Yuk, Sholat Jamaah

Yuk, Sholat Jamaah

Oleh Agung Kuswantoro

 

Masjid adalah tempat untuk sholat. Masjid adalah tempat berkumpulnya orang Islam untuk menunaikan ibadah. Dan, masjid adalah simbol kemakmuran suatu masyarakat. Namun, keberadaan masjid ditempat tertentu tidak ramai atau seramai saat bulan Ramadhan.

 

Dalam pengamatan saya, ada beberapa masjid yang ramai sekali, saat sholat lima waktu dengan berjamaah. Saya pun pernah mengalaminya. Terasa sholat Idul Fitri. Walaupun sholat Dhuhur. Saya merasakan itu di masjid Pondok Pesantren di Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Bahkan, shaf-nya hingga serambi masjid penuh dengan jamaah. Rakhat dan nikmat rasanya.

 

Kondisi tersebut menjadikan saya ngiler untuk mendambakan masjid tersebut di dekat rumah saya. Minimal adzan tepat waktu ada imam yang memimpin sholat tersebut. Selama ini, Alhamdulillah sholat maghrib dan Isya sudah bisa berjalan dengan sendirinya. Ada Imam tetap dan jamaahnya juga banyak, mulai dari orang kampung, perumahan, dan mahasiswa. Demikian juga sholat Subuh. Tetapi, untuk sholat Dhuhur dan Ashar belum ada Imam yang tetap dan jamaahnya hampir kebanyakan adalah mahasiswa.

 

Menurut Muhammad H. Bashori (2016) ada beberapa faktor mengapa masjid sepi saat sholat jamaah. Pertama, iman yang kurang tebal. Faktor utama yang menyebabkan malas untuk jamaah ke masjid adalah ketidaktebalan iman dan takwa kepada Allah SWT. Sholat jamaah sebagai konsekuensi melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bayangkan, suara adzan – mungkin – akan dicuekin oleh orang yang belum terbuka hatinya (baca: beriman). Jadi, belum tentu semua orang terpanggil akan suara adzan. Hanya orang yang berimanlah yang akan bergetar hatinya. Kedua, keterbatasan pengetahuan ilmu agama. Ilmu adalah pokok aau dasar dalam menjalankan ibadah. Hampir setiap masalah membutuhkan ilmu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Katakanlah sholat lima waktu sebagai ibadah rutin akan bermakna jika didasari dengan ilmu. Kebanyakan orang beribadah tanpa didasari oleh ilmu.

 

Ketiga, beda madzhab, seperti di masjid menggunakan qunut, kemudian ada beberapa jamaah yang tidak menggunakan qunut. Atau, juga penetapan sholat Idul Fitri yang berbeda, dan contoh yang lainnya.

 

Keempat, sholat jamaah di masjid relatif lama. Bisa juga, terlalu lama menunggu imamnya, sehingga sholawatan (baca: pujiannya) panjang. Padahal, para jamaah ada keperluan pada waktu tersebut.

 

Masih ada beberapa faktor lainnya menurut Muhammad H. Bashori, mengapa seseorang malas berjamaah ke masjid seperti lebih suka melaksanakan sholat di rumah, sibuk, masjid jauh dari rumah, ada perseteruan dengan beberapa jamaah, sakit hati terhadap pengurus masjid.

 

 

Bagi saya, faktor terpenting adalah iman dan ilmu. Iman dan ilmu sebagai dasar seseorang agar bersemangat jamaah ke masjid. Masalah beda mazhab, jarak jauh, sholat terlalu lama, dan masalah lain menurut saya itu teknis saja yang terpenting adalah perkuat iman dan ilmu, agar jamaah di masjid tetap ramai.

 

Sudahlah bangun dan makmurkan masjid dengan sholat berjamaah lima waktu saja. Modalnya ada yang jadi imam, makmum, an ada orang yang meng-adzani. Itu saja. Butuh konsisten. Wallahu’alam.

 

 

Surakarta, 21 Juli 2017

Fardu Mandi (3)

Fardu Mandi (3)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Meratakan air – saat   mandi – air pada bagian dalam pada bisul cacar yang pucuknya ternganga. Tidak termasuk disini bagian dalam bekas koreng yang menonjol keluar dan tertutup rapat sehingga tidak tampak bagian dalamnya. Haram membelah anggota tubuh yang tergandeng asli, termasuk juga (meratai/ mengaliri air) pada – bagian di bawah (maaf) kepala dzakar bagi orang yang zakarnya masih berkulit kepala (belum sunat). Ia wajib membasuh bagian dalamnya, sebab semestinya kulit glans penis itu harus dibuang (disunat).

 

Tidak termasuk harus dibasuh (diratai air) pada dasar rambut yang tumbuh dengan sendiri (ditempat yang tidak biasa), sekalipun banyak. Berkumur dan menyesap air ke dalam hidung tidak wajib dilakukan saat mandi. Namun, jika tidak dilakukan hukumnya makruh. Saat membasuh ke anggota badan menggunakan air yang suc mensucikan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 21 Juli 2017

 

 

Kesunahan Mandi Wajib (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Sunah mandi wajib yaitu, (1) Diawali dengan basmallah, (2) Membuang kotoran yang suci, semisal (maaf) mani dan lendir hidung dan kotoran yang najis seperti (maaf) madzi, walaupun mencuci najis dan menyingkirkan hadas dapat sekaligus satu basuhan, (3) Kencing sebelum mandi bagi orang yang wajib mandi sebab inzal (ejakulasi sebab mengeluarkan mani), agar sisa-sisa mani ikut keluar bersama air kencing tersebut, (4) Berkumur, menyeser air  ke dalam hidung dan berwudhu dengan sempurna, setelah selesai membuang kotoran. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Bukhori Muslim.

Allah Menjadi Tempat Bertanya

Allah Menjadi Tempat Bertanya

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saat kita bingung, kepada siapa kita akan bertanya? Hampir dipastikan jawabannya kepada  orang terdekat, seperti sahabat, Bapak/Ibu, teman, pasangan hidup, guru/ustad, dan orang yang dikasihi lainnya. Namun, saat saya membaca surat Al Kahfi ayat ke-19 ada yang menarik.

 

Sahabat Kahfi – sahabat yang ditidurkan oleh Allah di Gua – terbangun dari tidurnya. Kemudian, diantara mereka bertanya, “Sudah berapa lamakah kamu berada disini (gua)?” diantara mereka menjawab, “Kita berada disini sehari atau setengah hari”, berkata (teman yang lain): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada disini”. Maka menyerulah diantara mereka untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak.

 

Uang perak sebagai tanda waktu kapan ia tertidur hingga terbangunnya. Biasanya, setiap kepemimpinan atau beberapa pemimpin mengeluarkan jenis-jenis uang baru pada periode kepemimpinannya. Misal, pada era Jokowi mengenalkan uang dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, dan seratus ribu yang terbaru.

 

Sangat tepat, jika salah satu diantaranya (Sahabat Alkahfi) untuk keluar dari Gua untuk mengetahui berapa lama ia tertidur di dalam Gua. Ternyata mereka tertidur selama 309 tahun. Wow lama sekali.

 

Dalam lanjutan ayat tersebut, mereka diperintahkan untuk membeli makanan yang halal, dan baik, serta berkata yang lemah lembut. Allah memang membimbing dan memberi petunjuk bagi yang dekat pada-Nya. Sampai masalah makanan saja untuk membeli makanan yang halal dan baik. Tidak semua makanan, mereka makan. Biasanya orang habis tidur (atau bangun tiur) dalam keadaan lapar. Apalagi tidurnya bertahun-tahun. Jelas lapar. Namun, Allah memberikan pelajaran kepada kita yaitu sabar dalam mencari makan.

 

Tidak cukup dalam masalah makanan, tutur kata pun harus dijaga. Allah mengatakan dengan kalimat “lemah lembut” atau “walyatalattof”. Bicara saja lemah lembut, padahal posisi lapar. Bayangkan orang lapar, biasanya emosi, perkataannya keras – kadang kotor -, bahkan saat makan lupa tidak berdoa.

 

Pembelajaran dari satu ayat ini adalah (1) jika punya pertanyaan atau masalah bertanyalah langsung kepada Allah, jangan ke manusia, nanti banyak kecewanya, (2) carilah makanan yang halal dalam kondisi apa pun, meskipun terdesak. Apalagi kita sebagai suami dalam mencari nafkah. Uang yang diperoleh benar-benar halal, (3) tetap berkata lemah lembut dalam keadaan susah. Akhlak haru dijaga dalam kondisi apa pun. Senang dan susah, perkataan seseorang harus diperhatikan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 20 Juli 2017

Me-Mindset Pikiran

Me-Mindset Pikiran

Oleh Agung Kuswantoro

 

Jika Anda, biasa pergi ke ATM BNI digedung C6 (gedung FE UNNES), maka Anda melihat tanaman dengan pot bekas buang air kecil. Ya, bekas pembuangan air kecil bagi laki-laki dengan posisi berdiri. Ada dua tanaman dengan dua pot tumbuh segar, meskipun musim panas. Bahkan berbuah, yakni cabe rawit.

 

Menarik, saya melihatnya. Sembari memperhatikan pot dan tanamannya. Karena dulu, banyak orang yang membuang air kecil (baca: pipis) di tempat itu. Bahkan, antre untuk menuju tempat itu guna buang hajatnya.

 

Melihat seperti itu, jadi berpikir. Mindset pikiran manusia harus cepat di-upgrade atau diperbaharui. Tak selamanya, orang menganggap negatif, negatif selamanya. Tempat buang air tak selamanya (maaf) berbau pesing. Jika tidak terpakai, jangan langsung dibuang dan dihancurkan. Buktinya, tanaman juga bisa tumbuh, berbuah lagi.

 

Meskipun dalam kehidupan kita seperti itu. Terlalu menegatifkan sesuatu. Melihat “sesuatu” penilaian pertama negatif dulu. Tidak mengetahui maksud dan tujuannya, langsung menilai tidak baik.

 

Mindset pemikiran kita harus terbiasa mencerna sesuatu dengan baik dan “panjang”. Jangan beranggapan buruk dulu. Misal, ini bekas tempat air kotor, maka harus dibuang. Atau, berpikiran pendek. Kalau sudah terpakai dibuang. Eh belum tentu. Buktinya bisa menjadi pot.

 

Cobalah untuk belajar merekam otak dan tindakan selaras dalam menerima pesan. Ajak otak untuk me-mindset lebih baik lagi. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan yang hanya berguna sesaat. Ini salah satu sederhana. Trik untuk me-mindset pikiran kita ke arah positif. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 20 Juli 2017

Madrasah Istiqlal Masih Hidup

Madrasah Istiqlal Masih Hidup

Oleh Agung Kuswantoro

 

Judul itulah yang saya pilih, walaupun sudah berhenti kajian di madrasah istiqlal. Madrasah tersebut untuk sementara waktu berhenti dahulu, tetapi tidak tahu kapan mulai lagi. Dulu, saya mencita-citakan madrasah istiqlal tersebut akan berdiri tahun 2020. Sekarang tahun 2017 berarti ada tiga tahun sisa waktu untuk mewujudkan madrasah tersebut. namun, kendala masih banyak ditemukan.

 

Pertama, tempat. Dulu tempat di rumah saya, tetapi sekarang kondisi tidak memungkinkan karena kondisi rumah yang sempit. Kedua, guru. Guru atau ustad sebagai fasilitator santri belum ada. Perlu ada rekruitmen dengan kurikulum yang kuat dan terbentuk. Ketiga, perlu dukungan semua pihak, khususnya masyarakat setempat. Terasa berat dan beban jika mendirikan madrasah hanya satu atau dua orang saja. Pengalaman madrasah tersebut waktu berdiri (baca: berjalan) saya kelola dengan istri. Ya, kita kelola berdua, tetapi kendala masih banyak disana-sini. Sehingga, akhirnya kami tutup dahulu.

 

Tiga tahun bukan waktu panjang. Saya, masih merindukan lingkungan masjid saya berupa lantunan baca Alqur’an dari anak-anak, Bapak/Ibu, dan Mahasiswa. Selain itu, saya masih merindukan puji-pujian dan doa yang fasih dan tartil. Saya juga masih merindukan kajian-kajian Islam disekitar lingkungan rumah saya.

 

Saya mengajak kepada siapa pun yang baca artikel ini untuk menyemangati diri saya mewujudkan mimpi itu. Saya yakin bisa terwujud, namun caranya yang belum saya menemukan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 20 Juli 2017

Fardu Mandi (1)

Fardu Mandi (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Adapun fardu mandi yaitu (1) Niat menyingkirkan kejunuban bagi  yang junub, atau haid bagi orang yang mandi sebbab haid. Artinya ada hukum junub dan haid. Boleh juga niat menunaikan fardu mandi untuk menyingkirkan hadas atau niat menunaikan ibadah mandi. Demikian pula, niat mandi akan sholat. Tidak cukup niat mandi semata.

 

Berniat itu wajib disertai dengan permulaan mandi, yaitu basuhan badan yang pertamakali, sekalipun mulainya membasuh dari dari bagian bawah. Seandainya baru berniat setelah membasuh sebuah anggota badan, maka wajib mengulangi membasuh anggota badan tersebut.

 

 

Fardu Mandi (2)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Mandi – besar – dengan niat menyingkirkan kejunuban dan membasuh sebagian badan, lalu tidur. Kemudian setelah bangun kembali – dari tidur – membasuh meneruskan bagian lain yang belum terbasuh, maka dalam kasus ini tidak perlu mengulangi niat lagi. Ini trik bagi pengantin baru. Dalilnya ada di kitab Fathul Muin bab fardu mandi.

 

Keduanya (niat fardu mandi), yaitu meratakan air pada bagian luar badan, termasuk kutu, kulit bawah kuku, rambut hingga pangkal dan kulit tempat tumbuhnya. Meskipun lebat, semua anggota yang tampak juga harus dibasuh, misalnya pangkalan rambut yang telah lepas sebelum terbasuh, lubang telinga, bagian-bagian farji wanita yang tampak di atas dua telapak kakinya, dan lubang-lubang serta retak-retaknya anggota badan.

 

Ada yang menarik dari anggota badan yang dibasuh yaitu pangkalan rambut yang telah lepas sebelum terbasuh. Kalimatnya adalah sebelum terbasuh. Maknanya, walaupun rambut itu lepas, namun kita belum suci–masih dalam keadaan kotor–(junub/haid) – maka  wajib dibasuh. Biasanya, wanita yang sering melakukan dengan mengumpulkan rambut-rambut yang lepas (rontok), kemudian saat mandi, dibasuh bersamaan dengan anggota badan yang lainnya. Tujuannya adalah “ngati-ngati” besuk di akhirat. Saat ditanya malaikat mengenai kesucian mandi. Walaupun – katakanlah – wanita yang mengalami, tetapi itu tanggung jawab suami / bapak. Jadi rajin-rajinlah suami/ bapak menanyakan atau mengingatkan kepada istri mengenai rambut-rambut yang lepas untuk dikumpulkan dna disucikan saat mandi. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 15 Juli 2017

Bukan Polisi

Bukan Polisi

Oleh Agung Kuswantoro

 

Menjadi pengawas terasa diawasi. Justru seharusnya mengawasi. Itulah yang terjadi saat saya menjadi pengawas ujian. Menurut saya tidak baik, sehingga saya membuat strategi beirkut ini.

 

Setiap saya mengawas dalam kalimat pengantarnya ke peserta adalah “Saya adalah sahabat Anda, cita-cita saya ingin menjadi orang baik, yaitu menjadi guru (baca: dosen). Sekarang, atas ijin Allah SWT saya sudah menjadi guru. Guru pasti akan percaya pada siswanya. Oleh karena, saya duduk di depan, anggaplah sebagai teman Anda. Buatlah yang nyaman, rileks, dan slow.

 

Jangan perhatikan saya. Saya pun tidak memperhatikan Anda. Yakinlah dengan Saudara kerjakan. Panggillan saya, jika sudah selesai mengerjakan. Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah mengerjakan soal. Libatkan Tuhan Anda.

 

Mari dukung saya menjadi guru yang baik. Dan, saya mendukung Anda menjadi siswa yang berkarakter. Utamakan karakter, maka Anda pasti tangguh dalam hidup. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 14 Juli 2017

Previous Older Entries