Mid membuat elektronik arsip

1. Atas ijin dari mas trisna, maka file dapat di-download di file ini http://www.4shared.com/file/XypjDihaba/E-Arsip.html

2. Untuk file naskah e arsip yang ada dibuku kuning, mohon maaf belum bisa saya upload karena sekarang sudah menjadi buku, jadi tulisan tersebut sebagian besar sudah ada di penerbit. Jadi, sebagai penghormatan tidak saya sebar. Namun, yang jika ingin mengetahui cara dan langkahnya, ada pada modul kakak kelas (Insaalloh mereka mempunyainya, jika tidak ada di mejaku).

3. Berikut modul yang sudah menjadi buku https://agungbae123.wordpress.com/2013/11/06/modul-elektronik-arsip-e-arsip-berbasis-ms-access/

4. Untuk file yang hasil dari buku dan contoh kakak kelas tidak saya upload karena jika saya meng-up load, artinya tugas mid tersebut selesai, karena semua jawaban ada di situ. (Tidak ada proses keingintahuan untuk mengetahui identitas organisasi).

Demikian dari saya, terima kasih. Ingat, di dalam kesususahan terbesit kesuksesan yang diimpikan. Sukses selalu.

Iklan

KOMUNIKASI TAK BERMAKNA

Tulisan ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada orang tua penulis, yang telah mendidik dengan penuh cinta. Dikatakan cinta, karena bertentangan dengan akal dan hati. Kadang keinginan saya sebagai anak bertentangan dengan pemikiran orang tua, tetapi sesuai dengan kata hati saya. Seperti itulah gambaran cinta orang tua pada anak.

Orang tua (Ibu) adalah guru pertama di dunia, sebelum mengenal sekolah. Ibu harus menyiapkan model mendidik anak yang tepat. Mengingat, perubahan dan perkembangan teknologi dan informasi yang cepat.

Orang tua baru menyadari kesalahannya setelah anaknya terlibat perbuatan negatif, seperti pergaulan bebas, penggunaan obat terlarang, tawuran, dan lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan anak terjerumus pada perbuatan negatif. Salah satunya adalah lemahnya komunikasi orang tua terhadap anak.

Crutchfield dan Ballachey (1992:6) menyebutkan bahwa communication is the interchange of meaning among people.Artinya, komunikasi adalah pertukaran makna di antara orang-orang. Saat berkomunikasi dengan anak, sesungguhnya kita sedang melakukan pertukaran makna. Artinya, kita berusaha menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan hati dengan menggunakan bahasa sebagai simbol yang bisa dipahami oleh anak-anak. Sehingga, diharapkan apa yang disampaikan melalui bahasa itu bisa dipahami oleh mereka. Oleh karena itu, Wood dalam Amiruddin (2011) menegaskan bahwa meaning is the heart of communication. Artinya, pemaknaan adalah jantung atau inti dari komunikasi. Komunikasi dianggap berhasil atau efektif apabila orang yang diajak berkomunikasi memahami makna apa yang kita inginkan.

Mungkin kita banyak bicara pada anak, tetapi jika mereka tidak bisa menangkap makna yang diinginkankan, komunikasi itu dianggap gagal. Banyak orangtua yang mengatakan pada anaknya, “Mama udah sering bicara, tapi kok kamu nggak ngertijuga, ya?”

Kalau ada kasus semacam ini, orangtua jangan dulu menyalahkan anaknya, tetapi harus melakukan introspeksi. Mengapa anaknya sampai tidak mengerti? Boleh jadi, ketidakmampuan anak memahami makna yang disampaikan akibat dari ketidakmampuan orangtua berkomunikasi secara efektif.

Orangtua harus berusaha melatih kemampuan berkomunikasi dengan anak. Alasannya, kegagalan dalam komunikasi akan melahirkan dampak buruk, baik secara individu maupun sosial. Secara individual, kegagalan tersebut akan menimbulkan frustasi, demoralisasi, alienasi, dan penyakit-penyakit jiwa lainnya. Banyak kasus anak menjadi pembangkang, pemberontak, melakukan hal­-hal yang bertentangan dengan agama dan kesopanan, misalnya terlibat tawuran, mabuk-mabukan, bahkan narkoba. Ternyata, hal itu disebabkan karena kegagalan komunikasi dengan orangtuanya. Anak-anak merasa frustasi karena sudah tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, akhirnya anak melakukan protes dalam bentuk perilaku yang membuat orangtuanya kecewa. Semakin kecewa orangtua dengan kelakuan tersebut, mereka semakin tahu bahwa usahanya berhasil. Inilah bahaya apabila orangtua dan anak mengalami kegagalan dalam komunikasi.

Secara sosial, kegagalan komunikasi akan menghambat paling pengertian, kerja sama, dan toleransi. Akhir-akhir ini kita membaca berita di koran dan majalah serta menyaksikan berita di televisi mengenai kekerasan yang dilakukan satu kelompok orang terhadap kelompok lainnya. Mengapa hal itu terjadi? Salah satu penyebabnya karena mengalami kegagalan dalam berkomunikasi.

Suami dan istri yang gagal membangun komunikasi, secara sosial sangat mungkin akan mengalami perceraian. Saat pihak manajemen dan karyawan mengalami kegagalan komunikasi sangat mungkin akan menghambat kinerja. jangan sepelekan komunikasi karena akan menjadi penyebab dampak buruk secara sosial.

Mengingat peranan komunikasi yang begitu strategis dan penting dalam membangun relasi individual dan sosial yang sehat, cukup logis apabila fenomena komunikasi dibahas cukup rinci dalam Al-Quran. Al-Quran membahas komunikasi dengan istilah qaulan yang artinya pembicaraan atau perkataan. Paling tidak ditemukan tujuh fenomena qaulan dalam Al-Quran, yaitu qaulan sadida, qaulan baligha, qaulan ma’rufan, qaulan kariman, qaulan layyinan, dan qaulan maysuura.

Qaulan sadidaartinya perkataan yang benar. Qaulan sadidamempunyai dua aspek, pertama aspek isi. Artinya, saat berbicara kepada anak, isi pembicaraannya harus benar menurut kaidah ilmu, jangan asal bicara, pikirkan dengan matang isi pembicaraan tersebut. Kalau anak bertanya, orangtua jangan asal menjawab, sebab bisa jadi jawaban kita itu salah menurut kaidah ilmu.

Misalnya, “Mama, kenapa ikan kok matanya nggakberkedip padahal ia ada di air?” Ibunya menjawab, “Emang maunya gitu, kamu yang gitu ajaditanyakan!” Ini adalah contoh jawaban yang asal-asalan dan tidak benar menurut kaidah ilmu.

Kalaupun orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak, lebih baik berterus terang sambil memuji pertanyaan itu. Katakan saja, “Aduh sayang, pertanyaan kamu hebat sampai Mama nggakbisa jawab. Nanti kita tanya, ya sama ibu guru atau kita cari jawabannya di buku.” jawaban seperti ini adalah qaulan sadida(ucapan benar).

Kedua adalah aspek cara. Artinya, saat menyampaikan pesan caranya harus benar. jangan memojokkan anak, jangan menghinakan, jangan membunuh semangatnya. Misalnya, pulang sekolah anak melaporkan jika ia mendapatkan nilai lima untuk pelajaran Matematika. Mendengar berita itu, ada dua cara bicara. Ada orangtua yang bicara seperti ini, “Kamu bodoh, ya. Masa dapet lima, sih? Memalukan! padahal, kamu kan belajar abis-abisan?”

Inilah orangtua yang tidak qaulan sadida karena pembicaraan­nya menghinakan anak dan membunuh semangatnya. Akan tetapi, ada juga orangtua yang bicara begini, “Mama lihat kamu udah belajar sungguh-sungguh. Insya Allah kalau kamu terus belajar, Mama yakin kamu bisa dapet yang lebih bagus lagi!” Inilah ucapan orangtua yang qaulan sadidakarena mereka menghargai usaha anak dan memberi penghargaan serta motivasi untuk lebih baik lagi.

Qaulan balighaartinya perkataan yang berbekas pada jiwa. Agar ucapan berbekas pada jiwa anak, kita harus memahami psikis atau kejiwaan anak. Orangtua yang baik pasti mengetahui karakter anak-anaknya. Orangtua tidak bisa menilai karakter semua anak sama. Setiap anak memiliki karakter masing-masing. Misalnya, anak pertama boleh jadi lebih terbuka, ia bisa mendiskusikan apa pun kepada orangtuanya. Sementara, anak kedua bisa jadi lebih tertutup. Ia tidak mau bicara kepada orangtuanya, ia mungkin lebih suka curhat kepada kakaknya.

Perkataan orangtua akan bisa menyentuh emosi atau perasaan anak apabila mereka memahami karakter anaknya. Inilah tugas penting orangtua untuk memahami setiap perkembangan fisik dan psikis anak sehingga kita bisa bicara secara qaulan baligha.

Kalau anak sudah terlihat bosan dengan pembicaraan kita, sebaiknya hentikan saja nasihat itu karena mereka tidak akan lagi tersentuh jiwanya. Mereka malah bosan mendengarnya. Jangan terlalu sering bercerita tentang masa lain karena belum tentu menyentuh jiwa anak.

Banyak orangtua yang bercerita tentang masa lalunya, “Dulu, waktu SMP seperti kamu, kalau ke sekolah Mama jalan kaki 3 km, tapi Mama nggak pernah bolos. Kamu tiap hari diantar jemput masih aja malas ke sekolah. Mama nggak ngerti.”

Celakanya, cerita itu diulang-ulang dengan niat bisa menyentuh jiwa anak. Percayalah, cerita seperti ini malah akan menimbulkan kebosanan pada mereka. Anak sama sekali tidak akan tersentuh. Tentu saja bukan tidak boleh bercerita, tetapi jangan mengulang-ngulang cerita yang sama. Satu kali cerita saja anak sudah hafal alurnya. Ini diulang-ulang lebih dari tiga kali, pasti anak akan bosan. Ingat, cerita membosankan itu tidak akan menyentuh jiwanya.

Qaulan ma’ruufanadalah perkataan yang baik. Perkataan yang baik yaitu perkataan yang penuh dengan penghargaan, menyenangkan, dan tidak menistakan. Apabila kita menemukan kesalahan dalam perilaku atau omongan anak, tegurlah dengan tetap menjaga kehormatan anak, jangan dinistakan di depan orang banyak. Sungguh menyedihkan kalau masih ada orangtua yang kalau menegur anaknya justru di depan teman-temannya.

Ada seorang ibu berkata begini di depan ibu-ibu lainnya, “Anak saya itu jarang gosok gigi, susah bangetkalau disuruh menggosok gigi. Coba lihat tuh giginya kuning, kan?” Inilah contoh orangtua yang tidak qaulan ma’ruufapada anaknya karena ia menistakan anaknya itu di depan orang banyak.

Qaulan ma’ruufanbisa dilakukan dengan good character.Artinya, orangtua menjunjung musyawarah, menjaga nilai-nilai keadilan, tidak menistakan, menjaga sportivitas, memberi apresiasi apabila anak berprestasi, tidak membanding-bandingkan karena kalau kita suka membandingkan berarti kita telah menghinakan anak.

Qaulan kariimanartinya perkataan yang mulia. Yaitu, perkataan yang memberi motivasi, yang menumbuhkan kepercayaan diri, perkataan yang membuat anak bisa menemukan potensi dirinya. Misalnya, ada anak yang mengeluh pada orangtuanya karena nilai fisikanya selalu jelek. Ayahnya mengatakan, “Waktu SMP, nilai fisika ayah juga selalu jelek. Tetapi, sekarang ayah malah jadi guru besar fisika. Ayah yakin kamu bukan bodoh, tapi belum menemukan teknik belajarnya.”

Ini adalah contoh ucapan yang qaulan kariiman, ucapan mulia yang penuh dengan motivasi. Ada juga orangtua yang berkomentar, “Emang kamu nggak ada bakat di fisika, sampai kapan pun pasti jelek nilainya.” Inilah contoh ucapan yang tidak qaulan kariimankarena membunuh semangat dan karakter anak.

Qaulan layyinanyaitu perkataan yang lemah lembut. Ucapan yang lembut mencerminkan cinta dan kasih saying, sementara ucapan kasar mencerminkan kemarahan dan kebencian. Islam mengajarkan agar perkataan kita itu layyin alias lembut, penuh cinta dan perhatian.

Dalam riwayat Imam Ahmad diungkapkan bahwa Rasulullah Saw. bertemu dengan seorang sahabat yang sangat melarat. Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa kamu mengalami kesengsaraan seperti ini?” Sahabat itu menjawab, Ya Rasulullah, saya mengalami kemelaratan ini karena saya selalu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepadaku kemelaratan di dunia sehingga dengan kemelaratan itu aku bisa bahagia di surga.”

Mendengar jawaban ini, Rasulullah bersabda, “Inginkah aku tunjukkan doa yang paling baik? Alangkah baiknya kalau kamu berdoa, ‘Rabbanaa aatina fid dunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannar(Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat serta jauhkan kami dari azab neraka).”‘

Coba perhatikan kasus tersebut. Doa yang diucapkan sahabat itu salah. Ia minta melarat di dunia karena mengharapkan kebahagiaan di akhirat. Akan tetapi, Nabi tidak memarahinya, tetapi beliau menunjukkan dengan penuh kelembutan doa yang terbaik. Hikmah yang bisa diambil adalah dalam berkomunikasi dengan anak, apabila mereka melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan, apalagi menggunakan bahasa yang kasar. Gunakanlah bahasa yang lembut, penuh cinta, dan hikmah. Inilah yang disebut qaulan layyinan,ucapan yang lembut.

Qaulan maysuuraartinya perkataan yang mudah. Maksudnya, ucapan yang mudah dicerna, tidak berbelit-belit. Bisa juga bermakna ucapan yang membuat anak merasa mudah untuk melaksanakan apa yang kita katakan. Misalnya, ada seorang anak yang mengeluh bahwa belajar bahasa Inggris itu susah.

Ada dua komentar terhadap pernyataan anak ini. Ada orangtua yang berkomentar, “Teman Mama sekarang sekolah di Amerika, padahal dulu nilai bahasa Ingrisnya jelek. Tapi, ia tekun, maka sesulit apa pun pelajaran, kalau kita tekun insya Allah jadi biasa dan akhirnya bisa.” Inilah contoh ucapan yang maysuura,ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa mudah dan ringan.

Tetapi, ada juga orangtua yang berkomentar begini, “Emang Nak, kalau nggak cerdas, belajar sekeras apa pun tetap aja bodoh!” Inilah contoh ucapan yang tidak maysuurakarena ucapannya membuat anak menjadi semakin merasa sulit, bahkan menjadi putus asa.

Itulah isyarat-isyarat komunikasi yang ada dalam Al-Quran. Sungguh kemampuan berkomunikasi menjadi kunci penting dalam pendidikan anak. Apa yang dijelaskan dalam Al-Quran kalau kita amalkan dengan segala kesungguhan insya Allah akan membuahkan hasil yang menyenangkan. Inilah saatnya kita sebagai orangtua untuk melatih kemampuan komunikasi dengan anak­-anak agar lebih baik. Semoga dengan ikhtiar yang tiada henti, anak-anak kita akan merasakan kearifan komunikasi orangtuanya (Amiruddin, 2011:32-37).

Menurut model komunikasi Laswell dalam Effendi (2006) menyebutkan, bahwa komunikasi harus memiliki persepsi yang sama. Jika komunikasi antara orang tua tidak mencapai persepsi yang sama, maka dapat dikatakan komunikasi itu gagal atau tidak bermakna, sehingga menimbulkan miss comunicaations di antara keduanya, seperti takut, berontak, menolak, membangkang, atau lainnya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan model berikut :

maaf gambar Model Komunikasi Orangtua dengan Anak tidka bisa muncul

Orang tua sebagai sender (pengirim pesan) kepada receiver (anak) melalui media (HP) untuk melarang keluar rumah (pesan). Hal tersebut merupakan bentuk komunikasi, namun tidak bermakna, karena anak meresponnya dengan rasa takut, sehingga tidak bisa dikatakan memiliki satu persepsi, karena anak tidak memiliki perasaan happy. Jika anak merasa nyaman dengan pesannya, maka dapat dikatakan bermakna, karena dia akan melaksanakan perintahnya dengan senang hati dan tanpa ada keterpaksaan.

 

Trik Komunikasi Anak

Untuk mengatasi noise (gangguan) komunikasi tersebut, ada beberapa trik yang dapat membuat orangtua seperti sahabat bagi anak-anaknya. Pertama, membangun komunikasi yang aman bagi anak. Jangan sampai anak menjadi horor melihat orangtuanya. Seperti kita, anak pun tidak enak, sedih jika dicela. Mereka adalah anak-anak yang belum tahu mana yang sesungguhnya harus ia lakukan. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, pengarahan dari orangtuanya.

Kedua, ciptakan komunikasi membangun dengan anak. Artinya, ketika anak mendapat masalah, misalnya nilainya kurang bagus, jangan langsung dimarahi, anak bisa stress duluan. Sebaiknya, kita bisa menceritakan tentang kondisi kita dahulu yang nilainya juga pernah jelek, tapi kemudian bersungguh-sungguh belajar, hingga bisa juara kelas. Tentu, hal iti lebih positif dan memotivasi, anak untuk berupaya memperbaiki diri. Kita juga jangan segan memuji prestasi anak, tentu dalam batas yang proporsional.

Ketiga, cobalah bangun komunikasi dua arah dengan anak. Orangtua harus berani meminta pendapat, nasehat dari anak untuk setiap masalah yang terjadi dalam keluarga, upayakan diselesaikan dengan musyawarah. Semua anggota keluarga, termasuk anak bebas mengeluarkan opininya. Sehingga, anak merasa memiliki peran dalam kehidupan dirumah. Ia akan merasa dihargai. Menjadi sebuah hal yang penting bagi kita, setiap orangtua untuk membangun komunikasi harmonis dengan anak. Kadang kita bisa belajar dari anak, karena mereka masih mempunyai kebersihan hati. Mudah-­mudahan kita senantiasa dimampukan untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak­-anak kita. Amiin.

 

Daftar Pustaka:

Amiruddin, A. 2011. Golden Parenting: Sudahkah Kudidik Anakku dengan Benar?. Bandung: Khazanah Intelektual.

 

Crutchfield dan Ballachey. 1997. Perceiving The World: The Process and Effects of Mass Communication, Urbana: University of Illionis Press.

 

Effendi, O.C. 2006. Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung: Penerbit Rosda Karya.

Gymnastiar, A. 2013. Komunikasi dengan Anak. Semarang: Buletin Sakinah Edisi 397/th V/2013

Biodata Penulis

Nama Lengkap            : Agung Kuswantoro

Nama Akun Fb           : https://www.facebook.com/agung.kuswantoro

Tempat tanggal lahir   : Pemalang, 7 November 1982

Jurusan/ Fakultas         : Pendidikan Ekonomi/ Fakultas Ekonomi

Kampus                       : Universitas Negeri Semarang

Alamat Lengkap         : Perum Sekarwangi Blok I Nomor 10, Jalan Pete Raya Selatan, Sekaran, RT 02/ RW 01, Gunungpati, Semarang, 50029

Nomor HP                   : 08179599354

Email                           : agungbinmadik@gmail.com

 

Tahun Baru : Perjalanan Menuju Akad

Tahun baru masehi, kebanyakan orang merayakannya dengan kembang api dan meniup terompet di alun-alun, lapangan, jalan protokol, dan lainnya. Ada juga yang merayakannya dengan shopping di mall, mendaki gunung, menyelem di laut, berlibur bersama keluarga di taman rekresi, dan kegiatan lainnya.
Kondisi tersebut, berbeda dengan apa yang saya alami pada malam pergantian tahun. Saya merayakannya dengan menikmati perjalanan panjang selama delapan jam, yaitu dari Pemalang menuju Rembang. Pemalang adalah tempat saya dilahirkan dan orang tua saya tinggal. Rembang adalah tempat istri dilahirkan. Semarang adalah kota saya dan istri mencari rizki. Dapat dikatakan, perjalanan dari ujung ke ujung. Pemalang ada di ujung Barat dan Rembang ada di ujung Timur.
Perjalanan itulah yang berasa nikmat, karena penuh dengan kejadian yang tak terduga, seperti mesin mobil rusak, salah mengambil jalur jalan, gerimis, saksi pihak lelaki datang terlambat dan lainnya.
31 Desember 2012, posisi saya masih berada di Semarang, karena masih ada tugas di kantor (Fakultas Ekonomi, Unnes) yaitu kegiatan refleksi akhir tahun dan menyelesaikan ujian semester Pascasarjana (PPs). Saya berusaha agar menyelesaikan semua pekerjaan kantor dan tugas ujian kuliah sebelum akad nikah.
Alhamdulillah atas ijin Alloh SWT, semua dapat terselesaikan pada pukul 17.00 WIB. Sebelum saya meninggalkan kota Atlas (julukan kota Semarang), saya mohon doa pada rekan kantor, kuliah, dan teman kos-kosan untuk kelancaran acara pernikahan saya di Rembang.
Saat saya mohon doa restu kepada mereka, yang terjadi malah terkejut, karena mereka baru mendengarkan kabar gembira tersebut. Mereka menganggap permohonan doa saya adalah guyonan (bercanda). Kata mereka, kapan Agung dekat seorang wanita? Dengan siapa Agung akan menikah? Dapat orang mana? Apa betul menikah di akhir tahun? Dan pertanyaan lainnya.
Anggapan mereka, bahwa saya jarang terlihat di kantor dengan seorang wanita, sedang kuliah, tidak ada tanda-tanda untuk menikah seperti pesan undangan, meng-list teman yang akan diundang, fitting baju, memesan tempat resepsi atau gedung, membeli barang seserahan (hantaran), dan lainnya.
Saya menanggapinya penilain mereka dengan santai saja, karena penilaian-penilain mereka, sebagaimana di atas, sebagian besar sesuai dengan kondisi saya. Saya berpendapat, jika menikah yang direncanakan, maka akan berproses seperti penilaian mereka.
Dalam hati dan pikiran saya, tidaklah demikian. Pengatur hidup terbaik adalah Alloh SWT SWT. Dia, Sang Sutradara the best of best di dunia dan akhirat. Skenario manusia saat menikah itu runtut, mulai dari baju, tempat, waktu, penyajian makan, mobil resepsi, menentukan orang untuk menjadi penerima tamu, pengatur pengajian, acara syukuran, bulan madu, dan lainnya.
Alloh SWT pasti sayang pada hamba. Dia tidak pernah mengecewakan hidup yang telah ditentukan. Dia mengetahui pilihan terbaik untuknya, termasuk waktu pernikahan. Di situlah campur tangan Alloh SWT, saya begitu merasakan. Perencanaan yang sistematis saya dapat melalui dengan cepat, sampai orang mengetahui saya akan menikah di saat sehari sebelumnya, sehingga banyak orang yang terkejut dengan pemberitahuan, bahwa saya akan menikah.
Moment yang tidak terbiasa bagi mereka, menjadikan saya untuk memperbanyak doa, bahwa menikah adalah ibadah. Ibadah itu mudah, tetapi tidak mempermudahnya. Bekal itulah yang menjadi semangat saya, sehingga saya harus membuktikannya kepada mereka.
Satu per satu, mereka mendoakan akan pernikahan saya, mulai dari pimpinan hingga bawahan. Saya memisahkan acara akad dan resepsi ngunduh mantu. Acara akad berlangsung di Rembang, 1 Januari 2012 dan ngunduh mantu di Pemalang, 25 Februari 2012. Jadi saya mengundang mereka di Pemalang.
Tepat pukul 18.00 WIB saya sampai di Kalibanteng (nama tempat) menunggu Bis untuk pulang ke Pemalang, karena orang tua dan keluarga berharap berangkat bersama dari Pemalang, meskipun Semarang nanti saya akan melewatinya.
Perjalanan dari kantor menuju ke Kalibanteng menggunakan sepeda motor diantar oleh teman saya bernama Saeroji. Menunggu bis tidak kunjung tiba, saya memutuskan mencari Alloh SWT dengan solat magrib di daerah sekitar.
Alhamdulillah, saya dan Saeroji menemukan musolla. Tidak ada yang aneh saat saya solat, tetapi melihat kondisi yang sepi di solat magrib menjadi tanda tanya dalam hati saya. Biasaya solat jamaah magrib di musolla itu ramai, tetapi di musolla ini sepi. Setelah saya perhatikan, musolla itu terletak di gapura yang menuju lokalisasi di Semarang. Jadi, wajar jamaah-nya sedikit, bahkan setelah solat, saya melihat seorang perempuan yang berpakaian tidak santun ada di lingkungan tersebut.
Setelah saya solat, saya kembali ke halte untuk menanti bis. Alhamdulillah, atas ijin Alloh SWT, saya mendapatkan bis. Saya langsung naik bis. Ternyata di dalam bis, penuh dengan penumpang. Tidak ada satu pun kursi yang kosong, sehingga saya berdiri. Saya berdiri selama satu jam setengah. Dalam hati saya mengatakan, menikah butuh perjuangan besar. Bayangkan, besok akad (1/1/2012) jam 09.00 WIB. Malamnya (31/12/2011), jam 20.00 WIB saya masih dalam perjalanan pulang Pemalang. Itu pun belum istirahat, menyiapkan baju, makanan, dan perlengkapan lainnya. Hanya satu yang saya persiapkan yaitu hati.
Hati sebagai satu-satunya persiapan yang harus saya jaga konsistensinya. Konsistensinya saya juga dengan cara berdikir dalam keadaan apa pun, seperti menginformasikan kepada teman akan akad nikah, naik sepeda motor, menanti dan berdiri bis, dan keadaan lainnya. Bagi saya dikir itu menghadirkan Alloh SWT.
Pukul 20.30 WIB saya tiba di Pemalang. Rencana pemberangkatan ke Rembang jam 22.00 WIB. Jadi saya istirahat dan menyiapkan hanya satu jam setengah. Tepat jam 21.30 WIB, saya dan keluarga panik, karena Pak dhe Madhun yang bertindak sebagai saksi belum sampai di rumah saya, sebagai tempat pemberangkatan. Kami mencoba menelponnya, bahwa keberadaan beliau kejebak macet keramaian tahun baru di alun-alun kota Pemalang, sehingga kedatangannya terlambat. Mengingat pentingnya peran beliau sebagai saksi, meskipun aktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, maka kami menunggunya. Jika kami menjemputnya, maka kami juga belum tentu akan menemukan beliau, yang kondisinya sangat ramai, sehingga kami menunggunya.
Pukul 22.15 WIB, Pak Dhe Madhun datang. Artinya pemberangkatan di mulai. Mas Eko melantunkan adzan, kami semua mendengarkan dan menjawabnya, hingga selesai. Beliau mengakhiri dengan iqomah.
Perjalanan menuju Pemalang hingga Pekalongan lancar, sembari menikmati ramainya orang merayakan tahun baru. Kejadian yang tidak terduga muncul, saat kami Batang, salah satu mobil rombongan bermasalah, sehingga yang menumpangi mobil tersebut dipindahkan ke mobil rombongan lainnya. Mobil yang bermasalah ditinggal di Batang dengan ditunggu oleh sopir dan Om Wiwit.
Pukul 00.00 atau 24.00 WIB, kami sampai Semarang. Rombongan berhenti sejenak, melepas lelah, sambil menikmati pemandangan bintang bercampur kembang api, mendengar suara dor dor dor yang keras, angin yang semilir, dan merasakan minuman hangat, kami bersyukur atas karunianya di tahun baru yang berkah.
Pukul 04.00 WIB (1/1/2012), Kami sampai di masjid Agung Rembang, sebagai tempat solat dan istirahat, sebelum ke rumah mempelai wanita. Kami membersihkan diri dengan wudlu dan berganti pakaian yang lebih rapi dan bersih. Saat itu gerimis, sehingga kami semua dingin dengan keadaan tersebut, terlebih setelah perjalanan malam.
Pukul 06.00 WIB, kami menuju rumah mempelai wanita di Sulang, Rembang. Perjalanan 35 menit dari kota Rembang. Dengan diiringi gerimis dan dikir, saya menenangkan diri, karena akan ada perubahan dalam diri yang besar yaitu menjadi suami.
Pukul 08.30 WIB, kami menuju ke masjid untuk akad, demikian juga rombongan istri ke masjid. Sebelumnya, kami transit di rumah Mba Dede agar kami menyiapkan semuanya. Setelah nyampe masjid, saya berusaha mencari tempat wudlu. Entah apa, kondisi waktu itu, saya susah menemukan tempat wudlu. Saya bermaksud untuk solat tahyatul masjid, namun karena saya tidak menemukannya, saya sendiri tidak mengetahui tata letak masjid dan saya baru mengetahui masjid itu, terlebih saat itu sedang di renovasi. Akhirnya, saya berdiam diri di masjid dan berdikir, sembari menunggu pemulu nikah dan keluarga istri datang.
Tepat pukul 09.00 WIB, pemulu datang dan mengecek administrasi saya dan istri. Saat akad, saya dan istri terpisah, istri berada di rumah pengurus masjid, jadi saya tidak melihatnya. Saya sangat senang dengan suasananya, di mana orang yang menyaksikan akad berpenampilan layaknya orang seperti solat idul fitri, yaitu memakai pakaian yang terhormat, tidak ada orang yang memakai pakaian yang terbuka aurot-nya, bagi yang muslim bersarung dan berpeci, bagi yang perempuan berjilbab dan berkerudung, adanya qiroah sebelum akad, dan nuansa islam lainnya.
Sejak dulu saya menginginkan akad nikah berada di masjid, karena masjid adalah tempat beribadah. Jika tempatnya sudah suci, maka orang yang datang juga menyesuaikan. Orang yang datang ketika masuk masjid, pakaian dan tingkah lakunya harus menyesuaikan. Seorang perempuan yang akan menyaksikan atau menghadiri akad nikahnya secara tidak langsung berpakaian muslimah, minimal berkerudung. Demikian juga tutur katanya, tidak mungkin dia akan berkata yang tidak sopan, apalagi berkata dengan nada yang keras. Selain itu, ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan. Tidak bercampur antara keduanya.
Jika keadaan sudah terkondisi dengan cara Illahiyah, maka malaikat-pun turun untuk mendoakan kelancaran akad. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam akad nikah, banyak turun syaitan untuk menggoda, sehingga kita sering mendengarkan kesalahan atau ketidaklancaran dalam akad.
Meskipun background keluarga dan lingkungan istri dalam masalah agama sangat kuat, dalam akad saya tetap menggunakan bahasa Indonesia, karena saya ingin orang yang menyaksikan merasakannya, termasuk keluarga saya yang tidak mengerti bahasa Arab. Memang sunah-nya memakai bahasa Arab, namun dalam hal ini, saya tidak egois untuk mempraktekan itu.
Saya me-lafal-kannya tiap kata dengan pelan. Setiap lafal saya memaknainya, sehingga apa yang diucapkan, masuk ke hati, dan berusaha mempraktekkannya. Oleh karenanya, selain ucapan lisan yang terdengan, air mata juga mengiringi dalam pengucapan sighot akad.
“Saya terima”, artinya bukan orang lain atau orang tua yang menerima nikah atau kawinnya, tetapi saya atau calon suami. Artinya, tanggung jawab istri dan anak kelak ada pada suami setelah akad, sehingga sangat tidak tepat jika ada orang menikah, tetapi orang tua masih mengurusi kelurga anaknya yang telah menikah.
Logikanya, ketika orang memutuskan menikah, maka dia sudah baligh, fisik, akal, dan perasaannya. Jika baligh fisik, Insya Alloh semua orang bisa nikah, tapi baligh akal dan perasaan belum tentu. Itu semua membutuhkan proses.
“Nikah dan kawinnya”, bukan “nikah atau kawinnya”. Secara bahasa memiliki perbedaan. Nikah cenderung pada legalitas hukum di mata Tuhan, sedangkan kawin cenderung pada belum sahnya hubungan antara laki-laki dan wanita, sehingga ada istilah “sudah kawin, tapi belum nikah”.
Benar juga kalimat tersebut, bahkan banyak di kalangan kita, saya juga menyadari hal itu. Istilah kawin cenderung dimaknai hubungan suami istri, sebagaimana istilah kawin di biologi, maka saya lebih suka dengan bahasa nikah. Tetapi untuk akad nikah tetap dengan dua istilah tersebut.
Kata “fulan bin fulan” memiliki arti bahwa kita harus mengetahui nama lengkap calon istri dan orang tuanya beserta maknanya.
Kata “mahar” memiliki arti simbol atau sesuatu yang akan diberikan kepada calon istri. Dalam bahasa indonesia mahar diistilahkan dengan emas kawin.
Kata dibayar “tunai”, memiliki arti pembayaran mahar secara tunai atau kredit. Menurut saya, lebih baik dibayar tunai. Jika dibayar cicil atau hutang, meskipun diperbolehkan dalam agama, maka menjadi beban, meskipun dengan mahar yang memiliki nominal besar. Masa kita akan hutang dengan orang yang akan tidur dengan orang yang seranjang dengan kita, terlebih orang itu selalu ada dalam hidup kita.
Lafal dan pemaknaan seperti itu yang saya artikan. Hal ini saya lakukan agar menyakinkan pada diri dan orang lain bahwa nikah adalah ibadah. Ibadah tidak membutuhkan uang, harta, materi, atau benda yang banyak.
Tidak mudah orang memutuskan untuk menikah, baik seorang laki-laki atau perempuan. Keputusan untuk menikah ada antara keduanya. Tidak bisa keputusan ada di salah satu pihak, karena menikah merupakan pertemuan antara diantara kedua, yang dilandasi rasa keimanan kepada Alloh SWT.
Setelah akad selesai, kemudian langsung doa yang dipimpin oleh Kiai Khozin. Beliau pun berdoa dengan khusuk hingga meneteskan air mata. Saya pun meneteskan air mata, mengingat  kesalahan-kesalahan pada orang tua, kerabat, atau teman. Saya menyebutnya “air mata sedap”, air mata yang terasa nikmat. Ibaratnya, jika orang makan yang lauknya mahal, tetapi belum tentu sedap. Demikian juga air mata yang jatuh pada saat itu. Bukan air mata yang terasa biasa. Isi di dalamnya terasa senang, tenang, nyaman, lega dan syukur atas kelancaran semuanya.
Setelah doa selesai. Alhamdulillah tidak ada satupun orang yang bertepuk tangan, Saya didampingi oleh keluar menjemput istri di rumah samping masjid, sembari diiringi solawat nabi Muhammad SAW.
Acara selesai pukul 10.00 WIB, saya dan istri naik mobil innova new yang masih ada plastik di jok kursi, dalam hati bertanya sangat kaya keluarga istri saya. Ternyata, setelah tanya mobil pinjaman. Wah rejeki, mobil baru mengantarkan saya.
Bagi saya menikah itu seperti jodoh seperti rejeki. Saya mengenal istri tahun 2003 sebagai teman kuliah yang beda Fakultas dan hanya bertemu saat pengajian. Jarang komunikasinya hingga lulus (wisuda) ditahun 2006, bahkan tidak ada kontak setelah wisuda. Di sinilah letak Kun Faya Kun Alloh, jika Alloh SWT berkehendak, maka terjadilah.
Atas ijin-Nya kami dipertemukan di forum pada bulan Agustus 2012, kemudian komunikasi berlanjut hanya lewat HP. Saya mengatakan kepadanya, saya tidak akan pacaran, tetapi menikah. Saya berusaha mengenalkannya ke keluarga saya, sebaliknya dia bermusyarah dengan keluarganya.
Bulan November 2012, keluarga saya bersilaturahmi ke keluarga istri untuk meminangnya, kemudian memutuskan menikah pada tahun baru. Rencana, bukan pada tanggal 1 Januari 2012, tetapi karena misal dimajukan atau dimundurkan ternyata, saya dan istri tidak bisa, maka tanggal yang tepat adalah hari libur yaitu tahun baru masehi. Jadi saya dan keluarga datang ke Rembang dua kali, pertama yaitu meminang (khitbah) dan kedua yaitu melangsungkan akad. Selebihnya, tidak ada pertemuan di antara kedua keluarga.
Segala upaya yang saya lakukan untuk mendapatkan jodoh tidaklah mudah. Justru dengan dikir, solat sunah, sedekah, membaca al Qur’an dan puasa dawud dapat menghadirkan jodoh.
Kebanyakan orang mencari jodoh, tidak jalan seperti itu. Lebih mementingkan pikiran dan tenaga, sehingga saat pikiran dan tenaga itu berhenti, maka gagallah pernikahan itu. Dengan bekal keimanan, nikah cepat terwujud. Ada Alloh SWT yang membantunya. Dia yang menentukan pasangan terbaik kita, kapan dan di mana kita akan menjemputnya, Tugas kita hanyalah menyakini akan kebenarannya dan melaksanakannya dengan penuh harap serta doa pada-Nya. Semakin kita yakin, berdoa, beramal solih, dan berbuat baik kepada orang lain, maka semakin dibuka jodoh dan rejeki kita. Jika itu gagal, semata-mata Alloh SWT belum memberikan yang terbaiknya dan akan memberikan yang lebih baik. Jika kita berharap pada manusia, maka patah hati dan kecewa yang diperolehnya. (waallohu ‘alam bisshowab).
Agung Kuswantoro, pegiat mahasiswa mengaji dan forum sinau nulis, email agungbinmadik@gmail.com

DEMONSTRASI IDE

Ada yang menarik saat mengikuti pelantikan Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Unnes, tanggal 24 Februari 2014 di gedung C7. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa.

Lagu yang berjudul totalitas perjuangan dengan dan reff-nya yaitu wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan, demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta. Mendengar lirik tersebut, mengingatkan pada peristiwa tahun 1998, yakni reformasi yang dimotori oleh mahasiswa yang berhasil menduduki gedung DPR/ MPR RI.

Namun, seiring dengan perkembangan informasi dan komunikasi dalam menyampaikan aspirasi apakah harus dengan cara seperti lirik di atas? Ada dua model dalam aspirasi mahasiswa. Pertama, menulis gagasannya di media cetak atau elektronik, melului opini, artikel, rubrik akademia, forum, dan debat mahasiswa. Kedua, press release dengan mengundang media cetak atau elektronik untuk meliput aspirasi mahasiswa dan memberikan solusi permasalahannya.

Turun ke jalan, bukan satu-satunya sarana untuk menyampaikan ide bagi seorang mahasiswa. Intelektualitas pemikiran yang lebih diutamakan bagi seorang mahasiswa, bukan kekuatan fisik, karena dia adalah penerus bangsa yang dinamis. Oleh karenanya, dia harus memahami dirinya sendiri. Dikatakan mahasiswa, jika yang bersangkutan sedang belajar di Perguruan Tinggi mulai dari strata satu, dua, dan tiga.

Dia adalah cendekiawan dan pemimpin yang akan datang (leader of the future). Masyarakat menaruh harapannya kepada dia untuk memajukan bangsa. Posisi dia sangat penting dan strategis. Dikatakan penting, karena dia memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang lebih dibanding dengan kelompok lain. Dikatakan strategis, karena dia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dia bukan pemburu ijasah, melainkan pencipta gagasan yang disajikan secara sistematis sesuai dengan kaidah akademik. Dia tidak mengutamakan status, melainkan performance. Artinya, dia mengutamakan proses dalam pembelajaran sesuai dengan bidang dan keahliannya, tidak berburu gelar yang akan melekat pada namanya.

Dia tidak menghadiri dan memakai jas almamater di studio televisi saat acara talk show hiburan atau komedian. Dia seharusnya, ada di ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dia asyik dengan diskusi, seminar, workshop, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dia mencatat, memahami, dan mengawasi kebijakan pemerintah sesuai dengan pemikirannya berdasarkan teori yang diperoleh di kampus.

Dia memiliki kesempatan untuk meng-eksplor potensi diri dan kemampuannya di sebuah universitas. Mahasiswa dikatakan berhasil, bukan semata-mata rutinitas mengikuti perkuliahan saja, melainkan mampu melakukan aktivitas kemahasiswaan yang bagus pula, sehingga dia mengembangkan diri dan mengotimalkan potensinya sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Dengan cara itu, dia akan belajar kritis terhadap permasalahan di lingkungannya. Dia sibuk mencari solusi penyelesaian masalah yang ditemui sesuai dengan kemampuan bidang keahliannya. Dia mendiskusikan permasalahannya dengan teman atau dosen, kemudian menuliskan opininya di media cetak atau elektronik atau mengikuti PKM untuk berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan.

Kita mengenal Mark Zuckeberg sebagai penemu facebook. Dia tidak lulus di Harvard University Amerika, tetapi sukses menciptakan situs jejaring sosial yang kemudian mendunia. Ia telah melakukan pembelajaran yang mengutamakan proses, dibanding hasil. Ia berhasil mengembangkan prinsipnya yaitu keterbukaan, membantu menghubungkan orang dan berbagi segala hal mengenai informasi, sehingga menciptakan sistem tersebut. Sistem tersebut memberikan kemanfaatan kepada banyak orang.

Sudah saatnya, mahasiswa untuk demonstrasi idenya melalui karya yang bermanfaat untuk sesama. Unnes sebagai rumah ilmu, berharap muncul lampu-lampu yang bersinar di kegelapan. Mahasiswa sebagai agen of change harus mampu tanggap terhadap masalah lingkungannya. Melalui pemikiran mahasiswa, maka rumah itu menjadi terang. Semakin banyak pemikiran mahasiswa, maka semakin terang pula rumah tersebut.

Sungguh besar kekuatan mahasiswa. Sebagai penutup, penulis mengutip puisi dari Taufik Ismail, yaitu mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut pada menteri, menteri takut pada presiden, presiden takut pada mahasiswa. Mari, kita menggali potensi diri kita melalui gagasan dan karya untuk mewarnai bangsa di rumah ilmu, melalui lembaga kemahasiswaan, Badan Semi Otonom (BSO), dan organisasi kemahasiswaan lainnya.

Agung Kuswantoro, dosen dan pendamping karya tulis ilmiah mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi, Unnes

Harapan di Lembagaku

Di hari jadi Unnes yang keempat puluh sembilan, yang jatuh pada tanggal 31 Maret 2014, saya bersyukur pada lembaga tersebut yang telah mengajarkan dan mendidik saya selama sembilan tahun.

Kampus yang dulu tidak memiliki daya tarik, sekarang menjadi primadona di bangsa Indonesia, karena sebagai kampus LPTK yang mampu men-trasformer mahasiswa, dosen, untuk memberikan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Transformer, diartikan menjadikan mungkin dari yang tidak mungkin. Misalnya, kuota mahasiswa Bidikmisi yang sesuai dengan target 20%, sebagai penampung terbesar dari program pemerintah.

Saya yang memiliki pengalaman yang belum seberapa dibanding dengan senior, berharap untuk selalu menjadi bagian dari Unnes. Melalui tenaga dan pemikiran yang saya miliki, saya berbagi ilmu dan informasi kepada mahasiswa, guru, atau teman saya.

Saya berharap juga agar ditahun 2014, saya dapat diangkat menjadi pegawai tetap di Universitas peringkat ke-3 dalam jumlah terbanyak PKM yang diterima Dikti.

Selamat ulang tahun Unnes, semoga konservasi harmoni selalu ada dihati, meskipun terletak di Gunungpati.