Taraweh Hari Ketujuh Belas: Nuzulul Quran

Di malam taraweh keenam belas, khotib kultum ditiadakan, karena ada kegiatan nuzulul quran di musolla Pak Bahrul. Saya sebagai Imam, tidak ada jeda istirahat. Biasanya istirahat saya lakukan saat kultum, dengan cara mendengarkan kultum oleh khotib dari salah satu jamaah, yang sesuai dengan jadwal.

Alhamdulillah solat isya, taraweh, dan witir berjalan lancar. Setelah solat jamaah, kemudian saya duduk di depan dan jamaah melingkar. Hal ini saya lakukan agar mempermudah dalam simaan atau melafalkan dan mendengarkan bacaan surat al quran.

Simaan ini sebagai wujud bentuk peringatan nuzulul quran yang dilakukan oleh jamaah. Kegitan ini juga, atas usul mereka. Surat yang dibaca mulai dari surat ad dhuha hingga an nas. Saya memulai dengan membacakan surat ad dhuha, kemudian bergilir ke kiri ke arah jamaah yang disebelahnya membacakan surat yang berikutnya.

Tujuan simaan pada acara tersebut, tidak untuk mengetahui bacaan baik atau jeleknya para jamaah. Namun, semata-mata belajar mempelajari al quran. Jika jamaah tidak lancar dalam bacaan, maka jamaah lainnya mengiringi bacaan dia. Dengan cara seperti ini, tiap orang membacakan satu surat dari alquran yang mereka telah bawa dari rumah.

Waktu terus berjalan. Demikian juga, surat demi surat selesai dibacakan. Tiba saatnya Ustad Arifin menyampaikan materi mengenai alquran. Beliau memaparkan kelebihan-kelebihan kitab alquran dibanding dengan kitab lainnya. Alquran memiliki nilai tersendiri bagi umat Muslim, karena sebagai pedoman hidup.

Melalui pengajian ini, saya menjadikan termotivasi untuk memujudkan impian saya yaitu mendirikan madrasah. Karena, madrasah yang sangat penting pada saat sekarang di lingkungan saya. Tujuannya, agar masyarakat berpedoman pada nilai-nilai agama. Sehingga, alquran sebagai pedoman hidup selalu melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan madrasah pula, lingkungan sekitar, termasuk anak-anak akan mudah belajar agama. Karena wadahnya tersedia. Selama ini di lingkungan saya tidak ada madrasah, sehingga mereka dalam belajar agama susah. Oleh karenanya, madrasah itulah yang menurut saya adalah kebutuhan paling urgent di lingkungan masyarakat saya.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam ketujuh belas. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: