Jum’atan dan Khutbahnya, Bukan Sekedar Rutinitas

Jum’atan dan Khutbahnya, Bukan Sekedar Rutinitas

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Setiap muslim pada hari Jum’at diwajibkan untuk sholat Jumat. Bahkan, dalam ayat di surat Al jumuah menegaskan bahwa sholat Jumat yang diserukan bagi orang beriman. Penunjukkannya langsung kepada orang beriman.

 

 

Dalam pikiran saya, untuk melaksanakan sholat Jumat tidaklah mudah. Beberapa alasan orang tidak melaksanakan sholat Jumat adalah sibuk, dagangan masih ramai, dan malas. Untuk alasan sakit, perjalanan, dan udzur yang bisa ditoleransi tidak saya tuliskan. Karena, secara syara’ memang diizinkan untuk tidak sholat Jumat.

 

 

Karena  untuk mendirikan sholat Jumat tidaklah mudah, sehingga pahala untuk melaksanakan banyak, mulai dari pahala mandi sebelum sholat, memakai minyak wangi, memakai baju putih, datang sebelum khutbah pertama, itikaf di masjid, sholat tahiyatul masjid, tadarus Al qur’an sebelum adzan, dzikir sebelum adzan, sholat sunah qobliyah Jumat, dan amalan lainnya. Banyak bukan amalannya?

 

 

Dengan “diobral”nya pahala, harus menjadi daya tarik setiap muslim untuk melaksanakannya. Namun, yang terlihat sebaliknya. Orang akan pergi ke masjid saat adzan telah berkumandang, patokan jam 12.00 WIB menjadi penentuan orang pergi ke masjid. Otomatis amalan berupa sholat tahyatul masjid, dzikir, tadarus, qobliyah Jumat hilang cuma-cuma. Karena datang sudah nge-pas adzan, maka bajunya pun biasa. Boro-boro memakai minyak wangi atau memakai baju putih. Namun, bagi saya tak masalah yang terpenting, Alhamdulillah sudah datang ke masjid.

 

Belum lagi, fenomena, dimana khutbahnya sangat cepat. Khutbah pertama dan kedua diselesaikan dalam waktu 10 menit. “Paketan” sholat Jumat dan khutbah hanya dilakukan 15 menit saja. Selain itu, pesan khutbah pun tidak dirasakan oleh jamaah yang mendengarkan.

 

Sholat Jumat yang begitu “Agung” menjadi hilang seketika, apabila pelaksanaannya sekedar rutinitas saja. Mengapa rutinitas? Karena hanya melaksanakan saja. Tidak membekas, baik oleh khotib maupun jamaah. Padahal, hari Jumat adalah hari berkumpul umat Islam. Kekuatan umat Islam sangat besar, terlebih di hari Jumat. Hari Jumat adalah hari lebaran bagi orang yang berpuasa di hari Kamis. Hari Jumat adalah hari bersilaturahim bagi umat Islam setiap sepekan sekali. Lalu, jika pelaksanannya seperti di atas? Bagaimana keistimewaan hari Jumat? Apalagi wasiat takwanya, apakah bisa tersampaikan?

 

 

Solusi

Menurut saya, agar sedikit ada perubahan setiap masjid dan khotib harus memilih strategi agar jamaah pun ikut merasakan nikmatnya sholat Jumat. Khotib harus datang gasik dengan sholat tahyatul masjid, berdzikir, atau tadarus Al qur’an sembari menunggu waktu adzan. Jangan khotib datang saat akan mulai adzan, sehingga ia tidak sholat tahyatul masjid atau berdzikir. Lalu, penampilan khotib seperti baju, minyak wangi, surban, sarung, dan berbicaranya harus memberikan contoh yang baik buat jamaah. Dalam menyampaikan pesan khutbah, memasukkan nilai-nilai yang sesuai permasalahan akan masyarakat (baca: jamaah) yang ada di masjid. Kalau perlu memberikan solusi atas permasalahan yang ada di masjid. Misal, khotib memberikan pesan “Bangsa ini sedang bermasalah”, padahal posisi atau kedudukan khotib, bukanlah ketua RT, RW, Lurah, atau kedudukan lainnya. Khotib (maaf) hanya “orang biasa”. Berbicaralah dengan kapasitas sebagai khotib yang mengetahui permasalahan akan jamaah di masjid tersebut. Jika, ia berbicara tentang “Bangsa ini”, siapakah dia?

 

Berilah pesan khutbah yang sederhana, misal “Puasa Ramadhan itu wajib”. Khotib menyampaikan hal tersebut karena mengetahui jamaah atau masyarakat sekitar banyak yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, meskipun itu wajib. Ia menunjukkan dalil-dalil mengenai kewajiban puasa, keutamaan, faedah, hikmah, trik agar puasa tetap semangat, dan amalan-amalan selama berpuasa. Sederhana, tetai pesan khutbah memberikan manfaat bagi jamaah.

 

Khotib harus berilmu dan paham akan sosial kultural masyarakat tersebut. Jika ia hanya membaca teks kumpulan khutbah, maka dapat dipastikan jamaah tidur dan selalu melihat jam tangan dan jam dinding masjid, sembari kapan selesainya. Monoton dan tidak mengena. Pesan dan wasiat takwa sebagai tujuannya susah tercapai.

 

Khotib tidak akan mengatakan “sesuatu” jika ia tidak mengamalkannya. Khotib mengatakan bertakwa, setelah turun dari mimbar ia berdusta terhadap orang lain. Jelas ini tidak sesuai. Disinilah, peran khotib. Ia tidak sekedar mengucapkan dan membaca teks khutbah. Ia pun harus mengamalkannya.

 

Khotib menjadi “model” bagi jamaah. Sholat, tutur kata, perilaku, gaya hidup, bahkan perilaku anak dan istri menjadi “teladan” di masyarakat tersebut. Mengapa? Ia selalu menyampaikan pesan yang berhikmah, sehingga dampak yang terdekat adalah keluarganya. Pesan yang pertama kali ia laksanakan adalah dirinya dan keluarganya. Keluarganya menjadi “cermin” di masyarakat.

 

Selain khotib menjadi kunci dalam menikmati lezatnya sholat Jumat. Manajemen masjid juga perlu diatur. Qiroah yang biasanya memakai MP3, dirubah dengan suara manusia asli. Jika itu masjid di kampung, libatkan anak-anak TPQ untuk mengaji di masjid. Tidak butuh dengan suara yang baik. Yang terpenting tartil. Mengapa mengaji MP3 perlu dirubah dengan menjadi suara asli manusia secara langsung? Karena, mengaji MP3 menjadi patokan seseorang dalam menuju masjid. Kebanyakan orang datang ke masjid saat mengaji MP3 telah selesai alias dimatikan. Ini pertanda akan adzan. Biasakan dengan suara manusia asli, sehingga orang akan penasaran dan bersemangat ingin tadarus juga, atau mendengarkan secara langsung. Bukankah orang yang mendengarkan dan membaca Al qur’an pahalanya juga sama?

 

 

Dengan cara seperti ini, harapannya, Jumatan bukan sekedar rutinitas sholat saja. Sholat Jumatan biar “berasa” akan sholat tersebut, minimal nasihat takwa. Hati terpanggil untuk kembali ke jalan yang benar, setelah satu minggu melakukan kekhilafan, saatnya di hari Jumat untuk diingatkan untuk mohon ampun kepada Allah SWT. Khotib menjadi pelaku pertama yang mampu mengubah cara pandang dan perlaku jamaah. Khutbah tak terlalu cepat-cepat dan lama-lama. Standart saja. Isi (konteks) pesannya tersampaikan.

 

Tulisan ini, bukan untuk menyindir kepada siapa pun. Namun sebagai refleksi dan perbaikan diri kita masing-masing. Semoga Allah memberikan rahmat dan membuka pintu hati kita, agar menjadi lebih baik amin.

 

 

Semarang 8 Juli 2017

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: