Menaikkan Status Menjadi “Alim

Oleh Agung Kuswantoro

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al ‘alaq : 1-5)

Seorang muslim seharusnya suka membaca. Namun, ironis Indonesia dimana penduduk yang banyak muslim, bahkan terbesar muslimnya di dunia, namun minat bacanya rendah. Berdasarkan survey UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 %. Artinya dalam seribu masyarakat hanya ada 1 masyarakat yang memiliki minat baca. Minat baca masyarakat Indonesia sangat minim sekali. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60. Ini artinya Indonesia masih setara dengan negara Afrika Selatan (www.gobekasi.pojoksatu.id. Data 19 Mei 2016).

Melihat data tersebut, dapat dikatakan keingintahuan masyarakat Indonesia terhadap suatu ilmu masih rendah. Padahal Allah memerintahkan membaca tak cukup sekali. Dalam satu surat saja ayat (1-5) perintah membaca ada dua kali. Maknanya, jika kita mebaca sekali, mungkin belum memahami. Kemudian kita baca ulang, maka barulah memahaminya.

Tujuan kepada siapa yang harus membaca, jelas pada orang muslim. Mengapa demikian? Karena al qur’an diturunkan kepada orang muslim. Tugas seorang muslim adalah mengamalkannya. Ternyata mengamalkan tidaklah mudah, dibutuhkan usaha dan langkah yang konkret.

Menengok ke belakang, ternyata semangat Nabi Muhammad SAW untuk membaca dimulai umur 40 tahun, semenjak ayat tersebut diturunkan. Posisi Nabi Muhamad SAW, bahkan ummi atau tidak bisa membaca dan menulis. Namun, meskipun umur 40 tahun, motivasi beliau sangat tinggi dengan bertanya kepada Malaikat Jibril. “Ma ana bi qori” atau “apa yang saya baca”. Ini menunjukkan bahwa kita dianjurkan untuk belajar.

Jika, kita membaca maka yang kita dapat berupa ilmu. Ilmu inilah menjadi kunci atau tujuan yang akan diperoleh jika kita rajin membaca. Bahkan Allah menyandingkan orang yang berilmu dengan orang beriman sebagaimana firman Allah:”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” (QS. 58 (Al mujadilah) : 11)

Berdasarkan ayat di atas, tegas sekali Allah menempatkan orang berilmu dengan beriman. Kata penghubungnya atau huruf athof-nya wawu atau wa. Huruf athof wawu memiliki keistimewaan tersendiri dari huruf athof lainnya, yaitu untuk melengkapi suatu pernyataan. Maknanya ayat di atas bahwa orang yang berilmu berfungsi untuk melengkapi pernyataan karena itu tidak boleh kita mengatakan “Allah meninggikan orang beriman saja” karena masih ada lanjutannya atau huruf athof-nya.

Lalu, muncul pertanyaan. Siapakah orang yang berilmu? Mari kita kaji. Bayangkan saja orang yang berilmu, pasti ada pembeda dengan orang yang belum berilmu. Dalam ilmu fiqih, ada istilah ‘alim dan ‘abid. ‘Alim atau yang berilmu dan ‘abid atau ahli ibadah. Jelas ada pembeda, antara ahli ilmu dan ahli ibadah.

Misal, ‘alim mengetahui suatu pekerjaan yang ia lakukan. Ia sholat. Ia mengetahui mana wajibnya, mana sunnahnya, mana rukunnya, mana syaratnya, mana haramnya, dan mana makruhnya. Ia sholat mengetahui rukun sholatnya mulai dari niat, takbirotul ihrom, baca al fatihah, rukuk, iktidal, hingga salam. Bahkan tidak cukup mengetahui, tetapi paham apa yang diucapkan, bahkan filosofinya, seperti takbirotul ihrom. Takbir yang diharamkan. Mengapa namanya takbir yang diharamkan? Karena setelah mengucapkan takbir tersebut, kita diharamkan untuk makan, minum, tidur, jalan, dan aktifitas lainnya. Haram untuk bertindak atau beraktifitas sebagaimana orang bekerja. Namun saat takbir, hanya satu perbuatan yaitu sholat. Dinamakan haram karena untk mensucikan atas perbuatan tersebut.

‘Alim atau orang berilmu mengetahui apa yang ia baca dan lafalkan, bahkan ada yang menangis. Lantas kita bertanya, mengapa orang tersebut hanya takbir saja bisa menangis? Jawabannya karena dia orang ‘alim. Ia mengetahui hakikat yang ia lafalkan. Ia pasti bisa membaca. Ia pasti dapat memaknai. Dan, ia pasti bisa menghadirkan hatinya dalam perbuatan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan orang yang ‘abid atau ahli ibadah? Ia hanya melakukan saja. Ia sekedar melaksanakan dari apa yang ia ketahui. Ia belum memahami filosofi atau makna yang ia kerjakan. Sekedar melakukan saja. Jika ia takbir, ia hanya melakukan takbir. Tanpa mengetahui hakikat takbir. Bahkan ia tidak merasakan, apa yang ia ucapkan. Tak berasa, apalagi mengajak hati untuk berinteraksi dalam perbuatan tersebut. Apalagi menangis atau menyesali perbuatannya.

Singkatnya, ‘alim adalah orang yang gemar membaca. Ia rajin membaca apa saja. Ia merasa haus dengan informasi atau ilmu. Ia membutuhkan asupan. Asupan buku yang sangat berbobot. Jika ia ingin sholat yang khusuk, maka ia akan membaca buku fiqih. Jika ia ingin memahami al qur’an, maka ia akan membaca tajwid dan tafsirnya. Jika ia ingin mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW, maka ia akan membaca tarikh Nabi Muhammad SAW. Jika ia ingin pandai berbisnis, maka ia akan membaca buku tentang kewirausahaan. Jika ia ingin menjadi ahli publik speaking, maka ia akan membaca buku komunikasi. Dan ilmu-ilmu lainnya.

Maknanya, ilmu tak sekedar ilmu agama saja. Apa yang kita baca itulah ilmu. Hanya penekanannya, bingkailah ilmu dengan iman. Apa pun ilmunya, jika ilmu dibingkai dengan iman, maka ilmu itu sesuai apa yang anjurkan oleh Rosululloh.

Misal, orang berjualan atau berniaga. Jika ia mengunakan ilmu, maka ia pasti jujur dalam menakar timbangan. Guru fisika mengenalkan gerhana matahari atau bulan kepada siswanya, maka ia akan mentasbihkan atau mensucikan ciptaan Allah. Seorang politikus saat berorasi, maka ia akan selalu memegang janji dan menjalankan amanah jabatannya. Itulah contoh sederhana ilmu apa pun yang dibingkai oleh iman.

Lalu, bagaimana dengan kita agar menjadi orang berilmu? Jawabannya, buatlah majlis-majlis ilmu dimanapun dan kapanpun. Bisa di indekos atau masjid, setiap seminggu sekali atau sebulan sekali. Tujuannya agar mengenal ilmu-ilmu Allah. Misal seminggu sekali atau ba’da subuh/ maghrib ada kajian agama yang membahas masalah sholat atau cara membaca dan memahami makna al qur’an. Agar kita semua mengetahui hakikat sholat itu sendiri. Kita mengetahui essensi sholat, hingga pada hukum-hukumnya. Jangan yang kecil dibesarkan, tapi yang besar, malah kita tidak mengamalkan. Memperdebatkan masalah qunut atau tahlil, tapi tidak mengetahui hakikatnya. Malahan yang bersangkutan tidak mengetahui dalilnya.

Demikian juga, belajar ilmu tajwid dan tafsir alquran. Apa itu idhar, idhom bi gunnah, idhom bila hunnah, ikhfa, mad, qonnah, dan yang lainnya. Belum lagi tanda baca, apa itu waqof dan apa itu wasal. Atau bacaan-bacaan aneh atau ghorib seperti imalah, bacaan ana, saktah, dan lainnya.

Pastinya, ini semua Allah menciptakan bacaan-bacaan itu ada maksudnya. Itulah tuntutan orang Islam agar belajar atas ilmu-ilmu Allah. Sehingga wajar jika ada orang membaca atau mendengarkan al qur’an ada yang menangis hatinya dan air matanya. Itu karena ia orang berilmu. Ia paham akan apa yang dibaca, diucapkan, dan dimasukkan dalam hati, serta mempraktekkannya.

Bagaimana dengan kita? Marilah belajar dan membaca dan mengkaji ilmu dengan membuat majlis. Jangan sampai yang kita lafalkan hanya sekedar hafalan. Doa-doa yang kita ucapkan hanya hafalan, tanpa mengetahui makna dan hakikatnya. Sehingga kita tidak ada bedanya dengan orang yang hafalan kalimat atau lagu. Jadilah orang yang berilmu. Naikkan status kita dari ‘abid atau ahli ibadah menjadi ‘alim atau orang berilmu. Rajin bacalah buku-buku apa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita. Lalu, tulislah agar membekas di ingatan kita dan orang lain bisa membacanya. Lalu, amalkanlah. Semoga kita semua termasuk orang yang berilmu. Amin.

Semarang, 9 November 2016

Daftar Pustaka
1. Al qur’anul Karim
2. Survei UNESCO: Minat Baca Masyarakat Indonesia 0,001 persen. Kamis, 19 Mei 2016
3. Mudrajad, Kuncoro. 2009. Mahir Menulis: Kiat Jitu Menulis Artikel OPini, Kolom dan Resensi Buku. Jakarta: Erlangga.
4. M. Husnaini. 2013. Menemukan bahagia Mengarifi Kehidupan Menuju Rida Tuhan. Jakarta: Quanta Elexmedia Komputindo.
5. M, Syafi’i Antonio. 2007. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia
6. H. Moch. Anwar. 1990. Terjemahan Matan Alfiyah. Bandung: Al Ma’arif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: