Madrasah Istiqlal (2)

Doa Mohon Diberi Tempat
Untuk yang pembelajaran hari ini, saya tidak bisa menceritakan tentang proses pembelajaran ngaji di rumah saya. Karena, saya berada di luar rumah untuk “meninabobokan” santri saya, alias anak saya “fathul mubin”.
Ini memang kendala saya, dalam mengelola kajian yang selama ini. Mengingat rumah saya, Alhamdulillah yang luasnya 73 meter, sehingga jika Mubin yang berumur 10 bulan mau tidur, maka dia harus ku”aman”kan dulu. Karena di dalam rumah untuk kajian. Demikian juga, dalam Mahasiswa Mengaji, karena kendala tempat, maka kajiannya outdoor, tepatnya di depan perpustakaan rektorat. Hal ini semata-mata barangkali Fathul mau istirahat.
Tulisan ini ku akhiri dengan doa
Ya Alloh yang tidak tidur,
Kau melihat sendiri,
Anakku tidur di luar bersamaku dipangkuanku
Semata-mata karena mengharap ridoMu
Biarlah rumahku menjadi rumahMu
Untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan
Yang Kau tulis di kitab
Ya Alloh, ijinkan saya dan keluargaku
Kemampuan dalam mengelola kajian ini
Saya berharap kelak menjadi yayasan
Yang penuh dengan kegiatan yang menyebut namaMu
Yang kami butuhkan saat ini adalah tempat
Untuk kajian dua itu
Yaitu mahasiswa mengaji dan madrasah istiqlal
Ya Alloh kabulkanlah doa tersebut
Untuk kemakmuran lingkunganku, Negara, dan bangsaku,,Amin

Ini foto kalisa saat pembelajaran tanggal 23 Juni 2014

Iklan

Madrasah Istiqlal (1)

Kegiatan Mengaji Anak di rumahku, tanggal 18 Juni 2014, waktu habis magrib, tema mengenal huruf hiyaiyah alif, ba, ta, dan tsa.
Mengajarkan ke anak tidaklah mudah. Ia sangat aktif. Tidak ada anak yang memiliki potensi. Oleh karenanya, dalam pembelajaran mengaji ini perlu strategi yang tepat, salah satunya bermain.
Permainan yang guru (istri) buat adalah membuaat kartu dengan warna moncolok (merah), kemudian ditulis huruf alif, ba, ta, dan tsa. Warna merah dimaksudkan agar siswa (kalisa) juga belajar warna. Kemudian guru mengenalkan karakter masing-masing huruf misal ta yaitu mempunyai dua bakso di atas garis, tsa yaitu membunyai tiga baksa di atas garis. Dalam menyebutkannya pun dengan cara bernyanyi.
Memang pembelajaran anak tidak harus dengan serius, sehingga polanya jika anak sudah bosan, maka bermain dengan lainnya. Namun masih sesuai dengan tema tadi.
Ini contoh pembelajarannya. Untuk anak saya, Mubin (baju kuning, Ia asyik belajar membaca. Karena Ia masa perkembangannya masih dalam taraf pada usiaanya yaitu tepuk tangan.
Biasanya ada satu santri lagi, namanya Mas Pamor. namun, karena ada keperluan, Ia ijin dulu tidak gabung pada hari itu.
Doakan teman-teman, mudah-mudahan ini embrio untuk jadi madrasah dan TK di lingkunganku bagi anak-anak. Untuk yang dewasa, silakan gabung di mahasiswa mengaji.
Demikian kisahku untuk hari ini

Hikmah Kepemimpinan Renovasi Kabah

Dulu, kota Mekah mengalami banjir bandang sehingga masjidil Haram (Kabah) mengalami kerusakan. Melihat keadaan tersebut, bangsa Quraisy sepakat untuk merenovasi Kabah. Pada awalnya, mereka masih takut merobohkan Kabah. Akhirnya, Al Walid bin Al Mughiroh Al Makzumy mengawali meroboh Kabah. Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al Walid, orang Quraisy pun mulai merobohkan Kabah.

Tidak ada permasalahan selama renovasi Kabah. Permasalahan muncul, saat tahap akhir renovasi, yaitu sosok yang meletakan hajar aswad. Perselisihan pendapat terjadi hingga lima hari, bahkan hampir menyebabkan pertumpahan darah antar qobilah (golongan).

Abu Umayyah, tokoh yang paling tua di bangsa Quraisy tampil meredam dalam perselisihan tersebut. Dia mengatakan, tugas peletakan Hajar Aswad harus diberikan kepada orang yang paling dulu masuk masjid melalui pintu Bani Syaibah. Orang Quraisy pun lalu menyetujuinya.

Atas kehendak Alloh, ternyata nabi Muhammad, orang yang pertama masuk masjid. Mengetahui hak tersebut, orang Quraisy pun sepakat yang membawa “batu mulia” tersebut adalah Beliau. Beliau membawa Hajar Aswad menggunakan sorban yang dibawa secara bersama-sama dengan masing-masing kobilah di sorbannya. Saat itu, usia beliau 35 tahun.

Nilai

Berdasarkan cerita di atas, dapat diambil beberapa nilai. Pertama, pemimpin tidak memikirkan golongannya. Beliau, meskipun dari bangsa Quraisy, namun tidak menunjukkan golongan dan kabilahnya. Beliau tidak tertekan dengan kepentingan golongannya. Hal ini terlihat dari cara Beliau dalam membawa Hajar Aswad melalui sorbannya, di mana perwakilan tiap kabilah memegang ujung sorbannya.

Kedua, pemimpin harus memberikan keteladanan. Dia mampu memberikan contoh kepada pengikutnya. Segala yang melekat pada dirinya mulai dari ucapan dan tindakan adalah panutan bagi orang lain. Perkataan dan tindakannya harus sejalan dengan pemikiran dan hati nuraninya, jangan sampai Ia pandai berkata, namun tindakannya tidak sesuai dengan perkataannya.

Keteladanan nabi Muhammad ditunjukkan dengan statement bangsa Quraisy saat mengetahui, bahwa Beliau orang yang pertama datang ke masjid, yaitu “Kami rela, karena Dialah orang yang dipercaya. Maknanya, orang menilai seorang Muhammad adalah orang mampu mengembang amanah dan masyarakat menyakini bahwa Beliau mampu melaksanakan kepercayaan kepentingan umat, sehingga Ia mendapat gelar al Amin (yang dipercaya) di usia yang masih tergolong muda. Gelar non akademis tersebut pun susah didapatkan. Bukan pemerintah yang memberi gelar tersebut, namun masyarakat yang menganugerahinya.

Ketiga, pentingnya sosok yang dihormati dalam suatu kelompok untuk meredam suatu perselisihan. Jika ada permasalahan di suatu kelompok, maka libatkan menyelesaikan suatu konflik. Peran Abu Umayyah sangat penting dalam kasus tersebut, karena beliau tokoh yang mampu meredam konflik. Bayangkan, jika tanpa ada peran Abu Umayyah, maka pertumpahan darah pun bisa terjadi.

Situasi ini memberikan makna, bahwa pemimpin harus mendengar pendapat tokoh yang di-takdhimi (dihormati) di lembaganya. Ia jangan egois dalam membuat kebijakan-kebijakan lembaga. Ia harus mengakomodir semua kepentingan dari semua golongan, terlebih dengan pendiri atau mantan pemimpin lembaga.

Keempat, pemimpin harus memiliki sikap teguh pendirian dan berkeyakinan tinggi dalam hidupnya. Sebagaimana Al Walid yang memulai merobohkan Ka’bah, di mana awalnya banyak orang yang takut untuk merobohkannya, karena takut akan terjadi sesuatu. Melihat keadaan ini, Walid dengan keyakinan dan pendirian dalam hatinya memulai merobohkannya, setelah merobohkan tidak terjadi apa-apa, kemudian orang-orang mengikutinya.

Keyakinan dan prinsip yang kuat harus ditanamkan oleh seorang pemimpin. Ia tidak mudah terpengaruh oleh golongan atau pendapat orang. Ia yakin akan kebenaran yang ada di dalam hatinya. Pastinya, kebenaran yang diyakini dalam agamanya.

Semoga cerita di atas dan nilai yang melekat dapat menjadi pelajaran hidup dalam diri kita dan mampu mengaplikasikan kita kelak menjadi pemimpin di keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara ini. Minimal memimpin diri sendiri. Wa allahu ‘alam

 

Agung Kuswantoro, pegiat mahasiswa mengaji dan dosen Fakultas Ekonomi Unnes, email : agungbinmadik@gmail.com

SUNNAH DALAM SHOLAT

  1. Azdhan untuk menandai masuknya waktu sholat dan iqomah untuk menandai solat akan dimulai.
  2. Arah pandangan pada tempat sujud.
  3. Mengangkat tangan saat takbir.
  4. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (sedakep).
  5. Membaca takbirothul ikhram.
  6. Mengangkat tangan saat akan rukhu.
  7. Mengangkat tangan setelah rukhu.
  8. Mendahulukan lutut saat sujud.
  9. Menempelkan 7 anggota badan (kedua tangan, kedua lutut, kedua kaki, dan batuk) saat sujud dan menghadap kiblat dengan telapak tangan direnggangkan.
  10. Meletakkan telapak tangan di paha dengan jari-jari direnggangkan saat duduk diantara dua sujud.
  11. Jeda sejenak duduk di antara dua sujud sebelum berdiri ke rokaat selanjutnya (duduk istirahat) saat rokaat kedua.
  12. Menduduki kaki kiri saat tahyat .
  13. Mengacungkan jari diiringi dengan syahadat bersaksi kepada ALLAH. Mengajungkan tangan tepatnya pada saat lafal hamzam pada Illa Alloh (il-nya)
  14. Salam ke kiri.
  15. Membaca ta’awuzd sebelum membaca Al Fatikhah
  16. Mengeraskan bacaan pada solat yang jaher (bacaan keras) yaitu magrib, isya, dan subuh.
  17. Mengecilkan suara sesuai solat sirryaitu solat duhur dan asar.
  18. Membaca basmalah setelah surat Al Fatikhah.
  19. Mengucapkan amiin setelah surat Al Fatikhah
  20. Membaca surat-surat setelah surat Alfatikhah
  21. Membaca bacaan tasbih dalam rukhu (subhana rabiyal adhimi wabihamdihi).
  22. Membaca bacaan setelah rukhu (samia allohu liman hamidah).
  23. Membaca bacaan tasbih sujud (subhana robiyal ala wabihamdihi).
  24. Membaca bacaan duduk diantara sujud (i’tidal) yaitu robigfirli warhamni wajburni, wahdini, waafini, waffuani.
  25. Membaca syhadat di tahyat pertama
  26. Membaca kunut (sholat subuh) dan witir di separuh bulan Romadaon.

 

Penjelasan sunnah pada sholat dia atas, bukan berarti kita menggampangkan gerakan dan bacaan sholat, tapi lebih untuk mengetahui rukun sholat adalah tu’maninah, yakni berhenti sejenak. Mengadung arti bahwa perlu ada penataan setiap gerakan dalam solat, sehingga dibutuhkan berhenti sejenak untuk menata diri melalui bacaan dan merapikan gerakan solat.

Gerakan dan bacaan sholat yang bersifat sunnah agar orang yang sakit dan tidak mampu mengerjakan sholat sebagaimana mestinya, masih dapat melakukan sholat walaupun dengan gerakan yang terbatas. Yang terpenting rukun solat terpenuhi. (waahu alam).

 

Ditulis oleh Krisdiana, santri mahasiswa mengaji

Kajian materi fiqih pada tanggga 14 Juni 2014 di depan perpus

 

KAIDAH PERINTAH

EDISI MAHASISWA MENGAJI
KAIDAH PERINTAH
Hari/ tanggal        : Sabtu, 7 Juni 2014
Pukul            : 14.00-16.00
Tempat        : Depan Perpus Pusat, UNNES
Pengisi            : Bapak Agung Kuswantoro
Peserta            : 6 orang
Catatan        :

Pengertian
Al Amru artinya menurut bahasa adalah perintah, suruhan, tuntunan. Jadi Al Amru yang dimaksudkan dalam ushul fiqih adalah satu tuntutan untuk mengerjakan dari juruan yang lebih tinggi terhadap yang lebih rendah. Sebagai contoh misalnya, seorang bapak memerintahkan pada anaknya untuk membersihkan kamar, dalam hal ini yang memerintahkan adalah ayah yang kedudukannya lebih tinggi daripada anak.
Beberapa tentang Al Amru
1.    Kaidah pertama: “ Pada asalnya (setiap) perintah itu menunjukkan hukum wajib”.
Seperti yang sudah dijelaskan pada QS. An-Nur: 63 bahwa ayat tersebut menunjukkan orang yang tidak mengindahkan perintah Allah akan dikenakan ancaman di dunia dan azab di akhirat. Hal itu menjelaskan bahwa asal perintah itu adalah WAJIB.
Disamping itu  terdapat pula tanda-tanda yang menunjukkan ke arah hal itu, antara lain:
a.    Untuk Do’a
Sebagai contoh firman Allah pada QS. Al Baqarah: 201 yang artinya “Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat”.
Kata-kata “berilah” pada ayat tersebut berbentuk perintah, tetapi karena ditujukan kepada Allah, maka tidak dapat digolongkan perintah tetapi digolongkan pada Do’a.
b.    Untuk ancaman
Sebagai contoh firman Allah pada QS. Fussilat: 40 yang artinya “Perbuatlah apa yang kamu sukai”.
Kata “perbuatlah” pada ayat tersebut bukanlah perintah untuk mengerjakan apa saja, tetapi maksudnya adalah kalau kamu berani berbuat sewenang-wenang akan mendapat ancaman nanti.
c.    Untuk Memuliakan
Seperti contoh firman Allah pada QS. Al Hijr: 46 yang artinya “masuklah ke dalamnya (surga) dengan sejahtera lagi aman”.
Kata “masuklah” di ayat tersebut bukanlah perintah benar-benar, tetapi maksudnya adalah mempersilahkan masuk surga, sebagai tanda untuk memuliakan.
d.    Untuk melemahkan
Sebagai contoh pada firman Allah QS. Al Baqarah: 24 yang artinya “Buatlah satu surat saja semisal dengan Al-Qur’an itu”.
Kata “buatlah” dalam ayat tersebut bukan  berarti perintah, tetapi sebagai tantangan untuk melemahkan dakwaan orang kafir Quraisy bahwa Al-Qur’an itu buatan manusia, bukan wahyu Allah.
e.     Untuk menyerahkan
Sebagai contoh adalah firman Allah pada QS. Thaha: 72 yang artinya “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan”.
Kata “putuskanlah” dalam ayat tersebut bukan berarti perintah. Kalimat tersebut adalah jawaban pengikut Nabi Musa terhadap Fir’aun yang memutuskan suatu ancaman bila tetap mengikut Musa. Jadi kata “putuskanlah” itu maksudnya adalah menyerahkan Fir’aun, apakah dilaksanakan atau tidak ancaman tersebut.
f.    Untuk kegusaran
Sebagai contoh firman Allah pada QS. Ali Imran: 119 yang artinya “Matilah kamu karena kemarahan kamu itu”.
Kata “matilah” di ayat tersebut menunjukkan kegusaran terhadap orang kafir yang merasa benci pada orang mukmin karena keimanannya. Jadi bukan perintah sebagai dalam pengertian Amru.
2.    Kaidah Kedua: “Pada asalnya perintah itu tidak menunjukkan berulang-ulang”.
Maksudnya, suatu perintah tidak menunjukkan bahwa kita harus mengerjakannya berulang kali tetapi cukup sekali. Sebagai contoh perintah Allah untuk melakukan ibadah haji.
3.    Kaidah Ketiga: “Pada asalnya perintah itu tidak menunjukkan segera”.
Maksudnya, bila ada suatu perintah, maka perintah itu tidaklah mesti segera dilaksanakan pada waktu itu juga, karena makna satu perintah adalah adnya pelaksanaan, tanpa terikat pada waktu tertentu. Contohnya ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra mi’raj di malam hari, pada subuhnya tidak segera melaksanakan perintah sholat tersebut, tetapi perintah sholat tersebut beliau laksanakan pada waktu dhuhur.
4.    Kaidah Keempat: “Perintah mengerjakan sesuatu, berarti perintah pula mengerjakan wasilah-wasilahnya (perantara)”.
Maksudnya, bila ada suatu perintah maka segala kegiatan yang menunjang terlaksananya perintah tersebut, ikut dengan sendirinya diperintah juga. Contohnya: wudlu dengan sholat.
5.    Kaidah Kelima: “Perintah terhadap sesuatu berarti larangan terhadap dhid-nya (lawannya)”.
Maksudnya adalah bila ada perintah untuk mengerjakan yang selainnya. Contohnya: “diperintahkan seseorang berdiri”, hal itu berarti terlarang untuk duduk, tidur, dll.
6.    Kaidah Keenam: “Apabila telah dikerjakan sesuatu perintah sesuai dengan jurusannya, berarti terlepaslah perintah  itu dari ikatan Amru”.
Sebagai contoh firman Allah yang berbunyi “(…Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah dengan debu yang bersih…) QS. An Nisa: 43.
Maksudnya bila kita tidak mendapat air untuk berwudhu, maka boleh bertayamum dengan debu yang bersih sebagai pengganti air, dan bila setelah sholat bertemu air, maka sesuai dengan kaidah di atas, tidak perlu di qadha lagi, karena dengan melakukan tayamum berarti telah terlepas dari ikatan perintah wudlu.
7.    Kaidah Ketujuh: “Qadha itu (harus) dengan perintah baru”.
Maksudnya bila kita meninggalkan suatu perbuatan yang diperintah waktunya, maka kita tidak boleh meng-qadha-nya. Sebagai contoh bagi kaum wanita yang meninggalkan shalat dan puasa karena haid dan nifas, hanya puasalah yang wajib di qadha, sedang untuk sholat tidak ada qadha karena tidak ada dalil yang memerintahkannya.
8.    Kaidah Kedelapan: “Suatu perintah sesudah larangan memfaedahkan mubah”.
Maksudnya, bila ada suatu perintah sedang sebelumnya ada larangan tentang hal tersebut, maka hukum sesuatu itu adalah mubah.

Ditulis : Laela Atikah
Sumber : kitab usul fiqih

Terima Kasih Dr Farkhat Syukri

Ya, Pak Farkhat namanya. Direktur TVRI Jawa Tengah (2011) yang pertama kali memuji tulisanku. Beliau menjadikan saya untuk bersemangat menulis. Waktu itu, beliau menugaskan kepada mahasiswanya untuk berpendapat dalam masalah perencanaan pendidikan. Kemudian saya menuliskan sebagaimana di bawah ini. Alhasil, pujian yang kudapatkan dari tulisan yang buat, sehingga saya bersemangat untuk selalu menulis yang baik. Hikmahnya, jika kita jadi guru, berilah pujian dan motivasi kepada siswanya, karena siswanya juga akan semangat belajar dan termotivasi agar menjadi lebih baik dalam pekerjaannya. Berikut tulisan tugas saya yang saya dibuat tanggal 13 Maret 2011.

LPTK DINODAI OLEH PPG

Mengacu pada UU No. 20/2003 Pasal 3, tujuan umum program PPG (Program Profesi Guru) adalah menghasilkan calon guru yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan khusus program PPG seperti yang tercantum dalam Permendiknas No 8 Tahun 2009 Pasal 2 adalah untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran; menindaklanjuti hasil penilaian, melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik serta melakukan penelitian, dan mampu mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.

Melihat tujuan dari PPG di atas, menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan program kependidikan atau yang dikenal dengan sebutan LPTK dalam memproduksi dan menghasilkan guru belum optimal. LPTK sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah dalam pengelolaan produk guru yang berkualitas. Dalam LPTK disyaratkan memiliki dosen bersertifikasi minimal magister, labolatorium micro teaching, labolatorium bidang studi, dan perpustakaan pustaka yang relevan, mutakhir, jumlah yang memadai dan mudah diakses mahasiswa. Dari hal tersebut masih ada beberapa LPTK belum memiliki kualifikasi tersebut di atas. Oleh karena itu, guru yang dihasilkan LPTK belum tentu memiliki kualitas yang baik. Katakanlah, labolatorium bidang studi yang tidak memadai menjadikan mahasiswa kurang terampil dan mendalami akan bidang studi tertentu.

PPG sebagai wujud ketidakteraturan pemerintah dalam mengelola guru. Jelas bahwa lembaga pencetak guru adalah LPTK yang telah ditunjuk pemerintah. Dalam masukan PPG disebutkan ada dua yaitu S-1 kependidikan dan lulusan S-1/ D-IV Non Kependidikan. Hal ini sangat tidak teratur di lapangan, bahwa guru dapat berasal dari Non Kependidikan. Berarti mahasiswa lulusan LPTK juga dalam mewujudkan cita-citanya menjadi guru memiliki saingan yaitu mahasiswa Non Kependidikan. Secara akademis lulusan mahasiswa Non Kependidikan tidak dibekali dengan mata kuliah yang mendukung dengan kepribadian guru, etika guru dan keterampilan yang dimiliki guru seperti pedagogik, praktek pengalaman mengajar melalui PPL, strategi pembuatan media pengajaran, perencanaan pengajaran, strategi belajar mengajar, psikologi pendidikan, dan lainnya. Hal ini menjadikan jika lulusan mahasiswa Non Kependidikan tidak memiliki keilmuan keguruan seperti di atas. Padahal, pendidikan adalah memanusiakan manusia, yang menjadi objek pembelajaran adalah manusia. Dengan demikian dalam pembelajarannya membutuhkan pendekatan sebagaimana pada matakuliah khusus kependidikan.

Menurut saya, bahwa perencanaan pendidikan dalam masalah LPTK ini perlu dibenahi. Pertama, seharusnya, LPTK memiliki sarana dan prasarana yang menunjang berupa labolatorium micro teaching dan labolatorium bidang studi, dosen minimal magister dan bersertifikasi, perpustakaan yang relevan untuk menghasilkan guru berkualitas.

Kedua, LPTK perlu adanya kerja sama antar sekolah mitra untuk menyalurkan lulusannya dalam mencari kerja. Karena selama ini lulusan LPTK mencari lapangan kerja sendiri, sehingga mereka kalah bersaing jika dengan lulusan dari Non Kependidikan.

Ketiga, Pemerintah harus memiliki aturan yang jelas dan tegas bahwa profesi guru hanya boleh diisi oleh lulusan LPTK saja. Dengan demikian tidak ada istilah mencuri lahan orang, seharusnya lahan pendidikan untuk guru dari lulusan LPTK, bukan lulusan Non Kependidikan.

Keempat, Pemerintah mengevaluasi bagi guru-guru di lapangan terutama bagi guru yang telah tersertifikasi dan belum tersertifikasi untuk tetap aktif sebagai guru untuk mengajar, ikut seminar, latihan, workshop, penelitian sehingga kualitas guru tetap terjaga.

PPG bagi guru yang belum tersertifikasi, menunjukkan lemahnya LPTK dan kemampuan guru yang minim. Menurut saya, tak perlu adanya program PPG jika, melalui langkah-langkah tersebut di atas, calon guru yang dididik di LPTK memiliki kompetensi yang sesuai dengan keahliannya dan mengetahui latar belakang kependidikan. Secara kualitas dapat dikatakan sebagai calon guru yang professional sehingga dengan sendirinya tersertifikasi.

 

Sumber :

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional

 

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

 

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan nasional. 2010. Rambu-rambu Penyelenggarakan Program Sarjana (S1) Kependidikan Bagi Guru dalam Jabatan. Jakarta : dikti.

 

LPMP. PPG diperuntukan Guru dalam Jabatan. 2010. Didownload pada http://www.lpmpjateng.go.id tanggal 1 April 2011.

 

TUGAS INDIVIDU

MATA KULIAH PERENCANAAN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Dr. Nugroho, M.Si

Dr. Farhat Syukri, M.Si

 

 

Oleh

 

 

 

 

 

 

Agung Kuswantoro

NIM 0102510031

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2011

 

Iman dan Yakin

Di tanggal terakhir bulan Mei, yaitu 31 Mei 2014 kajian Mahasiswa Mengaji mengadakan kajian rutin. Meskipun dihimpit dengan hari libur, namun kajian tetap berlangsung. Tema kajian pertemuan tersebut adalah iman. Hal ini sesuai dengan reques salah satu santri Mahasiswa Mengaji. Berawal saya meng-update status di facebook untuk mengkajinya.

Saya berpikir jika materinya yakin, maka akan susah dalam membahasnya, sehingga saya berusaha mencari alurnya. Saya membuka referensi kitab tauhid, ketemulah bahwa yakin adalah puncak dari iman. Oleh karenanya materi yang dikaji adalah iman. Saat mencari definisi iman, saya kesusahan. Ternyata belum ada pakar yang mengkaji konsep iman. Hanya indikator-indikatornya, seperti “al imanu huwa tasdiqul qolbi wal iqroru bilisan wal amalu bil arkan” artinya iman adalah pembenaran hati, diikrarkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan amal. Makna tersebut merupakan indikator iman. Bahkan dari beberapa ahli bahwa makna iman yaitu pembenaran hati, bukan pembenaran akal. Karena tidak semua akal menerima akan sebuah pembenaran. Missal peristiwa isro mi’roj. Namun untuk membuktikan kebenaran hati, ketajaman akal juga dibutuhkan. Oleh karena didalam tauhid juga dikenalkan dengan istilah dalil naqli dan aqli.

 

Ilmu

Antara iman dan ilmu harus bersinergi. Iman berasal dari hati, sedangkan ilmu berasal dari akal. Iman menenangkan hati, ilmu menyelesaikan masalah duniawi. Iman obatnya hati, sedangkan ilmu mengobati jasmani. Gambaran orang beriman seperti orang berada di perahu yang ada di tengah lautan dengan ombak besar, angin kencang, petir menyambar, dan suara gemuruh yang keras. Keadaan tersebut tidak menjadikan takut, karena dia yakin bahwa akan ada pulau yang akan dia singgahi dengan tanaman sayuran dan buah yang dapat dimakan. Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang merasakan. Penulis menyamakan iman seperti cinta. Hanya dapat di rasakan bagi orang yang jatuh cinta, sehingga ia kagum pada yang dicintainya.

Ada hadis muttafiqun ‘alaih dalam arbain nawawi, yakni hadis nomor dua yang menjelaskan mengenai iman, islam, ihsan, dan tanda-tanda kiamat. Diceritakan bahwa dalam suatu majlis, ada seorang yang tinggi dan berbaju putih bertanya kepada nabi Muhammad S.A.W tentang iman. Beliau menjawab iman yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, qodho dan qodar serta kiamat (rukun iman). Kemudian orang tersebut bertanya tentang islam, nabi menjawabnya islam yaitu mengucapkan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (rukun islam). Kemudian orang tersebut bertanya tentang ihsan. Nabi menjawabnya apabila seseorang beribadah, maka seakan-akan Allah S.W.T melihatnya, dan apabila orang tersebut tidak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihatnya. Dari ketiga pertanyaan orang tersebut membenarkannya, dan merasa puas dengan jawaban Nabi Muhammad S.A.W. Setelah mendengar jawaban Nabi, orang tersebut meninggalkannya. Ternyata orang tersebut adalah malaikat Jibril. Berdaarkan hadis tersebut, iman secara eksplisit dimaknai rukun islam. Oleh karenanya, penulis berpendapat bahwa iman susah didefinisikan, namun dapat dirasakan oleh yang mengalaminya karena standar dari iman adalah ketenangan jiwa (hati)

Puncak dari iman adalah yakin. Yakin pun ada tingkatannya yaitu ilmu yakin, ainul yakin, dan haqul yakin. Ilmu yakni mengetahui akan yang diyakininya. Ainul yakin, wujud keyakinanannya dapat diketahui. Sedangkan haqul yakin kebenarannya akan terbukti. Misal kita mengetahui dan yakin bahwa Mekah ada di Arab Saudi, jika demikian berarti tingakatan iman pada taraf ilmu yakin. Dan, jika meyakini Mekah berada di Arab Saudi dan mengetahui tempat-tempat vital seperti masjid, rumah sakit, pasar, dan lainnya, maka keadaan tersebut pada taraf ainul yakin. Sedangkan haqul yakin, jika keadaan orang tersebut pernah tinggal di Mekah selama 10 tahun dan ia mengetahui gang-gang atau lorong-lorong yang ada di Mekah.

Dengan demikian hati memiliki tingkatan, oleh karenanya hati bersifat dinamis, sehingga perlu memperbarui hati. Cara memperbaharuinya dengan membaca al quran dan berdzikir. Keyakinan seseorang akan bertambah jika iman pun bertambah. Sehingga iman dan yakin berbanding lurus. Misal orang yang hidupnya sederhana tidak mempunyai pekerjaan tetap, tetapi dia berkeyakinan bahwa Tuhan tidak akan membuatnya sengsara, karena rizki telah ditanggung Tuhan. Tugas dia adalah menghadirkan rizki dengan berbut baik.

Demikian gambaran tentang iman dan yakin, semoga memberikan manfaat kepada kita dan menambah keimanan diri kita. Amiin

 

Ditulis oleh Agung Kuswantoro, pegiat mahasiswa mengaji dan dosen fakultas ekonomi Universitas Negeri Semarang, email agungbinmadik@gmail.com

 

 

 

Previous Older Entries