Anak Orang Lain Ku Didik Tapi Anakku, Ku Titipkan

 

Judul itulah mungkin yang dirasakan oleh guru TK atau PAUD, dimana sekolah yang bersangkutan tidak ada penitipan anak. Jadi ia mengajar di TK, namun ia memiliki anak kecil yang butuh kasih sayang. Sehingga menjadi dilema baginya yaitu ia mendidik anak orang lain, namun di waktu yang sama ia memiliki anak yang dititipkan (baca : didik) oleh orang lain. Bisa juga dititipkan kepada neneknya atau tetangganya atau pula pembantu rumah tangga.

Aneh rasanya, anak sendiri kita sekolahkan atau dititipkan, namun anak orang lain kita didik. Kita mendidik orang lain karena tuntutan pekerjaan, namun hasil dari kerja tersebut justru kita belanjakan untuk membayar anak menyekolahkan di tempat lain. Hati seorang ibu jika mengalami hal yang demikian, pasti gundah. Jika kita akan menghitung secara matematis antara penghasil pekerjaan dengan menitipkan atau menyekolahkan anak yang membutuhkan kasih sayang, saya rasa akan imbang. Ketemunya impas. Bahkan akan lebih menguntungkan jika anak kita, kita didik dengan tangan dan hati kita sendiri. Kita akan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan setiap detik anak kita. Orang lain belum tentu, mendidik anak kita dengan hati yang penuh kasih sayang. Namanya saja manusia, punya keterbatasan dalam kemampuannya. Jika ia capek, kemungkinan besar ia juga akan emosi. Terlebih saat, anak dalam keadaan rewel. Belum tentu orang lain yang mengurusi anak kita sesabar orang tuanya saat mengasihinya.

Sebuah harga mahal memang mendidik anak. Namun berapa pun mahalnya, bukan masalah bagaimana cara membayarnya. Kita harus memahami anak memiliki hak, salah satu haknya adalah dididik dan dikasihi. Demikian juga, orang tua memiliki kewajiban terhadap anak berupa memberikan kasih saya dan mendidik kepada anak. Akan menjadi indah bila kewajiban dan hak anak kita lakukan secara adil.

Jika demikian, jika anak kita didik kepada orang lain. Atau bahasa saya adalah anak kita pasrahkan kepada orang lain, berarti ia telah memberikan kewajibannya kepada orang lain pula. Lantas, dimana kewajiban kita sebagai orang tua? Memang permasalahan ini tidaklah mudah. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kekuatan terbesar dalam kerajaan cinta rumah tangga adalah suami dan istri. Suami harus mampu memberikan arahan kepada istri. Demikian juga istri harus mampu mengomunikasikan kepada suami menganai keadaan yang terjadi di kerajaan rumah tangga cintanya.

Hak dan kewajiban anak perlu kita pahami secara baik dari sisi psikologi dan agama. Demikian juga hak dan kewajiban istri dan suami harus kita kaji dari sisi perkembangan anak dan agama. Orang tua, dalam hal ini suami dan istri pasti tidak egois. Ia pasti akan mementingkan keluarga, baik itu anaknya, maupun orang yang terdapat di keluarganya. Orang lain seperti nenek, kakek, pembantu rumah tangga, dan penitipan anak itu hanya nomor dua. Nomor satu tetap ibu dan bapak. Ibu dan bapak adalah manajer terbesar dari sebuah kerajaan cinta rumah tangga. Jika manajernya berkualitas, pasti keluarganya pun akan memberikan nilai yang berkualitas pula. Yuk, kita didik dan kasihi anak kita sesuai dengan hak dan kewajiban kita sebagai orang tua. Berikan hak anak sesuai dengan anjuran yang tertulis dalam agama.

Nb : tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajari, apalagi menyindir dan ngerasi orang lain, namun untuk merefleksi diri saya sendiri agar menjadi lebih baik.

Semarang, 18 Agustus 2016

Agung Kuswantoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: