Menyampaikan Dakwah Apakah Harus Berpura-Pura?

Menyampaikan Dakwah Apakah Harus Berpura-Pura?

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Sampaikan ilmu dariku walaupun satu huruf (HR. Bukhori)

 

 

Itulah hadis yang sangat mashur disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Orang yang “pandai” atau “tahu” memiliki kewajiban untuk menyampaikan. Strategi penyampaian atau dakwah itu tidaklah mudah. Nabi Muhammad SAW sendiri memiliki tantangan hingga berdarah bagian mulutnya (tepatnya gigi). Sekelas Gus Mus saat berdakwah menyampaikan ajaran Islam, hingga ada orang mengatakan “dhasmu”. Inilah pertanda dakwah penuh tantangan.

 

Menjadi “dilema” bahwa ilmu walaupun satu huruf harus disampaikan, tetapi tidak semua orang menerima atas ilmu itu sendiri atau cara penyampaiannya. Dalam sebuah “siir” disampaikan bahwa orang berilmu wajib menyampaikan atas ilmu tersebut. Bahkan, jika tidak disampaikan siksa lebih dahulu dibanding penyembah berhala. Atau, ilustrasi-ilustrasi seperti orang yang berilmu, tidak disampaikan seperti pohon yang tidak berbuah.

 

 

Menjadi pendakwah di masyarakat – menurut saya – itu lebih susah, dibanding dengan berdakwah di kampus atau organisasi. Masyarakat tantangannya sangat banyak. Intelegensi atau kemampuannya berbeda-beda. Menjadi wajar, jika segala sesuatu itu akan diterima dengan “suka” atau “benci” karena tiap orang memiliki persepsi atau tanggapan yang berbeda.

 

 

Namun, jangan sampai pula seorang “pendakwah” itu berpura-pura dalam menyampaikan. Tegaslah dalam penyampaian ilmu. Ilmu itu tegas. Hanya cara penyampaiannya saja. Jangan sampai, pendakwah yang memiliki ilmu itu “didikte” atau diperintahi oleh masyarakat. Pendakwah malah ikut pada masyarakat. Beranilah “menolak” jika itu bertentangan dengan ilmu yang selama ini ia ketahui. Luruskan mana yang benar dan salah. Jangan dibiarkan yang salah itu salah. Malah menjadi kesalahan abadi. Berilah pengertian kepada masyarakat, dengan “modal” pendakatan komunikasi yang apik.

 

 

Jangan selalu di-“amini” permintaan masyarakat. Atau, saat berkumpul masukan unsur “nilai-nilai” ilmu, jangan asal bercerita atau ngobrol. Ajari atau perkenalkan huruf hijaiyah atau cara sholat. Yang penting disampaikan terlebih dahulu. Masalah ditolak atau diterima itu urusan masyarakat. Tugas pendakwah itu menyampaikan atau “tabligh”. Bukan berpura-pura tidak tahu atau mengikuti ketidakpasan atau ketidaktepatan atas suatu ilmu hanya karena “tidak enak” dengan cara pandang masyarakat.

 

 

Beranilah. Nabi Muhammad SAW mengajarkan itu. Hingga suatu puncaknya, beliau hijrah ke Madinah. Maknanya, perlu penyegaran dalam berdakwah. Atau, masyarakat Makkah susah diajak dakwah. Atau pula, Nabi Muhammad SAW dalam keadaan “genting” atas dakwahnya, sehingga Allah memerintahkan untuk berhijrah.

 

 

Gus Mus aja, sosok ulama kharismatik dibilang “dhasmu”. Itu contoh nyata. Kita sebagai umat yang berilmu sudah cukup berpura-pura. Sudah saatnya berdakwah dengan ilmu yang kita punya. Minial satu huruf. Waallahu’alam.

 

 

Semarang 19 Mei 2017

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: