DEMONSTRASI IDE

Ada yang menarik saat mengikuti pelantikan Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Unnes, tanggal 24 Februari 2014 di gedung C7. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa.

Lagu yang berjudul totalitas perjuangan dengan dan reff-nya yaitu wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan, demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta. Mendengar lirik tersebut, mengingatkan pada peristiwa tahun 1998, yakni reformasi yang dimotori oleh mahasiswa yang berhasil menduduki gedung DPR/ MPR RI.

Namun, seiring dengan perkembangan informasi dan komunikasi dalam menyampaikan aspirasi apakah harus dengan cara seperti lirik di atas? Ada dua model dalam aspirasi mahasiswa. Pertama, menulis gagasannya di media cetak atau elektronik, melului opini, artikel, rubrik akademia, forum, dan debat mahasiswa. Kedua, press release dengan mengundang media cetak atau elektronik untuk meliput aspirasi mahasiswa dan memberikan solusi permasalahannya.

Turun ke jalan, bukan satu-satunya sarana untuk menyampaikan ide bagi seorang mahasiswa. Intelektualitas pemikiran yang lebih diutamakan bagi seorang mahasiswa, bukan kekuatan fisik, karena dia adalah penerus bangsa yang dinamis. Oleh karenanya, dia harus memahami dirinya sendiri. Dikatakan mahasiswa, jika yang bersangkutan sedang belajar di Perguruan Tinggi mulai dari strata satu, dua, dan tiga.

Dia adalah cendekiawan dan pemimpin yang akan datang (leader of the future). Masyarakat menaruh harapannya kepada dia untuk memajukan bangsa. Posisi dia sangat penting dan strategis. Dikatakan penting, karena dia memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang lebih dibanding dengan kelompok lain. Dikatakan strategis, karena dia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dia bukan pemburu ijasah, melainkan pencipta gagasan yang disajikan secara sistematis sesuai dengan kaidah akademik. Dia tidak mengutamakan status, melainkan performance. Artinya, dia mengutamakan proses dalam pembelajaran sesuai dengan bidang dan keahliannya, tidak berburu gelar yang akan melekat pada namanya.

Dia tidak menghadiri dan memakai jas almamater di studio televisi saat acara talk show hiburan atau komedian. Dia seharusnya, ada di ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dia asyik dengan diskusi, seminar, workshop, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dia mencatat, memahami, dan mengawasi kebijakan pemerintah sesuai dengan pemikirannya berdasarkan teori yang diperoleh di kampus.

Dia memiliki kesempatan untuk meng-eksplor potensi diri dan kemampuannya di sebuah universitas. Mahasiswa dikatakan berhasil, bukan semata-mata rutinitas mengikuti perkuliahan saja, melainkan mampu melakukan aktivitas kemahasiswaan yang bagus pula, sehingga dia mengembangkan diri dan mengotimalkan potensinya sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Dengan cara itu, dia akan belajar kritis terhadap permasalahan di lingkungannya. Dia sibuk mencari solusi penyelesaian masalah yang ditemui sesuai dengan kemampuan bidang keahliannya. Dia mendiskusikan permasalahannya dengan teman atau dosen, kemudian menuliskan opininya di media cetak atau elektronik atau mengikuti PKM untuk berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan.

Kita mengenal Mark Zuckeberg sebagai penemu facebook. Dia tidak lulus di Harvard University Amerika, tetapi sukses menciptakan situs jejaring sosial yang kemudian mendunia. Ia telah melakukan pembelajaran yang mengutamakan proses, dibanding hasil. Ia berhasil mengembangkan prinsipnya yaitu keterbukaan, membantu menghubungkan orang dan berbagi segala hal mengenai informasi, sehingga menciptakan sistem tersebut. Sistem tersebut memberikan kemanfaatan kepada banyak orang.

Sudah saatnya, mahasiswa untuk demonstrasi idenya melalui karya yang bermanfaat untuk sesama. Unnes sebagai rumah ilmu, berharap muncul lampu-lampu yang bersinar di kegelapan. Mahasiswa sebagai agen of change harus mampu tanggap terhadap masalah lingkungannya. Melalui pemikiran mahasiswa, maka rumah itu menjadi terang. Semakin banyak pemikiran mahasiswa, maka semakin terang pula rumah tersebut.

Sungguh besar kekuatan mahasiswa. Sebagai penutup, penulis mengutip puisi dari Taufik Ismail, yaitu mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut pada menteri, menteri takut pada presiden, presiden takut pada mahasiswa. Mari, kita menggali potensi diri kita melalui gagasan dan karya untuk mewarnai bangsa di rumah ilmu, melalui lembaga kemahasiswaan, Badan Semi Otonom (BSO), dan organisasi kemahasiswaan lainnya.

Agung Kuswantoro, dosen dan pendamping karya tulis ilmiah mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi, Unnes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: