Dhomir TU, NA, LII dan LAA

Oleh Agung Kuswantoro

Hari ini (2/1/2017) masjid terasa sepi, mungkin karena libur tahun baru sehingga mahasiswa hanya satu yang datang, dan tiga warga kampung. Yang aktif ikut kajian dari keempat keempat jamaah tersebut hanya ada dua.

Saya memutuskan untuk belajar yang diinginkan mereka. Pak Selamat–salah satu jamaah–langsung mengambil catatan solawatan doa khatam qur’an yaitu Allahummarkhanannaa bilquran waj ‘al hulii dan seterusnya

Sayalah yang menuliskan catatan tersebut dalam dua versi yaitu tulisan bahasa Arab dan Indonesia. Dia sekarang lagi semangat-semangatnya belajar khatam quran. Setelah hafal solawat nariyah atas catatan yang pernah saya tulis pula.

Beliau bertanya kepada saya, kok ada orang membaca solawat khatam quran dengan kalimat NI, misal KhamNI bilquran waj ‘al hulaNI dan seterusnya. Itu bagaimana? Saya menjawabnya dengan bahasa sederhana karena beliau pun dalam taraf belajar membaca alquran. NI niku kangge awak kito piyambak–itu untuk diri sendiri. Sedangkan NA–niku kangge kito sedoyo–itu untuk kita semua.

Sama halnya dengan jahilNA dan JahilTU. NA itu untuk kita semua. TU untuk kita sendiri.

Jadi doanya, kalau kita baca dengan orang lain atau jamaah dengan menggunakan NA. Namun doa tersebut kalau kita baca sendirian dengan menggunakan NI. Mengapa NA? Karena kita tidak egois. Kita mengajak orang lain larut dalam doa tersebut.

Kasus ini sama seperti waktu kita baca qunut. AllahumahdiNI kalau solat sendiri. AllahumahdiNA kalau solat jamaah. Sembari saya bercerita dengan pak Selamet, disela-sela baca khatam quran.

Setelah selesai saya pulang ke rumah, membuka kitab tasrif. Mohon maaf jika saya keliru dalam menyampaikannya. Dalam bab MADHI AU MUDHORI’ TASORROFA. Menemukan Nasora nasoroo nasoruu. Inilah bab yang saya cari. Bahwa NA itu mutakallim ma’al ghoiru–kurang lebih artinya bersama dengan orang lain–dhomirnya NA. Sedangkan TU itu mutakallim wahdah–kurang lebih artinya– diri sendiri dhomirnya TA. sedangkan untuk LII untuk kepunyaan diri sendiri dan LAA untuk kepunyaan kita bersama.

Kurang lebih seperti itu maknanya secara kaidah. Namun secara kaidah tidak saya sampaikan kepada pak Selamet. Yang ke beliau dengan bahasa yang mudah dan sederhana. Tujuannya agar tetap semangat belajar membaca alquran. Jangan sampai beranggapan belajar alquran itu susah.

Demikian cerita saya di pagi ini. Semoga Allah membimbing pak Selamat, dan jamaah serta kita semua dalam belajar membaca alquran–khususnya doa khatam quran. Amin

Semarang, 2 Januari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: