Menanam Nilai Konservasi

Oleh Agung Kuswantoro

Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai “industri” yang bergerak di bidang jasa pendidikan telah berhasil memproduksi doktor, magister, sarjana, dan ahli madya sejumlah 3.578 orang pada periode II tahun 2013.

Pastinya, output yang dihasilkan memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya, karena proses input yang selektif saat tes SNMPTN, SBMPTN, dan SPMU, serta tes keterampilan, sehingga diperoleh “benih” input terbaik berupa mahasiswa berprestasi, tanpa cacat (zero defects).

Dengan “bibit” input pilihan, maka dihasilkan output dan outcome bermutu. Lulusan Unnes dapat berkarir di instansi pemerintah, swasta, atau berwirausaha.

Keberhasilan KPK menangkap Prof. Dr. Ing Ir. Rudi Rubiandini, R.S. dan Dr. H.M. AKil Mochtar, S. H, M. H. mejadi pelajaran bagi lembaga pendidikan termasuk Unnes sebagai pencetak tenaga terdidik.

Secara akademik, mereka pasti bukan orang bodoh, bahkan Prof. Rudi pernah dinobatkan sebagai dosen teladan dan terinspirasi di tempat beliau mengajar.

Kemampuan mereka dalam berpikir logis, ilmiah, dan sistematis mejadi “lemah” saat mereka tertangkap KPK. Kelemahan itu disebabkan karena perbuatan mereka. Artinya ada kekuatan lain dalam berpikir akademis, yaitu kekuatan nilai.

Internalisasi

Dosen sebagai “arsitek” saat mengajar harus mendidik mahasiswanya. Dia tidak hanya “cakap” mengajar, tetapi “pandai” mendidik. Saat dia mentransfer ilmunya ke mahasiswa, dia harus menyampaikannya dengan kalimat yang santun, intonasi yang tenang, tidak emosional, berkata jujur, dan disiplin. Dia dalam menyampaikan materi harus menginternalisasikan nilai-nilai karakter pada mahasiswa.

Nilai juga dapat dibentuk saat perkuliahan seperti jujur, disiplin, dan komitmen. Saat masuk kelas, tidak ada mahasiswa yang datang terlambat. Waktu mengerjakan tugas atau ujian, mereka tidak mencontek. Mereka komitmen saat menumpuk tugas sesuai deadline waktu yang ditentukan.

Memory penulis masih tersimpan, saat guru SD menyampaikan materi gerhana matahari, beliau memaparkannya dengan jelas dan mengenalkan nilai Ketuhanan, bahwa peristiwa tersebut adalah salah satu tanda kebesaran Tuhan. Berbeda dengan guru agama materi solat gerhana matahari yang cenderung menghafal.

Memang di Indonesia tidak ada sekolah kejujuran, namun dengan cara tersebut, diharapkan dapat menanamkan nilai. Pengajar adalah model, dia adalah pioneer yang harus mampu memadukan materi dan nilai.

Jika dosen telah mengajarkan dan mengamalkannya, maka mahasiswa memiliki persepsi terhadap dosen tersebut, sehingga dia akan menirunya.

Dengan demikian, menanam nilai karakter merupakan salah satu proses dalam pendidikan. Apalah arti best input, best output, dan best outcome, tetapi lulusannya tidak bernilai. Apalah arti kepandaian dia, tetapi dia mahir berdusta, ingkar janji, korupsi, dan suap.

Unnes punya nilai konservasi yaitu bijak dan peduli, diperkuat dengan pilar mananam pohon, green transportation, green energy, dan konservasi budaya. Setiap civitas akademika harus mampu mengamalkannya. Jika pimpinan, dosen, mahasiswa, cleaning service, dan juru parkir mampu mempraktekkan nilai tersebut, maka nilai tersebut menjadi budaya Unnes, sehingga orang lain tertarik belajar dan menghormati nilai tersebut.

Agung Kuswantoro, dosen administrasi perkantoran, jurusan pendidikan ekonomi, Fakultas Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: