Freddy Budiman Meninggal Pada 29 Juli 2016, Kita Kapan?

freddy budiman

Meninggalnya terpidana mati kasus narkoba atau orang menyebutnya gembong narkoba yaitu Freddy Budiman menjadi pembelajaran buat kita semua, bahwa setiap orang pasti merasakan kematian. Allah mengatakan setiap yang bernafas pasti akan merasakan kematian.

Kematian Freddy Budiman menjadikan saya berpikir bahwa sebenarnya kita sama seperti beliau. Hanya saja, kematian kita belum diberitahukan kepada kita secara detail waktunya. Kematian kita masih dirahasiakan oleh Allah. Membayangkan saya adalah Freddy Budiman (terlepas dari kasus narkoba) maka pilihan saya ada dua yaitu frustasi atas putusan vonis mati dari hakim atau mendekatkan diri kepada Allah.

Berdasarkan informasi yang saya dapat bahwa ada terpidana yang sangat gundah hatinya saat divonis mati. Segala upaya dilakukan oleh pengacara dan keluarganya agar bebas dari hukuman mati. Secara naluri memang wajar manusia tidak menginginkan kematian. Khairil Anwar saja dalam sajaknya mengatakan aku ingin hidup seribu tahun lagi. Bahkan di negara tertentu kematian harus dihindari dengan membuat rumah bangker (rumah bawah tanah).

Berbeda kisahnya dengan Freddy Budiman. Saya sangat salut detik-detik vonis mati Freddy Budiman dimana beliau menjadi muallaf atau masuk agama Islam. Kemudian, belajar mengaji hingga mengkhatamkan al Quran, rajin solat baik wajib dan sunahnya, pakaiannya menjadi agamis dengan berjubah warna putih, berpeci, berjidad hitam dua di keningnya dan terakhir beliau ingin dimakamkan dekat dengan ayahnya di Surabaya dengan cara islam.

Vonis mati dari pengadilan yang menjatuhkan Freddy Budiman menjadikan beliau memilih jalur taubatan nasuha. Dulu, ia adalah pemakai, pengedar, dan bandar narkoba. Bahkan tidak hanya itu, beliau adalah sering berhubungan atau berganti pasangan hidupnya alias pacarnya. Ia memilih diakhir hayatnya dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Keputusan beliau yang diakhir hayatnya memilih beristigfar dan tidak mengulangi kembali atas dosa yang pernah ia lakukan  menjadi pembelajaran buat kita. Belum tentu kita, mati dalam keadaan bertaubat. Mungkin saat ini kita merasa nyaman dengan keadaan kita sekarang. Mengapa demikian? Karena kita masih memliki kekayaan, keluarga, teman, pekerjaan, jabatan, dan sesuatu yang bernilai di dunia ini.

Komaruddin Hidayat mengajarkan kepada kita bahwa kematian harus kita sambut dengan senang hati, layaknya kita akan pulang kampung saat mudik atau layaknya kita menginginkan pulang saat jam pulang kantor. Atau juga saat anak sekolah yang menanti kapan jam pulangnya. Itulah hakikat kematian. Kematian harus disambut dengan bahagia. Kebahagiaan ini diwujudkan dengan mengucapkan salam kepada malaikat izroil dan salam kangen kepada Allah yang akan menjemput kita di Surga, karena kita akan kembali kepada yang punya yaitu Allah.

Bekal kita untuk pulang pastilah amal, bukan berapa jumlah kekayaan kita saat di dunia atau status kita saat hidup di masyarakat. Atau pula pekerjaan apa sewaktu kita hidup di dunia. Bekal seperti solat, zakat, puasa, dikir, baca al quran, berbuat baik kepada keluarga, teman, dan masyarakat sebagai ladang ibadah saat di dunia.

Orang yang dalam perjalanan pasti butuh bekal agar dalam tempat yang dituju merasa nyaman dan tenang. Orang yang akan pulang pun butuh bekal agar dalam perjalanan lancar. Demikian juga kematian, butuh bekal agar kematian kita tenang. Bekal yang terbaik menuju Allah adalah amal soleh waktu kita di dunia.

Mungkin perasaan itu ada dalam diri Freddy Budiman yang merasakan akan kepulangannya kepada TuhanNya yaitu Allah. Beliau begitu siap menjemput kematian. Saat dikunjungi oleh saudaranya, tidak ada tangisan di matanya. Ia sudah tenang dengan kehidupan saat ini. Ia melupakan masa lalunya dan bertobat.

Kita yang sekarang masih diberi kenikmatan, mungkin tidak kepikiran dan bahkan tidak ada pemikiran kapan kita akan meninggal, sehingga tidak ada upaya untuk mengumpulkan amal soleh. Kita masih bebas dengan perbuatan kita saat hidup di dunia. Merasa berbuat dosa mungkin tidak, apalagi beritigfar.

Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh kiai saya saat saya mengaji (sumber belum saya cari) dimana ada perdebatan antara malaikat yang mencatat amal baik dan buruk seorang hamba. Dimana hamba tersebut adalah hamba yang dulunya jago maksiat. Maksiat apa saja ia lakukan. Suatu ketika atas ijin Allah, dia bertobat. Kemudian, suatu hari ia meninggal dunia setelah pertobatannya. Ia meninggal dalam keadaan menuju tempat ibadah. Kemudian, malaikat baik dan buruk berdebat mengenai amal si hamba tersebut. Akhirnya, atas ijin Allah diputuskan penentuan sumber amal baik buruk hamba yang meninggal tersebut diukur dari berapa jauhnya ia meninggal dari tempat ibadahnya atau tempat maksiatnya. Karena Allah sudah mengampuni dosa-dosanya di masa yang lampau. Pengukuran tersebut dihitung dari rumah hamba tersebut.

Sekali lagi atas ijin Allah, ia meninggal dalam keadaan amal baik. Bayangkan coba, padahal secara waktu selama hidupnya ia banyak maksiat kepada Allah, namun saat Allah memanggilnya untuk pulang ke rumahnya, ia dalam keadaan iman dan islam dengan bekal amal soleh. Ia sudah menyiapkan kepulangannya kepada Allah.

Inilah yang saya perlu kita jaga amal dan keimanan kita. Memang iman sifatnya naik dan turun, oleh karenanya tugas kita menjaga agar konsisten menyembah dan mengamal baik kepada sesama. Allah tidak memberikan kita informasi kapan kita akan pulang. Nabi Muhammad Sendiri tidak mengetahui kapan wafatnya, hingga malaikat Izroil pun meminta ijin kepada Nabi Muhammad bahwa ia datang diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya.

Semoga cerita ini bisa meningkatkan dan membangkitkan keimanan dan amal soleh kita. Perbanyak istigfar dan ampunan kepada Allah atas dosa kita yang lalu, baik yang kecil atau besar. Coba bayangkan, jika kita pulang namun kita tidak punya bekal? Apa yang terjadi? Kita tidak tenang, ya pasti tidak tenang karena kita tidak memiliki sesuatu yang akan dibawa saat yang memiliki kita menanyakan waktu selama kita hidup di dunia. Waallahu ‘alam

 

Perjalanan ke Bali

31 Juli 2016

Iklan

Ayo Baca 10 kali Surat Al Ikhlas Setelah Sholat Subuh

Dari Ali bin Abi Tholib Karramallohu wajhah, bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berkata barang siapa yang membaca surat al ikhlas (qul huwallohu ‘ahad dan seterusnya) setelah sholat subuh sebanyak sepuluh kali, maka ia yang membacanya tidak akan diberi dosa pada hari itu, walaupun setan memaksa atau menggodanya (memberdayakannya). Apa itu surat al ikhlas? Yaitu surat yang diturunkan di Mekkah, terdiri dari 4 ayat, 15 kalimat, dan 40 huruf.

Dalil itu merupakan dasar yang saya gunakan dalam membaca surat al ikhlas setelah sholat subuh. Saya mendapatkan ilmu ini dari almarhum Kiai Bajuri, Pemalang. Kemudian saya mencari sumber dari kebiasaan Kiai Bajuri yang selalu membaca surat al ikhlas setelah sholat subuh.

Tepatnya, 31 Desember 1997 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1418 Hijriah saya mengaji kitab Mau’idul ‘Usfuriyah dengan K.H Abdullah Masduque, guru saya di pondok pesantren Salafiah menemukan hadis tentang keutamaan membaca surat al ikhlas setelah sholat Subuh. Memang setahu saya, hadist ini tidak berasal dari Bukhori atau Muslim yang muttafiqun ‘alaih, namun cukup bagus juga untuk kita praktekkan.

Awal saya mempraktekkan ini sewaktu saya sekolah Dasar (SD) dimana imamnya (Kiai Bajuri) membaca surat al ikhlas, namun imam yang lain saat memimpin sholat subuh tidak membacanya, bahkan di masjid atau musholla-musholla yang lain juga tidak membacanya. Perbuatan Kiai Bajuri, menjadi penasaran saya untuk mengetahui dalil atau dasar yang digunakan  oleh Kiai Bajuri tersebut.

Nah, saat saya mengaji dengan KH. Abdullah Masduque saya menemukannya, tepatnya di dalam kitab Mau’idul ‘Usfuriyah hal 15 hadis ke-16. Di dalam halaman tersebut dijelaskan secara detail faedah-faedah surat al ikhlas.

Dari inilah awal saya, rencana akan memberikan informasi ini kepada orang lain (jamaah sholat subuh di masjid saya). Saya sempat akan memberikan informasi tersebut, namun hingga beberapa hari belum menemukan hadistnya. Alhamdulillah saat tulisan ini ditulis, saya baru menemukan hadist tersebut, kemudian saya buatkan catatan di kertas yang rencananya digandakan sejumlah jamaah masjid untuk dikaji bersama. Jadi, nanti saya memberikan informasi ke jamaah lebih mantap karena sudah menemukan dalilnya. Semoga kita dapat mengekalkan bacaan sederhana ini dengan dampak yang dahsyat dalam kehidupan kita. Amin. (wallaohu’alam)

Semarang, 24 Sya’ban 1437 H

Agung Kuswantoro

Syawal dan Tanda Orang Bertakwa

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”  
QS. Al Imron: 133-135)

Ayat di atas mengingatkan kita akan tujuan orang berpuasa di bulan Ramadhan. Tujuan orang berpuasa adalah takwa, sebagaimana wasiat setiap khotib hari Jum’at. Posisi sekarang dalam kalender Islam, kita memasuki bulan Syawal, tepatnya tanggal 23. Syawal adalah bulan ke-10 dari bulan hijriyah. Arti kata syawal adalah naik, ringan, atau membawa.

Dua Cara Pandang

Memaknai kata syawal dapat dilihat dari dua cara pandang yaitu adat orang Arab dan ibadah. Islam memang turun dari tanah Mekkah, Arab Saudi. Kita harus membedakan antara kebiasaan orang Arab dan nilai-nilai Islam sendiri. Misal, orang Arab memiliki kebiasaan berpakaian jubbah bagi laki-laki baik dalam keadaan sholat atau kebiasaan kesehariannya. Demikian juga, orang Indonesia memiliki kebiasaan berpakaian sarung/celana bagi laki-laki dalam keadaan sholat. Namun, mereka melaksanakan sholat, dimana prinsipnya adalah menutup aurat.  Inilah yang saya maksud, bahwa dalam memandang Islam, juga tidak lepas dengan budaya orang Arab.

Demikian juga, kata syawal memiliki arti naik karena banyak unta-unta menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini, sehingga orang Arab memiliki kepercayaan bahwa bulan ini tidak baik dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir buruk. Hal ini berlawanan dengan orang Jawa, justru orang Jawa memandang bahwa bulan Syawal adalah “panen mantu”. Kepercayaan orang Arab yang menganggap sial saat menikah di bulan tersebut, ditepis oleh Nabi Muhammad SAW dengan pernikahan beliau dengan Aisyah dan pernikahan Fatimah dengan sahabat Ali Rodiallohu’anhu. Perbuatan Nabi Muhammad SAW yang menikah di bulan Syawal menunjukkan bahwa waktu itu milik Allah, bukan manusia. Sehingga tidak ada hari atau bulan sial.

Makna syawal dari sisi ibadah yaitu meningkat atau naik. Berbicara naik, maka benak yang ada dalam pikiran kita adalah naik dari tempat rendah ke tempat yang tinggi. Artinya, ada tahapan-tahapan atau step by step atau ada bagian yang ditinggalkan  dan ada yang dilewati.

Sederhananya, untuk melewati atau untuk naik ke suatu tempat dibutuhkan suatu bekal atau latihan. Latihan ini, dalam bahasa ibadah kita adalah Ramadhan. Ramadhan adalah sebuah sekolah yang mengkader peserta didiknya menjadi lulusan yang bertakwa dengan kurikulum sholat malam berupa sholat tarawih dan witir, puasa berupa menahan lapar di siang hari, sedekah, itikaf, tadarus al qur’an, dan kurikulum yang lainnya.

Pelajaran-pelajaran yang ada dalam kurikulum inilah yang harus kita DITINGKATKAN, yang harus kita DINAIKKAN di bulan-bulan setelah Ramadhan. Karena Ramadhan sudah mengajarkan di waktu yang sudah ditentukan yaitu 30 hari atau satu bulan.

Kita sebagai siswa atau peserta didik yang pernah belajar di sekolah Ramadhan ini, kita harus punya rencana ibadah 11 bulan berikutnya. Misal, sholat malam harus kita niati dan rencanakan kapan dan jam berapa kita bangun? Berapa ayat atau surat yang akan kita baca setiap harinya? Berapa rupiah yang akan kita sedekahkan ke sesama tiap harinya? Dan berapa kali kita akan itikaf atau sholat tahiyatul masjid setiap minggunya? Berapa pula hari yang akan kita puasai di bulan Syawal? Karena ada hadis yang menyebutkan “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasan enam hari di bulan Syawal maka dia seperti berpuasa setahun penuh (HR. Muslim no. 1164). Itulah agenda rutin yang harus di-syawalkan atau ditingkatkan. Jika kita biasa saja dalam beribadah di bulan  Syawal atau 11 bulan berikutnya, maka kita tidak menikmati Syawal, alias stagnan atau ajeg.

Tanda Orang Bertakwa

Lalu, bagaimana tanda orang lulus dari sekolah Ramadhan? Kita kembali pada paragraf awal sebagai prolog dalam tulisan ini. Ada lima tanda orang yang bertakwa, yaitu:

  1. Gemar menginfakkan harta bendanya di jalan Allah, baik dalam keadaan sempit dan lapang

(Alladina yunfiquuna fisirri wa ddorro)

  1. Mampu mengendalikan serta menahan diri dari amarah (wal kadimina ghoibi)
  2. Selalu bersifat pemaaf dan tidak pendendam kepada orang lain yang berbuat salah (wal ‘afina anin nasi)
  3. Saat terejrumus pada perbuatan keji dan dosa atau mendolimi diri sendiri, ia segera ingat kepada Allah, kemudian beristighfar dan bertobat kepada Allah atas segala perbuatan dosa yang telah dilakukannya.
  4. Secara sadar tidak mengulangi perbuatan keji dan mungkar yang pernah dilakukan

Kelima tanda orang bertakwa yang disebutkan dalam QS. Ali Imron 133-135. Insa Allah diantara tanda-tanda itu ada dalam diri kita. Jika belum ada tanda-tanda itu atau satu diantara kelima belum ada, maka saatnya kita menaikkan kualitas ibadah kita. Jangan sampai, kita stagnan atau tidak naik kelas, dikarenakan kebiasaan buruk kita atau budaya yang tidak baik di sekeliling kita. Jika tidak sekarang kapan lagi? Bukannya waktu itu milik Allah? Bukannya kematian milik Allah? Lalu, kapan tanda-tanda orang bertakwa kita dapatkan dengan waktu terus berjalan, tetapi kita tidak menaikkan ibadah kita? Wallahu alam

Demikian tulisan yang dapt saya sampaikan, simpulannya adalah :

  1. Syawal harus dimaknai dengan sisi ibawah yaitu peningkatan amalan ibadah kita kepada Allah dengan bekal sekolah Ramadhan.
  2. Syawal jangan dimaknai secara kebiasaan (adat) saja, tapi dimaknai secara ibadah
  3. Peningkatan ibadah dapat diwujudkan dengan perbuatan:
  4. Gemar berinfak
  5. Menahan diri dari amarah
  6. Bersifat pemaaf
  7. Cepat beristighfar dan bertobat, jika berbuat salah atau dosa kepada Allah.
  8. Tidak mengulangi perbuatan keji

Kelima inilah sebagai bukti lulusan sekolah Ramadhan yaitu menjadi orang yang bertakwa.

 

Daftar Pustaka:

  1. Al Qur’anul Karim. QS. Ali Imron 133-135
  2. Hadist Muslim no. 1164
  3. Zein, M. Harry. Lima Ciri Manusia Bertakwa. Republika. 19 Juli 2013
  4. El Rahman, Azam, Muhammad. Makna Syawal. kompasiana.com
  5. Wiyonggo Seto. Makna Syawal secara Bahasa. Blog pribadi Wiyonggo Seto.

Orang Kafir Susah Diajak Berpikir

 

Kalimat di atas adalah sebuah statemen dari apa yang saya peroleh setelah membaca surat Al ghosiyyah (Hari Kiamat). Dimana Allah mengajak diskusi kepada orang kafir mengenai kejadian hari kiamat. Allah memberikan empat pertanyaan kepada orang kafir yaitu:

  1. Bagaimana onta diciptakan?
  2. Bagaimana langit ditinggikan?
  3. Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
  4. Dan bagaimana bumi dihamparkan?

Pertanyaan Allah di atas terhadap orang kafir memang tidak dibalas oleh Allah dengan suatu jawaban yang detail. Tetapi, justru pertanyaan Allah menunjukkan kekuasan-Nya terhadap ciptaan-Nya. Allah mengajak kepada orang kafir untuk berpikir atas ciptaan-Nya. Seperti onta, langit, gunung, dan bumi.

Bahkan, ciptaan keempat yaitu bumi, seakan-akan bahwa bumi itu datar, dimana sekarang sedang marak ada pemikiran bahwa bumi itu datar bukan bundar. Hal ini karena doktrinisasi sejak abad yang lalu, bahwa bumi itu bundar.

Tulisan ini tidak mengkaji itu, namun lebih menekankan pada Allah memberikan pertanyaan kepada orang kafir. Ayat selanjutnya menerangkan, bahwa Nabi Muhammad selaku rosul yang menyampaikan pesan-pesan Allah itu hanya sebagai PEMBERI PERINGATAN. Namanya saja, memberi peringatan, berarti tugasnya mengingatkan. Masalah mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak, Nabi Muhammad tidak memiliki kekuatan untuk memaksa, karena Nabi Muhammad tidak bisa menguasai hati orang kafir, sebagaimana Allah mengatakan : Kamu tidak bisa menguasai hati mereka (QS. Al ghosiyyah: 22).

Sebagai orang muslim dan beriman kita harus pandai berpikir. Jangan stagnan terhadap sesuatu yang telah diciptakan Allah. Harus cerdas menangkap lingkungan yang ada di sekitar kita berupa ciptaan-ciptaan Allah. Karena Allah suka dengan orang yang berpikir. Waallohu’alam

 

Semarang, 16 Syawal 1437 H

Orang Kafir Susah Diajak Berpikir

 

 

Kalimat di atas adalah sebuah statemen dari apa yang saya peroleh setelah membaca surat Al ghosiyyah (Hari Kiamat). Dimana Allah mengajak diskusi kepada orang kafir mengenai kejadian hari kiamat. Allah memberikan empat pertanyaan kepada orang kafir yaitu:

  1. Bagaimana onta diciptakan?
  2. Bagaimana langit ditinggikan?
  3. Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
  4. Dan bagaimana bumi dihamparkan?

Pertanyaan Allah di atas terhadap orang kafir memang tidak dibalas oleh Allah dengan suatu jawaban yang detail. Tetapi, justru pertanyaan Allah menunjukkan kekuasan-Nya terhadap ciptaan-Nya. Allah mengajak kepada orang kafir untuk berpikir atas ciptaan-Nya. Seperti onta, langit, gunung, dan bumi.

Bahkan, ciptaan keempat yaitu bumi, seakan-akan bahwa bumi itu datar, dimana sekarang sedang marak ada pemikiran bahwa bumi itu datar bukan bundar. Hal ini karena doktrinisasi sejak abad yang lalu, bahwa bumi itu bundar.

Tulisan ini tidak mengkaji itu, namun lebih menekankan pada Allah memberikan pertanyaan kepada orang kafir. Ayat selanjutnya menerangkan, bahwa Nabi Muhammad selaku rosul yang menyampaikan pesan-pesan Allah itu hanya sebagai PEMBERI PERINGATAN. Namanya saja, memberi peringatan, berarti tugasnya mengingatkan. Masalah mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak, Nabi Muhammad tidak memiliki kekuatan untuk memaksa, karena Nabi Muhammad tidak bisa menguasai hati orang kafir, sebagaimana Allah mengatakan : Kamu tidak bisa menguasai hati mereka (QS. Al ghosiyyah: 22).

Sebagai orang muslim dan beriman kita harus pandai berpikir. Jangan stagnan terhadap sesuatu yang telah diciptakan Allah. Harus cerdas menangkap lingkungan yang ada di sekitar kita berupa ciptaan-ciptaan Allah. Karena Allah suka dengan orang yang berpikir. Waallohu’alam

 

Semarang, 16 Syawal 1437 H

 

Agung Kuswantoro

 

Allah Pencipta Rumput dan Manusia

 

 

Rasanya tidak imbang, bahkan terkesan hebat Allah itu. Ia menciptakan dan menumbuhkan manusia. Selain itu, juga memberi petunjuk dan peringatan kepada manusia pula. Kita tahu sendiri manusia itu makhluk yang paling sempurna ciptaannya, Allah mengatakan: Sungguh AKu (Allah) telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik bentuk (Attin – 4)

Membaca dan memperhatikan perkataan Allah di atas terasa bahwa Allah-lah yang jelas Maha Tinggi. Kemahaan-Nya diimbangi dengan menciptakan rumput. Sekali lagi rumput. Orang yang menganggap remeh tumbuhan kecil itu. Rumput biasanya tumbuh sendiri di ladang atau tanah yang tidak terurus. Dimana pun, ia bisa tumbuh, walaupun tanpa ada yang menanam.

Semakin, ia tidak terurus, semakin besar pula ia tumbuh. Maknanya, ia ada yang menciptakan. Allah mengatakan : Dan Tuhan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu menjadikan rumput itu kering kehitam-hitaman. (Al ‘ala: 4-5)

Ayat di atas, terlihat jelas Allah yang menciptakan rumput. Disisi lain, Allah yang menciptakan manusia yang serba sempurna, namun disisi lain Allah menciptakan rumput – yang orang menganggap itu tumbuhan liar. Berarti Allah-lah yang sempurna dan Maha Tinggi. Segalanya bagi Dia adalah kecil.

 

 

Semarang, 15 Syawal 1437 H

Agung Kuswantoro

Pelatihan arsip aktif di UNNES

IMG_0144
Judulnya memang mudah, namun praktek dan persiapannya lama. Sehingga saya membuat langkah kerjanya dengan membuat uruatan tahapan dalam pelatihan. Adapun urutan Tahapan dalam Pola Klasifikasi Arsip Aktif di UNNES:
1. Penjelasan materi dari modul yang akan dibagikan
2. Pembagian arsip berupa surat masuk dan keluar ke peserta pelatihan
3. Memperhatikan lembar disposisi. Diasumsikan surat tersebut diarsip. Setelah itu, surat dicatat ke buku agenda masuk – keluar
4. Mencatat arsip tersebut ke buku identifikasi arsip masuk – keluar
5. Mempola klasifikasikan arsip sesuai dengan pola klasifikasi UNNES
6. Memasukkan arsip ke dalam laci, guide, dan map ke filling cabinet
7. Mengecek arsip tersebut sesuai dengan pola klasifikasi yang telah ditentukan

Urutan Peminjaman dan Pengembalian Arsip
A. Peminjaman Arsip
1. Membagikan lembar pinjam arsip
2. Menjelaskan form isi lembar arsip pinjam arsip
3. Praktek peminjaman arsip
Arsip yang dipinjam, diambil kemudian kertas pinjam yang berwarna putih ditinggal (atau ada tanda bahwa arsip sedang dipinjam)
B. Pengembalian Arsip
1. Membagi form pengembalian arsip
2. Penjelasan form pengembalian arsip
3. Arsip yang dipinjam dikembalikan sesuai dengan pola klasifikasinya
4. Mengambil tanda bahwa arsip yang dipinjam sudah dikembalikan

Memang saya mengakui masih banyak dalam kegiatan ini, namun saya yakin memiliki manfaat yang banyak bagi peserta pelatihan, Semoga setelah pelatihan ini, kita dapat mempraktekkan arsip dan menatanya di unit kerja masing-masing.
Semarang, 21-22 Juli 2016