Kenangan Kopdar IV: Bertemu Guru Menulis

 

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Belajar bisa dari buku atau internet. Lebih bagusnya lagi, langsung bertemu dengan gurunya. Nyata dan jelas, saat kita ada kesalahan, karena sang guru memberikan masukan atas kekurangan kita.

 

 

Pesan itulah yang saya dapatkan di Kopdar IV SPN di ITS pada Ahad (21/5/2017). Ada tiga pembicara, dimana mereka adalah Dr. Ainun Na’im, Hernowo Hasyim, dan Much Khoiri.

 

 

Dr. Ainum – sapaan Dr Ainun Na’im memaparkan dan praktik cara menyunting buku. Menurutnya, menyunting pekerjaan yang susah. Dibutuhkan emosi yang tenang. Jangan kita langsung mengedit – dalam arti konteks – setelah menulis. Tetapi, berilah jeda agar emosi matang. Misal menulis pada pagi hari, maka menyuntingnya pada malam hari. Pasti kita akan menemukan kekurangan atas tulisan tersebut, seperti tambahan ide berupa tambahan paragraf atau kalimat antar paragraf dalam menyambungkannya.

 

 

Cara termudah dalam menyunting agar cepat adalah mencetak atas tulisan tersebut. Misalnya, kita akan menemukan kekeliruan ketik, seperti yang seharusnya yang ; tahun 1927 seharusnya 1627; seksama seharusnya saksama; dan contoh lainnya, ujar Dr. Ainun.

 

 

Penulis bertugas menulis. Penyunting bertugas menyunting. Namun beberapa aturan di sebuah penerbit dimana penulis juga harus menyunting atas tulisannya. Atau pula, penulis juga harus mampu merevisi atas karya ilmiahnya sesuai kaidah selinggungnya.

 

 

Jika penulis dihadapkan pada kondisi harus menyunting atas naskah bukunya dan merevisi atas artikel ilmiahnya, maka ikutilah norma tersebut agar buku kita dicetak di percetakan tersebut dan di-publish di jurnal tersebut. Saat menyunting biasakan menyimpan setiap filenya. Menyunting dua kali, maka ada dua file yang disimpan. Tujuannya, agar terekam setiap editannya.

 

 

Hernowo Hasyim memperagakan free writing atau menulis bebas. Teknik ini sebagai latihan dalam keterampilan menulis. Menulis harus dibiasakan. Jadi, harus disiplin. Jangan berharap menulis sehari langsung 10 halaman. Buat jadwal, tiap hari satu halaman selama 15 menit.

 

Model demonstrasi yang diperagakan oleh Hernowo Hasyim adalah (1) menulis bebas selama 3 menit dengan alarm, (2) menulis bebas dengan tema yang sudah ditentukan selama 5 menit dengan alarm, (3) menulis  atas hikmah kehidupan atau buku yang telah dibaca.

 

 

Tujuan menulis bebas ini agar kita “ringan” atau tanpa beban dalam pikiran, bahwa menulis itu mudah harus ditumpahkan idenya. Seketiknya atau setulisnya. Bisa angka atau salah ketik. Tidak ada rumus mengeditnya. Yang penting menulis. Lalu, tidak usah disimpan karena menganggap sebagai menulis dengan penuh emosi.

 

 

Menulis dengan tema itu lebih susah dibanding dengan tanpa tema. Dibutuhkan pengalaman atau referensi. Sedangkan menulis atas hikmah kehidupan dibutuhkan pengalaman nyata atau referensi yang cukup agar bisa menghasilkan sebuah tulisan.

 

 

Yang dilakukan oleh Hernowo Hasyim menjadikan saya paham dalam teknis menulis. Keterampian yang diasah. Penekanannya, bukan pada struktur bahasa, gaya bahasa, ejaan, atau kalimat baku. Yang terpenting adalah idenya “keluar”(baca: ditulis) terlebih dahulu. Masalah bahasa itu urusan teknis.

 

 

Much. Khoiri memaparkan strategi memasarkan buku atas buku yang telah ditulis. Emcho – sapaan Much. Choiri – mengatakan dibutuhkan strategi khusus untuk memasarkan buku yang kita tulis. Buku tersebut harus memiliki tema yang “laris” di masyarakat, bahkan dibutuhkan keberanian dalam membuat judul. Misal, judul buku “memelihara ikan lele sebesar bayi”, “pralon berasa manis”, “menulis agar anti poligami”, dan judul yang lainnya. Judul-judul itulah yang harus mendapatkan perhatian penulis yang akan menerbitkan bukunya. Karena dalam menerbitkan buku sudah membutuhkan modal, sehingga modal itu harus kembali. Keuntungan dengan menerbitkan buku sendiri dan cetak sendiri adalah keuntungan 100% untuk penulis. Dapat dikatakan harga dikendalikan oleh penulis. Penulis bebas menentukan harganya. Bayangkan penulis tersebut sudah tenar, lalu diundang disebuah seminar. Salah satu tiket untuk mengikuti seminar tersebut adalah mendapatkan buku (membeli buku), meskipun dengan harga tidak full (75%), namun, karena pesertanya banyak, maka keuntungan dapat dikalikan berapa kali lipatnya. Belum lagi, penulis akan mendapatkan honor sebagai pembicara. Maka penjualan buku dan honor pembicara. Itulah salah satu strategi dalam penjualan buku dengan dicetak penerbit sendiri (Indie publishing).

 

 

Senang sekali rasanya bisa bertemu langsung dengan “guru” menulis. Bahkan acara langsung dibuka oleh Rektor ITS, Prof. Joni. Padahal, acara ini adalah acara komunitas, namun didukung oleh Rektor ITS. Bahkan, beliau menyumbang dana pada kenang-kenangan kepada SPN (Sahabat Pena Nusantara) berupa dua buku yang ia tulis berisi motivasi kehidupan.

 

Saya juga bertemu dengan Kiai Masruri. Kiai yang tak cukup pandai berdakwah, tetapi juga menulis. Kiai tak cukup bertutur, tetapi menulis. Karena, kebanyakan kiai pandai bertutur, tetapi sedikit yang mahir menulis.

 

 

Sebagai penutup, rasanya saya ingin mewariskan ilmu saya berupa buku. Buku adalah warisan yang paling terbaik. Ilmu disebar melalui tulisan akan terus bertambah. Sedangkan warisan harta dibagikan akan habis. Sekarang, jadi semangat untuk menulis dan menulis, karena sebaik-baik warisan adalah ilmu, yang saya karyakan dalam wujud buku. Waallahu’alam.

 

 

Ditulis di Semarang, tanggal 22 Mei 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: