Akhlak dan Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Oleh Agung Kuswantoro

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seoarang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al kitab (al qur’an) dan al hikmah (assunah). Dan seseungguhnya, sebelum kedatangan nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam keadaan sesat. Ali Imron [3] : 164):

Siapa yang tidak kenal dengan nama Muhammad SAW? Dimana orang mengenalnya sebagai Nabi akhir zaman. Rosul yang membawa ajaran tauhid untuk mengesakan Allah. Ia adalah seorang manusia biasa dengan terlahir yatim. Namun keyatimannya mengantarkan ia menjadi seorang pemimpin dunia.

Sebenarnya ia seperti kita, sebagaimana manusia. Ia lapar, tidur, sakit, memiliki sifat kasih sayang dan sifat kemanusiaan lainnya. Secara sifat kemanusiaan, ia tidak berbeda dengan manusia lainnya. Namun apakah yang membedakan dengan manusia lainnya?

Michael H. Hart
Saking luar biasanya pribadi dan ajaran beliau seorang peneliti dan penulis dari Amerika Serikat lulusan Ph.D dari Princeton University bernama Michael H. Hart. Bidang beliau adalah Astrophysics History. Karya beliau yang fenomenal “The 100; A Rating of the Most Influential Person in History”. Beliau seorang guru besar beragama Nasrani dibidang astronomi dan fisika di perguruan tinggi di Maryland, Amerika Serikat. Ia juga bekerja di NASA, Amerika. Alasan beliau menempatkan Nabi Muhammad diurutan pertama dari 100 orang yang berpengaruh adalah Nabi Muhammad mampu mengajarkan dan menyebarkan Islam di muka bumi. Ajarannya jika kita mengikutinya akan tembus pada dimensi lainnya, yaitu alam akhirat. Adalah suga. Surga kita akan dapatkan jika mengikuti perintah Nabi Muhammad (athiullah dan athi ur rosul). Namun jika kita mengingkarinya maka neraka yang kita dapatkan.

Akhlak
Mari, kita kaji bersama. Pertama, akhlaknya. Akhlak beliau melebihi akhlak manusia lainnya. Bayangkan coba, saat ia terluka, justru ia malah tidak membalasnya atas lukanya. Saat ia dalam keadaan terjatuh, ia tidak dendam dengan orang yang menjatuhkan. Saat ia dibuat sengsara, ia malah mendoakan kepada orang yang telah menjadikannya tersakiti. Perilakunya berbalik arah dengan manusia umumnya. Allah berfirman Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu uswatun khasanah (suri teladan yang baik) bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. QS. Al Ahzab : 21

Contoh uswah atau teladan Nabi Muhammad dapat kita pelajari di sejarah Nabi Muhammad. Seperti Nabi Muhammad SAW selalu diludahi saat pergi ke masjid. Kemudian Nabi Muhammad SAW tidak membalas atas tindakan orang yang meludahinya.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga tidak dendam dengan perlakuan orang kafir quraisy yang telah membuat luka atas gigi gerahamnya di perang Thoif. Saking sakitnya malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi Muhammad untuk membalikkan gunung Thoif ke orang kafir. Namun Nabi Muhammad menolak tawaran Malaikat Jibril tersebut. Justru Nabi berdoa supaya Allah melahirkan keturunan mereka kaum menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.

Al amin
Atau sifat Nabi yang tidak pernah berbohong, sehingga ia memperoleh gelar al amin, artinya yang dapat dipercaya. Gelar yang tidak dapat diperoleh di sekolah formal dan non formal di dunia ini. Perilaku mulia tersebut Allah menuliskan dalam alquran yaitu

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung QS. Al qolam [68]:4).

Surat Tugas
Sangat jelas bahwa akhlak Nabi Muhammad sebagai manusia sangat terpuji. Bahkan ada yang mengatakan Nabi Muhammad manusia, tetapi tidak seperti manusia (muhammadu basyarun la kal basyar). Mengapa demikian? Karena akhlaknya. Oleh karena ada ada sebagai Surat Tugas (ST) olah Allah untuk menyempurnakan akhlah (innama bu isttu li utammima makarimal akhlak). Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlah

Rabun Dekat
Kedua, kepemimpinannya. Menurut Syafi’i Antonio (2007) bahwa kaum muslimin mengalami rabun dekat. Teladan yang harus ditiru dan diikuti perilakunya adalah Muhammad. Seorang Nabi dan Rosul bagi orang Islam. Tetapi justru orang Islam meniru dan mengikuti tokoh yang jauh dari tuntunan agama Islam. Perilaku tokoh orang Islam, menjauh dari perilaku Nabi Muhammad SAW yang berbicara jujur, menepati janji, dan amanah atas kepercayaannya.

Kepemimpinan
Syafi’i Antonio menggambarkan model kepemimpinan dan manajerial Muhammad SAW menjadi sembilan bagian kepemimpinan. Kesembilan elemen tersebut adalah (1) khazanah biografi, (2) pengembangan diri dan kepemimpinan personal, (3) pemimpin bisnis dan kewirausahaan, (4) pemimpin keluarga yang harmonis, (5) kepemimpinan dakwah, (6) pemimpin sosial politik, (7) pemimpin sistem pendidikan, (8) pemimpin hukum, dan (9) kepemimpinan militer.

Pengembangan Diri
Biografi Nabi Muhammad SAW sangat unik, sehingga para ahli mengatakan Nabi Muhammad SAW bukan manusia biasa dan bukan Rosul biasa. Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. Ia mampu memberikan perintah dan larangan atas dirinya sendiri, sehingga kesuksesan dia dalam memimpin diri sendiri patut kita tiru.

Pebisnis
Ia juga sorang pebisnis yang sangat berhasil pada eranya. Keberhasilannya ditunjang oleh dua prinsip yaitu uang bukanlah modal utama dan kompetensi serta kemampuan teknis yang mahir atas diri Nabi Muhammad SAW.

Pemimpin Keluarga
Sebagai pemimpin keluarga, beliau mampu menjadi ayah teladan bagi anak-anaknya. Ia mengalami suka dan duka dalam berkeluarga, namun mampu mengatasinya. Beliau pernah berduka atas masalahnya. Demikian juga, beliau pernah bahagia atas kenikmatannya. Namun demikian, beliau mampu memimpin diri di keluarganya atas permasalahan yang terjadi.

Kepemimpinan Dakwah
Bukti kesuksesan kepemimpinan Nabi atas dakwah adalah waktu 23 tahun selama berdakwah menyampaikan ajaran-ajaran Islam ke jazirah Arab. Manusia berlatar ras, suku, dan keyakinan berlomba-lomba masuk agama Islam.

Pemimpin Sosial Politik
Keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam kebijakan sosial politik saat periode Madinah yaitu Nabi Muhammad mampu mempersatukan muhajirin dan ansor.

Pemimpin Sistem Pendidikan
Meskipun Nabi Muhammad orang yang ummi atau tidak bisa menulis dan membaca, namun beliau menganjurkan umatnya untuk belajar. Minimal dengan membaca, sebagaimana dengan perintahnya di surah al ‘alaf yaitu “bacalah”.

Pemimpin Hukum
Peran Rosululloh SAW dalam pembentukan legal jurisprudence atau fiqih karena hukum-hukum lainnya diturunkan kepada Rosululloh secara langsung, baik secara lafalnya (al qur’an) atau pun secara maknanya (hadist), dan kemudian Rosululloh menyampaikan kepada umatnya.

Kepemimpinan Militer
Strategi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam mempertahankan Madinah yaitu mengadakan perjanjian aliansi dan perdamaian dengan kabilah-kabilah yang tinggal di jalur perdagangan. Selain itu, melakukan ekspedisi secara bergantian ke jalur tersebut.

Itulah bukti kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya mentransfer ilmu-ilmu agama atau menyampaikan keimanan. Namun, Nabi Muhammad SAW sosok yang harus kita teladani dari perilaku dan kepemimpinan yang sangat handal dalam Sembilan unsur kepemimpinan, sebagaimana pembahasan di atas. Semoga kita kita meniru gaya kepemimpinan beliau yang humanis dan meneladani akhlak mulianya.

Kasus
Dulu, kota Mekah mengalami banjir bandang sehingga masjidil Haram (Kabah) mengalami kerusakan. Melihat keadaan tersebut, bangsa Quraisy sepakat untuk merenovasi Kabah. Pada awalnya, mereka masih takut merobohkan Kabah. Akhirnya, Al Walid bin Al Mughiroh Al Makzumy mengawali meroboh Kabah. Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al Walid, orang Quraisy pun mulai merobohkan Kabah.

Tidak ada permasalahan selama renovasi Kabah. Permasalahan muncul, saat tahap akhir renovasi, yaitu sosok yang meletakan hajar aswad. Perselisihan pendapat terjadi hingga lima hari, bahkan hampir menyebabkan pertumpahan darah antar qobilah (golongan).
Abu Umayyah, tokoh yang paling tua di bangsa Quraisy tampil meredam dalam perselisihan tersebut. Dia mengatakan, tugas peletakan Hajar Aswad harus diberikan kepada orang yang paling dulu masuk masjid melalui pintu Bani Syaibah. Orang Quraisy pun lalu menyetujuinya.

Atas kehendak Alloh, ternyata nabi Muhammad, orang yang pertama masuk masjid. Mengetahui hak tersebut, orang Quraisy pun sepakat yang membawa “batu mulia” tersebut adalah Beliau. Beliau membawa Hajar Aswad menggunakan sorban yang dibawa secara bersama-sama dengan masing-masing kobilah di sorbannya. Saat itu, usia beliau 35 tahun.

Nilai
Berdasarkan cerita di atas, dapat diambil beberapa nilai. Pertama, pemimpin tidak memikirkan golongannya. Beliau, meskipun dari bangsa Quraisy, namun tidak menunjukkan golongan dan kabilahnya. Beliau tidak tertekan dengan kepentingan golongannya. Hal ini terlihat dari cara Beliau dalam membawa Hajar Aswad melalui sorbannya, di mana perwakilan tiap kabilah memegang ujung sorbannya.

Kedua, pemimpin harus memberikan keteladanan. Dia mampu memberikan contoh kepada pengikutnya. Segala yang melekat pada dirinya mulai dari ucapan dan tindakan adalah panutan bagi orang lain. Perkataan dan tindakannya harus sejalan dengan pemikiran dan hati nuraninya, jangan sampai Ia pandai berkata, namun tindakannya tidak sesuai dengan perkataannya.

Keteladanan nabi Muhammad ditunjukkan dengan statement bangsa Quraisy saat mengetahui, bahwa Beliau orang yang pertama datang ke masjid, “Kami rela, karena Dialah orang yang dipercaya. Maknanya, orang menilai seorang Muhammad adalah orang mampu mengembang amanah dan masyarakat menyakini bahwa Beliau mampu melaksanakan kepercayaan kepentingan umat, sehingga Ia mendapat gelar al Amin (yang dipercaya) di usia yang masih tergolong muda. Gelar non akademis tersebut pun susah didapatkan. Bukan pemerintah yang memberi gelar tersebut, namun masyarakat yang menganugerahinya.

Ketiga, pentingnya sosok yang dihormati dalam suatu kelompok untuk meredam suatu perselisihan. Jika ada permasalahan di suatu kelompok, maka libatkan menyelesaikan suatu konflik. Peran Abu Umayyah sangat penting dalam kasus tersebut, karena beliau tokoh yang mampu meredam konflik. Bayangkan, jika tanpa ada peran Abu Umayyah, maka pertumpahan darah pun bisa terjadi.

Situasi ini memberikan makna, bahwa pemimpin harus mendengar pendapat tokoh yang di-takdhimi (dihormati) di lembaganya. Ia jangan egois dalam membuat kebijakan-kebijakan lembaga. Ia harus mengakomodir semua kepentingan dari semua golongan, terlebih dengan pendiri atau mantan pemimpin lembaga.

Keempat, pemimpin harus memiliki sikap teguh pendirian dan berkeyakinan tinggi dalam hidupnya. Sebagaimana Al Walid yang memulai merobohkan Ka’bah, di mana awalnya banyak orang yang takut untuk merobohkannya, karena takut akan terjadi sesuatu. Melihat keadaan ini, Walid dengan keyakinan dan pendirian dalam hatinya memulai merobohkannya, setelah merobohkan tidak terjadi apa-apa, kemudian orang-orang mengikutinya.
Keyakinan dan prinsip yang kuat harus ditanamkan oleh seorang pemimpin. Ia tidak mudah terpengaruh oleh golongan atau pendapat orang. Ia yakin akan kebenaran yang ada di dalam hatinya. Pastinya, kebenaran yang diyakini dalam agamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: