Jumu;ah, Solat Duhur, dan Jum’atan

 

Hari Jum’at adalah hari yang spesial bagi orang muslim. Islam mengenal jumlah hari ada tujuh yaitu hari pertama, kita sebut Ahad. Hari kedua, kita kenal Isnain. Orang jawa menyebut Senin. Hari ketiga kita kenal Tsulasa. Orang jawa menyebut Selasa. Hari keempat kita kenal Rabi’. Orang jawa menyebut Rabu. Hari kelima kita sebut Khomis. Orang jawa menyebut Kamis. Dan hari keenam, kita mengenal Assabtu. Orang jawa menyebut Sabtu. Lalu, dimana hari ketujuh atau orang mengatakan hari Jum’at? Ternyata, Allah menciptakan hari sejumlah tujuh untuk full beraktifitas atau bekerja. Ada satu hari dimana, kita diwajibkan berkumpul. Berkumpul itulah kita menyebutkan Jumu’ah. Jumu’ah dimaknai hari berkumpul. Orang jawa menyebut hari Jum’at.

Allah memerintahkan kepada umat Islam berkumpul dalam satu minggu. Berkumpul itulah identik dengan kemenangan dan kekuatan yang besar. Mengapa saya sebut kemenangan? Karena umat Islam yang telah menjalankan puasa sunah Kamis akan merayakan kemenangannya pada hari Jum’at. Sama seperti hari Idul Fitri dirayakan setelah umat Islam melaksanakan puasa. Saat berkumpul itulah menjadi pertanda dan semangat orang Islam, bahwa kita memiliki kekuatan yang besar.

Saking mulianya hari Jum’at, Allah memberikan perhatian lebih dikitab-Nya, yaitu Al qur’an. Allah memberikan salah satu nama dalam kitab suci yaitu surah al jum’ah. Penekanan tersebut pada ayat 9.

Kita perhatikan dari ayat di atas, ada beberapa hal yang menarik.

  1. Ayat tersebut ditujukan kepada orang Iman. Maknanya kewajiban sholat Jum’at tidak cukup bagi orang Islam. Dalam tauhid, kita mengenal Iman, Islam, dan Ihsan. Islam dan iman posisinya saling menguatkan. Tidak dikatakan Iman, jika tidak Islam. Iman lebih tinggi dibanding dengan Islam. Ihsan lebih tinggi dibanding dengan Iman. Sehingga kita semua yang disini, semoga termasuk orang yang beriman. Mengapa saya sebut ada pembeda antara orang beriman dan berislam. Buktinya, ada saudara kita, hati dan fisiknya belum bisa bergabung di masjid ini.
  2. Diperintahkan sholat. Kalimatnya jelas Nudiya, dimana secara bahasa artinya diperintah. Nudiya adalah mabni ma’jhul. Dengan cirinya dhomah pada awal kata, dan kasroh sebelum akhir pada kata Nudiya. Jadi logikanya, ketika ada yang diperintah, maka ada yang memerintah. Siapa yang diperintah? Yaitu Manusia. Siapa yang memerintah? Yaitu Allah.

Kaidah usul fiqih mengatakan al ashlu fil amri lil wujud, maknanya pada asalnya (setiap) perintah itu menunjukkan hukum wajib. Berarti kata diperintahkan sholat memiliki makna wajib sholat. Sholat apa yang dimaksud? Jelas dalam ayat tersebut dikatakan sholat pada hair Jum’at.

Dasar ayat ini, kemudian muncul sebuah pertanyaan sebenarnya sholat Jum’at itu posisinya seperti apa? Apakah sholat yang berdiri sendiri? Atau pengganti sholat Jum’at?

Dalam kitab Hujjah Ahlus Sunah Wal Jamaah halaman 17 bab Masalus Tsani mengenai posisi sholat sunah Jum’at. Kitab yang ditulis oleh kiai dari Jogja dengan karya mendunia yaitu Kiai Ali Maksum. Beliau mengatakan permasalahan sholat sunah ba’diah danqobliah sholat Jum’at adalah ada perbedaan pendapat. Intinya ada yang mengatakan sholat itu dua atau empat rokaat. Menariknya setelah membaca bab tersebut ada dua garis besar mengenai sholat Jum’at.

  1. Sholat Jum’at adalah sholat yang berdiri sendiri. Mengapa dikatakan sholat yang berdiri sendiri? Karena dilakukan secara berjamaah dan ada dua khutbah. Khutbah pula ada persyaratannya mulai dari ajakan bertahmid, bersolawat, bertakwa, dan berdoa. Itu semua, artinya ada tata caranya (kaifiyahnya). Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan sampai ada keterangan membawa tongkat (hadis Bukhori nomor 497)
  2. Sholat Jum’at adalah pengganti sholat duhur. Mengapa dikatakan pengganti sholat duhur? Karena :
  3. Dilakukan pada sholat duhur

Sholat Jum’at sah dilakukan, apabila dilakukan pada waktu duhur.

  1. Orang yang tidak berkewajiban sholat Jum’at, maka penggantinya adalah sholat duhur, siapa yang tidak berkewajiban sholat Jum’at? Yaitu wanita, budak/hamba sahaya, anak-anak, dan orang sakit. (HR. Bukhori Muslim no. 494).
  2. Orang yang tertinggal sholat Jum’atnya, dengan menggantikan sholat duhur. Hal diperkuat dalam hadis HR. Bukhori no. 473 yaitu barang siapa yang mendapatkan satu rokaat bersama imam, maka terhitung mendapatkan sholat itu. Jadi ia tertinggal dua rokaat, maka penggantinya adalah sholat duhur. Ada dalil

Solla ala nawa, nawa wala solla

Artinya :  sholat niat sholat Jum’at, namun niatnya tidak sholat Jum’at, yaitu sholat duhur.

Jadi perlu diketahui bahwa orang yang tertinggal dua rokaat dalam sholat Jum’at, maka penggantinya empat rokaat, sebagaimana sholat duhur.

Oleh karenanya, banyak faedah dalam fiqih untuk memuliakan hari Jum’at, salah satunya datang sebelum khotib khutbah karena Malaikat akan mencatat siapa  orang yang datang terlebih dahulu, kemudian malaikat akan menutup buku saat khotib akan menyampaikan khutbahnya.

Demikianlah tulisan yang singkat ini, semoga memberikan nilai keimanan kita dan kita bisa menghormati hari Jum’at dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Semoga Allah membimbing kita semua. Amin.

 

Semarang, 30 Agustus 2016

Agung Kuswantoro

 

Iklan

Pelatihan Digitalisasi Kearsipan

Arsip memegang peranan sangat penting bagi sebuah lembaga. Ia memberikan informasi yang dalam terhadap suatu dokumen. Oleh karenanya, keberadaannya perlu diselamatkan. Suatu kebahagiaan bagi saya, hari ini, Sabtu (27 Agustus 2016) dapat berbagi ilmu dengan Ibu/ Bapak dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan Makasar dengan jumlah peserta hanya tujuh orang.

Peserta yang dibatasi hanya tujuh orang menunjukkan keseriusan panitia dalam memberikan kualitas pelayanan kepada peserta. Saya sebagai pihak yang diundang menjadi pembicara harus memberikan ilmu kearsipan yang bermanfaat. Permintaan panitia adalah materi digitalisasi kearsipan.

Digitalisasi kearsipan adalah saat ini sedang saya kembangkan dalam penelitian saya. Alhamdulillh semoga melalui acara ini produk penelitian saya ini dapat digunakan. Bahasa saya diujicobakan atas produk penelitian saya.

Mengingat materi ini kental dengan teori dan praktek. Saya tidak sendiri. Saya dibantu oleh teman saya yaitu Trisna Novi Ashari. Acara dilakukan di hotel Ibis Yogyakarta, dimulai pukul 08.00 hingga 17.30 WIB. Durasi waktu yang panjang sehingga saya harus mengatur waktu dalam mempresentasikan setiap materi. Terlebih saya sebagai pembicara tunggal.

Semoga acara ini bermanfaat untuk peserta dan para pembaca bisa belajar dari setiap materi melalui status ini. Diniati ibadah semoga dipermudah segala sesuatu dalam pelatihan ini. Semoga Allah selalu ada di setiap langkah kita. Amin

 

Yogyakarta, 27 Agustus 2016

Agung Kuswantoro

Siapkah Nama Kita Ditulis Dipapan Itu?

 

Setiap ada orang yang meninggal mengingatkan kita akan kematian. Kematian menjadi kepastian setiap mahluk yang bernyawa. Kematian pasti akan datang pada kita, hanya waktu yang berbeda. Allah yang mengetahui kapan kita akan mengalami kematian. Jadi mati itu pasti.

Melihat papan pengumuman yang tertera di depan rumah yang meninggal, biasanya berisi “Telah meninggal dunia dengan tenang, nama, umur, meninggal jam, jenasah akan dikebumikan pada tanggal, jam pekamanan, dan informasi lainnya’.

Terasa mengena hati jika kita merasakan atau menghayati informasi atau ada orang yang memberikan kabar duka di sebuah masjid dengan informasi di atas. Dalam hati bertanya kapan kita akan disebutkan oleh mereka yang memberi pengumuman? Karena kepastian kematian ada suatu kebenaran, hanya menunggu waktu. Kemudian muncul pertanyaan apakah kelak jenasah saya ada yang menyolati, mengkafani dan mengantarkan hingga kepemakaman? Apakah nanti ada jenasah saya ada yang mendampingi dengan suara mengaji al qur’an? Apakah jenasah nanti saya ada yang mengkafani? Apakah nanti jenasah saya ada yang mengadzani dan mengiqomahti saat ditaruh diatas tanah? Apakah nanti jenasah saya ada yang mengkirimi doa setelah pemakanan? Dan pertanyaan lainnya

Jika kita perhatikan, kebanyakan orang takziyah adalah datang, duduk, bercerita, dan mengisi amplop (jika ada), dan pulang. Lupa dengan hukum wajib fardu kifayahnya, yaitu menyolati, mengkafani, atau minimal berdoa atau mengaji di depan jenasahnya. Bahkan anak yang dari yang meninggal tidak menunjukkan aktivitas ibadah fardu kifayahnya. Parahnya lagi, ia memasrahkan semuanya kepada orang yang biasa mengurus kematian.

Menurut saya kurang pas keadaan tersebut. Katakanlah yang meninggal orang tuanya. Anaknya adalah laki-laki yang sudah dewasa. Miminal anak laki-laki tersebut berdoa dan mengaji disamping orang tua yang meninggal. Bagusnya lagi, ia mengimami solat jenasahnya, kemudian mengafani, mengantarkan kepemakaman hingga ke liang lahat. Itulah cita-cita seorang anak laki-laki saat orang tuanya meninggal. Bukan dipasrahkan semua kepada orang yang biasa mengurus kematian.

Perbuatan laki-laki tersebut merupakan wujud birrul walidaian atau berbuat baik kepada kedua orang tua. Orang tua adalah surga bagi anak. Ada surga di rumah kita, yaitu memuliakan orang tua disaat hidup dan mati.

Demikian juga, jika kita menjadi anak perempuan, tidak cukup dengan merangkai bunga saja. Namun harus juga mengaji, menyolati, mengkafani, dan berdoa di samping orang tuanya.

Apa yang kita lihat dilingkungan kita belum tentu benar dan sesuai dengan tuntunan fiqih. Kita harus belajar dan mendalami untuk diri, keluarga, dan masyarakat ini. Jangan sampai, orang tua kita meninggal, malah kita sibuk dengan android dan mengaji kaset mp3.

Sebagai orang tua pun kita harus mengajarkan anak bekal agar bisa mengaji dan solat jenasah. Jangan kita mengutamakan les priivat mata pelajaran. Cobalah ajari bagaimana huruf hijaiyah, solat jenasah, cara mengkafani, cara memandikan, hingga cara mengubur. Rasanya bangga jika kita meninggal, yang mengurus kita adalah anak kita sendiri.

Mari kita belajar setiap detik dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Semoga kita bisa menjadi orang tua dan anak yang baik. Sehingga kita siap dengan kematian. Selamat datang kematian. Selamat datang malaikat Pencabut Nyawa. Selamat datang Allah. Aku bangga datang ke Surga Mu.

Semarang, 23 Agustus 2016

Agung Kuswantoro

Bicara Arsip 7 Jam Untuk Praktek 1 Minggu

 

Tidak menyangka antusias para tenaga kependidikan Fakultas Ekonomi (FE) UNNES sangat tinggi saaat rapat penataan arsip record center FE UNNES. Rapat yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB dengan dipimpin oleh Wakil Dekan bidang Administrasi Umum, Amir Mahmud, S.Pd, M. Pd.

Beliau menyampaikan FE UNNES sedang konsentrasi penataan arsip, oleh karenanya mohon semua elemen terutama tenaga tendik harus mendukung program tersebut. Saya yang didaulat menjadi koordinator dalam kegiatan ini, memaparkan teknis yang akan dilakukan. Adapun strategi saya adalah

  1. Adanya kepastian arsip yang akan disimpan di record center FE UNNES adalah berupa arsip apa? Dalam rapat tersebut dijelaskan oleh Amir Mahmud, S.Pd, M. Pd. Yaitu arsip inaktif tahun 2015.
  2. Sekaligus penataan arsip perlu dikelompokkan arsip yang semester I tahun 2016 dan arsip yang tidak penting. Arsip yang tidak penting ini akan dimusnahkan.
  3. Harus ada serahterima arsip dari subunit kerja ke unit kerja dilengkapi dengan identitas arsip dan berita serah terima arsip dari subunit ke unit kerja.
  4. Para pegawai subunit kerja akan didampingi oleh mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran dalam pencarian arsip inaktif.
  5. FE UNNES akan menyelenggarakan pelatihan kearsipan identifikasi arsip dan pola klasifikasi untuk tenaga kependidikan selama dua hari.
  6. Jika arsip sudah diserahterimakan dari subunit kerja ke unit kerja, maka ada pendampingan kearsipan dari UPT Kearsipan di record center FE UNNES.

Rapat selesai jam 12.00 WIB, kemudian, ditindaklanjuti dengan rapat pemantapan tim pendamping arsip yaitu empat belas mahasiswa. Mereka akan mendampingi Bapak/ Ibu tendik dalam pencarian arsip inaktif tahun 2015 sekaligus identifikasi arsipnya. Rapat dengan mahasiswa pun berlangsung hingga pukukl 15.30 WIB. Setelah itu, ada tendik dari akuntansi menghubungi saya terkait pola klasifikasinya. Saya diruang tendik tersebut hingga pukul 16.00 WIB. Mantap sudah saya bicara arsip selama tujuh jam untuk satu minggu praktek kearsipan. Semoga langkah ini bisa berjalan lancar dan diridhoi oleh Allah SWT agar UNNES ini dapat memberikan pelayanan dengan prima.

 

Semarang, 22 Agustus 2016

Agung Kuswantoro, dosen UNNES HP 08179599354

Upacara Kemerdekaan dan Jaga Hati

 

Sepintas memang tidak korelasi atau kaitan antara variabel upacara kemerdekaan dengan jaga hati. Upacara kemerdekaan dihadiri oleh pejabat tinggi hingga pegawai biasa. Pastinya mereka berpakaian lengkap dengan asesoris dan atribut dengan sandi-sandi lembaganya. Apa kesannya saat mereka memakai baju kebesarannya? Jawabannya adalah gagah. Mulai dari kepala hingga kaki mereka pasti memakai penutup yang terbaik, terlebih di hari spesial.

Saat kita merasa gagah, mungkin kita lupa untuk menjaga hati. Menjaga hati yang seperti apa? Lupa sebenarnya kita kecil di mata Allah. Kita merasa besar saat kita di depan orang yang merasa kecil. Katakanlah, kita datang sebagai penerima penghargaan atau tamu undangan atau pula inspektur upacara, mungkin kita merasa hebat saat posisi di depan peserta upacara.

Jika perasaan gagah itu kita muncul, mari kita beristigfar bersama mungkin itu salah satu bagian terkecil penyakit hati. Lalu, bagaimana sikap kita? Saat kita di depan peserta, mari kita jaga hati dengan perbanyak istigfar atau merundukkan hati kita untuk merendahkan derajat kita di mata Allah.

Sepele memang rasa gagah itu muncul, namun efek perbuatan tersebut berdampak pada hati kita. Awal penyakit hati bisa jadi muncul dari perasaan ini. Perasaan ini harus kita bendung dengan kuat dengan perkuat iman. Apa pun jabatan kita selama kita hidup di dunia, pasti sifatnya sementara dan tidak abadi.

Mari kita jaga hati kita dengan perbanyak istigfar. Jaga perasaan kita saat kita menjadi pejabat. Apa pun perbuatan, tingkah laku, dan ucapan kita pasti di dengar oleh bawahan kita. Jika kita berkata kasar kepada bawahan kita, maka mereka akan kecewa. Apalagi saat kita berdiri dihadapa mereka dengan perasaan gagah, maka itulah awal penyakit hati.

Tulisan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga agar senantiasa menjaga hati. Dan mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk pembaca. Tidak ada maksud untuk ngerasi orang lain. Semoga Allah menjaga hati kita. Amin

Semarang, 17 Agustus 2016

Agung Kuswantoro, email agungbinmadik@gmail.com

Anak Orang Lain Ku Didik Tapi Anakku, Ku Titipkan

 

Judul itulah mungkin yang dirasakan oleh guru TK atau PAUD, dimana sekolah yang bersangkutan tidak ada penitipan anak. Jadi ia mengajar di TK, namun ia memiliki anak kecil yang butuh kasih sayang. Sehingga menjadi dilema baginya yaitu ia mendidik anak orang lain, namun di waktu yang sama ia memiliki anak yang dititipkan (baca : didik) oleh orang lain. Bisa juga dititipkan kepada neneknya atau tetangganya atau pula pembantu rumah tangga.

Aneh rasanya, anak sendiri kita sekolahkan atau dititipkan, namun anak orang lain kita didik. Kita mendidik orang lain karena tuntutan pekerjaan, namun hasil dari kerja tersebut justru kita belanjakan untuk membayar anak menyekolahkan di tempat lain. Hati seorang ibu jika mengalami hal yang demikian, pasti gundah. Jika kita akan menghitung secara matematis antara penghasil pekerjaan dengan menitipkan atau menyekolahkan anak yang membutuhkan kasih sayang, saya rasa akan imbang. Ketemunya impas. Bahkan akan lebih menguntungkan jika anak kita, kita didik dengan tangan dan hati kita sendiri. Kita akan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan setiap detik anak kita. Orang lain belum tentu, mendidik anak kita dengan hati yang penuh kasih sayang. Namanya saja manusia, punya keterbatasan dalam kemampuannya. Jika ia capek, kemungkinan besar ia juga akan emosi. Terlebih saat, anak dalam keadaan rewel. Belum tentu orang lain yang mengurusi anak kita sesabar orang tuanya saat mengasihinya.

Sebuah harga mahal memang mendidik anak. Namun berapa pun mahalnya, bukan masalah bagaimana cara membayarnya. Kita harus memahami anak memiliki hak, salah satu haknya adalah dididik dan dikasihi. Demikian juga, orang tua memiliki kewajiban terhadap anak berupa memberikan kasih saya dan mendidik kepada anak. Akan menjadi indah bila kewajiban dan hak anak kita lakukan secara adil.

Jika demikian, jika anak kita didik kepada orang lain. Atau bahasa saya adalah anak kita pasrahkan kepada orang lain, berarti ia telah memberikan kewajibannya kepada orang lain pula. Lantas, dimana kewajiban kita sebagai orang tua? Memang permasalahan ini tidaklah mudah. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kekuatan terbesar dalam kerajaan cinta rumah tangga adalah suami dan istri. Suami harus mampu memberikan arahan kepada istri. Demikian juga istri harus mampu mengomunikasikan kepada suami menganai keadaan yang terjadi di kerajaan rumah tangga cintanya.

Hak dan kewajiban anak perlu kita pahami secara baik dari sisi psikologi dan agama. Demikian juga hak dan kewajiban istri dan suami harus kita kaji dari sisi perkembangan anak dan agama. Orang tua, dalam hal ini suami dan istri pasti tidak egois. Ia pasti akan mementingkan keluarga, baik itu anaknya, maupun orang yang terdapat di keluarganya. Orang lain seperti nenek, kakek, pembantu rumah tangga, dan penitipan anak itu hanya nomor dua. Nomor satu tetap ibu dan bapak. Ibu dan bapak adalah manajer terbesar dari sebuah kerajaan cinta rumah tangga. Jika manajernya berkualitas, pasti keluarganya pun akan memberikan nilai yang berkualitas pula. Yuk, kita didik dan kasihi anak kita sesuai dengan hak dan kewajiban kita sebagai orang tua. Berikan hak anak sesuai dengan anjuran yang tertulis dalam agama.

Nb : tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajari, apalagi menyindir dan ngerasi orang lain, namun untuk merefleksi diri saya sendiri agar menjadi lebih baik.

Semarang, 18 Agustus 2016

Agung Kuswantoro

Buku Kepemimpinan

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur terhadap Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada penulis yang telah menuntaskan sebuah modul kepemimpinan. Mudol yang disusun berdasarkan berbagai sumber dan contoh yang ada di lingkungan sekitar diharapkan dapat mempermudah pembaca, khususnya mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran dan manajemen yang sedang belajar mata kuliah kepemimpinan.

Materi-materi yang terangkum dalam bahan ajar Dr. S. Martono, M.Si dideskripsikan dan diperjelas melalui modul ini. Pengalaman-pengalaman beliau selama menjadi pemimpin menjadi dasar dalam penyusunan modul ini. Setiap bab dalam modul ini dilengkapi dengan contoh dan simpulan di akhir pembahasan.

Ada Sembilan bab dalam modul ini yaitu kepemimpinan, teori kepemimpinan, kekuasaan dan pengaruh, gaya kepemimpinan, karaketristik kepemimpinan, karakteristik kepemimpinan filofosi Jawa, kepemimpinan transaksional dan transformasional, konflik organisasi, dan kepemimpinan karismatik.

Pastinya tidak ada gading yang retak. Penulis membutuhkan masukan dari  para pembaca terkait modul ini melalui email agungbinmadik@gmail.com. Atau sma/WA 08179599354

 

Semarang, 1 Agustus 2016

Dr. S. Martono, M.Si

Agung Kuswantoro, S.Pd. M.Pd

 

 DAFTAR ISI

 

BAB I    KEPEMIMPINAN…………………………………………………………………………..      1

  1. Pengertian Kepemimpinan……………………………………………………………. 1
  2. Hakikat Kepemimpinan………………………………………………………………… 4
  3. Perbedaan Kepemimpinan dan Manajer………………………………………….. 5
  4. Mitos-mitos Kepemimpinan………………………………………………………….. 6
  5. Kerangka Interaksional Kepemimpinan………………………………………….. 8
  6. Perempuan dalam Peran Kepemimpinan…………………………………………. 18
  7. Contoh ………………………………………………………………………………………. 19
  8. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 20

BAB II  TEORI KEPEMIMPINAN………………………………………………………………    21

  1. Teori Sifat…………………………………………………………………………………… 21
  2. Teori Perilaku……………………………………………………………………………… 26
  3. Teori Situasional………………………………………………………………………….. 29
  4. Contoh ………………………………………………………………………………………. 37
  5. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 37

BAB III KEKUASAAN DAN PENGARUH………………………………………………….    39

  1. Pengertian Kekuasaan………………………………………………………………….. 39
  2. Pengertian Pengaruh…………………………………………………………………….. 39
  3. Mengukur Kekuasaan dan Pengaruh ……………………………………………… 40
  4. Simbol Kekuasaan Pemimpin………………………………………………………… 40
  5. Sumber Kekuasaan Pemimpin……………………………………………………….. 41
  6. Generalisasi Kekuasaan dan Pengaruh……………………………………………. 44
  7. Motif Pemimpin………………………………………………………………………….. 44
  8. Motivasi untuk Mengelola…………………………………………………………….. 45
  9. Temuan-temuan…………………………………………………………………………… 46
  10. Jenis-jenis Taktik Mempengaruhi…………………………………………………… 47
  11. Contoh ………………………………………………………………………………………. 49
  12. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 49

BAB IV GAYA KEPEMIMPINAN………………………………………………………………    50

  1. Pengertian Gaya Kepemimpinan……………………………………………………. 50
  2. Gaya Dasar Kepemimpinan…………………………………………………………… 51
  3. Gaya Umum Kepemimpinan ………………………………………………………… 59
  4. Gaya Kepemimpinan Kontinum…………………………………………………….. 62
  5. Empat Sistem Manajemen dari Lekert……………………………………………. 65
  6. Contoh ………………………………………………………………………………………. 68
  7. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 69

BAB V KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN (1) ……………………………………..    70

  1. Memiliki Kematangan Spiritual……………………………………………………… 70
  2. Kematangan Mental…………………………………………………………………….. 70
  3. Kematangan Sosial………………………………………………………………………. 70
  4. Kematangan Emosi …………………………………………………………………….. 71
  5. Kematangan Fisik………………………………………………………………………… 71
  6. Kewibawaan……………………………………………………………………………….. 72
  7. Ulet dan Rajin…………………………………………………………………………….. 72
  8. Jujur…………………………………………………………………………………………… 73
  9. Kemampuan Berkomunikasi…………………………………………………………. 73
  10. Memiliki Keterampilan Teknis dalam Bidang Manajemen………………… 73
  11. Mempunyai Keinginan untuk Menjadi Pemimpin…………………………….. 76
  12. Memiliki Rasa Tanggung Jawab yang Tinggi…………………………………… 76
  13. Contoh……………………………………………………………………………………….. 77
  14. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 79

BAB VI  KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN FILOSOFI JAWA (2)……….    80

  1. Hasta Brata…………………………………………………………………………………. 80
  2. Laku Spiritual dan Ajaran Hasta Brata Soeharto……………………………… 82
  3. Prinsip Sufistik dan Falsafah Kepemimpinan Sri Sultan HB IX………… 83
  4. Biografi, Pemikiran, dan Falsafah Kepemimpinan Jokowi………………… 85
  5. Contoh ………………………………………………………………………………………. 87
  6. Simpulan ……………………………………………………………………………………. 88

BAB VII KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN

                TRANSFORMASIONAL………………………………………………………………..    89

  1. Kepemimpinan Transaksional………………………………………………………… 89
  2. Kepemimpinan Transformasional…………………………………………………… 93
  3. Contoh……………………………………………………………………………………….. 104
  4. Simpulan…………………………………………………………………………………….. 104

 

BAB VIII KONFLIK ORGANISASI……………………………………………………………. 106

  1. Pengertian ………………………………………………………………………………….. 106
  2. Pandangan Tentang Konflik ………………………………………………………… 107
  3. Penyebab Konflik ……………………………………………………………………….. 110
  4. Jenis-Jenis Konflik………………………………………………………………………. 112
  5. Resolusi Konflik …………………………………………………………………………. 114
  6. Contoh ………………………………………………………………………………………. 116
  7. Simpulan ……………………………………………………………………………………. 116

BAB IX KEPEMIMPINAN KARISMATIK………………………………………………… 118

  1. Pengertian Pemimpin Karismatik…………………………………………………… 118
  2. Teori Atribusi……………………………………………………………………………… 119
  3. Teori House………………………………………………………………………………… 120
  4. Indikator Karismatik……………………………………………………………………. 121
  5. Ciri dan Perilaku Pemimpin…………………………………………………………… 121
  6. Ciri dan Perilaku Pengikut……………………………………………………………. 122
  7. Bilamana Muncul………………………………………………………………………… 122
  8. Unsur-Unsur……………………………………………………………………………….. 123
  9. Sisi Positif………………………………………………………………………………….. 124
  10. Sisi Negatif…………………………………………………………………………………. 125
  11. Keterbatasan……………………………………………………………………………….. 127
  12. Contoh……………………………………………………………………………………….. 129
  13. Simpulan ……………………………………………………………………………………. 130

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………… 132

LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………………. 135

GLOSARIUM ……………………………………………………………………………………………… 142

INDEKS……………………………………………………………………………………………………….. 145

BIODATA PENULIS 1…………………………………………………………………………………. 147

BIODATA PENULIS 2…………………………………………………………………………………. 149

Previous Older Entries