Waktu Itu Milik Allah

Waktu Itu Milik Allah

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Suatu waktu saya mengajar di kelas dengan mata kuliah “Pendidikan Agama Islam” jam 15.00 WIB. Saya datang memang terlambat karena sholat Asar terlebih dahulu. Kemudian, saya masuk kelas, dan menanyakan ke mahasiswa dengan kalimat “Apakah sudah sholat Asar?”. Mereka menjawab “belum”. Jawaban tersebut kompak. Satu kelas belum ada yang sholat, padahal waktu sudah menunjukkan sholat Asar.

 

 

Di kelas yang sama pula, suatu saat saya bertanya kepada mahasiswa. Dengan pertanyaan sebagai berikut, “Apakah sudah sholat Asar?”. Mereka (mahasiswa) menjawab “Sudah, Pak”. Lalu saya bertanya lagi, “Siapa yang tadi, pagi (hari ini) sholat Dhuha?”. Mereka diam. Lalu, saya mengatakan kepada mereka, jawab jujur saja, tidak mempengaruhi nilai kok. Ternyata satu orang yang mengacungkan tangan. Berarti hanya satu orang yang sholat Dhuha di kelas tersebut dari 40 mahasiswa

 

 

Saya pun penasaran lagi, untuk bertanya di kelas itu. “Siapa yang hari ini tadi pagi, tidak sholat Subuh?”. Ternyata yang mengacungkan jari lebih dari dua orang. Alhamdulillah, mereka mau mengacungkan jari, maknanya mereka tidak malu. Langsung, saya mengubah strategi dalam pembelajaran, dimana Iman sebagai dasar dalam kehidupan. Terlebih, mereka sudah mukallaf (dewasa), dimana sudah terbebani hukum.

 

 

Melihat kejadian tersebut, perlu kita pahami bersama, bahwa hidup di dunia ini sudah pasti dan waktu selalu berjalan. Menjadi tua itu dengan sendirinya. Tapi, tua memiliki amal sholeh, belum tentu orang bisa mendapatkannya. Memang, saya sendiri bukanlah lulusan dari sekolah (Perguruan Tinggi) berbekal Islam seperti IAIN atau STAIN. Apalagi, perguruan tinggi dimana saya bekerja, bukanlah perguruan tinggi berbasis agama, tetapi orang mengatakan perguruan tinggi umum yaitu Universitas. Masalah keagamaan menjadi urusan pribadinya dengan Allah.

 

 

Menjadi tidak tepat, saya menyampaikan materi teknologi alam raya (semesta), Islam rahmatan lil ‘alamin, politik Islam, menikah, dan lainnya. Tetapi, ibadah harian yang wajib di tinggalkan oleh seseorang. Mendingan saya mengkaji sholat dan mempraktikannya langsung di masjid. Itu pula yang saya gunakan dalam strategi pembelajaran ini.

 

 

Saya “mengubah” strategi pembelajaran ini, karena “mumpung” mereka masih bertemu dengan saya, dan saya “kebetulan” mengetahui mereka meninggalkan kewajiban terhadap Allah. Menjadi salah jika saya mendiamkan diri atau tidak berbuat. Apalagi usia mereka masih belia yaitu sekitar dua puluh tahun. Dua puluh tahun saya sudah dengan mudah meninggalkan wajib. Mungkin, dengan mudah mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lainnya.

 

 

Mending kita atur ulang lagi waktu untuk belajar ilmu agama kepada guru yang ahli. Lupakanlah masa lalu, atas perbuatan yang kurang tepat kita lakukan. Lakukanlah, yang terbaik saat ini. Masa lalu, anggap sebagai kenangan yang jangan kembali lagi, karena kesalahan kita. Perbaiki, mumpung masih hidup.

 

 

Hidup harus disandarkan kepada Allah. Apa yang kita lakukan berarti harus berdasarkan atas keridhoan Allah. Jangan sampai setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun “lepas” dari Allah. Sebagai mahasiswa harus siap bertemu Allah dimana saja. Allah ada dimana-mana. Waktu pun harus dijaga. Jangan sampai “satu detik” pun lepas dari Allah. Sekali lepas, maka Allah akan menjauh. Setan yang akan hadir di kehidupan kita. Setan jangan diartikan setan yang di alam ghoib, tetapi setan “wujud” syaitan saat ini bisa “facebook, twitter, manusia (juga bisa), atau lainnya dengan catatan melalui “alat-alat” itu menjadikan lupa kepada Allah. Lupa kepada Allah bisa dimakani lupa sholat, tidak puasa, atau berkata kotor.

 

 

Agar kita bisa selalu ingat Allah disela-sela waktu kita adalah membangun lingkungan yang kondusif. Lingkungan harus dijaga. Karena lingkungan memiliki dampak yang luar biasa. Kecuali, jika orang tersebut memiliki iman yang kuat. Misal, saat di kost teman-temannya pada asyik tidur waktu pagi, maka sholat Dhuha-lah. Ini menunjukkan lingkungan memiliki pengaruh dalam kehidupan seseorang. Jadi, tidak gampang pula membentuk lingkungan yang kondusif. Orang yang melakukan sholat Dhuha, ditengah-tengah orang yang “asik” tidur, berarti ia memiliki “tameng” atau “penangkal” iman yang kuat. Namun, tidak semua orang bisa melakukan seperti itu.

 

 

Jangan kita paksa agar mengenal Allah, karena hati urusan Allah. Biarlah Allah yang akan membuka hatinya di waktu dan tempat yang tepat. Bukan manusia. Tugas kita adalah “mengarahkan” atau memberikan materi tentang rukhaniah. Jadi, tidak ada istilah “wajib” hadir atau lainnya. Bukankah, dakwah Nabi Muhammad SAW penuh tantangan?

 

 

Jangan pula, beranggapan saya masih mudah, besok ‘kan masih bisa bertaubat? Hal ini jangan terjadi pada kita dalam berpikir. Ingat waktu itu milik Allah. Jadi, bersegera saja, minta maaf kepada Allah. Kita ‘kan tidak tahu, kapan ajal kita menjemput? Bisa nanti siang, pagi, malam, esok, atau tahun yang akan datang. Semua rahasia dan milik Allah.

 

Poin yang saya sampaikan adalah

  1. Waktu itu milik Allah, jangan beranggapan masih ada umur panjang.
  2. Bersegeralah minta maaf kepada Allah atas kesalahan yang kita lakukan.
  3. Bangun lingkungan yang kondusif agar selalu ingat kepada Allah.
  4. Ajak teman kita agar selalu ingat kepada Allah, dimulai dengan hal-hal yang kecil.
  5. Allah ada dimana-mana, dan kapan pun dimanapun, melalui sholat di kamar kos, diskusi keagamaan, atau sholat – sholat sunah, dan baca al qur’an.
  6. Waktu dan hati itu milik Allah. Biarlah Allah yang membuka hati dan waktu seseorang untuk mengenal Allah. Bukan “dipaksa” untuk mengenal Allah, apalagi “diwajibkan”.

 

 

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.

 

 

Catatan: mohon disampaikan di Sekolah Mentoring UMAI (SMU) di masjid Fakultas Teknik UNNES, Semarang, 1 Mei 2017)

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: