Sri Mulyani: Power Self

Sri Mulyani: Power Self

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Menikmati pidato akademik – orasi ilmiah – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani sangat menarik. Beliau berorasi saat Dies Natalis UNNES yang ke-52 tahun pada Kamis (30/2/2017). Dimana umur UNNES yang unda-undi (hampir mirip) dengan umurnya beliau.

 

 

Setiap kalimat dan gaya saya perhatikan. Sederhana penampilannya dan gayanya pun tak mati. Semuanya hidup. Semua audience terpanah matanya ke pidato beliau. Ada tepuk tangannya, rasa haru (sedih), dan tertawa.

 

 

Beliau “hebat” sudah bisa mengambil hati audience. Beliau yang juga guru berhasil tampil sempurna dihadapan muridnya. Beliau menyiapkan segala keperluan selama pembelajaran. Strategi ia tata sehingga bicaranya pun enak didengarkan.

 

 

Emosinya bagus sekali. Saat menyebutkan kedua orang tuanya dengan sebutan “almarhum” dan “almarhumah” diawal pidatonya, beliau terhenti. Pertanda “haru” akan jasa beliau yang juga membesarkan UNNES. Saat ia akan terpeleset dari mimbar podium, ia mampu membuat “bumbu” candaan yang menarik audience, sehingga audience pun tertawa. Beliau pandai mengelola emosi dalam keadaan apa pun.

 

 

Menariknya lagi adalah penyampaiannya didukung oleh data yang akurat dan valid. Yang saya tangkap dari pidatonya – kalau tidak salah mengatakan – Data dari Bank Dunia dari hasil penelitiannya. Beliau berhenti pidato sejenak. Langsung mengatakan “lucu”, kok Bank Dunia yang meneliti tentang pendidikan. Saya pun menduga seharusnya lembaga pendidikanlah yang meneliti, dimana ada korelasi pendidikan dengan pilihan daerah (Pilkada).

 

 

Tajam sekali analisisnya. Beliau sampaikan hanya dalam bentuk ceramah. Tanpa power point. Power self atau kekuatan dirinya menjadi modal saat presentasi, ia mampu menguasai dirinya. Keindahan media powerpoint atau berbantuan video, ia abaikan. Sekali lagi, presentasinya berbasis pada kekuatan diri sendiri.

 

 

Jarang sekali, ia melihat teks pidatonya. Tatapan mata tertuju kepada audience. Gerakan tangan pun  ia lakukan. Bahkan ada kejadian yang tak terduga – saat terpeleset di podium – beliau sempat mengatakan “ups” sembari tangannya memperbaiki berkas yang ada di meja podium.

 

 

Luar biasa untuk sekelas menteri. Maknanya, beliau pandai. Pidato yang kurang lebih satu jam, kental dengan data dan interpretasi, namun bisa dihidangkan dengan lezat. Pengalamannya di Bank Dunia menjadi “bumbu” yang sedap saat menyajikan asumsi-asumsi konsepnya.

 

 

Saya sangat terhipnotis dengan pidato beliau. Saya coba telusuri karya-karya beliau dan penelitiannya. Saya menemukan buku teori moneter yang banyak dirujuk. Buku yang sangat menarik yaitu  buku dengan bahasa Inggris berjudul Reforming Intergovernmental Fiscal Relations and the Rebuilding of Indonesia, yang diedit oleh James alm, Jorge Martinez – Varques, dan beliau. Buku tersebut akurat sekali datanya ditulis dalam bahasa Inggris menunjukkan eksistensi atau reputasinya di luar negeri. Bukunya tajam sekali analisisnya.

 

 

Sri Mulyani adalah dosen banget. Pemikirannya luar biasa. Sejak muda, pastinya dididik di lingkungan terbaik. Beliau selalu mendengarkan nasihat-nasihat kedua orang tuanya yang dosen di UNNES. Pemikiran kedua orang tuanya, juga sangat dahsyat menjadikan UNNES dapat Berjaya hingga saat ini. Prof. Satmoko – ayahanda Sri Mulyani – berjasa dalam menetapkan UNNES sebagai LPTK yang berkualitas. Prof. Retno Sriningsih – ibu Sri Mulyani – berjasa dalam pendirian program doktoral Manajemen Pendidikan.

 

 

Doa kedua orang tua yang biasa dikumandangkan saat bayi lahir yaitu menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, itu terwujud. Padahal beliau adalah seorang wanita. Namun, reputasinya diakui oleh dunia.

 

 

Beliau membuktikan posisinya sebagai ibu teladan bagi anak-anaknya. Tak cukup  menjadi wanita, istri, dan ibu saja. Tetapi ibu teladan, benar pilihan mahasiswa saya, dia – mahasiswa – memilih Sri Mulyani sebagai pemimpin idolanya. Terbuktilah saat beliau datang ke UNNES. Luar biasa.

 

 

Sekali lagi dan terakhir. Beliau adalah dosen teladan yang disibukkan dengan pemikiran-pemikiran bangsa. Beliau adalah pemimpin hebat. Beliau adalah ibu teladan bagi anak-anaknya. Saya sebagai dosen harus banyak berguru padanya. Banggalah kedua orang tuanya, karena doa beliau selalu mengalir. Amin.

 

 

Semarang, 2 April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: