IMAN

Materi kajian Mahasiswa Mengaji, 31 Mei 2014

Banyak rincian ajaran yang disampaikan Rasul Saw melalui wahyu al-Quran maupun as-Sunnah. Salah satu yang diangkat menjadi gambaran dari konsep dasar ajaran islam yaitu hadist yang menceritakan kahadiran seseorang (ternyata malaikat Jibril yang menyamar sebagai manusia) yang tak dikenal di hadapan Nabi Muhammad saw.sambil bertanya di depan kaum muslim tentang islam, iman dan ihsan serta kiamat dan tanda-tandanya. Mengenai iman, Rosul saw. menjawab bahwa iman itu adalah iman kepada Alloh, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Alloh, rasul-rasul yang diutus-Nya, hari kemudian serta takdir-Nya untuk manusia. Mengenai islam, Nabi menjawab: pengakuan akan keEsaan Alloh dan kebenaran Rosul-Nya sebagai utusan Alloh (syahadat), shalat, zakat, puasa ramadhan, haji bagi yang mampu. Sedangkan ihsan dijelaskan oleh beliau sebagai: Menyembah Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya dan bila tidak demikian, maka (hendaklah sadar) bahwa Dia melihatmu.
Makna
Iman dapat diartikan sebagai pembenaran atau lebih luasnya pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Hal ini berarti akal saja tidak cukup, bahkan yang lebih penting pembenaran hati. Beberapa pakar mengatakan bahwa iman adalah percaya dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.
Menurut sebagian pakar, keadaan seseorang beriman bagaikan keadaan seseorang yang sedang mendayung perahu di tengah samudra dengan ombak dan gelombangnya yang dahsyat lagi bergemuruh. Nun jauh disana, tampak remang-remang pulau yang dituju. Namun pendayung tersebut yakin dan percaya bahwa di balik remang-remang itu akan terdapat pulau yang bisa dituju. Nah, demikian pula yang dapat dikatakan sebagai iman. Dalam kisah ini yaitu keyakinan kuat akan ditemukannya pulau yang akan dituju. Keimanan tidak dapat dilihat dan diraba, akan tetapi dapat dirasakan.
Syaikh ‘Abdul Halim Mahmud mengingatkan agar tidak perlu bertepuk tangan kepada akal yang bisa membuktikan objek keimanan, termasuk keimanan tentang wujud Tuhan, sebab akal pun dapat membuktikan yang sebaliknya. William James (1840-1910), filosof (dan ahli psikologi agama) Amerika kenamaan itu jauh sebelum Syaikh ‘Abdul Halim juga berpendapat serupa : “Kita percaya tentang wujud Tuhan, bukan karena secara rasional Dia dapat dibuktikan, tetapi karena kita merasakan kehadiran-Nya”.
Ilmu maupun iman keduanya merupakan kekuatan. Kekuatan ilmu terpisah, sedangkan kekuatan iman menyatu. Keduanya adalah keimanan dan hiasan; ilmu adalah keindahan akal, sedangkan iman keindahan jiwa, ilmu hiasan pikiran dan iman hiasan perasaan. Keduanya menghasilkan ketenangan lahiriyah oleh ilmu dan ketenangan batin oleh iman. Ilmu memelihara manusia dari penyakit-penyakit jasmani dan malapetaka duniawi, sedangkan iman memeliharanya dari penyakit-penyakit rohani dan malapetaka ukhrawi. Ilmu menyesuaikan manusia dengan diri dan lingkungannya, sedangkan iman menyesuaikan dengan jati dirinya”. (Murtadha Muthahhari).
Iman itu bertingkat-tingkat. Ada yang percaya tanpa sedikit argumen pun. Dia percaya karena kebetulan objek kepercayaan sesuai dengan perasaanya. Iman yang lebih tinggi kualitasnya adalah yang percaya dengan sedikit bukti.
Yakin
Puncak iman disebut yaqin, yakni pengetahuan yang mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan pengetahuan tersebut, baik berupa keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan lawan. Tingkatan yaqin :
1. ‘Ilmu Yaqin
2. ‘Ain al-Yaqin
3. Haqq al-Yaqin
Tingkatan yaqin dapat diibaratkan seperti ini. Jika seseorang ditanya tentang keberadaan kota Mekkah, orang itu akan membenarkan keberadaannya, walaupun orang tersebut belum pernah berkunjung kesana. Pembenaran ini berdasarkan pengetahuan yang begitu mantap, dan karena orang itu belum pernah melihatnya, maka pembenaran tersebut dinamai ‘Ilmu al-Yaqin. Tetapi, jika ia pernah melihat kota Mekkah, maka pembenaran ini dinamai ‘Ain al-Yaqin, sedangkan jika orang itu pernah tinggal sekian lama sehingga mengetahui jalan dan lorong-lorongnya, maka pembenaran tersebut dinamai Haqq al-Yaqin.
Mereka yang mantap imannya adalah mereka yang membuktikan pengakuan iman mereka dengan perbuatan sehingga, antara lain, apabila disebut nama Allah akan gentar hati mereka karena mereka sadar akan kekuasaan dan keagungan-Nya dan mereka yakin hal ini akan menambah iman mereka, terbuka lebih luas wawasan mereka dan terpancar lebih banyak cahaya ke hati mereka. Kepercayaan ini menghasilkan ketenangan dalam menghadapi segala sesuatu sehingga hasilnya diserahkan kepada Alloh SWT.

Ditulis oleh Desy Wydianingrum, santri mahasiswa mengaji
Pemateri : Agung Kuswantoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: