Kisah dalam Mengajar (1)

Mengajar adalah tugas dosen. Kewajiban mengajar seorang dosen tidaklah mudah, terlebih jika jam mengajarnya banyak. Dosen mengajar 16 SKS artinya tidak hanya mengajar selama 16 SKS. Di dalam 16 SKS terdapat penugasan mid dan ujian serta koreksi. Makna lain dalah persiapan dan evaluasi juga harus dipersiapkan.

Insya Alloh semua guru atau dosen pasti bisa mengajar. Tetapi belum tentu bisa mendidik. Hal itulah yang saya ingin belajar melakukannya. Bukan mencari sensasi atau kesombongan.

Saya memiliki keyakinan bahwa jika hati sudah baik, maka otak juga akan pinter. Mengajar lebih cenderung pada mentransfer ilmu ke otak, sedangkan mendidik lebih cenderung pada mentransfer ke hati.

Latar belakang tersebut di atas, menjadikan bahwa guru selain memiliki kewajiban mengajar, tetapi juga mendidik. Memang bukan hal mudah melakukannya. Namun, jika  kita mencoba untuk melaksanakannya pasti Tuhan memberikan kemudahan.

10 Mahasiwa

Sewaktu  saya mengajar di  kelas aplikasi komputer koperasi, S1 jam 13.00 ada mahasiswa yang tidak masuk sejumlah 10 mahasiswa. Dari  total 60 mahasiswa. Hal ini terjadi pada pertemuan keempat.

Saya menanyakan kepada mereka bahwa ketidakhadiran mereka karena akan pulang kampung. Bagi saya perkara itu hal yang mudah, jika menginginkan pulang kampung, maka perkuliahan ini dapat berjalan dengan penugasan sehingga satu kelas dapat pulang  kampung.

Pada pertemuan berikutnya, saya memberikan pengertian kepada mereka mengenai hal tersebut. Mereka memahami akan pesan saya. Kerena mereka sudah memahaminya, saya mengajak mereka untuk melibatkan kehadiran Tuhan dengan menyebutkan nama-Nya. Bagi yang beragama Islam dengan mengatakan Bismillahirrohmanirrohim, bagi yang beragama Budha dengan mengatakan Tuhannya, dan seterusnya sesuai dengan agama masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar perubahan sikap kita, Tuhan mengetahuinya.

Pertemuan demi pertemuan kuliah dapat berjalan lancar. Jika mereka ijin cukup SMS kepada saya. Ada perkembangan yang signifikan yaitu adanya komunikasi yang intim antara saya dengan mereka. Bagi saya, ketika mereka SMS tentang ketidakhadirannya adalah suatu penghormatan. Saya pun meresponnya dengan membalas SMSnya, ketika dia ijin sakit, saya meresponnya dengan semoga lekas sembuh.

Terjadi Lagi

Sesuatu yang tidak saya duga terjadi pada pertemuan ke-12. Mereka tidak hadir sejumlah 15 mahasiswa. Pada pertemuan itu pula, saya menugaskan pada Mulia (nama mahasiswa) untuk mendata beberapa perkuliahan yang satu kelas ini ikuti. Pada perkuliahan mata kuliah yang lain ditemukan juga pada pertemuan tertentu. Ketidakhadiran mereka lebih dari 10 mahasiwa. Ini ditemukan tidak hanya satu mata kuliah, tetapi beberapa mata kuliah yang mereka melakukan, termasuk di aplikom koperasi. Artinya bahwa trend atau kecenderungan mereka ketika tidak masuk adalah jamaah tanpa ijin (alpa).

Kejadian ini bagi saya, sesuatu yang baru selama mengajar. Selama menjadi guru selama 2 tahun dan dosen selama 4 tahun, moment ini baru terjadi pada diri saya.

Memang secara aturan mahasiswa diberi kesempatan untuk tidak hadir 25% dari total  perkuliahan(16 pertemuan). Namun, apakah mereka pernah berpikir bahwa perkuliahan dapat berakhir pada 13 atau 14 pertemuan? Artinya jika melakukan kebiasaan seperti itu, maka 25% mengandung makna bahwa alpa mereka hanya 2 kali saja (aman). Jika mereka ijin, maka mereka artinya ada (hadir). Maka sia-sia juga perkuliahan satu semester  karena melebihi batas kuota alpa bagi yang tidak masuk 2 kali.

Hukuman / Punishman

Saya mengecek presensi tiap mahasiswa. Saya menginginkan hukuman bagi mereka. Karena bagi mahasiswa yang tidak hadir,  menurut saya melanggar komitmen yang telah diucapkan. Bukannya saya tidak menerima keputusan mereka yang tidak masuk. Tetapi, nama Tuhan yang disebutkan pada pertemuan dulu.

Hukuman tersebut adalah berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan nama Tuhan yang telah dilibatkan dalam hidup dan alasan tidak masuk. Ada 2 segi kategori yaitu pelanggaran berat dan ringan. Pelanggaran  berat adalah mereka yang pada pertemuan ke-4 dan ke-12 tidak hadir. Artinya mereka telah mengulangi perbuatan yang dulu, terlebih mereka sudah berkomitmen untuk menjadi lebih baik dengan melibatkan nama Tuhan. Pelanggaran ringan adalah mereka pada pertemuan ke-12 tidak hadir. Artinya mereka melanggar komitmen dulu. Dikatakan ringan karena mereka baru pertama melakukannya.

Saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk merenung mengapa mereka dikumpulkan. Dengan kompak mereka menjawab “tidak masuk, Pak kemarin. Oke benar” kata saya. Setelah itu saya menjelaskan kepada mereka mengapa mereka saya hukum  sebagaimana pada penjelasan di atas.

Dari beberapa mahasiswa ternyata ada mahasiswa  yang waktu pertemuan (mengatakan komitmen) tidak masuk, maka saya tidak memberikan dia hukuman karena dia tidak mengatakan komitmen. Ada juga mahasiswa yang pada waktu itu ijin dan sakit, maka saya tidak memberikan hukuman kepadanya.

Adapun pertanyaan hukuman mereka sebagai berikut:

  1. Mengapa tidak masuk ?
  2. Apa yang anda saudara lakukan jika melanggar komitmen, apalagi sudah melibatkan Tuhan ?
  3. Apakah Tuhan saudara marah, jika anda seperti itu ?
  4. Yakinkah saudara atas ucapan saudara dulu, Tuhan saudara mendengar ?
  5. Apa yang saudara lakukan jika teman saudara melanggar komitmen ?
  6. Apakah saudara bangga dengan sikap yang sekarang ?
  7. Kebahagiaan yang seperti apa yang anda inginkan ?
  8. Menyesalkah, saudara dengan apa yang telah saudara lakukan ?
  9. Apa yang saudara lakukan kelak jika ada siswa melanggar janjinya ?
  10. Apakah orang tua / wali mengetahui perbuatan saudara dikampus ?

Bagi mereka yang melanggar secara ringan maka menjawab pertanyaan nomor 1 sampai 5, dan bagi yang berat maka menjawab pertanyaan nomor satu sampai 10.

Kehilangan Tuhan

Dari beberapa pertanyaan tersebut, ada yang menarik yaitu mereka mengatakan bahwa Tuhannya adalah Alloh. Tetapi perilakunya belum menunjukkan  bahwa Tuhannya adalah Dia. Seperti pada pertanyaan “Yakinkah saudara, ucapan Saudara yang dulu, Tuhan Saudara mendengar? Mereka menjawabnya : Yakin, karena Tuhan Maha Mendengar”.

Jawaban mereka menunjukkan bahwa baru  mengenal Dzat Alloh yang Maha Mendengar. Secara singkat jawaban tersebut benar.  Maka pertanyaan selanjutnya adalah jika Tuhan Maha Mendengar, mengapa mereka mengingkari komitmennya. Berarti ucapan tersebut omong kosong, tanpa adanya bukti.

Ada satu mahasiswa yang membuat simpati kepadanya karena lemah imannya (menurut saya). Pada pertanyaan : Menurut Saudara, apakah Tuhan Saudara marah? Mengapa? Dia menjawabnya : Saya tidak tahu, karena saya tidak berpikiran buruk pada Tuhan.

Jawaban tersebut, saya abaca berkali-kali mengenai maknanya. Saya mengartikan bahwa saya tidak tahu, bahwa Tuhan itu marah. Artinya dia cuek terhadap-Nya. Padahal kartu nama Alloh adalah Bismillahirrohmanirrohim. Alloh yang Maha Pengasih dan Penyayang. Terlihat jelas bahwa Alloh tidak benci ataupun murka terhadap hamba-Nya kecuali dia telah syirik.

Jika seorang hamba yang berbuat dosa dan dia tobat maka Alloh pasti menerimanya dan memberikan kasih saying padanya.

Respon mahasiswa yang seperti itu, menjadikan saya terpanggil untuk menanamkan nilai-nilai Tauhid. Sebenarnya dia tidak memahaminya bahwa ketidaktahuan dia mengenai sifat Tuhannya karena  pemikiran dia. Dia terlalu berpikir praktis, justru seharusnya dia bersyukur sampai saat ini dia masih diberi kenikmatan untuk menikmati kehidupannya. Karena dia telah melupakan sifat Alloh yang rohman.

Jawaban

  1. Kamis, 23 Mei 2013, mengapa tidak masuk ? karena saya harus mengantar dan menunggui saudara saya di RS. Karyadi karena Deman Berdarah. Mengapa harus saya? Karena di Semarang kami tidak mempunyai keluarga dekat lain, posisi saya panik saat itu mendengar kabar via telepon bahwa kakak/saudara saya sudah di RSUP PGRI mengalami panas tinggi sampai ia tak sadarkan diri, setelah itu saya langsung menuju Rumah Sakit Karyadi untuk mengecek keadaannya sampai lupa tidak memberitahu ijin kepada bapak untuk mengikuti ….. aplikom pada hari tersebut.
  2. Saya sendiri baru tersadar bahwa saya meninggalkan kuliah hari itu setelah beberapa jam kemudian dan saya pun menyadari bahwa saya telah melanggar komitmen saya bersama teman-teman dan bapak, sehingga melibatkan TUHAN. Saat itu juga saya hanya bisa meminta maaf kepada Tuhan, saya tahu Tuhan pasti marah, saya takut, menyesal telah melanggar komitmen, tapi saya hanya bisa menangis menyesali apa yang telah saya perbuat, meski saya meyakini bahwa Tuhan adalah maha pemaaf. Namun, tetap saya merasa bersalah atas perbuatan saya tersebut.
  3. Sudah dinomor (3) sekalian
  4. Yakin, saya sangat yakin kalau Tuhan mendengar ucapan saya dan teman-teman dulu, karena Tuhan maha mendengar hingga saya yakin, bawa Tuhan pun marah karena saya melanggar komitmen itu.
  5. Ketika ada teman yang melanggar komitmen dengan saya, saya kan merasa kecewa dan marah, tapi saya juga butuh penjelasan dari orang yang bersangkutan mengapa ia sampai melanggar komitmen yang pernah dibuat.
  6. Melanggar komitmen bukan suatu kebanggaan buat saya, mengecewakan orang lain, apalagi membuat Tuhan marah tak sedikitpun perasaan bangga hinggap dihati.
  7. Bahagia itu sederhana ketika kita nyaman akan keadaan disitulah kebahagiaan akan terasa tidak melanggar janji / komitmen kita pasti akan merasa bahagia. Ketika keadaan mengerti kita dan kita mengerti keadaan sehingga kita akan merasa aman dan nyaman, disitulah kebahagiaan muncul, ketika semua mendapat ridhoNya, kebahagiaan akan bertambah.
  8. Menyesal, seperti yang dikatakan di poin sebelumnya ada perasaan menyesal merasuk ke hati dan pikiran. Menyesal karena membuat kecewa dan marah Tuhan, karena melanggar komitmen.
  9. Suatu saat nanti ketika saya mendapati siswa saya melanggar janjinya, saya akan berusaha menegur dia, dan memberikan pengarahan untuk tidak melakukannya.
  10. Tahu, kedua orang tua saya selalu tahu ketika saya tidak masuk. Seperti saat saya tidak masuk mata kuliah Aplikom, pertama kali karena saya membolos untuk pulang, saya terus terang mengatakan bahwa saya membolos 3 sks hari itu, sama dengan kemarin, 23 Mei 2013 saya memberitahukan saya telah melanggar janji dengan Pak agung karena harus menunggui kakak saya itu. Ke-2 orang tua saya selalu tahu, karena selalu memberi tahu, meskipun saya membolos kuliah.

Saya telah menceritakan mengenai pelanggaran komitmen yang melibatkan Tuhan, pada Ayah saya melalui telfon. Ia cukup kaget, namun ia memberikan saya suntikan, penenang dengan berkata bahwa apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya salah, meski kami pasti dapat dosa dan Tuhan marah, tapi kamu membantu menenangkan keluarga dirumah karena kamu menunggui kakak kamu.

Saya tahu pasti bapak saya juga kecewa, nada suaranya setelah saya menceritakan pelanggaran komitmen, berubah drastic, saya tau, bapak dirumah pasti kecewa, karena bapak tidak pernah melanggar janji atau komitmennya. Apalagi menyangkut Tuhan. Itu yang membuat saya merasa semakin menyesal, maafkan saya bapak, maafkan saya teman-teman, maafkan saya pak agung, maafkan saya Tuhan, telah melanggar komitmen dan janji saya.

Adapun jawaban teman yang lain adalah sebagai berikut:

  1. Karena saya pulang kampong
  2. Saya siap menerima sanksi
  3. Marah, karena telah melanggar janji
  4. Yakin,
  5. Saya akan Tanya mengapa dia tidak menepati komitmen
  6. Tidak
  7. Jika melihat orang tua bangga karena saya
  8. Menyesal
  9. Saya akan berbicara 4 mata kemudian saya Tanya mengapa dia seperti itu
  10. Tahu

Demikian juga mahasiswa berikut ini:

  1. Karena saya sakit radang
  2. Saya akan merasa bersalah dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan
  3. Saya tidak tahu, karena saya tidak berpikiran buruk pada Tuhan
  4. Yakin
  5. Saya tanyakan dulu kenapa kok tidak menepatinya. Lalu, kedua diberi peringatan lalu diberi sanksi dan bimbingan

bersambung………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: