Merencanakan Amalan di Bulan Ramadhan

Merencanakan Amalan di Bulan Ramadhan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa (QS. Albaqoroh:183)

 

Ramadhan akan menghampiri kita sebentar lagi. Insya Allah 21 hari ke depan akan ada “tamu istimewa”. Tamu yang tak sekedar tamu. “Bulan” yang tak sekedar “bulan”. Guru saya mengibaratkan Ramadhan seperti “sekolahan”. Berarti Ramadhan tak sekedar “sekolahan”. Ia bukan sekolahan biasa, tetapi sekolahan “special”. Karena “special” segala sesuatunya harus dipersiapkan.

 

Mengapa dikatakan “sekolahan special”, mari kita lihat. Pertama, siswa/anak didik atau masukan (input) sekolah tersebut adalah orang beriman. Kalimatnya adalah “amanu” dalam al qur’an disebutkan seperti itu. Jadi, beragama Islam saja, tidak cukup. Pengalaman dari beberapa Ramadhan tahun yang lalu. Saya mengamati ada orang tidak puasa, ternyata mereka beragama Islam. Tidak hanya satu orang. Jika perhatikan, secara fisik sehat. Artinya tidak ada masalah secara kesehatan. Secara syarat puasa, ia lolos untuk berpuasa. Namun ia tidak puasa, hanya alasan “lemes” dan “malas”. Ini pertanda, bahwa ibadah puasa diwajibkan tapi orang yang beriman. Iman harus dibuktikan atau diamalkan, tidak cukup diucapkan. Salah satu pembuktiannya adalah dengan “puasa” dari Subuh hingga Magrib.

 

Kedua, puasa. Puasa yang kita lakukan berbeda dengan puasa-puasa dengan zaman Nabi Muhammad SAW. Kita berpuasa sejak waktu Subuh hingga Maghrib. Ada yang puasa di sebelum Nabi Muhammad SAW setelah berbuka puasa waktu Magrib, malamnya berpuasa lagi. Nabi Muhammad SAW berkata “Barang siapa yang menghidupkan malam Qadar -dengan ketaatan- karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

 

“Kompetensi” puasa inilah yang menjadi ciri khas “Sekolahan Ramadhan”. Tidak tanggung-tanggung, berpuasa selama 30 hari. “Sekolahan” yang lain tidak ada puasa selama sebulan penuh. Biasanya seminggu dua hari, yaitu Senin dan Kamis. Namun, untuk “sekolah Ramadhan” tidak begitu. Selasa, Rabu, Jum’at, Sabtu, dan Ahad pun berpuasa selagi di bulan Ramadhan.

 

Ketiga, Tarawih. Sholat tarawih hanya pada malam bulan Ramadhan. “Kompetensi” berupa sholat tarawih hanya ada pada “Sekolahan Ramadhan”. Selain, “Sekolahan Ramadhan” tidak ada ada kompetensi bernama Tarawih. Mengapa disebut sholat tarawih? Tarawih artinya istirahat. Kata tarawih adalah bentuk jamak dari kata tarwih, yang berasal dari kata raha yang artinya mengambil istirahat. Shalat ini disebut shalat tarawih, karena orang yang menjalankan shalat ini mengambil istirahat sejenak setelah selesai salat sunnah ba’da isya dua rakaat. Atau, disebut sholat tarawih karena orang-orang beristirahat setiap selesai empat rokaat, dengan sholawat atau berdzikir.

 

Nabi Muhammad SAW berkata “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” [HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Hadits shahih

 

Sudah tidak zamannya kita memilih masjid atau musholla untuk Sholat Tarawih dengan membedakan “mana masjid atau musholla dengan jumlah rokaatnya 20 dan 8. Atau menentukan mana yang paling baik antara 20 dan 8 rokaat. Mengapa demikian? Masyarakat sudah dewasa. Yang paling penting adalah bagaimana setiap malam dari malam pertama hingga malam tiga puluh, sholat tarawih “tidak pernah bolong”. Ibadah Sholat tarawih “tidak terputus”. Masjid atau mushola “ramai” diisi dengan ibadah. Bukan, justru tambah sepi semakin hari atau mendekati Idul Fitri.

 

 

Tidak tepat sholat tarawih dilakukan dengan cepat-cepat. Karena sholat tarawih sendiri artinya istirahat. Jadi perlu dilakukan dengan ketenangan. Khusuk menghadap ke Allah dalam sholat, sehingga dibutuhkan istirahat dalam beribadah. Jika cepat-cepat, maka tidak istirahat dan tidak tenang dan tidak khusuk.

 

 

Mengingat, “kompetensi” sholat tarawih sangat dianjurkan dan Nabi Muhammad SAW melakukannya, perlu kita rencanakan, terutama jika di masjid, musholla, dan perumahan. Dulu, sebelum masjid ini muncul, ada musholla “buatan” yang diciptakan untuk sholat Isya dan Tarawih berjamaah yang terletak di parkiran rumah Bapak Bahrul. Meskipun hanya “parkiran” namun sudah direncanakan siapakah Imam, Bilal, Pengisi Kultum, Imam pengganti dan Bilal pengganti. Jadi, tidak asal melakukan sholat tarawih. Pengurus atau pengelola masjid harus merencanakan ini semua. Tidak asal sholat tarawih. Ingat ada “jamaah”. Jadi, harus diatur, agar para jamaah tidak bingung.

 

 

Keempat, tadarus al qur’an. Budaya masyarakat kita, setelah sholat tarawih adalah tadarus al qur’an atau membaca al qur’an. Orang yang membaca al qur’an  pahalanya sangat besar yaitu satu huruf, akan mendapat sepuluh kebaikan. Nabi Muhammad SAW berkata “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

 

Demikian juga yang mendengarkannya akan mendapat pahala yang sama. Justru masalahnya adalah “apakah setiap orang (baca:muslim) bisa membaca al qur’an? Atau apakah setiap anak-anak/dewasa yang muslim bisa membaca al qur’an?

 

Pengamatan saya, bahwa tadarus al qur’an di suatu tempat lebih dominan pada satu atau dua orang. Belum semua orang bergabung dalam kegiatan tadarus al qur’an. Penasaran, saya mengapa hanya dilakukan oleh beberapa orang? Saya menanyakan kepada mereka. Ternyata jamaah yang lain belum bisa baca al qur’an. Jika demikian, level tadarus atau membaca (termasuk menyimak), kita turunkan levelnya, menjadi belajar latihan membaca al qur’an. Daripada membaca al qur’annya “banter”, tajwidnya tidak jelas, hak suara huruf-huruf “ditabrak”, dan lainnya, maka lebih baik kita belajar membaca al qur’an. Harapannya, lima tahun lagi ada generasi orang yang sudah bisa membaca al qur’an di masjid atau musolla tersebut. Jadi, tadarus al qur’an tidak dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Pengelola atau pengurus perlu memikirkan hal tersebut, jika ada program tadarus al qur’an, maka harus ada yang membaca, menyimak, dan ketentuan waktunya. Ketentuan waktu, misal tadarus al qur’an hingga jam 10.00 malam atau ba’da subuh. Atau ba’da subuh hanya untuk Kajian Islami saja. Hal ini penting, karena tadarus sangat dianjurkan oleh Rasulullah, terlebih di bulan Ramadhan.

 

 

Kelima, itikaf. Tempat itikaf itu di masjid. Bukan sembarang tempat bisa dilakukan untuk itikaf. Biasanya masjid besar memiliki program ini. Nabi Muhammad berkata Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, “Sesungguhnya Nabi saw. beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya”. [Hadits Sahih Riwayat Imam Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik

 

Setiap jamaah bisa merencanakan waktunya, hingga perlengkapannya. Itikaf adalah duduk diam di masjid dengan tujuan mengingat Allah. Perlu kita rencanakan sejak awal (baca: sekarang), kapan kita itikaf, di masjid mana kita itikaf, dan bacaan apa yang kita baca. Pahala itikaf besar, terlebih dilakukan di akhir bulan Ramadhan. Rencanakanlah. Jika kita pengelola atau pengurus masjid, buatlah agenda khusus untuk kompetensi ini agar bisa terlaksana dengan baik.

 

 

Masih banyak kompetensi-kompetensi yang lain di sekolahan Ramadhan seperti memperbanyak sedekah, menghidupkan malam lailatul qodar, istighfar pada malam hari di akhir bulan Ramadhan, dan umroh. Namun, karena keterbatasan waktu hanya lima yang kita kaji.

 

Sebagai penutup, ada beberapa poin yang perlu kita catat:

  1. “Sekolahan Ramadhan” akan datang dalam 21 hari lagi. Kita harus merencanakan segala sesuatu kebutuhan kompetensi atau ibadah-ibadah di dalamnya.

 

  1. Orang berimanlah yang harus terpanggil dalam “Sekolahan Ramadhan”. Iman harus dibuktikan dengan berpuasa.

 

  1. Berpuasa di “Sekolah Ramadhan” dilakukan secara penuh selama satu bulan atau 30 hari. Tidak cukup hari Senin dan Kamis saja. Tetapi hari Selasa, Rabu, Jum’at, Sabtu, dan Ahad selagi di bulan Ramadhan maka wajib berpuasa.

 

  1. Sholat tarawih adalah sholat yang dilakukan dengan “tenang”, dimana ada istirahatnya, sebagaimana nama sholat tersebut, setiap dua atau empat rokaat. Kurang tepat jika dinamakan tarawih tetapi dilaksanakan dengan cepat-cepat.

 

 

  1. Tadarus al qur’an harus dihidupkan di tempat ibadah. Jika masyarakat masih minim yang bisa baca al qur’an, ajaklah dengan belajar membaca al qur’an. Kelak, insya Allah akan ramai tempat ibadah tersebut dengan suara baca al qur’an.

 

  1. Terakhir, itikaf harus kita rencanakan sejak saat ini. Tidak semua masjid memiliki program kompetensi itikaf. Oleh karenanya, harus kita atur.

 

 

Mari kita atur atau rencanakan amalan-amalan atau kompetensi-kompetensi Sekolah Ramadhan tahun 1438 Hijriyah ini. Jangan asal melangkah atau asal sekolah saja. Malahan, mungkin tidak bisa melakukan kompetensi atau amalan di sekolah Ramdahan. Yuk, kita rencanakan sejak sekarang. Wa’allahu’alam.

 

Semarang, 5 Mei 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: