Pembangunan Masjid, Butuh Dana

Semalam (29 Juni 2015) bertempat di bangunan masjid Nurul Iman, belakang rumah saya. Dari alokasi dana yang sudah dikumpulkan, ternyata uang membengkak. Ga tanggung-tanggung, saldo hanya 99.000. Padahal, Senin (6 Juli 2015) akan ada pengecoran dengan dana 54.000.000. Artinya uang untuk mengecor tidak ada. Akhirnya, panitia masjid berusaha muter otak dengan berbagai cara.
Pertama, ada sumbangan dari warga sekitar 24.000.00, dengan rincian 14.000.000 dari hamba Alloh dan 10.000.000 dipinjami kas RT. Jadi masih kurang 30.000.000.
Kedua, kekurangan 30.000.000 ada dari warga yang memberikan sedekahnya. Yang dulu, memberi pasir sak sapirnya hingga bangunan jadi,. Sekarang dialihkan ke sumbangn pengecoran.
Ketiga, masih ada waktu enam hari untuk mengeor. Artinya masih ada Alloh dibalik segala kejadian ini. Mudahan-mudahan Alloh memberi jalan untuk pembangunan masjid Nurul Iman. Amin

Agung Kuswantoro, seksi pencarian dana pembanguna masjid Nurul Iman, Sekaran, Gunungpati, Semarang, hp 08179599354

Iklan

Menyambut Kampus Ramadhan

Sesaat lagi, umat Islam merasa bahagia. Mereka akan menyambut “kampus” yang menanamkan nilai-nilai rukhani dan jasmani. Ia hadir untuk mengisi keresahan hati dan pikiran manusia. Oleh karenanya, kita harus bergembira dengan kehadirannya.

Kegembiraan tersebut, Nampak dari tradisi masyarakat, seperti nyadran, dentuman meriam, penampahan, mahdi, padusan, dan lainnya. Bahkan, dua bulan sebelum masuk ke kampus Ramadhan, mereka berdoa “Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna ramadhana”.

Ada yang menyambutnya dengan memasang spanduk berisi pesan “marhaban ya ramadhanm Marhaban ya syahru siyam, Ramadhan bulan penuh berkah, ampunan, penyuci jiwa” dan lainnya. Ada pula yang menyambutnya dengan merilis album religi.

Pastinya, cara-cara tersebut untuk men-ta’dzimi kampus tersebut. Ada beberapa komponen yang menjadikan kampus Ramadhan memiliki kemuliaan. Pertama, komponen input. Input dari kampus Ramadhan adalah orang beriman. Tauhid mengenalkan tiga konsep dasar yaitu iman, islam, dan ihsan. Orang beriman, pasti islam, tetapi orang islam belum tentu beriman. Definisi iman yang paling sederhana adalah diucapkan dengan lisan, dilakukan dengan perbuatan, dan diyakini dalam hati. Kedudukan iman lebih tinggi dibanding Islam. Secara kuantitatif orang berislam lebih banyak daripada beriman. Misal, saat bulan Ramadhan, kita pernah melihat orang yang sedang makan pada siang hari di jalan, padahal mereka beragama islam dan dalam keadaan sehat, namun mereka tidak puasa. Oleh karenanya, embrio untuk menjadi mahasiswa di kampus Ramadhan adalah beriman, sebagaimana Q.S. al Baqarah: 183.

Kedua, komponen proses. Salah satu komponen proses adalah kurikulum. Kurikulum kampus Ramadhan memiliki kompetensi dan value yang sangat bagus, seperti puasa di siang hari, sedekah, solatul lail, i’tikaf, tadarus, sahur, dzikir, dan lainnya.

Kompetensi puasa memiliki value yaitu menjaga kesehatan, menahan emosi, menenangkan jiwa, dan lainnya. Kompetensi sedekah memiliki value, yaitu kepedulian terhadap sesame. Kompetensi solatul lail memiliki value, yaitu mendekatkan diri pada Allah dan merefleksikan diri terhadap perbuatannya. Kompetensi i’tikaf memiliki value, yaitu menenangkan jiwa. Kompetensi tadarrus memiliki value, yaitu berkata dengan baik. Kompetensi sahur memiliki value, yaitu menikmati rizki Allah. Kompetensi dzikir memiliki value menentramkan batin dan mengingat nama Allah. Kompetensi-kompetensi tersebut diajarkan di kampus Ramadhan selama tiga puluh hari, sesuai dengan timing perkuliahan yang ditentukan, yaitu subuh, pagi, siang, maghrib, isya’, dan sepertiga malam.

Ketiga, komponen output. Output kampus Ramadhan adalah muttaqin (orang yang bertakwa). Definisi takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sangat sederhana definisinya, namun aplikasinya membutuhkan motivasi yang tinggi. Misal, perintah sholat. Kadang kita menganggapnya suatu yang remeh, disaat sedang sibuk, bahkan memberi perintah balik kepada Allah, dengan perkataan “Maaf Tuhan, kami sedang sibuk”, padahal Allah memerintahkan kepada kita sholat tepat waktu.

Buah dari muttaqin adalah memaafkan. Memaafkan termasuk outcome kampus Ramadhan. Lulusannya, tak semata-mata mendapatkan kemenangan di hari fitri, namun mampu memberi maaf dalam dua dimensi, yaitu vertikal dan horizontal.

Dimensi horizontal adalah minta maaf kepada sesama manusia. Dimensi ini membutuhkan kerelaan untuk menerima kesalahan orang lain. Tidaklah mudah untuk memafkan kesalahan orang. Dibutuhkan jiwa yang lapang untuk menerima kekurangan atau kesalahan orang.

Dimensi vertikal adalah minta maaf kepada Allah, dengan cara ber-istighfar, taubat, dan tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat. Dibutuhkan kekuatan niat melaksanakan untuk dimensi vertikal.

Marilah, kita berbondong-bondong mendaftar menjadi mahasiswa kampus Ramadhan. Kampus yang mampu mendidik mereka menjadi muttaqin, dengan kompetensi-kompetensi unggul, sehingga hati mereka akan ikhlas dan lapang dalam menjalani kehidupan bersosial, serta mudah memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Aturlah waktu belajar selama tiga puluh hari di kampus Ramadhan, mumpung kampus tersebut masih ada di bumi. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita, agar ditermia di kampus tersebut dan dipermudahkan dalam perkuliahannya. Amin.

 

 

 

Agung Kuswantoro, pegiat mahasiswa mengaji dan dosen pendidikan ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, HP 08179599354