Sudah Berjalan

Pekan kedua di bulan Romadlon, Alhamdulillah kegiatan taraweh dan witir berjamaah di rumah Pak Bahrul dapat berjalan dengan lancar. Ibarat kegitan tersebut adalah bus kota, maka awak bus tersebut berupa penumpang, kondektur, dan sopir. Penumpang adalah jamaah, kondektur adalah bilal, dan sopir adalah imamnya. Jadi bus kota sudah siap. Demikian juga, penumpang, kondektur, serta sopir juga sudah siap. Kondisi bus dan awak bus dalam keadaan siap jalan.

Pada malam kesebelas tawareh, sesua dengan jadwal bahwa, Pak Wisnu sebagai bilal, dan Pak Bahrul sebagai khotib kultum. Alhamdulillah dapat berjalan dengan lancar. Pak Bahrul menyampaikan mengenai hadis dhoif.

Beliau menceritakan pengalaman keduanya selama hidupnya, menjadi khotib kultum di bulan Romadlon. Persiapan beliau dalam mencari materi, mulai dari browsing di-internet, hingga bertanya pada teman, termasuk istrinya, Tante Lulu.

Malam kedua belas, dalam jadwal tertulis Pak Dian sebagai khotib kultum dan Pak Bahrul sebagai Bilal. Pak Dian menyampaikan mengenai emosi sesaat yang dapat mengakibatkan fatal dalam kehidupan. Beliau memberikan cerita mengenai raja dan burung elang. Pada intinya, bahwa emosi sesaat tidak baik, karena yang mengetahui keadaan berikutnya adalah Alloh. Dialah Alloh yang menentukan segalanya. Oleh karenanya, kita harus menjaga sikap dan bersyukur padanya dengan keadaan saat ini.

Malam ketiga belas, Pak Widi bertugas khotib kultum. Khotib kultum pada malam tersebut, bagi beliau adalah pengalaman pertama dalam hidupnya untuk memberikan materi agama. Biasanya beliau memberikan materi tentang sepeda motor di sekolahnya, karena profesi beliau sebagai guru teknik sepeda motor di SMK Negeri 4 Semarang. Bilal pada malam tersebut adalah Pak Bahrul.

Beliau mengatakan, ada perasaan yang berbeda saat memberikan materi keagamaan dengan mata pelajaran yang biasa disampaikan. Menyampaikan agama terasa berat, karena tidak sekedar mengucapkan, ujar beliau.

Materi beliau yang disampaikan pada malam tersebut mengenai niat. Niat dikaji dari definisi dan beberapa pandangan mengenai niat oleh para ulama. Niat secara bahasa menyengaja melakaukan perbuatan atau sesuatu. Niat terletak di hati. Yang terpenting niat dihati, tidak harus dilafalkannya. Kemudian beliau memaparkan mengenai kedudukan niat oleh para ulama.

Malam keempat belas, Pak Lukman bertugas sebagai khotib kultum. Beliau menyampaikan materi tauhid. Dalam kehidupan manusia di dunia, hal yang harus dilakukan saat pertama adalah menentukan tujuan karena Alloh. Dalam kerja, harus mengutamakan ibadah kepadanya. Dialah Alloh yang memberikan kehidupan kita. Jika kita tidak mengutamakan Alloh, maka kesengsaraan, kemadhorotan, atau kefakiran akan menimpa kita. Karena apa? Alloh tidak ridlo dengan nikmat yang telah diberikan kepada kita, namun kita meng-kufur-nya. Sehingga, kita harus pasrah secara totalitas padanya.

Katakanlah rizki seseorang pada satu hari duapuluh ribu. Jika dia mengutamakan Alloh dengan solat jamaah, puasa sunah, baca alquran, dan ibadah lainnya, maka Alloh akan memberikan dia kenikmatan lainnya. Sebaliknya, jika dia tidak mengutamakan Alloh, maka dia akan menerima ke-kufur-an berupa motor bocor, hp hilang, ditagih hutangnya, dan lainnya.

Kultum pada malam tersebut, merupakan pengalaman pertama beliau dalam memberikan materi agama di bulan Romadlon. Bilal pada taraweh tersebut adalah Pak Bahrul.

Taraweh kelima belas, saya bertugas sebagai khotib kultum dan imam. Demikian juga bertugas sebagai imam pada malam sebelas hingga lima belas. Pada malam lima belas, saya menggantikan Bapak Sidik yang berhalangan hadir.

Pada malam tersebut, saya melanjutkan meteri sebelumnya, yaitu fardlu puasa. Fardlu (rukun) memiliki makna perbuatan yang ada dalam pekerjaan tersebut. Misal, pekerjaan solat, rukunnya adalah takbir, membaca fatihah rukuk, sujud, dan lainnya. Berbeda dengan syarat, di mana perbuatan tersebut di luar pekerjaannya. Misal, pekerjaan solat, syaratnya adalah muslim, balig, berakal, menghadap kiblat, dan lainnya. Demikian juga dengan puasa, syaratnya adalah islam, balig, berakal, dan mampu melakukan puasa. Adapun fardlu puasa ada empat yaitu niat, menahan makan dan minum, jimak (bersetubuh), serta tidak muntah.

Niat puasa wajib harus malam. Hal ini dilakukan setelah mengetahui bulan baru, sehingga pada paginya diwajibkan puasa. Niat puasa wajib harus diperjelas, misal puasa pada bulan apa, untuk siapa, kapan mulai puasa. Mengapa demikian? Karena puasa wajib ada tiga yaitu puasa romadlon, nadar, dan qodlo puasa romadlon. Contoh lafal puasa yang lengkap yaitu nawaitu shoma ghodin an ada’I fardli syahri romadhoni hadihis sanati faardlo lilla hita’ala.

Misal, kata ghodin yang memiliki makna besok. Ini menunjukkan bahwa puasa wajib harus dilakukan pada malam hari. Inilah yang menjadi pembeda dengan puasa sunah. Di mana, puasa sunah dapat dilakukan niatnya di pagi hari (sebelum dhuhur). Lihat safinatun najah bab rukun puasa, ada keterangan mengenai niat puasa sunah.

Menahan makan dan minum, mulai dari waktu subuh hingga magrib. Diterangkan dalam safinatun najah, bahwa fajar sodik sebagai awal kita mulai menahan makan dan minum (puasa).

Ada hal menarik dalam fenomena di masyarakat. Biasanya, ada tanda imsak, bahwa akan masuk solat subuh. Orang mengartikan saat imsak, masih diperbolehkan makan dan minum. Sehingga, imsak (dalam bahasa saya) dimaknai sebagai alarm atau peringatan (tanbih), bahwa sebentar lagi akan masuk waktu subuh, sehingga persiapan akan puasa. Padahal, kata imsak maknanya adalah menahan. Jika demikian, imsak yang berlaku di masyarakat adalah imsak dalam makna peringatan, bukan sebagai makna yang sebenarnya yaitu menahan. Sehingga, penggunaan kata imsak di masyarakat, menurut saya sebagai budaya, bukan sebagai makna hakiki.

Menahan makan dan minum, bukan dimaknai dengan makanan atau minuman. Misal ada air ludah yang dikumpulkan oleh si fulan, kemudian Ia telan, maka dimaknai ia telah meminum air, karena ludah tersebut telah jatuh ditenggorokannya.

Fardlu puasa berikutnya adalah Menahan nafsu seksual (jimak) atau berhubungan badan bagi suami istri dengan sengaja. Bagi suami istri saja, yang halal tidak diperbolehkan. Terlebih, bagi orang yang belum menikah melakukan perbuatan tersebut. Dalam kitab taqrib ada keterangan, jika yang bersangkutan tidak lupa atau sengaja. Logikanya ada pekerjaan tersebut yang tidak sadarkan diri, seperti mabuk.

Fardlu puasa yang terakhir adalah tidak muntah. Muntah mengandung makna mengeluarkan sesuatu dari mulut dengan sengaja. Jika tidak sengaja, maka puasanya tetap sah. Wa allohu ‘alam bissowab

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari kesebelas hinggalima belas. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: