Mengarsip Mantan

 

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ada seseorang bertanya kepada saya. Sebut saja ia dengan nama Fulan. Ia bertanya seperti ini, pak “Agung, apakah saya boleh menyimpan arsip Sang Mantan?” ekspresi saya pun, datar saya sembari melihat wajah Fulan. Sembari saya akan menjawabnya. Terlihat wajah dia, sedih dan mata memerah. Dalam hati, saya menduga bahwa ia dalam keadaan tidak bahagia.

 

Sebagai orang yang diberi pertanyaan, saya berusaha menjawabnya. Namun, bingung pula, mengapa pertanyaan tersebut diberikan kepada saya. Apakah saya ahli arsip? Atau saya ahli percintaan? Nah disitulah, perdebatan batin saya. Posisi tersebut, tidak membuat pusing saya. Saya mencoba menjawabnya dengan dasar ilmu kearsipan. Tujuannya, agar ia bahagia pula.

 

Begini jawaban saya. Mengarsip mantan dalam hati, jangan. Tetapi, musnahkan saja arsip-arsip mantan tersebut. jika kita menyimpannya, memori kita akan terpanggil. Ingatan kita, akan tertuju kepada dia. Agama islam –sepengetahuan saya—mengajarkan keikhlasan. Pemusnahan tersebut dimaknai dengang mengikhlaskan.

 

Cobolah, mengikhlaskan arsip dia. Termasuk fisik dia dalam hati. Jika, kau menyimpannya dalam hati, niscaya kau akan merekam keberadaan dia terus. Ikhlaskanlah dia dalam hati kau, niscaya kau akan bahagia. Jika kau, masih meyimpannya maka akan selalu ingat. Pertanda, kau belum ikhlas.

 

Musnahkan saja. Buat berita acara kepada Allah. Libatkan Allah dalam pembuatan acara pemusnahan agar kau menemukan orang yang lebih baik lagi. Katakan pada Allah, terima kasih sudah menemukan berkas atau file yang baik, namun file atau berkas tersebut masa Jadwal Retensi Arsip (JRA) telah habis. Sehingga perlu dinilai kembali. Alhasil dari penilaian tersebut adalah pemusnahan dengan cara dibakar. Tidak cukup dicacah karena hati akan teriris dan air mata akan meleleh.

 

Bakar saja. Nah disinilah, kehadiran Allah sangat penting dibutuhkan agar kau tidak bunuh diri atau patah hati, yang mengakibatkan malas bekerja atau hidup tidak bergairah. Agar Allah menuntun keiikhlasanmu. Allah-lah sebagai pemilik hati. Cukup Allah saja, hati ini menyimpan Allah. Mantan, ikhlaskan. Insya Allah kau, bahagia.

 

Kalimat-kalimat diatas sebagai jawaban saya pada dia. Dia pun tersenyum. Wajahnya, mulai berbinar-binar. Ia langsung ambil wudhu dan solat untuk membuat berita acara keihlasan memusnahkan arsip mantan dengan cara pembakaran arsip yang tersimpan di hati. Musnahlah rasa kecewa dan lenyap pula rasa  ketergantungan pada satu arsip. Muncullah arsip baru yang perlu diidentifikasi, dicatat, dikelompokkan mana yang baik dan yang buruk. Lalu, kita kaji lagi dengan berkonsultasi langsung kepada pemilik hati, yaitu Allah. Waallahu ‘alam

 

Semarang, 21 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: