Belajar Kepemimpinan “Bareng-bareng” di Salatiga

DSC07506Beberapa hari yang lalu saya alhadulillah diijinkan Alloh untuk mengisi kepemimpinan di Salatiga. Saya memberikan teori tentang proses memimpin dan praktek berupa game. Sumber yang saya gunakan adalah buku kepeimpinan milik Iu Ambar Teguh Sulistiyani dari UGM, penerbit Gava Media, tahun 2008. berikut materinya

Proses MemimpinDSC07513     

Pemahaman tentang proses memimpin itu sendiri adalah menyangkut
masalah kapasitas pemimpin dalam menyampaikan pengaruh dan
memotivasi orang lain (bawahan) dalam rangka mengurangi terjadinya
konflik tujuan atau objective conflict, sehingga akan tercapai hubungan
kepentingan timbal balik. Suatu organisasi merupakan sekelompok
manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda, dan memiliki
kepentingan yang berbeda. Berkumpulnya orang-orang ini menjadi
satu wadah dalam organisasi tidak luput dari konflik. Konflik tersebut
menyangkut masalah konflik tujuan maupun kepentingan masing‑
masing. Adapun jika dijabarkan lebih lanjut maka dapat diketahui
bahwa konflik tujuan tersebut tidak hanya terjadi antar orang me‑
lainkan dapat terjadi antara anggota dengan organisasi atau kelompok.
Keberadaan seorang individu dalam memasuki suatu organisasi juga memiliki motif tertentu, seperti harapan dan kebutuhan. Dengan demikian setelah masuk dalam organisasi jelas ia akan memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi oleh organisasi. Sebaliknya organisasi juga mempunyai tujuan yang dirumuskan dan dijadikan sebagai pedoman arah organisasi yang harus diperjuangkan dalam pencapaiannya. Untuk itulah kedua pihak yang berbeda tersebut harus saling memberi dan menerima (take and give) manfaat, seperti individu yang masuk dalam organisasi akan menyumbangkan tenaga, pikiran, dll, dan sebagai imbangannya ia akan mendapatkan sesuatu dari organisasi.

DSC07518

Sementara itu terbentuknya kelompok-kelompok informal dalam suatu organisasi sangat memungkinkan sekali, terlebih-lebih apabila dalam suatu organisasi tersebut terdapat beberapa orang yang me­miliki latar belakang yang hampir sama, mempunyai kepentingan yang sama atau mempunyai hobby yang sama. Keadaan ini sangat memung­kinkan terjadinya pengelompokan yang didasari oleh kesamaan pandangan. Kelompok-kelompok informal ini bisa menjadi pendukung atau sebaliknya menjadi penghambat organisasi, hal ini sangat ter­gantung pada selaras tidaknya kepentingan yang diperjuangkan kelompok tersebut dengan tujuan organisasi. Jika ada perbedaan maka sangat mungkin kelompok tersebut mengganggu pencapaian tujuan organisasi. Keadaan ini juga harus dapat dinetralisir dengan melakukan pendekatan yang tepat.

DSC07491

Timbulnya beberapa kelompok informal juga dapat menghadirkan pertentangan antar kelompok, perselisihan atau persaingan yang tidak sehat. Fungsi pemimpin dalam hal ini harus dapat memanfaatkan dan mengarahkan kelompok-kelompok tersebut agar semakin dekat dengan tujuan organisasi, dan mendukung organisasi.

Dalam pemahaman berikut konflik-konflik yang terjadi dapat dipilah menjadi:

  1. Konflik antara anggota dengan organisasi
  2. Konflik antara kelompok dengan organisasi
  3. Konflik antara individu dengan kelompok
  4. Konflik antar kelompok
  5. Konflik antar individu

Konflik-konflik tersebut apabila tidak teratasi maka akan mem­bahayakan organisasi. Oleh karena, itu untuk menetralisir konflik tersebut seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi dan me­motivasi. Pekerjaan seorang pemimpin dalam hal ini adalah untuk dapat mendekatkan konflik-konflik tersebut sehingga tercapailah suatu keadaan yang lebih baik, sehingga kepentingan timbal balik lebih terpelihara (mutuallity of interest).

Dari sini dapat semakin dipertegas bahwa kemungkinan yang terjadi dalam organisasi adalah terjadinya perbedaan dan persamaan tujuan antara orang-orang dengan organisasi. Adapun secara rinci persamaan dan perbedaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Sama tujuan
  2. Berbeda sebagian
  3. Jauh berbeda.
  4. Bertolak belakang

Tujuan individu/kelompok yang sama dengan tujuan organisasi tidak menimbulkan masalah, bahkan akan terjadi simbiosis mutualisma. Sedangkan tujuan yang berbeda sebagian relatif mudah untuk didekatkan. Sedangkan tujuan yang jauh berbeda dan yang bertolak belakang merupakan mengandung potensi konflik yang tinggi, dan sangat sulit untuk didekatkan satu sama lain.

Pada prinsipnya perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya individual differences (perbedaan individu), human dignity (martabat manusia), attitude (sikap) dan behavior (perilaku). Individu memang tidak terhindar dari keunikannya sendiri-sendiri. Pemimpin harus menyadari akan terjadinya perbedaan antar individu, baik peri­laku maupun kebiasaan yang berbeda. Latar belakang inilah yang juga tidak boleh diabaikan oleh pemimpin, mengingat efektivitas untuk mempengaruhi dan memotivasi individu seorang pemimpin juga harus dapat mendekati secara individual. Bahkan agar efektif pemimpin juga harus memahami setiap individu tersebut.

Realitas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bersifat spesifik antara manusia di satu sisi merupakan kekayaan yang mungkin dapat saling melengkapi, namun di sisi lain dapat memperbesar potensi konflik dalam organisasi. Variabilitas yang dihadapi atas individu yang tergabung dalam organisasi perlu dimanajemeni dengan tepat agar dapat bersifat saling mengisi dan saling melengkapi.

DSC07487

Harga diri seorang individu, sikap serta perilaku juga mengakibat­kan terjadinya perbedaan-perbedaan. Setiap orang tentu memiliki harga diri, dan ketika dipertautkan kepentingan organisasi terhadap individu atau sebaliknya, maka di dalamnya harga, diri tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hal yang sama juga terjadi ketika antar orang dan antar kelompok melakukan kerjasama. Dalam hal ini dihadapkan pada risiko untuk saling menghargai satu sama lain. Namun demikian rentang dan batas setiap orang akan kebutuhan dihargai oleh pihak lain seringkali berbeda satu sama lain. Sejauhmanakah atau setinggi apakah seseorang harus dihargai martabatnya, hal ini dapat mem­bentuk perbedaan yang bersifat spesifik. Bahkan cara menghargai martabat seseorang juga menjadi bervariasi.

Sikap merupakan bagian penting yang dapat mencirikan per­bedaan antar individu. Variasi sikap seseorang dalam organisasi dapat diamati melalui respons terhadap suatu hal. Misalnya sikap ke­terbukaan, sikap disiplin, sikap kepatuhan, sikap kooperatif, me­rupakan bentuk respons atas suatu ketentuan atau peristiwa atau perintah. Sikap hanya dapat dibaca dari bahasa tubuh, tutur kata, atau perilaku/perbuatan. Dalam organisasi cenderung potensial untuk terjadinya perbedaan karena sikap yang berbeda. Ada anak buah yang sangat disiplin dalam bekerja, tetapi ada yang malas. Ada anak buah yang sangat patuh, tetapi ada yang membangkang, ada yang sangat mudah untuk diajak diskusi secara terbuka berpendapat, tetapi ada yang lebih suka bergunjing di belakang, dst.

Perilaku mencerminkan bagaimanakah seseorang menanggapi suatu hal. Perilaku anggota dalam organisasi juga bervariasi, kendati treatment yang digunakan sama. Misalnya perilaku kerja, ada yang positif ada yang negatif. Sangat sulit memisahkan antara perilaku dengan sikap. Karena seringkali perilaku merupakan bentuk visual dari sikap. Sikap ibaratnya merupakan keputusan batiniah sedangkan perilaku merupakan resonansi dari keputusan tersebut.

C. Permainan: Untuk Internalisasi Kemampuan pemimpin

Agar pemahaman tentang kepemimpinan semakin jelas dan dapat dijiwai secara baik diperlukan media permainan. Tujuan permainan tersebut dimaksudkan untuk menjembatani antara pemahaman konseptual tentang kepemimpinan dengan melalui uji implementasi atas apa yang dipelajari tentang sosok pemimpin yang diharapkan dapat melakukan inisiasi kelompok dalam mencapai tujuan.

Menyusun Gambar

Pembelajar dihadapkan pada permasalahan tentang bagaimana agar dapat menginternalisasikan pentingnya sebuah kemampuan untuk melakukan kreasi. Untuk melatih kejelian, kecermatan dan kepekaan terhadap permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan upaya berani mencoba menyusun langkah, mengurutkan hingga mencapai kese­rasian. Hal ini akan dapat dilakukan jika seorang pemimpin memiliki inisiasi dan kreasi yang tinggi. Berikut ini merupakan permainan memberikan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan:

 

 

Panduan Permainan 2

Ketentuan:

  1. dibentuk kelompok masing-masing 5 orang
  2. waktu: 15 menit
  3. diberikan potongan-potongan gambar
  4. tugas kelompok: menyusun potongan gambar hingga berbentuk seperti aslinya
  5. tujuan: menghayati perlunya kreativitas seorang pemimpin
  6. kelompok mengevaluasi dan menuliskan kesan mengenai apa yang diperoleh dari permainan
  7. kelompok menjelaskan gambar yang telah disusun dan menginterpretasikan

Kreativitas merupakan aksentuasi dari kecakapan otak kanan yang selama ini kurang memperoleh sentuhan pembelajaran. Seorang pe­mimpin yang mampu melakukan kreasi akan dapat menghasilkan sebuah praktik kepemimpinan yang lebih menakjubkan. Tidak saja karya-karya dan kebijakan yang berakar pada kebutuhan riil organisasi, melainkan hasil yang lebih spektakuler atas bentukan kreasi. Dengan demikian hasil yang diperoleh tidak sekedar bersifat linear, mengikuti logika normal atas hasil-hasil yang direncanakan. Namun demikian dengan kreasi dapat membuahkan efek ganda, yaitu selain meng­hasilkan output yang ditetapkan, di sisi lain diikuti oleh peningkatan karakter organisasi yang semakin baik. Karakter bentukan tersebut adalah kemampuan “mengubah” sesuatu kondisi ke arah positif. Adapun nilai-nilai yang diperoleh dari permainan ini adalah:

  1. Dalam permainan tersebut dapat dipahami bahwa potongan­potongan gambar, dapat dianalisis sebagai suatu barang yang tidak berguna, ibaratnya tinggal dimasukkan ke dalam bak sampah. Tetapi ternyata setelah ditata dan dijodohkan satu sama lain membentuk suatu harmoni. Susunan yang harmoni tersebut me­mantulkan sebuah kesan afektif tertentu, disertai dengan informasi yang didefinisikan melalui kognisi. Dengan kata lain kreasi mem­berikan dorongan terhadap berkembangnya afeksi dan kognisi. Besarnya kreasi yang dihasilkan dapat memberikan dorongan afeksi dan kognisi semakin besar.
  2. Afeksi dan kognisi baru mencetak kebijakan, strategi serta langkah-­langkah baru yang lebih dinamis. Afeksi yang dimaksud mem­visualisasikan sebuah kesadaran baru tentang pentingnya me­munculkan kreativitas pada setiap kesempatan dan setiap saat. Sedangkan kognisi yang sibuk mendefinisikan serta memaknai gambar yang terbentuk mulai merekayasa pemikiran-pemikiran baru yang lebih tajam. Proses mengasah otak kanan dan otak kiri berlangsung secara terns menerus. Bagaimana jika posisi potongan gambar tersebut diubah letaknya? Tentu akan menghasilkan olah kognisi yang menghasilkan pemikiran yang berbeda pula.
  3. Nilai lain yang diperoleh dari permainan tersebut adalah, secara riil pembelajar mengalami sendiri dan terjadi proses pembuktian, bahwa ada barang yang sepertinya tidak berguna tersebut (berupa potongan kertas) ternyata masih memiliki nilai dan manfaat. Untuk itulah memberikan pesan afeksi bahwa seseorang (baik pemimpin maupun anak buah) sebaiknya menghargai barang bekas. Dengan memberikan apreasiasi terhadap barang bekas tersebut maka dapatlah muncul karya lain yang dapat memberikan manfaat lain. Dengan demikian terjadi bentukan afeksi baru dari kurang meng­hargai menjadi menghargai barang bekas atau barang yang tampak tidak berguna. Afeksi tersebut ditindaklanjuti dengan bentukan konasi baru, yang mengubah perilaku lama yang kurang peduli menjadi perilaku baru untuk merawat barang secara lebih seksama. Bertolak dari kesadaran dan perilaku baru tersebut diiringi oleh rasa “penasaran” untuk mencari tahu, mereka-reka sebuah karya dalam upaya memanfaatkan barang bekas/tidak berguna yang ditemukan, sampailah pada sebuah kreasi baru. Dan kreasi baru tersebut memberikan impuls positif untuk mengembangkan pemikiran baru dari aksentuasi kognisi baru.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: