pola dan struktur baru. Mengevaluasi sebagai kemampuan dalam mempertimbangkan nilai untuk maksud tertentu berdasarkan criteria internal dan eksternal.

Saat mahasiswa yang meng-kliping ditanya terhadap tugasnya, biasanya cenderung jawabannya leterlek atau apa adanya dari yang mereka tulis, bahkan membacanya. Mereka tidak mengurai, menjelaskan, memberi contoh, atau mengaplikasikannya. Kreativitas keilmiahannya mereka belum nampak, karena mereka hanya mengetahui dari yang ditulisnya. Mereka berada pada posisi tingkatan pertama atau dasar.

Kita harus menaikkan tingkatan ranah belajar kita, tidak hanya cukup pengetahuan, tetapi pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Semuanya membutuhkan proses. Belajar adalah proses yang berkelanjutan dengan cara mengomentari, menganalisis, mengkritisi dan mempraktekkan. Melalui proses tersebut, maka budaya ilmiah dikalangan mahasiswa dapat terwujud.

Kita mengenal Mark Zuckeberg sebagai penemu facebook. Dia adalah mahasiswa yang tidak lulus di Harvard University, Amerika. Tetapi, dia telah berhasil membuat karya berupa website jejaring sosial yang terkenal di dunia.

Secara pendidikan, dia telah melakukan pembelajaran berbasis proses. Dia tidak hanya memahami, tetapi mengaplikasikan informasi yang diperolehnya. Dia telah berhasil mengaplikasikan informasi secara nyata sesuai dengan aturan, metode, konsep, prinsip, atau hukum menjadi bagian-bagian agar strukturnya mudah dipahami oleh banyak orang. Hal ini terbukti, bahawa facebook sebagai jaringan sosial yang banyak digunakan oleh orang untuk silaturahmi, memasarkan produk, memotivasi, dan lainnya.

Proseslah yang dicari mahasiswa, bukan  hasil. Kata pepatah mencari kail, bukan ikan, artinya dengan menemukan kail, maka ikan akan diperoleh. Jika kailnya kuat, maka ikan besar akan memakan umpannya. Sebaliknya, jika kailnya kecil, maka ikan kecil pula yang didapatkannya, sehingga antara proses dan hasil belajar mahasiswa memiliki korelasi atau keterkaitan yang kuat.

Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan materi daripada sekedar menerima materi, terlebih hanya dari google. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pendalaman materi yang mendalam daripada memperoleh materi yang banyak, tetapi tidak menguasai seperti me­-mind mapping, analisis jurnal, membandingkan teori, bedah buku, observasi, mengimplementasi teori dan lainnya

 

Agung Kuswantoro, S. Pd, M.Pd, dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

Alamat : Perumahan Sekarwangi Blok I Nomor 10, Jalan Pete Raya Selatan, RT 02/03, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229. HP 08179599354. Email : agungbinmadik@gmail.com

Belajar Kepemimpinan “Bareng-bareng” di Salatiga

DSC07506Beberapa hari yang lalu saya alhadulillah diijinkan Alloh untuk mengisi kepemimpinan di Salatiga. Saya memberikan teori tentang proses memimpin dan praktek berupa game. Sumber yang saya gunakan adalah buku kepeimpinan milik Iu Ambar Teguh Sulistiyani dari UGM, penerbit Gava Media, tahun 2008. berikut materinya

Proses MemimpinDSC07513     

Pemahaman tentang proses memimpin itu sendiri adalah menyangkut
masalah kapasitas pemimpin dalam menyampaikan pengaruh dan
memotivasi orang lain (bawahan) dalam rangka mengurangi terjadinya
konflik tujuan atau objective conflict, sehingga akan tercapai hubungan
kepentingan timbal balik. Suatu organisasi merupakan sekelompok
manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda, dan memiliki
kepentingan yang berbeda. Berkumpulnya orang-orang ini menjadi
satu wadah dalam organisasi tidak luput dari konflik. Konflik tersebut
menyangkut masalah konflik tujuan maupun kepentingan masing‑
masing. Adapun jika dijabarkan lebih lanjut maka dapat diketahui
bahwa konflik tujuan tersebut tidak hanya terjadi antar orang me‑
lainkan dapat terjadi antara anggota dengan organisasi atau kelompok.
Keberadaan seorang individu dalam memasuki suatu organisasi juga memiliki motif tertentu, seperti harapan dan kebutuhan. Dengan demikian setelah masuk dalam organisasi jelas ia akan memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi oleh organisasi. Sebaliknya organisasi juga mempunyai tujuan yang dirumuskan dan dijadikan sebagai pedoman arah organisasi yang harus diperjuangkan dalam pencapaiannya. Untuk itulah kedua pihak yang berbeda tersebut harus saling memberi dan menerima (take and give) manfaat, seperti individu yang masuk dalam organisasi akan menyumbangkan tenaga, pikiran, dll, dan sebagai imbangannya ia akan mendapatkan sesuatu dari organisasi.

DSC07518

Sementara itu terbentuknya kelompok-kelompok informal dalam suatu organisasi sangat memungkinkan sekali, terlebih-lebih apabila dalam suatu organisasi tersebut terdapat beberapa orang yang me­miliki latar belakang yang hampir sama, mempunyai kepentingan yang sama atau mempunyai hobby yang sama. Keadaan ini sangat memung­kinkan terjadinya pengelompokan yang didasari oleh kesamaan pandangan. Kelompok-kelompok informal ini bisa menjadi pendukung atau sebaliknya menjadi penghambat organisasi, hal ini sangat ter­gantung pada selaras tidaknya kepentingan yang diperjuangkan kelompok tersebut dengan tujuan organisasi. Jika ada perbedaan maka sangat mungkin kelompok tersebut mengganggu pencapaian tujuan organisasi. Keadaan ini juga harus dapat dinetralisir dengan melakukan pendekatan yang tepat.

DSC07491

Timbulnya beberapa kelompok informal juga dapat menghadirkan pertentangan antar kelompok, perselisihan atau persaingan yang tidak sehat. Fungsi pemimpin dalam hal ini harus dapat memanfaatkan dan mengarahkan kelompok-kelompok tersebut agar semakin dekat dengan tujuan organisasi, dan mendukung organisasi.

Dalam pemahaman berikut konflik-konflik yang terjadi dapat dipilah menjadi:

  1. Konflik antara anggota dengan organisasi
  2. Konflik antara kelompok dengan organisasi
  3. Konflik antara individu dengan kelompok
  4. Konflik antar kelompok
  5. Konflik antar individu

Konflik-konflik tersebut apabila tidak teratasi maka akan mem­bahayakan organisasi. Oleh karena, itu untuk menetralisir konflik tersebut seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi dan me­motivasi. Pekerjaan seorang pemimpin dalam hal ini adalah untuk dapat mendekatkan konflik-konflik tersebut sehingga tercapailah suatu keadaan yang lebih baik, sehingga kepentingan timbal balik lebih terpelihara (mutuallity of interest).

Dari sini dapat semakin dipertegas bahwa kemungkinan yang terjadi dalam organisasi adalah terjadinya perbedaan dan persamaan tujuan antara orang-orang dengan organisasi. Adapun secara rinci persamaan dan perbedaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Sama tujuan
  2. Berbeda sebagian
  3. Jauh berbeda.
  4. Bertolak belakang

Tujuan individu/kelompok yang sama dengan tujuan organisasi tidak menimbulkan masalah, bahkan akan terjadi simbiosis mutualisma. Sedangkan tujuan yang berbeda sebagian relatif mudah untuk didekatkan. Sedangkan tujuan yang jauh berbeda dan yang bertolak belakang merupakan mengandung potensi konflik yang tinggi, dan sangat sulit untuk didekatkan satu sama lain.

Pada prinsipnya perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya individual differences (perbedaan individu), human dignity (martabat manusia), attitude (sikap) dan behavior (perilaku). Individu memang tidak terhindar dari keunikannya sendiri-sendiri. Pemimpin harus menyadari akan terjadinya perbedaan antar individu, baik peri­laku maupun kebiasaan yang berbeda. Latar belakang inilah yang juga tidak boleh diabaikan oleh pemimpin, mengingat efektivitas untuk mempengaruhi dan memotivasi individu seorang pemimpin juga harus dapat mendekati secara individual. Bahkan agar efektif pemimpin juga harus memahami setiap individu tersebut.

Realitas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bersifat spesifik antara manusia di satu sisi merupakan kekayaan yang mungkin dapat saling melengkapi, namun di sisi lain dapat memperbesar potensi konflik dalam organisasi. Variabilitas yang dihadapi atas individu yang tergabung dalam organisasi perlu dimanajemeni dengan tepat agar dapat bersifat saling mengisi dan saling melengkapi.

DSC07487

Harga diri seorang individu, sikap serta perilaku juga mengakibat­kan terjadinya perbedaan-perbedaan. Setiap orang tentu memiliki harga diri, dan ketika dipertautkan kepentingan organisasi terhadap individu atau sebaliknya, maka di dalamnya harga, diri tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hal yang sama juga terjadi ketika antar orang dan antar kelompok melakukan kerjasama. Dalam hal ini dihadapkan pada risiko untuk saling menghargai satu sama lain. Namun demikian rentang dan batas setiap orang akan kebutuhan dihargai oleh pihak lain seringkali berbeda satu sama lain. Sejauhmanakah atau setinggi apakah seseorang harus dihargai martabatnya, hal ini dapat mem­bentuk perbedaan yang bersifat spesifik. Bahkan cara menghargai martabat seseorang juga menjadi bervariasi.

Sikap merupakan bagian penting yang dapat mencirikan per­bedaan antar individu. Variasi sikap seseorang dalam organisasi dapat diamati melalui respons terhadap suatu hal. Misalnya sikap ke­terbukaan, sikap disiplin, sikap kepatuhan, sikap kooperatif, me­rupakan bentuk respons atas suatu ketentuan atau peristiwa atau perintah. Sikap hanya dapat dibaca dari bahasa tubuh, tutur kata, atau perilaku/perbuatan. Dalam organisasi cenderung potensial untuk terjadinya perbedaan karena sikap yang berbeda. Ada anak buah yang sangat disiplin dalam bekerja, tetapi ada yang malas. Ada anak buah yang sangat patuh, tetapi ada yang membangkang, ada yang sangat mudah untuk diajak diskusi secara terbuka berpendapat, tetapi ada yang lebih suka bergunjing di belakang, dst.

Perilaku mencerminkan bagaimanakah seseorang menanggapi suatu hal. Perilaku anggota dalam organisasi juga bervariasi, kendati treatment yang digunakan sama. Misalnya perilaku kerja, ada yang positif ada yang negatif. Sangat sulit memisahkan antara perilaku dengan sikap. Karena seringkali perilaku merupakan bentuk visual dari sikap. Sikap ibaratnya merupakan keputusan batiniah sedangkan perilaku merupakan resonansi dari keputusan tersebut.

C. Permainan: Untuk Internalisasi Kemampuan pemimpin

Agar pemahaman tentang kepemimpinan semakin jelas dan dapat dijiwai secara baik diperlukan media permainan. Tujuan permainan tersebut dimaksudkan untuk menjembatani antara pemahaman konseptual tentang kepemimpinan dengan melalui uji implementasi atas apa yang dipelajari tentang sosok pemimpin yang diharapkan dapat melakukan inisiasi kelompok dalam mencapai tujuan.

Menyusun Gambar

Pembelajar dihadapkan pada permasalahan tentang bagaimana agar dapat menginternalisasikan pentingnya sebuah kemampuan untuk melakukan kreasi. Untuk melatih kejelian, kecermatan dan kepekaan terhadap permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan upaya berani mencoba menyusun langkah, mengurutkan hingga mencapai kese­rasian. Hal ini akan dapat dilakukan jika seorang pemimpin memiliki inisiasi dan kreasi yang tinggi. Berikut ini merupakan permainan memberikan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan:

 

 

Panduan Permainan 2

Ketentuan:

  1. dibentuk kelompok masing-masing 5 orang
  2. waktu: 15 menit
  3. diberikan potongan-potongan gambar
  4. tugas kelompok: menyusun potongan gambar hingga berbentuk seperti aslinya
  5. tujuan: menghayati perlunya kreativitas seorang pemimpin
  6. kelompok mengevaluasi dan menuliskan kesan mengenai apa yang diperoleh dari permainan
  7. kelompok menjelaskan gambar yang telah disusun dan menginterpretasikan

Kreativitas merupakan aksentuasi dari kecakapan otak kanan yang selama ini kurang memperoleh sentuhan pembelajaran. Seorang pe­mimpin yang mampu melakukan kreasi akan dapat menghasilkan sebuah praktik kepemimpinan yang lebih menakjubkan. Tidak saja karya-karya dan kebijakan yang berakar pada kebutuhan riil organisasi, melainkan hasil yang lebih spektakuler atas bentukan kreasi. Dengan demikian hasil yang diperoleh tidak sekedar bersifat linear, mengikuti logika normal atas hasil-hasil yang direncanakan. Namun demikian dengan kreasi dapat membuahkan efek ganda, yaitu selain meng­hasilkan output yang ditetapkan, di sisi lain diikuti oleh peningkatan karakter organisasi yang semakin baik. Karakter bentukan tersebut adalah kemampuan “mengubah” sesuatu kondisi ke arah positif. Adapun nilai-nilai yang diperoleh dari permainan ini adalah:

  1. Dalam permainan tersebut dapat dipahami bahwa potongan­potongan gambar, dapat dianalisis sebagai suatu barang yang tidak berguna, ibaratnya tinggal dimasukkan ke dalam bak sampah. Tetapi ternyata setelah ditata dan dijodohkan satu sama lain membentuk suatu harmoni. Susunan yang harmoni tersebut me­mantulkan sebuah kesan afektif tertentu, disertai dengan informasi yang didefinisikan melalui kognisi. Dengan kata lain kreasi mem­berikan dorongan terhadap berkembangnya afeksi dan kognisi. Besarnya kreasi yang dihasilkan dapat memberikan dorongan afeksi dan kognisi semakin besar.
  2. Afeksi dan kognisi baru mencetak kebijakan, strategi serta langkah-­langkah baru yang lebih dinamis. Afeksi yang dimaksud mem­visualisasikan sebuah kesadaran baru tentang pentingnya me­munculkan kreativitas pada setiap kesempatan dan setiap saat. Sedangkan kognisi yang sibuk mendefinisikan serta memaknai gambar yang terbentuk mulai merekayasa pemikiran-pemikiran baru yang lebih tajam. Proses mengasah otak kanan dan otak kiri berlangsung secara terns menerus. Bagaimana jika posisi potongan gambar tersebut diubah letaknya? Tentu akan menghasilkan olah kognisi yang menghasilkan pemikiran yang berbeda pula.
  3. Nilai lain yang diperoleh dari permainan tersebut adalah, secara riil pembelajar mengalami sendiri dan terjadi proses pembuktian, bahwa ada barang yang sepertinya tidak berguna tersebut (berupa potongan kertas) ternyata masih memiliki nilai dan manfaat. Untuk itulah memberikan pesan afeksi bahwa seseorang (baik pemimpin maupun anak buah) sebaiknya menghargai barang bekas. Dengan memberikan apreasiasi terhadap barang bekas tersebut maka dapatlah muncul karya lain yang dapat memberikan manfaat lain. Dengan demikian terjadi bentukan afeksi baru dari kurang meng­hargai menjadi menghargai barang bekas atau barang yang tampak tidak berguna. Afeksi tersebut ditindaklanjuti dengan bentukan konasi baru, yang mengubah perilaku lama yang kurang peduli menjadi perilaku baru untuk merawat barang secara lebih seksama. Bertolak dari kesadaran dan perilaku baru tersebut diiringi oleh rasa “penasaran” untuk mencari tahu, mereka-reka sebuah karya dalam upaya memanfaatkan barang bekas/tidak berguna yang ditemukan, sampailah pada sebuah kreasi baru. Dan kreasi baru tersebut memberikan impuls positif untuk mengembangkan pemikiran baru dari aksentuasi kognisi baru.

Pendampingan Penyimpanan Arsip Berbasis MS. Access sebagai Upaya Konservasi (Paperless) Di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang

Arsip mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup organisasi baik organisasi pemerintah maupun swasta. Manfaat arsip bagi suatu organisasi antara lain berisi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan dan juga dapat dijadikan sebagai alat bukti apabila terjadi masalah serta dapat dijadikan alat pertanggung jawaban menajemen. Selain itu dapat dijadikan alat transparansi birokrasi.

Arsip dapat bermanfaat secara optimal bagi organisasi apabila dikelola dengan tertib dan teratur, namun sebaliknya apabila arsip dikelola dengan tidak tertib akan menimbulkan masalah bagi suatu organisasi. Menumpuknya arsip yang tidak ada gunanya serta sitem tata arsip yang tidak menentu akan mengakibatkan ruangan terasa sempit dan tidak nyaman sehingga dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja pelaksanaan tugas dan fungsi suatu organisasi. Apabila suatu arsip sulit untuk ditemukan akan menjadi hambatan dalam proses pengambilan keputusan dan akan mempersulit proses hukum dan pertanggungjawaban.

Masalah kearsipan belum sepenuhnya menjadi perhatian baik oleh masyarakat umum, organisasi pemerintah maupun suatu organisasi swasta. Banyak orang yang masih belum mengetahui atau belum memahami arti penting dan manfaat arsip dalam kehidupan sehari-hari bagi pribadi maupun bagi organisasi, orang menganggap bahwa arsip relatif masih sangat rendah dan arsip selama ini masih dianggap rendahan.

Setiap kegiatan organisasi baik itu organisasi pemerintah maupun swasta tidak terlepas dari lingkup administrasi karena hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Organisasi tanpa kegiatan administrasi maka organisasi tidak akan dapat tercapai visi dan misinya dengan efektif.

Untuk mewujudkan tertib pengelolaan arsip ada beberapa aspek yang mesti ditangani secara serius, yaitu terdapatnya sistem pengelolaan kearsipan yang efektif, pelaksanaan sistem yang telah ditetapkan secara berdaya guna dan berhasil guna, serta evaluasi secara tajam dan terus menerus terhadap pelaksanaan sistem itu sendiri. Ketiga aspek ini dapat terlaksana apabila didukung oleh unsur-unsur sumber daya manusia yang diperlukan, anggaran dan sarana pendukung.

Sistem kearsipan selama ini menggunakan cara manual yaitu dengan menyimpan di filling cabinet dan mencatatnya ke buku sehingga keakuratan dari sistem manual adalah ketidak-efesienan dan efektifnya ruang, waktu, dan biaya. Ketidak-efektifan ruang dalam hal penyediaan tempat yang membutuhkan peralatan seperti filling cabinet, map, rak, dan lainnya. Ketidak-efektifan waktu dalam hal pencarian dokumen yang lama karena ketidak-rapian dalam administrasi. Ketidak-efektifan biaya dalam hal kebutuhan peralatan yang mahal sehingga membutuhkan perawatan dan pemiharaan tempat penyimpanan arsip.

Seiring berjalannya waktu dengan adanya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka sistem kearsipan dirancang dengan berbasis komputer atau file. Sistem ini memiliki kelebihan dalam rancangan yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan waktu. Manajemen File dalam komputer ditata sebagaimana sistem kearsipan manual. Misal sistem abjad dalam sistem komputer dengan file maka dengan menggunakan folder-folder dalam datanya. Folder A dibuat, kemudian dalam folder A ada Aa, Ab, Ac, Ad, Ae, Af, Ag, Ah, dan seterusnya. Jika sistem wilayah maka dalam data folder yang pertama dibuat adalah propinsi kemudian kota, kecamatan, dan desa seperti folder propinsi Jawa Tengah, di dalamnya terdapat folder Semarang. Di dalam folder Semarang terdapat folder Semarang Timur, Semarang Barat, Semarang. Di dalam folder Semarang Selatan terdapat folder Sekaran, Banaran, dan seterusnya. Demikian juga dengan sistem penyimpanan arsip yang lainnya. Yang terpenting adalah pembuatan folder terbesar ke terkecil, umum ke terkecil, folder ke map, dan lainnya.

Program komputer pun berkembang seperti php Mysql, Delphi, membeli software arsip, membuka internet dengan open source, dan lainnya. Secara umum program ini mempunyai kelebihan yang banyak dibanding dengan sistem komputer berbasis file karena program tersebut sudah dirancang dan desain sesuai database yang secara khusus sehingga harga aplikasi tersebut rumit dipelajari oleh orang umum. Jika ada pun software maka harganya mahal sehingga kebanyakan orang tidak bias menjangkau.

Untuk itu diperlukan sofwore yang murah bahkan free atau gratis. Menurut penulis salah satu software yang menunjang program ini yaitu access karena merupakan program yang mendesain database. Database yang dibuat adalah sistem surat masuk, surat keluar, penyimpanan arsip, kartu kendali, buku agenda masuk, buku agenda surat keluar, dan buku ekspedisi. Pada intinya bahwa sistem ini hanya menyimpan database saja bukan menyimpan arsip secara fisik.

Kemudahan dengan sistem ini adalah murah dibanding dengan aplikasi sistem kearsipan bahkan gratis karena termasuk dalam microsoft office. Tahapan sistem kearsipan berbasis access adalah mengidentifikasi kebutuhan, penentuan sistem kearsipan yang digunakan, mengarsip dokumen menjadi file, pemeliharaan dokumen, pengamanan dokumen, penyingkiran dokumen, dan pemusnahan dokumen.

Setiap organisasi dalam mencapai tujuannya dibutuhkan informasi yang akurat termasuk data lama (arsip) karena mengandung nilai yang penting bagi organisasi seperti kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. Selama ini penyimpanan arsip yang ada di kelurahan Kalisegoro menggunakan sistem manual, artinya arsip disimpan ke dalam map setelah disortir sesuai dengan permasalahannya. Dalam manajemen kearsipan bahwa arsip tidak hanya sekedar disimpan tetapi perlu pengaturan cara prosedur penyimpanannya sehingga mempermudah penemuan kembali (finding). Artinya arsip harus ditemukan kembali apabila diperlukan sebagai bahan informasi dengan mudah dan cepat.

IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang ada di kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang yaitu perlu adanya pelatihan penyimpanan arsip berbasis MS. Access sebagai upaya konservasi (paperless) bagi tenaga administrasi kelurahan

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah arsip yang sering didengar, ditulis, dan diucapkan adalah istilah yang mempunyai banyak arti. Di satu segi, arsip berarti warkat yang disimpan yang wujudnya dapat berupa selembar surat, kuitansi, data statistik, film, kaset, compact disk (CD) dan sebagainya. Di segi lain, arsip dapat diartikan sebagai tempat untuk menyimpan catatan, dokumen dan atau bukti-bukti kegiatan yang telah dilaksanakan. Hal itu terungkap dalam “Arsip Nasional” yang menyimpan arsip statis antara lain teks proklamasi, perjanjian Roem-Ruijen, teks lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Istilah arsip yang dibicarakan di atas berasal dari bahasa Belanda “Archief” yang ucapannya sesuai dengan bahasa aslinya sulit dilafalkan orang Indonesia pada umumnya, sehingga diadopsi menjadi “arsip”. Sejak kapan istilah itu diadopsi menjadi arsip, orang tidak mengetahui secara pasti, tetapi dapat diperkirakan sejak bahasa Belanda kurang popular di Indonesia (sekitar tahun 1950). Kalau yang dimaksud arsip adalah warkat yang disimpan sebagai bukti suatu kegiatan organisasi, maka istilah itu dikenal dengan nama “pertinggal”. Istilah pertinggal kurang popular penggunaannya sehingga dikalangan petugas kurang dikenal. Istilah pertinggal bukan berarti tidak pernah  digunakan, sampai saat ini masih banyak yang menggunakannya (Agus Sugiarto dan Teguh Wahyono, 2005).

Warkat adalah catatan tertulis, gambar atau rekaman yang memuat sesuatu hal atau peristiwa yang digunakan orang untuk sebagai pengingat (alat bantu ingatan). Warkat otomatis menjadi arsip begitu diproses untuk penyelesaian suatu kegiatan organisasi. Warkat sebagai bahan arsip mempunyai  4 kegunaan, yaitu guna informasi, guna yuridis; guna sejarah; dan guna ilmu pengetahuan (Martono, E, 1990).

Warkat juga dapat dibedakan menjadi 2 nilai guna sesuai dengan siapa yang memanfaatkan warkat tersebut. Secara otomatis warkat bernilai guna bagi organisasi yang menciptakan warkat tersebut atau pemilik warkat (nilai guna primer). Di samping itu warkat juga dapat dimanfaatkan oleh pihak lain di luar organisasi pencipta warkat  yang bersangkutan (nilai  guna sekunder). Sebagai contoh, laporan tahunan suatu organisasi dapat memiliki nilai guna primer  karena bermanfaat untuk perkembangan yang akan datang  bagi organisasi yang bersangkutan. Selain berguna bagi organisasi pencipta atau pemilik warkat,  laporan itu dapat dimanfaatkan oleh organisasi lain sebagai bahan informasi dalam mengambil kebijakan untuk perkembangan organisasinya (Sularso, Mulyono, dkk, 2011).

(Zulkifli Amsyah, 1990) menata arsip dengan baik, arsip perlu dikelompokkan dalam 4 golongan. Hal ini untuk memudahkan pemilahan dalam penyimpanan maupun  penyingkiran bagi arsip yang sudah tidak memiliki nilai guna. Empat golongan arsip itu adalah seperti berikut ini:

  1. Arsip tidak penting, yaitu (kelompok) arsip yang nilai kegunaannya hanya sebatas sebagai informasi. Surat arsip ini tidak perlu disimpan dalam jangka waktu lama, karena setelah apa yang diinformasikan sudah selesai berarti sudah tidak ada nilai kegunaannya. Surat arsip ini dapat diberi tanda (T). misalnya, surat undangan, konsep surat, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Surat arsip ini akan disimpan paling lama dalam jangka waktu 1 tahun.
  2. Arsip biasa, yaitu surat arsip yang mempunyai nilai guna saat ini dan masih diperlukan pada waktu yang akan datang dalam jangka waktu 1–5 tahun. Surat arsip ini dapat diberi tanda (B). misalnya, surat pesanan, surat pengaduan, surat peringatan, surat tugas, surat putusan yang bersifat rutin, dan sebagainya.
  3. Arsip penting, yaitu surat arsip nilai gunanya mempunyai hubungan dengan kegiatan masa lampau dan masa yang akan datang. Surat arsip ini akan disimpan dalam jangkan waktu 5 – 10 tahun dan dapat diberi tanda (P). Misalnya, naskah laporan, data statistik, surat kontrak, surat perjanjian, dan sebagainya.
  4. Arsip sangat penting, yaitu surat arsip yang dipakai sebagai pengingat dalam jangka waktu yang tidak terbatas (abadi). Surat arsip ini termasuk arsip vital sehingga harus disimpan terus dan diberi tanda (V). Misalnya, akte pendirian, sertifikat, piagam penghargaan dan arsip lain yang mempunyai nilai dokumenter.

Arsip yang timbul karena kegiatan suatu organisasi, berdasarkan golongan arsip perlu disimpan dalam jangka waktu tertentu. Ada arsip yang perlu disimpan sementara (sampai 1 tahun, sebagian lagi disimpan 1–5 tahun, yang lain 5–10 tahun, dan sebagian kecil dari jumlah arsip perlu disimpan secara abadi. Arsip yang disimpan pada bagian pengolah adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Untuk arsip yang disimpan di unit kearsipan adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunannya sangat rendah. Jadi, ada arsip yang dalam jangka waktu tertentu (1 tahun misalnya) sering dikeluarkan dari penyimpanan (dalam hal ini penyimpanan di unit pengolah). Sebaliknya ada arsip yang dalam jangka waktu 3 tahun sama seklai tidak pernah dikeluarkan untuk bahan informasi dalam kegiatan yang sedang dilasksanakan. Kedua macam arsip tersebut tetap mempunyai nilai dokumenter. Berdasarkan frekuensi penggunaan arsip sebagai bahan informasi, dibedakan jenis arsip seperti berikut ini:

  1. Arsip aktif (dinamis aktif), yaitu yang secara langsung masih digunakan dalam proses kegiatan kerja. Arsip aktif ini disimpan di unit pengolah, karena sewaktu diperlukan sebagai bahan informasi harus dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Jadi, dalam jangka waktu tertentu arsip aktif ini sering keluar masuk tempat penyimpanan. Untuk pengamanan arsip perlu direncanakan tatacara penggunaan supaya tidak rusak atau hilang. Di unit pengolah ini kehilangan atau kerusakan arsip sering terjadi.

 

  1. Arsip inaktif (dinamis inaktif), yaitu arsip yang penggunannya tidak langsung sebagai bahan informasi. Arsip inaktif ini disimpan di unit kearsipan dan dikeluarkan dari tempat penyimpanan yang sangat jarang, bahkan tidak pernah keluar dari tempat penyimpanan dalam jangka waktu lama. Jadi, arsip inaktif ini hanya kadang-kadang saja diperlukan dalam proses penyelenggaraan kegiatan. Arsip inaktif setelah jangka waktu penyimpanan habis (nilai gunanya habis) akan segera di proses untuk disusut. Dalam penyusutan akan ditentukan surat (kelompok) arsip yang segera dihapus dan surat arsip yang harus disimpan terus (abadi) .
  2. Arsip  dinamis  adalah  arsip  yang  digunakan secara  langsung  dalam  kegiatan  pencipta  arsip dan disimpan selama jangka waktu tertentu (UU No. 43 tahun 2009 pasal 1 ayat 3).
  3. Arsip statis, arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan, telah habis referensinya, dan keterangan yang dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh ANRI/dan atau Lembaga Kearsipan (UU No. 43 tahun 2009 pasal 1 ayat 7). Arsip statis sebagai arsip  sudah mencapai taraf nilai yang abadi. Contoh : Teks Proklamasi.

 

  1. TUJUAN KEGIATAN

Menyimpan arsip dengan baik melalui Ms. Access bagi tenaga administrasi di kelurahan Kalisegoro, Semarang.

 

  1. MANFAAT KEGIATAN

Manfaat kegiatan ini adalah

  1. Memberikan kontribusi positif terhadap tenaga administrasi dalam menyimpan arsip.
  2. Menerapkan Teknologi Informasi dalam arsip dengan program Ms Access.

 

 

  1. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

Untuk Mengatasi permasalahan  yang ada pada kelurahan Kalisegoro, maka perlu adanya pendampingan system penyimpanan arsip bagi tenaga administrasi kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang.

Adapun pola yang di buat dalam kegiatan ini untuk dapat memecahkan permasalahan di atas sebagai berikut:

  1. Penyampaian materi
  2. Simulasi arsip
  3. Mengevaluasi presentasi

Adapun tahapan dari pelatihan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Praktek

Penyimpanan Arsip

Pemberikan teori kepada anggota karangtaruna

 

 

 

Pelatih

 

Hasil

Didampingi oleh tim pengabdian

kepada masyarakat

 

Evaluasi

 

 

 

KHALAYAK SASARAN STRATEGIS

Sasaran kegiatan ini adalah tenaga administrasi untuk dapat menyimpanan arsip berbasis Ms Access yang berjumalh sepuluh dari maing-masing kaur, termasuk sekretarisnya.

KETERKAITAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mempunyai keterkaitan erat dengan tenaga administrasi kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang.

METODE KEGIATAN

Metode yang digunakan adalah ceramah dan simulasi. Ceramah dengan teori tentang sistem penyimpanan arsip. Simulasi dilakukan dengan praktek materi yang telah diperolehnya. Setiap tenaga administrasi mempraktekkannya.

RANCANGAN EVALUASI

Aspek yang dievaluasi dalam kegiatan ini adalah keterampilan, ketelitian, kerapian, dan kecerdasan. Keterampilan adalah cekatan menempatkan (placing), penemuan kembali (finding), dan memilah golongan arsip. Ketelitian adalah arsiparis harus memiliki tingkat kecerdasan angka dan huruf. Kerapian adalah sikap pandang tentang keteraturan, keberesan, ketertiban, dan keapikan. Map, folder, guide (lembar petunjuk) dan laci ditata secara  teratur, tertib, dan anak dipandang, karena  berdampak pada kecepatan menyimpan dan menemukan arsip. Cerdas berarti tingkat pemahaman arsip sesuai dengan tugas dan pekerjaannya.

Evaluasi dilakukan dengan lembar pengamatan kepada tenaga administrasi kelurahan.

RENCANA DAN JADUAL KEGIATAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan dilaksanakan selama enam bulan. Adapun rencana kegiatanya adalah sebagai berikut :

Tabel. Rencana Kegiatan

NO

KEGIATAN

BULAN KE

1

2

3

4

5

6

1 Observasi lapangan            
2 Penyusunan proposal            
3 Persiapan            
4 Penyediaan alat            
5 Pelaksanaan kegiatan            
6 Evaluasi            
7 Laporan sementara            
8 Revisi            
9 Laporan akhir            

PELATIHAN PUBLIC SPEAKING SEBAGAI UPAYA PENANAMAN KARAKTER BAGI KARANGTARUNA DESA DELIKREJOSARI, KALISEGORO, GUNUNGPATI

Ade Rustiana, Agung Kuswantoro, dan Sri  Wartini

Email : agungbinmadik@gmail.com

 

Abstrak

Sukses organisasi salah satunya lancarnya komunikasi antar anggota. Karangtaruna sebagai organisasi membutuhkan komunikasi internal dan eksternal yang baik, karena jika pesan yang disampaikan tidak baik, maka miss communications yang terjadi, sehingga dibutuhkan pelatihan komunikasi, salah satunya public speaking. Public speaking juga sebagai upaya menanamkan karakter seperti komunikasi baik, percaya diri, intonasi yang tepat, dan santun. Sasaran dalam pengabdian ini adalah anggota karangtaruna. Metode pelaksanaan dalam kegiatan ini yaitu m

embuat kelompok kecil, tiap anggota mempersiapkan materi public speaking, presentasi, dan mengevaluasi presentasi. Hasil yang dicapai adalah anggota karangtaruna mampu berkomunikasi di muka umum. Simpulan pengabdian ini adalah anggota karangtaruna mampu berkomunikasi di hadapan khalayak umum/ public melalui pelatihan public speaking dan tertanam nilai karakter.

 

Kata Kunci : Public Speaking, Penanaman Karakter, Karangtaruna,

 

PENDAHULUAN

Globalisasi serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa memang telah membuat dunia serba terbuka. Ketika terjadi peningkatan aktivitas lintas batas dan komunikasi secara maya (virtual) ke seluruh penjuru dunia dalam waktu singkat serta majunya teknologi dan komunikasi, maka hanya yang siap yang bisa meraih kesempatan. Globalisasi akan memicu perubahan tatanan pemenuhan kebutuhan secara mendasar sesuai dengan Karakteristiknya yang plural, dan kompetitif (Subagio, 2010).

Kunci untuk mencapai kemajuan, yakni penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang semula miskin dan tidak diperhitungkan lagi kini menjadi bangsa yang maju karena selama puluhan tahun konsisten menginvestasikan sumber-sumber yang mereka miliki untuk mencerdaskan warganya melalui pendidikan dan dengan tekun mengejar ketertinggalan dalam ilmu teknologi. Hikmah itu sepertinya tidak diambil oleh bangsa Indonesia sebagai pelajaran. Sampai saat ini pendidikan menjadi suatu masalah yang menjadi kompleks dan rumit untuk dipecahkan atau justru memang tidak ingin dipecahkan oleh sebagian pihak. Pada masa dimana bangsa ini menuju masa persaingan global, krisis Karakter karena pendidikan menjadi salah satu masalah puncak yang belum dapat diselesaikan (Hazan, 2007).

Akhlak mulia merupakan aspek penting dalam mendidik  anak. Bahkan suatu bangsa yang berkarakter juga ditentukan oleh tingkat akhlak bangsanya. Dalam ayat tersebut juga dinyatakan tentang pembentukan watak. Pembentukan watak ini dapat dikatakan sebagai upaya membentuk karakter. Tanpa karakter seseorang dengan mudah melakukan  sesuatu apa pun yang dapat menyakiti atau menyengsarakan or­ang lain. Oleh karena itu, kita perlu membentuk karakter untuk mengelola diri dari hal-hal negatif. Karakter yang terbangun diharapkan akan mendorong setiap manusia untuk mengadakan sesuatu sesuai dengan suara hatinya. Mengingat pentingnya karakter dalam mambangun sumber daya manusia (SDM) yang kuat, maka perlunya pendidikan karakter yang dilakukan dengan tepat. Dapat dikatakan bahwa pembetukan karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan kepedulian oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah, masyarakat, keluarga maupun sekolah. Kondisi ini akan terbangun jika semua pihak memiliki kesadaran bersama dalam membangun pendidikan karakter. Dengan demikian, pendidikan karakter harus menyertai semua aspek kehidupan termasuk di organisasi karangtaruna.

Karang Taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan terutama bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial. Anggota Karang Taruna yang selanjutnya disebut Warga Karang Taruna adalah setiap anggota masyarakat yang berusia 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 45 (empat puluh lima) tahun yang berada di desa/kelurahan.

Guna mencapai tujuan karangtaruna dibutuhkan komunikasi antara anggota karangtaruna dengan masyrakat. Komunikasi yang dibentuk adalah komunikasi dua arah, di mana adanya interaksi masyarakat dengan anggota karangtaruna. Berdasarkan observasi awal pada Februari bahwa anggota karangtaaruna belum percaya diri dalam berkomunikasi. Mereka cenderung malu di dalam enyampaikan program kerja kepada masarakat, di mana mereka seharusnya memberikan penerangan atau keterangan kepada masyarkat secara detail sehingga diutuhkan pelatihan public speaking.

Public speaking dalam hal ini adalah berbicara di muka umum dengan materi yang sudah ditentukan. Tiap anggota presentasi dari materi yang dudah dipersiapkan dan mengevaluasi hasil presentasi.

Target pengabdian ini adalah menanamkan karakter dalam public speaking bagi anggota karangtaruna sehingga percaya ketika berbicara di hadapan umum (khalayak).

Luarannya adalah mampu berbicara di muka umum dengan baik, percaya diri, intonasi yang tepat, dan santun.

Metode Pelaksanaan

Realisasi pemecahan masalah dilakukan dengan cara pemberian teori dan workshop pada tanggal 3 Oktober 2013 bertempat di Ibu Sri Wartini. Khalayak sasaran dalam pengabdian ini adalah anggota karangtaruna deliksari, Kalisegoro, Gunungpati yang berjumlah 30 orang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu m

embuat kelompok kecil, tiap anggota mempersiapkan materi public speaking, presentasi, dan mengevaluasi presentasi.

HASIL dan PEMBAHASAN

 

Implementasi pendidikan karakter berbasis potensi diri melalui public speaking karangtaruna merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan anggota karangtaruna desa Deliksari dalam berkomunikasi.

Pembelajaran komunikasi organisasi dengan mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis potensi diri melalui public speaking sebagaimana tersebut di atas dapat menanamkan nilai. Penanaman nilai tersebut disebabkan oleh karakter yang muncul pada saat praktek publis speaking oleh anggota karangtaruna.

Public speaking menjadikan pengalaman baru, menarik dan menyenangkan, berbicara efektif di depan umum bagi anggota karangtaruna Deliksari. Berkaitan dengan komunikasi, maka publik speaking sangat tepat terutama berkaitan dengan komunikasi massa dan komunikasi pada khalayak.

Anggota karangtaruna  merasakan tertarik dan antusiasme, hal ini sangat terlihat dari potensi diri mereka dalam meningkatkan kepercayaan diri u100_1512ntuk berbicara di depan umum, melatih pembicaraan dengan efektif, tidak malu bertanya di depan umum, adanya variasi dalam memahami kondisi publik.

Dalam public speaking masih terlihat ada beberapa kelemahan mereka dalam pengeksprespesian diri belum maksimal. Hal ini dikarenakan karena ketidakmampuan dalam materi yang dibawakan. Materi marupakan hal yang paling pokok, karena dengan tidak mengusainya materi maka kepercayaan diri menjadi berkurang, sehingga berdampak pada ketidakjelasan pada artikulasi, mengucapkan ejaan kurang jelas, mengucapkan intonasi kurang baik, dan kurang memaknai kata dengan power, mimik dan gestur

 

Simpulan dan Saran

Simpulan pengabdian ini adalah anggota karangtaruna mampu berkomunikasi di hadapan khalayak umum/ public melalui pelatihan public speaking dan tertanam nilai karakter seperti berkomunikasi dengan baik, percaya diri, intonasi yang tepat, dan santun.

Saran dalam penelitian ini adalah perlu ditingkatkan belajar komunikasi lainnya seperti mendengar atau kritikan orang lain, tidak hanya public speaking saja.

TRAINING PUBLIK SPEAKING BE A GREAT ISLAMIC SPEAKER

CIMG2214 Pembicara : Agung Kuswantoro. Ahad, 10 November 2013 M , bertepatan dengan hari pahlawan. EKSIS FE UNNES present TPS (TRAINING PUBLIK SPEAKING). Acara tersebut dimulai pukul 07:00. Diawali dengan presensi sampai pukul 07:50, sebelum acara dimulai dan sambil menunggu pembicara datang panitia mengisi acara dengan gerakan senam ringan dan permainan . Sekitar pukul 08:00 acara dimulai, acara tersebut dihadiri oleh anak magang dan fungsionaris Eksis. Pembicara TPS kali ini adalah Bapak Agung Kuswantoro, beliau adalah dosen dari FE, kita patut memberikan apresiasi kepada beliau karena ditengah kesibukan beliau, beliau sudi meluangkan waktunya untuk mengisi TPS. Meskipun hanya satu jam namun ilmu yang disampaikan tersebut sangat bekesan. Setelah membagi ilmunya beliau segera begegas untuk menghadiri agenda lain yang menanti beliau. Itulah salah satu sosok yang patut kita teladani kawan, semoga kita bisa sepeti beliau yang tanpa lelah, tanpa mengeluh dan selalu bersemangat untuk membagikan ilmunya.

CIMG2217 Acara dilanjutkan dengan membagi kelompok. Ada 8 kelompok yaitu 7 kelompok akhwat dan 1 kelompok ihwan, setiap kelompok terdiri dari 8 atau 9 orang. Panitia menyediakan 2 tema untuk tiap kelompok yang dipilih secara undi yaitu menjadi seorang muslim yang kreatif dan komptitif serta cerdas menghadapi perang pemikiran dalam konteks keagamaan.

Setiap kelompok berlatih bebicara dihadapan kelompoknya masing-masing. Seusai presentasi perkelompok, mereka menunjuk salah satu anggota terbaik berdasarkan nilai tertinggi dari tiap kelompok untuk mempresentasikan di depan seluruh peserta TPS. Tidak berhenti dari dua tema tersebut, panitia menyediakan 10 tema berbeda yang diundi, dan peserta secara spontanitas harus mempresentasikan tema yang diundi tersebut dihadapan peserta TPS.

Lalu peserta memulai kemapuan Publik Speakingnya. Ditengah-tengah acara tersebut panitia memberi penghargaan terhadap peserta terajin, yaitu peserta yang berangkatnya paling awal dari peserta lain. Maka tepilihlah 2 peserta yang terdiri dari satu ihwan dan satu akhwat. Mereka itu adalah Syarif dan Retno Puji Lestari. Selamat untuk kalian semoga peserta yang lain dapat mencontoh kalian untuk datang tepat waktu agar acara yang direncanakan juga berjalan lebih maksimal.

Setelah pengumuman peserta terajin kini tibalah waktu yang dinanti-nanti yaitu pengumuman pemenang dari 8 kelompok yang bersaing secara ketat. Sepertinya juri pun harus bekerja keras untuk memilih salah satu peserta terbaik, karena masing-masing peserta mempunyai kelebihan masing-masing. Setelah berpikir keras maka terpilihlah 2 peserta terbaik yaitu Ahmad dan Ari Haryati. Selamat untuk para pemenang atas usaha keras mereka sehingga bisa menjadi yang terbaik.

Dan semoga baik pemenang maupun peseta yang lain bisa mengembangkan bakat public speakingnya untuk mengabdi di masyarakat kelak. Dengan keyakinan, usaha dan ijin dari Allah insyaAllah kita bisa mengusai public speaking. Demikianlah training public speaking yang merupakan program dari departemen media dan informasi semoga bermanfaat dan insyaAllah akan ada kelanjutan Training desain grafis yang insyaAllah akan diadakan tidak lama lagi.

Ringkasan dari materi : Selalu ingat Niat itu karena Allah (lillahita’ala) Jangan menawarkan diri, tapi karena ajakan orang lain. Karena menganggap bahwa kita sudah bisa (mampu) Cara membangun PUBLIK SPEAKING : Rapoort => membangun hubungan yangharmonis

Cara membangun repoort : Kenali diri sendiri Bangun image Berikan kesan positif Kenali audience , seperti kenali namanya Temukan kebutuhan audience Bagikan rasa ingin tahu => lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengejutkan/bias terfokus/bisa membuat penasaran

Saat persiapan Tentukan tema Jawab rumus 5W+1H Point penting yang akan dibicarakan Metode alat bantu yang digunakan Datang lebih awal Periksa ruang dan suara, latihan napas Sapa audience Menyatulah dengan presentasi Akhiri presentasi, bias dengan kesimpulan, video atau music Demikian catatan kecil dari acara TPS, semoga bermanfaat.

Seandainya ada masukan monggoh. Baik itu kritikan, saran, motivasi maupun catatan lainnya. Untuk menjadi introspeksi kami kedepan agar menjadi lebih baik lagi.n kebutuhan audience Bagikan rasa ingin tahu => lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengejutkan/bias terfokus/bisa membuat penasaran Saat persiapan Tentukan tema Jawab rumus 5W+1H Point penting yang akan dibicarakan

Metode alat bantu yang digunakan Datang lebih awal Periksa ruang dan suara, latihan napas Sapa audience Menyatulah dengan presentasi Akhiri presentasi, bias dengan kesimpulan, video atau music Demikian catatan kecil dari acara TPS, semoga bermanfaat. Seandainya ada masukan monggoh. Baik itu kritikan, saran, motivasi maupun catatan lainnya. Untuk menjadi introspeksi kami kedepan agar menjadi lebih baik lagi.

https://www.facebook.com/rina.opick?fref=ts

Buku Nasehat Menuju Akad Nikah

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan semesta alam, sholawat dan salam terhatur pada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan pengikutnya.

Latar belakang penulisan buku ini adalah seorang laki-laki yang belum siap batin dalam menikah, sehingga saat melafalkan akad nikah tidak lancar.

Berdasar pengalaman penulis, bahwa salah satu ketidaklancaran calon suami saat ijab qobul, yaitu kurang memahami ilmu munakahat, terutama pada tiap makna lafal ijab qobul.

Buku ini muncul sebagai solusi bagi calon suami untuk menyiapkan mental ibadah pernikahan, asumsinya orang yang menyantap suatu hidangan, jika dia sudah memahami karakteristik bumbunya, maka dia akan menikmati kelezatan hidangan tersebut.

Demikian juga, lafal akad nikah akan terasa nikmat, jika dia memahami kata yang diucapkannya, maka proses perjuangan menuju pernikahan “beraroma” lebih nikmat.

Susunan buku ini terdiri dari lima belas bab. Tiap bab merupakan “aliran” yang terkait antar bab missal bab tiga tidak akan muncul,  jika tanpa bab dua dan satu. Demikian juga, bab tiga akan muncul, setelah bab satu dan dua.

Urutan bab berdasarkan pada perjalanan seorang wali hingga calon suami yang siap mengucapkan ijab qobul pernikahan.

Sasaran pembaca buku ini adalah seorang lelaki yang berniat menikah untuk beribadah kepada Alloh SWT.

Saya menyadari dalam buku ini, masih ada kekurangannya, sehingga penulis mengharapkan saran atau kritikan untuk perbaikan buku tersebut. Saran dapat dikirim melalui mail agungbinmadik@gmail.com atau 081 79599 354.

Penulis mengucapkan terma kasih  kepada semua pihak yang telah mendukung buku ini. Semoga Alloh membalas semua amal baiknya, amin.

Semarang, 7 November 2013

Penulis

Agung Kuswantoro

 

 

DAFTAR ISI

 

Bab 1 Naik Status……………………………………………..    1

Bab 2 Suami ……………………………………………………    4

Bab 3 Pemuda Yang Baik………………………………….    6

Bab 4 Takut Menikah………………………………………..    9

Bab 5 Kekuatan Niat………………………………………… 11

Bab 6 Mohon Restu Orang Tua………………………….. 12

Bab 7 Bangun Komunikasi Intim……………………….. 14

Bab 8 Pasrah Atau Memasrahkan?……………………… 16

Bab 9 Merencanakan Tempat Akad Nikah………….. 18

Bab 10 Susunan Acara……………………………………… 21

Bab 11 Memaknai Tiap Kata……………………………… 22

Bab 12 Menemui Istri Di Tempat Lain………………… 27

Bab 13 Fokus Saat Akad…………………………………… 30

Bab 14 Doa Setelah Akad…………………………………. 32

Bab 15 Terimakasih, Alloh………………………………… 331379649_3528454666867_698427713_n

Daftar Pustaka…………………………………………………. 35

Biodata Penulis………………………………………………… 36

Penulis Agung Kuswantoro


Previous Older Entries