Lelaki Sejati Adil terhadap Ibu dan Istri

Oleh Agung Kuswantoro

Anda seorang laki-laki? Kalau Anda seorang lelaki berbuat adillah kepada ibu dan istri. Dua wanita yang sangat luar biasa posisinya. Dua makhluk ciptaan Allah yang mempu mengantarkan kesuksesan Anda. Anda tak akan bisa berdiri tegak dihadapan para audience yang siap mendengarkan nasehat Anda. Anda tak akan bisa memiliki pembaca atas karya Anda, tanpa kehadiran kedua makhluk tersebut.

Mengapa saya berani mengatakan seperti itu? Karena seorang lelaki mendapatkan kasih sayang dari mereka. Saat lelaki tersebut kecil, ia dibesarkan dan mendapatkan kasih sayang oleh ibunya. Saat ia besar, ia dikuatkan dan di-support oleh istrinya. Lantas, apakah lelaki tersebut akan pilih kasih kepada kedua wanita tersebut?

Jawabnya, TIDAK. Lelaki sejati akan pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pinjam istilah nahwunya, mutadhol hal. Menurut pemahaman penulis bahwa seorang lelaki akan bertanggung jawab kepada mereka. Tanggung jawab sebagai anak dan istri. Tanggung jawab kepada anak berupa mendoakan ibunya. Tanggung jawab kepada istri berupa mencari nafkah. Sederhananya seperti itu.

Lelaki bijak tak akan pilih kasih terhadap kedua wanita tersebut. Ia berpendapat mereka adalah makhluk mulia yang harus dihormati. Surganya ada padanya. Ia tak akan mencari surga dimanapun, karena di rumah ada surga. Keduanya telah memberikan amalan yang sangat luar biasa kepadanya. Waktu kecil ia mendapatkan didikan (pembelajaran) darinya. Saat dewasa, ia akan menghormatinya. Saat ia berumah tangga, ia akan menirukan perbuatan yang baik. Istri menjadi “madrasah” dan “model guru” bagi anaknya. Anak akan meniru perilaku dan akhlak ibunya (istri bagi lelaki). Lelaki bangga terhadap istrinya karena telah memberikan cintanya yang tulus kepada dirinya (suaminya dan anaknya).

Lelaki tersebut pasti ADIL. Adil terhadap keduanya. Cinta tak bisa dibagi. Mungkin perasaan saja yang mengatakan seperti itu. Bahkan cintanya seorang lelaki terhadap ibunya lebih tinggi dibanding istrinya. Ada yang mengatakan tanggung jawab ia lebih didahulukan kepada ibunya daripada istri. Saya rasa tidak. Tetapi cintanya sama.

Bicara adil, maka sesungguhnya bicara nilai atau value. Terlebih permasalahan ini. Adil tidak harus sama. Ilustrasinya dua anak kembar yang sama perilakunya. Mirip semuanya secara fisik. Saya yakin ibunya pasti akan memperlakukan adil pada kedua anak kembar tersebut. Namun, yang namanya adil itu letaknya di hati. Saya yakin ibu tersebut akan berat atau lebih cinta pada salah satu diantara dua anak tersebut.

Demikian juga sang lelaki. Ia pasti akan menempatkan satu diantara kedua wanita hebat tersebut. Namun sesungguhnya ia akan mengatakan “Ya Allah tunjukkanlah saya menjadi orang yang mampu memberikan kasih sayang kepada dua wanita terhebat. Sesungguhnya pemilik hati ini adalah Engkau. Mantapkanlah karunia cinta ini agar tidak goyah. Biarlah Engkau yang menilai akan cinta ini, bukan manusia yang menilai. Jika manusia yang menilai, pasti akan berpihak pada salah satu diantara kedua wanita hebat itu”. Amin.

Semarang, 5 Desember 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: