Manusia Hanya Media Mendapatkan Rizki

Setelah kita bekerja, biasanya akan mendapat gaji. Demikian juga pedagang, setelah berjualan akan mendapatkan untung. Tukang batu setelah memahat akan mendapat upah. Dan contoh lainnya yang serupa.
Gaji, untung, dan upah merupakan bentuk rizki Allah yang diberikan kepada manusia. Bentuk rizki tersebut melalui manusia kepada manusia. Manusia kepada manusia, dimaksudkan adalah pimpinan kepada karyawan, atasan kepada bawahan, mandor kepada tukang, majikan kepada pembantu, dan lainnya.
Rizki [baca uang] seakan-akan manusia yang member. Padahal, Allah lah sebaik-baik pemberi rizki. Allah mengatakan : “Atau kamu meminta upah kepada mereka? Maka upa dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah pemberi rizki yang paling baik,” (QS. Al Mukminun:72).
Tegas sekali menyebutkan dirinya khoirur roziqin (Pemberi rizki terbaik). Pemberi rizki, bukanlah manusia, manusia hanya sebagai medianya (wasilah). Jika kita mengharapkan rizki kepada manusia, maka biasanya muncul kekecewaan karena ketidaksesuaian yang diharapkannya. Sehingga, kita sering mendengar di berita koran, muncul kelompok-kelompok yang menuntut hak-haknya. Menurut penulis, hal tersebut sangat manusiawi.
Sebagai muslim dan beriman, kita harus menyikapi ayat tersebut dengan bijak, dengan cara memasrahkan rizki kepada-Nya. Dia yang telah menciptakan rizki kepada manusia. Cara memasrahkan rizki dengan berdoa sebelum bekerja, berdzikir saat bekerja, dan mengucapkan hamdalah setelah bekerja serta menyedekahkan sebagian rizki saat honor telah diterima.
Maknanya, bahwa sebenarnya rizki itu dikembalikan lagi pada Allah, sehingga Dia akan lebih mencintai kita. Asumsinya, ada orang yang diberi uang, kemudian uang tersebut diberikan kepadanya dalam wujud kegiatan (ibadah), maka orang yang menerima akan memberikannya dalam jumlah yang lebih banyak.
Demikian juga, saat kita dapat gaji, kemudian disedekahkan pada orang yang membutuhkan, maka Allah akan menyukai orang tersebut. Sehingga, Allah akan mengembalikan uang sedekah orang tersebut dengan jumlah yang lebih banyak. Orang yang melakukan seperti itu, dia sudah “pandai” imannya, karena ia mengetahui bahwa Allah khoirur rozikqin.
Semoga tulisan ini memberikan manfaat kepada kita untuk bijak dalam memaknai pemberi rizki yang terbaik. Manusia merupakan salah satu sarana pemberi rizki. Sebaiknya, kita dapat menyedekahkan rizki kepada orang yang membutuhkan, karena sesungguhnya rizki itu milik Allah.
Agung Kuswantoro,pegiat mahasiswa mengaji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: