Mengapsahi Itu Menulis

Mengapsahi Itu Menulis

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Berbicara pesantren, pasti unik. “Image” atau cara pandang seseorang mengenai pesantren ada dua yaitu Salafi (tradisional) dan Modern. Dalam tulisan ini, saya ingin fokus pada pesantren Salafi.

 

 

Pengalaman saya saat nyantri di Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang tak akan lepas dari memori otak saya, bahkan membekas di hati. Salah satu model pembelajarannya adalah “ngabsahi”.

 

 

Ngabsahi adalah menuliskan makna tiap lafal. Lafal tersebut dalam bahasa Arab, kemudian dimaknai dengan bahasa Jawa melalui tulisan huruf pegon. Huruf pegon adalah huruf semacam tulisan arab, seperti huruf hijaiyah tetapi ada beberapa ciri khas tiap hurufnya. Misal, huruf “p” menggunakan huruf ‘fa”, huruf “ng” ditulis dengan huruf “ain dengan titik tiga di atasnya”, huruf “k” ditulis dengan huruf “kaf”, dan contoh lainnya. Itu baru tulisannya. Belum pada strukturnya.

 

 

Mengabsahi pun harus memperhatikan struktur dalam suatu kata. Tidak asal, struktur kata muncul dengan sendirinya. Ingat, kalimat terdiri dari kata-kata yang memiliki makna. Jika, ada kalimat yang kata-katanya tidak jelas, maka kalimat tersebut rancu. Atau, dapat dikatakan tidak terstruktur.

 

 

Misal, alhamdu diabsahi dengan tulisan utawi sekabehane puji. Utawi tidak dituliskan dalam huruf pegon dengan tulisan utawi, tetapi cukup ditulis dengan simbol “mim”. Mim adalah simbol mubtada. Mubtada adalah struktur berupa subjek – kalau tidak salah – yang akan memberikan keterangan pada lafal berikutnya. Jadi kata alhamdu itu ditulis atau diabsahi mim kecil pada tulisan alhamdu bagian atas, tepatnya disamping huruf hamzah (alif) pada tulisan alhamdu. Lalu, dibawah tulisan alhamdu, ada tulisan sekabehane puji. Tulisan sekabehane puji ditulis dengan huruf pegon yang miring dari kanan ke kiri. Tulisan sekabehane puji itu ditulis dalam huruf pegon terdiri dari sin, kaf, alif, ba, ya’, ha, alif, nun, ya, fa, wawu, jim, dan ya. Kurang lebih seperti itu. Rumusnya “a” disertai dengan alif, “i” disertai dengan ya, “u” disertai dengan wawu, “e” disertai dengan ya, dan kaidah penulisan lainnya.

 

 

Melalui cara “mengabsahi” menurut saya, seorang santri seharusnya, bisa nulis. Bagaimana tidak? Setiap kata, pasti ditulis, bahkan menggunakan kode-kode Nahwu seperti mubtada, khobar, naat, tamyiz, nahi, lanafi lil jinsi, dan kaidah lainnya.

 

Ngabsahi adalah menulis dengan jeli. Saat ketinggalan satu “kode” saja, maka berdampak pada makna atas lafal tersebut. Kebiasaan saya dulu, setelah pulang mengaji, saya membuka kitab yang barusan saya absahi, lalu dibaca ulang, sembari mengecek apakah ada yang kurang dalam memberi kode, atau kurang mengabsahi akan makna lafal tersebut.

 

 

Jadi, santri itu pasti menulis. Tiap mengaji pasti mengabsahi. Justru, pertanyaannya, mengapa santri sedikit menulis? Sebenarnya, setiap absahan (baca: hasil mengabsahi), kemudian ditulis dalam huruf bahasa Indonesia itu sudah menulis dua kali. Tulisan pertama dalam huruf pegon. Tulisan kedua dalam huruf bahasa Indonesia. Belajar nulisnya dua kali.

 

 

Saya kurang tahu, apakah ini bisa dikategorikan teknis menulis? Namun, menurut saya “ya”, karena ngabsahi tidaklah mudah, apalagi ditulis atau disalin dalam tulisan huruf bahasa Indonesia. Waallahu’alam.

 

 

Perjalanan menuju Semarang dari Bali, ditulis di Pesawat jam 18.45 WITA; 24 Mei 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: