Cerdas Memaknai 10 Muharrom

 

 

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam empat bulan itu (QS. At Taubah: 36).

 

10 Muharrom adalah hari yang spesial bagi orang muslim. Banyak peristiwa yang sangat monumental bagi kita, sebagai orang muslim. Peristiwa tersebut berasal dari luar negeri dan dalam negeri, serta lingkungan sekitar. Apa saja peristiwa itu?

 

  1. Karbalah

 

Karbalah sebuah tempat di Irak. Terjadi pertempuran yang sangat terkenal yang disebut dengan pertempuran karbalah. Terjadi pada tanggal 10 Muharrom tahun ke-61 dari kalender Islam (9/10 Oktober 680 M). Perang terjadi antara pendukung dan keluarga cari cucu Muhammad, Husain bin Ali dengan pasukan militer yang dikirim oleh Yazid bin Muawiyah, khalifah Bani Umayyah pada saat itu. Hasil pertempuran tersebut adalah terbunuhnya seluruh pasukan Husain bin Ali kecuali Ali Zainal Abidin, sehingga dimenangkan oleh pasukan Bani Umayyah. Secara logika memang dimenangkan oleh Bani Umayyah karena pasukannya berjumlah 10.000 tentara, sedangkan Bani Ali pasukannya berjumlah 72 tentara.

 

Meninggalnya komandan Husain bin Ali yang sahid di medan perang menjadikan pengikutnya merayakan dengan memukul diri (dada, pipi, dan kepala). Para pengikutnya mengatakan dengan melukai diri sendiri akan bertemu sahabat Husein dan masuk surga. Karena sahabat Husain meninggal dalam keadaan jihad membela agama Allah, bahkan meninggalnya dipenggal kepalanya.

 

Kita sebagai orang muslim harus cerdas menanggapi fenomena ini. Allah berfirman : Dan, Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tidaklah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, diwaktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka sendiri kecuali kebinasaan belaka (QS. Al Hud: 101).

 

Dari ayat tersebut, jelas kita sebagai muslim tidak diperkenankan untuk melukai diri sendiri. Apalagi melukai orang lain. Rasa aman harus kita jaga. Aman dari perkataan yang tidak baik terhadap orang lain. Aman dan tenang dalam diri seseorang harus dijaga, apalagi melukai atau melukai orang lain. Islam mengajurkan untuk mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri.

 

  1. Menyantuni anak yatim

 

10 Muharrom menjadikan seorang muslim sebagai momentum lebaran anak yatim (Idul Yatama). Nabi Muhammad SAW memang terlahir yatim, sehingga ia dekat dengan anak yatim. Psikologi anak yatim berbeda dengan psikologi anak yang lengkap kedua orang tuanya. Sehingga saat kita membantu kepada anak yatim, bukan semata-mata harta atau material menjadi kunci utama. Tetapi, justru bantuan yang bersifat psikis berupa motivasi berjuang hidup lebih dibutuhkan. Namanya saja ANAK yatim, bukan DEWASA yatim. Jadi posisi saat anaklah dibutuhkan penguatan dalam hidup. Kemudian, saat dewasa, ia harus pandai mengambil sikap.

 

Kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan anak yatim sebagaimana hadist Bukhori yaitu kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini. Makna hadist ini menunjukkan Nabi Muhammad SAW mengetahui secara pasti kondisi batin dan lahirnya anak yatim. Masa lalu kegigihan Nabi Muhammad SAW dalam menjalani hidup menjadi teladan bagi kita, dimana beliau yang terlahir yatim namun mampu menjadi pemimpin yang berkelas dunia dan akhirat.

 

 

Adapun dalil berupa mengkhususkan menyantuni anak yatim saat 10 Muharrom, sampai saat ini saya belum menemukan. Maknanya menyantuni anak yatim itu tiap waktu dan tiap saat. Tidak terbatas pada tanggal 10 Muharrom saja. Maknanya tidak menspesialkan menyantuni 10 Muharrom saja. Memang ada hadist yang mengatakan: Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim di hari 10 Muharrom, maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat. Hadist tersebut menurut pendapat ulama perlu mendapat perhatian, terutama jalur sanad hadist ini terdapat seorang perowi, Habib bin Ali Habib yang matruk (ditinggalkan). Oleh karenanya, kevaliditasannya hadist tersebut perlu dikaji (wa’allahu’alam).

 

  1. Bulan bencana (sial)

 

Anggapan ini sering kita dengan bahwa Muharrom adalah bulan bencana/sial, sehingga kita sering mendengar dan merasakan tidak ada perayaan atau pesta/ hajat atau dhuwe gawe dilakukan pada bulan ini. Mereka beranggapan jika melakukan hajat di bulan tersebut akan bernasib sial. Bahkan saat anak mau pergi ke suatu tempat, orang tua selalu berpesan untuk berhati-hati, atau jangan kebut-kebutan, nanti bisa celaka, jika kamu melakukannya di bulan ini.

 

Oleh karenanya, pernah kita melihat acara ruwatan atau pembersihan tujuannya agar terbebas dari kotoran. Itulah jawaban orang yang meyakini akan ritual tersebut.

 

Lalu, bagaimana Islam memandangnya? Adakah bulan sial? Allah berkata: Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati, dan kita hidup dan tidak ada yang membiasakan kita selain waktu. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja (QS. Al Jatsiyah: 24).

 

Jadi, kita sebagai orang muslim harus cerdas bahwa kematian dan kehidupan itu milik Allah. Waktu milik Allah. Kematian tinggal menunggu waktunya. Bukan menjelekkan waktu atau menjelekkan kematian di bulan Muharrom.

 

  1. Puasa 10 Muharrom

 

Bulan muharrom merupakan bulan yang agung. Terdapat banyak keutamaan-keutamaannya, diantaranya puasa. Berpuasa 10 Muharrom hukumnya sudah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Bukhori yaitu Dahulu Rasulullah shollaallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa dihari Asyuro. Dan ketika puasa ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin tidak puasa, ia boleh berbuka.

 

Makna hadis tersebut bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan puasa di bulan tersebut yaitu pada tanggal 10. Anjuran ini sangat kuat karena Muharrom adalah bulan yang mulia sehingga amalan-amalannya pun menjadi istimewa. Keutamaan puasa pada Asyuro adalah bisa menghapus dosa-dosa setahun yang sudah lewat.

 

 

Marilah kita sebagai muslim harus cerdas menanggapi fenomena di atas, yaitu:

  1. Karbalah, dimana menyakiti diri sendiri.
  2. Menyantuni anak yatim yang tak terbatas hanya pada bulan Muharrom.
  3. Tidak ada bulan bencana/ sial yang Allah tetapkan.
  4. Berpuasa di tanggal 10 Muharrom karena amalan tersebut memiliki keutamaan yaitu mampu menghapus dosa selama setahun yang sudah terlewati.

 

 

 

Kecerdasan itu dengan mengembalikan makna Muharrom itu sendiri yaitu Haram atau Suci. Ya bulan suci, kita  harus mensucikan dengan memperbanyak amalan sedekah, puasa, baca Al qur’an, silaturrohim, dan amalan lainnya. Bukan semata-mata mengkultuskan bulan tersebut. Mari perbanyak isighfar dan pertebal keimanan kepada Allah SW. semoga kita menjadi hamba yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Amin.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: