ARSIP BERPUISI

Oleh Agung Kuswantoro

Aku adalah cinta
Jangan kau abaikanku
Pasti kau butuh aku
Simpanlah aku dihatimu

Jangan kau asal simpan
Jangan di filing cabinet
Jangan jg di atas meja
Tapi simpanlah dlm filing cabinet hatimu

Saat kau simpan aku
Taruh di laci cinta
Guide kasih sayang
Dan map rindu serindu rindunya

Jangan di laci benci
Guide marah
Dan map dendam
Karena cintaku suci

Menulis Agar Tidak Bumpet

Oleh Agung Kuswantoro

Menulis itu membebaskan. Selama ini, orang takut menulis karena bingung apa yang akan ditulis. Padahal menulis itu mengalir apa yang ada alam diri kita sendiri. Apa punlah keadaan kita, pasti dibenak pikiran ada sesuatu. Nah, sesuatu itu kita harus tulis.

Nulis itu mikir? Tidak. Tulislah apa yang ada dibenak pikiran. Nulis seperti saat Anda berbicara. Tak usah mikir mana subjek, predikat, dan objek. Atau mencari literatur yang sesuai dengan pemikiran kita.

Sudahlah yang penting nulis yang ada diotak kita. Jangan berpikir, kalau berpikir, nulis menjadi beban. Kalau kita mikir berarti menulis itu susah. Biarlah menulis itu mengalir seperti air, sehingga kita bebas apa adanya.

Menulis bisa mengosongkan yang ada di pikiran kita. Plong rasanya jika sudah menulis karena sudah berhasil ngempet yang ada di otak. Otak butuh penyegaran. Salah satu caranya dengan menulis.

Melalui menulis, orang menjadi tahu siapa kita. Bumpet yang ada di pikiran, orang akan membaca alur perjalanan wawasan orang tersebut. Menulis membebaskan itulah singkatnya. Coba, coba, dan cobalah menulis agar menemukan rasa sensasi yang berbeda.

Agung Kuswantoro, Perum Sekarwangi Gang 1 Nomor 9 RT 2 RW 1 Sekaran Gunungpati Semarang 50229

Anda Orang yang Cerdas?

Oleh Agung Kuswantoro

Setiap Rektor UNNES, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum berpidato saat wisuda mengatakan pilar utama UNNES sebagai rumah ilmu adalah mahasiswa yang cerdas dan berkarakter. Nah disinilah saya penasaran untuk mengkaji makna cerdas.

Orang cerdas, jenisnya banyak. Masyarakat mengatakan orang yang cerdas adalah yang pandai ilmu matematika, fisika, kimia, biologi, sosial, dan ilmu lainnya. Ia mendalami ilmu dan menguasainya.

Ada juga orang yang mengatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang cepat dan tepat menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi. Ada permasalahan inflasi atau pasar, ia mampu memberikan solusi cepat dan tepat melalui pendekatan ekonomi. Ia dikenal sebagai ekonom.

Ada pula, permasalahan sosial dan pembentukan karakter. Ia dikenal sebagai sosiolog atau pendidik atau guru bangsa.

Lalu, bagaimana agama Islam memaknai orang cerdas. Ahmad Ubaidillah (2016) mengatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang ketika berbuat atau bertindak senantiasa diorientasikan untuk kepentingan jangka panjang. Sebaliknya orang bodoh adalah orang yang bertindak hanya untuk jangka pendek.

Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa suatu ketika saya pernah bersama Rasulullah, lalu datang seorang laki-laki dari kaum Anshor. Dia mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bertanya, Wahai Rasulullah, muslim manakah yang paling utama? Rosulullah menjawab, “Yaitu yang paling baik akhlaknya. Lalu muslim manakah yang paling cerdas? Rosulullah menjawabnya, “Yang paling banyak mengingat kematian, dan paling banyak persiapannya untuk kehidupan yang berikutnya (setelah kematian). Mereka itulah orang-orang yang cerdas (HR. Ibnu Majah).

Ada pula hadis lain, bahwa Nabi Muhammad SAW berkata orang yang cerdas adalah orang yang menghitung (menghisab) dirinya dan beramal untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah jiwanya mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allh (HR. Imam at Tar midzi, Ahmad, At-Thabarani, dan Ibnu Majah).

Kedua hadist tersebut menguatkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang bertindak untuk jangka lama, bagaimana pendapat Ahmad Ubaidillah. Orang yang cerdas ternyata bukan orang yang sekedar orang yang pandai berhitung, berbahasa, atau menguasai teknologi. Namun orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa menyiapkan dan memperbanyak amal sholeh untuk bekal setelah kematian.

Sebaliknya, orang yang bodoh atau lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya. Ia menyangka Alloh akan mengampuni segala dosanya dan memperoleh surga, kelak di akhirat.

Dengan demikian, UNNES adalah sebuah lembaga yang tidak mementingkan urusan ilmu dunia saja. Cerdas menjadi bukti, jika UNNES juga peduli terhadap pemikiran-pemikiran jangka panjang. Jika UNNES hanya mementingkan urusan dunia, maka yang terjadi muncul lulusan atau pegawai yang tidak jujur dan tidak amanah. Mengapa demikian? Karena ia tidak memikirkan urusan kehidupan setelah hidup di dunia yaitu akhirat. Ia tidak mempertimbangkan amal sholeh. Ia fokus pada perbuatan yang ia tidak menyadarinya bahwa perbuatan tersebut salah.

Patut kita apresiasi setiap kalimat yang disampaikan oleh Rektor UNNES tersebut bahwa mahasiswa UNNES adalah cerdas. Cerdas harus diimbangi dengan perbuatan baik berupa amal untuk bekal diakhiat. Apalah gunannya kepandian ini, namun digunakan untuk perbuatan tercela.

Singkatnya, orang cerdas adalah orang yang memikirkan akhirat dan melakukan persiapan menuju tempat abadi. Sedangkan orang bodoh adalah orang yang hanya memikirkan nafsunya yang jangkanya sangat pendek.

Marilah kita menjadi pribadi yang cerdas. Cerdas secara hakiki. Perdalam keilmuan kita, bingkailah hati kita dengan kecerdasan sebagaimana yang diinginkan oleh Nabi Muhammad SAW. Terlebih lembaga ini, mendukung iklim yang kondusif untuk menciptakan sumber insani yang cerdas.

Semarang, 24 Desember 2016

Efek setelah merenung pidato Rektor UNNES, Prof. Fathur Rohman, M.Hum. dan membaca opini Mengarahkan Anak Kita Menjadi Cerdas oleh Ahmad Ubaidillah. Tribun Jateng edisi 21 Desember 2016.

Kata Pengantar Tak Sekedar Mengantar: Catatan Setelah Membaca Kata Pengantar Buku Quantum Writing

Oleh Agung Kuswantoro

Judul diataslah yang menjadi kesan saat menghayati tulisan pak Hernowo pada bagian catatan baru editor dan pengantar editor di buku Quantum Wrinting. Dalam banget maknanya. Itu baru membaca halaman isinya. Belum pada isinya. Kemudian, saya menjelajahi bagian daftar isi. Kesannya adalah terkonsep. Pikiran pak Hernowo sudah mempetakan arah dari buku yang akan dibaca atau digagasnya.

Catatan editor. Betul-betul dari sang editor menuliskannya. Berasa sekali saya membacanya. Pak Hernowo membawa saya agar menulis harus mengenali diri sendiri dan menemukan diri kita sendiri. Jangan sampai menulis yang bukan gue banget. Pak Hernowo memberi contoh Natalie agar menulis mengalir bebas. Teruslah mengalir dan jangan berpikir. Pesan itu yang disampaikan. Jadi menulislah seperti aliran air yang terus mengalir.

Masuk pada pengantar. Pak Hernowo menyajikan kepada saya berupa kalimat motivasi pada halaman khusus warna hijau. Di dalam halaman-halaman tersebut tertulis kalimat motivasi seperti membaca dan menulis adalah salah satu bentuk interaksi dalam proses belajar. Selain itu, saya menemukan tokoh-tokoh baru yang berkaitan dengan tema tulisannya. Mengkorelasikan antara tema dengan tokoh, kemudian mengkajinya menurut saya bukanlah hal yang mudah.

Ya, itu tokoh yang berkaitan dengan tema tulisan. Bagaimana kalau itu tidak sama persis, namun bisa menggabungkan tokoh tersebut dari buku Stephanie Merritt. Maknanya pak Hernowo kaya raya dalam bacaan. Kemudian “memasak” nya dengan tulisan ala beliau dengan bahasa khasnya. Jero dan mudah dipahami.

Kesannya, saya masih garing bacaan. Melihat literatur pak Hernowo, terasa saya harus berlatih dan terampil membacanya terhadap literatur berbobot perlu didalami. Biasanya saya bersumber pada bagian yang relevan. Miskin teori dan tokohnya. Inilah yang harus saya dalami.

Pak Hernowo mengajarkan kepada saya dalam membuat kata pengantar, bukan sekedar mengantarkan, melainkan filosofi kuat dari buku tersebut. Disinilah kekuatan kata pengantar. Kata pengantar dalam buku tersebut tidak cukup satu halaman, namun ada 8 halaman dengan dua halaman. Kalimat motivasi, jadi total 10 halaman. Keren! Baru membaca kata pengantar saja sudah 10 halaman dengan isi yang berbobot. Apalagi membaca per bab bukunya. Wow, hebat. Terasa saya harus filosofi atau kerangka berpikir dulu, besok kalau menyusun kata pengantar di buku yang akan saya tulis.

Terima kasih pak Hernowo sudah memberikan saya ilmu menulis kata pengantar dengan baik. Jarang saya membaca pengantar buku sedalam pengantar ini. Biasanya sekedar mengenalkan per bab saja. Namun dalam kata pengantar buku ini, lebih lengkap karena terdapat beberapa konsep teori, data, dan contohnya. Semoga saya bisa menulis kata pengantar yang lebih baik di buku saya selanjutnya. Sukses selalu untuk pak Hernowo dan kita semua. Amin.

Malaikat Izroil Pun Tersenyum

Oleh Agung Kuswantoro

Setelah Malaikat Rizki datang dalam wujud 3346. Orang semua tersenyum. Bahkan sibuk dengan liburan akhir tahun dan tahun baru 2017. Sibuk mencari hotel, referensi kuliner, dan tempat liburan. Lalu, dimana Malaikat yang lainnya? Apakah wajah Malaikat Rizki itu selalu tersenyum?

Nah, disinilah letak penasaran saya. Saya mencoba membuat ciri-cirinya. Malaikat rizki datangnya bisa ditebak yaitu tanggal 9 Desember 2016. Semua atau hampir sebagian orang mengisi pulsa. Untuk mendapatkan SMS banking sehingga mengetahui nilai nominalnya. Semenjak tanggal itu pula, bagian keuangan sudah memberitahukan bahwa ia telah mentransfer uang. Begitu mudahnya Malaikat Rizki datang di kampus ini. Dan orang awam pun bisa menantinya.

Kemudian, bagaimana Malaikat Izroil atau pencabut nyawa? Mari kita lihat ciri-cirinya. Wah jujur, saya sebagai penulis belum bisa menciri-cirikan, sebagaimana Malaikat Rizki. Namun sedih pula, jika Malaikat Izroil datang tanpa kita sambut. Guru saya mengatakan, sambutlah Malaikat Izroil dengan senyuman. Malaikat Izroil datang, mari kita terima ajakannya, karena Allah sudah menantikan kita. Kita akan mendapatkan tempat yang layak disisiNya berupa Surga. Saat Malaikat Pencabut Nyawa tersebut datang kita akan disambut dengan perkataan “Silakan ambil nyawa saya, saya akan menerima perintah dari Allah bahwa masa atau waktu saya telah habis. Saya ingin pulang ke tempat saya. Saya rindu di tangan Allah. Love Allah”. Itulah kalimat singkatnya.

Dengan demikian, betapa bahagianya Malaikat Izroil pulang setelah melakukan misi tugasnya. Jadi Malaikat Izroil pun menarik untuk kita sambut. Sambutannya bukan dengan mengisi pulsa agar tertansfer 3346, melaikan dengan kegiatan amal baik berupa ibadah ataupun kegiatan yang positif untuk kemaslahatan umat. Mari kita sambut Malaikat-malaikat Allah dengan senyuman dan keikhlasan. Jangan Malaikat Rizki saja yang menjadikan kita tersenyum.

Renald Kasali Pun Belajar darinya

Oleh Agung Kuswantoro

Point yang saya dapatkan dari artikel yang direkomedasikan oleh Pak Hernowo adalah metakognisi. Apa itu metakognisi? Metakognisi adalah ilmu nonkognisi yang tidak diajarkan dibangku kuliah. Memang kita membutuhkan ilmu matematika, ekonomi, fisika, kimia, dan ilmu yang lainnya. Namun tanpa ilmu nonkognisi ilmu-ilmu tersebut mubadir.

Bu Susi mengalami itu. Waktu muda Susi dihabiskan di laut untuk mencari ikan dan mengirim ikan. Ia menangkap ikan di pesisir pantai laut Pangandaran yang panas. Lalu, ia menyewa mobil pick-up untuk mengangkut ikan ke Jakarta dari Pangandaran. Kemudian, dilelang di sana. Pengalaman ini ia lakukan bertahun-tahun. Hingga akhirnya ia memahami dunia perikanan dan logistiknya. Ia mengekspor ikan-ikan dengan pesawat carterannya. Ikan yang ia bawa selalu segar dan masih hidup, sehingga muncullah bisnis pesawat yang ia miliki untuk mengirimkan ikan segarnya ke beberapa negara.

Inilah yang dimaksud metakognisi. Susi dapat itu. Ilmu ini muncul karena faktor pembentuk yang lahir seperti ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi handal. Kemampuan bergerak, self discipline, focus, menahan diri, responsif, mampu mencari pintu untuk pembaharuan, dan kehidupan yang produktif. Itu kuncinya.

Artikel ini memberikan pelajaran kepada saya, bahwa ilmu harus ditunjang dengan praktek. Praktek tak harus seindah rencana. Saat ada permasalahan di praktek, itulah pentingnya ilmu. Di dalamnya akan muncul nilai-nilai kognisi sebagaimana di atas.

Kita harus optimis dan produktif dalam menjalani kehidupan ini. Toh, akhirnya anak-anak kita belajar dari diri kita dan lingkungan sendiri. So, akhirnya perkuat metakognisi di lingkungan sekitar kita. Jangan beranggapan non kognisi itu tidak penting. Biasanya kognisi berujung pada ijasah, teori, dan stereotyping. Akan tetapi, studi baru mengatakan non kognisi tidak kalah penting dariui kognisi. Lihatlah Bu Susi!

Semarang, 13 Desember 2016

Marketing Sekolah Unggul

Oleh Agung Kuswantoro

Marketing atau pemasaran apakah hanya untuk perusahaan? Ataukah marketing tidak diperlukan untuk sekolah? Jamal Ma’mur Asmani (2015) menjawabnya sekolah membutuhkan marketing strategi jitu agar mampu menerapkan jiwa kompetisi dan sportivitas untuk melahirkan sekolah unggulan.

Konsep inti marketing adalah menggali kebutuhan, keinginan, dan permintaan pelanggan sebagai dasar untuk menciptakan produk yang mempunyai nilai, biaya, kepuasan pelanggan, sehingga bisa dipertukarkan dengan sukses (hal : 9).

Unsur-unsur marketing adalah meliputi pemasar, barang, dan jasa, serta proses pertukaran. Pemasar adalah organisasi yang memiliki tujuan tertentu. Barang dan jasa sebagai proses dalam pasar. Pasar mempunyai kapasitas pertukaran (daya beli) untuk bisa memperoleh barang yang diminta. Sedangkan proses pertukaran merupakan kegiatan dua pihak yang masing-masing memerlukan pihak lain untuk pemenuhan kebutuhan.

Bicara marketing saat ini tidak lepas dari globalisasi. Untuk bisa bertahan (survive), suatu organisasi harus memhami globalisme. Kennedy dan Cohen mengatakan globalisme merupakan kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia itu satu. Selain globalisasi, marketing juga harus memperhatikan kecepatan gerak. Kecepatan gerak harus ditunjang oleh kegiatan penelitian dan pengembangan Research And Development (RAD) yang berkelanjutan.

Tawaran marketing unggul untuk memajukan sekolah menurut Jamal Ma’mur Asmuni (2015) dalam buku ini ada lima. Pertama, menciptakan perbedaan. Sekolah harus mampu melihat sisi yang berbeda dari sekolah lain. Misal, sekolah mengunggulkan potensi lokalnya. Ada sebuah sekolah di Pati, Jawa Tengah mampu mengantarkan siswanya meraih prestasi di tingkat nasional dan internasional karena siswa meneliti batu kapur yang berlokasi di daerah tempat tinggalnya. Ia memanfaatkan potensi lokalnya sebagai objek penelitiannya. Ia cerdas mengoptimalkan potensi lokal, dimana orang mengatakan sebagai kelemahannya. Disinilah letak perbedaan sekolah tersebut.
Kedua, melahirkan keunggulan. Menurut Sudarwan Denim, keunggulan sekolah bisa dibagi menjadi keunggulan akademik dan ekstrakurikuler. Keunggulan akademik dibuktikan dengan nilai yang dicapai anak didiknya. Sedangkan, keunggulan ekstrakurikuler dibuktikan dengan berbagai keterampilan yang dikuasai oleh anak didiknya.

Ketiga, menguatkan solidaritas internal. Terwujudnya perbedaan dan keunggulan tidak terlepas dari kerjasama yang solid seluruh elemen sekolah, mulai dari pimpinan hingga bawahan. Sehingga tercipta satu visi, misi, dan aksi yang konsisten dan berkelanjutan.

Keempat, mengasah kreativitas. Kreativitas merupakan kemampuan menangkap dan menemukan hal-hal baru yang belum ada sebelumnya. Apabila sekolah mampu mengambangkan kreativitas, eksistensi dan reputasinya akan tetap terjaga.

Kelima, mengedepankan inovasi. Inovasi menjadi bukti kesungguhan sekolah dalam mengelola kualitasnya, pasti akan melakukan inovasi. Syarat utama inovasi adalah memiliki mental cendekiawan, yaitu tidak pernah merasa puas terhadap prestasi yang diraih. Sekolah akan selalu melihat lembaga yang berada di atasnya, sehingga tertantang untuk melakukan pembaharuan secara kontinu.

Itulah lima strategi marketing sekolah. Pekerjaan marketing bukanlah hal mudah. Marketing dibutuhkan agar sekolah tetap hidup, bertahan, dan maju. Dibutuhkan sumberdaya yang mumpuni baik manusia maupun pendukungnya. Sekolah yang mampu melakukan marketing, pasti ia memiliki keunggulan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Sekolah tersebut pandai memanfaatkan sumber daya di sekitarnya dengan mengoptimalkan semua unsur elemen yang ada di sekolah tersebut mulai dari atasan hingga bawahan.

Agung Kuswantoro, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang

Judul Buku : Manajemen Efektif Marketing Sekolah
Penulis : Jamal Ma’mur Asmani
Peresensi : Agung Kuswantoro
Penerbit : Diva, Press
Tahun : 2015
Hal : 240 hlmn
ISBN : 978 602 255 850 7
Editor : Kurniawan Dinihari

Previous Older Entries