Gus Mus Luar Biasa

Oleh Agung Kuswantoro

Membaca tulisan Dr. Nganun Naim tentang Malu Dengan Mbah Bisri sangat menarik. Saya sangat tersentuh dengan tulisan tersebut, bahkan sebelum membaca tulisan tersebut saya melihat youtube mengenai beliau di acara Kick Andy.

Trenyuh, malu, dan ikhlas. Beliau begitu tulus dalam mengungkapkan ide-idenya. Bahkan pemikiran anak atau mantunya pun, beliau tanpa ada nada marah, meskipun berbeda pendapat.

Kompas pernah menampilkan tulisan Ulil Absor – mantu beliau – kemudian dibalas juga oleh Gus Mus mengenai pemikirannya. Bagi beliau, perbedaan pendapat suatu jalan untuk mencari kebenaran. Mungkin, dengan caranya, ia akan mudah menemukan jalan kebenarannya. Jadi, jalan orang berbeda-beda untuk menemukannya.

Demikian Gus Mus yang tanpa batas, selain terlihat di tulisannya, juga dilukisannya. Ada lukisan dengan judul “Dzikir Bersama Inul” menjadi lukisan yang fenomenal bagi kalangan Islam. Khususnya, kiai muda. Namun, ada kiai yang tertarik untuk membelinya. Bagi beliau, melukis ya melukis. Tidak dibatasi! Perbedaan dalam menafsirkan lukisan tersebut, menunjukkan maqom seseorang dalam memahami kebenaran Allah.

Beliau mengatakan berpikir itu berdikir. Jangan dianggap berzikir itu melafalkan saja, tetapi memahami dan menganalisis juga berpikir. Jadi, berpikirlah—atau menulislah—agar umat Islam maju. Dengan cara seperti itu, kita akan memperluas suatu konsep.

Itulah, Gus Mus. Betapa luas pemahamannya. Pendidikan beliau yang tanpa sekolah formal secara lengkap, bisa kuliah di Kairo, Mesir. Disanalah, bertemu Gus Dur saat kuliah. Bahkan, beliau mengatakan pembelajaran yang ada di Kairo sama seperti di pondok dulu. Lalu Gus Dur mengatakan percuma saya kuliah di jurusan ini, “eman-eman menghabiskan umur”, karena mengulang materinya lagi. Akhirnya, Gus Dur keluar dari jurusan tersebut.

Sekali lagi, saya kagum dengan beliau. Menulis di mana pun. Tidak terpengaruh oleh keadaan, sehingga karya-karya kita terbaca oleh pembaca. Yang terpenting menulislah, agar kita bisa berkontribusi di dunia ini. Gus Mus menulis dimana saja. Karyanya pun ada dimana-mana.

Semarang, 9 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: