Pendengar Pun Harus Beriman

Pendengar Pun Harus Beriman

Oleh Agung Kuswantoro

 

Peristiwa Ashabul Kahfi diceritakan kepada Nabi Muhammad SAW dengan sebenarnya. Dalam ayat ke-13 surat Alkahfi dijelaskan bahwa Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Berdasarkan ayat tersebut, apa yang terbesit dalam pikiran Anda? Minimal ada dua dalam benak pikiran Anda yaitu percaya dan tidak percaya atas kisah Ashabul Kahfi. Apalagi membenarkan atas kasus tersebut, dimana tidur selama ratusan tahun di gua.

 

Ini, sama halnya dengan kisah Isro’ Mi’roj, dimana perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso. Kemudian ke langit tujuh ditempuh dalam satu malam saja. Kisah tersebut diceritakan ke sahabat Abu Bakar Assidiq, lalu ia mempercayai dan membenarkannya.

 

Saat kita menjadi posisi pendengar (baca: pembaca Alqur’an) mendapatkan cerita tersebut harus dimodali iman. Jika pendengar (pembaca Alqur’an) tidak berbekal iman, pasti akan berkomentar “tidak mungkin” atau Nabi Muhammad SAW, ”gila” atau “kisah apaan ini?”. Mengapa demikian? Karena dalam benak pikir mereka tidak logis, padahal iman itu tidak harus berdasarkan logika. Sehingga iman pun bertingkat-tingkat. Minimal kita mempercayai dan membenarkan atas kisah tersebut. karena, mengimani dan membenarkan saja, tidaklah mudah. Waallahu’alam.

 

Semarang, 9 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: