Mendisiplin Diri

Oleh Agung Kuswantoro

Hidup tidak datar. Orang mengatakan life is never flat. Biar tidak datar, saya mendisiplinkan diri saya. 24 jam sama semua manusia hidup di bumi. Donald Trump – presiden Amerika – dengan saya, waktu bernafas di dunia ini, sama. Yang membedakan adalah aktivitasnya.

Jadilah manusia yang luar biasa. Jangan menjadi biasa. Kunci menjadi manusia luar biasa adalah pemanfaatan waktu. Manusia luar biasa akan memanfaatkan waktu secara optimal. Manusia biasa tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Manusia luar biasa cerdas memanfaatkan waktu. Ukuran 24 jam dipergunakan dengan alokasi jam dan menit dengan detail. Saking seriusnya, merasa kurang dengan alokasi yang telah ditentukan. Ia pandai dalam mengorganisir kegiatannya. Siapa punlah dia. Bukan harus jadi pejabat. Namun, karena luar biasa aktivitas dan pengaturan waktu orang tersebut.

Sekali lagi, ia juga bukan pejabat. Kalau pejabat itu wajar. Agenda sudah dibuatkan oleh stafnya mengenai jadwal yang akan dilakukannya. Ini lumrah sekali untuk pejabat. Coba, kalau ini orang biasa. Betapa luar biasanya orang tersebut. Bukan pejabat, namun agendanya sudah padat.

Perhatikanlah orang yang seperti itu. Pasti ia orang luar biasa. Luar biasa kerjanya. Luar biasa semangatnya. Dan, luar biasa pemandangannya. Ia mampu melihat “awan yang menembus langit”. Ia mampu memprediksi dengan teori yang ia baca. Ia pandai memanfatkan waktu untuk membaca, menulis, berbagi, ibadah, dan aktivitas rutin untuk keluarga, masyarakat, dan negara.

Jadilah manusia luar biasa. Pasti Anda akan merasa bersyukur terhadap nikmat waktu. Allah-lah pemilik waktu. Hanya orang yang beriman dan beramal sholeh yang akan tidak merugi terhadap waktu. Jadilah orang yang luar biasa dengan cara beriman dan beramal sholeh agar Anda mampu mengoptimalkan waktu yang 24 jam itu.

Semarang, 25 Januari 2017

Iklan

Sosial dan Bisnis

Oleh Agung Kuswantoro

Setiap orang pasti memiliki kebutuhan. Manusia butuh makan, minum, rumah, kendaraan, dan lainnya. Setiap kebutuhan, harus ada anggarannya. Minum? beli Aqua. Makan? Jelas, beli beras [baca: nasi]. Kendaraan? Butuh bensin. Semuanya menggunakan uang. Sekali lagi uang, bukan daun.

Tak selamanya, segala sesuatu hidup di dunia identik dengan masalah uang. Allah adalah Dzat segalanya. Dia telah menggratiskan oksigen kepada umat penjuru dunia. Tak melihat ciptaannya tersebut beragama Islam atau tidak. Dia telah membebaskan harga atas air yang segar dan bening di sungai yang mengalir dari sumbernya, tanpa henti dan habis. Dia memberikan kepada siapa pun yang haus, baik itu manusia atau hewan.

Nah, sekarang bagaimana dengan kehidupan kita. Paragraf awal menjelaskan, bahwa segala sesuatu pasti dengan fulus. Paragraf kedia menjelaskan, bahwa segala sesuatu tak harus diperhitungkan dengan duit.

Saya ingin mengatakan seperti ini. Sosial, sosial. Bisnis, bisnis. Gratis, gratis. Bayar,bayar. Jangan, sosial tapi ada pungutan. Jangan gratis, ternyata ada lainnya administrasi. Jangan, memberi sesuatu secara cuma-cuma, tapi ada maksudnya setelah pemberian itu.

Allah sudah memberikan contoh di atas. Tidak pandang bulu. Tidak pilih kasih. Tidak mengkelas-kelaskan. Dan, tidak membanding-bandingkan. Air untuk manusia dan hewan. Tidak melihat, ia beriman atau tidak. Tidak melihat laki-laki atau perempuan. Tidak melihat, manusia atau hewan. Intinya, Allah sayang dengan ciptaann-Nya.

Lantas, jangan tanggung-tanggung, jika Anda berbisnis. Bayar, silakan buat rincian detail per rupiahnya. Jangan bilang sama kliennya, silakan mau dibayar berapa pun, saya manut. Stop! Ini bisnis. Anda sedang cari nafkah. Ada anak dan istri yang menanti sesuap nasi yang Anda bawa setelah pulang bekerja [baca: bisnis]. Maknanya, Anda harus bersungguh-sungguh dalam berbisnis atau bekerja. Yang semangat!! Ukurlah setiap pekerjaan Anda, dengan standar yang jelas. Hitunglah waktu Anda dlam setiap kali menyelesaikan satu pekerjaan. Pasti, Anda akan meraih kesuksesan di bisnis Anda. Terperinci. Klien pasti akan senang.

Katakan, Anda dibayar Rp. 50.000.000 per tampil dengan durasi 2 jam, tanpa ada teman dialog saat berada dipanggung. Maknanya, Anda sangat professional. Hitungannya jelas per jam dan per pertemuan. Anda – batuk saja– jelas dibayar. Sekali lagi, bisnis, bisnis. Bayar, bayar. Gratis, gratis.

Marilah, kita menjadi pribadi yang bisa menempatkan kedua keadaan tersebut. Dalam sehari harus ada jiwa sosial dan jiwa bisnis. Jika tidak bisa sehari, agendakan dalam satu minggu ada kegiatan sosial. Kegiatan sosial, tidak usah nunggu kaya. Sosial tak harus berwujud uang. Pikiran, tenaga, dan apa punlah bentuknya yang kita miliki bisa kita bagikan kepada sesama.

Semarang, 6 Januari 2017

Gapai Mimpi: Nulis, Terbit, Publikasi, dan Bedah

Oleh Agung Kuswantoro

Menulis adalah sebuah pekerjaan mudah, tapi jangan dipermudah. Mudah karena sebenarnya tiap orang pasti bisa menulis. Menulis dari kompetensi, minat, dan segala sesuatu yang terlintas dalam idenya.

Jangan dipermudah! Sikap inilah yang muncul dari orang yang meremehkan pekerjaan menulis. Karena menganggap mudah, justru ia tidak menulis. Menulis butuh disiplin. Didi Junedi mengatakan konsisten dan disiplin menulis adalah salah satu keberhasilan seorang penulis. Bahkan, mengatakan penulis sejati adalah penulis yang menulis tiap hari.

2017 baru kita lalui beberapa hari. Saatnya kita membuat revolusi dalam menulis. Revolusi harus cepat dan kuat. Cepat dalam berpikir. Tangkap ide, tulislah. Tulislah itu yang harus cepat dieksekusi. Jangan terlalu lama, nanti akan mengendap di pikiran. Atau, waktunya sudah tidak tepat lagi.

Kuat. Kuat merekonstruksi setiap perkara ke dalam tulisan. Tulisan harus dibuat konstruk (bangunan) yang kuat. Jangan sampai asal menulis. Idenya tidak jelas, dan organisasi antar paragraf tidak nyambung. Hal ini jangan sampai terjadi.

Buku
Setelah menulis, selanjutnya adalah buku. Saya tiap hari memberikan kuliah tujuh menit (kultum) tentang fiqih di masjid dekat rumah. Setiap materi disampaikan, pulang dari masjid langsung saya ikat, dengan tulisan. Hernowo mengatakan menulis mampu mengurutkan segala sesuatu yang belum tertata, menulis mampu memecahkan masalah atas perkara, menulis mampu mensinergikan pikiran, menulis mampu mengetahui kemampuan penulis, dan penulis tanggap atas perkara yang terjadi di lingkungan sekitar. Kurang lebih seperti itu.

Buku Fiqih
Kumpulan kultum rencana akan saya jadikan buku. Agustus 2017, saya akan menjadikan satu dari materi-materi tersebut. Mudah-mudahan bisa terpenuhi menjadi sebuah buku. Rencana saya, jika tahun 2017 terpenuhi jadi buku, saya akan memohon kepada guru saya di Pondok Pesantren Salafiah, Pemalang untuk memberikan kata pengantar. Beliau adalah KH. Drs. Ramadhon Sya’ban Zuhdi. Sedangkan endorsement-nya adalah ustad Husnaini, Ketua Sahabat Pena Nusantara (SPN) dan penulis buku islami. Kedua tokoh tersebut sangat menginspirasi dalam belajar menulis saya dan memahami suatu ilmu.

Buku Madrasah
Buku selanjutnya adalah kumpulan tulisan yang saya tulis mengenai madrasah yang saya dirikan. Madrasah tersebut bernama Istiqlal. Tahun 2016, tepatnya Desember, atas persetujuan pengelola – saya dan istri – serta orang tua/wali santri, madrasah tersebut berhenti dulu, karena ada beberapa permasalahan. Madrasah tersebut saya dirikan tahun 2014 bertempat di rumah saya, yang luasnya 73 meter persegi.

Setiap peristiwa dan harapan saya tulis, sehingga saya selalu memiliki makna. Kecil kegiatannya, namun besar maknanya. Sempit bangunan untuk mengaji, namun luas harapan dan pahalanya hingga sekarang (9/1/2017) tulisan tersebut saya kumpulkan dan 26 halaman dengan kertas A4 dengan spasi 1,5. Saya sharing dengan bapak Much. Khoiri-penulis buku Sopo Ora Sibuk-mengatakan naskah buku tentang madrasah Istiqlal perlu ada tambahan halaman. Solusinya, bisa bekerjasama dengan penulis lain agar terpenuhi menjadi standar buku.

Berarti naskah buku ini perlu ada tambahan naskah agar bisa layak menjadi buku. Minimal tahun 2017 sudah siap naskah menjadi buku yang layak untuk diajukan ke penerbit. Untuk kata pengantar dan endorsement-nya, belum ada bayangan siapa beliau.

Buku Aplikasi Arsip
Buku aplikasi arsip adalah buku yang insyallah siap terbit di tahun 2017. Prototype-nya sudah siap pada tahun 2016. Ini adalah hasil penelitian saya. Kata pengantar rencananya adalah saya sendiri, karena bercerita mengenai latar belakang muncul buku ini. Jadi biar jelas, langsung penulisnya. Endorsement-nya adalah pengguna atas aplikasi tersebut. Rencananya Bapak Prof. Bambang Suratman, M.Pd– Dekan FE UNESA periode 2011 hingga 2015.

Bedah
Ketiga buku saya minimal tahun ini bisa terbit. Mimpi saya, hingga hari ini belum ada lembaga atau panitia ingin membedah buku-buku saya. Saya sadar, saya adalah penulis pemula. Masih banyak kelemahan dalam penulisan. Dibutuhkan banyak belajar lagi. Dari beberapa buku yang saya tulis. Buku yang sering dibuat pelatihan adalah e arsip pembelajaran. Semoga, tahun ini ada beberapa buku-buku saya yang dibedah.

Publikasi
Selain menulis buku, saya akan konsisten juga pada menulis artikel di beberapa website penerbit buku atau gagasan UNNES. 2017, saya juga ada target menulis artikel di koran, dimana tahun 2016 nihil saya tampil di media massa. Demikian juga nulis di jurnal, sebagai bentuk kepakaran saya. Di tahun 2016 nihil publikasi.

Semoga tahun 2017 minimal ada satu publikasi di jurnal maupun media massa. Demikian juga, buku dan bedah buku dapat terwujud. Itulah mimpi menulis saya di tahun ini. Semoga Allah melindungi dan memberi kekuatan pada kita semua. Amin.

Semarang 10 Januari 2017

Fardu Kifayah dan Menyampaikannya

Oleh Agung Kuswantoro

“Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu” [az Zumar:9]

Penggalan ayat di atas sebuah pertanyaan yang harus direnungkan. Al qur’an begitu memahami tabiat manusia yang cenderung ingin mengetahui sesuatu, tetapi dengan instan. Ingin mendapatkan informasi, tanpa harus membaca. Ingin memperoleh ilmu, tanpa belajar. Ingin cepat kaya, tanpa bekerja.

Allah mengajarkan kita untuk mendapatkan sesuatu harus menggunakan ilmu. Ilmu menjadi kunci pembeda antara seseorang dalam bertindak. Sehingga Allah menjawabnya atas pertanyaan di atas dengan kalimat orang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Maknanya yang menjadi perbedaan antara orang yang berilmu dengan tidak berilmu, ada pada pemikirannya.

Orang berilmu, pasti membaca tak cukup sekali, sebagaimana perintah Allah – Iqro sebanyak dua kali – yang ditujukan kepada umat muslim. Sebagai bukti keimanan, maka kita harus mengamalkan rukun iman yang ketiga, yaitu iman kepada kitab Allah. Isi Al qur’an harus kita amalkan, salah satunya adalah membaca. Membaca sebagai alat untuk orang mencari ilmu.

Menuntut ilmu hukumnya wajib, sebagaimana hadist Nabi yaitu mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah (HR Ibnu Majah). Definisi hukum wajib adalah suatu pekerjaan yang diberi pahala bagi yang melakukannya, dan mendapatkan siksa bagi yang meninggalkannya. Dalam usul fiqih wajib dibagi menjadi dua yaitu yang diwajibkan bagi setiap pribadi, seperti solat lima waktu, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Sedangkan wajib kifayah yaitu suatu perbuatan wajib yang dapat terlepas kewajiban yang lain setelah sebagian orang melaksakannya. Dapat dikatakan kewajiban kifayah ini bersifat sosial, atau masyarakat, seperti solat jenazah. Letak perbedaannya ada pada subjeknya. Jika fardu ‘ain itu untuk diri sendiri, sedangkan fardu kifayah itu untuk masyarakat.

Kedua hukum tersebut diberlakukan bagi mukallaf orang yang dikenai hukum – yaitu orang muslim, berakal, sehat, dan baligh. Konteks dalam tulisan ini adalah hukum fardu kifayah. Jelas, bahwa orang muslim terkena hukum fardu kifayah. Definisinya sudah dipaparkan di atas. Namun kita perluas contohnya. Kebanyakan contoh fardu kifayah adalah solat jenazah. Padahal, tidak! Mempelajari ilmu kedokteran, ekonomi, atau ilmu agama lainnya – tajwid, fiqih, atau tauhid – termasuk fardu kifayah.

Mengapa termasuk fardu kifayah? Karena, apabila ada dalam suatu tempat (desa), dimana masyarakatnya tidak ada yang memahami satu ilmu saja, kemudian desa tersebut kesusahan atau bingung dengan permasalahan atas bidang ilmu tersebut, maka berdosalah satu desa tersebut. Karena tidak ada satu orang yang memahaminya, sehingga desa tersebut kesusahan.

Misal, di desa tersebut ada wanita yang sedang hamil. Ia akan melahirkan, kemudian ia susah mencari dokter atau bidan untuk persalinannya. Hingga ibu tersebut meninggal dunia beserta anaknya. Kasus seperti ini dalam usul fiqih masuk kategori hukum fardu kifayah, karena melibatkan masyarakat. Masyarakat yang bermukim di desa tersebut dosa semua, karena tidak ada yang berkeinginan belajar ilmu persalinan, dokter, atau bidan.

Demikian juga dalam suatu desa. Satu desa tidak ada yang mempelajari ilmu tajwid, dimana masyarakatnya tidak bisa membaca Al Qur’an. Ia tidak bisa membedakan huruf hijaiyah sin, syin, shod, dho, tho, a, ‘a, ta, tho, da, dza, dan lainnya. Maka satu masyarakat tersebut berdosa. Karena dengan mempelajari bacaan Al Qur’an, masyarakat tersebut dapat memahami apa yang ia baca dan ucapkan. Membaca Al Qur’an pun menjadi fasih.

Fiqih juga demikian. Jika ada dalam satu desa, masyarakatnya tidak ada satu pun yang mempelajari ilmu fiqih, maka berdosalah satu penduduk tersebut. Karena, tanpa ada ilmu tersebut orang tidak memahami bacaan wajib dalam solat berupa surat al fatihah, mengetahui rukun solat, gerakan solat, menghormati pendapat, praktek perbuatan sunah, dan lainnya.

Cukup ada satu orang saja yang pandai, maka selamatlah masyarakat tersebut. Ada orang meninggal langsung terurus. Ada orang sakit, langsung terobati. Ada masjid, langsung solat jamaah. Ada Al Qur’an langsung baca.

Jangan, ada orang sakit, bingung bagaimana cara mengobatinya. Ada masjid, bingung bagaimana cara solatnya. Ada Al Qur’an bingung, bagaimana cara membacanya.

Taruhlah satu orang yang pandai, siapa itu? Orang berilmu. Siapa dia? Dokter dan guru (ustad). Dokter berkewajiban memberikan pemeriksaan kepada pasien yang ada di sekitar rumahnya. Ia akan memberikan resep kepada pasiennya. Ia akan bersikap ramah terhadap pasien. Ia berharap pasiennya bisa sembuh.

Guru – ustad – akan memberikan ilmunya kepada muridnya atau santrinya. Ia akan menuliskan bacaan al fatihah lengkap dengan harokatnya dan maknanya. Ia akan menuntun muridnya cara menuliskan dan melafalkan. Ia akan mendampingi pelafalan muridnya. Ia sabar dalam menata gerakan solat santrinya. Ia akan membenarkan setiap bacaannya. Ia meluruskan bacaan yang diucapkan santrinya. Mana A, E, dan I. Alhamdu, bukan Alehamdu. Indonesia, bukan Endonesia. Dan seterusnya. Itulah contoh-contoh perbuatan fardu kifayah.

Orang yang berilmu harus ada di satu desa. Jangan sampai, ilmu yang ia miliki hanya untuk dirinya sendiri. Ingat sabda Nabi Muhammad SAW: “Sampaikan dariku walaupun satu ayat. [HR. Bukhori]. Ya, meskipun satu ayat.

Satu ayat menurut saya juga tidak mudah. Kenalkan hurufnya ayat tersebut. Perhatikan sifat hurufnya. Hitung jumlah tasydidnya. Perpanjang mad-nya. Dan, dalami maknanya.

Jangan takut dengan respon yang negatif. Sekelas Kiai Mustofa Bisri saja, ia menyampaikan pendapat berdasarkan ilmunya mengenai solat Jum’at di jalanan, seorang netizen mengatakan kepada beliau “ndasmu”. Bahkan Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di Thoif, ia dilempar dengan batu, hingga berdarah dan giginya lepas.

Ada Si’ir : Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, mereka akan disiksa sebelum disiksanya para penyembah berhala. (Hasyisah tsalasatul usul hal. 12).

Dalil di atas menguatkan, bahwa ilmu harus disampaikan, terlebih ilmu yang bersifat fardu kifayah. Sampaikan dengan komunikatif. Ajak masyarakat untuk membuka kitab fiqih, tajwid, dan membuka al qur’an. Sampaikan dengan pelan-pelan, agar mereka tidak tersinggung. Jangan sampaikan informasi yang provokatif atau menyesatkan.

Kewajiban seorang berilmu itu menyampaikan. Masalah ia menerima atau tidak masyarakatlah yang akan menilai. Nabi Nuh AS, sudah menyampaikan ketauhidan pada keluarganya. Tapi, faktanya istri tidak ikut dalam kapal, Nabi Musa AS berdakwah, godaannya luar biasa mulai dari umatnya yang membangkang, hingga rajanya – presiden – menentangnya. Ia berargumen mengenai ketauhidan. Ia bersihkukuh mempertahankan dan memperjuangkan Allah adalah tuhannya dihadapan presidennya – Fir’aun – yang mengakui bahwa ia adalah tuhan dari rakyatnya. Bagaimana dengan kedua kisah Nabi tersebut? Jelas, kita harus semangat berdakwah.

Demikianlah tulisan singkat ini. Adapun kesimpulannya sebagai berikut:
1. Ada perbedaan antara orang berilmu dengan tidak berilmu dalam bertindak dan berpikir
2. Orang Islam harus melakukan hukum fardu ain dan fardu kifayah
3. Fardu kifayah tidak hanya solat jenazah, tetapi mempelajari ilmu kesehatan, ekonomi, tajwid, fiqih, dan tauhid pun termasuk fardu kifayah.
4. Cukup satu orang yang pandai dalam ilmu yang berhukum fardu kifayah wajib menyampaikan kepada masyarakat walaupun satu ayat.
5. Semangat berbagi ilmu bagi orang yang berilmu, karena hukumnya wajib karena ia hukumnya berdosa apabila tidak menyampaikannya, meskipun tidak ada orang yang mengikuti atau mendengarkan ilmu yang ia sampaikan.

Semarang, 3 Januari 2017

Mengarang Indah

Oleh Agung Kuswantoro

Apabila Anda ingin belajar menulis, berlatihlah dengan menulis. Jangan selalu berteori. Setelah kemarin kita belajar”dialog diri sendiri” sebagai sarana menulis tentang diri sendiri. Mengapa menulis tentang diri sendiri? Agar mengalir dan mengenali siapa diri kita sendiri. Sehingga”bebas” dalam pengungkapannya.

Sekarang belajar menulis dengan “mengarang indah”. Istilah yang sering saya dengar waktu ujian bahasa Indonesia dulu waktu SD hingga SMP. Dimana, ada satu lembar khusus kertas kosong untuk mengarang dengan tema yang sudah ditentukan. Nah, cara itulah kita gunakan.

Lupakan aturan dalam menulis, agar diri Anda bebas. Pikiran Anda “lepas”. Aturan kebahasaan atau teknik kepenulisan untuk sementara lupakan dulu. Tulislah yang Anda kehendaki. Tujuannya agar Anda berani dan bereksploitasi dalam menuangkan gagasan-gagasannya. Mengalir saja! Stephen King mengatakan “Menulislah dengan alasan apa pun, asal bukan untuk meremehkan” (Hernowo, 2016, 136).

Pernyataan Stephen King jelas menunjukkan kebebasan dalam menulis dengan alasan yang beragam. Jangan sibuk atau tidak ada waktu menjadi alasan untuk menulis. Atau menulis untuk menjatuhkan seseorang dengan meremehkan pendapatnya. Jelas, yang ini tidak boleh.

Kebebasan menulis atau mengarang indah-istilah saya-inilah, saya menemukan pada sosok JK Rowling. Ia adalah penulis terkenal di dunia berjudul Harry Potter. Ia membebaskan pikirannya untuk menuliskan kisah Harry Potter. Ia menulis hampir tiap hari. Kadang menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, ia menulis selama tiga jam (Hernowo, 2016, 122).

Keren bukan? Itulah kebebasan dalam menulis. Jadi langsung praktik saja. Rajin ikut pelatihan-pelatihan menulis itu, OK. Tapi, lebih penting lagi, langsung praktik. Tidak berteoritis. Atau memberikan tanda jempol setiap ada tulisan. Inilah yang sering muncul di saat sekarang. Keberanian untuk menulis bebas itu sedikit. Tapi, keberanian memberikan komentar atau likes “jempol” banyak. Padahal menulis, itu prakteknya dengan menulis.

Itulah gambaran sederhana mengenai “mengarang bebas” sebagai teknik cara menulis. Kuncinya niat untuk memulai latihan. Modalnya hanya itu. Ambillah sehelai kertas kosong, lalu tulislah dengan bolpenmu yang sederhana. Bukalah microsoft word, lalu ketiklah kata demi kata. Itulah baru menulis. Bukan, beretorika! Lakukan saja! Insaallah, ada waktunya akan lebih terampil dalam menulis. Selamat mencoba!

Semarang, 24 Januari 2017

Dialog dengan Diri

Saat membaca bab 2 buku Quantum Writing karya Hernowo (2016), Bab ini tentang perjalanan menjelajah diri: menulis bagi diri sendiri. Penulis memberikan tips yang sederhana kepada pembaca agar menuliskan tentang diri sendiri. Pembaca ingin menjadi seorang penulis, jangan takut dan grogi.

Jika, takut mengenai apa yang akan ditulis. Tulislah tentang diri sendiri. Ajaklah dialog diri kita. Maunya apa? Misal, saat ini ingin makan. Tulislah tentang keinginan makan. Mulai dari kapan makan? Dimana makannya? Dengan siapa makannya? Lauknya apa? Taksiran biaya makannya berapa? Dan pertanyaan lainnya.

Setelah ajak dialog, tulislah jawaban-jawaban di atas. Sudahlah, tulis aja. Jangan pusing, mikir kosa kata atau membuat rangkaian kalimat yang efektif. Tulis yang ada dibenak pikiran. Ikuti diri sendiri maunya kemana. Atau maunya makan apa. Sudah gitu aja.

Dengan sendirinya, kita akan belajar menulis. Pikiran kita akan terurai melalui menulis. Kita mampu menjabarkan dari aktivitas sederhana tadi. Kemudian, dirinci melalui kata-kata dan kalimat. Kita telah sedikit mengajak dialog diri kita sendiri.

Latihan sederhana seperti di atas sangatlah mudah. Kuncinya niat dan tidak takut. Niat mengajak diri sendiri untuk berdialog dan menulisnya. Tidak takut akan hasil tulisan, karena bercerita mengenai diri sendiri.

Menulislah, agar Anda mampu mengurai pikiran. Menulislah, untuk Anda merinci kegiatan yang masih belum terperinci. Menulislah, agar Anda lepas dari penat permasalahan. Menulislah, agar Anda menemukan diri sendiri. Cobalah, cobalah, dan cobalah.

Semarang, 12 Januari 2017

Korespondesi Bahasa Indonesia 2016

Berikut nama mahasiswa yang belajar bersama saya
Kamis, Jam 10
1. Ana Rahmawati
2. Ira Rizki
3. Almira Fadila
4. Fiki Andriani
5. Khusnul Chotimah

Kamis, jam 13.00
1. Arini Fitria U
2. Dwi Berliana
3. Noor Jannatun
4. Fauzan Prambodo
5. Fela Ayu F.
6. Yunita Dwi A
7. Ima Dwi K
8. Adi Rian
9. Fuad Bawzi
Santai saja, kita belajar bersama, Kok!
Tolong ke meja saya, janjian dulu. Silakan, kontak saya. Terimakasih

Semarang, 9 Januari 2017

Previous Older Entries