Ingat Mati

Oleh Agung Kuswantoro

Di saat ramainya orang sedang merayakan tahun baru dengan cara meniupkan terompet, kembang api, bakar jagung, melek semalam suntuk, dan aktivitas lainnya yang menarik. Saya rasa wajar. Manusiawi. Siapa yang tidak bangga dengan bertambahnya usia atau waktu itu?

Pasti orang bahagia dengan tambahnya waktu. Namun tanpa disadari, sebenarnya jatah hidup kita berkurang. Masa kontraknya sudah mulai berkurang.

Kontrak di dunia ditandai dengan kematian. Saya dikenalkan konsep kematian oleh guru-guru saya. Alhamdulillah, walaupun beliau sekarang sudah meninggal, namun ajaran-ajarannya masih hidup. Umur boleh berakhir, tapi nilai kehidupan jangan berakhir. Konsep yang paling mengena mengenai kematian disajikan oleh Qomaruddin Hidayat dalam bukunya psikologi kematian. Menurut beliau kematian itu seperti pulang kampung. Rojiun bermakna pulang. Berarti pulang ke penciptanya.

Biasanya orang yang pulang, senang hatinya. Apalagi pulang ke rumah yang lengkap ada kedua orang tuanya. Biasanya baru sampai rumah, langsung disuguhi hidangan kesayangannya. Itulah gambaran cerita pulang.

Demikian juga kita, saat pulang ke Allah selaku yang menciptakan kita. Kita harus bangga dengan panggilannya. Malaikat izroil, kita sapa. Dengan mengatakan silakan Malaikat Izroil, selesaikan tugasmu.

Proses mencabutan nyawa sakit? Beberapa riwayat yang saya baca mengatakan sakit.

Diisinilah uniknya. Saat kita akan pulang, ada yang jemput. Kita malahan teriak, sambil berkata saya belum ingin pulang ke Allah karena aku belum bertaubat. Ada pula yang mengatakan, saya sudah kangen sama Allah, kapan saya pulang?

Itulah beberapa kalimat yang diucapkan oleh beberapa manusia.

Lalu bagaimana agar kita ingat kematian? Ada beberapa tips.
Pertama, ziarah ke kuburan. Kuburan adalah rumah bagi jasad saat ruh sudah lepas. Takut? Tidak usah pikirkan takut atau tidaknya. Yang penting pikiran kita berbuat dengan niat kepada Allah. Apa pun lah perbuatannya. Insaallah Allah akan mempermudah keluarnya ruh kita. Setelah itu, kuburan menjadi tempat tujuan kita. Melalui kuburan, kita diingatkan untuk berfikir dan berdikir mengenai fase kehidupan bahwa manusia pasti akan merasakan kematian.

Kedua, Silaturohim kepada saudara yang umurnya sudah tua. Kita kunjungi mereka. Sesungguhnya besok kita akan merasakan seperti itu. Akan menyadarkan kita bahwa badan sehat wal afiat detik ini, kelak akan mengalami menurunan stamina.

Ketiga, menjenguk orang sakit. Kegiatan ini kita lakukan agar bersyukur untuk memanfaatkan waktu untuk beramal soleh. Anugerah sehat harus dijaga dengan perbuatan yang berguna bagi sesama.

Ternyata ajal tidak memperhatikan usia, kesehatan, dan status seseorang. Ada orang yang masih muda meninggal. Ada orang yang dalam keadaan sehat, tiba-tiba meninggal karena musibah. Ada pua pejabat yang meninggal.

Tahun baru ini, mari kita renungkan diri kita sendiri seperti apa. Agar hati kita tenang, ingatlah kematian. Jangan sampai perayaannya besar-besaran. Namun jamaah solat subuh paginya alpha. Wajibnya hilang, perbuatan yang lain terlaksana. Masjid kosong. Inilah yang harus kita jaga ibadahnya. Karena kematian bisa datang kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Mari, kita jemput malaikat Izroil dengan senyuman termanis kita, atas amal sholeh kita di dunia. Selamat datang kematian, assalamu alikum ya malaikat…aku rindu dengan Penciptaku. Wallahu ‘alam.

Semarang, 1 Januari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: