Bertemu Mustofa Bisri dan Ulil Absor

Bertemu Mustofa Bisri dan Ulil Absor

Oleh Agung Kuswantoro

 

Mudik telah tiba. Puasa Insya Allah hari ini yang terakhir (24 Juni 2017). Idul fitri tahun ini, saya menikmatinya di kampung halaman istri, Rembang. Hal yang terbenak dalam pikiran saya adalah Rembang ada Mustofa Bisri. Kiai yang sangat pandai dan bijak. Saya sangat kagum padanya.

 

Tak sengaja, saya solat Jumat di masjid Agung Rembang duduk di bawah mimbar khotib. Saya duduk berbeda hanya satu sof (barisan). Saya memperhatikannya, begitu khusuk berdikir. Semua orang pun takdzim (menghormatinya) dengan mencium tangan saat bersalaman.

 

Sepulang dari masjid, saya langsung bergegas ke pondok yang diasuhnya. Disitu saya berencana membeli buku-bukunya. Namun, penjual buku yang ada di koperasi pondok pesantrennya sedang keluar (tidak ada berada di pondok). Akhirnya, saya hanya bisa berkencang dengannya agar bisa membeli bukunya.

 

Pada kesempatan itu pula, saya memperhatikan pondok yang diasuhnya. Sederhana pondoknya. Ada beberapa santri yang tinggal di situ. Ada tempat kajian utama. Tempat kajian utama itu yang ada di you tube. Setiap ruang ada kitab yang sedang dibaca oleh santrinya. Di sudut ruang terdapat kitab-kitab kuning. Saya pun mencocokkan dengan gambar yang di youtube mengenai pengajiannya. Ya, di tempat itulah kajian agama dilakukan.

 

Kitab kuning bacakan per kata. Perkata dimaknai lengkap dengan kedudukannya seperti mubtada, khobar, naat, dan tanda bacanya. Mengapa dibaca fathah (nasab), dhomah (rofah), dan kasroh (jer). Selain itu, asal katanya seperti dalam sorof. Detail sekali. Saya pun menyimaknya. Sembari mengingat pelajaran bahasa Arab, nahwu, sorof, dan imla.

 

Mustofa Bisri keren. Secara bacaan kitab kuning saja sudah begitu jagonya. Ngeper bagi orang yang akan berdebat dengannya tanpa ada dasar keilmuan yang cukup. Tak pantas rasanya, ada orang yang mencacinya. Akhlaknya santun. Keilmuannya tinggi. Diam dan tenang batinnya saat berhadapan dengan orang.

 

Di pondok itu pula saya melihat Ulil Absor, menantunya. Bicara Ulil, jadi ingat Pak Hernowo yang mengikuti kajian Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Pemikirannya Ulil luar biasa. Ia sepengetahuan saya dididik oleh Kiai Sahal Mahfud (almarhum), Pati. Ia berasal dari Pati pula. Senang rasanya melihat antara mantu dan mertua. Mereka pandai semua. Pikirannya di luar batas. Perilakunya santun.

 

Saya melihat buku dan membaca sinopsisnya saja sudah membayangkan dasyatnya kedua orang tersebut. Budaya pesantrennya sangat kuat. Pesantren yang masih sederhana, bisa mengorbitkan orang-orang yang berpikiran sangat dasyat.

 

Hari ini saya berencana menemui santrinya untuk mengambil buku karyanya. Semoga bisa lancar acaranya. Kita doakan, semoga keduanya sehat selalu agar santri-santri dan masyarakatnya bisa mengaji di pondoknya. Amin

 

Rembang, 24 Juni 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: