Ceritaku taraweh kesembilan, kesepuluh, kultum taraweh dan buka puasa

Kultum Buka Puasa Bersama

Romadlon : Bulan Training

Ramadon 1435 Hijriyah atau Juli 2014 merupakan romadlon yang berbeda dibanding dengan tahun sebelumnya. Karena, saya dan warga perumahan sedang belajar berpuasa, solat isya, taraweh, dan witir berjamaah.

Saya belajar menjadi imam, kadang juga khotib kultum. Pak Bahrul belajar menjadi bilal, kadang juga khotib kultum. Pak Wisnu dan Dian belajar menjadi khotib kultum.

Demikian juga jamaah juga belajar mengkaji agama melalui materi yang disampaikan oleh khotib kultum. Bahkan melalui, solat berjamaah, hubungan antar warga perumahan dan kampung menjadi lebih dekat. Misal dengan solat berjamaah, warga berkumpul dan berdiskusi setelah solat taraweh. Dan, mampu membuat acara buka puasa bersama.

Dua tahun saya menempati di perumahan, alhamdulillah di tahun ini ada kegiatan solat taraweh berjamaah dapat terlaksana, sehingga menjadikan saya dan warga semangat untuk belajar agama. Dengan keadaan tersebut, saya mengistilahkan dengan bulan training.

Mengapa? Karena kita sedang dilatih oleh Alloh agar menjadi hamba yang bertakwa. Ibarat pekerja baru di perusahaan, sebelum dia menjadi pekerja tetap (calon pekerja), dia pada awalnya harus mengikuti training atau pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaannya. Hal ini dimaksudkan, agar pekerja dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, baik dengan teman sejawat atau kondisi sekitar.

Biasanya masa (waktu) training pun singkat, seperti tiga bulan. Demikian juga training menjadi orang bertakwa, dilakukan satu bulan, yakni bulan romadlon, di mana banyak pekerjaan ibadah seperti solat taraweh, witir, puasa, tadarus, sedekah, siaturahmi, sahur, buka puasa, dikir, dan lainnya.

Training-nya pun tidak hanya pada pekerjaan individu saja, melainkan kelompok. Tidak hanya puasa, namun juga solat jamaah taraweh dan witir, serta buka puasa bersama. Hal ini menjadi hal yang baru bagi warga perumahan, karena sebelumnya kegiatan ini tidak ada.

Jika di malam hari di bulan Romadlon, ada solat taraweh, maka di sebelas bulan berikutnya ada solat tahajud. Jika di bulan Ramadlon ada puasa, maka di sebelas bulan berikutnya ada puasa sunah Senin Kamis. Jika di bulan Romadlon ada zakat fitrah, maka di sebelas bulan berikutnya ada sedekah. Jika di bulan romadlon ada tadarus alquran, maka di sebelas bulan berikutnya harus meningkatkan bacaan alquran.

Syarat mengikuti training bulan Romadlon sederhana yaitu beragama Islam. Sederhana bukan? Ya, menurut saya sederhana. Pastinya orang tersebut lillahi ta’ala dalam menjalaninya. Jika kita kaji lagi, waktu dulu kita mengenal rukun Islam ada lima. Rukun Islam keempat adalah puasa di bulan Romadlon. Maknanya, salah satu kesempurnaan rukun Islam bagi muslim adalah berpuasa di bulan Romadlon.

Oleh karena, syarat puasa itu mudah, yaitu orang yang beragama Islam. Sehingga, puasa termasuk dalam kategori ibadah individu. Jika ibadah individu, maka urusannya dengan Alloh. Yang mengetahui kita puasa atau tidak puasanya hanyalah Alloh. Misal, ada seseorang yang paginya puasa, tetapi siang harinya, karena dirinya lapar. Dan, ada kesempatan makan, dia makan di warung makan. Setelah itu, ia pulan ke rumah. Bilang kepada temannya, bahwa dia masih puasa.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah perbuatan individu. Salah satu syarat puasa adalah beragama Islam. Oleh karena, orang islam pada saat bulan Romadlon memiliki kewajiban puasa, sebagai salah satu bagian rukun Islam. Rukun Islam tersebut akan menjadi sempurna, jika ia menjalaninya dengan penuh harap ridlo Alloh. wa’allohu ‘alam bis sowab

Taraweh Hari Kesembilan : Syarat Wajib Puasa

Jadual kultum taraweh di malam kesembilan adalah saya. Saya sebagai warga perumahan, dengan senang hati menjalankan tugas yang telah dibuat oleh pengurus musolla pak Bahrul. Meskipun sorenya, saya memberikan materi mengenai puasa di tempat yang sama.

Saat memberikan kultum kepada jamaah. Saya meminta maaf terlebih dahulu, karena saya memberikan materi lagi, yang pada waktu sore juga telah memberikan materi juga. Untuk kultum pada taraweh, secara jadual itu saya. Jadi saya menjalankan amanah yang telah diberikan. Bukan berarti saya ingin menjadi penceramah yang selalu memberikan materi.

Pada kultum kali ini saya memberikan materi tentang syarat wajib puasa. Hal ini saya berikan setelah melakukan perenungan, bahwa saat kultum saya ingin memberikan materi yang teknis. Maknanya, materinya sedikit tetapi mendalam. Sehingga, ketemulah konsep model mengaji. Saya melakukannya dengan mengkaji kitab fathul qorib (taqrib) tentang puasa. Jika saya, ada jadual mengisi kultum lagi, maka saya akan melanjutkan materi yang sebelumnya. Hal ini agar, jamaah dalam menerima materi tidak terputus, karena khotib kultum berjumlah empat orang.

Puasa berasal dari bahasa arab yaitu shaum, bentuk masdar dari kata shoma yashumu yang artinya imsak atau menahan. Imsak yang dimaksudkan di sini bukan waktu imsak. Saat saya di daerah kelahiran saya (Pemalang), saat imsak, orang-orang sudah tidak makan dan minum (sahur). Tetapi saat saya berada di Semarang, saat imsak, orang sekitar masih pada makan dan minum. Dengan alasan, karena belum masuk waktu solat subuh.

Padahal, jika kita melihat makna imsak adalah berhenti. Oleh karena, imsak yang dimakasudkan bukan waktu. Namun lebih cenderung pada kebiasaan suatu tempat. Bagaimana yang tepat? Akan dikaji dalam kajian lainnya (kultum berikutnya).

Syarat wajib puasa ada empat yaitu islam, balig, berakal, dan mampu. Islam dimaksudkan adalah orang yang telah melafalkan kalimat syahadat. Artinya orang yang beragama islam memiliki kewajiban berpuasa di bulan Romadlon. Balig artinya cukup umur. Jika ada anak lima tahun yang puasa dan berbuka pada waktu dhuhur (puasa bedug), maka dinamakan anak tersebut sedang belajar puasa. Karena ia belum cukup umur dan belum mampu menjalankannya. Berakal maknanya orang tersebut memiliki akal yang sehat. Berakal bukan berarti gila. Jika kita lupa, kemudian kita makan. Padahal kita sedang puasa, maka dapat dikatakan tidak berakal. Mampu dimaksudkan ia mampu menjalankan puasa dengan baik. Ia tidak dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan. wa’allohu ‘alam bis sowab

Taraweh Hari Kesepuluh : Menikmati

Solat taraweh di malam kesepuluh, saya sangat menikmatinya. Karena tenang suasananya. Alhamdulillah anak-anak dapat menyesuaikan kondisinya (tidak ramai). Oleh karenaya, saya dapat mendengarkan dan merasakan khotib kultum, pak Wisnu dalam menyampaikan materi tentang berkah.

Beliau memberikan contoh rumah pak Bahrul, yang berkah karena dapat dinikmati oleh para warga untuk solat jamaah taraweh. Berkah yang dimaksudkan, bahwa berkah tidak harus luas, namun memberikan manfaat untuk orang lain.

Setelah solat witir, para jamaah berkumpul dan berdiskusi untuk mengevaluasi kegiatan buka bersama pada hari kemarin (puasa kesembilan). Kemudian, bermusyawarah untuk menyelenggarakan kegiatan nuzulul quran. wa’allohu ‘alam bis sowab

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari kesembilan, kesepuluh dan kultum buka puasa dan taraweh. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: