Anakmu Mau Menggunakan Bahasa Apa?

Oleh Agung Kuswantoro

Ummi, tolong ambilkan banana! Kalimat sederhana inilah yang pernah saya dengar oleh telinga saya. Dalam batin, kok bisa ya ada bahasa seperti itu. Nah, disinilah saya ingin menuliskan tentang bahasa yang digunakan oleh keluarga, terutama orang tua terhadap anak.

Saya bukanlah orang bahasa, apalagi ahli bahasa. Namun, saya ingin belajar, karena sudak menulis. Jadi, ada keterkaitan antara bahasa dan menulis. Ayo kembali ke judulnya.

Jadi begini, bahasa di negara kita mulai masuk bahasa asing, sebut saja bahasa Inggris dan Arab. Bahasa Inggris mulai ada saingannya yaitu bahasa Arab. Contohnya sederhana, dalam keluarga ada istilah panggilan Dad dan Mam. Ada Ummi dan Abi. Bahkan, di masyarakat perkotaan kalimat sapaan good morning, sudah biasa diucapkan oleh suatu keluarga.

Sekarang, bagaimana dengan keluargamu? Saya akan jawab dulu dari keluarga saya. Saya dan istri sepakat bahasa yang digunakan di rumah adalah bahasa Jawa alus. Sekali lagi, saya bukan orang bahasa, apalagi bahasa Jawa. Jika salah dalam pengucapan atau penggunaan suku kata, ya wajarlah. Tapi, saya ingin belajar juga. Sambil berkata pada anak, sembari saya belajar. Misal, “Mubin, tolong Abi pendetke sendok.”

Kalau kalimat di atas, dikaji jelas salah Abi kok tolong, terus pendetke. Ada tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Jawa, dan Indonesia. Parah! Namun, tidak masalah. Bahasa Arab hanya pada pemanggilan orang tua. Sedangkan kesehariannya bahasa Jawa.

Di dalam rumah, saya menggunakan bahasa Jawa, termasuk saat berkomunikasi dengan istri. Tidak menggunakan bahasa Indonesia. Saya kurang greget dengan bahasa Indonesia yang diucapkan di lingkungan sekitar. Menurut saya kurang sesuai, seperti ndak ada, mungkin yang benar tidak ada. Sapa itu, mungkin seharusnya siapakah dia? Dan contoh lainnya.

Bahasa Indonesia yang dilafalkan oleh guru, khususnya TK, atau playgroup pun sebagaimana penjelasan saya di atas. Sehingga saya berkeyakinan bahwa anak saya tidak menggunakan bahasa Indonesia di rumah, namun pasti bisa menggunakan bahasa Indonesia, karena di sekolahnya, guru-gurunya menggunakan bahasa Indonesia.

Namun, sedih juga. Setahu saya, bahasa Indonesia yang dilafalkan oeh anak saya kurang pas. Saya sendiri tidak mengajarkan bahasa Indonesia pada anak saya. Jelas, bahasa Indonesia yang ia dapat dari sekolahan.

Coba bayangkan, jika keadaan seperti ini terus bagaimana? Maknanya perlu pembelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidaklah mudah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidahnya. Saya setuju, bahasa Indonesia diajarkan di sekolah, bahkan Perguruan Tinggi sekalipun.

Di lembaga saya sendiri, muncullah pakar-pakar bahasa Indonesia seperti Prof. Dr. Fathur Rohkman, M. Hum, dan Prof. Dr. Rustono, M.Hum. Saya banyak belajar dari kedua guru besar tersebut. Surahmat juga dosen muda yang sering muncul tulisannya di Suara Merdeka. Menulisnya, khas banget. Setahu saya, tidak ada yang disingkat nulisnya.

Pastinya, saya tidak mengajarkan yang bukan keahliannya. Oleh karenanya, saya tidak mengajarkan bahasa Indonesia. Tetapi saya ingin belajar bahasa Indonesia. Sehingga, saya berpedoman bahasa Jawa alus yang hampir punah. Saya pertahankan di rumah saya semampu saya. Sedangkan bahasa Indonesia biarlah urusan sekolahan. Namun, saya tidak tahu bahasa yang Indonesianya baik atau benar.

Itulah cerita bahasa di keluarga. Susah menurut saya. Karena masyarakat ini sudah banyak menggunakan bahasa. Tetapi tidak tahu benar atau tidaknya. Mungkin bahasa sudah menjadi status kelas. Jika orangnya agamis, maka ia menggunakan bahasa Arab, jika orangnya kebarat-baratan, maka menggunakan bahasa Inggris. Dan, jika ia orang kota, maka ia menggunakan bahasa Indonesia.

Rembang, 28 Desember 2016
—————————————————————-
Efek Membaca Artikel Bahasa Apa Namanya Karya Anindita S. Thays, Kompas Edisi Sabtu 24 Desember 2016, halaman 13.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: